Story 4 : Kecebong

Suasana pagi yang cerah disertai dengan nyanyian merdu sang biduan alam (read : burung) mengiringi langkah dua manusia berlainan jenis kelamin yang sedang berjalan ke sekolah. Yang satunya adalah gadis berkuncir dua, sementara disampingnya ada seorang pemuda tak berkuncir, maksudnya udah jelas kalau rambut landaknya itu gak bisa dikuncir 'kan?

Pokoknya dia itu Fang, remaja umur 15 tahun yang cita-citanya mau jadi juragan donat lobak merah.

Mereka sudah bersahabat dari kecil, semenjak Fang suka sama bayang-bayang. Maklum, kawasan rumah mereka itu rawan mati lampu, jadi anak-anaknya mungkin suka berimajinasi sendiri. Fang suka buat harimau bayang, koala bayang, tikus bayang, tapi yang jadi andalannya itu cuma monyet bayang. Kebayang gak kalau monyet bayang itu bisa dijadiin topeng monyet? Kan lumayan, Fang dapat uang tambahan buat beli donat kesayangannya. Duh, kelewat jenius emang ya.

"Ying, mau mancing dulu gak?" tanya Fang tiba-tiba.

Ying berhenti sejenak, ia memeriksa telinganya terlebih dahulu, takut kalau ia salah dengar.

"Eh, kok malah diam aja sih." Fang menggerutu, kesal karena sang gebetan yang gak pernah peka selama bertahun-tahun itu masih bergeming. Fang 'kan jadi kzlkzlkzl /ditimpuk readers.g

"..."

Gadis bermata empat itu pun malah mendekat kepada Fang, jaraknya dipersempit hingga Fang dapat merasakan kalau pipinya sudah memerah. Fang takut kalau ia mendadak terserang penyakit salah tingkah, tapi gadis itu malah memperburuk keadaan. Dua kata buat Ying, GAK PEKA. Padahal Fang udah keringat dingin didekatin sama doi, tapi doinya masih nyosor aja tanpa merasa berdosa gitu. Tangan halus milik Ying ditempelkan ke dahi Fang.

"Ka-kamu mau apa?" tanya Fang yang mulai salah fokus.

Yang ditanya malah balik bertanya, "Fang, kamu sehat?"

Ambigu. Fang sama sekali enggak ngerti apa maksudnya.

"Aku lapar. Aku mau makan ikan. Kita mancing ikan teri dulu yuk sebelum ke sekolah? Masih ada setengah jam lagi 'kan?" Fang kembali ke topik awal. Takut ceritanya makin enggak nyambung. Oh, takut ratingnya naik ke M juga katanya/?

"Hah? Mancing? Tapi disini enggak ada sungai apalagi laut. Jangan ngawur deh." Balas Ying sambil melengos begitu saja.

"Enggak perlu laut kok, ikan itu ada dimana-mana. Coba lihat ke situ, ikannya banyak banget 'kan?" Fang menunjuk ke arah selokan, dan berbicara dengan percaya dirinya.

Spontan raut wajah Ying berubah menjadi poker face. Ia tak tahu makhluk apa yang telah merasuki temannya ini, yang mendadak menjadi stupid.

"Fang, kamu ganteng tapi bego ya." Ujar Ying dengan nada datar. Ia menatap miris pemuda bersurai landak itu.

"Wah, aku enggak pernah lihat ikan sebanyak ini. Kata mama, ikan teri itu banyak gizinya. Nanti aku jadi tambah pinter 'kan?!" teriak Fang dengan senangnya. Ia menyeringai melihat para kecebong yang tengah berenang. Salahkan Fang jika ibu kecebong murka anaknya disamain sama ikan teri.

"Kamu malah jadi tambah bego tau." Timpal Ying dengan death glare-nya. Yang ditatap malah enggak tau diri, dia bahkan gak sadar dari tadi dibilang stupid.


Lupakan masalah tadi pagi, saat Fang lagi terobsesi dengan kecebong. Jam pelajaran hari ini ditutup oleh biologi. Kebetulan, Papa Zola akan membahas mengenai reproduksi pada makhluk hidup.

Para murid masih bermain dikelas. Soalnya, guru aneh mereka terlambat karena terjebak macet. Kesempatan emas, mereka yang gak berotak segera melancarkan aksinya.

"Kita main slime yuk!" sahut pemuda bertopi jingga, kepada empat temannya.

Gopal langsung mengangguk tanda setuju, sementara Yaya sama Ying masih berkutat pada buku biologi mereka.

"Slime itu apa?" tanya Fang dengan polosnya.

"Gausah banyak tanya deh. Langsung main aja." Jawab Gopal yang tak sabar ingin main.

Akhirnya Boboiboy membagi slime buatannya menjadi lima bagian. Yaya, Ying, dan Gopal membuat bentuk sesuai dengan keinginan mereka. Yaya membentuknya menjadi biskuit. Ying membentuknya menjadi penguin. Gopal mungkin sudah dapat ditebak, ia membentuk kue koci Mak Timah. Dan Boboiboy membuat bentuk kuning-kuning mengambang.

.

.

.

.

.

Ochobot.

Lalu, bagaimana dengan makhluk itu? Si jelmaan landak?

"Itu apa?" tanya Boboiboy melihat bentuk slime milik Fang yang terlihat absurd namun berbentuk.

"Kayaknya aku kenal deh." Gopal bergumam, sambil mengamati dengan seksama.

Yaya dan Ying juga memperhatikannya. Bagi duo jenius seperti mereka, bentuk itu sudah tak asing lagi. Bahkan, sangat familiar dikepala mereka.

Memikirkan bentuk itu, mereka malah merona sendiri.

Fang membuat slime itu menjadi bentuk panjang yang berekor, bagian atas yang seperti kepala dibuat agak lonjong. Jangan lupakan, ekornya semakin lama semakin mengecil. Oh, ekornya juga dibuat melengkung, seperti sedang berkelok-kelok.

Anak biologi yang udah enggak polos pasti tau/g

"I-itu kan..yang ada dibuku biologi." Ucap Ying dengan malu-malu, apalagi membicarakan masalah begituan dihadapan para lelaki.

Yaya membulatkan matanya, "Hasil dari proses...spermatogenesis?"

"Spermatogenesis? Apa itu? Ini memang yang ada dibuku biologi. Halaman 173 bab 4 tentang proses makhluk hidup berkembang biak,"

"Setelah baca bukunya, akhirnya aku sekarang tahu,"

"Kalau ini adalah kecebong, bayinya kodok." Balas Fang, sambil mengeluarkan bukunya. Ia juga menjelaskan semuanya dengan sepolos-polosnya.

Mereka berempat, yang ketahuan udah enggak polos lagi tak dapat berkutik. Tak lupa, mereka juga mengutuk Fang yang bodohnya udah kebangetan.

Tapi maklumin aja, mungkin Fang lagi berimajinasi dengan bentuk kecebong yang unik itu. Siapa tau nanti dia bisa buat kecebong bayang?

Akhirnya mereka berkata dengan serempak, "Fang, kamu ganteng tapi bego ya." (2)


A/N : Hai, saya kembali lagi dengan fict absurd ini.

Tapi serius lho, ini memang pengalaman saya pas lagi jamkos disekolah.

Kebetulan waktu itu abis belajar biologi, jadi..

Teman yang duduk dibelakang saya tiba-tiba bawa slime, trus dia mainin, eh pas saya nengok ke meja belakang ada begituan/?

Saya sih pura-pura diam gak tau, lagian saya kiranya itu bentuk kecebong kok.

Eh teman saya yang satunya malah tiba-tiba nyeletuk, suaranya kencang lagi, bilang itu mirip sama yang dibuku biologi.

Terus saya jadi bingung, sebenernya yang salah fokus itu saya atau dia?

Haha, oke sekian dari saya^^

Review please?