THE DEADLY GREEN WORLD

Chapter 3

Sakura mendengarkan Kakashi dengan intens.

"Kau pergi lah mencari sumber air dan beberapa kayu bakar. Aku bisa mendengar gemericik air dari sini."

Sakura mempertajam pendengarannya. Hanya suara angin yang berhembus lah yang bisa ia dengar saat ini. Saat ia baru saja akan memprotes, telinga nya mendengar suara yang berbeda dari sebelumnya. Suara yang….jujur saja, terasa begitu sejuk dan segar. Gemericik air.

Benar. Ia bisa mendengarnya.

"Ya, aku bisa mendengarnya, sensei."

Kakashi tersenyum. "Baguslah. Selama kau pergi kesana, sekalian cari juga beberapa kayu bakar untuk kita bermalam disini agar tidak kedinginan."

Sakura mengangguk. "Lalu kau sendiri mau kemana, Kakashi-sensei?."

"Ke sana." , Kakashi mengacungkan tangannya ke arah depan. Menunjukkan pada Sakura kemana ia akan pergi. Sakura mengikuti arah yang ditunjuk Kakashi, kemudian mengerutkan kenignya.

"Ke…tebing curam yang di sana itu?"

"Hm."

"Untuk apa kau ke sana?"

Kakashi mengehela nafas sebentar. "Sebenarnya aku juga belum tau pasti, tapi melihat seberapa tingginya tebing itu dan hanya tebing itu lah satu-satu nya dataran yang mencuat dari sini, kurasa akan memungkinkan melihat kondisi hutan ini dari sana."

"Kau mau menyelidiki hutan ini ?"

Kakashi mengangguk sebentar. Kemudian mengambil hitai-ate nya yang tergeletak di tanah. Setelah itu ia masukkan di dalam kantong ninja nya sendiri. Jujur saja, kepala nya masih sakit. Kalau harus menggunakan hitai-ate, sudah pasti kepalanya akan terasa ngilu kembali.

"Apa tidak apa-apa kita berpisah terlalu lama ? Bagaimana kalau terjadi apa-apa nantinya?"

"Karena itu lah," , Kakashi meracau sebuah segel, kemudian menempelkan tangannya ke permukaan tanah. Kepulan asap tebal menjawab permintaan Kakashi.

Pakkun dan kawan-kawannya ada di sana.

"Yo, Kakashi! Perlu bantuan ?"

Kakashi menghela nafas. "Sikap mu santai sekali ya. Kau tidak tau ada dimana kita sekarang ?"

Pakkun melihat ke segala arah. Kemudian mengangkat bahunya.

"Di sebuah hutan yang baru pertama kali ini ku kunjungi. Yang jelas, ada yang aneh dengan hutan ini."

Kakashi mengangguk. "Nah, berarti kau tau kalau sekarang kita berada di tempat yang tidak aman. Jadi, aku ingin kau pergi bersama Sakura ke arah sumber air dan mencari kayu bakar."

"Memangnya kau sendiri mau kemana?"

"Ke suatu tempat yang mengasikkan."

Pakkun mendengus. "Tempat mengasikkan apanya?"

"Sudahlah, ikuti saja perintah ku." , Kemudian ia menoleh ke anjing-anjing nya yang lain.

"Urushi, Shiba, Uhei, kalian ikut denganku. Bull, Akino, Guruko, kalian tetaplah disini menunggu kami. Jika kami pergi terlalu lama, dan ada bahaya yang mendekat, segera berkumpul dengan yang lainnya. Bergabung saja dengan Pakkun. Itu akan mengurangi kekhawatiran kalian. Jangan lupa pula beri aku sinyal."

"Guk! Guk! Guk!"

"Bagus. Dan kau, Bisuke, ikut dengan Pakkun. Aku tau kau ahli untuk mencium datangnya cuaca. Walaupun kalian ber-delapan juga bisa menerka datangnya cuaca, tapi kita semua tau bahwa Bisuke yang paling ahli."

"Guk!"

"Aku tidak begitu yakin, tapi suhu saat ini semakin lama semakin dingin saja. Apa kalian merasakannya ?"

Yang lain segera memeriksa angin yang berhembus. Sakura mengangguk, benar juga, sejak tadi rasanya makin dingin saja.

"Ini membuktikan bahwa hutan ini aneh dan berbahaya. Jadi tajamkan tingkat kewaspadaan kalian. Mengerti, semua ?!"

"Guk!"

Kakashi mengangguk. Ia menoleh pada Sakura, kemudian tersenyum.

"Jaga dirimu baik-baik. Kita tidak tau apa yang bisa terjadi nanti. Sebisa mungkin jangan terlalu lama. Kita harus segera bersama."

"Ya, Kakashi-sensei."

Kakashi mengerutkan keningnya. Kemudian kembali bersuara, "Kau tau, aku baru menyadarinya. Kita kan sama-sama Jounin, tidak perlu memanggilku sensei. Kakashi saja sudah cukup."

"Tidak terbiasa, Kakashi-sen—" , Sakura berdehem sebentar. "Maksudku, Kakashi."

"Nah, lebih baik."

"Rasanya aneh, memanggilmu begitu."

Kakashi tertawa pelan. "Nanti juga akan terbiasa."

Sakura mengangguk.

"Baiklah, sekarang, berpencar!"

ooooOOOOoooo

"Tsunade-sama?"

Shizune memasuki ruang Hokage itu dengan langkah perlahan. Yang dipanggil tidak menjawab. Godaime Hokage itu kini sedang menerawang jauh ke luar jendela. Pikirannya berterbangan.

"Tsunade-sama?"

Panggilan yang kali ini cukup membuatnya tersentak dan segera menolehkan kepalanya ke sumber suara. Begitu mengetahui bahwa Shizune-lah yang memanggilnya, ia menghela nafas ringan. "Shizune. Ada apa?"

Keponakan Dan Kato itu kemudian menutup pintu ruang Hokage sebelum akhirnya berjalan mendekati sang Hokage.

"Tim Ashio-san sudah kembali dari misi. Kini mereka sedang berada di rumah sakit untuk check-up. Apa mereka harus melaporkan hasil misi-nya malam ini juga?"

"Tidak. Biarkan dulu mereka beristirahat malam ini. Suruh mereka menemui ku besok pagi."

"Hai."

Kemudian Shizune beranjak pergi dari ruang Hokage. Belum sempat ia membuka pintu, Tsunade kembali bersuara.

"Shizune."

"Ya, Tsunade-sama?"

Tsunade terdiam sebentar. Raut kekhawatiran mulai muncul di wajah cantiknya itu. Ia mengusap dahi nya pelan.

"Apa kau pikir…Kakashi dan Sakura-"

Shizune mengangkat sebelah alisnya. Ini pasti berhubungan dengan hutan itu.

"Akan terperangkap disana juga, begitu, Tsunade-sama?"

Tsunade mengangguk. Shizune kemudian tersenyum. "Tenang saja. Sakura adalah kunoichi yang hebat lebih dari yang orang bayangkan. Dan lagi, ia punya Kakashi yang ada disampingnya, jadi mereka berdua pasti baik-baik saja. Toh kalaupun mereka terperangkap disana, pasti mereka bisa mencari jalan keluar untuk kembali kesini."

"Bagaimana kau bisa berpendapat semudah itu, eh?"

Shizune menyengir.

"Sudahlah Tsunade-sama, tidak usah memikirkan yang aneh-aneh dulu. Lagipula, sejak kapan kau jadi mudah khawatir begini? Mana kunoichi pemberani dan tak kenal menyerah yang di agung-agungkan sebagai Legenda Kalah Judi itu?"

Bletak!

"Aw! Apa-apan sih, Tsunade-sama?!"

Tsunade mendengus keras. "Kalau mau menghiburku, jangan menyebut-nyebut kata 'judi' juga!"

"Habisnya kau itu."

Shizune masih menggerutu. Sedangkan Tsunade kembali menghela nafas dan memijat keningnya pelan. Tapi kalau dipikir-pikir memang dia agak sedikit berlebihan. Sudah tahu kalau Kakashi dan Sakura itu shinobi berkelas, tidak sewajarnya ia mengkhawatirkan mereka dengan berlebihan.

Ia menghela nafas.

"Shizune, jika dalam waktu 2 hari mereka belum pulang, siapkan tim penyusul untuk mereka."

"Etto, bukankah akhir-akhir ini banyak shinobi yang dikirim ke luar desa? Itu artinya kemungkinan dua hari lagi mereka baru pulang. Apa iya kita harus menyuruh mereka yang baru pulang untuk menjalanka misi lagi?"

"Malam ini pun kan ada tim yang pulang. Kita tugaskan saja mereka."

"Ah, iya-iya. Baiklah. Aku siap Tsunade-sama!"

Tsunade mengangguk. Belum sempat pikirannya kembali berlanjut, suara ketukan pintu yang sedikit keras itu mengalihkan perhatiannya.

"Masuk."

Shizune tersenyum. "Nah, ini dia yang kita tunggu-tunggu."

ooooOOOOoooo

Pakkun dan Bisuke berjalan mengekor di belakang Sakura. Sementara si kunoichi pink itu sedang bersenandung kecil sambil sesekali membenarkan rambutnya yang tidak berubah itu.

Pakkun menoleh ke arah Bisuke, memberikan pandangan bertanya atas tingkah Sakura yang terbilang sangat santai. Yang ditoleh mengangkat bahu nya kecil. Kemudian Pakkun menoleh kembali ke arah Sakura.

"Hoi, Sakura."

"Hm?"

"Dari tadi kuperhatikan, sepertinya kau gembira sekali ya."

Sakura hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir rubah, mirip Naruto.

"Kau sedang bahagia, ya?"

Sakura tergelak, "Aku kan memang selalu bahagia. Memangnya kapan aku pernah terlihat sedih? Aku bukan tipe orang yang mudah mengeluh hanya karena hal sepele." , ucapnya bangga.

"Terakhir kuingat kau menangis sesenggukan di rumah Kakashi gara-gara Sasuke berkencan dengan gadis desa sebelah."

"E-etto, itu-"

"Lalu kau pernah menangis sepanjang jalan karena Sasuke membuang bekal makanan yang sengaja kau buat untuknya."

"Itu aku sendiri yang membuangnya. Soalnya rasanya masih aneh. Aku kan waktu itu belum pintar memasak." , Sakura menggerutu. Pakkun melanjutkan.

"Dan kalau tidak salah Kakashi pernah bilang kau hampir saja mau bunuh diri gara-gara melihat Sasuke sedang menggendong kunoichi cantik dari Suna."

"Itu sudah empat tahun yang lalu, Pakkun! Aku masih kecil waktu itu." , Sakura menutupi wajahnya yang memerah karena malu. "Aduh, kenapa Kakashi-sensei harus bilang padamu, sih? Dan kenapa kau masih ingat juga?!"

"Apa iya itu yang namanya tidak suka mengeluh hanya karena hal sepele?"

"Tentu saja! Sasuke-kun itu bukan hal sepele. Bagi gadis seusiaku, ini adalah hal yang sangat wajar. Kau yang hanya seekor ninken kesayangan Kaka-sensei tidak mungkin mengerti tentang hal ini." . Sakura mengakhiri ucapannya dengan menjulurkan lidahnya ke arah Pakkun.

Pakkun menghela nafas. "Aku cukup mengerti dengan yang namanya 'cinta' itu. Kakashi kan juga pernah begitu."

Sakura menoleh ke arah Pakkun dengan cepat; nampak antusias. "Sungguh? Kakashi-sensei pernah jatuh cinta?!"

"Kau pikir Kakashi itu manusia dingin yang tidak mengerti tentang masalah-masalah sepele seperti itu? Walau bagaimana pun dia itu seorang jenius. Apalagi kau tau sendiri buku bacaan nya seperti apa."

Sakura mengangguk-angguk. "Hm, kau benar juga. Tapi Kakashi-sensei tidak pernah benar-benar jatuh cinta kan? Tidak mungkin orang seperti dia itu mau mengurus hal-hal yang seperti ini."

"Cukup dengan satu gadis saja. Itu pun berakhir dengan tidak baik. Mungkin itu sebabnya dia tidak mau mengurusi yang namanya 'cinta' itu lagi."

"Eh? Kakashi-sensei pernah ditolak?"

Pakkun menggeleng. "Bukan ditolak. Tapi ditinggal pergi."

"Si wanita meninggalkan Kaka-sensei demi pria lain begitu?"

Pakkun menggeleng. "Si wanita pergi. Dengan kata lain, mati."

Sakura membelakkan kedua matanya. Kemudian berhenti berjalan. Ia menatap Pakkun dengan pandangan penuh tanya.

"Jangan tanya padaku. Tanyakan saja pada Kakashi. Itu pun kalau dia mau menceritakannya padamu."

Sakura terdiam. Ternyata Kakashi-sensei yang menyebalkan itu juga pernah merasakan sakit hati ya?

Selama ini Sakura selalu merepotkan Kakashi hanya karena tidak bisa mendapatkan Sasuke. Selalu menangis dan menceritakannya pada Kakashi. Tidak menyadari kalau kisah cinta sensei nya itu jauh lebih sakit dari nya. Astaga, kenapa ia begitu kekanak-kanakan begini?

"Guk!"

Lamunan Sakura segera berakhir dengan gonggongan Bisuke. Menandakan bahwa mereka sudah tiba di tempat yang dituju. Sakura melihat ke arah depan, kemudian membuka kedua mulutnya kaget; tidak, lebih tepatnya terpukau.

Air terjun kecil yang jatuh di danau berukuran sedang dengan begitu indah. Air nya yang bening dan rerumputan yang dipenuhi bunga tersusun rapi mengelilingi danau kecil itu.

Sakura tersenyum. "Aku heran, untuk hutan yang begitu menakutkan ini kenapa masih ada tempat yang indah juga ya?"

Pakkun mengangkat bahunya pelan. Kemudian menuju danau untuk mengambil air.

Samar-samar Sakura mendengar Pakkun berbicara. "Sama seperti Kakashi, walau dari luar ia terlihat begitu dingin, menyebalkan dan mesum begitu, sebenarnya masih ada bagian dari dirinya yang lembut."

Sakura terdiam sebentar, sebelum akhirnya tersenyum.

"Kalau itu dari dulu aku sudah tau."

ooooOOOOoooo

Kakashi membuka sharingan-nya. Meneliti kondisi hutan dengan begitu teliti. Ia menolehkan kepalanya ke berbagai arah. Semua hanya nampak hijau dan rimbun.

Tapi walau begitu, Kakashi bisa merasakan nya; ada cakra di beberapa pohon di sana.

Ia menutup sharingan-nya pelan. Kemudian menoleh ke arah ketiga ninken nya.

"Apa kalian bisa merasakan hawa keberadaan seseorang dari sini?"

"Guk! Guk! Guk!"

"Kalau begitu benar dugaan ku."

Kakashi mengambil kunai yang ia simpan di kantong ninja nya, kemudian melempar nya ke sembarang pohon di bawah jurang sana. Tidak lama kemudian kunai itu kembali terbang ke arah nya. Seolah seperti boomerang yang sedang dimainkan.

Urushi dengan sigap menangkap kunai itu dengan mulutnya, kemudian memberikannya pada Kakashi. "Terima kasih."

Sang Copy-nin menatap tajam ke arah pohon-pohon yang bergerak itu. Terkesan seperti bergerak sendiri ketimbang tergerak karena hembusan angin. Kalau dugaannya itu memang benar, ia harus segera memberitahu Sakura tentang ini.

Kakashi menghela nafas, kemudian berbalik.

"Baiklah, ayo kita kembali. Aku merasa semakin dingin saja. Aku tidak ingin kita terpisah terlalu lama dengan yang lain."

"Guk! Guk! Guk!"

Belum sempat Kakashi beranjak, ia merasakan ada sesuatu yang lembut terjatuh tepat di kepalanya. Ia menengadahkan kepalanya ke atas, kemudian mengerutkan alisnya.

Sesuatu itu terjatuh lagi mengenai wajahnya. Kali ini Kakashi mengangkat tangannya ke atas untuk menangkap nya. Ketiga ninken nya juga ikut kebingungan menoleh ke atas. Begitu sesuatu itu jatuh dengan lembut di telapak tangan Kakashi, ia mengerutkan alisnya lebih dalam.

"Salju?"

ooooOOOOoooo

"Nah, kalian mengerti kan?"

Shikamaru menguap lebar. "Intinya, kami akan jadi tim penyelamat Kakashi-sensei dan Sakura kalau mereka tidak kembali dalam waktu dua hari?"

Sang Godaime Hokage itu mengangguk.

"Aku heran, Kakashi-senpai saja sudah cukup hebat untuk misi seperti itu. Kenapa sampai harus mengirimkan bantuan?"

Shizune menepuk bahu Shikamaru pelan. "Kau tau sendiri kan, Hokage kita ini overprotective sekali pada Kakashi dan Sakura."

"Shizune!"

Shizune tertawa, kemudian membungkuk-bungkuk meminta maaf ke arah Tsunade. Shikamaru menghela nafas pelan, kemudian menguap lagi.

"Ya sudahlah, jadi yang akan berangkat hanya aku, Kiba dan Hinata kan?"

Kiba yang berada disampingnya juga memberikan pandangan bertanya. Tsunade menyandarkan dirinya lebih nyaman ke kursi. "Ya, siapa lagi? Kau mau tambahan orang?"

"Tapi, kalau yang seperti ini Naruto pasti akan ikut."

Shizune mengangguk setuju. "Kiba benar. Kalau ini menyangkut keselamatan Kakashi dan Sakura, pasti Naruto akan ikut."

Tsunade menghela nafas. "Kalian tenang saja, Naruto sudah kuberi misi lain. Dia tidak mungkin ikut. Lagipula, kalau ikut dia hanya akan menyusahkan kalian."

Shikamaru mengangguk setuju. Dimana ada Naruto, di sana pasti ada masalah. Lebih baik bocah itu tidak usah ikut saja sekalian.

"Ya, sudahlah. Nanti sekalian Hinata akan kuberi tau." , ucap Kiba. "Kalau pertemuan ini sudah selesai, boleh aku pulang sekarang? Aku mengantuk sekali."

"Guk!" Akamaru setuju dengan nya. Shikamaru menguap lebar, seolah menunjukkan bahwa ia juga sependapat dengan Kiba. Tsunade tertawa pelan.

"Ya, aku lupa. Baiklah, kalian boleh pulang sekarang. Ingat, kutunggu laporan misi kalian besok pagi. Dan jangan lupa memberitahu Hinata, Kiba."

"Yosha-yosha."

"Baiklah, bubar!"

ooooOOOOoooo

Shikamaru melambaikan tangannya ke arah Kiba begitu mereka sampai di pertigaan yang memisahkan letak rumah mereka , "Aku duluan ya. Hati-hati di jalan, Kiba. Jangan lupa beritahu Hinata."

"Yosha, jaa ne!"

Segera setelah Shikamaru sudah tak terlihat lagi, Kiba berjalan pelan dengan berkali-kali menguap. Ia menekuk kedua tangannya di belakang kepala, kemudian berjalan santai ditemani Akamaru. Anjing berbulu putih itu juga nampak loyo dan ingin segera tidur.

Setelah berjalan sekitar dua menit, ia mulai bisa melihat halaman rumah Hyuuga.

"Aku beritahu sekarang sajalah, mungkin Hinata juga belum tidur."

Belum sempat mencapai gerbang depa rumah Hinata, tiba-tiba sosok itu datang di depannya.

"Kyaaa!"

"Guk! Guk! Guk! Guk Guk!"

Kiba meloncat ke belakang Akamaru, kemudian mengintip pelan ke depan.

Di depannya kini ada Sasuke yang sedang menatap bingung ke arah mereka berdua.

"Hoi kau, Uchiha brengsek! Apa-apan kau ini?! Kau mau mengagetkanku sampai membuatku jantungan ya?!" , Kiba berteriak keras sekali ke arah nya.

"Kenapa aku harus susah-susah mengagetkanmu? Dari tadi aku menunggu mu di depan ujung jalan sana. Tapi kau dan anjing bodoh mu itu berjalan terlalu lambat, jadi aku memutuskan untuk menghampirimu saja."

"Apa?! Siapa yang kau sebut anjing bodoh, hah?!"

"Guk! Guk! Guk!"

Sasuke mendengus.

"Sudahlah, aku tidak mau banyak berbasa-basi atau hanya sekedar membuang waktu ku untuk mendengarkan celotehan kalian. Yang ingin aku katakan sekarang adalah, aku akan ikut bersama kalian dalam misi penyelamatan Kakashi dan Sakura dua hari lagi itu."

Kiba menyipitkan matanya sebal ke arah Sasuke, kemudian ia menatap sang Uchiha dengan pandangan penuh tanya. "Kenapa kau harus ikut dengan kami? Ini misi kami. Kau tidak perlu pamer tentang kemampuanmu."

"Tidak, ada alasan lain aku kesana."

"Kau harus meminta ijin dulu pada Tsunade-sama. Tapi aku yakin dia tidak akan pernah mau mengijinkan mu."

"Karena itu lah, aku akan tetap mengikuti kalian, dengan atau tanpa ijin dari Tsunade-sama."

Kiba mengerutkan alisnya, merasa heran atas sikap Sasuke yang terkesan ambisius itu. Kenapa ia susah-susah ingin pergi menyusul Kakashi-sensei dan Sakura? Memang betul mereka berdua memang satu tim bersama Sasuke saat genin. Tapi semua orang juga tau bahwa Sasuke tidak pernah benar-benar menjalin hubungan dekat bersama teman setimnya.

Dan lagipula, Uchiha Sasuke membenci Haruno Sakura.

Benar kan?

"Kau tidak bisa seenaknya mengikuti misi orang lain!"

Sasuke beranjak pergi dari hadapan Kiba, menghiraukannya yang sedang berteriak bodoh di depan mansion keluarga terhormat Konoha itu.

"Hoi, Uchiha brengsek! Dengarkan aku!"

Sasuke tidak bergeming, ia tetap melanjutkan langkahnya semakin jauh dari Kiba dan Akamaru. Ia tidak peduli, ia harus ikut bersama mereka.

Ada yang harus ia lakukan di sana.

Benar, Sasuke Uchiha akan menyusul Hatake Kakashi dan Haruno Sakura.

Kita tunggu saja apa yang terjadi di sana.

ooooOOOOoooo

Yosh!

Heheheheheh *nyengir gk jelas

*langsungbungkuk2badan*

MINNA-SAAAAAAAN

Gomennasaiiiiiii!

Aku sungguh minta maaf karena vakum untuk beberapa bulan :o

aku jadi tidak bisa update lagiiiiiii

ini semua gara-gara tugas sekolah yang benar-benar banyaaaaaak

tugas; kegiatan; dan semuaannyaa, aku benar-benar gk sempat untuk menyentuh fic ini sedikitpun...

jadi, mohon maaf semaaf-maafnya untuk keterlambatan yang sangat terlambat inii :(

apakah masih ada yang menunggu fic ini untuk berlanjut?

Doumo Arigatou Gozaimasu untuk yg sudah setia menunggu

ini untuk kalian :* :) ;)

arigatou gozaimasu sekali lagiiiii

Jaa ne !