NIJI

( Chapter 4 )

Bleach © Tite Kubo

NIJI © Aqua Timez

Warning : OOC, Typo, Don't Like Don't Read, Shounen-ai, GrimmIchi


.

.

.

Ada satu hal yang ingin Ichigo pastikan. Ini tentang hatinya yang mulai bias menerima sosok Grimmjow dalam bentuk lain. Bukan lagi sekedar teman seperti dulu. Tapi ada sesuatu yang membuatnya perlahan mulai merasa nyaman di dekat pemuda itu.

Namun ada satu sisi hatinya yang berontak. Menolak untuk memberikan ruang bagi Grimmjow. Karena tempat itu masih milik Renji.

.

.

.

"Ichigo!"

Grimmjow menepuk pelan bahu Ichigo untuk mengalihkan perhatian pemuda itu dari kegiatannya memandang langit dari atap sekolah. Ichigo mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk ketika dirasakannya Grimmjow berdiri disampingnya.

"Sampai kapan kau mau disini?"

"Bukan urusanmu."

"Mulai detik ini, semua hal tentangmu adalah urusanku."

Ichigo mendengus kesal mendengar perkataan Grimmjow yang seenaknya itu. Lalu tanpa berkata apapun, pemuda itu segera bangkit dan berjalan menjauhi sosok Grimmjow yang kini tengah berbaring dengan kedua lengannya yang dijadikan sebagai pengganti bantal.

Namun satu kalimat dari Grimmjow cukup untuk membuat langkah Ichigo terhenti,"berapa lama lagi aku harus menunggumu?"

Ichigo tercekat. Seolah ada benda yang tersangkut di tenggorokannya hingga membuatnya sulit untuk menyanggah kata-kata Grimmjow seperti biasanya. Senyum getir terkembang di bibir Ichigo, "apa kau sudah mulai lelah?"

Hening.

"Menurutmu?"

"Aku tidak tahu."

"Wajar kau tidak tahu karena akupun tidak mengerti. Mungkin benar, aku sudah lelah, Ichi."

Lelah katanya? Secepat itukah? Lalu kata-kata yang dia ucapkan dulu itu apa?

Ichigo seolah merasa terhempas sekali lagi. Sisi hatinya kembali tergores. Yah… mungkin ini yang namanya karma. Tapi egoismenya yang tinggi membuat Ichigo lekas menampik pikiran itu. Kalau memang Grimmjow ingin menjauh darinya, dia tidak akan melarang. Kalau bisa secepatnya, sebelum dirinya semakin tergantung pada sosok Grimmjow.

Detik berikutnya, yang Ichigo tahu, dia sudah mulai berjalan. Menjauh dari tempat itu, meninggalkan Grimmjow tanpa berkata apapun lagi.

Sebelum dia yang ditinggalkan.

.

.

.

Sejak saat itu, jarak antara Grimmjow dan Ichigo semakin jauh. Entah siapa yang memulai, mereka hanya tahu bahwa mereka sulit untuk berdekatan. Ada dinding yang seakan tercipta diantara mereka. Dan Ichigo tidak suka keadaan ini, tapi dia tidak punya pilihan lain. Mungkin Ichigo mulai percaya akan ungkapan: merasa memiliki setelah kehilangan.

Dia mulai merindukan sosok itu.

Sedangkan Grimmjow? Pemuda dengan rambut biru tersebut keadaannya tidak jauh berbeda dari Ichigo. Sama-sama tersiksa. Tapi ini hal yang harus dilakukannya. Karena perlahan, hatinya mulai ragu.

Janji untuk terus berada disamping Ichigo menguap entah kemana, dia membenci dirinya yang terlalu cepat menyerah. Tapi dia juga manusia biasa yang mempunyai titik puncak. Dia lelah.

Sikap Ichigo yang terus memaksa Renji untuk tetap 'hidup' membuat pemuda itu seakan didorong menjauh oleh orang yang mati-matian ia jaga selama ini.

Salahkah jika ia mulai ingin menjauhi pemuda orange itu?

Satu pertanyaan yang mungkin tidak akan terjawab.

.

.

"Would that bridge form in a world without tears?"
The graffitti scrawled on the wall resembled someone's handwriting
You wanted to build a bridge to get away from sadness
But now I close my eyes and toss my umbrella away

Hari ini Ichigo memilih untuk menembus hujan yang mengguyur Karakura sejak pagi tadi. Dia hanya ingin menikmati waktunya dengan merasakan sensasi dinginnya air hujan dari balik payung yang membentengi tubuhnya. Ia tidak perduli kemana kakinya melangkah. Sekarang tujuan bukanlah prioritas utamanya, yang penting, ia bisa mengalihkan dirinya dari rasa sakit yang semakin intens menyerang. Tanpa terasa, Ichigo sampai di suatu tempat yang beberapa bulan ini rutin ia kunjungi. Makam Renji.

Namun sosok yang berdiri di depan makam itu membuatnya menghentikan langkah.

"Grimmjow?" bibir Ichigo berucap lirih. Ingin berbalik dan pergi menjauh, namun tidak bisa. Jauh di lubuk hatinya, Ichigo ingin menatap sosok itu lebih lama.

Beberapa saat yang tercipta hanyalah keheningan. Sampai akhirnya Grimmjow berbalik, mata birunya bertemu dengan Hazel Ichigo.

"Hei," ada nada canggung yang terasa. "sudah berapa lama kau disitu?"

Ichigo diam. Hanya bisa mengeratkan pegangannya pada payung yang melindungi dirinya dari hujan yang semakin menderas. Ia bingung dengan situasi seperti ini. Ichigo juga tidak tahu harus berkata apa lagi.

Menghela napas, Grimmjow akhirnya mulai berjalan dan setelah sampai di samping pemuda orange itu, dia berbisik, "aku pulang dulu, Ichi… Sayonara."

Ichigo tersentak mendengar kalimatGrimmjow, 'Sayonara?'

Habis sudah!

Ichigo berbalik untuk memanggil Grimmjow, tapi terlambat. Sosok itu sudah menghilang di ujung jalan, tak terlihat.

Ichigo segera memacu langkahnya, berusaha secepat mungkin mengejar Grimmjow. Tidak perduli dengan hujan yang membasahi tubuh rapuhnya. Ia tidak perduli pada apapun lagi. Jika dulu, Grimmjow yang selalu mengejarnya, maka kali ini biar dia melakukan hal yang sama.

Ichigo menghentikan larinya ketika ia melihat kerumuman orang di dekat lampu merah dan jantungnya mulai berdetak cepat, 'Kami-sama, kumohon….'

Disibaknya kerumunan orang itu dengan paksa, ia ingin memastikan kalau dugaannya salah.

Tapi seseorang yang terbaring bersimbah darah di jalanan beraspal ini sudah cukup untuk membuat Ichigo jatuh berlutut, diusapnya sisi wajah orang itu, berharap iris biru laut yang ada di balik kelopak mata yang tertutup itu akan terbuka dan memanggil namanya seperti dulu.

Bibir Ichigo pun hanya mampu berucap lirih, "Grimmjow…."

.

.

.

"Dasar Baka! Kau itu belum sembuh benar, jangan menghilang seenaknya saja, dong!"

"Aku hanya jalan-jalan sebentar. Tidak usah berlebihan begitu, Ichi."

"Jalan-jalan? Kau pikir sekarang jam berapa, hah! Ini sudah hampir tengah malam! Aku tidak mau tahu kalau besok pagi kau kena omelan Isane-san lagi. Kau 'kan tahu, dia itu perawat paling galak di rumah sakit ini."

Tawa ringan terdengar dari bibir Grimmjow, "berani sekali kau bilang Isane-san galak."

"Dia memang galak, kok!" dengus Ichigo sebal.

Grimmjow tersenyum dan mengacak rambut Ichigo. Membuat rambut orange-nya semakin berantakan, "aku hanya ingin melihat pelangi."

DEG!

"Pelangi?"

"Ya.. . Pelangi."

"Kenapa?" Ichigo memandang langit malam yang saat ini nampak indah dengan hiasan ribuan bintang. "Kenapa kau ingin melihat pelangi? Pelangi macam apa yang muncul malam-malam begini?"

"Aku tidak tahu, tapi yang jelas, pelangi itu dimataku tetap indah. Siang ataupun malam," Grimmjow ikut mendongak menatap langit. "Tidak semua hal memerlukan penjelasan."

"Begitu, ya?"

"Itu menurutku, sih. Entah otakmu bisa mengerti atau tidak."

"Cih! Jangan meremehkanku!" Ichigo meninju pelan lengan Grimmjow, wajahnya tertekuk pertanda ia sedang kesal dengan orang dismpingnya ini. Tapi, perlahan, ia memyandarkan kepalanya di bahu Grimmjow sambil memejamkan mata, mencuri sedikit kehangatan dari pemuda yang diam-diam telah mampu mengisi salah satu tempat di hatinya.

Sedangkan tangan Grimmjow bergerak untuk mengelus rambut Ichigo pelan, ia sungguh bersyukur karena sekarang. Pemuda orange ini telah menjadi miliknya.

"Hey, Baka?"

"Hm?"

"Berjanjilah satu hal padaku."

"Apa?"

"Jangan pernah meninggalkanku."

"Aku berjanji, Kurosaki Ichigo."

It'll be okay, just look up
It's okay, do you see the seven color (rainbow) bridge?
We can finally smile beneath the same sky

FIN

AN : Akhirnya fic ini tamat juga sodara-sodara!

Baiklah, maafkan saya karena GrimmIchi sangat OOC dan entah kenapa ini chapter paling lebay menurut saya =.=a

Masih berminat RnR, minna-san?