Author : Cece

.

.

.

Christmast Everyday

.

.

.

Ting…

Taehyung berjalan keluar Lift dengan muka tertekuk, dan sepertinya dia tidak sedang berada dalam mood yang baik. Itu terlihat dari caranya mengabaikan Jimin, berusaha menulikan setiap kata-kata yan keluar dari sahabatnya itu. Jadi kejadian awalnya itu seperti ini…

Taehyung yang masih merasa kesal karna ulah pelanggan iseng tidak tau diri itu, meminta Jimin untuk berhenti di salah satu kedai es krim yang terletak didekat apartment miliknya. Tapi Jimin menolak, alasannya sangat klasik karna ini musim dingin dan dia tidak ingin Taehyung sakit. Bukannya tersentuh karna pemikiran Jimin, mood Taehyung malah semakin merosot jatuh. Dan sekali lagi Jimin harus bersabar menghadapi cobaan ini, menghadapi tingkah kekanakan Taehyung, maksudnya.

"Tae, kau kan tau makan es krim di musim dingin itu bukan ide yang menarik?" Jimin menghela nafasnya pelan tidak mendengar jawaban dari Taehyung.

Dia sengaja tidak berjalan sejajar dengan Taehyung karna tau pemuda manis itu tidak akan sudi berdampingan dengannya disaat seperti ini. Tangan kanan Jimin membenahi letak mantel Taehyung yang sengaja ditinggalkan di mobilnya, dan itu juga karna Taehyung yang dengan tidak sabaran ingin segera menjauhinya.

Taehyung menekan tombol password pintu apartment nya dengan cepat, masih terlalu malas untuk mencium aroma tubuh Jimin.

"Dengar ya, Jim. Satu cup es krim tidak akan membuatku sakit—" Taehyung sedikit terkejut ketika pintu apartment nya terbuka. "Yoongi hyung?" katanya memastikan.

Yoongi yang baru saja meletakkan nampan berisi dua piring Pie Strawberry di atas meja Marmer berwarna Caramel di depan TV itu menolehkan kepalanya mendengar suara Taehyung, dan tersenyum kecil.

"Tae-" Seokjin sempat terhuyung beberapa langkah kebelakang ketika mendadak Taehyung menghambur kepelukannya, tentu saja dengan menaikkan kedua kakinya ke pinggang milik Seokjin.

Jimin juga sama seperti Taehyung, terkejut, ketika kedua kakinya sampai pada ruang tamu apartment milik Taehyung. Jimin menggantungkan mantel milik Taehyung persis di sudut rak sepatu, menghampiri Yoongi lalu mencium keningnya. Mereka, Jimin dan Yoongi, memang bukan seperti pasangan pada umumnya yang setiap menit menghabiskan waktu hanya untuk saling berkirim pesan. Mereka lebih cenderung saling menghubungi pada saat pagi hari, siang hari dan memilih untuk mengobrol langsung ketika malam menjelang.

"Astaga, Tae. Jangan bilang kau kehilangan berat badanmu lagi." Seokjin berjalan ke dapur untuk mengambil remote TV yang tertinggal di meja makan, masih dengan Taehyung yang menggantung di bagian depan tubuhnya.

Taehyung diam dan lebih memilih menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke ceruk leher Seokjin, menghirup aroma rempah-rempah dan mint milik kakak pertamanya itu.

"Berat badan Taehyung turun 2 kilogram minggu ini, hyung." Jimin meletakkan kepalanya diatas paha Yoongi, berniat mencari pelepasan untuk kepalanya yang penat.

"Lain kali aku akan benar-benar melakban mulut sialanmu itu, Jim." Balas Taehyung, masih dengan bersembunyi di leher Seokjin.

Seokjin hanya menggelengkan kepalanya mendengar dua anak keras kepala itu berdebat dengan mulut mereka masing-masing. Mengenal Jimin sejak dia masih kecil membuat Seokjin dengan sangat sukarela menganggapnya sebagai adik, juga.

"Mulutmu, Tae." Yoongi menatap tajam Taehyung yang kini berada diatas pangkuan Seokjin.

Taehyung mencebikkan kedua bibirnya melihat Jimin yang sepertinya sebentar lagi akan tertidur pulas akibat usapan menenangkan di seluruh helaian rambutnya, Yoongi hyung memang selalu melakukan itu ketika Jimin terlihat lelah.

"Bagaimana mungkin Hoseok bisa tergila-gila dengan orang bermulut pedas sepertimu, hmm?"

Taehyung memutar kedua bola matanya, lalu beranjak dari pangkuan Seokjin dan berakhir duduk disamping kakaknya itu.

"Demi Tuhan, kenapa sekarang semua orang jadi senang membahas orang itu, sih?" Taehyung menyandarkan kepalanya pada pundak kiri Seokjin.

"Mungkin karena kalian berdua terlihat sangat cocok." Jimin menyahut, masih dengan mata yang terpejam.

Taehyung mengulurkan tangannya bermaksud untuk meminta sepiring Pie Strawberry kesukaannya itu. Dan beruntungnya Yoongi selalu peka dengan bahasa tubuh laki-laki bermata kucing itu.

"Entahlah, hyung. Aku masih belum terlalu ingin terlibat dalam percintaan sekarang ini." Seokjin mengelap sisi kiri bibir Taehyung yang terkena lelehan selai.

"Apa berpisah dari Minho hyung membuatmu sesakit itu?" Jimin mengenakkan badannya, bersandar di sofa berwarna biru langit milik Taehyung.

Tidak hanya Taehyung, Seokjin dan Jimin juga terdiam mendengar pertanyaan retoris dari Yoongi. Mereka bertiga tau seberapa banyak Taehyung mengungkapkan kalimat "Aku baik-baik saja" ketika putus dari Minho, namun pada kenyataannya mereka juga sering menemukan mata Taehyung bengkak ketika pagi hari.

Taehyung menyuapkan sesendok penuh Pie Strawberry itu kedalam mulutnya lalu tersenyum kecil.

"Daripada merasakan sakit hati, aku lebih merasakan kehilangan, hyung." Taehyung meletakkan piring kosong yang tadinya dipangkuannya itu keatas meja Sofa miliknya.

Seokjin merangkul bahu Taehyung, menepuknya beberapa kali lalu mengusapnya.

Soal hati, siapa yang bisa menata dan mengaturnya kalau bukan pemiliknya sendiri? Jadi Seokjin hanya bisa menawarkan bahunya untuk tempat Taehyung menangis dan kedua lengannya untuk mendekap erat adik bungsunya itu.

"Ayolah, berhenti bersikap melankolis seperti ini, hyung." Taehyung memutar kedua bola matanya, jengah.

"Dan berhenti terus menurunkan berat badanmu , Tae." Yoongi menatap Taehyung dalam.

Jimin menjulurkan lidahnya melihat Taehyung yang terlihat bingung harus menjawab apa dan bagaimana.

Taehyung menghela nafasnya kasar.

"Kalian tenang saja meskipun aku kurus tapi aku ini kuat." Taehyung meringis, memperlihatkan deretan giginya yang apik.

"Katakan itu pada laki-laki yang meminta bantuan hanya untuk membuka kaleng coca cola." Jimin menyahut, dan kini melingkarkan tangan kanannya ke pinggang ramping milik Yoongi, kekasihnya.

"Itu karna aku sebelumnya tidak senggaja mengocok kalengnya terlalu keras, jadi aku takut terkena tumpahan sodanya." Yoongi menepuk pelan sisi tangan Jimin yang semakin erat melingkar di pinggangnya.

'Lalu bagaimana dengan kejadian empat bulan lalu?" Seokjin tersenyum penuh kemenangan.

"Astaga, jangan bahas itu, tolong." Taehyung menyandarkan tubuhnya ke sofa, menaruh bantal pada perutnya.

"Hanya karna terkena duri bunga mawar kau sampai harus dilarikan ke rumah sakit, Tae."

Oke, kalau sudah seperti ini maka jalan satu-satunya adalah diam. Tapi bukan Taehyung namanya jika mudah sekali menyerah dan mengalah.

Taehyung menaikkan kedua kakinya ke sofa, melipatnya, seperti duduk bersila.

"Itu karena duri-duri sialan itu merobek kedua sisi ibu jariku, hyung."

Dan semuanya tertawa mendengar nada suara Taehyung yang sedikit memelas, mengisyaratkan untuk berhenti menggodanya.

Taehyung itu sering, sangat sering sekali, melukai tangannya. Entah itu menggunakan duri bunga, gunting tanaman atau bahkan hanya dengan gulungan pita. Dan bekerja sebagai Florist benar-benar membuat orang-orang terdekat Taehyung harus menjaga laki-laki bergolongan darah AB itu dengan perhatian ekstra.

Melihat gelas-gelas di depannya sudah kosong akhirnya membuat Seokjin bangkit dari sofa dan berjalan ke dapur. Meninggalkan Jimin dan Taehyung yang masih bergurau kecil, entah karena apa. Sementara Yoongi harus rela menikmati acara televisi yang suaranya bahkan tenggelam oleh tawa milik Jimin dan juga suara rengekkan milik Taehyung. Yoongi hanya perlu banyak bersabar, lebih banyak lagi.

"Namjoon besok lusa akan berangkat ke Hongkong dan kemungkinan baru pulang minggu kedua tahun depan." Seokjin meletakkan nampan berisi empat gelas jus Jeruk dan juga dua botol besar coca cola.

"Kapan terakhir kali aku merayakan Natal dengan anggota keluarga yang lengkap?" Taehyung menengadahkan kepalanya melihat langit-langit apartment nya. "Mungkin sekitar satu abad yang lalu." Imbuhnya asal.

"Kau terlalu berlebihan, bocah." Jimin melempar Taehyung dengan bantal sofa yang tentu saja langsung dihadiahi tatapan sebal dari Taehyung.

"Itu semua juga karena kau yang lebih memilih untuk menjadi Florist."

"Seokjin hyung kan kakak tertua disini, jadi seharusnya dia yang membantu ayah mengurusi bisnis itu." Taehyung melototkan matanya.

"Tae, aku mendengarnya." Itu suara Seokjin dari dapur.

Entah apa yang dibuat kakak pertama Taehyung itu disana, tapi yang jelas mereka bertiga bisa mencium aroma masakan yang sangat harum. Sepertinya putera sulung keluarga Kim itu memasak sejenis makanan China.

"Anggap saja itu sebuah konsekuensi karena sudah menumbalkan Namjoon sementara kalian hidup bebas dari berkas-berkas kantor itu." Yoongi menengahi.

"Dan harus berlapang dada kehilangan waktu bermain bersama kakak kedua ku."

Jimin tertawa pelan melihat Taehyung yang menelungkupkan badannya ke sofa. Demi apapun, Yoongi berjanji akan membuat perhitungan kepada siapapun yang berniat menghilangkan sikap kekanakan Taehyung, meskipun terkadang sangat menyebalkan tapi Yoongi selalu berpikir bahwa Taehyung adalah makhluk langka. Terperangkap dalam tubuh kurus, wajah imut, senyum manis, tawa riang yang sialnya ternyata sudah berumur dua puluh empat tahun. Memikirkan hal-hal itu malah membuat Yoongi semakin menyayangi Taehyung.

Secara tiba-tiba Jimin sudah berada di satu sofa dengan Taehyung lalu menaikkan kedua kaki kurus itu ke pangkuannya, membuat sang pemilik membulatkan matanya tanda tidak terima.

"Omong-omong aku masih kesal denganmu, Jim."

Yoongi segera mengalihkan padangannya ke layar lebar Televisi milik Taehyung, menghindari dirinya ikut hanyut dalam perdebatan kecil Jimin dan Taehyung yang selalu akan berujung dengan Taehyung yang nyaris menangis sedangkan Jimin akan berlutut meminta maaf. Yoongi sudah hafal.

"Kau akan datang kan, Tae?" Seokjin meletakkan satu piring besar paha ayam berbumbu khas Mandarin, penuh kecap dan bertabur kacang tanah.

Dalam sekejap ruang tengah apartment milik Taehyung sudah dipenuhi oleh dentingan sendok dan garpu. Seokjin tersenyum lebar melihat bagaimana ketiga orang di depannya itu berebut paha ayam buatannya. Seokjin bersumpah jika dia rela harus mengambil cuti selama setahun penuh hanya untuk membuatkan mereka masakan dan melihat mereka makan dengan lahap. Terutama Taehyung, Seokjin selalu ingin seperti Jimin dan Yoongi yang bisa menemainya makan setiap saat.

"Hoseok hyung akan benar-benar melamarku jika aku tidak datang ke acara itu." Taehyung berkata dengan susah payah karena mulutnya yang penuh.

"Oh, itu bagus. Dan aku akan segera punya keponakan—Awh! Sakit, Tae." Jimin mengelus kepalanya yang baru saja mendapat pukulan keras dari Taehyung.

Jika memukulnya hanya menggunakan tangan kurus Taehyung, itu tidak akan berarti apa-apa bagi Jimin, tapi jika memukulnya menggunakan sendok sayur? Hey! Siapapun akan merasa sakit.

"Kau harus lebih berhati-hati padanya, Jim." Yoongi mengelus pelan kepala Jimin sebentar, menimbulkan decakan sebal dari Taehyung.

Mereka bertiga masih sibuk beradu sendok sedangkan Seokjin lebih memilih untuk menonton acara berita di Televisi. Mau menghubungi Namjoon, adik keduanya, juga pasti akan berakhir dengan suara operator.

Selesai mereka makan, Yoongi lah yang bertugas membawa piring kotor itu ke dapur. Sedangkan Jimin dan Taehyung duduk di atas karpet bulu bergambar singa dengan punggung yang bersandar di pinggiran sofa, terlihat kekenyangan.

"Aku dengar Jungkook datang ke toko bunga milikmu." Seokjin menolehkan kepalanya.

"Kau seperti sasaeng fans." Taehyung meluruskan kedua kaki kurusnya.

"Apa yang membuat Jungkook terdengar istimewa? Pasti dia kesana tujuannya juga untuk membeli bunga, kan?"

Seokjin mengangguk tanda setuju dengan ucapan Yoongi tadi, sementara Yoongi lebih memilih menginterogasi kedua bocah nyaris kembar itu dari atas sofa, persis di samping Seokjin.

"Wajah Taehyung memerah hingga ke telinga." Dan detik itu pula Jimin rasanya mau muntah karna Taehyung memukuli perutnya dengan brutal lalu menaiki Jimin dan mencekik lehernya.

.

.

.

Flashback ON

Sudah hampir seminggu ini ruangan kerja milik Jungkook berlangganan bunga dengan Taehyung. Niat awalnya yang ingin menjauhkan ruang kerjanya dari bunga –entah palsu ataupun bunga hidup- mendadak buyar ketika dia melihat sendiri susunan bunga milik Taehyung di toko bunganya beberapa hari yang lalu, lebih tepatnya karna Jungkook terlalu menyukai cara Taehyung bermain dengan jari-jarinya ketika menyusun rangkaian bunga. Sesuai kesepakatan yang sudah mereka buat, rangkaian bunga itu akan diganti setiap tiga hari sekali, dan sekarang adalah saatnya Jungkook menikmati susunan Bunga yang baru di Vas merah marun miliknya.

Saat itu hujan deras ketika Jungkook sedang dalam perjalan menuju Restoran miliknya, pertemuan dengan Client asal Jepang benar-benar menyita waktunya. Jungkook masih focus menatap jalanan, bahkan hampir sampai pada tujuannya sebelum kedua mata elangnya melihat sesuatu yang tidak asing dipenglihatannya, seseorang lebih tepatnya. Jungkook semakin melebarkan matanya ketika ternyata seseorang itu adalah Taehyung. Berdiri sendirian di depan toko yang tidak berpenghuni, tubuh menggigil, rambut yang basah dan—oke Jungkook tidak sabar lagi. Dia segera menepikan mobilnya dan sedikit terburu-buru menghampiri Taehyung.

"Tae?" Mendadak Jungkook bingung harus berbuat apa.

Taehyung tersenyum, masih lebar, meskipun deretan giginya terlihat ikut begetar seperti tubuhnya.

"Tiba-tiba hujan turun sangat deras dan aku tidak membawa Payung." Jungkook masih diam.

Demi Tuhan, siapapun sekarang tolong pukul kepala Jungkook menggunakan benda tajam agar saraf-saraf di otaknya bisa berfungsi normal, lagi. Jungkook benar-benar tidak tega melihat Taehyung yang menggigil kedinginan seperti itu tapi dia terlalu canggung untuk melakukan sesuatu, bukankah mereka tidak terlalu saling mengenal?

"Dan kau juga tidak membawa jaket?" sial, Jungkook mengumpat mendengar ucapannya sendiri.

Taehyung mengatur nafasnya sesaat, kemudian menegakkan badannya, mengeluarkan kedua tangannya yang sedari tadi dia sembunyikan di balik punggung sempitnya.

"Aku menggunakannya untuk melindungi—" ucapan Taehyung terhenti oleh gerakan Jungkook yang tiba-tiba.

Laki-laki berperawakan tinggi tegap itu melepas asal Jas Armani miliknya lalu menyampirkan ke bahu sempit Taehyung, sedangkan sang obyek hanya bisa mendongakkan kepalanya menatap terkejut sang pelaku.

"Astaga, Tae." Jungkook membawa Taehyung kedalam pelukannya, membiarkan kemeja biru dongkernya ikut basah.

Taehyung semakin membatu mendapat perlakuan seperti itu. Bukankah hubungannya dengan Jungkook hanya sebatas rekan kerja? Tapi kenapa Jungkook terlihat sangat panic dan entahlah yang jelas sekarang yang bisa Taehyung rasakan hanya aroma tubuh milik Jungkook. Lembut dan menenangkan, bau yang menguar seperti bunga Teratai. Netral tetapi sangat mendominasi indera penciuman.

"Ayo, kita hangatkan dulu badanmu."

Taehyung sekali lagi hanya bisa pasrah akibat keterkejutannya, lagi, ketika Jungkook merengkuhnya lalu membawanya pergi dari teras toko tua itu.

Dan berakhir di ruangan luas dengan dominasi warna dinding abu-abu muda cenderung putih tulang tua dengan di dampingi warna batu sungai dibagian bawahnya, tentu saja itu adalah ruangan kerja milik Jungkook.

Taehyung terduduk di tengah sisi sofa dengan badan yang masih menggigil, dan Jas milik Jungkook juga masih tersampir di bahunya. Sementara Jungkook berdiri di seberangnya dengan tatapan mengintimidasi.

Sialan.

Taehyung paling tidak suka jika disudutkan seperti ini. Hey! Kenapa harus merasa kecil? Memangnya kau salah apa? Itu batin Taehyung yang berbicara.

Taehyung sempat merasa dadanya bisa sedikit bernafas lega ketika sekretaris Jungkook, Nayeon, masuk dan mengantarkannya segelas susu cokelat hangat. Namun itu tidak berlangsung lama, setelah memastikan Taehyung meminum susu cokelat itu, Nayeon bergegas pergi dari ruangan Jungkook.

Ibu, Taehyung rasanya ingin menangis saja. Seokjin hyung, Namjoon hyung, tolong beritahu Jungkook kalau aku ini adik kalian. Siapa tau dengan itu Jungkook bisa berhenti menatapnya.

Taehyung meminum susu cokelatnya dengan tangan gemetaran, selain karna dingin, itu juga pengaruh tatapan mematikan dari Jungkook.

Yoongi hyung? Jimin Park, kau dimana? Kepala Taehyung semakin terasa pusing.

"Jadi, kau menggunakan jaketmu untuk melindungi buket bunga milikku?" entah kenapa mengucapkannya membuat hati Jungkook menghangat.

Taehyung mengangguk, memberanikan diri menatap Jungkook yang ternyata malah semakin terlihat berkuasa atas keberadaannya.

"Maaf, Jungkook. Karena kecerobohanku buket bungamu jadi hancur." Taehyung menggigit bibir bawahnya.

"Demi Tuhan, Tae, lupakan-" ucapan Jungkook terhenti ketika Yugyeom masuk dengan membawa tas belanja berukuran sedang.

Setidaknya biarkan Taehyung bernafas lega, lagi.

"Aku tidak bisa menemukan baju yang pas untuk Taehyung hyung, maksudku ukurannya terlalu besar semua." Yugyeom menyerahkan paper bag itu kepada Jungkook.

"Tak apa. Terima kasih, Kyum." Jungkook mengambil tas belanja itu, sedikit terkejut dengan ukuran baju didalamnya.

Oke, ingatkan Taehyung setelah ini untuk mengikuti program penggemukan badan. Taehyung benar-benar malu dengan ucapan Yugyeom tadi. Bukan karna berpikiran dia yang dipandang kekurangan gizi, tapi Taehyung lebih memikirkan perkataan orang yang mengatai ukuran tubuhnya seperti tubuh wanita. Ukuran lingkar pinggangnya bahkan nyaris sama dengan milik Nayeon, Eunbi, Jisoo juga.

Menyebalkan.

"Apa perlu aku antar juga ke kamar mandi?" Taehyung tersadar dari lamunannya, merasakan sisi wajahnya panas.

Ini lebih menyebalkan. Tolong jangan sampai memerah ke telinga, Taehyung berdoa dalam hati.

Dia melihat uluran tangan Jungkook yang berniat memberinya paper bag itu, dan buru-buru Taehyung segera mengambilnya. Dia tersenyum kikuk, entahlah mungkin ini akibat tubuhnya yang menggigil kehujanan atau memang suara Jungkook terdengar lebih dalam dan….

Taehyung menggelengkan kepalanya.

"Ti…tidak perlu." Sial kenapa dia jadi kesulitan berbicara seperti ini, sih.

Jungkook tersenyum kecil, tapi di mata Taehyung itu seperti sebuah seringaian. Hey! Kau ini sedang memikirkan apa? Taehyung berbicara pada dirinya sendiri.

"Kamar mandinya ada disana." Dagu Jungkook terangkat seolah menujukkan letaknya.

Taehyung membungkuk sebentar lalu dengan sedikit terburu-buru dia berlalu dari hadapan Jungkook dan menuju kamar mandi itu, meninggalkan Jas basah milik Jungkook diatas sofa.

Kenapa juga aku harus gugup? Memangnya kalian sepasang kekasih? Oke, Taehyung masih mengomel sendirian.

Setelah kepergian Taehyung, Jungkook memsatkan pandangannya pada buket bunga miliknya –suhu tubuh Jungkook kembali menghangat hanya dengan mengingat Taehyung sendirilah yang mengantarkan bunga itu- yang terlihat sedikit lusuh. Jungkook mengambilnya, membuang pembungkusnya lalu meletakkannya kedalam Vas bunga miliknya yang berwarna merah marun. Jungkook itu suka warna merah, oleh karena itu dia meletakkan bunga itu di dalam wadah berwarna merah, karna Jungkook juga menyukai bunga itu.

Lima belas menit kemudian Taehyung keluar dari kamar mandi, penampilannya sedikit lebih rapi daripada yang tadi. Yugyeom memilihkan sweater berwarna biru muda dengan corak putih yang terlihat kebesaran ditubuh kurus Taehyung, dan itu membuat bahunya sedikit terekspose, jari-jarinya bahkan tenggelam. Celana yang Taehyung pakai juga terlihat seperti celana rumahan. Itu tidak masalah, pikir Jungkook. Hanya saja helaian rambut basah Taehyung sedikit menganggunya karena….

"Astaga, Jungkook. Kau tidak perlu menaruh bunga jelek ini di ruanganmu. Aku bisa menggantinya." Tangan Taehyung tergerak untuk membuang bunga itu namun dengan cepat Jungkook menghentikannya.

Maafkan aku Tuhan karena terlalu sering berkata kasar. Tapi ini benar-benar membuat jantungku seperti tidak berdetak, lagi-lagi Taehyung membatin.

"Hanya beberapa saja yang terlihat reyot dan kelopaknya nyaris lepas, tapi yang lainnya masih bagus dan harum." Jungkook tersenyum, melepas cekalan tangannya pada pergelangan tangan kurus milik Taehyung.

Taehyung tersenyum dengan bingung, apakah dia harus memperlihatkan giginya atau tidak. Sedetik kemudian dia sadar jika dirinya sudah menghabiskan waktu nyaris satu jam lamanya di ruangan Jungkook.

"Kalau begitu aku permisi, Jungkook. Terima kasih untuk semuanya, dan aku akan menghubungi Yugyeom untuk menanyakan harga baju—"

"Ayo, kita pergi makan." Taehyung ternganga.

Jungkook berjalan memutari meja kerjanya, setelah sampai di samping Taehyung, Jungkook lalu meraih kantong plastic berisikan pakaian kotor Taehyung dan meletakkannya ke atas kursi.

"Kehujanan pasti membuat rasa lapar mu meningkat."

Jungkook kemudian meraih tangan Taehyung, menggenggamnya dan membawa pemilik tangan kurus itu keluar dari ruangannya.

Flashback OFF

.

.

.

Taehyung baru saja pulang dari supermarket membeli beberapa pita untuk buket bunganya, namun memori tentang dirinya yang terjebak di Restaurant milik Jungkook dua hari lalu masih terus menghantui pikirannya. Taehyung tidak mengerti dengan jelas apa yang terjadi, dia hanya bisa mengatakan jika mengingat kejadian itu benar-benar membuat wajahnya panas, dan pasti akan berakhir dengan wajahnya yang memerah hingga ke telinga.

Laki-laki manis cenderung cantik namun juga tampan itu masih saja melamun, bahkan dia sampai tidak menyadari jika langkahnya bukan lagi berada di trotoar tapi nyaris ke tengah jalan sampai pada akhirnya…..

"Astaga, Tae." Seseorang dengan kamera mahal yang menggantung di dadanya, menarik Taehyung agar kembali ke bahu jalan.

Taehyung sempat terdiam beberapa detik, masih sedikit terkejut dengan apa yang baru saja terjadi hingga pada detik berikutnya dia menyadari sosok laki-laki yang kini masih memegang lengannya itu.

"Hoseok hyung?"

.

.

.

TBC

.

.

.

Pesan singkat : Terima kasih buat kalian yang udah mau baca apalagi sampek review, aku terharu. Huhu. Mohon dimaklumi ya kalau banyak typo (s) hehe. Dan aku harap kalian jangan bosen dulu karna masih ada dua chapter (mungkin) untuk bikin tamat cerita ini. Sekali lagi Terima kasih.

By: Cece