Maaf ya Fu belum bisa bales review readers sekalian, dan maaf belum bisa memenuhi reques KakaSasu, hehe. Ya sudahlah, silahkan baca, semoga terhibur...

._._. X ._._.

SasUke Bersama: Chapie 4, In The Bus ..

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pair: Gaara x Sasuke

Warn: Yaoi, BL, lemon dan sejenisnya. OOC, AU fic, typo, Sasuke's POV, don't like don't read.

._._. X ._._.

Aku berlari sedikit terburu-buru menuju halte bus. Aku tidak mau dipaksa menunggu sejam lagi karena bus yang akan aku tumpangi sudah mendahuluiku. Setelah berlari hampir 100 meter, aku akhirnya sampai di tempat yang kutuju. Hanya saja... bus yang aku tumpangi sudah berjalan menjauh sebelum aku sempat masuk ke dalamnya.

Dengan gontai aku berjalan ke arah tempat duduk, istirahat sekaligus mengatur deru nafasku yang memburu. Lelah juga berlari dengan jarak sejauh itu.

Aku duduk disana untuk waktu yang lumayan lama, hingga aku menyadari jika ada seseorang yang sedaritadi sedang mengamatiku. Aku menelan ludah paksa. Aku takut jika orang yang sedang memperhatikanku adalah penjahat. Apalagi, aku dapat merasakan pandangannya itu seakan menelanjangiku. Mau tidak mau, aku mencoba memberanikan diri untuk menatap balik orang itu.

Deg!

Pupilku mengecil seketika begitu aku mengetahui sosok yang sudah mencuri pandang ke arahku. Dia adalah Sabaku Gaara. Senpai, sekaligus ketua klub basket di Konohagakuen. Bola mataku menatap langsung pada bola matanya yang berwarna seagreen. Sama halnya denganku, ia juga balik menatapku. Seakan-akan, lewat bola mata ini kami dapat membaca pikiran masing-masing.

Tidak tahan terus menatapnya begitu, akhirnya aku memalingkan wajahku. Aku benar-benar tipe yang paling tidak kuat jika harus dipandang dan memandangi seseorang.

Aku hanya dapat merundukkan wajahku, menyembunyikan semburat merah muda yang membias di wajahku. Siapa yang tidak malu jika terus diperhatikan oleh seorang yang memilik wajah stoick tapi tampan seperti Gaara. Mungkin tidak buatmu, tapi bagiku yang memiliki kelainan seksual, tentu saja aku menjadi risih.

"Hn?" aku mengangkat wajahku, begitu merasakan sebuah telapak tangan menepuk pundakku. Aku memutar kepalaku, menengok ke samping untuk mencari tau siapa pemilik tangan besar ini.

"Senpai?" desisku tak percaya, bagaimana tidak, orang yang aku kagumi sedang duduk di sampingku sambil menyimpulkan seulas senyum tipis yang mampu membuat jantung berdebar kencang.

"Hai, aku Gaara. Kau Sasuke kan?" tanyanya. Nada bicaranya yang lembut namun penuh ketegasan itu membuat jantungku seakan tak berada di tempatnya lagi.

"Iya..." jawabku gugup.

"Kok baru pulang? Bukannya anak kelas satu harusnya sudah pulang daritadi?" dia kembali bertanya.

Sedikit malu aku membalas, "Tadi aku ketiduran di perpustakaan. Tau-tau saat aku bangun, hari sudah sore."

Dia menepuk kepalaku sambil terkekeh geli, "Kutu buku ya?"

"Bukan!" selaku cepat. "Kebetulan ada buku yang harus aku kembalikan, karena ada novel baru dan keasyikan baca, aku sampai ketiduran," jelasku. Kulihat dia mengangguk, dan menarik kembali telapak tangannya yang halus dari atas kepalaku.

"Senpai sendiri? Kenapa baru pulang?" tanyaku sambil mengamati garis-garis orange yang mulai terbentuk saat perlahan-lahan mentari masuk ke dalam perduannya sebelum menyelesaikan tugasnya.

"Ada latihan basket tadi, karena lusa ada pertandingan." Aku mengangguk mendengar jawabannya.

Percaya atau tidak aku merasa senang sekali bisa mengobrol dan berada sedekat ini dengan senior yang sudah lama aku kagumi. Bahkan waktu sejam yang biasanya terasa lama, seakan bergulir dengan begitu cepat.

"Bisnya sudah datang, ayo!" Aku benar-benar tidak percaya saat telapak tangan Gaara-senpai menggamit dan menggenggam jemariku. Rasanya menyenangkan sekali bisa bergandengan dengannya. Seandainya dia dapat menyentuhku lebih dari ini. Uh.. Tunggu, kenapa aku mesum begini sih?.

.

.

.

Pukul lima sore adalah waktu dimana semua orang berbondong-bondong menuju kediaman masing-masing. Terutama oleh orang-orang yang baru saja pulang kerja. Bus sedang penuh. Aku, Gaara-senpai dan beberapa orang lain yang tidak kebagian tempat duduk terpaksa harus berdiri sambil berdesak-desakkan. Kesal juga karena jarak ke rumahku lumayan jauh, tapi senang juga, karena ada Gaara-senpai yang menempel di belakang punggungku dengan jarak yang bahkan tak terpisah seinchipun. Kalau tidak ada dia, mungkin aku akan menjadi uring-uringan sampai ke rumah.

.

.

.

"Eh?" aku tercekat merasakan sepasang lengan putih merengkuh pinggangku dari belakang. "Gaara-senpai?"

"Ssst.. aku tau kau menginginkannya.." bisiknya di telingaku. Membuat tubuhku merinding seketika.

"Tapi, disini banyak orang?" aku mencoba melawan, meski sesungguhnya aku sangat menikmati kehangatan yang ia alirkan dalam tubuhku.

"Mereka tidak akan peduli," ujarnya. Yah, tentu saja mereka tidak akan peduli karena sibuk dengan kenyamanan diri mereka ditengah desakan para penumpang yang lain. Haa.. akhirnya aku pasrah saja saat itu. Termasuk saat lidah Gaara-senpai menjilat dan mengecupi tengkuk serta cuping telingaku dari belakang. Hingga memaksaku mengatupkan bibirku kuat-kuat agar tidak mendesah karena keasyikan.

"ennnh... ahhh..." aku mengerang pelan, aku rasakan jemari Gaara-senpai mulai bergerak dan bermain di daerah selangkanganku. Meremas tonjolan di balik celana seragamku. Menekan dan memijit kesejatianku yang mulai mengencang.

"Senn..paii.. jangannn.. ahhh.." mohonku disela kenikmatan yang makin lama menguasai tubuhku. "Nanntii.. orang-orranng.. curriggahh.."

"Sssh.. tenang, nikmati sajalah.." lagi-lagi ia mengacuhkan permintaanku. Aku mengigit bibir bawahku kuat-kuat berusaha tidak melenguh atau mengerang. Tapi, jemari Gaara-senpai yang makin menggila saat meraba kesejatianku membuatku tidak tahan. Aku makin bergairah.

'Tidak! Aku tidak boleh ejakulasi..' tekatku. Karena aku bisa malu jika hal itu benar-benar terjadi dalam bus ini.

.

.

.

"emmph.. ennnhh.." aku mengerang tertahan saat rongga lembabku di dominasi oleh Gaara-senpai. Dia melumat dan mengisap bibirku atas dan bawah. Menggigit dan mengulumnya, membuat air liurku menetes jatuh ke seragamku. Dengan leluasa ia menjelajahi rongga mulutku, ketika ada satu tempat duduk kosong di bagian belakang bus yang seakan mempersilahkan jika disanalah tempat yang cocok untuk saling berpagutan tanpa diketahui orang-orang. Aku mendesah, nikmat rasanya dapat bercumbu dengan orang yang paling aku suka, sementara jemarinya yang cekatan sedang memijit kesejatianku. Aku menggeliat tak tahan sementara Gaara-senpai hampir mendindih tubuhku.

"aahhh.. hhaah.. enngh.." tubuhku mengejang, nafasku memburu, aku hampir saja mencapai puncak tertinggi saat ini. Dan pria berambut merah yang masih mencumbuku liar juga makin cepat memijat kesejatianku dari balik celanaku.

"emmph.. kkhhh.. uughh.." tubuhku melengkung ke atas, seluruh pandanganku memutih, rasanya bebanku lenyap, begitu aku ejakulasi. Aku rengkuh lengan Gaara-senpai, dan menyandarkan kelapaku di bahunya.

"Nikmatkan?" Aku mengangguk lemah. "Malam ini, menginaplah dirumahku."

"Tapi keluargaku bagaimana?" tanyaku yang mulai terbuai saat ia membelai pipi halusku yang sedikit lembab, sama lembabnya dengan celana yang kupakai saat ini.

"Kau bisa kirim email pada keluargamu, mereka pasti mengijinkan," bujuk Gaara. Mengangguk, akupun memenuhi keinginannya tanpa ragu sedikitpun. Tak lama kemudian, aku jatuh tertidur dalam pelukannya karena lelah.

._._. X ._._.

Aku membuka mataku, pukul 22.30 malam. Aku memandang sekitar, tempat yang asing ini membuatku sedikit khawatir tentang keberadaanku. Tapi, begitu melihat sosoknya, rasa takutku menguar lenyap begitu saja.

"Gaara-senpai."

"Kenapa bangun?" tanyanya sambil menatapku dengan pandangan, uum.. penuh cinta, sepertinya. "Aku.." aku memalingkan pandanganku darinya, tak tau harus menjawab apa.

Gaara menarik pinggangku, merapat dalam pelukannya. Ia benamkan wajah meronaku di dada bidangnya. Telapak tangannya terus membelai rambutku, nyaman, itulah yang aku rasakan.

Sekali lagi aku masih belum percaya jika dapat sedekat ini dengan Senpai yang selama ini kukagumi. Orang yang sangat ingin aku sentuh meski lewat mimpi. Satu-satunya pria yang mampu membuatku merasakan betapa berartinya hidupku ini.

.

.

.

Saat ini, Gaara-senpai edang menggagahiku. Dia mencumbu, menjilat dan menciptakan banyak kissmark di tubuh polosku. Ia gunakan lidahnya untuk menggerilya titik sensitifku. Membuatku melayang saat ini juga.

"akh.. aghhh..." aku mendesah kecil saat ia mulai mengulum habis kejantananku. Ia hisap, ia jilat dan gigit ujungnya. Menekan-nekan lubang kesejatianku dengan lidah terampilnya.

"ugghhh.. ennnhhh.." aku menggeliat liar, seluruh tubuhku terasa panas akibat sensasi ia buat. Ia terus meng-oral milikku yang sedang menenggang, mengocoknya dalam rongga hangatnya. "emmhh.. ahhh.. haaaa.. Ougghh!" aku tersentak merasakan lubang sempitku ditembus oleh sesuatu. "Ughh.." tak sempat bertanya atau menengok untuk mengetahui benda apa itu, lubangku kembali dimasuki oleh sesuatu. Dan aku akhirnya tau, jika benda itu adalah tiga jari-jari Gaara.

"ohhh.. enmmph.." kucengkram erat-erat sprei bermotif bola basket di bawahku. Aku merintih antara sakit sekaligus nikmat saat jari-jari Gaara membuat gerakan zig-zag dalam lubang sempitku. Dan.. "ugh!" aku melenguh saat jarinya menyentuh tepat di dinding prostatku. Nikmatnya makin membuncahkan gairahku. Aku hampir mencapai puncak tertinggiku, saat Gaara senpai menghentikan semua kegiatannya. Menarik kembali jari-jarinya dari lubangku sambil berhenti mengulum kesejatianku.

Kutatap ia dengan pandangan heran yang sedikit memohon. Dia mengecup bibirku singkat, dan berujar, "Kau siap untuk 'sesuatu yang lebih besar Sasuke?"

Aku menautkan alisku tidak mengerti. "Akan aku tunjukkan," tepat setelah mengatakan hal itu, kurasakan sesuatu yang besar dan kenyal menghantam lubang sempitku.

"Ahhh.. ooghh.. emmphh..." aku mengerang kesakitan, saat Gaara menanamkan seluruh miliknya di dalam tubuhku. Menarik sedikit tanpa berniat mencabutnya, lalu menghentak-hentakkan keras berulang kali. Aku mengerang dan melenguh saat kejantannya menusuk tepat ke dinding prostatku. Nikmat, walau sedikit sakit.

"hhmm... ceppat! Lebbihhh.. ceppaatt.. ahh.." aku mendesah memohon, hasrat bercintaku sudah meletup-letup hendak keluar. Sementara samar-samar, aku dapat mendengar, Gaara mendesis keasyikan saat rectumku menjepit miliknya.

"Ugh! Senpaiiii..." aku melesakkan kepalaku ke belakang, tubuhku mengejang dan bergetar hebat.

"Hoo.. agh.. Sassukkee..." tak jauh berbeda denganku, Gaara-senpai juga melenguh keras, ia ejakulasi bersama denganku. Terbukti dengan hadirnya cairan hangat dalam tubuhku. Seakan memenuhi lubang sempit hingga ke daerah perut. Aku senang, dapat mencapai puncak kepuasan tertinggi bersama-sama dengannya. Apalagi, begitu ia menarik kesejatiannya dari tubuhku ia tak pernah melepaskan pelukannya dari tubuhku. Ia juga tak henti-hentinya mencumbuiku. Membuatku serasa di awang-awang.

"Senpai?" aku mulai buka suara.

"Hm?"

Kunyamankan rengkuhanku sebelum melanjutkan kata-kata, "Dengan semua yang telah terjadi diantara kita, apa status kita hanya sebatas Senpai dan Kouhai?" tanyaku, berharap jawabannya lebih dari kedua hal itu.

Ia mengecup keningku, "Tentu saja tidak Sasuke, kau pikir sex barusan tadi itu apa? Aku melakukan hal itu denganmu karena aku mencintaimu, yah.. sudah lama aku memendam perasaan sukaku semenjak bertemu denganmu saat MOS dulu." Aku tersenyum mendengar pernyataan cintanya. "Dan aku pikir kau juga sama denganku, karena kau.."

"Yah, aku memang menyukaimu-.." potongku segera. "..kau pikir kenapa aku mau-maunya bercinta denganmu? Aku bukan pria gay murahan seperti dalam cerita atau film porno yang rela melakukan sex tanpa cinta," ujar.

Gaara mengulas senyum, dielusnya salah satu lekuk wajahku, "Jadi, mulai malam ini, Gaara resmi jadi milik Sasuke, dan Sasuke hanya untuk Gaara. Benarkan?" aku mengangguk senang, "Tentu saja begitu, Gaara-senpai."

Usai menyatakan perasaan masing-masing, kami berdua jatuh tertidur dalam pelukan dan hangatnya selimut. Dan kau tau bagian terbaiknya? Hubunganku dan Gaara-senpai jadi makin dekat. Walau kami masih menyembunyikan status pacaran kami di depan kawan-kawan kami di sekolah. Tapi, aku senang. Karena tepat yang di katakan Gaara-senpai, aku adalah miliknya dan ia hanyalah milikku. Haa, gara-gara halte bus itu, aku bisa menjadi sedekat ini dengannya. Aku bahagia sekali. Aishiteru-senpai...

.

.

.

Owari

.

.

.

Oke, maaf dengan alur dan cerita yang nggak jelas. Maaf juga karena belum bisa menuhin requesan KakaSasunya. Tapi Fu janji bakal bikin, hehe.. Tapi sekarang, silahkan anda mereview.. segala kritik dan saran masih Fu tunggu... Chapie depan KakaSasu..