Sex Dreams
Chapter 4
Author : Lady Ze
Tittle : Sex Dreams
Main Cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Warning : Genderswitch for Uke, NC – 18
Summary :
Kim Jaejoong berharap dia tidak bercinta dengan Yunho hanya dimimpi liarnya saja.
"Emm…" Aku tidak mungkin akan menolaknya. Bibirnya terlalu hangat untuk dilepaskan. Yunho begitu lembut memainkan bibirnya di atas bibirku. Memberikan ciuman panas.
Tiba-tiba dia melepas ciumannya, dia membalik tubuhku berhadapan dengannya membuat punggungku bersandar di pintu. Tangan kanannya mengenggam kedua pergelangan tanganku, mengangkatnya melewati bagian atas kepalaku.
"Kau tahu, Jaejoong…kau dengan rok pendekmu, menyilangkan kakimu…." Dia mendesah dengan berat tepat di hadapan wajahku. Tangan kirinya berjalan dari pinggangku hingga pahaku. Jari telunjuknya mengelus pahaku, berjalan dari pangkal pahaku yang tertutup dress hingga ke atas lututku yang terbuka, kemudian dia mengulanginya lagi dengan gerakan lambat. "Rambut yang kamu gulung, tengkuk lehermu yang terlihat…dan sekarang…belahan dadamu…" matanya berpindah arah, melihat ke arah payudara bagian atasku yang terlihat akibat dress hitamku.
"Jaejoong…kau benar-benar menggodaku…"
Apa dia sedang bercerita tentangku yang di kantor?
"Ugh…" Aku benar-benar tidak tahan mendengar suara beratnya, hembusan napasnya di wajahku dan jarinya yang bermain-main di paha kiriku.
"Kamu tidak tahu…betapa aku harus menahan gairahku. Itu menyakitkan, Jaejoong."
"Oppa…" Bohong bila aku tidak senang! Tentu saja aku senang! Ini seperti aku sedang dibawa ke langit ketujuh olehnya. Aku terlihat begitu menggoda baginya? Oh, Planet Venus…bawa aku kesana!
Masih dengan posisi yang sama, Yunho kembali menciumku. Kali ini menciumku lebih cepat, tidak lembut seperti tadi. Menekan bibirku terlalu dalam.
"Ahh…" Aku kembali mendesah ketika tangannya meremas dengan kuat paha atasku. Dan dapat kurasakan lidahnya menembus bibirku. Lidahnya yang hangat bermain-main di dalam rongga mulutku seperti seorang ahli. Tidak dapat diragukan lagi, Yunho is a great kisser!
Yunho kembali melepas ciumannya. Aku mengerutkan keningku, tapi aku tidak berani protes.
"Oh, Jaejoong…kau begitu pasif. Apa kamu tidak pernah berciuman sebelumnya?" Dia bertanya dan menyeringai kepadaku.
"Engh…" Dan sebelum aku menjawabnya, Yunho mulai lagi mencium leherku, membuatku mendongakkan kepalaku ke atas. Aku tidak merasakan lagi rasa pegal yang menjalar ke seluruh tanganku karena tanganku terangkat ke atas dan genggamannya yang semakin kuat.
Tangan kirinya sudah berhenti bermain-main dipahaku, kembali menyusuri tubuhku ke atas dengan gerakan lambatnya hingga telapak tangan kirinya menyelimuti payudara kiriku.
Aku harap ini bukan sekedar mimpiku, karena aku benar-benar menginginkan setiap sentuhan ini!
Sekarang, remas dengan kuat payudaraku, oppa...aku memohon kepadanya dalam hati.
TOK
TOK
TOK
"Jaejoong noona?!" Mataku langsung terbuka lebar mendengar suara Changmin dari arah luar pintu. Aku mulai panik dan bergerak gelisah. Ini bukan mimpi atau khayalanku! Aku tahu!
Yunho benar-benar masih bermain-main di leherku dengan bibir hatinya. Tangan kanannya masih menahan pergelangan tanganku walaupun aku sudah berusaha melepaskannya. Tangan kirinya membuatku kecewa, hanya diam di atas payudaraku.
"Hen…tikan, oppa…" lirihku.
Dan aku hanya bisa menggigit bibir bawahku ketika Yunho menghisap sangat kuat dileherku. Sial! Dia membuat kissmark!
"Oke, aku berhenti." Yunho melepaskan tanganku, dan tanganku jatuh begitu saja ke bawah karena rasa pegal yang terlupakan tadi kembali.
Aku mengatur napasku yang terengah-engah. Menyisir rambutku dengan jari-jariku, menutupi kissmark yang Yunho buat dengan rambutku.
"Jaejoong noona?! Kenapa lama sekali?" Changmin kembali berteriak dari luar pintu, ah, tepatnya pintu nomor tiga, pintu di sebelah kamar Yunho ini.
"Bagaimana ini…" Panik kembali menyerangku. Yang benar saja, aku tiba-tiba keluar dari kamar Yunho dengan wajahku yang merah dan Yunho yang hanya memakai handuk. Anak TK pun tahu apa yang kami lakukan di dalam, apalagi si jenius Shim Changmin.
"Keluarlah! Katakan saja kau salah masuk kamar, Jaejoong." Aku merasa Yunho kembali dengan tanpa ekspresinya.
"Tapi…"
"Cepatlah! Dia akan curiga bila kau lebih lama di kamarku. Sampai jumpa."
"A…"
BLAM
Lagi-lagi, dia pergi begitu saja sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Kenapa dia kembali ke kamar mandinya, eoh? Entahlah…
Dan, apa tadi maksudnya dengan sampai jumpa? Apa dia akan melanjutkan yang tadi? Tentu saja aku mau dengan senang hati…
"Changmin?" Aku keluar dari kamar Yunho dan menoleh ke arah kanan. Changmin berada di depan pintu toilet yang asli.
"Eh? Noona? Kenapa dari situ?!" tanyanya dengan nada terkejut.
"Aku salah masuk, Changmin."
"Tapi, kenapa lama sekali?!" tanyanya lagi masih dengan nada terkejut.
"Aku memakai toilet di kamar ini. Apa ini kamarmu?" tanyaku pura-pura tidak tahu. Bagus Jaejoong, teruskan aktingmu.
"Bukan, itu bukan kamarku."
"Lalu?" tanyaku balik dengan nada terkejut.
"Itu kamar Yunho hyung…" jawabnya.
"Omo! Maksudmu Jung Yunho? Atasanku di kantor?" tanyaku dengan suara terkejut cukup nyaring, tidak lupa aku menutup mulutku dengan punggung tanganku untuk menyempurnakan akting murahanku.
Changmin hanya mengangguk-angguk. Kemudian dia menarikku kembali duduk di sofa hitam. Aku benar-benar tidak enak sangat berjalan. Bagian bawah tubuhku sangat basah.
"Apa Yunho hyung tidak ada disana? Setahuku dia sudah pulang?"
"Tidak ada." jawabku polos. Benar-benar aku tidak ingin membuat Changmin curiga.
"Mungkin dia sedang di ruang kerjanya di atas." kata Changmin sambil menunjuk lantai dua. Dan aku baru sadar ternyata apartement ini bertingkat dua. Daebak! Apartement ini besar sekali!
Kapan kau akan mengajakku bercinta disegala ruangan apartementmu, Yunho? Umm…tentunya di sofa hitam mewahmu ini lebih dulu. Omo! Apa yang kupikirkan. Aku terdengar seperti maniak seks.
"Hei, noona? Wajahmu memerah? Ada apa?"
"Engh…" Aku merapatkan kedua pahaku. Benar-benar aku merasa tidak nyaman saat ini. Sesuatu mulai keluar lagi dari bawah sana. "Antar aku pulang, Changmin." Aku benar-benar harus menyelesaikannya sendiri.
Tunggu dulu! Jangan-jangan Yunho juga melepaskan hasratnya sendiri? Andai Changmin tidak menganggu tadi. Aku menatap Changmin dengan wajah sedih.
"He…hei, baiklah noona. Jangan menatapku seperti itu, aku akan mengantarmu pulang." Rupanya Changmin menyalah artikan tatapanku.
"Aku pulang…" gumamku ketika aku sudah masuk ke dalam apartementku. Tidak ada jawaban, mungkin mereka sudah tidur karena kelelahan.
Ketika berjalan melewati ruang tamu sekaligus ruang tv, aku melihat bantal-bantal sofa berjatuhan, semangkuk popcorn tumpah di lantai dan televisi yang masih menyala.
"Haah…dasar!" Aku hanya bisa mengomel sendiri sambil mematikan televisi. Aku langsung menuju kamarku.
Membuka pakaian yang kupakai, menggulung rambutku dan memakai handuk putihku. Aku berdiri sebentar di depan cermin. Sialan! Terlihat dengan jelas warna merah di leher bagian atasku tepat di bawah rahang kananku.
Aku merabanya, mengusap-usap kissmark yang Yunho buat. Aku masih tidak mempercayainya, bahwa baru saja Yunho menyerangku dengan gairah yang tinggi.
"Yunho…"
Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Membiarkan tangan kiriku menyusuri dari dadaku hingga ke pahaku sejalur dengan jari Yunho tadi. Tapi, dia tidak menyentuhnya, seperti aku menyentuhnya, jari telunjuknya tidak memainkan klitorisku seperti aku memainkannya sendiri. Benar-benar basah.
Aku menekuk kakiku dan membukanya dengan lebar, menutup mataku membayangkan Yunho yang memainkan klitorisku dengan jarinya yang panjang. "Aah…." Dan aku membayangkan dia memainkan jarinya semakin cepat, menyentuh sisi kiri dan sisi kanan klitorisku, hingga menekan klitorisku dan akhirnya membuatku orgasme menyebut namanya dan meremas dengan kuat payudaraku sendiri.
"Haah…haah…"
Lututku terasa lemas dan jatuh begitu saja di atas tempat tidur. Dan aku pun tertidur hanya memakai handuk.
Jam lima pagi aku sudah bangun dan langsung masuk ke kamar mandi. Aku benar-benar malas mendengar si jidat lebar yang memprotes tubuhku ini. Asal kau tahu saja, Yoochun! Yunho mengatakan dia tergoda melihatku! Mengingat hal itu, senyumku tidak bisa hilang.
Setelah mandi, aku langsung menuju kamarku. Mencari pakaian kerja yang harus kupakai hari ini. Sebenarnya aku ingin mencari pakaian yang benar-benar membuat Yunho tidak dapat menahan gairahnya lagi dan berakhir bercinta di meja kantornya. Kyaa!
Blouse ketat berwarna putih berlengan pendek yang menampakkan bra biruku samar-samar dan rok ketat yang menutupi separuh pahaku berwarna biru persis dengan bra-ku. Dan sentuhan terakhir aku memakai stocking berwarna hitam gelap. Jangan lupakan rambutku yang sengaja kugulung ke atas dengan ikat rambut motif gajahku yang berwarna biru juga. Warna biru benar-benar mendominasiku hari ini.
Ketika aku bercermin dan berbalik untuk melihat punggungku, aku tersenyum puas. Tato sayapku yang terlihat dan tengkuk leherku, kissmark di leherku menjadi sedikit pemanis tampilanku hari ini.
Aku tidak pernah memakai make-up berlebihan untuk kerja, aku hanya memakai sunscreen untuk melindungi wajahku dari sinar matahari dan lipgloss bening di atas bibir pink-ku. Hei, aku tidak pernah suntik pemutih atau menyulam bibir apalagi operasi plastik. Semua alami diriku sendiri, aku bersyukur terhadap appaku yang tampan dan ummaku yang cantik.
Ketika aku keluar dari kamar, keadaan masih sepi. Ini sudah jam tujuh pagi dan mereka belum bangun. Aku langsung menggedor pintu kamar Junsu dengan sangat kuat sambil meneriakkan namanya.
"Junsu! Bangun! Kita bisa telat!
Dia tidak menjawab. "Ya! Kim Junsu! Bangun! Sialan!"
Keterlaluan, masih tidak ada jawaban. Sebelum meninggalkan pintu kamarnya, aku menendangnya satu kali dengan kuat.
Dasar! Mereka tega membiarkanku naik bus hari ini, sial!
Dengan penuh emosi, aku menuju dapur mengambil sekotak sereal, menaruhnya di mangkuk dan menuangkan susu kesana. Sarapan yang praktis bila aku takut telat kerja.
Di tengah-tengah sarapanku, aku tersenyum lebar melihat kunci mobil Yoochun. Tanpa pikir panjang, aku cepat-cepat menyelesaikan sarapanku, mengambil kunci mobilnya. Memakai high heels biruku dan pergi meninggalkan apartementku.
"Oh Tuhan!" Aku menepuk jidatku sendiri sambil berseru membuat seorang ahjussi menoleh ke arahku. Dengan cepat aku menekan angka tujuh, apartementku.
Sambil berlari kecil, aku masuk ke dalam apartementku, menoleh ke segala arah dan aku menemukan tas putihku tertinggal di atas meja makan. Aku melupakan tas kerjaku, mungkin ini pengaruh emosi terhadap Junsu atau aku tidak sabar bertemu dengan Yunho yang malam itu mengatakan sampai jumpa kepadaku.
Aku memarkir Lancer putih kesayangan Yoochun di parkiran khusus karyawan. Aku melihat sebentar ke arah spion tengah, oke tidak ada yang berubah, kau memang cantik Kim Jaejoong.
Dengan langkah yang kubuat se-elegan mungkin, aku berjalan melewati pintu utama, membuat office boy lagi-lagi tidak berkedip melihatku.
"Pagi, Nona Kim."
"Pagi." jawabku ketika si office boy menyapaku.
"Pagi, Tuan Jung."
"Pagi."
DEG
Ini seperti déjà vu. Sama seperti dulu, aku bergeser memberinya jalan. "Pagi, Nona Kim. Tidak ke atas?" tanyanya tepat di sampingku.
Aku mendadak gugup. "I…iya…"
Yunho kembali berjalan menuju lift, aku yang gugup mengikutinya dari belakang. Dia langsung menekan lantai tiga puluh. Hei! Aku hanya berdua saja dengannya di dalam lift!
"Menggodaku lagi, eoh?" Aku menundukkan kepalaku ketika dia bertanya. Aku tidak seperti diriku sendiri yang selalu membayangkannya di kegiatan masturbasiku. Aku terlalu takut menghadapi Yunho yang nyata.
"Apa maksudnya, Yunho oppa?" tanyaku memberanikan diri. Tangan kananku menggenggam kuat tas putihku. Masih lantai sepuluh.
Aku tahu Yunho sedang memandangku dari atas hingga ke bawah. "Bajumu, rok ketatmu, dan rambutmu…" ucapnya. Dia ternyata suka memperhatikan penampilanku, huh?
"Masih banyak karyawanmu yang memakai pakaian lebih seksi dari aku, oppa." kataku membela diriku. Itu memang benar. Silahkan saja mengecek sendiri karyawan wanita yang berusaha menggoda Yunho dengan pakaian yang lebih ketat.
"Aku tidak sedang membicarakan karyawan lain, Jaejoong. Aku membicarakan dirimu. Kau tidak takut, huh?"
"Takut?" tanyaku bingung ketika masih di lantai tiga puluh.
Pandangan Yunho tegak lurus mengarah pintu lift. "Ya, aku akan mencumbumu seperti tadi malam."
TING
Lantai tiga puluh. Yunho keluar dari lift dengan langkahnya yang begitu angkuh dan jalan begitu cepat menuju ruangannya. Kemudian aku menyusulnya dengan langkah shock-ku. Shock akan ucapannya. Hei, Yoochun! Kau salah! Yunho tidak akan bercinta denganku seperti robot!
"Selamat pagi, Jaejoong" sapa Kyuhyun kepadaku ketika aku berada di depan pintu ruanganku. Ruanganku berseberangan dengan ruangannya, dan diujung tengah adalah ruangan Jung Yunho.
"Pagi, Kyuhyun. Bagaimana kabarmu hari ini? tanyaku berbasa-basi. Tumben sekali Kyuhyun mendatangiku.
"Baik saja. Bisa bicara sebentar?" tanya Kyuhyun kepadaku.
"Oh, ayo di ruanganku saja."
Aku dan Kyuhyun duduk berhadapan di meja kerjaku yang tidak terlalu rapi. "Ada apa Kyuhyun? Mau kubuatkan kopi atau teh?" tawarku."
Kyuhyun tersenyum sambil menggeleng. "Tidak usah, Jaejoong. Aku akan keluar sebentar lagi?"
"Keluar? Apa ada urusan pribadi?" tanyaku.
"Aniya. Tuan Jung menyuruhku ke Kanada bersama Tuan Shim. Hotel Hilton sedang mengembangkan sayap disana. Tuan Jung selaku Direktur Utama menyuruh Tuan Shim dan aku untuk mengecek proyek pembangunannya." jelas Kyuhyun
Aku mengerutkan keningku. Bingung? Tentu saja. Yunho sangat jelas mengatakan kepadaku bahwa Kyuhyun adalah sekretaris dalam dan aku sekretaris luar. Seharusnya aku yang pergi kesana. "Eh? Benarkah?"
"Iya, tadi pagi-pagi sekali Tuan Jung meneleponku, Jaejoong." ucap Kyuhyun terdengar seperti sebuah lirihan. Sepertinya dia tidak merasa senang.
"Kenapa kamu terlihat tidak senang, eoh? Kau akan ke luar negeri, Kyu. Itu adalah hal yang kuimpikan. Aku tidak pernah ke luar negeri."
"Jinja? Andai saja Tuan Jung menyuruhmu. Changmin pasti akan senang sekali."
"Changmin?" tanyaku ulang tidak percaya. Dia menyebut nama Changmin bukan Tuan Shim.
"E...engh...Tuan Shim maksudnya. Baiklah Jaejoong, aku harus ke bandara. Aku tidak mau Tuan Shim menungguku."
"O...oh, baiklah."
Kyuhyun terlihat gugup, ketika mau keluar dari ruanganku, pahanya ia sempat tertabrak ujung meja kerjaku, pasti sakit sekali.
Aku mulai berpikir, Yunho menyuruh Changmin pergi ke Kanada bersama Kyuhyun untuk perjalanan bisnis. Kyuhyun? Yang benar saja? Yunho sendiri yang mengatakan dia adalah sekretaris yang mengurus kegiatan dalam hotel. Dan Kanada? Jelas-jelas itu luar negeri dan harusnya itu aku...
"Bye, Jaejoong! Sampai bertemu Senin depan!" seru Kyuhyun ketika ia keluar dari ruangannya.
"Bye! Semoga selamat sampai Kanada, Kyu!"
Ah, ini hari Jum'at. Cepat sekali, tidak terasa aku sudah satu minggu dan waktuku sudah satu minggu lagi.
Besok hari Sabtu ya? Enaknya kemana, ya? Apa pulang ke rumah, ya? Appa dan umma pasti merindukanku.
Suara telepon kantor menyadarkan lamunanku.
"Selamat Pagi."
"Pagi, Jaejoong. Ke ruanganku sekarang. Aku memerlukanmu."
"Ya."
Bersamaan dengan tanganku menutup telepon, jantungku berdebar dengan kencang. Dia memerlukanku dalam arti? Kau akan mengetahui jawabannya bila ke ruangannya, Jaejoong.
Sebelum ke ruangannya, aku membuka ikat rambutku hingga rambut panjangku terurai menutup tengkuk leher dan separuh punggungku. Ingat! Dia tidak suka melihat tatoku!
"Permisi, Yunho oppa. Apa yang bisa kubantu?" tanyaku langsung kepada namja tampan yang sedang duduk manis di meja kerjanya menatap laptopnya dengan wajah serius.
"Kemarilah, Jaejoong. Kau lihat berkas-berkas yang berada di meja itu? Tolong rapikan sesuai dengan nomor suratnya."
"Oh...oke..." Aku langsung menuju meja kaca panjang dan mengangkat berkas-berkas yang begitu berantakan.
"Kamu mau kemana, eoh?"
"Ruanganku. Bukankah aku harus merapikannya?"
"Tidak di ruanganmu, tapi disini. Duduk di sofa itu, sekarang." Hei, dia memerintahku. Tapi, aku menyukainya.
"Tidak ada yang di depan. Bagaimana bila ada tamu?"
"Resepsionis di bawah pasti akan menelepon terlebih dahulu." jawabnya singkat.
"Oh, yasudah."
Tunggu dulu. Sikapnya dia membuatku berpikir kalau dia hanya ingin berdua denganku. Benarkah? Dari menyuruh Changmin pergi bersama Kyuhyun lalu menyuruhku menyusun berkas di ruangannya.
Oh, Tuan Jung yang terhormat, ungkapkan saja apa keinginanmu yang sebenarnya, sayang...
"Hei, Jaejoong! Memikirkan tubuhku lagi, eoh?" Dia menyeringai dari balik laptopnya.
"Ti...tidak." Aku kembali fokus kepada berkas-berkasnya. Malu sekali...lagi-lagi dia menangkapku sedang memperhatikannya.
Hening timbul diantara kami dengan aku yang sibuk bersama berkas-berkas dan dia sibuk dengan laptopnya. Hei, Yunho! Aku lebih menarik daripada benda kotak itu!
"Haah..."
Baru saja aku mendengarnya menghela napas, Yunho menyandarkan kepalanya di punggung sofa. Aku meliriknya, melihat wajahnya yang begitu lelah.
Tiba-tiba Yunho sudah berdiri dari duduknya, aku yang kaget reflek kembali mencoba fokus ke berkas-berkas.
TAP
TAP
Dua langkah kakinya terdengar dan ia berhenti. Yunho duduk di lengan sofa tunggal di depanku. Yunho semakin membuat detak jantungku menggila.
"Sudah selesai?" tanyanya.
"Belum. Sebentar lagi."
"Lama sekali." gerutunya.
Aku tidak membalasnya dan tetap fokus dengan berkas-berkasku. Aku memilih tidak menjawabnya. Nanti dia kembali ke wajah robot tanpa ekspresinya dan aku muak dengan itu!
Selama beberapa menit ke depan, Yunho masih duduk di lengan sofa itu. Terkadang menyilangkan kakinya, memainkan ponselnya atau menatapku. Bagaimana aku bisa selesai dengan cepat?
"Ini sudah satu jam berlalu dan kamu belum selesai, Jaejoong?"
"Y...ya...sedikit lagi. Tunggu...dan...selesai!" jawabku sambil menutup map-nya. Akhirnya pekerjaanku selesai.
"Sudah?"
"Ya, oppa."
"Yakin sudah berurutan?"
"Ya, kau bisa mengeceknya." Dia meremehkan kemampuanku rupanya.
"Baiklah." Dia berdiri dari duduknya dan dia sudah berpindah di belakangku. Walaupun terhalang punggung sofa, aku bisa merasakan hawa panas tubuhnya.
GLEK
Aku tidak berani menoleh.
"Kenapa membuka gulungan rambutmu, hm?"
"Itu karena kamu tidak menyukai tatoku, oppa."
"Ah, ya. Itu benar, Jaejoong."
Aku sedikit tersentak di tempat ketika dia memegang beberapa helai rambutku, memainkannya dengan jari telunjuknya.
"A...apa yang kamu lakukan, Yunho oppa?"
"Tidak ada."
"Engh..."
Bibirnya tiba-tiba menghisap leher kiriku, membuatku ikut reflek mendongak ke arah kanan.
"Kau menyukainya?" tanyanya setelah dia selesai memberi kissmark lagi. Kali ini leher sebelah kiriku yang menjadi korban.
"Ti...tidak..." dustaku.
"Kenapa?"
"Karena itu meninggalkan bekas. Lihatlah!" Jari telunjukku langsung menunjuk leher kananku, menunjuk bekas kissmark yang ia buat kemarin malam.
Yunho terkekeh. "Bagus." gumamnya. Dia langsung menjepit rahangku diantara ibu jari dan jari telunjuknya dan menariknya hingga wajahku menoleh ke kanan tepat di depan wajahnya, sangat dekat.
"Aku tidak suka stocking hitammu, lepaskan."
"Emmm..." Dia mengakhiri ucapannya dengan menciumku.
"Sekarang."
"Sekarang? Disini?"
"Ya. Dengan gerakan lambat dan menggoda."
"Apa?!" Aku terpekik kaget. Bila seperti itu maka aku akan terlihat seperti seorang sekretaris yang sedang berusaha menggoda atasannya.
"Bukankah memang itu tujuanmu? Menggodaku?"
Aku mengerucutkan bibirku. Jelas bukan itu tujuanku! Tujuanku hanyalah memiliki cintamu, jiwamu dan tubuhmu!
"Aniya..." lirihku. Tidak mungkin aku mengatakan hal itu. Itu hanya akan membuatnya illfeel.
Dia kembali ke sofa tunggal, kali ini duduk di sofa sambil menyilangkan kaki.
"Silahkan, Nona Kim." katanya.
Aku mulai membungkukkan badanku, melepas stocking sebelah kanan dengan perlahan. Menggulungnya perlahan dari pangkal paha hingga ujung jariku. Dia tersenyum puas melihatnya. Kemudian aku melanjutkan dengan kaki kiriku. Melakukan hal yang sama, namun dengan cara yang lebih sensual. Menggulung stockingku sambil meliriknya. "Selesai!"
"Bagus! Aku menyukainya. Sekarang kembali ke ruanganmu, Jaejoong."
Seluruh tubuhku terasa sangat lemas dan menjadi berat. Setelah aku melakukan aksi-ku yang terlihat seperti orang bodoh, dia mengusirku?
Aku pikir kita akan berakhir dengan bercinta di sofa panjang ini. Selamat Jung Yunho, kau berhasil membuatku basah lagi!
"Apa maksudmu dengan semua ini, Yunho oppa? Apa tujuanmu?"
Yunho mengerutkan keningnya ketika aku bertanya seperti itu kepadanya sebelum aku itu keluar dari ruangannya.
"Apa yang kamu maksud, Jaejoong?"
"Ini, ini dan ini! Apa maksudnya?" tanyaku sambil menunjuk dua kissmark di leherku dan mengangkat stockingku yang kulepas tadi.
"Oh, aku menyukainya."
"Me…menyukainya?" tanyaku gugup. Aku mulai berpikir kalau ia menyukaiku juga.
"Ya, aku menyukai melakukan hal itu kepadamu. Dengan gerakan lambat dan menggairahkan." ucapnya dengan seringaian diwajahnya.
"Huh! Menyebalkan!" gerutuku. Dan aku langsung keluar dari ruangannya menuju ruanganku.
Jung Yunho yang sekarang tidak seperti dengan Jung Yunho setahun yang lalu atau hari pertama aku menjadi sekretarisnya. Dia menjadi lebih liar dan membuatku gila terhadap sentuhannya. Membuatku berpikir kalau ia melakukan hal itu karena ia menyukaiku. Ternyata aku salah!
Apa dia seorang 'S'?
Aku masuk ke dalam apartementku dengan langkah lemas. Pekerjaanku benar-benar menumpuk tadi. Yunho tidak bisa membiarkanku beristirahat sebentar. Dan selalu saja diakhiri dengan dia yang menggodaku.
"Joongie! Kamu jahat sekali, huh! Tidak membangunkanku!" Junsu mengomel kepadaku yang masih melepaskan high heels biruku.
"Aku sudah menggedor pintumu, Suie! Sudahlah, aku sedang lelah!" Aku berjalan melewati Junsu yang berdiri melipat tangannya menekan payudaranya dari bawah hingga terangkat ke atas. Sialan, payudaranya memang lebih besar!
"Eh?! Apa itu!"
"Aduh!" Junsu menekan leher kiriku dengan jari telunjuknya sangat kuat.
"Apa itu? Siapa yang membuatnya? Astaga!" Dan mulailah Junsu menjadi heboh sendiri.
Aku menghela napasku dengan sangat panjang, aku tahu Junsu menginginkan jawabannya. "Dimana Yoochun?" tanyaku terlebih dahulu. Dia pasti akan mengolokku kalau mendengar dongengku yang sebentar lagi akan kuceritakan.
"Dia sedang ke dealer mobil. Yoochun akan membeli mobil baru."
"Benarkah? Lalu mobil lamanya?"
"Mungkin akan dijual."
"Ke siapa?" tanyaku lagi.
"Belum tahu."
"Aku saja, ya! Aku akan mencicilnya, oke?"
"Emm…tunggu Yoochun saja. Sekarang jelaskan dulu ini!"
"Ugh!" Sekarang Junsu menekan leher kananku dengan jari telunjuknya.
"Kau tidak akan percaya kalau aku mengatakannya, Suie." kataku sambil berjalan menuju lemari es dan mengambil jus apel.
"Apa? Ceritakan saja?"
"Tapi, jangan beritahu Yoochun, ya!" kataku setelah aku meminum segelas jus apel. Aku mendatangi Junsu yang duduk di sofa depan tv.
"Ya! Aku janji!" jawabnya antusias.
"Yunho yang membuatnya, Suie." ucapku singkat. Aku ingin tahu reaksi Junsu.
"APA!"
Astaga! Aku harus menutup telingaku. Dia berteriak sangat nyaring, mungkin ahjumma sebelah apartement kami bisa mendengarnya dengan jelas.
"Suie! Berlebihan!"
Junsu melihatku seperti melihat hantu. "Kau tidak bohong, kan? Bisa saja karena kamu terlalu membayangkannya lalu mencari namja lain untuk bercinta denganmu dan kau mengaku itu adalah perbuatan Yunho."
"Apa?! Aku tidak segila itu, Kim Junsu! Yunho yang melakukannya!" Benar, kan? Junsu tidak percaya.
"Oh! Astaga! Kau sendiri yang mengatakan dia itu dingin, tidak punya ekspresi dan sebagainya. Lalu, bagaimana dia bisa membuat kissmark, eoh? Apa benar yang Yoochun katakan, dia bercinta denganmu seperti r-o-b-o-t." Masih dengan pandangan horornya, Junsu berceloteh panjang lebar ditambah dengan ejaan robotnya.
"Aish! Kim Junsu! Dengarkan ceritaku!"
"Astaga…demi jidat Yoochun…ini sama sekali tidak bisa dipercaya!" ucap Junsu semakin heboh setelah aku menceritakan apa yang terjadi denganku mulai dari makan malam bersama Changmin hingga bekas kissmark Yunho.
"Yeah…aku juga tidak percaya, Suie. Sikapnya bertolak belakang dengan yang dilakukannya terhadapku."
"Mungkin benar dia itu 'S' seperti yang kau bilang, Joongie." gumam Junsu.
"Maybe…"
"Sepertinya ponselmu berbunyi." kata Junsu, aku langsung berdiri dan mengambil ponselku yang kutaruh di atas lemari es.
Siapa?
Aku berdehem sebentar sebelum mengangkat telepon nomor tidak kukenal ini.
"Halo?"
"Hai, Jaejoong. Sedang sibuk?"
Tubuhku tiba-tiba menjadi kaku. Membuatku diam di tempat. Aku melirik Junsu yang tengah melihatku.
"Siapa?" tanya Junsu setengah berbisik.
Aku menjauhkan ponselku. "Yunho." jawabku berusaha tidak menimbulkan suara. Junsu sepertinya tahu, dan dia menghampiriku, berdiri disebelahku.
"Jaejoong?"
"Eh…iya, Yunho oppa. Ada apa?"
"Kau tidak sibuk, kan? Bisa ke apartementku sekarang?"
"A…ada apa?"
"Bantu aku, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Kuharap sebelum jam delapan kau sudah disini. Bye."
GLEK
Aku hanya bisa menelan ludah dengan gugup. Ke apartementnya? Serius? Ini tidak seperti saat Changmin mengajakku ke apartementnya. Aku terlalu gugup saat ini.
"Darimana dia tahu nomor ponselmu, Joongie?"
"Aku tidak tahu. Aku harus kesana."
Karena sekarang sudah jam setengah delapan dan aku hanya memiliki waktu setengah jam kesana, aku tidak mandi, jangankan mandi, mengganti pakaian pun tidak.
"Bye, Suie. Aku pergi dulu!"
"Tunggu!" Junsu menahanku.
"Ya?"
"Kau harus membawa ini."
Aku memutar bola mataku ketika Junsu memberiku sebuah kondom. "Yang benar saja."
"Percayalah, malam ini impianmu terwujud."
Impian? Jika orang memiliki impian menjadi orang kaya atau orang terkenal, aku mempunyai impian bercinta dengan Yunho. Lucu sekali.
"Yah, aku tidak tahu!" ujarku. Aku mengambil benda itu dan memasukkannya ke dalam tasku.
"Bila dia benar 'S', berhati-hatilah!" ujar Junsu lagi.
Aku sudaha berada di depan pintu apartementnya. Ada satu hal yang mengganjal pikiranku, ucapan Junsu. Berhati-hati? Benar-benar membuatku takut. Apa benar Yunho tipe yang seperti itu? Memakai cambuk, borgol dan ugh...aku tidak mau membayangkannya. Sama sekali tidak terlintas dihidupku aku akan menjadi 'M'.
Ya, Kim Jaejoong! Hentikan pikiran bodohmu!
Setelah menepuk-nepuk pipiku untuk menghilangkan kegugupanku, aku langsung menekan belnya.
Ketika ketiga kalinya aku menekan bel, pintu apartement Yunho baru terbuka. Lama sekali...
"Oh, Jaejoong. Masuklah." Dia menyuruhku masuk tanpa kata maaf sedikit pun.
Aku masuk dan mengikutinya berjalan dari belakang, melewati tangga dan berakhir di ruang kerjanya. "Tutup pintunya." perintahnya lagi dan dia langsung duduk di meja kerjanya. Kembali bersama laptopnya.
Oh, gosh! Aku baru sadar dia hanya memakai kaus tanpa kerah berwarna hitam dan celana jeans di atas lutut. Dan, oh astaga! Dia yang memakai pakaian seperti ini begitu seksi!
"Nah, Jaejoong. Kemarilah!"
"Ne?" Aku langsung berjalan dan berdiri di sebelah kanannya.
"Lihatlah!" Aku sedikit membungkukkan badanku mengikuti arah telunjuknya yang menunjuk layar laptopnya. Aku megerutkan keningku bingung. Sebuah sketsa gedung.
"Apa itu?" tanyaku.
"Hotel Hilton di Kanada. Bagaimana?"
Aku semakin mendekatkan kepalaku ke arah laptopnya hingga sejajar dengan kepalanya. "Bagus! Siapa yang merancangnya? Kyaa...!"
Apa yang baru saja terjadi?
Aku duduk di atas pahanya dengan posisi miring. Jantungku kembali berdetak dengan cepat.
Tanpa bersuara, Yunho memulai lagi mencium leherku, kebiasaan.
"Engh..." Terlalu kuat Yunho menghisap leherku.
"Kau benar-benar menyukainya rupanya." ucapnya setelah ketiga kalinya memberi kissmark.
Aku kali ini tidak mampu menatap wajahnya, karena aku terlalu malu.
"Ah...Jae, kau masih ingat dengan ucapanmu, hm?"
Oh, mulai lagi dia dengan desahannya. "A...apa?"
"Bibir manismu yang mengatakan 'berikan aku lebih.' Aku akan memberikannya malam ini, Jae..."
"Emm..."
Yunho mencium bibirku, melumatnya dengan lembut, bibir atas dan bibir bawahku terasa hangat di bawah sentuhan bibirnya. Dengan gerakan sedikit kaku, aku membalas ciumannya. Mencoba melumat bibir bawahnya ketika ia menikmati bibir atasku. Aku tidak pernah ciuman se-panas ini.
Lidahnya mulai membelai dengan lembut permukaan bibirku. "Buka mulutmu, Jae..."
"Akh!" Bersama dengan perintah yang keluar dari suara beratnya, Yunho meremas pangkal pahaku. Aku membuka mulutmu membiarkan lidahnya masuk, menggelitik rongga mulutku dan lidahku. Kembali dengan gerakan sedikit kaku, lidahku menyambut lidah hangatnya, saling melilit bersama saliva kami yang tercampur.
Ciuman yang terlalu panas ini terus berlangsung dengan tangan kanannya yang menarik tengkuk leherku dan tangan kirinya membelai lembut kewanitaanku dari luar celana dalamku.
"Oh, astaga..." Saraf-sarafku sangat merespon kehadirannya yang merangsangku. Bibirnya yang kini berpindah di leherku, jari telunjuk kirinya yang membelai kewanitaanku dengan gerakan lambat dari atas ke bawah dan terus mengulangnya. "Yunho..." akhirnya membuatku mendesahkan namanya.
"Ya...sebut namaku, Jae..." katanya. Tapi membuatku mengernyit, dia menghentikan kegiatannya, kedua tangannya berada dipinggangku. Apa ini sudah selesai?
"Kyaa!" Aku terpekik kaget ketika dia mengangkatku dan menaruhku di atas meja kerjanya, membuat laptopnya tergeser hingga tepi meja. Posisiku kini tepat berada di depannya dengan kepalanya yang berada diantara pahaku.
"Buka pahamu lebih lebar, Jae..."
GLEK
Aku mengikuti perintahnya dan membuka lebar pahaku.
"Kau sudah basah, Jae."
Aku melengkungkan punggungku ketika dia meremas payudara kiriku dengan kuat. Anehnya, aku menyukainya...
"Buka pakaianmu, sekarang."
"A...apa?" tanyaku gugup.
"Semuanya..." katanya lagi.
Lagi-lagi aku mengikuti perintahnya dan membuka semua pakaianku hingga aku telanjang di atas meja kerjanya. Apa setelah ini dia akan mengikatku? Andwe!
"Tubuhmu sangat indah, Jaejoong. Aku menyukainya."
"Aaahhh..." Dia membuatku mendesah tidak terkira ketika bibirnya memainkan klitorisku, menjalankan lidahnya dari sisi kiri hingga ke sisi kanan klitorisku, memainkan dengan gerakan memutar dan menghisapnya dengan kuat. Tubuhku benar-benar panas dan napasku menjadi terengah-engah. Ditambah lagi dengan tangan kirinya meremas dengan kuat payudaraku.
"Yun...ho...aku..." Aku sudah berada di puncak, sial! "Yunho!" Ini adalah orgasme pertamaku bukan hasil dari masturbasiku. God! Yunho benar-benar membuatku sangat gila!
Dia membuka pahaku semakin lebar dengan lidahnya yang masih menjilat cairan orgasmeku. Dia begitu menikmati perbuatannya.
"Tubuhmu terlalu sensitif, Jaejoong." ucapnya dengan wajahnya yang sudah berada di depan wajahku.
Tanpa menjawabnya, aku menarik tengkuk lehernya dan menciumnya sedikit kasar. Ciuman ini tentu saja aku belajar dari dia. Aku merasakan dia tersenyum ditengah-tengah ciuman.
Ketika lidahku hendak masuk ke rongga mulutnya, Yunho menghentikan ciumannya.
"Ada apa, Yunho?" tanyaku bingung.
"Pakai kembali pakaianmu, Jae."
CUP
Sebuah kecupan singkat mendarat dikeningku. Kecewa, hal itu yang aku rasakan. Setelah aku sudah berada di puncak kenikmatan, setelah dia membuatku orgasme, dia menyuruhku memakai pakaianku kembali, huh? Tidak bisa!
"Tidak!"
"Hm? Wae?" tanyanya.
"Cium aku, sentuh aku dan bercinta denganku, Yunho!" pekikku. Aku benar-benar sudah memutus urat maluku.
"Bad girl. Aku tidak bisa, Jaejoong. Aku bukan namja baik untukmu." ucapnya dengan senyuman yang membuatku muak.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
"Aku bukan kekasihmu. Apa kau mau memberikannya kepadaku? Kau masih perawan, Jaejoong."
"Maka ja...jadilah kekasihku!"
"Maafkan aku. Aku tidak bisa..." Dia bergumam tanpa melihatku.
Aku turun dari meja kerjanya dan langsung memakai pakaianku dengan cepat, tanpa menoleh ke arahnya yang masih duduk di kursi kerjanya, aku meninggalkannya.
"Sampai jumpa, Yunho."
"Kau lupa dengan sebutan 'oppa'nya, Jaejoong."
"Sampai jumpa, Yunho oppa!" ulangku.
Aku keluar dari apartementnya dengan perasaan kesal. Dia benar-benar mempermainkanku. Setelah ucapanku yang seperti yeoja jalang itu, dia bahkan tidak bergeming. Shit! Aku benar-benar tidak bisa memprediksi sifatnya. Yang jelas dia bukanlah tipe 'S'.
"Brengsek!"
Kenapa tidak bisa menjadi kekasihku, Yunho? Kau tidak mencintaiku? Cih!
Dan untukmu, Kim Junsu. Aku tidak mempercayaimu!
To be continued.
Berniat untuk review ?
Big thanks to :
monstermin, cindyshim07, Edelweis, Keybin, viekrungysweetpumpkin, ninanutter116116, jungri27, missjelek, Dipa Woon, Vic89, , Cherry Yunjae, zhe, Himawari Ezuki, yoon HyunWoon, jae sekundes, han eun ji, lipminnie, Yjckiss, Rara, Riska0122, INTANDOOJON, Nony, myeolchigyuhee, star, Geumran, liekyusung, dianes, I was a Dreamer, RyGratia, Minyuuu, meirah.1111, TriaU-KnowHero, jaena, Hana – Kara, BooMilikBear, leebbunny, CuteCat88, Rly c jaekyu, farla 23, tarry 24792, momoyunjae, ringo 1chigo, Casshipper Jung, yoshiKyu, azahra88, Keybin, YunHolic, heeli, JungJaema, FiAndYJ, joongmax, Maru Glendive Diamond, ShinJiWoo920202, nanajunsu, irengiovanny, Ny Cho Evil, PhantoMirotic, Next, Myyunyun, yunjae, Sachan, KittyBabyBoo Love YunnieBunny, yongie, jaena, YuyaLoveSungmin, MisscelYunjae, leebbunny, haruko2277, 3kjj, gwansim84, park yooki, Leeeunjae13, riii-ka, , pandarkn, saltybear, akiramia44, jung chang, leebbunny, Yaya Saya, liankim10, dzdubunny, Elzha luv changminnie, Favoriters, Followers and Guest.
-ZE-
