A Naruto fanfiction,
Hinata vs Kaguya ©2015 Munya munya
Rated: T
Genre: Romance, Family, Hurt-comfort
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: Canon(Alternate reality), possibly typos, DLDR!
Dedicate to all Naruhina lovers and congratulating the end of Naruto series.
Thank you Kishimoto-sensei for your hardwork!
enjoy reading!
"Mamaa~"
Hinata mengalihkan perhatiannya dari bahan-bahan makanan yang sedang ia olah. Matanya tertuju pada anak-anaknya yang baru saja bangun tidur dan terlihat menggemaskan.
"Ohayo Bolt, Himawari!" ujarnya sambil tersenyum dan menyerahkan dua gelas air putih ke masing-masing buah hatinya dengan Naruto itu. Mereka pun menerima gelas tersebut dan meminum air putih mereka dengan patuh.
"Hari ini sarapan apa, Ma?" kata Bolt sambil melirik ke atas meja dapur.
Hinata mengambil gelas kosong dari kedua anaknya dan meletakkannya di wastafel. Baru saja ia hendak menjawab pertanyaan Bolt namun tiba-tiba terdengar suara gumaman rendah dari arah ruang tengah. Suara yang amat mereka kenal. Juga suara yang sudah lama tidak mereka dengar. Bolt dan Himawari tersentak.
"Ngh.."
Sekali lagi suara gumaman khas orang tidur itu terdengar di telinga mereka. Hinata yang sudah mengetahui siapa yang bersuara hanya tersenyum penuh arti ke arah anak-anaknya.
"Lebih baik kalian bangunkan Papa." Ujar Hinata kemudian sambil menunjuk ke arah sofa panjang di ruang keluarga mereka. Bolt dan Himawari terdiam sejenak lalu mengangguk antusias dan langsung berlari ke ruang keluarga. Namun..
BRUK
"Ugh!"
Bolt dan Himawari, juga Hinata di dapur, mendadak terdiam memandangi 'sesuatu' yang terjatuh dari sofa cokelat panjang di ruang tengah mereka.
Setelah jeda beberapa detik itu, Bolt tak bisa menahan tawanya.
"Ahahaha! Dasar Hokage payah!"
"Ahahaha.."
Himawari ikut tertawa melihat tingkah konyol ayahnya. Hinata menghampiri mereka dan ikut tertawa. Naruto itu, masih saja ceroboh seperti dulu.
Sambil mengelus punggungnya yang sakit akibat mencium lantai, Naruto menatap jengkel sofa sial yang begitu sempit hingga dirinya terjatuh secara memalukan seperti ini.
"Hei hei.. apa ini cara kalian menyambut Papa yang baru pulang, hah?" ujar Naruto jengkel dengan tatapan masih mengantuk.
Ia masih terduduk di lantai ketika tiba-tiba Himawari melompat ke arahnya dan menduduki perutnya. Tangan mungilnya memukuli perut Naruto.
"Papa kenapa lama sekali pulangnya?"
Himawari berseru lucu sambil mencubit pipi Naruto dengan innocentnya.
"Uh.. Hima.. punggung Papa masih sakit kenapa di—"
"Himawari, jangan duduk di atas Papa, kasihan Papa habis terjatuh," suara lembut Hinata memotong ucapan Naruto lalu ia mengangkat putri kecilnya ke gendongannya. Kemudian satu tangannya membantu Naruto berdiri.
"Terimakasih Hinata," Naruto tersenyum. Itu adalah kontak mata pertama mereka setelah seminggu lamanya. Naruto kini berani menatap mata istrinya dan tidak terbayang lagi si iblis Kaguya saat ia menatap mata byakugan itu. Efek tidak bermimpi buruk lagi kah?
Pipi Hinata memerah. Perasaan hangat merambat di dadanya. Ia tidak dapat menahan rona tipis itu di wajahnya melihat Naruto seperti ini. Apa Naruto-nya sudah kembali?
"Papa payah! Awas saja kalau Papa tidak pulang lagi, aku akan beraksi!" seru Bolt menantang ayahnya. Tangannya disilangkan di depan dada dan wajahnya ditekuk.
"Hush, Bolt! Papa kan sibuk," sangkal Hinata.
"Huh, coba saja kalau berani, Bolt! Papa akan menghukummu!" balas Naruto tak kalah keras kepala.
Hinata geleng-geleng kepala melihat tingkah ayah dan anak ini.
"Sudah kalian berdua, lebih baik kita sarapan lalu kalian bersiap. Kalian tidak ingin terlambat 'kan?"
Walaupun tidak menunjukkan wajah sumringah dan malah sebaliknya, diam-diam Bolt merasakan hatinya menghangat saat ia berada dalam situasi seperti ini. Sarapan bersama dengan anggota keluarga lengkap. Dirinya, adiknya, Ibunya, dan terutama.. Ayahnya. Perasaan yang sama pun dialami Hinata dan Himawari. Denting mangkuk dan sumpit porselen serta celotehan Himawari sesekali memenuhi ruang makan keluarga Uzumaki. Entah mengapa menu makan pagi itu terasa lebih enak dari biasanya.
Apalagi bagi sang kepala keluarga. Sudah lama Naruto tidak memakan masakan istrinya. Ia makan sangat lahap seakan belum makan dari hari kemarin. Memang, sejak kemarin Naruto hanya makan ramen cup, namun baginya kini ramen cup hanyalah cemilan, bukan apa yang disebut 'makan'. Tapi tahu kah kalian saat ini posisi ramen sebagai makanan favorit Naruto sudah tergeser oleh masakan rumahan Hinata?
Naruto sudah memantapkan hatinya. Namun kali ini sedikit berbeda dengan dirinya yang biasa.
Ia belum seratus persen yakin, tapi seratus persen ia tepis pemikiran itu.
Perlahan ia mendekat ke arah istrinya yang sedang berdiri menghadap meja dapur, membelakanginya. Hinata sedang menyiapkan bekal untuknya. Selagi Naruto berangkat pagi dari rumah(Hinata tidak menjamin nanti malam Naruto tidak lembur dan kembali menghabiskan waktu paginya di rumah besok) ia tidak melewatkan kesempatan ini. Sebagai seorang istri sudah tugasnya untuk memastikan suaminya makan dengan benar.
Hanya satu onigiri lagi yang akan Hinata masukkan ke kotak bekal saat dirasakannya sebuah tangan merangkul pinggangnya ringan. Refleks Hinata menoleh meski tahu pasti siapa pelakunya.
Karena sentuhan itu terasa agak asing. Sangat sedikit asing bagi Hinata.
Naruto menarik napas sebelum mengutarakan niatnya membicarakan perihal mimpinya yang ia rasa membawa kesalahpahaman dan mengganggu hubungannya dengan Hinata. Bola matanya melirik langit-langit tepat sebelum kalimat terdengar di udara.
"Hinata.. ano,"
Ada yang ingin aku bicarakan.
Namun tertahan di tenggorokannya saat mata mereka bersirobok dalam jarak sedekat ini. Kembali, Naruto merasa sesuatu mengingatkannya lewat mata lavender itu. Hinata masih menatapnya dengan wajah tenangnya. Sementara si pria payah itu malah menundukan kepalanya sembari menghirup aroma istrinya lewat hidung yang menempel pada bahu Hinata.
"Ada apa Naruto-kun?"
Jujur, bau tubuh Hinata harum dan menenangkan.
"Aku berangkat."
Tapi matanya..
Naruto melakukan gerakan kilat. Menutup mata, ia mencium kening Hinata sekilas sebelum beranjak pergi dari dapur. Hinata menemukan dirinya mematung.
Matanya..
"Apa kau akan lembur lagi?" adalah yang keluar dari mulut Hinata saat sadar suaminya sudah berada di ambang pintu depan.
"Hm.. doakan saja pekerjaanku tidak menumpuk tinggi lagi-ttebayo!"
Kantor Hokage merupakan bangunan tersibuk di Konoha pada siang hari. Ratusan lembar dokumen terus mengalir keluar masuk kantor. Pun begitu shinobi yang bekerja berlalu-lalang silih berganti memasuki kantor tersebut.
Hinata yang siang itu datang ke kantor suaminya pun tak luput dari suasana itu. Meskipun begitu, sejak selangkah ia memasuki gerbang sapaan hormat dan sambutan hangat terus ia terima dari para shinobi bawahan suaminya. Maklum, selain istri Hokage, Hinata juga merupakan bangsawan klan Hyuuga yang dihormati.
Apa yang membawa Hinata ke sini memang tidak terlalu penting bila dilihat dari sudut pandang umum. Namun bagi Naruto, kedatangan istrinya yang mengantarkan kotak makan siang merupakan anugerah tersendiri.
Hinata menaiki tangga ke ruangan Hokage dan dilihatnya Shizune keluar dari dalam ruangan.
"Ah, Hinata!"
"Shizune-san, apa Naruto-kun ada di dalam?"
"Ya, masuk saja. Kau tahu 'kan Naruto itu sangat sibuk sampai lupa makan. Beruntung ada dirimu," jawab Shizune sambil melirik kotak bekal di tangan Hinata.
Hinata tersenyum sebelum membalas, "Kalau begitu aku masuk dulu. Selamat siang Shizune-san!"
"Selamat siang."
Setelah Shizune berlalu pergi, Hinata pun mengetuk pintu ruangan Hokage beberapa kali sebelum membukanya. "Masuk!" terdengar suara Naruto dari dalam.
Pintu pun terbuka.
"Ada apa lagi Shi-Eh? Hai Sayang, masuklah!" Wajah Naruto yang tadinya suntuk tenggelam oleh dokumen-dokumen yang menumpuk tinggi di mejanya, berubah cerah layaknya tanaman kering sehabis disiram air segar.
Hinata tersenyum malu-malu sambil berjalan mendekat. "Kau lupa bekalmu," Hinata pun menggeser laptop dari hadapan Naruto dan menggantinya dengan kotak bekal. Ia membuka kain bergambar pusaran merah itu dan perlahan mengeluarkan isinya. Kini onigiri dan lauk pauk serta minuman sudah tersaji di depan mata Naruto. Ia tidak bisa menolak.
Menyadari Naruto menghela napas lelah, dilema antara ingin segera makan tetapi pekerjaan terasa tidak bisa ditunda, Hinata berjalan memutari meja kerja Naruto sehingga posisinya kini berdiri di belakang Naruto. Tangan Hinata terangkat untuk memberikan peregangan. Ia memijit pelan dari leher sampai lengan suaminya. "Makan dulu, Naruto-kun! Istirahat sejenak itu perlu. Jangan memaksakan dirimu." Ujar Hinata lembut namun tegas.
Naruto menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menyerah. Ia sudah bekerja tanpa henti sedari pagi, namun pikirannya masih terbebani dengan masalah-masalah desa. berulang kali menghela napas, Naruto memejamkan mata dan memilih menikmati sentuhan Hinata yang kini sedang memijat pelipisnya.
Rasa nyaman yang tiada duanya.
Kalau sudah seperti ini ia tidak bisa berkata 'Tapi pekerjaanku masih banyak,' dan atau penolakan lainnya. Maka, ia mengambil tangan kanan Hinata dan bangkit menghadap istrinya sambil berkata, "Suapi aku ya?"
Mata Hinata sedikit melebar dan semburat merah tipis terlihat di wajah putihnya. Ya Tuhan mengapa suaminya ini, yang seorang Hokage ini, begitu manja bahkan di tempat kerjanya? Bagaimana kalau ada orang yang lihat?
Sebelum Hinata berkata 'tapi', Naruto segera berujar, "Aku masih harus menandatangani dokumen ini. Ayolah Hinata, kau ingin pekerjaanku cepat selesai 'kan?" lengkap dengan wajah memohonnya yang membuat Hinata menurut juga pada akhirnya.
Naruto tersenyum sumringah melihat Hinata sudah memegang sumpit dan mengambil makanan. Sementara Hinata yang melihat sikap Naruto yang seperti anak kecil terkikik pelan tanpa bisa ditahannya. Satu suapan berhasil masuk dilanjutkan dengan suapan-suapan selanjutnya. Sambil tetap menandatangani dan memeriksa dokumen-dokumen, Hinata setia menyuapi sang suami. Pasangan ini terlihat sangat mesra ditengah-tengah kesibukan kerja. Yah, jeda sejenak tidak apa-apa mengingat kerja keras Naruto selama ini.
Istriku ini memang yang terbaik! batin Naruto senang.
Di sela-sela kemesraan mereka, tiba-tiba Naruto teringat masalahnya sekitar seminggu lalu. Naruto mencoba menatap dalam-dalam mata lavender Hinata yang kini duduk di lengan kursinya. Hinata tidak menyadari hal itu dan tetap fokus dengan makanan. Walaupun sudah berlalu, keduanya belum berbicara lagi mengenai ini. Bagaimanapun masalah harus diluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang fatal di masa depan. Karena itu, Naruto berniat kembali membuka pembicaraan mengenai masalah mimpinya yang sempat membuat hubungan mereka merenggang.
"Ini minumnya,"
Kalimat Hinata memecah lamunan Naruto dan kembali membuatnya mengurungkan niat. Membuka pembicaraan yang membahas masalah pastinya akan merusak atmosfir damai yang terlanjur Naruto sukai siang ini. Tidak ingin merusak senyum istrinya, Naruto memutuskan berpura-pura lupa dan kembali menikmati kebersamaan mereka.
Mungkin lain kali, menunggu waktu yang tepat.
Di saat yang sama, Naruto tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan Hinata.
Apa mereka sama-sama berpura-pura lupa?
Desa dan pemerintahan. Kedua hal itu tidak pernah luput dari masalah. Walaupun dunia sudah damai dan stabil, tetap saja masalah-masalah di luar dunia ninja seperti masalah ekonomi, sosial, sengketa, dan lainnya terus bermunculan. Seperti yang terjadi sore tadi, Naruto harus turun langsung ke lapangan demi menyelesaikan masalah pembangunan di sebelah utara desa. Terbentur perizinan dan masalah lingkungan, membuat rumit persoalan. Dengan intelegensi yang tidak di atas rata-rata, permasalahan desa seperti ini cukup menguras otak dan tenaga Naruto. Beruntung ia punya penasihat jenius, Shikamaru yang membantunya menyelesaikan masalah.
Namun tetap saja kesibukan ini membuat Naruto tidak bisa pulang cepat. Tetap ingin memenuhi janjinya pada Bolt, Naruto yang kelelahan baik fisik maupun pikiran, akhirnya sampai di depan pintu rumahnya. Saat ia membuka pintu, rumah sudah gelap. Bagaimana tidak, jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Anak-anaknya pasti sudah tidur. Lantas ia pun naik ke kamarnya dan mendapati Hinata masih terbangun di kamar mereka.
Wanita berambut biru gelap panjang yang mengenakan kimono tidur cokelat itu sedang duduk berselonjor di atas ranjang sambil membaca saat ia dapati suaminya masuk tanpa aba-aba. "Na-Naruto-kun kau sudah pulang? Aku pikir menginap di kantor lagi. Aku.. maaf aku tidak tahu.." Sedikit merasa bersalah, Hinata langsung beranjak dari duduknya dan bergegas menghampiri Naruto. Sambil melepas dan menyimpan jubah Hokage, Hinata langsung membanjiri Naruto dengan pertanyaan, "Apa kau sudah makan? Mau makan atau mandi dulu? Akan kusiapkan air hangat." Ujarnya yang telah selesai menyimpan jubah dan duduk di tepi ranjang.
Naruto yang sudah merasa badannya tidak bisa berkompromi lagi bahkan untuk mandi atau berganti pakaian, langsung rebahan di atas ranjang dengan satu tangan menutupi wajah. Mengabaikan pertanyaan Hinata, Naruto hanya menepuk-nepuk sisi samping ranjang yang tidak ditempatinya seakan memberi isyarat untuk Hinata. Hinata langsung menempati tempat itu, kembali duduk berselonjor seraya memeriksa keadaan Naruto di sampingnya. Sedikit kekhawatiran muncul dalam benaknya melihat Naruto seperti ini. "Apa Naruto-kun tidak enak badan?"
Hinata menyentuhkan punggung telapak tangannya ke dahi Naruto, mengecek suhu badannya namun dirasanya normal-normal saja sampai Naruto berkata, "Aku hanya lelah, Hinata. Aku mau tidur."
Hinata mengangguk paham saat Naruto tiba-tiba bangkit dan merebahkan kepalanya di pangkuan Hinata. Awalnya Hinata terkejut dan sedikit merona, namun ia pun mengerti jika sudah lelah begini Naruto memang butuh dimanjakan.
Maka ia berinisiatif membuka kancing-kancing kemeja Naruto agar ia tidur lebih nyaman dan tidak gerah.
Ia pun mengelus pelan helaian pirang suaminya. Wanita itu mengambil minyak penghangat dari laci di sebelah ranjangnya yang merupakan obat-obatan herbal khas keluarga Hyuuga. Ia oleskan minyak tersebut sembari memijat pelan pelipis, leher dan pundak Naruto. Ia tahu beban pikiran sebagai Hokage pastilah sangat berat. Dan hal yang bisa ia lakukan hanya ini.
Belaian halus di wajahnya dan usapan konstan di pundaknya seperti irama yang mengantarkan Naruto terlelap. Rasa hangat dari minyak yang Hinata oleskan membuat otot-ototnya rileks. Rasa pegal pun reda sedikit demi sedikit. Segala kenyamanan ini membuat kantuk yang menyerang Naruto semakin besar. Ia tertidur semakin dalam. Hinata tersenyum tipis memandang wajah kelelahan suaminya yang mulai menggeliat nyaman di pangkuannya. Mengingat bahwa ini pertama kalinya mereka kembali tidur bersama setelah beberapa hari terpisah, Hinata tak bisa menahan senyumnya. Ia kembali melanjutkan mengelus kepala Naruto sampai napas lelaki itu berhembus teratur.
Rasanya tenang, nyaman dan akhirnya rindunya terobati.
Hinata pun perlahan ikut terlelap dan masuk ke alam mimpi dengan posisi masih memangku Naruto.
Dia merasa dirinya kembali ke masa lalu. Tubuhnya melayang, sangat ringan di atas langit. Bahkan bulan terlihat sangat besar di depan matanya. Sinarnya menyilaukan mata, namun saat ia dapat beradaptasi dengan sinar itu, pemandangan di depannya justru lebih menyilaukan.
Kecantikan yang menyilaukan. Kulit putih mulus, rambut panjang yang berkilauan tertimpa cahaya bulan, mata yang memancarkan cinta. Naruto terpana dengan wajah bercahaya itu.
Tatapan mereka terikat satu sama lain seakan tak ada objek lain yang mampu menyita atensi mata mereka. Dirinya seperti tersihir, ia mendekat dan memegang tangan gadisnya. Kemudian satu tangannya yang lain menyentuh wajah putih itu.
"Hinata."
"Naruto-kun."
Sebuah perasaan yang tulus menyatukan keduanya. Naruto mencium gadisnya di depan cahaya rembulan. Ia terhanyut oleh manisnya bibir kekasihnya. Hati mereka seperti dipenuhi bunga dan kunang-kunang yang hangat. Saat ia membuka matanya, wajah Hinata terasa sangat dekat. Mata yang awalnya masih menutup itu terbuka perlahan-lahan. Bulu mata lentik itu sangat cantik dan bergerak anggun memperlihatkan kristal putih keunguan yang unik.
Naruto masih menatap lekat kedua mata itu tapi entah mengapa semakin lebar mata itu terbuka, dirinya merasa tersedot ke dalam matanya. Bukan, kali ini bukan perasaan yang nyaman. Auranya dingin dan justru menegangkan. Semakin lama semakin buruk. Lalu ia merasa tertarik keluar kembali dan saat ia tersadar, mata yang sama itu terlihat berbeda. Sorotnya berbeda, bulu matanya berbeda. Sama-sama byakugan tapi mata ini... menyeramkan!
Naruto terkejut bukan main saat kekasihnya yang cantik tiba-tiba berubah menjadi dewi kelinci berwujud iblis yang tampak menyeramkan bahkan tanpa membuat seringai jahat di wajahnya. Mata itu menatapnya datar namun seakan menusuk dengan jarum es. Dingin dan menyakitkan.
Kaguya.
Rasa panik dan takut sempat menghinggapi Naruto sebelum ia dapat menguasai diri dan membuat kuda-kuda. Berhadapan dengan Kaguya berarti harus siap bertarung. Sebelum Naruto mengambil langkah ofensif, tiba-tiba sang dewi mengeluarkan pedang dari lengan bajunya yang panjang. Rambut panjangnya pun berubah menjadi jarum runcing yang siap menusuk lawan.
Senjata-senjata itu dengan secepat kilat beterbangan ke arah Naruto. Ini terlalu cepat, Naruto belum sempat mengambil langkah apapun saat senjata-senjata itu semakin mendekati tubuhnya. Dirinya panik dan entah mengapa kepanikannya ini seakan mencegahnya mengeluarkan insting ninja-nya. Mungkin genjutsu juga mempengaruhinya. Ekspresi Naruto benar-benar tegang, jantungnya berdetak keras, matanya melebar.
.
.
.
Semua gelap lalu kembali terang kurang dari sedetik. Mata itu terbuka cepat, keringat dingin jatuh membasahi wajahnya. Namun yang membuat semua ini lebih buruk adalah hal yang pertama kali terlihat oleh matanya. Wajah yang memancarkan kekhawatiran itu sejajar dan hanya tiga puluh sentimeter di depannya. Mata itu!
Ia merinding.
Secepat kilat Naruto bangkit dari pangkuan Hinata. Hinata bingung dan linglung secara bersamaan karena belum sepenuhnya terbangun. Pandangan Naruto kepadanya seperti sedang melihat hantu. Kembali perasaan was-was memenuhi Hinata tapi sebelum semua pertanyaan dalam benaknya terjawab, Hinata dikejutkan oleh seruan garang Naruto.
"Kaguya!"
Refleks lelaki berambut pirang itu maju dan mendorong wanita di depannya hingga terjatuh dengan keras ke lantai. Kejadian ini berlangsung sangat cepat.
"Aaaakh!" teriak Hinata kesakitan dibarengi dengan bunyi lantai yang berdebum akibat benturan dirinya. Hinata tersungkur jauh dari kasur.
Terkejut, kecewa, marah dan perasaan tak percaya juga terselip di teriakan itu. Sebelum semua emosi itu menyelimuti Hinata, ia memilih bersiaga dari serangan selanjutnya yang mungkin saja terjadi. Walaupun sebagian hatinya masih tak percaya lantaran yang melakukan semua ini adalah suaminya sendiri. Wanita mana yang tidak heran dengan fakta bahwa orang yang akan membahayakan dirinya adalah suaminya sendiri?
Tapi sedetik kemudian Naruto benar-benar maju melompat dari kasur hendak menyerang Hinata yang masih terduduk di lantai bahkan hampir membentuk segel saat tiba-tiba gerakannya terhenti tepat setengah meter di depan Hinata.
Kepalanya seperti dihantam palu yang sangat keras saat melihat wajah itu. Mata itu, ternyata bukanlah mata dewi menyeramkan yang merupakan musuh terakhirnya. Mata itu memancarkan kekecewaan yang dalam. Sendu dan redup. Detik itu juga Naruto merasa dibebani oleh penyesalan yang sangat berat. Ia keliru. Ia dibodohi oleh mimpi, lagi.
Mata biru Naruto melebar tidak percaya akan fakta kebodohannya. Ia menggeram kesal, menunduk dalam demi meredam amarahnya pada diri sendiri. Bagaimana bisa ia melukai wanita yang seharusnya ia lindungi dengan jiwa dan raganya?
Melihat itu Hinata jadi terdiam. Ia tidak bangkit ataupun kembali memasang pose siap bertarungnya. Ia hanya meringis dan mengusap bagian tubuhnya yang sakit karena terjatuh tadi. Mungkin badannya akan lebam-lebam setelah ini. Tapi kemudian Naruto sudah menunduk di depannya, mengulurkan tangannya untuk membantunya bangun. Hinata membuang mukanya ke samping saat menerima uluran tangan Naruto. Pria bermata biru itu dengan berhati-hati menuntun Hinata kembali ke ranjang tanpa mengucapkan satu kata pun. Setelah Hinata terbaring pun ia terus menunduk, tidak sanggup menatap wajah itu. Apalagi matanya. Kali ini bukan karena rasa takut namun rasa bersalah yang tak mampu ia bayangkan jika matanya menangkap wajah sedih istrinya.
Hinata ingin sekali menangis.
Alih-alih kembali ke sisi tempat tidurnya, Naruto justru berjalan menuju pintu. Sebelum membuka pintu untuk keluar, Naruto menoleh ke samping dan berucap dalam dengan tatapan mata biru yang redup.
"Aku sungguh.. minta maaf."
Karena tidak ada lagi kata yang lebih pantas dari kata maaf.
Hinata adalah istri hokage. Selain itu ia juga masih merupakan anggota elit keluarga Hyuuga. Walaupun bukan merupakan pemimpin klan, ia otomatis menjadi penghubung antara klan dan Konoha. Sebagai istri hokage pun Hinata terkadang disibukkan dengan aktivitas sosial maupun kegiatan kenegaraan lain, berhubung dirinya sudah tidak aktif sebagai kunoichi.
Maka tak jarang dirinya berurusan dengan petinggi desa, terutama para wanita di pemerintahan(yang beberapa di antaranya tak lain adalah teman-teman sekelasnya dulu) dan segala kesibukannya itu tentu membuatnya sering datang ke kantor Hokage juga bermitra secara professional bersama suaminya itu. Karena seluruh aktivitasnya yang berhubungan dengan desa di bawah otoritas Hokage.
Seperti hari ini, Hinata datang membawa suatu proposal yang akan dibicarakan dengan hokage untuk disetujui. Mengapa ia repot-repot datang ke kantor sementara hokage nya sendiri satu rumah dengannya? Jawabannya karena saat berada di rumah Hinata memastikan Naruto beristirahat tanpa pekerjaan satu pun. Juga, di kantor suasana terasa lebih formal dan mendukung mereka untuk bersikap professional sebagai mitra, bukan sebagai suami istri.
Pintu yang terbuka membuat Naruto menoleh dan wajahnya berubah sumringah mendapati istrinyalah yang datang.
Hinata masuk dengan wajah datar, lalu tanpa basa-basi menaruh proposal itu di meja Naruto.
"Selamat siang, Hokage-sama. Ini proposal untuk... "
Suara Hinata seakan mengapung begitu saja di udara bagi Naruto. Ia heran dengan sikapnya yang kelewat formal. Ya, memang biasanya saat mereka sedang membicarakan urusan penting seperti ini memang sikap Hinata formal namun tidak separah ini. Benar-benar kaku tanpa senyuman sedikitpun.
"Naruto-kun, kau mendengarku?" Nada Hinata naik satu tingkat saat mengatakan itu alhasil Naruto tersadar kembali dari lamunannya.
"Ah, iya baiklah. Selanjutnya akan aku tandatangani agar langsung dikerjakan oleh bawahanku. Ku tinggal mengawasinya saja seperti biasa." Ujarnya dengan senyum.
Jeda beberapa saat ketika Naruto sedang menulis sesuatu. Hinata diam memperhatikan lalu tiba-tiba Naruto menoleh, "Oh iya, ngomong-ngomong mana bekalku?" Ujarnya dengan santai dan cengiran di wajahnya.
Naruto memandang penuh harap sambil melirik tangan Hinata mencari-cari apakah wanita itu membawa kotak bekal seperti biasanya.
"Aku ke sini bukan untuk mengantar bekal." Senyum lima jari Naruto seketika sirna karena kata-kata itu.
"Maaf tapi aku terburu-buru. Aku membawa Himawari ke sini tapi ia ditahan Sakura dan Ino yang ingin bermain dengannya di bawah jadi aku tidak bisa membiarkannya terlalu lama nanti mereka kerepotan. Kau bisa menyuruh bawahanmu memesan makanan atau makan cup ramen kesukaanmu, Naruto-kun. Aku permisi." Ujar Hinata sambil mengambil proposal yang telah ditandatangani Naruto kemudian berbalik pergi.
Naruto hanya bisa melongo menatap kepergian Hinata. Sikap istrinya hari ini benar-benar berbeda dari biasanya. Tapi bagaimanapun juga ini adalah salahnya. Sudah sepantasnya Hinata marah akan peristiwa semalam. Walaupun Hinata memiliki hati yang sangat lembut, baik hati dan penyabar tapi tetap saja ia memiliki batas. Naruto mengacak rambutnya frustasi. Bisa-bisanya ia gagal mengontrol diri dari mimpi sialannya itu. Ditambah lagi ia kembali mengalami trauma yang membuatnya tidak bisa menatap langsung mata Hinata. Walalupun kali ini Naruto sudah berusaha melawannya dan mencoba bersikap biasa. Tapi kini justru Hinata lah yang menghindar.
Naruto marah dan kecewa pada dirinya sendiri. Ia merasa seperti akan mendekati keputusasaan. Walaupun ia tahu putus asa bukanlah dirinya.
Setelah ini apa lagi yang harus kulakukan?! batinnya kesal.
Ino, Tenten, Hinata, Sakura dan Temari sedang duduk berkumpul di ruang tamu kediaman Uzumaki. Bukan, mereka bukan kumpulan ibu-ibu pejabat yang sedang mengadakan arisan. Mereka memang orang-orang penting di desa (sebagaimana suami mereka) maka dari itu berkumpulnya mereka adalah untuk membahas program desa. Khususnya kegiatan perempuan. Sebut saja pemberdayaan perempuan atau kegiatan sosial non shinobi.
Namun bukan perempuan namanya kalau tidak disertai dengan memasak bersama, makan bersama juga bincang-bincang ringan seusai membahas kegiatan desa tersebut.
Tidak jauh-jauh, perbincangan mereka hanya seputar rumah tangga, masakan, anak-anak, dan pastinya suami.
"Sai juga begitu! ahahaha.." ujar Ino ditengah pembicaraan mereka.
"Sasuke pun sama saja," kata Sakura menimpali.
Gelak tawa pun memenuhi ruangan saat mereka sedang asyik membicarakan suami mereka.
"Kau bagaimana, Hinata? Hinata?" Tiba-tiba Ino berujar penasaran.
"Ah iya? Apanya?" Suara Hinata yang seperti orang linglung membuat semuanya curiga. Apalagi sejak tadi wajahnya nampak murung saat topik pembicaraan mereka menyangkut 'suami'.
Ino nampak ingin membuka suaranya lagi tapi tiba-tiba ia urungkan saat Tenten berbicara, "Apa ada sesuatu antara kau dan Naruto? Sikapmu hari ini aneh , Hinata."
"Kau juga menolak saat kita ajak menemui hokage langsung untuk membicarakan kegiatan sosial ini. Dan malah mengulur waktu di sini," timpal Temari.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Kali ini Ino yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Hinata terdiam dan tertunduk lalu kembali memandang teman-temannya satu per satu. Melihat ekspresi gelisah Hinata, Sakura meletakkan tangannya di lutut perempuan berambut biru gelap itu, bersimpati. "Kalau kau ada masalah, ceritakan saja pada kami. Kami akan membantu mencarikan solusinya semampu kami."
Semua pun merespon Sakura dengan anggukan.
Hinata menautkan jari-jarinya di depan dada. Membuat gerakan memutar seperti saat ia remaja dulu kala sedang gugup. "Jadi begini, Naruto itu akhir-akhir ini bermimpi..."
Semua mendengarkan dengan seksama cerita Hinata. Reaksi mereka beragam. Sama seperti Hinata sendiri. Perasaannya tak menentu. Sesungguhnya ia bingung harus bagaimana dalam bersikap di hadapan Naruto setelah semua yang menimpa mereka.
"... Tapi sejak peristiwa terakhir dua hari lalu, aku merasa marah. Aku tidak bisa menyembunyikan kekesalanku pada Naruto-kun. Lama kelamaan aku.. aku menyesal sudah mendiamkannya. Bagaimanapun aku ini.. bukan istri yang baik.. Dia.. dia juga belum pulang sejak saat itu.. Aku khawatir Bolt akan bertingkah lagi. Dia bilang akan membuat ulah jika ayahnya kembali tidak pulang dalam waktu yang lama." Air mata tertahan di pelupuk matanya kala Hinata mengakhiri ceritanya.
"Dia memang sibuk, Hinata. Walaupun begitu, yah..." gumam Temari.
"Kurang ajar si Bodoh itu. Hinata, apa aku harus memberinya pelajaran?" Geram Sakura.
Hinata hanya menggeleng. Lalu Ino yang sedang mengelus pundak Hinata pun menimpali. "Sebaiknya kita tidak mencampuri urusan mereka, Sakura. Nanti semuanya menjadi kacau. Naruto juga sebaiknya tidak tahu kalau kita sudah mengetahui cerita ini. Tapi.."
"Tapi?" Tenten membeo.
"Bisakah kita memberinya saran atau solusi saja?"
"Benar juga, Ino!" seru Temari.
Mereka pun memikirkan saran terbaik yang mereka bisa. Setelah berunding beberapa saat, akhirnya lahirlah cara-cara jitu memperbaiki hubungan Naruto dan Hinata sekaligus menghilangkan trauma mimpi buruk Naruto ala ibu-ibu muda Konoha.
Bahkan Sakura mencatatnya di sebuah buku! Ia pun mulai membaca seakan-akan mereview hasil 'rapat' mereka.
"Nah, kita bisa mulai dari tips pertama! Hinata, mulai besok cobalah pergi mengunjungi Naruto dan membawakan bekal spesial untuknya. Berikan dia perhatian lebih. Hitung-hitung sebagai permintaan maafmu.."
"Yah, walaupun sebenarnya Naruto yang salah sih. Tapi setidaknya dengan begitu Naruto jadi semakin pintar membedakan antara kau istrinya yang baik hati dan Kaguya si musuh mengerikan itu," Temari berkata sarkatis.
"Tetap saja, terakhir mereka bertemu sikap Hinata acuh. Itu sama saja melanggar kewajiban sebagai seorang istri kan?" Timpal Ino bijak.
"Bagaimana perasaanmu Hinata? Kau sudah tidak marah lagi 'kan dengan Naruto? Makanya ini saat yang tepat untuk memperbaiki hubungan kalian," ujar Tenten dengan senyum manisnya.
Hinata menatap temannya, terharu dengan kepedulian mereka yang tulus membantunya lalu mulai mengembangkan senyum. "Iya baiklah akan ku coba. Lagipula aku kasihan dengannya jika harus terbebani dengan masalah ini. Masalah desa saja sudah banyak membebani pikirannya. Aku khawatir itu akan mempengaruhi kesehatannya," ujarnya lirih.
"Tuh kan, kau ini semarah apapun aslinya tetap saja perhatian," goda Sakura.
"Eh? Ku-kurasa kalian semua juga seperti itu, Sakura."
"Eh? Ahahahaha," mereka pun tertawa dengan wajah memerah menyadari dirinya sendiri pun selalu seperti itu. Semarah apapun wanita, itu karena ia peduli dan perhatian pada suaminya.
Pembicaraan itu terus berlanjut sampai tips terakhir selesai mereka bahas. Ah, Hinata bersyukur memiliki teman yang sangat baik seperti mereka.
"PAPA BODOH! HOKAGE PAYAH! Aku benci papa!" Teriakan Bolt menggema di lorong depan ruangan Hokage. Naruto yang baru saja tiba dari kunjungannya ke beberapa tempat di luar kantor dibuat menoleh ke atas, di ujung tangga tempat Bolt berada. Urat kekesalan muncul di dahi Hokage muda itu. Ayolah, kali ini kenakalan apa lagi yang sudah diperbuat anaknya?
"Apa yang kau lakukan di sini, Bolt?"
Saat Naruto melangkah menaiki tangga, Bolt berlari turun dan dengan sengaja menabrak ayahnya. "Bolt, jawab Papa!" geram Naruto refleks berbalik menatap anak laki-lakinya. Tapi Bolt tidak mendengarkannya. Ia terus berlari tanpa tahu kemana tempat tujuannya.
Naruto menghela napas lelah. Ia memijit dahinya. Sepulang dari kunjungannya ke beberapa tempat untuk mengurus ini-itu, pekerjaan lain telah menantinya di kantor meskipun hari sudah sore. Tapi apa yang ia dapatkan setibanya di kantor tidak lain adalah masalah baru. Itu belum termasuk masalahnya dengan sang istri dua hari lalu yang belum ia selesaikan dan ia bekukan untuk sementara. Masalah seperti tidak bosan menghampirinya. Kalau ia bisa, rasanya ia ingin lari sejenak dari kenyataan yang begitu rumit.
Di atas meja, tidak ada.
Di laci, lemari, tidak ada.
Tidak ada, laptop andalan sang Hokage tidak ada di manapun di kantornya.
Naruto hampir gila karena harus kebingungan mencari sendiri laptop yang ia yakini ia tinggalkan di sini sebelumnya. Saat itu, tiba-tiba Shikamaru masuk ke ruangannya.
"Shikamaru, kau lihat laptopku?" serunya spontan.
"Tentu saja di sana, eh?" Heran Shikamaru karena meja kerja Naruto yang ditunjuknya kosong tanpa laptop tergeletak di atasnya.
Sebuah bulir keringat turun dengan gerakan lambat seakan menandai kepanikan sang Hokage.
Melihat itu, Shikamaru mulai merasa panik juga. Ia menelan ludahnya yang terasa berat. Pasalnya dokumen-dokumen penting desa Konoha banyak terdapat di sana apalagi dokumen terbaru yang sedang dalam proses pengerjaan. "Tidak mungkin ada orang asing yang masuk. Ku rasa Shizune-san menjaga ruangan ini selama aku berada di ruanganku tadi. Sebaiknya kita bertanya padanya."
"Tunggu!" seperti puzzle yang lengkap, sebuah pikiran melintas di benak Naruto mendengar kata-kata penasihatnya tadi.
"Bolt! Tadi Bolt pasti masuk ke sini. Aaargh anak itu!" Naruto langsung bergegas pergi menyusul anaknya yang diduga kuat telah membawa laptopnya pergi entah ke mana.
"Tunggu, Naruto!" Shikamaru segera menyamai langkah Naruto hendak mencegah tindakan sang Hokage yang dinilai terlalu terburu-buru dalam menyimpulkan.
Shikamaru tidak tahu insting seorang ayah pada anaknya sangatlah kuat.
Saat pintu terbuka, Naruto hampir saja menabrak Shizune yang hendak masuk. Suatu kebetulan yang tidak disangka.
"Shizune-san apa kau lihat laptop ku? Apa tadi Bolt masuk ke sini? Kenapa kau tidak mencegahnya?" Naruto langsung menyerang Shizune dengan pertanyaan beruntun.
Shizune yang belum memahami situasi sepenuhnya hanya mampu mengedipkan matanya kaku selama beberapa detik.
"Apa? laptopmu hilang? Tadi Bolt memang masuk ke sini mencarimu tapi aku bilang kau sedang keluar lalu aku pergi mengurus hal lain di sebelah. Ku pikir ia langsung pergi saat tahu kau tidak ada." Jelas Shizune tanpa jeda tapi nada suaranya makin mengecil di akhir kalimat.
Naruto menepuk dahinya. Sekarang semuanya semakin jelas saat Shizune dan Shikamaru menjelaskan kronologinya secara detail dari sudut pandang mereka. Saat itu memang tidak ada orang lain termasuk pengawal yang menjaga pintu ruangan Hokage, tapi tak ada juga yang melihat Bolt membawa laptop itu. Saat bertemu dengannya di tangga tadi pun, Naruto tidak melihat Bolt membawa tas atau apapun.
Tapi dari analisis mereka, kemungkinan terbesar laptop itu disembunyikan Bolt sebelum ia berpapasan dengan Naruto di tangga. Bolt sengaja memancing Naruto dengan datang ke sini lagi setelah menyembunyikan laptop itu agar Naruto menyadari kemarahannya.
Karena Naruto sudah melanggar janjinya pada Bolt. Ia seharusnya tahu hal seperti ini akan terjadi tapi ia tidak menyangka anaknya akan berbuat jahil pada hal yang sangat krusial bagi pemerintahan desa.
"Tenanglah Naruto, Bolt itu masih anak-anak. Kalau kita bertindak gegabah bukan tidak mungkin ia akan melakukan hal yang lebih buruk pada laptop itu. Lebih baik kita mencarinya.. dengan sesuatu seperti.. byakugan," ujar Shikamaru memberi saran.
"Kaguya.." gumam Naruto sangat pelan.
"Apa?"
"Maksudku eeh.. Hyuuga! Apa ada anggota Hyuuga yang sedang berada di kantor ini?" Ralatnya spontan.
"Kurasa tidak ada. Tapi.. hey! Hinata, Naruto! Kenapa tidak meminta istrimu sendiri mencari Bolt dan laptopmu?" Seru Shizune.
"Benar juga! Ayo!"
Shikamaru melongo melihat Naruto yang menjentikkan jarinya seakan baru ingat kalau istrinya adalah Hinata.
Karena yang terpatri dalam kepala Naruto selama ini, Hinata adalah Uzumaki Hinata bukan lagi Hyuuga Hinata. Ia yang merubahnya sendiri bukan?
Pintu rumah kediaman Hokage ketujuh terbuka keras. Membuat pemiliknya dengan cepat menghampiri orang yang masuk itu yang awalnya ia pikir adalah anak sulungnya. "Sebaiknya kau masuk dengan salam bukan dengan membuka pintu secara kasar Bo-Eh, Naruto-kun?!"
"Hinata! Di mana Bolt? Dia menghilangkan laptopku!"
"Apa?!"
TBC
a/n:
HAI HAI HAAAI READER SEMUAAAA! apa masih ada yang nunggu Hinata vs Kaguya? (pundung ditempat)
Iya, gebukin saja munya yang update sangatttt lama ini. Tapi chapter ini cukup panjang kan? 5600 kata semoga reader puas ehe ehe..
semester kemaren ampun deh, kesibukan gabisa di prediksi jadinya malah hiatus tak terencana gini T.T
ampuni akuu~
Oke, kita bahas cerita..
cerita ini latarnya canon tapi alternate reality jadinya huhu iya gara-gara Sasuke! iya dia biang masalah ini! semua ekspektasi saya tentang canon jadi salah gara-gara ulah dia di gaiden yang gak pulang-pulang. semua cerita canon saya melenceng gara-gara fakta bahwa sarada gak pernah ketemu ayahnya! sabar ya sakura! sakura strong sama bang toyib ganteng itu! abang ku sayang~ gak pulang-pulang~ (kenapa jadi duo serigala)
ehem soal cerita ini gimana romance naruhina udah banyak belum? hoho walau lagi lagi mereka harus terpisahkan oleh takdir.. #halah
dan naruto manggil hinata sayang sayangan! aha! gapapa dong wong sasusaku aja udah begitu di canon (kyaaa)
munya sedikit menyayangkan hinata atau naruhina family moment gak nongol di gaiden (iya gaiden yang kayak sinetron itu, iya yang harusnya judulnya sarada gaiden bukan naruto gaiden) haha. sepertinya om kishi mau menyelesaikan kontroversi sasusaku yang gak bahagia bahagia :")
tapiii akhirnya semua canon pair berakhir bahagia ya, ah senangnyaaa :3
Anyway, cant wait for boruto movie!
kembali ke laptop! jreng jreng jreng! naruto mimpi lagi tuh, tidurnya kecapek-an sih mimpi buruk deh hohoho. makanya baca bismika dulu naruto /plak
Di sini udah kerasa belum kalo Naruto itu sibuk banget? dan Hinata sebagai 'ibu negara' juga ikutan sibuk hoho. Yaa ibaratkan aja kayak ibu presiden gitu hinatanya.
kerasa aneh gak sih ceritanya? kalo ada salah salah dan janggal complain aja yaa, butuh masukan kalian supaya cerita ini gak kaku ^^
Terus apalagi yaa hmm sepertinya masalah malah makin banyak, gimana ya hubungan naruhina setelahnya?! apalagi bolt udah melancarkan 'aksinya'!
Penasaran? ikuti terus Hinata vs Kaguya ya!
Arigatou yang udah ngikutin Hinata vs Kaguya sampai sekarang ^^ apalagi yang udah review, favorit, follow, maupun silent reader makasih banyak teman-teman! jangan kapok baca fanfic- fanfic munya yaa!
Last but not least,
Review please~
Review's reply corner:
zino17
ini udah sengsara belum? hahaha. kalo nampar rasanya udah di chapter pertama ^^
Guest
ini sudah lanjut semoga suka yaa. maaf lama sekali! Rnr lagi yaa!
hana
terimakasih kembali! ini chapter 4 semoga suka yaa, Rnr lagi yaa!
Guest
here you go the 4th chapter ^^
Guest
Ini sudah lanjut maaf lama yaa, Rnr lagi yaa!
.10
makasih udah mau nunggu lama, ini chapter 4 nya
Guest
ini sudah lanjut semoga suka! Rnr lagi yaa!
Terimakasih! ini sudah lanjut silahkan dibaca lagi, Rnr lagi yaaa
Firebolt2030
makasih! ini sudah lanjut rnr lagi yaa!
hqhqhq
hai hai! lama gak jumpa ya hehe.. iya hinata sabar bgt kok tapi sesabar-sabarnya hinata punya batas juga :")
awawaaw semoga chapter ini ga kalah krenyes krenyes(?)
hmm sepertinya munya malah bikin konflik makin melebar. gak jamin chapternya cuma 6 nih kayaknya bakal lebih hahaha gapapa kan ya?
anggi chan
makasih anggi chan! ini sudah lanjut
nectarinia
hai kamu! akhirnya saya udah nonton the last dan the last udah tayang disini yeey! oke itu udah lama banget. jadi basi nih topiknya karena saya kelamaan update. maaf yaa! yap soal hinata turunan kaguya, itu udah saya duga dari lama jauh sebelum the last ada. jadi yaa adalah terinspirasi makasih udah review! ini chapter 4 nya semoga suka yaa ditunggu rnr nya lagi!
streetfordx
this is the next chapter! enjoy!
naruto udah berusaha jelasin tapi dia masih kesulitan tuh :(
Gogatsu no Kaze
hallo! hmm semoga chapter 4 membaik yaa!check it out! ditunggu Rnr nya lagi yaa
Oke munya rasa sudah semua. mohon maaf kalau ada yang kelewat dan kalo ada kesalahan dalam fic ini. semoga reader masih mau memberikan kritik dan saran. jujur Hinata vs Kaguya fanfic tersulit yang aku tulis jadi maaf kalo updatenya lama yaa aku sangat berhati-hati soalnya!
Salam,
Munya
