*ngesot sampe ke depan readers* maafkan sayah. Lewat jauh dari 2hari yang dijanjikan! AAAAHHH!! *jambak-jambak rambut frustasi* biar ga nambah lama lagi langsung aja yaa ~~

Warning : M for Mesum contents - LEMON INSIDE. AU. OOC. Gaje. Abal. Aneh. --- Thanks sudah menghargai rated yang sayah pasang (Paham kan maksud saya? Kalau tidak bisa menghargai atau memang belum waktunya baca rated M, dengan berat hati saya meminta anda untuk mundur satu langkah dan jangan lanjutkan membaca. Terimakasih atas perhatiannya) :)


Potongan Chap lalu :
Yukata Sakura yang sebelumnya sedikit tersingkap itu sengaja dibuka lebih lebar oleh Kakashi. Angin dengan lebih bebas dapat membelai Sakura. Dingin lebih terasa menusuk pada kulitnya yang halus dan rapuh. Sakura hanya dapat memejamkan matanya lemah. Kini di hadapan Kakashi telah tampak sepasang gumpalan daging yang mengacung berani tersembunyi di balik bra hitam gadisnya. Ia meremas pelan dada kanan gadisnya yang masih tersembunyi dan mulai menjilat bagian kulit yang terbuka tak tertutup bra. Erangan-erangan pelan tertahan terus terdengan dari bibir Sakura yang menutup membuka silih berganti. Berbeda dari bibirnya, matanya terus terpejam erat menikmati tiap sentuhan hangat penuh cinta prianya. Inikah kelanjutan dari ciuman? Perasaan aneh yang nikmat ini? Perasaan geli yang menyebar perlahan sampai ke ujung jarinya? Entah kenapa Sakura merasa beruntung terlahir sebagai wanita..


5

4

3

2

1

chiu-chi Hatake presents, with love ~

After the Storm

Chapter 4


Rembulan tengah meraja, menyisakan pendar-pendar cahaya minim di kala malam semakin larut. Entah bagaimana jadinya dengan dua insan yang berada di tengah kegelapan. Mereka dimabuk cinta. Dibawa angan. Diterjang kehangatan. Juga diserbu keinginan untuk selalu bersama dan saling melengkapi. Niat keduanya telah bulat untuk mencintai pasangannya baik dalam suka maupun duka. Dengan dipenuhi perasaan seperti itulah malam hangat mereka berlanjut.

Setiap sentuhan yang sampai pada seluruh permukaan kulit Sakura terasa hangat dan menenangkan. Berpuluh-puluh kali lipat lebih menyenangkan walau itu hanyalah sentuhan dari rambut perak Kakashi yang tegak melawan gravitasi sungguh tidak dapat dibandingkan dengan sentuhan lain oleh siapapun. Hasrat Sakura bergejolak tak kalah dengan pria di hadapannya. Jemarinya mencengkram erat futon tempatnya berbaring. Semakin lama semakin erat menunjukkan perasaan nikmat yang didapat Sakura semakin tinggi.

Kakashi masih bertahan mengecap rasa kekasihnya dengan lidah yang menjulur hangat menyapu kulit Sakura yang putih mulus bagai porselen. Lidahnya semakin turun sampai pada belahan dada kekasihnya kemudian ia mengangkat wajahnya demi menatap lekuk wajah gadisnya.

Didapatinya gadis itu tersenyum dengan sedikit menggigit ujung bibirnya – berusaha menahan erangannya yang sedari tadi terus menggema di telinga kekasihnya.

"Lepaskan saja. Hanya ada aku disini." Kakashi mencium kening gadis itu. Kemudian menuju bibirnya mengecupnya pelan. Berusaha membuat gadisnya nyaman dan melepaskan diri tanpa malu. Ciuman itu berakhir dengan senyum hangat Kakashi yang dibalas dengan senyum tak kalah hangat.

Sakura mengangguk. Kakashi kembali pada dada Sakura kemudian menelusupkan tangannya ke punggung gadis itu seraya memeluk. Pelukan itu mengendur saat bra hitam Sakura terlepas. Kini terlihatlah pemandangan indah bagi seluruh lelaki di dunia tanpa sehelai benangpun menutupinya. Payudara Sakura yang ukurannya lebih dari cukup dapat menggiurkan lelaki manapun yang melihat. Ditambah pula dengan lekuknya yang erotis. Kakashi masih menatapnya tanpa terlihat tanda-tanda akan bosan. Kakashi merasa beruntung. Tapi Sakura terlampau malu dipandang seperti itu hingga kedua belah tangannya bersatu menutup bagian miliknya yang terindah.

"Ja.. Jangan lihat seperti itu.." rengek Sakura menyadarkan Kakashi karena pemandangan 'menyenangkan'nya telah tertutup.

"Hn.. Lalu seperti apa, Sakura?" tanya Kakashi menggoda. Ia menarik lengan gadisnya yang lemah tak bertenaga, melepaskan belenggu yang menutupi pemandangan miliknya. Kini kedua lengan Sakura sudah terborgol oleh lengan kekar Kakashi. Menahan gadis itu untuk bersikap lebih defensif ketimbang sebelumnya.

"Ja..AHHNN--!" Sakura mengerang tertahan saat Kakashi menggigit putingnya pelan kemudian menjilat-jilat dan menghisap bagian yang terjangkau olehnya.

Genggaman erat Kakashi pada lengan Sakura terlepas. Tangan itu makin menggerayangi tubuh elok Sakura. Setiap sentuhan sekecil apapun dari jemari Kakashi dapat menghasilkan erangan-erangan dahsyat dari bibir ranum si empunya.

"Aaaahhnn.. Ahh.. Nggh.."

Salah satu lengan Kakashi terparkir manis di atas payudara kiri Sakura. Sesekali ia meremasnya. Sakura hanya bisa memekik tertahan saat Kakashi kembali mengulum payudaranya. Sedang lengan lain Kakashi berhenti tepat di atas celana dalam berwarna hitam milik Sakura.

Tiba-tiba Sakura terdiam. Ia merasakan perasaan aneh. Entah kenapa ia merasa bersalah, entah pada apa atau siapa. Perasaan itu makin berkecamuk sampai saat jemari Kakashi berusaha melepaskan pertahanan terakhirnya – celana dalam.

Pada akhirnya, Sakura mendorong Kakashi tanpa adanya kesadaran sempurna. Kakashi terenyak. Ia merasa harga dirinya sedikit terluka. Tapi ada yang lebih penting. Mata emerald itu memancarkan ketakutan yang amat sangat. Membiaskan setiap kegelisahan pemiliknya. Kakashi menarik nafas dalam untuk mengendalikan diri. Ia tersenyum kemudian.

"Kau takut?" tanya Kakashi lembut. Ia menegakkan duduknya. Bila memperhatikannya dengan seksama, celananya terlihat menyembul.

Sakura menggeleng lemah tanpa menatap prianya. Ia merasa jika ia menatap pria itu saat ini, sesuatu yang selama ini dijaga sepenuh jiwa raganya akan hilang. Rasa itu semakin kuat menguasai dirinya. Sebenarnya apa yang ia takutkan? Sakura sendiri pun tak tahu. Yang jelas hanyalah perasaan resah yang menekan batinnya.

'Kami-sama apa yang harus aku lakukan?' batin Sakura. Ia tenggelam dalam pemikiran logisnya. Menggali penjelasan dengan cara berdebat dengan diri sendiri.

Kakashi terdiam sesaat, kemudian ia bergerak di tengah gelapnya kamar mereka. Ia mencari sakelar lampu untuk memperjelas permasalahan ini.

Tidak butuh waktu lama, lampu kamar mereka menyala. Akhirnya semua terlihat jelas. Terlihatlah pula Sakura yang setengah bugil dengan matanya yang dialiri cairan bening. Sejak kapan Sakura menangis? Padahal tidak terdengar suara apapun sejak tadi.

Kakashi merasa bersalah. ia mencium pelipis gadisnya dengan lembut, yang membuat Sakura menatapnya dengan emeraldnya yang masih berkaca-kaca.

"Maaf Kakashi.. Aku.." suara Sakura yang biasanya lembut kini serak. Suara Sakura berhasil menyayat-nyayat hati Kakashi. Melukainya lebih dalam. Terdengar pula isakan-isakan kecil menghiasi ruang pendengaran Kakashi. Semakin lama gema isakan itu terdengar, ia merasa batinnya semakin terluka. Hati dan otaknya terus bersitegang. Ia tidak paham dengan dirinya dan juga Sakura. Ia amat sangat tidak paham dengan keadaan ini.

Kenapa?

Gadis ini sendiri yang meminta tapi mengapa ia menangis?

Semua menjadi semakin tidak logis bagi otaknya yang canggih. Matanya terpejam. Nafasnya terhembus berat dari celah hidung dan bibirnya. Kemudian bibirnya mengatup diam. Ia duduk bersandar dengan tembok. Terdiam memandang kekasihnya yang sesenggukan agak jauh darinya. Lebih dari kecewa, ia sendiri tak paham mengapa emerald itu terlihat terluka. Apa dia melakukan kesalahan? Kami-sama jelaskan padaku. Aku sungguh-sungguh tak mengerti..

"Ka.. Kashi..."

Kakashi tersentak dari lamunannya saat gadis berambut merah muda itu memanggilnya. Ia bangkit dari duduknya dan mendekat pada futon dimana Sakura berbaring.

"Ya?" Kakashi hanya bisa menjawab pelan. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan kecewa pada nada bicaranya.

"Ah-ku se-b-benarnya sej-jak ta-di i-ingin b-bertanya... sat-tu hal sa-ja.." ucapnya dengan jeda sesenggukan hasil tangisnya.

Alis Kakashi bertaut. "Apa itu Sakura?"

Sakura diam beberapa saat. Ia mengatur nafasnya dan menghentikan sesenggukannya. Kakashi hanya diam menunggu kalimat Sakura selanjutnya. Merasa dirinya sudah cukup tenang dan suaranya cukup jelas, ia memulai pertanyaannya.

"Siapa gadis itu..?"

Kembali alis Kakashi bertaut. Matanya teralih memandang langit-langit. Otaknya berusaha mencerna kalimat Sakura dan mencari-cari siapa gadis yang dimaksud. Bingung dengan pertanyaa tak terjawab itu, ia kembali bertanya.

"Gadis? Yang mana?"

Tubuh Sakura menegang. Apa maksudnya gadis yang mana? Apa selingkuhannya terlalu banyak sampai ia tidak ingat yang mana? Tapi tidak mungkin, direkturnya ini walau mesum, (Sakura sadar lho si Kakashi mesum! Ajaib ya! Disini kan dia kan lemot banget gitu *dishannaro*) tapi dia terlihat setia dan selalu menjaga dirinya yang polos ini. Wah! Apa jangan-jangan karena ia terlalu polos jadi Kakashi tidak berani berbuat macam-macam padanya? Tidak mungkin!

"Sakura..?"

Sakura mengalihkan pandangannya kembali pada Kakashi. Wajahnya tidak terlihat senang – terlihat terganggu malah. Kakashi terdiam lagi. apa ia berbuat kesalahan.. lagi?

Sakura mendudukkan dirinya di atas futon. Ia memandang Kakashi lemah.

"Kakashi.. maafkan aku.."

Kakashi terperanjat. Maaf? Untuk apa? Untuk tidak bisa melanjutkan ini?

Sakura terlihat gusar, ia merapihkan yukatanya sembarangan agar tidak terasa lebih dingin lagi.

"Sebenarnya.. aku.. Cemburu."

Mata Kakashi menyipit tak percaya. Cemburu? Untuk apa? Kakashi tidak pernah sekalipun berselingkuh. Dekat dengan wanita lain saja tidak. Berbicarapun sekedar basa-basi. Itu juga hanya dengan klien atau para karyawati kantor. Seumur hidupnya, ia berbincang—bukan hanya sekedar berbicara—hanya kepada satu, dua, tiga... eng.. empat wanita saja. Hanya keluarganya yang wanita dan Sakura. Tidak bisa menahan perasaan bingungnya, ia kembali bertanya.

"Cemburu?"

Sakura mengangguk.

"Apa itu ada hubungan dengan gadis yang kau sebut tadi?"

Sakura kembali mengangguk dengan wajah tertunduk.

Kakashi mengacak-acak rambut peraknya bingung.

"Sebutkan ciri-cirinya."

"Rambutnya hitam legam bergelombang. Matanya berwarna merah terang.. cantik.. berkelas.. anggun.."

Menyadari siapa yang dimaksud, Kakashi tertawa terpingkal-pingkal. Apalagi saat penjelasan bagian akhirnya. Ia tidak dapat menahannya sama sekali.

"Kenapa?" perasaan heran Sakura sudah sampai puncaknya. Ia berbicara serius tetapi lelakinya malah tertawa. Apa ada yang lucu?

"Apa kau bilang, Sakura? Berkelas? Anggun? Itu konyol." Kakashi melanjutkan tertawanya.

Sakura mulai kesal. Bibirnya mengerucut.

"Ahahaha maaf.. maaf.." Kakashi menarik nafas dalam beberapa kali untuk mengendalikan diri. Ia mendekat pada Sakura kemudian memeluknya gemas.

"Dengar yaa Sakura sayang.." Kakashi tersenyum lembut sambil memainkan ujung rambut Sakura. "Gadis yang kau maksud barusan bernama Kurenai. Kurenai Hatake."

Emerad Sakura membulat sempurna. Tenggorokannya terasa sangat kering tiba-tiba. Pita suaranya tercekat, "i... istrimu maksudmu?"

Kakashi elanjutkan tawanya, kemudian mengelus-elus rambut merah muda sepundaknya Sakura. "Bukan. Dia istri dari saudara jauhku. Ia datang ke kantor karena keperluannya sangat mendesak." Terang Kakashi. Sakura mengagguk paham dengan wajah memerah.

Kecemburuannya memang tak beralasan.

Sedangkan Kakashi? Ia menikmati kenyataan bahwa gadisnya cemburu. Ia terus tersenyum tanpa ada niat untuk menutupinya. Semenyenangkan itukah perasaan cemburu Sakura, Kakashi?

-T B C -

WUUAAA MAAF BANGETTSSS INSPIRASI ILANG TOTAAAAAAAALLLL

Entah bagaimana jadinya ini fict. Rencana yang uda disusun rapih (masa?) ilang semua ditelan badai otak gara-gara mikirin presentasi biologi kimia. Saya mengakui, seharusnya lemonnya bisa selesai di chapter ini, tapi saya ngerasa entah mengapa kalau selesai disini, Sakuranya nggak terlihat kalau dia pandai. Yang kentara jelas cuma polosnya. Saya kecewaaaaaaa ~

Loh? Emangnya keliatan ya dari awal kalo Sakura itu pinter? Errhh.. sayah jadi merasa gagal sebagai author hiks ~ (Sebenernya saya hanya ragu ngelanjutin karena terlalu vulgar *dasar gak konsisten* maklum fict rate Mesum perdana sayah)

Yasudah daripada berlarut-larut, saya ingin tanya kepada anda semua. Sebaiknya gimana kelanjutan fict ini ? (lho?!) *digeplak readers*

Bercanda .. sebenernya mau tanya dulu kalau segini termasuk terlalu vulgar nggak sih? Jadi bagus begini atau ada yang dirubah? Sayah menerima kritik, saran, ke-enggak setuju-an, sampai flame dengan tangan terbuka. Karena sayah sendiri masi merasa chapter 4 ini termasuk yang paling abal. Huaaah ~ Mohon bantuannya yaa senpai-senpai sekaliaaan ~

ARIGATO GOZAIMASU –

Review ?