This Is Too Much
Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto
Peringatan : TYPO, OOC, dll
3 Tahun 16 hari
"Seingatku 2 hari yang lalu aku menyuruhmu untuk tidak datang kekantor dulu setidaknya selama 3 hari…!" Aku berucap kesal sambil bertolak pinggang didepan meja kerja Naruto.
"Hehe… benarkah..?" Cengengesnya sambil menggaruk-garuk pipi kirinya yang tidak gatal, mendengar itu aku hanya mendengus malas.
"Aku tidak suka ada dirumah sendirian, lagi pula pekerjaanku tidak akan menyelesaikan diri mereka sendiri Shizune!" Naruto kembali menatap laptopnya mengabaikanku.
Gusar, Kurus, lelah dan pucat. Sebenarnya aku tidak ingin menggabungkan 4 kata ini dalam satu kalimat, terlebih untuk menggambarkan orang yang ada didepanku saat ini. Aku tidak pernah melihat dia seperti ini sebelumnya. Uzumaki Naruto sebenarnya apa yang membuatnya jadi seperti ini?
"Apa kau sedang mencoba mengakhiri hidupmu sendiri?" perkataanku sepertinya menarik perhatiannya.
"Turun berat badan sampai 20 kg! Dan masih juga memaksakan diri untuk bekerja?" Aku mendelik kesal pada Naruto yang menatapku dengan wajah malasnya.
"Lihatlah dirimu sekarang Naruto… Kau terlihat seperti orang sekarat..!"
Naruto hanya mendengus kemudian menggumam pelan dengan senyum masam.."Aku juga merasa seperti itu…"
Mendengar responya lagi-lagi aku hanya bisa menggeleng lelah.
"Apa kau mengikuti setiap arahan yang ku katakan? Apa kau meminum obatmu dengan benar?" desakku lagi membuatnya mengerang kesal, Naruto benar-benar bersumbu pendek belakangan ini. Sangat mudah marah dan menyebalkan, mungkin karena kurang tidurnya itu, kulihat lingkaran hitam dibawah matanya semakin lebar saja.
"Ya.. aku sudah mengikuti semua arahanmu dokter Shizune..!" ucapnya malas kembali mendegus berat panjang dengan senyum kecil geli.
"Dimana kau meletakkan obat-obatmu..?" aku ingin memastikan dia benar-benar meminumnya sejak kuresepkan beberapa hari yang lalu. Kalau obatnya tidak berkurang awas saja kau Naruto.
"Oh ayolah Shizune… memangnya aku anak SD yang akan membohongimu tentang hal seperti itu..!" erangnya prustasi.
"Well… kau masih terlihat sama mengenaskannya seperti dua hari yang lalu, jadi jangan salahkan aku!" ucapku mengangkat bahu tidak memperdulikan kekesalannya karena kuperlakukan seperti anak kecil pembohong.
"Cepat katakan dimana kau menyimpannya!" Desakku lagi tidak sabar.
"Disana… di dalam tas kerjaku!" ucap Naruto menunjuk malas tas kerjanya sambil merutuk, "Astaga aku tidak tahu kau ternyata sudah sama menyebalkannya dengan Nenek Tsunade!" Aku hanya menyeringai kearahnya untuk membuatnya bertambah kesal, Tsunade adalah nenek jauh Naruto dan aku adalah anak yang diurus sejak kecil oleh Tsunade, kami sudah seperti keluarga.
"Hai…!" terdengar sapaan nyaring dari arah pintu. 'Siapa yang menyuruhmu kemari!' kesal dari Naruto membuatku terbahak.
"Harusnya kau senang sepupumu ini perduli dan mengunjungimu!" Suara marah Karin terdengar menggelegar menanggapi Naruto. "Astaga… Shizune benar… kau memang terlihat mengenaskan!" Aku hanya tersenyum kecil kemudian meraih dan mulai merogoh kantong-kantong tas Naruto mencari obatnya sambil mendengar kedua sepupu ini mulai beradu mulut saling mengganggu.
"Aku membawakanmu bubur Naruto… Makanlah!" Karin menaruh termos kecil yang ia bawa di atas meja kerja Naruto. Aku menemukan obat-obat Naruto. Dan kalau dihitung-hitung lagi jumlahnya, berarti dia memang meminumnya dengan teratur, tapi aku tidak habis pikir kenapa masih belum ada perubahan pada Naruto..? Terturama wajah kelelahannya itu.
"Taruh saja disana! Nanti akan kumakan!"Naruto mendorong termos bubur itu menjauh.
"Makan sekarang! Tidak akan enak kalau dimakan dingin… kau tahu betapa repot membuat bubur itu huh?" ku dengar Karin semakin mendesaknya, Karin mungkin terdengar kasar tapi sebenarnya itu karena dia mengkhawatirkan sepupunya itu.
"Baiklah.. baiklah…!" Naruto akhirnya menyerah dengan erangan, ia mulai membuka termos bubur itu agar Karin bisa diam.
"Bagus…!" Seru Karin puas sambil menghempaskan diri di sofa ruangan kerja Naruto. Aku yang berdiri tidak jauh darinya hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua sepupu ini. Mereka sama ributnya itulah kenapa kedua orang ini tidak pernah terlihat akur meskipun sebenarnya mereka lumayan dekat.
"Ngomong-ngomong dimana tunanganmu tercinta Naruto…?" Karin bertanya terlihat santai sambil membuka majalah bisnis yang tadi tergeletak di atas meja kaca didepannya.
Hening… Karena keheningan yang cukup lama aku mengangkat wajah untuk memandang Naruto. Tangannya terlihat mengawang di udara, berhenti seketika ditengah-tengah suapan, dan matanya sangat berkonsentrasi memandang bubur itu dengan nanar. Sesaat kemudian ia terlihat kembali menggerakkan sendoknya meneruskan makan.
"Dia sedang sibuk!" aku tersentak mendengar jawaban Naruto, hah benarkah…?
Benar juga dua hari yang lalu ketika Naruto pingsan aku juga tidak melihat Hinata Hyuga, sebenarnya waktu itu aku menyadari ada yang sedikit aneh. Si overprotective Hinata tidak ada disisi tunangannya tercinta di saat-saat seperti itu agak sedikit mengherakan.
"Oh…" Karin menyahut singkat. Ekspresi wajah Karin sedikit aneh menurutku, ia tidak terkejut sama sekali.
"Tumben Hinata tidak menempel padamu seperti biasanya Naruto.." Gadis itu biasanya adalah yang paling panik ketika Naruto jatuh sakit, jadi… ada apa ini…? Ditambah lagi Naruto terlihat semenyedihkan ini, jika dilihat dari pegalaman sebelumnya harusnya gadis itu sekarang ini sedang dalam keadaan luar biasa panik. Aku mengembalikan obat Naruto kedalam tasnya.
"Kau sudah mulai tidur 8 jam sehari kan…?" Tanyaku lagi, masih sangat merasa terganggu dengan kondisi Naruto yang tidak ada perubahan berarti. Ada yang menarik perhatianku di dalam Tas Naruto, ada sebuah tas kecil bercorak bunga merah muda di salah satu kantong tas kerjanya.
"Yeah…" Ucapnya lemah tidak terdengar meyakinkan ditelingaku. Aku menghempaskan diri di samping Karin.
"Apa maksudmu 'Yeeaaahhh…'huh?" jangan-jangan dia masih bergadang lagi, aduh bocah ini..! Setengah kesal aku mengeluarkan tas kecil merah muda itu dari dalam tas kerjanya. Lupakan privasi… aku penasaran.
"Aku sudah memejamkan mata 8 jam sehari! Tapi… aku tidak bisa benar-benar tidur Shizune… itu tidak berguna…!" ucap Naruto disela-sela sendokan buburnya.
"Pikiranku tidak benar-benar tidur kau tahu..!? Itu menyiksa… saat aku bangun aku merasa lebih menyedihkan dari pada sebelum aku tidur! Setidaknya bekerja membuat perhatianku teralihkan!"
Aku dan Karin saling berpandangan, jadi itu masalahnya… sepertinya ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya. Karin mengigit bibir gelisah, aku mengernyit heran karena reaksinya ini.
"Sebaiknya resepkan obat tidur saja untukku…!" Sambung Naruto tanpa memandang kami, fokus pada kegiatan menghabiskan bubur di hadapannnya. Sebenarnya salah satu obat yang keresepkan padanya adalah obat tidur, jadi apa obat itu tidak berfungsi…? Haruskah ku tinggikan dosisnya…? Apa sebaiknya ku beritahu Tsunade saja…?
"Obat tidur yang bisa membuatku tidur 2 atau bahkan 3 hari berturut-turut tanpa terbangun!"
"Mana bisa begitu…! Tubuhmu perlu asupan bodoh! Memangnya kau pikir kau beruang kutub yang bisa hibernasi?" Anak ini sudah tidak waras!
"Hei Naruto… Apa kau sudah membatalkan pernikahanmu?" pertanyaan tiba-tiba Karin membuatku kaget dan Naruto bahkan tersedak.
"Siapa yang bilang begitu..?" Naruto mendesis seram sambil meraih air minum kemasan di atas mejanya.
"Tidak ada… Aku kira…!" Ucap Karin menaikkan bahu, kembali membuka-buka asal majalah yang dipegangnya.
"Kenapa kau mengira begitu?" Tapi, sepertinya Naruto tidak ingin mengabaikan begitu saja pertanyaan itu, sikap Karin mencurigakan, aku juga bisa melihat gelagat itu, anak ini sepertinya mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui.
"Sebenarnya bukan apa-apa sih… Hanya saja… entah lah." Karin lagi-lagi menaikkan bahunya.
"Sudah berhari-hari Hinata berhenti memerintahku sesuka hatinya, dan juga aku sudah bosan menelpon meminta keluarga besanmu untuk segera mengirimkan list nama tamu undangan dari pihak mereka agar kita bisa segera mencetaknya di kartu undangan dan mengirimkannya." Yah benar, aku sampai lupa kalau Karin adalah IO yang mengurus persiapan pernikahan sepupunya ini. Dan ada satu yang kusadari, Karin menghindari tatapan mata Naruto, ia masih sok sibuk membuka-buka majalah bisnis yang sejak tadi dipegangnya.
"Hinata tidak memerintahmu lagi…?" Bisik Naruto lemah, tangan Karin terhenti dari kegiatan membuka-buka majalah yang sejak tadi ia lakukan.
"Ya… dan karena seingatku sampai beberapa minggu yang lalu kau masih ribut mengeluh tentang pernikahan ini. Jadi kupikir mungkin saja kalian sudah membatalkannya tanpa memberitahuku…!" Karin berkata sambil kembali memutus kontak mata setelah sejenak menatap wajah Naruto. Naruto terlihat sedih, oh mungkin ini sumber masalahnya…
Sejak awal kami semua tahu kalau pernikahan ini adalah karena perjodohan. Dan selama bertahun-tahun Naruto terus-terusan menunda-nunda menetapkan tanggal pernikahan dengan berbagai alasan. Kemudian beberapa bulan yang lalu, setelah foto makan malam romantis Hinata dan Sasuke terpampang menjadi cover majalah gosip terkenal dengan judul cukup berani, tiba-tiba kami mendapat kabar kalau tanggal pernikahan sudah ditentukan. Mungkin sekarang Naruto tengah dilanda stress berlebih karena tanggal pernikahan yang sudah semakin dekat.
"Lagi pula… ada rumor…" Karin terdengar berucap ragu. Namun cicitannya itu menarik perhatian Naruto hingga membuat si pirang itu berdiri dari kursinya.
"Rumor apa.?" Ucapnya kaku, Naruto terlihat tegang, aku juga jadi ikut menegang.
"Sebenarnya bukan rumor… aku bahkan pernah memergoki mereka… 2 kali bahkan…!" Karin berkata lancar cepat, seperti bahkan tidak berniat mengatakannya untuk kami dengar karena ia bicara sangat cepat.
"Mereka Siapa…?" Suara Naruto terdengar lebih berat.
"Hinata…" ucap karin singkat, "… dan pria ini, " Ia membentangkan terbuka salah satu halaman majalah kearah Naruto. "… Toneri Otosuki." Aku ternganga…? Memergoki bagaimana maksud Karin? Hinata? Yang Benar? Karena penasaran aku menengok halaman yang sedang diperlihatkannya pada Naruto. Dihalaman itu seorang pemuda tampan berambut putih terlihat tersenyum ramah kearah kamera. Belum sempat aku melihat dengan benar sosok pemuda itu, Naruto merampas majalah itu dari tangan Karin.
Kalau dengan Sasuke Uchiha aku sudah tahu kalau itu hanyalah gosip murahan karena kesalah pahaman, seperti yang dikatakan Naruto tempo hari kepada keluarganya. Tapi Hinata dan pria ini... Toneri Ototsuki...? Apa yang terjadi...?
"Aku melihat Hinata bersama dengan pemuda itu di dua café terkenal di Konoha. Mereka terlihat… ehm… akrab…mungkin.." terlihat betul karin berusaha mencari kata yang tepat untuk diucapkan.
"Toneri… Otosuki…..T….O…!" wajah Naruto memerah seketika, rahangnya mengerat. Apa Hinata berselingkuh…?
"Jadi… sebenarnya pernikahan ini akan dilaksanakan tidak sih…? Kalian membuatku bingung!" Karin merengek tanpa menyadari perubahan sikap Naruto.
"Tidak… Pernikahannya tidak akan dibatalkan Karin!" Naruto mengatakan itu sambil meremas erat majalah yang masih ia pandangi itu.
"Serius…?" Karin memandang Naruto heran.
"Kalau kau benar-benar ingin membatalkannya seperti yang selalu kau katakan, maka ini adalah saat yang paling tepat Naruto! Kalau kau mengatakan alasannya adalah karena Hinata berselingkuh maka keluarga Hyuuga tidak akan bisa berbuat apa-apa.."
Hyuuga adalah keluarga yang sangat berpengaruh baik itu didunia bisnis maupun di bidang pemerintahan di Konoha. Jadi macam-macam dengan mereka adalah bunuh diri. Namun kondisi perusahaan Uzumaki-Namikaze belakangan ini juga sudah menguat jadi kurasa kehilangan pemodal utama pun tidak akan menjadi masalah utama lagi. Yah… aku kagum dengan anak ini, dia berusaha sangat keras untuk menyelamatkan perusahaan keluarganya.
"Tidak Karin…!" Naruto melemparkan keras majalah yang tadi dipegangnya ke pojok ruangan membuat kami berdua kaget.
"Ehmm… oke…!" Karin menciut, ku akui aku juga sedikit kaget.
"Aku ingin tanggal pernikahan dipercepat Karin…! Tolong siapkan semuanya…!" Naruto berjalan meninggalkan kami kembali ke meja kerjanya.
"Dipercepat bagaimana..?" Mata Karin membulat horor, kami bertukar lirikan. Aku hanya mengangkat bahu, sebenarnya juga sangat kebingungan dengan sikap Naruto. Biasanya dia akan mati-matian mengubah topik pembicaraan setiap kali kami menyinggung tentang pernikahannya. Dia membuat kami mengira kalau pernikahan ini sama sekali tidak diinginkan, lalu apa ini…? Mempercepatnya…?
Tanpa sadar tanganku sudah membuka tas kecil bermotif bunga yang sejak tadi sudah ku pegangi. Apa yang kuliat membuatku kaget, pembalut. Hah…?
"Naruto.. apa ini?" Tanpa babibu aku angkat tinggi-tinggi benda itu kearahnya, kenapa dia menyimpan pembalut..?
"Huh… " Naruto yang terlihat seperti orang melamun dengan sangat banyak pikiran itu melirik kearahku.
"Itu pembalut Shizune… Mia menyimpannya disitu untuk keadaan darurat." Apa-apaan..?
"Kenapa sekertarismu menyimpan pembalut di dalam tas mu hah…?" Aku berteriak keheranan, kemudian di dalam tas kecil itu kudapati masih ada benda lain. Ada sekeping obat penghilang rasa sakit dan juga sebuah buku kecil berwarna merah muda.
'Period Tracker', pencatat Siklus menstruasi, untuk apa Naruto menyimpan benda ini?
"Kau punya affair dengan seketarismu ya..?" Karin bertanya pada Naruto.
"Apa kau gila...? Itu untuk Hinata!" Naruto menyangkal keras sambil mendelik pada Karin.
"Mia menyimpannya disitu atas perintahku. Hinata sangat senang menyiksaku kau tahu... Dia selalu ingin aku ikut menderita setiap kali ia mengalami saat itu..." Wajah Naruto memerah ketika menjelaskannya.
"Dia tidak pernah membawa sendiri benda itu untuk keadaan darurat! Dia lebih senang merepotkanku dan merengek agar aku membelikannya pembalut dan obat penghilang rasa sakit!" Jadi buku ini milik Hinata. Aku membuka sekilas beberpa halaman, tercatat dengan rapi kapan hari pertama terjadi.
"Kau yang mencatatnya di buku ini...?" Aku melambaikan buku yang kupegang pada Naruto.
"Bukan... Mia yang mencatatnya. Dia bilang dengan begitu akan lebih mudah untuknya mengisiulang stock benda itu tepat waktu."
Insting dokterku bekerja, baiklah mari kita lihat. Hem... siklus mentruasi Hinata datang dengan teratur di awal-awal buku. Menurutku waktu lamanya menstruasi ini hanyalah perkiraan mengingat yang membuatnya bukanlah Hinata sendiri melainkan sekertaris Naruto. Ada catatan kecil bertuliskan 'actual' dan 'perkiraan bulan depan' diatas beberapa tanggalnya. Mungkin sekertaris Naruto menghitungnya dengan cara itu, dan perkiraan terakhir jatuh pada tanggal dua minggu yang lalu, tidak ada catatan yang mengatakan aktual setelah itu.
"Telat tiga minggu ya..?" gumamku tanpa sadar. Menurut buku ini berarti Hinata sudah telat dua minggu.
"Apanya?" Karin beringsut mendekat ikut memperhatikan. Naruto yang sudah kembali duduk dimejanya menatap kearahku dengan kening berkerut. Tiba-tiba aku sangat ingin mengodanya.
"Kalau menurut buku ini, berarti Hinata sedang hamil Naruto...! Sudah dua minggu!" Aku mengatakannya cengengesan sambil menyikut Karin.
Tiba-tiba terdengar bunyi debaman keras, aku dan Karin sontak melihat kearah Naruto, sumber datangnya suara benturan keras tadi. Naruto berdiri tiba-tiba dari kursninya sehingga membuat benda itu terjengkang jatuh menyentuh lantai. Tapi yang membuatku kaget adalah ekspresi Naruto. Ia terlihat sangat terkejut.
"Apa...?" Ucapnya dengan suara bergetar.
"Tidak... mungkin Hinata... astaga...!" Naruto seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Jangan bilang Kau dan hinata aktif secara seksual Naruto...!" Karin memekik tajam, dikeluarga kami hal itu masih di anggap tabu meski di era modern seperti sekarang. Dan kami sangat bangga dengan hal ini.
"Hinata hamil...?" Naruto berucap pelan.
"Jangan berwajah seperti itu Naruto, aku hanya bercanda...!" mana bisa hal seperti itu diputuskan dengan hanya melihat buku kecil ini kan?
"Hinata Hamil...!" Naruto mengucapkannya dengan lembut, senyum diwajahnya pelan-pelan terbentuk.
"Astaga...! Itu pasti... tentu saja!" Ia mulai tergelak sambil memegangi dadanya. Jadi benar, ternyata mereka sudah melakukannya. Hah... aku bisa melihatnya dari wajah Naruto. Ia terlihat begitu senang.
"Kita belum tahu Naruto, Hinata harus memeriksakan diri-..." kalimatku terhenti ketika Naruto menarik Karin berdiri dan mengajaknya berputar-putar ditengah ruangan.
"Aku akan jadi ayah Karin...! Wuhu...!" Naruto tidak memperdulikan teriakan marah Karin, ia terus memutar-mutar tubuh gadis malang itu dengan wajah dihiasi senyum lebar.
Aku memutuskan menutup mulutku, inilah Naruto yang kukenal, bersemangat dan selalu ceria. Naruto tetaplah seperti itu.
Tapi majalah dipojok ruangan yang memampangkan wajah Toneri membuatku sedikit khawatir. Kuharap semuanya akan baik-baik saja.
Ok...
Masih ada POV Sai, POV Shikamaru, POV Kurenai dan yang terakhir POV Naruto...
