Memasuki bulan Juni merupakan tanda-tanda bahwa keluarga Uchiha dan keluarga Haruno harus segera bersiap-siap karena mereka akan menikahkan anaknya yang sudah memadu kasih selama 4 tahun. Keluarga Haruno pun semakin sering berkunjung ke kediaman Uchiha, tak lain dan tak bukan mereka membicarakan tentang persiapan pernikahan Itachi dan Sakura. Kedua keluarga itu sedang berdiskusi di ruang keluarga Uchiha.

"Untuk masalah konsep pernikahan, aku tidak ingin banyak mengatur karena aku yakin Itachi dan Sakura bisa merencanakan dan memilih sendiri." kata Mikoto.

"Iya, biarkan saja mereka yang menentukan. Jadi sudah sejauh mana perencanaan kalian?" tanya Mebuki.

"Aku sudah menentukan warna untuk konsep pernikahan kami, sudah diputuskan kami akan menggunakan warna putih." kata Sakura.

"Aku juga sudah mendesain undangannya." kata Itachi.

"Lalu untuk konsumsi para tamu undangan bagaimana?"

"Kami sedang merencanakannya."

"Oh begitu, kalau kalian butuh bantuan bilang saja. Kebetulan Kaa-san punya teman pengusaha di bidang katering." kata Mikoto.

"Baiklah."

Di sisi lain Sasuke hanya bisa mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu, dia tidak ingin mencampuri urusan pernikahan kakaknya, dia tidak tahu dan tidak ingin tahu. Sasuke mencoba untuk tidak memperdulikannya.

Sesekali terdengar suara tertawa dari balik pintu itu. Oh lihatlah! Betapa bahagianya mereka.

Bagi Sasuke suara tertawa bahagia itu lebih terdengar seperti ejekan untuknya. Suara tertawa mereka terngiang dipikirannya, betapa sakit hatinya! Ingin sekali rasanya dia mendobrak pintu itu dan disaat itu juga berteriak 'KALIAN TIDAK BOLEH MENIKAH!'. Tapi ayolah, itu tidak mungkin! Merasa muak, Sasuke pun pergi menuju kamarnya.

.

Bulan Juni sudah berlalu, hari yang ditunggu pun semakin tiba. Itachi dan Sakura semakin sibuk dengan rencana pernikahan mereka, mempersiapkan dan memastikan bahwa segala sesuatu yang dibutuhkan untuk hari pernikahan mereka sudah siap.

"Sakura, apa kau sudah memesan gaun pengantinmu?" tanya Itachi.

"Sudah, oh iya aku juga sudah memesan tuxedo untukmu lho. Bagaimana kalau nanti kita datang langsung ke tokonya?"

"Baiklah, ide yang bagus."

"Lalu bagaimana dengan gedungnya?"

"Jangan khawatir, aku sudah memesannya dari jauh hari. Kebetulan tanggal 18 Juli gedungnya sedang kosong dan kita bisa menyewanya."

"Wah bagus kalau begitu! Aku jadi tidak sabar untuk segera menikah denganmu."

"Ahaha.. aku juga."

"Tapi..."

"Ada apa Sakura?"

"Bukankah sebentar lagi juga ulang tahun Sasuke? Aku merasa tidak enak dengannya karena sebentar lagi pernikahan kita, aku merasa semua orang jadi mengabaikannya terutama ayah dan ibumu, mereka jadi lebih sering memperhatikan kita daripada Sasuke."

"Biar aku yang bicara pada Sasuke nanti." kata Itachi.

.

.

Sementara itu Sasuke sedang merebahkan dirinya di taman tersembunyi di Konoha, tempat yang biasa ia dan Itachi kunjungi.

Sasuke POV

Aku merebahkan diriku di hamparan padang rumput, membiarkan diriku sendiri terhanyut ke dalam angin yang berhembus di siang hari. Aku membuka mataku dengan sayu, menatap langit biru yang cerah dibawah rindangnya pohon. Dan lagi-lagi aku tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Akhir-akhir ini aku jarang ada di rumah, aku lebih sering keluar pergi ke tempat yang sepi atau menginap di rumah Naruto. Tiap kali Tou-san atau Kaa-san bertanya aku pasti akan memberi alibi kalau aku ingin berlibur atau keluar rumah sekedar menjernihkan pikiran karena aku ingin istirahat dari kegiatan yang berbau akademik. Lagipula percuma saja jika aku berada di rumah, toh mereka tidak memperdulikan aku. Mereka hanya fokus pada Itachi dan Sakura saja. Mereka juga lupa kalau sebentar lagi hari ulang tahunku.

Lagi-lagi aku ketiduran di tempat ini, entah sudah berapa kali aku tertidur disini sampai sore. Aku segera beranjak pergi menuju rumah Naruto. Ini merupakan hari keempat aku menginap di rumahnya. Awalnya bibi Kushina dan paman Minato heran kenapa aku malah menginap di rumah mereka sementara keluargaku sedang berbahagia, aku memberi alasan yang cukup masuk akal supaya mereka mengerti. Sebenarnya mereka berdua tidak keberatan jika aku lama-lama menginap disini, hanya saja aku sedang berusaha meyakinkan paman Minato dan bibi Kushina.

"Hei teme, bukannya aku mengusirmu ya. Sebenarnya kenapa kau malah menginap dirumahku?"

"Tidak apa-apa. Aku sedang malas berada di rumah saja."

"Tidak seperti biasanya kau malas sampai berhari-hari, sebenarnya ada apa sih? Apa kau ada masalah? Ayolah ceritakan saja."

Dengan terpaksa aku berbohong pada Naruto untuk menutupi kecurigaannya.

"Sebenarnya aku sedang kesal dengan mereka."

"Kesal kenapa?"

"Mereka melupakan salah satu hari penting di bulan ini."

"Hmm.. hari penting.. hari penting.. Oh iya! Aku tahu!" kata Naruto berteriak, membuat Sasuke kaget.

"Kau mengagetkanku dobe!"

"Aku tahu apa maksudmu teme! Kau kesal karena mereka lupa sebentar lagi hari ulang tahunmu ya?"

"Hn."

"Oh jadi begitu... Memang menyebalkan sih ketika diabaikan, tapi kau tidak boleh terus-terusan begini. Biar bagaimanapun sebentar lagi kan kakakmu menikah. Dan aku tahu rasanya berat ketika orang yang pernah mengisi masa lalumu akan menjadi milik orang lain."

Aku tidak menjawab.

"Sekarang bagaimana perasaanmu terhadap Sakura? Kau membencinya?"

"Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kurasakan sekarang." kata Sasuke bergumam dengan tatapan kosong.

End of Sasuke POV

.

.

Sebagai orang yang paling mengerti Sasuke, Naruto bisa merasakan kesedihan yang amat mendalam dari mata onyx sahabatnya itu. Selama dia menginap di rumah Naruto, yang Sasuke lakukan hanyalah tidur dikamarnya, makan, setelah itu Sasuke akan pergi ke suatu tempat. Ketika Naruto menawarkan diri untuk menemaninya, Sasuke pasti menolak.

Keesokan harinya Sasuke memutuskan untuk pulang, dia merasa tidak enak jika menginap terlalu lama di rumah Naruto.

"Kau mau pulang teme?"

"Hn."

Lalu Sasuke melihat sebuah benda terbungkus plastik yang berada di genggaman Naruto.

"Apa yang kau pegang itu?" tanya Sasuke.

"Err.. Ini undangan pernikahan kakakmu. Tadi ada tukang pos yang mengantarkannya kesini."

"Oh."

"Naruto, terima kasih ya. Maaf merepotkan."

"E-eh? I-iya, tidak apa-apa kok. Lagipula sebentar lagi kau akan pindah ke Suna kan? Anggap saja ini adalah saat-saat terakhir kita menghabiskan waktu bersama. Hehehe.." kata Naruto dengan cengiran khasnya.

"Hn." Sasuke memberikan senyum tipis.

"Ano.. Sasuke?"

"Ada apa?"

"Apa kau akan datang ke pesta pernikahan kakakmu?"

"Mungkin iya."

"Hmm.."

"Orang tuamu mana? Aku mau pamit."

"Mereka sudah pergi sejak pagi tadi."

"Oh begitu. Baiklah aku pulang dulu. Arigatou Naruto" kata Sasuke pamit.

"Do itte! Hati-hati ya teme!"

.

.

"Tadaima!"

"Wah wah wah lihat siapa yang baru datang! Kau kemana saja Sasuke?" tanya Mikoto.

"Aku habis menginap di rumah Naruto."

"Sampai berhari hari? Memangnya apa saja yang kau lakukan disana, hah?! Kau tidak lihat kami sedang sibuk mengurusi pernikahan kakakmu? Harusnya kau membantu juga!" kata Mikoto yang kesal dengan anak bungsunya itu.

"Maaf Kaa-san..." kata Sasuke lirih.

Mikoto yang tadinya merasa kesal entah mengapa merasakan sensasi aneh ketika mendengar suara permintaan maaf Sasuke itu. Nada bicaranya, ekspresi wajahnya dan tatapan matanya terasa berbeda. Sebagai seorang ibu, Mikoto tahu bahwa putra bungsunya memang berwatak dingin dan pendiam. Tapi akhir-akhir ini Mikoto merasa ada yang salah dari anak bungsunya itu. Membuatnya jadi khawatir.

"Sasuke-kun... kau kenapa?" tanya Mikoto lembut.

"..."

"Maaf tadi Kaa-san membentakmu, kau baik-baik saja?"

'Tidak Kaa-san, aku sakit!'

"Apa kau lapar, Sasuke-kun? Kaa-san buatkan sup tomat kesukaanmu ya?"

'Tidak, terima kasih. Terlalu banyak rasa sakit hingga membuatku kenyang.'

"Sasuke-kun!" kata Mikoto menepuk pundak Sasuke hingga memecah lamunannya.

"Eh, iya?"

"Sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Mikoto sekali lagi.

"Tidak apa-apa, aku sedang lelah saja. Aku hanya ingin tidur."

"Baiklah, ganti bajumu yang kau pakai itu sudah kotor."

"Hn."

(skip time)

.

.

Sehari sebelum pernikahan Itachi dan Sakura dilaksanakan, tidak ada yang istimewa bagi Sasuke. Semuanya sama saja, bahkan menurut Sasuke semakin memburuk. Sudah seminggu hingga sehari menjelang pernikahan, Itachi tidak pernah bertemu Sasuke lagi. Tiap kali Itachi di rumah Sasuke selalu tidak ada dan sebaliknya Sasuke akan pulang jika di rumah tidak ada Itachi dan Sakura.

"Itachi-kun, kau sudah bicara dengannya?"

"Astaga! Aku benar-benar lupa! Aku sibuk sekali sampai-sampai melupakan adikku. Sekarang dia dimana ya?"

"Coba kau telepon."

Itachi mencoba menelepon Sasuke.

"Ponselnya tidak aktif."

"Aneh sekali, kemana dia?"

"Ada apa ini?" tanya Mikoto.

"Kaa-san, Sasuke dimana? Sudah seminggu ini aku tidak bertemu dengannya." kata Itachi dengan nada khawatir.

"Terakhir kali dia pulang 2 hari yang lalu dan kemarin Sasuke dijemput Naruto katanya mereka pergi ke suatu tempat, sepertinya akan pergi menginap."

"Dimana?"

"Kaa-san juga tidak tahu, dia tidak bilang. Kaa-san coba menelepon tapi ponselnya tidak aktif."

"Aduhh... Kemana sih dia?"

Sementara itu di tempat lain.

"Teme, kenapa kau malah mengajakku berkemah?"

"Aku hanya ingin mencari suasana baru saja."

"Kau sudah mengatakan alasan yang sama 3 kali dan aku yakin ada maksud tertentu."

"Apa maksudmu?"

"Sasuke sudahlah! Sampai kapan kau begini terus? Seharusnya sekarang kau ada di rumah membantu keluargamu mengurusi pernikahan kakakmu, aku tahu rasanya berat bagimu kehilangan orang yang dicintai."

"Aku tidak mengerti maksud perkataanmu."

"Cemburu... Itu yang sedang kau rasakan kan?"

Sasuke terdiam sesaat, akhirnya dia bersuara.

"Itu tidak seperti yang kau pikirkan." kata Sasuke yang mencoba untuk terus mengelak.

"Sebenarnya memang itu yang kau pikirkan."

"Kau tidak akan pernah mengerti! Masalahnya bukan hanya sekedar cemburu saja!"

"Sasuke..." kata Naruto lirih.

"Perasaan yang sedang kurasakan ini... percuma saja jika aku menceritakannya pada orang lain! Karena mereka tidak akan mengerti!" bentak Sasuke.

Terlihat Sasuke yang sedang dilanda amarah membuat Naruto mengerti dan tidak ingin membalas perkataannya, jika Naruto membalas perkataannya hal itu hanya akan membuat Sasuke semakin naik darah. Naruto mengalah dan memutuskan untuk diam sampai Sasuke reda.


To be continued