Gommen untuk chapter kemarin, Daana nggak bisa balas review kalian semua. Tapi Daana berterima kasih untuk semua yang sudah mereview fic ini. Review kalian memberi semangat untuk Daana ^^
Special thanks to
Ariefyana Fuji Lestari/Ariska/Kuroshiro Ringo/Lubaby Ayu935/Miss Ngiweung/Nakako Anko/Uchiharuno Sierra/VanillaMint Dayo/XXRUKAXX/Yesungie002/Yukine Machiato/Zhyeekyu/Zizi Kirahira Hibiki 69/devi no kaze/fishy1992/jeyminnie/latte /zhichaloveanime/No-VIZ HB/Sienkyu/Akari /JodohnyaOhSehun/Kikuuuu/Lee Kibum/Nana FFnet/exolulu/hikarusherizawa/julihrc/outofblue/ratnakartik/versetta
Aprieelyan/Babby Byunie/Candy Chan-Cc/KakaknyaKurokoTetsuya/Kim Kimmy Exostand 31/Kouzuki Haruka/Kuhaku/Mimo Rain/Oranyellow-chan/Sacchi tsgunamori/Uzumaki Prince Dobe-Nii/MinRisa91/cyeolxxo
Akimura Yuuki/Akkurren612/Aoi Hikari kenzou/Christal Alice/ChukeNalu 4ev/CintaKillua/CrystalVictoria/Elysifujo/Eun810/GIRLSHEWOMEN/Kawaii Marshmallow/Lactis/MashiroYui/Myouki Kuroki/NaruSuke99/Pudding Tubby/The Devil From Underworld/XL-SasuHinaGaa/ai . 137/zarayumeko/Aoi-Umay/Jeapens/Lucky /gdtop/kimhyera37/rfilfi/zhee614
Yang sudah mem-fav dan follow fic ini (maaf jika ada yang terlupa, mungkin mata Daana lagi khilaf)
Juga untuk semua yang sudah membaca fic ini.
Arigatou Gozaimasu ^_^
Kuroko no Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki Sensei.
This fiction belongs to Daanasa
Genre : Romance,, emm maybe ?
Rated : T
Pairing : Akakuro, always !
Warning : Typos. Gaje. OOC. This is Yaoi Story, it means boy x boy. If you hate Yaoi, just leave it and click back. Don't Like, Don't Read. It's Simple !
Summary: Semua orang tahu betapa posesifnya Akashi Seijuuro. Apalagi jika menyangkut kekasih mungilnya, Kuroko Tetsuya.
Happy Reading minna~
Chapter 4: He's mine !
"Akashi-kun, lepaskan pelukanmu." Kuroko berkata dengan nada datar, sekalipun rona merah tercetak jelas di pipi mulusnya. Saat ini Kuroko tengah duduk bersama Akashi di sofa panjang yang berada di ruang tengah apartmentnya, dengan Kuroko berada di pangkuan Akashi dan lengan pemuda itu yang melingkari pinggang rampingnya.
Sungguh posisi yang sangat memalukan untuk Kuroko.
"Biarkan seperti ini dulu, Tetsuya." Akashi berkata tepat di telinga Kuroko dengan nada yang teramat lembut. Kuroko bisa merasakan panas semakin menjalar di wajahnya, apalagi ketika merasakan hembusan napas pemuda itu di tengkuknya.
"Tapi aku harus segera membuat makan malam, Akashi-kun." Kuroko masih berusaha melepaskan pelukan Akashi di pinggangnya-yang terasa sulit karena Akashi terlalu keras kepala untuk melepaskannya. Jika terus berada di posisi ini, Kuroko takut Akashi akan bisa mendengar jantungnya yang berdegup kencang.
"Kau bisa melakukannya nanti," Akashi semakin mengeratkan pelukannya-tidak ingin kehilangan kehangatan dari tubuh mungil kekasihnya- sebelum berbisik dengan nada yang seduktif, "Lagipula aku lebih suka 'memakanmu', Tetsuya."
"Akashi-kun !" Kuroko segera mengangkat tangannya guna menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Jangan berbicara hal mesum seperti itu. Kau membuatku malu." Lanjutnya masih dengan posisi yang sama. Menyerah untuk melepaskan diri dari pelukan si raja gunting.
Akashi tertawa pelan melihat bagaimana lucunya tingkah kekasihnya itu. Sebelum mengangkat kedua tangannya guna menyingkirkan tangan Kuroko yang menutupi wajah manisnya. Kemudian Akashi meletakkan tangannya di dagu Kuroko dan membawa wajah pemuda itu untuk menatap ke arahnya.
Kuroko terpaku menatap wajah Akashi yang begitu dekat dengan wajahnya, hingga Kuroko bisa merasakan napas pemuda itu menerpa wajahnya. Tatapan Akashi melembut saat iris heterochromenya bertemu dengan iris baby blue sang kekasih. Senyuman yang hangat merekah di bibir Akashi, sebelum berkata dengan nada lembut "Aku tidak akan pernah menyerahkanmu pada siapapun. Kau milikku, Tetsuya. Sekarang dan selamanya."
"Akashi-kun."
Akashi mendekatkan wajahnya ke arah Kuroko, mengeliminasi jarak hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Kuroko sontak menutup kedua matanya, bersiap untuk menerima apapun yang akan Akashi lakukan kepadanya-sekalipun Kuroko tahu pasti apa yang akan dilakukan kekasihnya itu.
Hanya tinggal beberapa senti kedua bibir itu bertemu, namun-
"Tetsuya, Nii-chanmu yang tampan ini dat-YAKK APA YANG KALIAN LAKUKAN ?!"
Suara teriakan dari pemuda yang baru saja memasuki ruang tamu itu sontak mengagetkan Akashi dan Kuroko. Keduanya serentak mengalihkan pandangannya ke arah pemuda yang masih mematung dengan ekspresi terkejut yang nampak jelas di wajah putih pucatnya.
"Yakk pendek, cepat lepaskan tanganmu dari Tetsuya-KU ?!"
Pemuda dengan surai abu-abu itu segera melangkah menghampiri kedua sejoli itu sebelum menarik Kuroko dari pelukan Akashi, dan membawa pemuda mungil itu sejauh mungkin dari pemuda beriris heterochrome itu.
Akashi menatap tajam ke arah pemuda yang kini sedang memeluk kekasihnya itu, jelas tersinggung karena niatnya untuk menghabiskan malam penuh cinta-ehemm- bersama Kuroko terpaksa gagal karena kehadiran tamu-yang-tidak-akan-pernah-diundang itu. Belum lagi panggilan 'pendek' yang digunakan pemuda itu untuknya. Jika tidak mengingat status pemuda itu sebagai kakak-sepupu- Kuroko, Akashi bersumpah akan memberinya mimpi terburuk yang tidak pernah dibayangkan manusia manapun. Tidak ada seorangpun yang boleh menyinggung tinggi badannya.
"Tetsuya, kau baik-baik saja kan ? Apa si pendek itu melakukan sesuatu padamu ? Katakan pada nii-chan, biar nii-chan memberinya pelajaran." Pemuda bernama Mayuzumi Chihiro itu segera memutar tubuh mungil Kuroko dan menelitinya-memastikan bahwa tubuh pemuda itu bersih dari segala macam tanda apapun itu-baik yang diberikan oleh Akashi atau nyamuk(?) sekalipun.
Akashi nyaris melemparkan guntingnya ke arah Mayuzumi saat pemuda itu kembali memanggilnya 'pendek'. Akashi itu tidak pendek, orang-orang saja yang kelebihan tinggi badan.
"Chihiro-nii, apa yang kau lakukan disini ?" Kuroko bertanya dengan nada datar seperti biasa, mengabaikan pertanyaan Mayuzumi yang sangat tidak penting itu.
"Tentu saja karena nii-chan merindukanmu, Tetsuya. Sudah dua minggu kita tidak bertemu. Dan nii-chan juga tahu bahwa kau merindukan nii-chan yang tampan ini, bukan?!" Cengiran lebar terkembang di wajah tampan pemuda bersurai abu-abu itu. Jujur saja, dua minggu tidak bertemu dengan sepupu manisnya itu membuat Mayuzumi terserang malarindu yang besar.
Kuroko memutar bola matanya saat mendengar jawaban Mayuzumi. Tidak pernah menyangka bahwa pemuda-merangkap kakak sepupunya- yang selalu memasang ekspresi datar saat di sekolah itu ternyata orang yang narsistik-meski tidak senarsis pemuda bersurai kuning bernama Kise Ryota itu.
"Kuroko, kau tidak menyiapkan makan malam ?"
Kuroko segera mengalihkan perhatiannya ke arah pemuda berambut coklat yang baru saja muncul dari arah dapur. Tidak menyangka ada tamu lain selain Mayuzumi.
"Ogiwara-kun ? Sejak kapan kau ada di sini ?"
"Dia sudah berada di sini sejak tadi, Tetsuya. Dia masuk bersama dengan Mayuzumi-san." Akashi yang sejak tadi duduk di sofa menyahut santai. Namun kedua iris heterochromenya menatap tajam ke arah Ogiwara, membuat pemuda itu merinding seketika.
"Err,, aku kehabisan bahan makanan, Kuroko." Ogiwara segera mengatakan alasan kehadirannya kepada Kuroko, sekaligus menjawab tatapan Akashi yang seolah berkata cepat-katakan-kenapa-kau-disini-atau-terima-hukumanmu-besok. "Kebetulan saat aku keluar apartment untuk membelinya, aku bertemu dengan Mayu-senpai. Dan dia menawarkan untuk makan malam bersama di apartmentmu." Ogiwara mengalihkan perhatiannya ke arah Mayuzumi. Meminta agar pemuda itu membenarkan ucapannya.
"Apa yang dikatakan Ogiwara itu benar, Tetsuya. Aku tidak sengaja bertemu dengannya di lobby dan dia bilang ingin membeli makanan. Daripada dia keluar saat cuaca buruk seperti ini, lebih baik aku mengajaknya kemari."
"Aku tidak pernah tahu bahwa kau begitu perhatian pada Shigehiro, Mayuzumi-san. Atau kau sebenarnya memiliki perasaan untuknya ?"
Ogiwara yang mendengar ucapan kapten basketnya sontak membulatkan matanya. Ekspresi terkejut tercetak jelas di wajahnya. "Yaakk, apa maksudmu pendek ?!" Mayuzumi segera mendelik ke arah Akashi yang kini menyerigai ke arahnya. "Tentu saja aku tidak punya perasaan seperti itu !"
"Yang dikatakan Mayu-senpai itu benar, Akashi. Kau jangan berpikiran yang tidak-tidak tentang kami." Ogiwara menjawab dengan nada santai. Tidak menyadari pemuda bersurai abu-abu yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sejenak keheningan mengisi apartment mungil itu. Kemudian Kuroko segera beranjak menuju dapur dan berpaling ke arah Ogiwara. "Maukah kau membantuku menyiapkan makan malam, Ogiwara-kun ?"
"Tentu saja, Kuroko."
Ogiwara segera beranjak mengikuti Kuroko, meninggalkan Akashi dan Mayuzumi di ruang tamu. Mayuzumi segera menghempaskan tubuhnya di sofa samping Akashi.
"Kau terlalu lambat, Mayuzumi-san." Akashi memulai percakapan setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan. Mayuzumi mengalihkan perhatiannya ke arah Akashi dan mendapati pemuda itu menyerigai ke arahnya. "Jika kau mau, aku bisa memberikanmu beberapa saran."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, pendek." Tatapan datar serupa milik Kuroko-hanya saja milik Kuroko lebih imut(?)- dilayangkan pemuda itu ke arah Akashi. "Dan aku tidak butuh saranmu." Sahutnya dengan nada malas. Enggan untuk mendengar saran dari pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu, apalagi menyangkut masalah cinta. Maaf saja, Mayuzumi menolak.
"Terserah kau saja." Akashi memutuskan untuk menyusul Kuroko ke dapur. Dan memastikan bahwa Ogiwara tidak mengambil kesempatan untuk mendekati kekasih mungilnya itu. Sebelum pergi, Akashi berpaling ke arah Mayuzumi dan berkata, "Tapi lebih baik jika kau segera mengungkapkan perasaanmu, Mayuzumi-san. Seperti Tetsuya, Dia juga polos untuk urusan cinta."
Dan Akashi segera menghilang, meninggalkan Mayuzumi yang kini tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Kagami's place
Suasana di kamar berukuran luas itu tampak sepi. Yang terdengar hanya bunyi rintik hujan yang menerpa jendela kaca berukuran besar. Di sofa panjang yang terdapat di tengah ruangan, duduklah seorang pemuda berambut merah gradasi hitam. Tangannya menggenggam gelas kaca berisi cairan berwarna merah pekat, *Cabernet Sauvignon. Besar di negara bebas seperti Amerika membuatnya terbiasa dengan hal-hal yang berkaitan dengan dunia malam.
Namun tidak untuk hubungan seksual.
Maaf saja, Kagami tidak akan pernah melakukan hubungan seksual dengan orang yang tidak dicintainya. Padahal jika di data, daftar wanita-dan beberapa lelaki berstatus uke- yang pernah dekat dengannya mungkin serupa dengan data sensus penduduk milik pemerintah. Namun selain orang itu, tidak ada satupun orang yang berhasil membuatnya jatuh cinta-lagi.
Tidak ada.
Hingga akhirnya dia bertemu dengan Kuroko Tetsuya. Pemuda mungil dengan surai dan iris yang mengingatkannya akan langit musim panas. Ingatannya kembali ke kejadian beberapa saat yang lalu.
Flashback on
"Kuroko Tetsuya."
Satu kalimat yang diucapkan Kagami sukses membuat semua pemuda yang berada di ruangan itu membatu. Apa pemuda beralis ganda itu baru saja meminta Kuroko Tetsuya-pemuda manis dambaan hati itu-sebagai bahan taruhan ? Kuroko yang merasa namanya disebut sontak membulatkan kedua matanya. Sebelum digantikan dengan ekspresi kesal. Apa-apaan itu ? Memangnya Kuroko itu barang yang bisa dipertaruhkan ? Jika sampai Akashi menyetujui taruhan Kagami, Kuroko bersumpah akan memutilasi Akashi sebelum menjadikannya makanan Nigou.
Akashi yang mendengar nama kekasihnya disebut mematung sejenak. Iris heterochromenya memancarkan tatapan membunuh ke arah pemuda tinggi yang berdiri beberapa meter darinya itu. Sebelum seringai miring merekah diwajah tampannya.
"Tetsuya, kemarilah."
Akashi berkata tanpa melepaskan pandangannya dari Kagami. Meski sedikit bingung dengan perintah Akashi, Kuroko tetap beranjak mendekati pemuda bersurai merah itu. Belum sampai Kuroko di samping Akashi, pemuda bersurai merah itu lebih dulu menarik tangan Kuroko dan membawanya kedalam pelukannya. Akashi meletakkan kepalanya di pundak Kuroko dengan tatapan yang mengarah ke arah Kagami, yang dibalas pemuda itu dengan ekspresi datar.
"Akashi-kun." Kuroko bergumam lirih. Bingung dengan apa maksud Akashi memeluknya di tempat umum seperti ini.
"Dengarkan aku baik-baik." Akashi berkata dengan nada tenang, namun terasa begitu dingin. "Kuroko adalah milikku. Tidak ada seorangpun yang bisa mengambilnya dariku. Dan aku tidak akan pernah menyerahkannya pada siapapun. Termasuk kau."
Tanpa menunggu jawaban Kagami, Akashi segera melepaskan pelukannya dari Kuroko dan menarik pemuda itu meninggalkan ruangan gym.
"Latihan hari ini selesai." Dan Akashi serta Kuroko segera menghilang di balik pintu. Disusul anggota Kisedai yang segera mengemas barang-barang mereka dan beranjak meninggalkan ruangan gym. Menyisakan Kagami seorang diri.
Flashback off
Kagami tidak tahu apa yang membuatnya begitu tertarik pada pemuda bernama Kuroko Tetsuya itu. Padahal jika dibandingkan dengan orang-orang yang pernah dekat dengannya, jelas Kuroko tidak ada apa-apanya. Penampilan pemuda itu biasa saja, dan lagi dia juga berasal dari keluarga yang biasa.
Kagami memang tertarik pada Kuroko saat pertama kali dia melihat pemuda bersurai biru itu. Hanya sekedar ketertarikan seperti yang biasa dia rasakan terhadap partner-partnernya. Namun, entah sejak kapan ketertarikan itu berubah menjadi rasa ingin memiliki.
Ya, Kagami Taiga menginginkan Kuroko Tetsuya menjadi miliknya.
Dan Kagami telah memutuskan untuk mendapatkan pemuda itu bagaimanapun caranya. Tidak peduli sekalipun Kuroko adalah milik Akashi. Kagami akan tetap menjadikan Kuroko miliknya. Walaupun itu berarti dia juga mengkhianati orang itu.
Kedua iris merah itu terpejam saat bayangan akan orang itu melintas di benaknya. Dan dengan lirih pemuda itu berkata,
"Maafkan aku."
TBC
*salah satu jenis red wine yang terbuat dari anggur jenis Cabernet Sauvignon
DN: Daana mau minta maaf untuk semua yang udah nunggu kelanjutan fic ini-dan fic yang lain- (kalau ada yang nungguin sih, ehemm). Daana tau Daana udah ngaret pake banget update fic ini. Tapi Daana akan berusaha untuk tetap ngelanjutin fic-fic Daana, dan semoga nggak selama ini. *inicurhatapaa?
Lalu apa fic ini semakin gaje ? Semakin aneh ? Semakin nggak greget ?
Kritik dan Saran dari kalian akan selalu diterima di kotak review.
Love for Akakuro !
And Happy (Late) Akakuro/KuroAka's Day ^^
