Chapter 4

.

.

.

.

(Kaito POV)

.

.

.

Akaito-nii adalah kakak laki-lakiku. Umur kami berbeda 3 tahun. Rambut dan matanya berwarna merah. Akaito-nii sangggaaattt baik padaku. Dia suka mengajakku bermain dan memberiku permen atau apapun.

Bohong. Aku cuma bohong.

Akaito-nii memang kakak laki-lakiku, berambut dan bermata merah mirip darah. Tapi dia tidak baik hati. Bukan berarti Akaito-nii itu jahat atau semacamnya. Dia cuma jarang terlihat.

Akaito-nii sangat misterius. Bisa muncul dan pergi tiba-tiba.

Beberapa bulan lalu, ketika Kaa-san terpaksa pergi ke rumah sakit dan Tou-san masih di kantornya, Kaa-san menyuruh Akaito-nii untuk menjagaku.

Akaito-nii menggaruk kepalanya kebingungan. Dia bingung harus melakukan apa denganku.

"Uhm, Kaito..." ucap Akaito bersuara kecil. Entah memang suaranya kecil.

"Nii-san, bagaimana kalau Nii-san ajari aku membuat origami kertas?" usulku.

"Eh, uh, aku tidak bisa origami, hehehe..." Akaito-nii tertawa dipaksakan.

Waktu itu, aku kaget mata kanan Akaito-nii permukaan kulitnya berwarna keunguan dan bengkak.

Aku tak pernah bertanya apa yang terjadi dengan Akaito-nii, Akaito-nii tak pernah serius menjawabnya.

"Cuma kena crayon kok."

"Ini cat air."

"Err, dipukul teman."

Jawaban Akaito-nii berputar-putar seperti itu.

Mata Akaito-nii tak pernah terlihat bersinar. Akaito-nii tak pernah makan semeja dengan kami. Jika Kaa-san mengantar makanan ke (depan pintu) kamarnya, makanan itu akan utuh sampai keesokan harinya.

Jika musim dingin tiba, aku selalu mendengar suara batuk atau bersin Akaito-nii yang berkepanjangan selama musim itu.

Aku sering tak sengaja melihat Akaito-nii dipukuli oleh Tou-san. Tou-san memukuli Akaito-nii sampai Akaito-nii minimal mengeluarkan darah dan terbaring di lantai dan melihatku dengan tatapan benci dan membunuhnya. Aku juga sering tak sengaja mendengar Akaito-nii menangis di kamarnya. Aku sering melihat Akaito-nii mencuri makanan dari kulkas ketika aku ke toilet saat malam hari.

Akaito-nii itu kenapa?

"Kaito, lihat!" seru Tou-san menggendongku ke pundaknya. "Bisa lihat pemandangannya, 'kan?"

"YA!" balasku sambil berseru senang. Pemandangannya benar-benar indah. Tou-san menurunkanku dan memutar-mutar bahunya. "Kau lumayan berat sekarang. Anak Tou-san sudah besar rupanya," Tou-san mengacak rambutku.

Handphone Tou-san berbunyi. Tou-san mengisyaratkanku untuk pergi bersama Kaa-san untuk melihat-lihat pemandangan lagi.

"Moshimoshi," Tou-san mengangkat panggilan tersebut.

"Jangan kirim satu anggota pun, biarkan dia sendiri yang bertanggung jawab... Tak apa anak itu memang aneh. Darahnya selalu mengucur keluar... Mati pun tak apa.. Ikuti perintahku jangan sampai kalian mengirim satu anggota pun untuknya."

Panggilan ditutup. Tou-san tersenyum makin lebar. "Bagaimana kalau habis ini kita makan?"

Aku merasa Tou-san membenci Akaito-nii.

.

.

.

.

(Author's POV)

.

.

.

Akaito berusaha mengejar orang itu. Setidaknya Len sekarang sudah dibawa oleh Mikuo. Dia lelah. Berlari dengan kondisi tubuh remuk itu benar-benar tidak enak. Untungnya, Akaito sempat mengenali rupa orang itu. Dia pernah sekali berurusan dengannya.

Akaito terus memaksa tubuhnya agar terus bergerak mencari bekas-bekas gesekan ban mobil dengan aspal. Mereka terlalu terburu-buru sampai untuk membelokkan mobil pun mereka harus sambil mengerem sampai meninggalkan bekas dan ini menjadi petunjuk Akaito kemana Miku dan Rin dibawa.

Entah kenapa, Akaito merasa bahwa penculik tak jauh dari kompleks rumahnya. Di dalam pikiran Akaito, alasan mengapa pengendara mobil culik tersebut buru-buru sampai setiap belok mereka harus menginjak rem adalah karena mereka takut ketahuan. Hipotesa di kepala Akaito juga mengatakan bahwa penculik yang menculik Miku dan Rin bukan dari kalangan profesional.

"Ssshhh," Akaito meringis sambil meremas bahu kirinya yang sangat sakit. Kepala Akaito pun sangat sakit. Baik depan maupun belakang. Memaksakan setiap langkah kakinya dan berusaha agar cepat sampai menuju tempat penculik itu.

Belokan terakhir, rupanya mobil itu menuju bagian paling belakang kompleks Akaito, dimana ada sungai yang agak dalam mengalir.

Tiba-tiba dia kehilangan keseimbangannya dan keningnya kembali terantuk jalan beraspal. Sekuat mungkin Akaito menahan jeritan agar tak keluar dari mulutnya. Mulai dari bahu sampai jari-jari tangan kanan Akaito sudah tak bisa bergerak.

"LEPASKAN! LEPASKAN AKU!" Akaito mendengar suara Miku berteriak. Akaito berusaha berdiri lagi sekarang dan melupakan rasa sakitnya dia berlari pincang menuju sumber suara.

Akaito melihatnya. Miku yang diikat dengan tali sementara kakinya sedang diikat dengan rantai yang diberi pemberat batu beton.

"Bisakah kau diam?!" Penculik bertopeng hitam itu menampar Miku dengan keras. Miku menangis.

Akaito baru saja ingin meneruskan larinya menuju tempat parkir mobil tersebut tapi seseorang menarik bahunya dari belakang dan menjatuhkannya.

"Apa yang kau lakukan?!" tanya orang itu garang. Akaito tidak menjawab. Dia menggeser dirinya sedikit demi sedikit dan langsung lari terbirit-birit menuju tempat parkit itu. Akaito tak melihat langkahnya. Sekejap kemudian...

BYURRR!

Akaito terperosok dan jatuh terguling ke sungai.

Akaito membuka matanya, hanya ada air dan gelembung-gelembung air yang meletup ketika sampai di permukaan. Sadar bahwa mulutnya penuh oleh air dan dadanya mulai terasa sesak, Akaito berusaha mengibaskan kakinya di dalam air dan menggerakkan sebelah tangannya untuk mencapai permukaan air.

Akaito merasakan wajahnya sudah keluar dari dalam air dan buru-buru mengambil nafas. Tiba-tiba kakinya terasa tertarik ke bawah dan tenaga yang menarik kaki Akaito begitu kuat sampai berhasil menarik Akaito kembali ke dalam air.

Di tengah pergulatan dirinya dengan sesuatu yang menarik dirinya ke dalam sungai, sebuah benda yang terbentuk dari gelembung-gelembung air. Akaito melihat bahwa benda mirip dengan anak perempuan seumuran dengannya. Anak perempuan tersebut memiliki rambut panjang yang melayang akibat arus air dan mata yang terlihat sedih.

'Mou ii yo, Tou-san.. Mou ii yo..'

Tarikan tersebut hilang dan Akaito segera mendorong dirinya untuk naik kembali ke permukaan air.

Anak itu siapa? Apa maksud suara barusan?

Akaito melihat bahwa Miku masih meronta sambil menangis. Dia akan diceburkan. Dengan sisa tenaga yang ada, Akaito akan menghentikan penculik-penculik sebelum mereka menceburkan Miku.

Akaito berhasil membawa dirinya untuk kembali ke pinggiran sungai. Nafasnya tersenggal-senggal.

"Mou ii yo?" gumamnya bertanya. Bayangan anak perempuan tadi kembali. Matanya yang menatap Akaito sedih. Apa maksudnya?

"LEPASKAN! HUWAAAA... LEPASKAN! OKAA-SAN!" jerit Miku.

Sial. Akaito tak bisa minta tolong pada siapapun. Bagian belakang kompleks ini tak berpenghuni. Berteriak sekencang apapun akan sulit didengar oleh daerah kompleks yang tinggal bagian depan.

Akaito memanjat naik dan segera berlari menuju salah satu komplotan peculik itu. Akaito menerjang pria tersebut sampai pria tersebut terjatuh ke belakang mobil lain yang terparkir disana. Akaito segera bangkit dan melompat-lompat di atas pria itu tanpa henti. Tanpa ada perlawanan lagi, pria itu pingsan karena sesak nafas. Satu terselesaikan.

Akaito masih harus menyerang beberapa orang lagi. Jika melakukan hal yang sama, pasti dia yang akan habis duluan karena dipukuli 4 pria dewasa bersenjata.

Akaito meraba-raba saku celana pria itu dan beralih menuju pinggangnya. Akaito melihat sebuah pistol.

Akaito menarik pistol tersebut dari pinggang pria itu. Di luar dugaannya, pistol itu agak berat untuknya sampai-sampai dia harus menggunakan dua tangan untuk memegang senjata api tersebut.

Akaito belum tahu pengoperasian pistol di tangannya. Berharap Mikuo atau siapapun yang datang agar bisa menolongnya. Laras pistol ini lebih panjang.

Akaito mendengar derap langkah kaki seseorang dan langsung bersiap.

"Akaito!" Mikuo memanggil namanya. Seluruh perhatian penculik itu mengarah padanya. Mikuo yang terpaku di tempatnya berdiri melihat Miku, adik perempuannya, menangis sambil meronta sementara tangan dan kakinya diikat rantai, Akaito yang basah kuyup bercampur darah dan seorang pria yang pingsan di bawahnya.

Salah seorang pria itu memberi isyarat untuk menghabisi Akaito dan Mikuo. Akaito yang panik langsung melempar pistol hasil jarahannya pada Mikuo dan Mikuo segera menangkapnya.

Dua orang pria berlari menuju mereka dengan rantai dan batu beton yang masih utuh.

Mikuo yang terdesak segera membuka pengaman pistol tersebut (ayahnya yang mengajarinya cara menembak) dan menembak kaki dua orang tersebut. Tak ada suara tembakan. Mikuo yang belum mengenali alat yang bernama peredam itu segera terpana. Benar-benar luar biasa alat bernama peredam yang sekarang terpasang pada laras pistol tersebut. Kira-kira begitulah isi pikiran Mikuo.

Tinggal satu orang lagi.

"Lepaskan Miku!" teriak Akaito. Pria itu menoleh sambil mengunci sebuah gembok pada rantai di kaki Miku.

"Uhh, rupanya ada satu orang Shion," pria itu terdengar sedang menghina Akaito. "Eh, tapi tunggu dulu. Jika memang dia seorang Shion, kenapa ayahnya suka membantingnya, 'ya?"

"Berisik kau!" balas Akaito marah. "Lepaskan Miku!"

"Jika kulepas anak ini juga tak masalah, aku masih punya seorang lagi..."

"Lepaskan mereka berdua!" Akaito berlari menerjang pria itu. Belum sempat Akaito menerjangnya, pria itu langsung menendang Akaito ke samping, membuat kepala Akaito bertabrakan dengan pembatas yang baru setengah terpasang.

Akaito merasakan sesuatu yang hangat mengalir di belakang telinganya.

'Mou ii yo...'

Akaito berusaha membuka sebelah matanya. Akaito yakin anak perempuan itu kembali bersuara. Anak perempuan itu ingin menyampaikan sesuatu!

"Mou ii.. yo..." Akaito berdesis dan berusaha berdiri dengan mencengkram teralis.

Tiba-tiba Mikuo menjerit di belakangnya. Terpaksa Akaito menolehkan perlahan kepalanya. Matanya membulat, Akaito yakin dia tak salah liat! Anak perempuan itu muncul dari permukaan air!

Sejurus kemudian, bulu kuduknya berdiri semua. Perutnya menegang dan dia merasa sangat dingin.

Perutnya serasa dijungkir balikkan dan sensasi panas dan dingin yang terus bergantian melanda tubuhnya. Sedetik kemudian, pandangannya berubah gelap dan sensasi dingin terus melanda tubuhnya.

.

.

.

.

Sementara itu, Shion Kaitou, Shion Akaiko, dan anak laki-laki mereka Shion Kaito, tengah makan siang di salah satu restoran ternama di Hokkaido.

"Maaf, Tou-san harus menerima telepon dulu. Kalian lanjutkan saja makannya." Kaitou bangkit dari mejanya dan meninggalkannya.

Setelah melihat bahwa Kaitou telah berada di luar restoran untuk menerima telepon, Kaito meletakkan sendoknya.

"Kaa-san," ucap Kaito sambil mencoba menarik atensi ibunya. Akaiko belum menjawab karena volume suara Kaito teredam oleh volume suara melodi piano di depannya. "Okaa-san..."

Kaito menarik lengan baju Akaiko. Akaiko menoleh dan menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa?"

"Aku mau tanya..." Kaito memutus ucapannya.

"Bertanya soal apa?"

"Ini soal Akaito-nii," suara Kaito terdengar pasti.

Akaiko menghentikan acara makannya. "Akaito, kenapa?" Akaito bertanya pelan.

"Sejak kapan Akaito-nii pakai kacamata?"

"..."

"Kenapa Akaito-nii suka manjat pipa belakang?"

"..."

"Kenapa Akaito-nii suka curi makanan?"

"..."

"Apa Akaito-nii tidak makanan sampai mencuri makanan?"

"..."

"Kenapa Akaito-nii suka dibanting oleh Tou-san jika Akaito-nii nakal? Padahal menurut Kaito, Kaito lebih nakal lagi."

"I-itu..." hanya suara kecil yang terkesan mirip gumaman yang keluar dari mulut Akaiko. Garpu ditangannya digenggam erat sampai buku jarinya memutih.

"Kenapa kepala belakang Akaito-nii diperban?" Kaito menarik nafas dan mengambil sendoknya. Dia mencelupkan sendok tersebut dan memutar-mutarnya dalam mangkuk. "Akaito-nii sakit, 'ya?"

"Cukup." Akaiko menarik selembar tissue dan mengusap matanya. "Jangan pernah bahas anak itu lagi."

Kaito menunduk. "Kaa-san tahu Akaito-nii sering menangis sendirian di kamarnya?"

"Kamar Akaito-nii juga berantakan," Kaito masih setia mengaduk-aduk supnya. "Akaito-nii tak pernah semeja dengan kita bila makan."

BRAK! Akaiko bangkit dari mejanya. Tanpa Akaiko sadari setetes air matanya sudah jatuh. Kaito melihatnya dan langsung menunduk.

"Gomenasai..." Kaito berucap lirih.

"Da-daijoubu," Akaiko menghapus air matanya. "Jangan kemana-mana, Kaa-san mau ke toilet dulu."

Akaiko memasang senyumnya. "Jangan bilang pada ayahmu jika aku menangis. Mengerti?"

Kaito mengangguk. Akaiko berjalan menuju toilet dan tak lama kemudian Kaitou muncul dengan ekspresi kesalnya.

"Kemana ibumu?" tanya Kaitou sambil memakai jaketnya.

"Ke toilet," jawab Kaito.

"Pakai lagi jaketmu. Kita pulang." Kaitou membereskan tas Akaiko.

"Hah?! Kita 'kan baru dua hari disini!"

"Kakakmu membuat masalah. Ada yang harus Tou-san bereskan,"

Akaiko baru kembali dari toilet dan melihat ekspresi suaminya yang terlihat sangat kesal.

"Ada apa?"

"Si Akaito-sialan itu membuat masalah,"

"Masalah apa?"

"Dia membuka kasus lama dan kasus penculikan dan pembunuhan berantai hari ini. Aku harus memimpin kasusnya, tak ada penegak yang bisa memimpin kasus berlapis seperti ini."

"Bagaimana dengan keadaan Akaito?"

"Dia menghilang ketika polisi menginterograsinya. Kudengar dia sempat kerasukan," Kaitou menyandangkan tasnya. "Ayo cepat! Kasus ini akan semakin parah karena anak sial itu berkeliaran sekarang."

Akaiko semakin resah. Dia hanya bisa berharap supaya anak itu selamat dari kasus yang menyeretnya...

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

Mind to REVIEW?

.

.

.

Shintaro Arisa, out.