.

.

.

.

.

THAT MY FAULT

Cast :

Seventeen Yoon Junghan/Jeonghan (women) - (Seungcheol wife)

Seventeen Choi Seung Cheol/SCoups (man) - (Junhui & Jeonghan husband)

Seventeen Wen Junhui/Jun (women) - (Seungcheol wife)

Seventeen Lee Chan/Dino (man) - (Seungcheol & Junhui son)

Nb : untuk Lee Chan/Dino namanya berubah menjadi Choi Chan Hui

Seventeen Jeon Won Woo/Wonwoo (man) - (Jeonghan angel)

Exo Kim Min Seok/Xiumin (women) – (Seungcheol mother)

Seventeen Kwon Soonyoung/Hoshi (man) - (Seungcheol bestfriend)

Seventeen Lee Jihoon/Woozi (women) - (Seungcheol bestfriend)

Nu'est Kang Dong Ho/Baekho (man) - (Jeonghan father)

Nb : untuk Kang Dong Ho/Baekho namanya berubah menjadi Yoon Dong Ho

Nu'est Choi Min Ki/Ren (women) - (Jeonghan mother)

Seventeen Hong Jisoo/Joshua (man) – (Jeonghan Ex Boyfriend)


Chapter 4

Busan,

"Eomma aku titip Chan disini, tolong jaga dia dengan baik, beberapa hari lagi aku akan menjempunya, aku harus segera kembali ke Seoul". Seungchol menyerahkan Chan beserta semua keperluannya pada ibunya Xiumin

"Appa, besok sore, bukan beberapa hari lagi, dan jangan lupa", Chan membisikkan sesuatu ditelinga ayahnya

"Jangan memarahi eomma, appa sudah janji kan"

"Baiklah, kau harus dengarkan semua yang dikatakan halmoniemu ne, jadilah anak yang penurut, dan jangan sekali-kali mencoba menelvon eomma mu, appa akan bicara dulu dengannya"

"tapi.., bagaimana jika eomma yang menelvonku?"

Seungcheol tidak menjawab ia hanya memberikan sinyal pada ibunya dan tentu saja ibunya paham apa yang harus dilakukan, Seungcheol sudah menceritakan semuanya pada Xiumin.

.

.

Seungcheol merunduk mencoba menyamakan tingginya dengan Channie, ia memegang kedua tangan anaknya, menatap dalam-dalam pada kedua manik mata Channie

"Hei jagoan, mungkin ini akan sulit untukmu, tapi percayalah appa akan mencarikan solusinya, appa harap kau akan bisa menerimanya"

"anak laki-laki tidak boleh terlihat lemah atau menangis, yaksok"

"eum, yaksok", Chan mengangguk dan mengaitkan jari kelingkingnya pada appanya.

Setelah berpamitan pada Xiumin, Seungcheol pun segera beranjak pergi, ia harus segera menyelesaikan semuanya dengan Jeonghan.

.

.

Malam hari Seungcheol tiba dirumah, ini adalah hari yang sangat panjang untuknya dan sekarang ia harus bicara pada Jeonghan,

Seungcheol menarik nafasnya berat, baiklah kau bisa mengatasinya Seungcheol..

Seungcheol pun masuk kedalam rumah, namun ia menemukan pemandangan yang tidak biasa. Rumahnya terlihat sangat gelap, tidak ada satupun lampu yang dihidupkan.

Apa Jeonghan tidak dirumah fikirnya..

Seungcheol pun menghidupkan beberapa lampu diruang utama dan ternyata sisa kekacauan tadi pagi masih belum juga dibereskan, pecahan kaca tersebut masih berserakan dilantai, Seungcheol harus berhati-hati agar tidak terkena pecahan kaca tersebut. Ia pun segera naik kelantai atas, keadaan yang tidak jauh berbeda juga ia temukan disana, jendela-jendela masih terbuka meski sudah larut malam, dan tidak ada satupun lampu yang menyala, Seungcheol memasuki kamar tidurnya, Jeonghan tidak ada disana.

Seungcheol fikir mungkin Jeonghan akan ada dikamar Channie dan ternyata dugaannya tepat ketika Seungcheol menghidupkan lampu, ia dapat melihat dengan jelas Jeonghan sedang duduk meringkuk dipojok tempat tidur Channie sambil memegangi kedua lututnya, terlihat ada beberapa botol minuman keras disana dan juga sepertinya beberapa sisa putung rokok yang sudah tidak digunakan lagi

.

.

"Hai brengsek" haha ia tertawa dengan sangat sinis pada Seungcheol

"Akhirnya kau kembali juga, sudah puas menyiksaku?"

"Sekarang kembalikan Putraku?" Jeonghan mengulurkan telapak tangannya, meminta putranya pada Seungcheol

Jeonghan bangkit dari duduknya, mengambil salah satu botol minuman tersebut dan dengan berani menuangkannya kekepala Seungcheol yang masih berdiri di dekat pintu kamar

"Kau harus menjernihkan fikiranmu Seungcheol ahh", lalu melemparkan botol minuman tersebut kedinding hingga pecah berserakan. Jeonghan sudah sangat mabuk saat ini. Seungcheol yang kaget, segera menggengam kedua tangan Jeonghan sekuat mungkin dan menghempaskannya ketempat tidur

"Ige mwoya! Micheosseo?"

"Naega? Jeonghan menunjuk dirinya sendiri

"Eum, nan micheona", hahahaha

"Neo ttaemunae" dia menunjukkan tangannya kearah Seungcheol

Akal dan fikirannya sudah benar-benar tidak sehat lagi sekarang, seharian mengurung diri dikamar ini setelah Seungcheol membawa pergi Chan darinya telah membuatnya gila, hingga ia memilih alkohol sebagai pelarian untuk setiap masalahnya. Jeonghan kembali mengambil bungkus rokok yang teletak di samping tempat tidur, menghidupkannya dan mulai menyesapnya. Ia pun kembali duduk menyilangkan kakinya ditempat tidur, memijat pelan pelipisnya terlihat seperti sedang berfikir keras.

.

.

"Kau tau aku sangat khawatir ketika kau menelvonku dan mengatakan bahwa Junhui sekarat, aku pergi begitu saja meninggalkan semuanya untuknya, meninggalkan Jisoo, pendidikanku dan kembali ke Korea seperti orang bodoh. Tapi akhirnya yang kudapatkan adalah semua ini"

Fikiran Jeonghan menerawang, mengingat kembali masa lalunya..

"Tapi aku juga sangat senang ketika tau Junhui mati, aku fikir ini adalah saatnya bagiku untuk mendapatkan mu". Seongcheol melotot mendengarnya, ia hampir saja menampar Jeonghan, tapi Jeonghan menghindar

"Heii, heii, tenang dulu brengsek, aku bahkan belum selesai, jika menyangkut perempuan itu kau emosi sekali, dia sudah mati dan membusuk jadi tenanglah", Jeonghan sudah benar-benar gila, entah dari mana ia mendapatkan kata-kata sekasar itu, tapi dia sudah tidak perduli lagi. Hari ini ia akan mengeluarkan semua perasaan yang dipendamnya. Jika ia hancur maka biarlah semuanya hancur secara bersamaan..

"Aku sudah mengalah sangat banyak sepanjang hidupku, kau juga tau itu kan, ya aku yakin kau tahu tapi kau mengabaikannya" hahaha. Jeonghan kembali menyesap rokok tersebut dan menyembulkan asapnya perlahan

"Seungcheol…pernahkan kau merasa kasihan padaku?"

Kata-kata itu keluar begitu saja, untuk satu kali saja Seungcheol katakanlah kau perduli padaku, satu kali saja, Jeonghan menatap Seungcheol dengan tatapan yang sulit diartikan, ada perasaan kecewa, sedih dan juga sedikit permohonan disana..

"Pernahkah kau memikirkan perasaanaku?"

Seungcheol hanya diam saja….

"Cih, Kau dan Junhui sama-sama egois, tidak satupun dari kalian yang memikirkanku, kenapa aku harus mengalah Seungcheol?"

"Apa aku tidak pantas bahagia?"

"Apa aku tidak cukup baik untuk bisa mendapatkan kasih sayang seseorang?"

"Apa aku kurang tulus padamu?"

"Jawab AKUUU!"

Jeonghan menarik kerah baju Seungcheol, Seungcheol tidak bergerak sedikitpun, ia hanya mendengar dan menerima semua perlakuan Jeonghan padanya, kemudian ia melepaskan pegangan Jeonghan dan memilih untuk pergi,

"Tidak ada gunanya berbicara dengan seorang pemabuk sepertimu"

.

.

Tapi Jeonghan menarik tangan Seungcheol dan menghalangi pintu tersebut dengan merentangkan kedua tangannya

"Hari ini kau harus mendengarkanku sampai selesai!" ada penekanan didalam kalimat yang diucapkan Jeonghan tersebut

"Baiklah katakan semua yang kau mau sekarang dan besok setelah kau sadar kita bisa segera mengurus perceraian, aku tidak tahan lagi hidup denganmu!. Kau tidak perlu lagi mendekati putraku, aku pastikan dia akan lebih baik tanpamu!"

"Choi Chan Hui tanpa aku?"

"Itu mustahil, dia tidak akan bisa bertahan tanpa aku, aku ibunya, IBUNYA!"

"Kau ibunya?, lucu sekali"

"Bagaimana seorang sepertimu bisa menjadi ibunya? Apa kau yang melahirkannya? Apa kau tau bagaimana rasanya mengandung?"

"Memalukan! Jika kau ibunya kau tidak akan meneriakinya seperti itu. Itu adalah bukti nyata kalau kau bukan ibunya. Kau bahkan membahas masa lalu didepan Chan, kau ingin dia mengucapkan terimakasih padamu, begitu"

"Kau ingin dengar dia bilang, terimakasih ahjumma karena sudah membesarkanku, aku akan membalas budi baikmu, begitu?, lalu kau ingin lihat Chan pergi kemakam Junhui begitu? Atau kau ingin aku bersujud dihadapanmu, lalu mengemis agar kau tetap mau mengurus anakku? Bermimpilah Jeonghan itu tidak akan terjadi"

"Ayo kembali kepada kenyataan Jeonghan, Apa alasan kita menikah?"

"Aku tidak tau apa yang ada difikiranmu saat itu, tapi bagiku aku menikah denganmu karena jun memintaku. JUN, wanita yang kucintai, bukan kau" Seungcheol menunjuk Jeonghan sangat marah

"Lalu kau berharap aku akan memperlakukannmu sebagai istri begitu? itu tidak akan terjadi"

"Aku tidak mencintaimu sama sekali, tidak sekarang dan juga nanti."

.

.

Baiklah karena sudah seperti ini, mengapa tidak kita selesaikan saja semuanya, aku akan membuatmu membenciku Jeonghan. Seungcheol yang sudah sangat emosi akhirnya menarik Jeonghan dengan kasar dan menjatuhkannya ketempat tidur, ia mengenggam tangan Jeonghan erat dan menindih kakinya agar Jeonghan tidak bisa bergerak kemanapun lagi, ia menatap wajah Jeonghan lekat-lekat.

"Kau ingin aku menyentuhmu bukan? Baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu.."

"Kau ingin aku memperlakukanmu sebagai seorang istri bukan, khere aku akan mengabulkannya"

Jeonghan melotot mendengar perkataan Seungcheol, ia sama sekali tidak mengira Seungcheol akan memperlakukannya sehina ini,

"Lepas, Lepaskan aku!" Jeonghan berusaha untuk mendorong Seungcheol sekuat tenaga, ia bukan seorang wanita murahan yang bisa Seungcheol perlakukan semaunya.

Seungcheol sama sekali tidak perduli, kekuatan Jeonghan bukan apa-apa untuknya, ia menarik tengkuk Jeonghan dan menciumnya sangat kasar, Seungcheol sengaja menggigit bibir Jeonghan membuat luka disana hingga sedikit darah muncul dan membuat ciuman itu terasa asin dan juga hanyir, ia menjambak rambut Jeonghan dan tidak membiarkannya bernafas sama sekali, Jeonghan harus membencinya. Itulah yang ada difikiran Seungcheol.

Setelah dirasa hal tersebut cukup untuk melukai perasaan Jeonghan, Seungcheol kembali melanjutkan perkataannya, Sementara Jeonghan sudah menagis dengan hebat, ia merasa hati dan harga dirinya benar-benar hancur telah diperlakukan seperti ini..

"Kau ingin tahu mengapa aku masih mempertahankanmu?"

"Chan, itu alasanku!"

"Atau kau ingin dengar lebih rinci Jeonghan?, baiklah aku tidur disampingmu setiap malam, memakan makananmu, pergi bersamamu, berkunjung kerumah keluargamu, mengakuimu sebagai istriku, menghabiskan hidupku bersamamu bukan karena aku mencintaimu, tapi karena aku menghargai persahabatan kita dan aku menghargai kedua orang tuamu."

"Dan untuk Chan kau tidak perlu khawatir dia sudah cukup besar untuk menerima semuanya"

Seungcheol bangkit dari tempat tidur, melepaskan Jeonghan dan beranjak pergi

"Kau bisa kembali keluar negeri dan memulai hidup barumu Jeonghan!"

"Kau juga bisa kembali hidup dengan kekasihmu"

"Siapa nama pria itu?"

Seungchol mambalikkan tubuhnya dan melanjutkan pembicaraannya menatap Jeonghan

"Oh ya aku ingat sekarang, Jisoo, Hong Jisoo bukan?, kau bisa bersamanya, bukankah kau pernah bilang dia lebih baik dariku"

"Kuharap kau tidak lupa itu".

.

.

BLAM! Seungcheol membanting pintunya keras,

Apa harus sampai seperti ini,

Rasanya kacau sekali, ia bisa mendengarkan suara tangisan Jeonghan meski dari luar pintu, tangisan itu sangat menyayat hati, tapi semakin mendengarnya semakin Seungcheol menyadari seberapa buruk dirinya, seberapa jahat dirinya dan hal itu membuatnya marah pada dirinya sendiri

BRAKKK!

"Menangislah, kau hanya bisa menangis bukan. Bagus sesali saja hidupmu, mati atau pergilah jika kau mau, aku muak sekali dengan semua ini. Shit!" Seungcheol menendang pintu kamar Chan dengan keras sekali.

"Diamlah brengsek!"

.

.

Sudah hampir setengah jam sejak pertengkaran hebat itu terjadi dan saat ini Seungcheol lebih memilih menyandarkan dirinya pada sebuah kursi baca didekat tangga, ia harus menata kembali fikirannya, membenarkan nafasnya dan perlahan-lahan mengontrol emosinya. Sementara Jeonghan mulai membereskan barang-barangnya

"Kau benar, pilihanku hanya dua, mati atau pergi.."

Jeonghan keluar dari pintu kamarnya hanya dengan membawa sebuah tas tangan kecil, tas itu berisi handphone dan dompet, bahkan ia sudah melepas cincin pernikahannya, Jeonghan bahkan tidak berencana membawa mobilnya karena mobil itu adalah pemberian Seungcheol. Jeonghan segera berlari menuruni tangga dan menuju pintu depan. Seungcheol yang melihatnya malah tertawa sinis dan berteriak

"Bagus, bagus sekali, akhirnya kau sadar juga apa yang harus kau lakukan"

"Pergi, pergilah untuk selamanya". Seungcheol melemparkan apapun yang ada disekitarnya kebawah tangga.

"Pergi dan jangan pernah kembali, tidak untukku dan tidak untuk putraku!"

.

.

Setelah Jeonghan menghilang dari pandangannya, Seungcheol mulai sedikit tenang, emosinya tidak separah tadi, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan kemudian menjambak rambutnya kasar, air matanya mulai menetes

"Kau seharusnya sudah pergi sejak lama Jeonghan, kenapa kau harus bertahan selama ini disiku, aku tidak bisa mencintaimu Jeonghan, tapi kenapa kau masih bersikap baik padaku dan chan, kau lihat sekarang kita harus berakhir seperti ini, aku malu sekali pada diriku Jeonghan, aku malu sekali karena aku sudah gagal untuk menepati janjiku, aku tidak bisa mencintainya jun, aku tidak bisa, hanya kau yang ada disini' Seungcheol memukul-mukul dadanya kasar.

Sakit sekali, ia harus melukai perasaan wanita itu lagi, setiap kali Seungcheol menyakiti Jeonghan ia merasa hatinya sakit sekali, meski bagaimanapun mereka bersahabat sewaktu kecil, Seungcheol tidak akan pernah tega untuk membuatnya menangis, tapi ia tidak bisa mengendalikan dirinya, ada rasa benci, sayang, dan kasihan setiap kali ia melihat Jeonghan, tapi tak ada yang bisa ia lakukan, perasaan egois lebih menguasai dirinya

.

.

Jeonghan keluar dari rumah dengan keadaan yang sangat mengenaskan, kepalanya sangat pusing, matanya sangat merah, bahkan nafasnya tersekat, sakit sekali, kenapa Tuhan mengujinya sampai seperti ini, rasanya ia tidak bisa bernafas lagi, karena rasa sakit dihatinya membuat nafasnya sulit untuk dikeluarkan, Jeonghan memegang dadanya sakit, ia menyandarkan tubuhnya didekat pagar rumah, ia harus pergi. Tapi kemana, tidak mungkin jika Jeonghan harus pulang kerumah orang tuanya, permasalahan keluarganya akan semakin rumit..

.

.

Disisi lain Wonwoo yang baru saja pulang dari kantor sehabis lembur seharian baru saja akan memasuki pekarangan rumahnya, ia bingung ketika melihat sosok Jeonghan yang bersandar dipagar rumahnya selarut ini,

apa yang dilakukan Jeonghan, Batinnya

Wonwoo pun segera turun dari mobil dan memberanikan diri untuk menghampirinya, ingat selama ini Wonwoo hanya bisa memperhatikan Jeonghan dari jauh

"Hei, kau kenapa"

"Apa kau sakit" Wonwoo bisa mencium bau alkohol yang sangat kuat disana

"Ayo, aku akan mengantarmu pulang, berpeganganlah" Wonwoo baru saja akan memapah Jeonghan, tapi Jeonghan sudah terlebih dulu melepaskan pegangannya

"Lepaskan aku, tidak usah perdulikan aku"

"Pergilah" Jeonghan menepis tangan Wonwoo

Tapi Wonwoo ragu untuk membiarkannya pergi begitu saja, bagaimanapun Jeonghan adalah wanita yang penting untuknya..

"Sudahlah tidak apa, ayo aku akan mengantarmu masuk, kau pasti sedang mabuk"

"Aku tidak bisa pulang kerumah itu lagi sekarang" Jeonghan menjawab lemah masih dengan air mata yang terus mengalir dari pipinya

"Kau bertengkar dengan suamimu?"

"Jadi kau akan pergi kemana?"

"Baiklah katakan padaku, aku akan mengantarmu Jeonghan ssii"

"Entahlah, aku tidak bisa berfikir sekarang"

"Kau mau mampir kerumahku, aku tinggal disebelah rumahmu, kau bisa pergi besok pagi"

Tidak memiliki pilihan lain, Jeonghan pun menyetujuinya

"Hanya semalam"..

"Baiklah", Wonwoo pun membawa Jeonghan masuk kerumahnya, Wonwoo membiarkan Jeonghan duduk dikursi tamu dan memberikannya segelas air serta obat pereda mabuk

.

.

"Minumlah, itu akan meredakan mabukmu"

"Kau bisa tidur dikamar itu" Wonwoo menunjuk kamar yang ada disebelah kiri mereka,

"Aku akan tidur diatas"

Jeonghan mengambil obat yang diberikan Wonwoo dan meminumnya,

"Khamsahamnida"

"uhmm beristirahatlah"

.

.

Wonwoo segera naik kelantai dua dan memasuki kamarnya, ia melepas baju kerjanya dan menggantinya dengan pakaian yang lebih santai. Ia mengambil selimut dilemari dan segera turun kelantai bawah, Jeonghan sudah tidak ada disofa, Wonwoo pun perlahan membuka pintu kamar tamu dan mendapati Jeonghan sudah tertidur lelap disana. Woonwoo membuka ikatan rambut Jeonghan dan membiarkannya tergerai, masih ada beberapa jejak air mata disana, Woonwoo memperhatikan wajah cantik itu lama sekali..

"Kau masih belum berubah Jeonghan, kau masih sangat cantik.."

"Seandainya aku yang berada disisimu, tentu aku tidak akan pernah membuatmu menangis seperti itu"

.

.

Kecantikan yang dimiliki Jeonghan seakan membuat Wonwoo tersihir, ia pun dengan berani mendekatkan wajahnya pada Jeonghan

Wonwoo sudah mengagumi Jeonghan sejak lama sekali, masa-masa smpnya ia habiskan hanya untuk mengikuti dan mengamati kemanapun Jeonghan pergi, tapi saat itu ia tidak berani mendekati Jeonghan, ia bukan siapa-siapa saat itu, tapi kini semua telah berbeda, Wonwoo sudah menjadi seseorang yang sangat sukses sekarang, jika ia mendapatkan kesempatan tentu ia tidak akan melepaskan Jeonghan lagi, ia tidak sebodoh dulu

Cup,

Wonwoo mencium kedua pelupuk mata Jeonghan,

"Uljima, jangan menagis lagi.."

"Mulai sekarang aku akan menjagamu, aku tidak akan membiarkan lelaki itu menyakitimu lagi.."

"Percayalah..", Wonwoo menyeka air mata yang masih berada disekitar mata Jeonghan

.

.

Wonwoo menutupi tubuh Jeonghan dengan selimut yang dibawanya, kemudian ia duduk disamping tempat tidur Jeonghan, memegang kedua tangan Jeonghan yang terlihat sedikit memerah,

"Apa ia menyakitimu Jeonghan?" Wonwoo berbicara sendirian saat ini

Cup,

Wonwoo pun mencium kedua telapak tangan Jeonghan, aku akan menyembuhkannya untukmu..

"Dibagian mana lagi dia menyakitimu? katakan padaku.."

"Apa aku harus menyingkirkannya Jeonghan..?"

"Dengan begitu kau akan aman bersamaku..."

"Atau aku harus merebutmu darinya?.."

"Sepertinya itu lebih baik bukan?", Wonwoo kembali mengelus rambut Jeonghan

"Tidurlah yang nyenyak chagi, selamat malam"

.

.

Wonwoo kembali mendekatkan wajahnya pada Jeonghan, ia bisa melihat dengan jelas ada luka dibir Jeonghan dan sepertinya luka itu masih sangat baru..

"Dimana kau mendapatkannya Jeonghan", Wonwoo menyentuh bibir Jeonghan lembut

Kini hampir tidak ada jarak diantara mereka, Wonwoo bahkan bisa merasakan setiap hembusan nafas Jeonghan yang mengenai wajahnya, ia medekatkan bibirnya pada Jeonghan, merasakan setiap getaran yang dihasilkan ciuman tersebut mengaliri seluruh tubuhnya, jantungnya sudah berdetak sangat cepat saat ini. Wonwoo mencium Jeonghan selembut mungkin, ia seperti ingin mengambil semua rasa sakit yang dialami Jeongahan dan menyalurkan sebuah perasaan tulus yang telah lama ia simpan untuknya. Ya hanya ada rasa cinta disana, cinta yang sudah sangat lama ia pendam untuk seorang Yoon Jeonghan...

"Aku mencintaimu Jeonghan…"

"Aku mencintaimu"

.

.

.

.

.

RIVIEW JUSEYOO ^^