"Reinhart."
"Hm?"
"Ada arketipe baru yang akan datang, sebentar lagi."
Reinhart diam, mencerna informasi ini. Lalu, di balik topengnya, ia menyeringai.
Chapter 1-4
Archetypes I
Izlude tidak seramai Prontera atau Morroc. Di sana tidak seindah Comodo. Tapi tetap saja kota ini terlihat luar biasa.
Langit sudah tidak bisa lebih cerah lagi. Suara burung camar terus mengalun di atas, jelas dan merdu. Bangunan-bangunan di kota itu berdiri tegap, meskipun tidak tinggi maupun bersih (beberapa diantaranya bahkan berlumut). Angin laut tak pernah berhenti menghembus, menyejukkan mereka yang sudah tersengat matahari. Warna-warni dari kios pedagang menghias seluruh kota. Orang-orang berpakaian aneh berlalu-lalang, mengobrol, berlari, berdebat harga dan berpacaran.
Judith membayangkan peta Izlude. Barat laut. Kanan atas. Tebing.
Tentu saja, deskripsi tebingtidak membantu banyak di Izlude.
Ia meraba-raba lengannya sambil berjalan. Meskipun lukanya sudah disembuhkan oleh apple dan red herb (Judith tidak tahu bagaimana; lukanya menutup begitu saja), tetap saja terasa gatal. Setelah itu ia menyentuh ulu hatinya. ia merasa mual, eneg, tidak enak. Teleport yang baru saja ia lakukan benar-benar bikin ilfil.
Judith melihat sekeliling sambil berjalan. Mulutnya melongo sepanjang perjalanan. Kakinya terus bergerak sendiri sementara dirinya terpesona oleh pemandangan Izlude. Ia menabrak Knight berarmor komplit, seorang Thief, dan seorang Ranger sampai akhirnya ia tersandung sebuah batu.
Ia telah sampai di sebuah lahan dipenuhi rumput. Lahan ini menjorok ke laut. Judith berjalan menuju ujungnya, dan melihat ke bawah. 10 meter ke bawah.
"Wow," Judith bersuara, takjub. Seumur hidupnya, ia tak pernah melihat pemandangan seperti ini.
Tapi apa saja yang pernah aku lihat seumur hidupku?
"Judith?"
Gadis yang disebutkan tersentak dan menoleh ke belakang terlalu cepat, dan terpeleset. Lalu ia jatuh. Ke depan. Muka duluan.
"Gimana?" ia mendengar seseorang bicara di dekatnya.
"Pasti dia. Kapan lagi kamu melihat Player jatuh seperti itu?"
"Dia cantik lagi."
"Kamu belum lihat mukanya, Patrick."
"Jadi? Semua orang di RO cantik. Termasuk aku."
Seseorang menariknya berdiri. Judith meludahi rumput yang masuk ke mulutnya dan membersihkan rambutnya. Lalu ia mendongak.
Ia melihat seorang Archer berambut merah, bertubuh kuli dan bermata biru sadis. Wajahnya yang coklat terang terlihat muda, tetapi keras. Seluruh lengan kanannya penuh bekas guratan. Ia menggunakan kostum Archer, tapi tampangnya seperti purnawirawan AL.
"Kamu Judith?" orang itu bertanya dengan suara yang tegas.
"Ya," Judith menjawab, berniat tidak terlihat takut.
"Aku Leid," Archer itu berkata. ia melihat ke belakang, dan mengangguk.
Penasaran, Judith berjinjit untuk mengintip (Leid tinggi sementara Judith pendek) di balik punggung Archer itu.
Di sana ada 5 orang: dua Swordsman, satu Priest,satu Priestess dan satu Mage perempuan. Semua berjalan ke arah Judith. Sang Priestess sampai duluan dan mengulurkan tangan. Judith menyalaminya.
"Aku Charlotte," sapa Priestess itu, tersenyum. Ia berambut pirang panjang, bertubuh tinggi langsing, berwajah mulus dan bermata biru. Suaranya lembut. Umurnya sekitar 20-an. Judith takjub melihatnya. Perempuan ini cantik sekali.
"Mereka teman-temanku," Charlotte melanjutkan. Judith keluar dari lamunannya, melihat sekeliling dan mulai berjabat tangan dengan semua orang.
"Aku Nichols," kata salah satu Swordsman.
"Aku Ferdinand," kata Swordsman yang lain.
Judith memandang kedua orang ini heran. Mereka seperti pinang dibelah dua dengan laser presisi. Kedanya jangkung, bertubuh kokoh, bermata dan berambut coklat terang, serta bermuka ramah. Suara mereka sama-sama enteng dan terdengar ceria. Bahkan deret gigi mereka sama persis.
"Kalau kamu kesulitan membedakan kami, Ferdinand punya codet di dadanya," Nichols berkata, menyeringai.
"Tapi kamu tidak akan pernah melihatnya. Maaf ya," Ferdinand berkata.
Judith tertawa. Dia suka orang ini. Lalu ia merasakan seseorang menggenggam tangannya.
Judith menoleh dan melihat sang Priest berlutut dan mengecup punggung tangannya.
"Namaku Patrick," Priest itu tersenyum, sambil memperlihatkan gigi putih sempurna Pepsodent. Ia lalu berdiri. "Senang berkenalan denganmu, nona."
Judith terpana. Tampang Patrick paling praktis disebut cakep. Priest itu tinggi, tegap, berambut pirang, bermata biru, berwajah seperti cowok di komik cewek, dan suaranya dalam. Gentleman sejati.
"Hu-uh," Judith bersuara kecil. Lalu-
"Aku Ruth!" kata sang Mage sebelum Judith sempat menoleh. Ia langsung menggenggam tangan Judith dan mengayunnya kencang-kencang.
Mage ini terlihat sebaya dengan Judith, meskipun proporsi tubuh mereka...berbeda. Ruth lebih seksi, dan seragam Magenya cukup membantu. Wajahnya yang putih dan ceria seperti memiliki aura sendiri. Ia memiliki mata biru terang dan rambut pink panjang yang ditata seperti mage biasa. Ia tidak begitu tinggi, tapi tidak cebol juga.
Judith tersenyum kepadanya. Ruth tersenyum balik, menatap Judith dengan hangat. Mereka masih belum melepaskan salaman.
"Kamu imut," Ruth tiba-tiba berkata dengan suara melamun.
Butiran keringat raksasa muncul di belakang kepala Judith.
"Charlotte. Sograt," Leid berkata.
Charlotte mengerti dan langsung menoleh ke Patrick. Lalu mereka suit. Patrick kalah (Gunting lawan batu), dan mengeluarkan Blue Gemstone dari kantongnya.
"Selalu aku yang kalah," Patrick mengeluh. Ia melempar batu biru itu. Sesaat kemudian, muncul tiang cahaya biru di tempat batu tersebut mendarat. Tiang itu terang seperti obor, tapi tidak panas maupun menyilaukan. Di kakinya, muncul riak-riak biru. Judith menelan ludah ketika melihat ini. Ia tidak suka berteleport.
Leid maju dan langsung masuk. Yang lainnya mengikuti. Satu persatu, tubuh mereka hilang ditelan cahaya. Yang tersisa sekarang hanya Judith dan Patrick.
Judith maju setengah langkah, lalu berhenti. Patrick menoleh ke Judith dan menunjuk Warp Portal dengan kepalanya.
Judith tidak mau bilang dia takut teleport. Maka ia langsung berjalan mantap dan memasuki Warp Portal itu.
Pada saat ia menjejakkan kaki di Portal itu, ia langsung merasa mual. Lagi. Pertama, ia tidak bisa melihat apa-apa selain cahaya. Setelah itu, ia melihat gunung pasir. Ketika ia sadar, ia sudah menghirup udara kering dan terpanggang matahari.
Badan Judith terasa limbung. Ia berjalan sempoyongan, seperti orang mabuk. Ia tersandung dan jatuh ke depan. Charlotte menahannya. Pada saat inilah Patrick muncul.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
"Pusing aja," Judith menjawab, sambil berdiri tegak. Tidak ada yang bertanya lagi.
Leid melihat sekeliling. Gurun itu tidak besar dan tandus seperti gurun Sahara, tapi tetap saja mengesankan. Di sana tidak ada bukit pasir yang tinggi, kalajengking, onta dan penyamun. Tetapi sesekali terlihat seekor anak anjing, Knight yang naik Peco-Peco, atau telur mata sapi yang membawa penggorengan. Leid sedang mencari yang pertama kali disebut. Ia menemukannya.
"Judith."
Gadis itu menoleh ke Leid. Archer itu berjalan ke depannya dan mengulurkan sebuah Stiletto.
Judith menatap Stiletto itu, lalu Leid. Pandangan Leid mengatakan, 'Ambil Stiletto ini.'Judith mematuhi pandangan Leid.
"Bunuh binatang itu," Leid berkata sambil menunjuk seekor Baby Desert Wolf yang sedang mengejar ekornya sendiri.
Judith berkedip. "Apa?"
"Bunuh binatang itu," Leid mengulangi.
Judith menoleh ke arah yang ditunjuk Leid. Binatang yang dimaksud sekarang sedang menggaruk telinganya. Setelah itu sang Novice melihat ke teman-teman barunya. Baru saat itulah ia sadar semua menatapnya dengan muka serius. Bahkan Ruth. Charlotte terlihat khawatir. Judith melihat Baby Desert Wolfnya lagi.
"Oke," Judith menjawab tanpa berpikir. Baru setelah ia bicara Judith merasa panik.
Gadis itu berjalan dengan tegap. Di saat seperti ini, akal tidak bisa berpikir banyak. Yang jelas, ia harus membunuh binatang ini. Tidak bisa tidak. Tak lama kemudian, ia sampai di depan sasarannya.
Tanpa memberi kesempatan untuk keraguan, Judith menghunjamkan Stilettonya ke tubuh Baby Desert Wolf itu.
Binatang malang itu memekik dan langsung bergerak menjauh. Pisau Judith tercabut, dan darah merembes keluar dari luka bekas tusukannya.
Baby Desert Wolf itu tidak tampak kesakitan. Ia membungkuk. Seluruh bulu di punggungnya berdiri. Bibir atasnya tertarik, memperlihatkan taring kecil yang tajam. Ia menggeram dengan ganas.
Judith melangkah mundur, ketakutan. Ia tahu binatang ini bisa membunuhnya.
Binatang itu tiba-tiba menerkam. Judith secara refleks berbalik dan lari. Serigala itu berhasil menggigit pergelangan kakinya.
Judith tidak sempat meraung kesakitan. Ia terjatuh. Anak saerigala itu sekarang menarik-narik pergelangan kaki Judith. Gadis itu berbalik dan menendang-nendang moncong binatang itu dengan kaki yang satu lagi. Satu tendangan mengenai hidung. Anak serigala itu memekik keras dan mundur.
Judith berusaha merayap mundur dengan sikunya. Pada saat itu, sang anak serigala menerkam lehernya.
Judith berguling ke kiri dan menyabetkan pisaunya ke binatang itu. Ia merasakan sesuatu yang asin memasuki mulutnya.
Stiletto Judith telah merobek leher buruannya. Darah segar menyembur ke mana-mana. Binatang itu terhuyung-huyung. Ia 'mulai mengeluarkan suara aneh dari moncongnya. Seperti orang tersedak. Darah merembes keluar dari moncongnya. Setelah itu, ia roboh.
Judith kembali bernapas. Ia merebahkan diri di tanah berpasir itu. Ia melihat ke arah Leid.
Archer itu telah mengangkat busur dan panah. Ia membidik. Lalu ia menembak ke arahnya.
Judith tidak sempat bergerak. Panah itu melesat beberapa milimeter di atas hidungnya dan menghantam tengkorak Desert Wolf yang sedang melompat ke arah Judith.
Binatang itu terpental dan jatuh.
Lalu ia memudar...memudar...dan hilang.
Charlotte bergegas ke arah Judith.
Jauh dari sana, Leid tersenyum. Tapi tidak ada yang melihat ini.
