Title : The Ugly Twin (INA Vers)
Author : by Fallenenigma
Translated by : CicimotLee
Do not copas please!
Don't like don't read!
Chapter 4
Confession…
I'm not over edit so, sorry for typos and happy reading…
HunKai
.
.
.
.
"Ahhh" Kyungsoo mengerang dengan menaruh jidatnya di atas meja "Haruskah… Kita sungguh harus datang ke acara pesta kelulusan malam ini?"
"Tentu saja, itu kan wajib" Jongin membalas sambil memasukan semua buku tulisnya kedalam tas nya. "Yah… sebagai junior di kampus kita ini, kita tidak bisa untuk menolak. Ini adalah bagian dari tradisi kampus kita dimana junior yang sudah mendaftarkan dirinya ke kampus ini harus menghadiri pesta kelulusan para kaka kelas mereka, untuk mendapatkan inspirasi dan belajar lebih rajin lagi"
"Lalu, harus bagaimana?" Kyungsoo mengerang keras sambil berdiri dari duduk nya "Well, Jongin-ah. Aku akan menjemputmu. Kau harus sudah siap jam 7, kau mengerti?"
"Y- apa?" Jongin menaikan alisnya.
"Aku akan menjemputmu"
"Kau bisa menyetir?"
"Tentu" Kyungsoo mengembangkan seringai puas miliknya. "Kenapa? Apa aku tidak terlihat seperti orang yang bisa menyetir?"
Jongin menelan ludah nya. Mempunyai mobil sendiri di kota besar seperti Seoul… Yah, Kyungsoo pasti salah satu bagian dari kalangan orang kaya. "Ba-baiklah…"
"Oke, kalo gitu. Sampai jumpa." Kyungsoo berkata dengan tangan melambai dan berlalu menjauh.
Jongin masih berdiri di sana. Senyuma kecil dengan perlahan mengambang di bibir nya.
Kyungsoo terlihat sangat dingin dan tak mudah di dekati, tapi pada kenyataannya dia berkebalikan dari itu semua.
Lelaki tan itu menghela nafas kemudian berdiri dan melangkahkan kaki nya keluar dari kelas.
Jongin berjalan melewati koridor kampusnya ketika ia begitu saja mendapati kembarannya –Taemin- sedang berbincang pada seorang pria tinggi dengan rambut cokelat gelap.
Oh. Choi Minho.
Keduanya terlihat tertawa ringan dan Jongin mampu melihat pancaran bahagia dari Taemin.
Selalu seperti itu.
Jongin menelan ludah saat ia menolehkan kepalanya dari arah itu dan berjalan menjauh.
Minho adalah yang pertama menyadari keberadaan Jongin.
"Bukankah dia kembaranmu?"
Taemin menolehkan kepala nya dan melihat sekeliling lalu mendapati adik kembar nya sedang berjalan menuju pintu gerbang keluar kampus ini. "Oh, yeah.. dia kembaranku"
"Dia sudah akan pulang?"
"Ku rasa iya" ucap Taemin "Mungkin dia hanya punya satu kelas hari ini"
"Kau tidak menyusulnya?"
Taemin menggelengkan kepalanya dan Minho sedikit mengerutkan dahinya.
"Kalian itu kembar, tapi menurutku kalian tidak terlihat dekat"
Taemin merasa hatinya tiba-tiba sakit ketika Minho mengatakan hal itu.
Mereka dulu sangat lah dekat. Ketika mereka masih kecil. Jongin begitu dekat dengan nya, dia selalu melekat pada nya. Jongin itu begitu pemalu sejak mereka kecil dan Taemin tidak bisa untuk tidak over protektif pada nya. Tapi hubungan mereka mulai merenggang saat mereka memasuki sekolah menengah. Taemin juga tidak tau kenapa. Dia sangat senang karena memiliki banyak teman baru di sekeliling nya… dan kekasih. Tapi Jongin berkebalikan dengan nya. Jongin memilih menyendiri, dan menjadi pendiam.
Jongin adalah target yang cocok untuk di buly, tapi kebanyakan orang tidak bisa menyentuh nya karena ia adalah saudara kembar Taemin. Taemin adalah satu-satunya orang yang melindungi nya, tapi Taemin tidak mengerti kenapa Jongin berubah menjadi seperti ini. Semua ini jelas sekali bukan hanya karena Zico hyung.
"Kita akan bertemu malam ini" Minho tersenyum kemudian mengecup kening Taemin. "Sampai jumpa, sayang"
Taemin termagu sesaat. Tangannya perlahan menyentuh tempat di mana Minho mencium nya tadi. Terasa sangat lembut.
Taemin merona dengan itu. Minho baru saja menciumnya!
.
.
.
.
Tidak jauh dari tempat Taemin berdiri, di sana ada beberapa orang menatap ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian di dalam mata mereka.
"A fucking slut." Satu di antara mereka bersuara.
"Kita akan membuatnya menyesal, camkan itu." seorang lain menimpali.
Setelah itu mereka membalikan tubuh nya dan berjalan pergi untuk meninggalkan tempat mereka berdiri sebelumnya.
.
.
.
.
Jongin baru saja selelsai bersiap-siap. Ia hanya mengenakan baju lengan panjang yang kasual dan celana jeans panjang berwarna hitam. Sederhana, karena ia bingung apa yang harus ia pakai. Malam ini pasti cuacanya dingin dan Jongin tidak mau mengambil resiko dirinya akan kedinginan nanti. Ia menatap pantulan dirinya di cermin beberapa saat sebelum mengembangkan senyum nya.
Merasa bahagia hanya dengan sesuatu yang sederhana dalam hidup ini…
Drrrrt.
Ponsel Jongin bergetar dan Jongin segera mengalihkan kepalanaya untuk melihat benda itu. Ia mengambil benda tersebut dan mengangkat panggilan nya.
"Aku sudah di luar, Princess"
Senyuman Jongin mengembang pada wajahnya ketika ia mendengar suara yang tidak asing dari temannya, Kyungsoo.
"Baiklah! Aku akan ke bawah sebentar lagi!"
Jongin membawa barang-barang nya dan dengan tergesa keluar dari rumah nya. Ia membuka pintu lalu melihat sebuah mobil hitam metalik terparkir di depan rumah nya. Kyungsoo melambai singkat dari dalam sana.
Jongin melangkahkan kakinya pada mobil itu dan membuka pintu nya.
"Wow." Jongin berseru saat ia melihat penampilan Kyungsoo "Kau terlihat… Hot…"
"Tentu saja" Kyungsoo mencibir "Sekarang masuk lah dan kita akan berangkat"
Jongin memanatap pada Kyungsoo dan perlahan sebuah senyum miring terpatri di wajahnya. "Hei, hei. Kenapa kau tiba-tiba berdandan seperti ini? Ada seseorang yang kau sukai yang akan datang ke acara kelulusan malam ini?"
Kyungsoo menolehkan kepalanya kaget "Ti-tidak!"
"Well, lalu kenapa kau terlihat gugup?" Jongin bertanya, bingung.
"Aku, tidak! Tidak! Tidak akan!"
"Yah, hal itu telah menunjukan jika kau memang jatuh cinta pada seseorang aku yakin itu!"
"Huh" Kyungsoo menatap Jongin tajam.
"Jadi, beritahu aku siapa lelaki beruntung itu Kyungsoo-ah?"
Kyungsoo tidak menjawab melainkan ia hanya melanjutkan menyetir menuju pesta perpisahan, mengabaikan segala kata-kata godaan yang ia dapatkan dari Jongin.
.
.
.
.
Acara pesta perpisahan di sini mengambil konsep taman. Tempat ini bukan lah di area kampus, tetapi di taman Mokhwa. Sedikit jauh dari kota.
Jongin dan Kyungsoo terpesona dengan keindahan taman ini yang di dekorasi oleh even organizer.
"Kyungsoo-ah, apa kau mau minum sesuatu?"
Jongin menolehkan kepalanya pada temannya itu ketika ia tidak mendengar ada jawaban dari nya, namun ia malah melihat Kyungsoo yang menatap ke arah tempat lain.
Tidak, tidak. Bukan tempat.
Tapi seseorang.
Jongin mengikuti arah pandangan temannya itu, yang tertuju pada seorang lelaki pendek dengan rambut coklat yang tengah tertawa bahagia di pojok taman.
"Kyungsoo-ah?" Jongin bertanya lagi dan Kyungsoo terkejut karena nya.
"A-apa?"
"Aku bertanya apa kau mau minum sesuatu atau tidak tapi seluruh perhatianmu itu hanya tertuju pada Byun Baekhyun" Jongin memprotes.
Tentu saja ia tau Byun Baekhyun. Lelaki itu di tingkatan yang sama dengan mereka, yang juga mengambil jurusan manajemen bisnis. Dia itu anak yang periang dan beruntung- hampir sama dengan Taemin namun memiliki sifat yang lebih menggemaskan.
"A-aku, tidak!" Kyungsoo mencoba untuk menghindari pernyataan Jongin tadi.
"Hmmm…" Jongin hanya menggerakan alisnya naik turun. Kyungsoo terlihat begitu lucu saat dia tengah malu seperti ini.
"Kyungie-ah!"
Baik Jongin dan Kyungsoo kini menolehkan kepala mereka pada asal suara.
Baekhyun datang!
Jongin dengan cepat menyadari bagaimana Kyungsoo tiba-tiba terlihat gugup.
"Hei! Tadinya aku berpikiran untuk menjemputmu kau ta- ah! Taemin?"
Jongin mendongakan kepalanya dan dengan segera menggeleng "Bu-bukan! Aku Jongin!"
"Jongin?" Baekhyun menggosok hidung nya sebentar sebelum ia memekik kaget "Oh! Kau kembaran nya kan! Ya Tuhan, aku bahkan tidak bisa membedakan kalian berdua karena dalam gelap seperti ini! Kalian berdua terlihat sangat mirip!"
"Dalam gelap…" Jongin mengulangi kata itu dengan suara yang kurang jelas dan mengeluarkan tawa canggung.
"Jadi, uhm…" Baekhyun kembali memulai kali ini dengan perhatian yang jatuh pada Kyungsoo.
Jongin yang mengangkap sinyal kecil untuknya segera pergi dari sana, dengan cepat melangkah mundur "Aku akan ambil minuman. Okay?"
Kyungsoo menatap Jongin tajam yang meninggalkan tempat itu dengan seringaian puas.
Jongin mendesah sambil terus berjalan di sekitar taman. Sendirian. Apa yang harus ia lakukan? Lagi pula ia tidak punya teman lain selain Kyungsoo.
Sedangkan di tempat lain, sebuah mobil berhenti di samping taman. Seorang lelaki mungil dengan rambut kriting membuka pintu dan menutupnya dengan bantingan keras dan berlari menuju taman.
"Luhan-ah! Tunggu aku!" seseorang dengan rambut blonde mengerang keras sambil berjalan menghampiri Luhan dari belakang.
"Ck! Cepatlah, bayi besar! Kita harus menemukan Wufan ge dan memberinya ucapan selamat terbesar karena akhirnya dia sudah lulus… AKHIRNYA!"
Sehun menghela nafas sambil tetap mengekor di belakang Luhan.
Wu Yifan adalah kakak sepupu Luhan yang mana harus tinggal kelas selama satu tahun karena kemalasannya untuk mengejar gelar itu.
"Ah! Itu dia! Yifan ge!" Luhan berteriak dengan tangan yang melambai penuh semangat. Ia berlari kearah Yigan dan meloncat girang pada yang lebih tua.
Sehun hanya menggelengkan kepalanya sambil mengedarkan pandangannya dengan menolehkan kepalanya ke sekeliling taman untuk mencari tempat sajian kue yang tersedia.
Lalu ia melihat Jongin.
Lelaki itu terlihat berjalan di sekitar taman dengan segelas minuman di tangan kanannya. Ia berpakaian dengan baju yang terlihat nyaman di pakai, dan tanpa banyak berpikir Sehun segera saja menghampiri Jongin.
"E-hem…"
Jongin terlihat kaget saat ia melihat Sehun berdiri di belakangnya. Ia membelalakan matanya.
"Hai" Sehun melambaikan tangannya canggung dan terlihat merona. Beruntung tempat ini gelap, atau Jongin bisa menangkap dengan jelas jika ia merona malu.
"Ha-hai" Jongin membalas. Jantungnya mulai berdebar lebih cepat dan ia merasakan lututnya terasa seperti jely. Sehun yang berdiri begitu dekat dengannya membuat ia merasa hampir gila.
"Ehm…" Sehun menggaruk bagian belakang kepalanya dengan canggung. "Ka-kau sendirian?"
Jongin mengangguk dan ia meringis saat merasakan kepalanya kaku. Apa begitu sulit?
"A-aku juga" Sehun menambahkan, dan malah terlihat seperti orang bodoh.
Keduanya jatuh dalam dalam keheningan yang canggung untuk beberapa waktu. Jongin menundukan kepalanya untuk melihat sepatunya sendiri sedangkan Sehun tidak bisa diam dan bergerak sedari tadi.
Sial.
Melihat Taemin begitu dekat seperti ini, Sehun yakin ia harus mengucapkannya sekarang!
Tembak!
Tembak!
"K-kim-" Sehun berhenti saat ia sadar jika suaranya terdengar pecah. Ia membasahi tenggorokannya dengan gugup.
Jongin menolehkan kepalanya pada Sehun dan bibirnya terkatup menjadi garis yang kecil "Y-ya?"
"Ak-aku ah…" Sehun berhenti lagi.
Bodoh! Bagaimana bisa ia kehilangan suaranya ketika ia sekarang berhadapan dengan icarannya, Kim Taemin?
"Uhm… Kau mau… minum?"
Jongin mengerjapkan matanya dan memandangi Sehun. Sudah jelas jika ia memegang segelas orange juice.
"-oh benar. Kau sudah membawa minuman"
Jongin langsung tekekeh kecil sedangkan Sehun merasa ia ingin menenggelamkan dirinya kedalam bagian laut terdalam.
"Wa-waktu itu…" Sehun memulai lagi, mencoba keras agar suaranya tidak bergetar. "K-au terlihat bersama seseorang. Pa-pacarmu?"
Jongin mengerutkan dahinya dengan alis tertekuk.
Waktu itu?
Kapan?
Ah!
"Bukan, dia bukan pacar ku!" Jongin dengan segera menjawab tanpa berpikir lagi. "Ha-hanya teman saja. Bukan pacar ko. Bukan kekasihku"
Sehun sedikit terkejut dengan ucapan Jongin yang tiba-tiba. Tapi setelahnya, dia merasa jika Jongin terlihat sangat lucu ketika lelaki yang lebih muda terlihat malu seperti itu.
"Ba-bagaimana dengan mu?" Jongin bertanya lagi "Waktu itu kau juga… bersama seseorang"
"Di-dia temanku" Sehun menggelengkan kepalanya "Dia punya pacar"
Jongin tidak tahu mengapa tapi dia merasa begitu lega setelahnya "O-oh."
Keduanya kembali jatuh dalam keheningan. Sehun diam-diam mengepalkan kedua telapak tangannya erat.
Tembak! Nyatakan!
Sekarang juga…
Atau tidak sama sekali…
"K-kim-ssi"
Jongin sedikit tersentak saat mendengar Sehun tiba-tiba memekik.
"A-apa kau me-mempunyai ke-kekasih?"
Jongin membelalakan matanya. Kenapa Sehun tiba-tiba saja bertanya seperti itu padanya? Apa maksud lelaki itu?
Apa mungkin..?
"Ti-tidak ada" Jongin menjawab. Ia mencubit lehernya sendiri agar suaranya tidak terlalu gagap.
Sedangkan Sehun mengeluarkan nafasnya dengan kasar setelah ia menahannya.
Ini saatnya!
"Ja-jadilah pa-pacarku!" Sehun mengatakannya dengan terpaksa, terdengar hampir berteriak membuat semua orang yang ada di sana menolehkan kepala mereka pada keduanya. Termasuk Luhan.
Jongin membelalakan matanya ketika ia menoleh dan melihat banyak orang yang memperhatikan mereka. "A-apa?"
"Ja-jadilah pacarku!" Sehun merasa lidahnya seperti jeli yang bahkan tidak bisa mengeja perkataannya dengan benar.
Jongin menelan ludahnya saat merasakan alirah darahnya seolah membeku.
Oh.
Ya Tuhan.
Seseorang…
Baru saja menyatakan perasaan padanya!
"Terima!"
Entah dari mana kerumunan disana mulai riuh dan sangat berisik.
"Se-sehun!" Luhan memekik kaget, ia hendak berlari menghampiri Sehun dan menampar belakang kepalanya dengan keras tetapi Wufan memegang tangannya.
"Jangan mengacaukan moment ini! Nikmati saja pertunjukannya!" Wufan berbisik.
"Ta-tapi…" Luhan kembali hendak memprotes namun Wufan menutup mulut kecil Luhan dengan tangan besarnya.
Di sisi lain, Jongin masih dalam kepanikannya.
Seseorang baru saja menyatakan perasaan padanya… dan ia harus segera mengatakan sesuatu akan hal itu!
Kerumunan disana masih terus bersorak ramai, seolah menuntut jawaban yang memuaskan dari seorang Kim Jongin.
"Ak-aku menyukaimu se-sejak pertama kali… ak-aku menolongmu" Sehun menelan ludahnya kasar, berharap ia bisa menghilangkan rasa gugupnya juga.
Yang Sehun maksud disini sebenarnya kerika ia menolong Taemin untuk gerakan dance yang mereka ikuti, akan tetapi yang ada dalam pikiran Jongin adalah ketika Sehun menolongnya di kamar mandi saat itu.
"Ak-aku menyukaimu. To-tolong jadilah kekasihku!" Sehun menyatakannya dengan sekuat tenaga. "Ak-aku akan membuatmu menjadi orang paling bahagia yang pernah ada! Ak-aku janji!"
Kerumunan disana bersorak semakin kencang sedangkan Jongin merasa ia ingin sekali bersembunyi dari mereka semua dan menghilang di balik tanah ini.
"TERIMA! TERIMA!"
Tidakkkkk! Luhan berteriak penuh emosi di balik jemari tangan Wufan, akan tetapi yang keluar hanya teriakan yang terdengar lirih.
"Aku…" Suara Jongin bergetar karena ia menggertakan giginya.
Kerumunan itu diam beberapa saat, menunggu jawaban Jongin.
"Aku…"
Sehun rasanya hampir mati kekurangan oksigen karena ia menahan nafasnya penuh keputus asaan.
"Aku…" Jongin menelan ludahnya "Ba-baiklah"
"A-apa?" Sehun bertanya "Ba-baiklah maksudmu? I-iya?"
Jongin merasa wajahnya memerah sekarang. Ia hampir saja tersedak oleh suaranya sendiri.
Bayangan dimana Sehun yang menolongnya, Sehun yang terlihat begitu bahagia saat melihat Jongin… dan sekarang dia menyatakan perasaannya pada Jongin.
Jongin menelan ludahnya gugup "Y-ya…"
Sehun menggigit bibirnya ketika telinganya mendengar jawaban kecil itu.
Ya..
Ya…?
Iya..?
"Dia menjawab YA!" Sehun berteriak heboh dan kerumuman disana memekik kencang.
Kemudian Sehun kembalu memusatkan perhatiannya pada Jongin sebelum mengambil tangan yang lebih kecil itu dan melingkarkan kedua tangan miliknya pada tubuh Jongin, memeluknya.
Hmmm… Wanginya seperti cokelat.
Dan Sehun menyukai cokelat.
"Aku mencintaimu Kim T-"
Sehun terkejut saat tiba-tiba saja tangannya di tarik paksa oleh Luhan "Lu-"
"Ikut aku, bodoh" Luhan berbisik sebelum memberikan Jongin senyuman termanis nya.
Sehun melirih kecil dengan tatapan penuh cinta pada Jongin sebelum dirinya di seret oleh Luhan. "Luhan-ah, mau kemana kau membawa k-"
"Dasar bodoh! Kau baru saja menyatakan perasaanmu pada kembar yang salah!"
"Huh?" Sehun kebingungan "Apa maksudmu-"
"Oh sunbaenim!"
Keduanya berhenti ketika mendengar sebuah suara yang lembut.
Mereka menolehkan kepalanya untuk melihat seseotang yang berlari ke arah mereka.
Suara itu berasal dari seorang lelaki yang memakai baju hitam dan putih yang terlihat besar di padu jeans ketat berwarna gelap yang mana membungkus kaki jenjangnya dengan sempurna. Rambut almond panjangnya terurai dan terlihat begitu halus mengenai bahunya.
Cantik. Sangat cantik.
"Ta-taemin-ah?" Sehun membeku akan pemandangan itu.
Taemin…?
"Hehe, hallo Xi sunbaenim" Taemin tersenyum dengan menundukan kepalanya, memberi hormat.
"K-kim… T-Taem-?" suara Sehun terdengar jelas bergetar.
"Sunbaenim, kau sangat keren! Aku tidak tahu jika kau sudah menyukai Jongin selama itu. Selamat!" Taemin bersorak bahagia dengan senyuman manisnya.
Sehun merasa jantungnya berhenti berdetak dan darahnya membeku dalam tubuhnya "A-apa…?"
"Jongin mungkin sedikit pendiam tapi ketika kau sudah tau banyak tetntangnya, kau akan sangat mencintainya. Dia lelaki yang menakjubkan!" Taemin terus saja berbicara tanpa menyadari wajah Sehun yang berubah pucat.
Apa?
Ini… Taemin?
Jadi yang baru saja ia tembak tadi itu…
"… Tolong jaga Jongin, sunbaenim!"
Taemin membungkukan tubuhnya dengan sopan sebelum memberikan senyumannya yang paling ceria dan berbalik meninggalkan kedua orang itu.
Meninggalkan Sehun yang berdiri disana dengan wajah nya yang paling bodoh.
"Lu…?"
Luhan menghela nafas dengan tangan bersedekap di dada.
"Kau dalam masalah besar"
.
.
.
.
TBC….
Hallo ada yang menunggu translate ff ini? Astagah maaf banget aku jarangggg update dan hapus beberapa ff ku, aku sibuk akhir-akhir ini karena kuliah, seperti janji… abis ini aku update yang SoooKai, yang menunggu Oh-Ah di mohon kesabarannya huhu. Aku akan sebisa mungkin segera namatin Oh-Ah dan fokus translate ff ini. Sekali lagi maaf dan terimakasih banyak.
Review please buat translate nya hehe, thanks for reading…
