CHAPTER 4
My Stupid Love
oOOo
Sebulan belakangan ini aku sangat sibuk belajar, entah itu dirumah atau di apartemen Jae aku tidak bisa memalingkan mataku dari buku didepanku, Jae yang kesal karena merasa tersingkirkan selalu punya cara agar aku bisa menutup buku didepanku, seperti pagi ini, ia pergi ke dapur hanya mengenakan apron, dibaliknya kulit mulusnya tidak terbalut apapun, dengan gayanya yang centil ia membuatku resah dari tempat dudukku.
"Hei…krimnya jatuh ke dadaku" ujarnya dari dapur berseloroh, ia ingin menggodaku untuk berpaling kearahnya namun mataku tetap terjaga pada angka-angka didepanku.
Praaaang
Suara panci jatuh membuatku terkejut, Jae berdiri sambil memegangi tangannya yang kesakitan.
"Kau tidak apa-apa Jae?" tanyaku sambil memegang tangannya yang kemerahan akibat kepasanan memegang panci panas.
"Ini karena dirimu!...kau tidak membantuku". Ujarnya sembari mempoutkan bibirnya.
"Ah maaf sayang aku besok ada ujian".
Aku dengan cepat membereskan kotoran di lantai lalu membasuh tangannya hati-hati, ia masih menatapku dengan kesal.
"Kalau kau mau belajar sebaiknya jangan di sini!". Katanya kesal.
"Aku tidak bisa konsentrasi jika tidak melihatmu".
"Aku tidak suka hanya dijadikan pajangan". Ujarnya manja padaku. Aku kemudian menggendongnya, mendudukannya keatas pahaku.
"Kau mau apa sebagai permintaan maaf dariku?".
Ia memegang bibirnya dengan telunjuknya sambil matanya berputar lalu sebentar kemudian tersenyum.
"Mmm bagaimana jika liburan ke pulau Jeju, kudengar ada cottage bagus disana".
"Itu terlalu jauh, aku harus menyelesaikan ujian akhir semester dulu…Bagaimana jika ke kuil di Incheon saja".
"Ah Itu tidak seru".
"Tiga bulan lagi, tunggulah tiga bulan lagi sampai ujianku selesai, saat itu kita juga harus merayakan kebebasanmu keluar dari tempat itu". Kataku menghiburnya. Karena tiga bulan lagi aku bisa membuktikan kesungguhanku pada Appa untuk memperbaiki nilai kuliahku. Aku juga akan mendapatkan mobilku kembali dan melepaskan Jae dari dunia malam.
"Baiklah…janji ya". Katanya senang.
"Iya. Aku janji" balasku lalu aku mengecup hidungnya yang mancung.
"Kau tidak ingin melanjutkan permainan semalam kita?" tanyanya menggodaku, biasanya aku akan mengikuti permainanya tapi kali ini aku harus bersabar karena Ujian sudah di depan mataku.
"Aku tidak bisa, masih harus belajar". Kataku mengelak halus sambil beranjak menjauh namun tanganku ditariknya untuk berbaring di sofa.
"Sebentar saja, Cuma 10 menit". Ucapnya sebelum menyingkapkan kaos tipisnya dan menyingkirkan semua kain di tubuhku.
Jaejoong kekasihku yang bekerja sebagai pekerja malam itu semula hanya memandangku sebagai teman bercintanya namun kini dengan semua pengorbananku sedikit demi sedikit ia mulai menerimaku.
Pria berwajah cantik itu masih menjalani pekerjaannya seperti biasa namun bedanya sekarang ia menolak melayani pelayanan ekstra yang biasanya ia lakukan demi memenuhi pundi-pundi dompetnya, sebagai gantinya aku memberinya jaminan uang sosialku di Bank untuk kebutuhannya sehari-hari sambil menunggu mobilku terjual.
.
Semakin hari bersamanya terasa memasuki babak baru, aku semakin rajin belajar demi janjiku pada Appa, setelah ujian selesai dan nilaiku membaik aku akan meraih mobilku dan kujual untuk mengeluarkan Jaejoong dari tempat haram itu. Di satu sisi aku merasa terbantu dengan kehadirannya didalam hidupku karena memotivasi diriku untuk belajar lebih giat namun di lain sisi bersamanya adalah sebuah dosa kecil pada orangtuaku, jika mereka tahu apa yang sedang kulakukan mereka pasti akan jatuh pingsan.
Aku tidak bisa mengontrol perasaan ini. Keinginanku bersamanya terlalu besar sebesar rasa cintaku padanya, sampai batas terakhirku aku akan lakukan apapun demi dirinya.
Empat bulan kemudian setelah melalui ujian akhir, perbaikan demi perbaikan test akhirnya nilai IPKku merangkak naik, orangtuaku sangat gembira melihat perubahan nilai kuliahku, sebagai gantinya mereka mengembalikan mobil serta kartu kreditku, bukan hanya itu saja mereka bahkan setuju untuk memberikan uang DP untuk apartemen baruku.
Di korea jika anak sudah dewasa mereka berhak untuk tinggal terpisah dengan orangtua jika mau, dengan alasan tidak mau membebani orangtuaku dan permintaan hadiah ulang tahunku yang ke-20 aku memutuskan untuk keluar dari rumah, sebenarnya karena aku ingin tinggal bersama dengan orang yang kusayangi Kim Jaejoong namun ini harus kurahasiakan dari orangtuaku karena ini akan jadi omongan memalukan bagi keluarga kami.
Dan sekarang Perjalanan panjang itu pun dimulai…
oOo
Jae keluar dari pekerjaannya setelah aku membayarkan semua jaminan hutang beserta bunga yang dipinjam oleh ayahnya dulu, apartemennya ia jual kemudian ia pindah ke apartemen baruku. Sejak saat itu kami tinggal berdua layaknya pengantin baru.
Kami menjalani hari-hari kami dengan biasanya, aku akan pergi kuliah lalu siang harinya akan bekerja paruh waktu di perpustakaan daerah dekat tempat tinggal kami sedangkan JaeJoong ia hanya tinggal di rumah dan mengurus apartemen kami.
"Kau mau ini dipasang dimana?". Tanyanya bingung meletakkan guci-guci kecil yang baru ia beli dari Mall.
Jaejoong seharian ini sibuk mendekor apartemen baru kami, ia bolak balik ke Mall juga tempat pelelangan untuk membeli furniture.
"Di sudut pintu masuk saja" kataku asal.
"Disamping TV sepertinya bagus" ucapnya sambil mencocokan letak guci-guci kecil yang bagiku tidak menarik.
"Yah! Apa kau mau terus baca buku seperti itu!". Protesnya padaku kemudian.
"Besok aku ada test ulang untuk beberapa mata kuliah".
"Bukankah kau janji untuk mengajakku berlibur?!" ujarnya dengan muka marah…aku menutup bukuku dan mengajaknya duduk.
"Kita bisa pergi minggu depan…maaf aku agak sibuk belakangan ini, ayahku semakin senang dengan nilai-nilaiku, ia tidak akan segan memberiku hadiah jika nilaiku terus membaik, bukankah itu bagus...untuk bekal jalan-jalan kita".
"Iya, tapi aku tidak suka diacuhkan". Ujarnya manja sambil memeluk padaku.
"Memangnya siapa yang mengacuhkanmu?".
"Di…ri…mu" katanya sambil menabrakkan hidungnya padaku, akupun membalasnya dengan ciuman hangat, ia semakin menggelayut padaku.
"Aku lelah, siang ini kita makan enak ya…katanya di Hotel M ada menu baru, kokinya baru dari Swiss".
Aku tersenyum melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.
"Tentu saja sayang apapun yang kau mau".
.
Hidup dengannya bagaikan memakan permen magic yang kita tidak tahu apa isi didalam bungkusnya, kadang manis, kadang asam, pahit, semuanya lengkap mengarungi hubungan kami.
Semula hubunganku berjalan manis dengannya, kami bagaikan sepasang pengantin baru yang tidak dapat dipisahkan, intensitas hubungan intim kami juga tidak mengecewakan, kami akan saling mengingatkan jika sudah waktunya untuk bercinta, bahkan diluar jadwal pun kami akan bercinta dengan intens, seakan tidak ingin menyadari dunia bukan milik kami berdua.
Awalnya semua begitu indah hingga aku tidak menyadari bagaimana rasanya jika sakit pada kondisi seperti ini. Semuanya bermula pada hari itu…
Jae baru saja keluar shower saat aku menarik tangannya dan aku langsung menempelnya di dinding, tanpa basa basi langsung kucium bibir merahnya, wangi sabunnya semakin merangsangku untuk menciumi setiap inchi tubuhnya, ia mendorong tubuhku namun tak kuasa untuk meminta lebih saat aku mengulum isi mulutnya.
Satu menit kemudian kakinya sudah diatas pahaku, tubuh kami berputar sambil terus berciuman, sesekali ia tertawa sambil memberi petunjuk jalan kamar kami. Saat kebahagiaan itu terhenti ketika suara telepon berdering.
Telepon itu dari ayahku, dengan nada yang tidak biasa ia memintaku untuk pulang ke rumah secepatnya.
oOOo
Beberapa hari belakangan ini aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku, rasa kecurigaanku semakin terbukti ketika mendapat telepon dari orangtuaku yang memintaku untuk datang ke rumah mereka.
Hari itu aku diberikan bukti-bukti foto Jaejoong dan diriku di apartemen, mereka rupanya juga sudah menyelidiki latar belakang kekasihku. Ayahku marah besar sedangkan ibuku langsung pingsan saat mendengar pengakuanku, ia tidak sanggup untuk menerima kenyataan pahit tentang anaknya yang berhubungan dengan seseorang dari dunia malam.
Esoknya setelah seharian menjaga disampingnya akhirnya ibu berbicara padaku sambil terisak.
"Salah apa kami sampai dirimu menyukai orang seperti itu?" katanya sedih padaku.
"Aku tulus menyukainya Eoma, aku tidak bisa hidup tanpanya"
Ia menutup wajahnya untuk menangis.
"Jangan pernah katakan itu pada ayahmu atau ia akan mengusirmu…Janji pada ummamu ini!" ujarnya seraya menarik tanganku.
"Aku tidak bisa Umma"
Ia mematung tak percaya, aku berharap tidak pernah mengutarakan hal ini namun aku tidak bisa terus membohongi dirinya.
Ayahku yang baru saja masuk kemudian menghampiri kami. Dengan sekejap tangannya melayang ke pipiku.
"Puas kau membuat ibumu terbaring sakit!" ujarnya sambil mengeram menahan amarah. Ibuku masih mematung.
"Maafkan aku" kataku sambil memegang pipiku .
"Kau sadar apa yang kaulakukan bisa melukai martabat keluarga kita?!"
"Iya". Jawabku.
"Kalau begitu cepat bertobat dan usir Gigolo itu dari apartemenmu!"
"Aku tidak bisa Ayah"
PLAAAK
Tangannya melayang lagi ke pipiku
"Apa yang kau cari dari pelacur itu?! Aku bisa memberikan lebih untukmu, wanita terhormat calon ibu dari anak-anakmu".
"Aku mencintainya apa adanya, aku akan hidup dengannya selamanya".
Ayahku terkejut dengan ucapanku, ia hendak melayangkan lagi tangannya namun ibuku turun dan menahan tangannya.
"Yunho jangan begitu sayang…bilang pada ayahmu kau tidak sungguh-sungguh dengan pria itu". Kata ibuku memohon padaku.
"Maafkan aku Umma, aku sangat mencintainya, ia segalanya bagiku, aku tidak bisa hidup tanpanya"
"Benarkah! Kalau begitu pergi kau dari rumahku!" teriak ayahku membuat ibuku hampir jatuh.
"Suamiku!"
"Pergi dan tinggal saja dengan Gigolo itu tapi jangan pernah bawa nama keluarga kita dalam hidupmu lagi, lupakan aku dan ibumu selamanya!...Jangan pernah perlihatkan hidungmu lagi pada kami…Dan aku akan menghapusmu dari daftar warisan keluarga".
"Suamiku jangan begitu, ia anak kita satu-satunya…Ia anakku tersayang".
Ibuku terus menangis histeris ia berusaha agar ayahku bisa menarik perkataannya namun aku tahu tabiat ayahku, ia akan tega membuang anaknya daripada namanya.
"Ini kesempatan terakhirmu… Kau pilih kami atau Gigolo itu!". Ancam ayahku.
"Aku akan pilih dia". jawabku mantap.
Aku melihat kekecewaan di wajah orangtuaku, ibuku tak berhenti menangis ketika ayah mengusirku.
Aku lebih memilih untuk berada bersama Jaejoong dan menyakiti wanita yang mengandungku selama 9 bulan juga menyakiti ayah yang menaruh harapan besar pada putra satu-satunya.
Walaupun begitu hidupku tidak sepenuhnya hancur, ketika aku melihat wajahnya aku akan kembali bahagia telah dilahirkan Di dunia ini.
.
"Kau kenapa?" tanyanya khawatir ketika aku pulang.
"Mereka mengusirku. Aku bukan bagian dari keluarga itu lagi"
Jae menatapku sedih, ia memeluk dan berusaha menghiburku, Walaupun kesedihan itu teramat perih untuk kuhadapi namun ini pilihanku. Aku akan tertawa dan sedih bersamanya, bersama Jaejoong yang kucintai.
oOo
Sudah tiga bulan sejak aku diusir dari keluargaku, setelah itu praktis hubungan komunikasi dengan orangtuaku terputus.
Persoalannya tidak berhenti sampai disitu, Alih-alih menjalani hidup normal dengan bahagia ternyata hidup tanpa bantuan ayahku sangat sulit apalagi mengingat diriku dan Jae yang sudah terbiasa hidup mewah.
"Kita dapat surat peringatan lagi, kita belum bayar cicilan apartemen selama dua bulan". Kata Jae sambil memperlihatkan kartas-kertas lain berisi tagihan kartu kredit, listrik dan air.
"Kita sudah bangkrut" Ujarnya kemudian tidak senang.
"Aku akan melunasinya". Kataku berusaha menghiburnya.
"Bagaimana? Gajimu yang sebagai penjaga perpustakaan daerah itu hanya cukup untuk makan sehari-hari kita".
"Bagaimana jika kita jual apartemennya dan cari apartemen yang lebih murah?". Ujarku kemudian mencari solusi lagipula apartemen ini terlalu mewah bagi kami berdua.
"Aku tidak mau". Balasnya.
"Jae…kita harus cari akal untuk menutupi pengeluaran kita, cicilan apartemenku sangat mahal, uangku hanya cukup untuk menutupi kebutuhan kita sehari-hari saja".
"Kalau begitu aku akan kerja di Bar".
"Tidak boleh".
"Aku hanya kerja sebagai pelayan, aku tidak akan bekerja macam-macam". Protesnya padaku. Ia kemudian mendekati dan memegang wajahku.
"Aku ingin membantumu". Ujarnya lagi meyakinkanku.
"Apa kau tidak bisa mencari pekerjaan lain?".
"Aku tidak punya kemampuan lain lagipula Itu yang tercepat, aku kenal dengan pemilik barnya, ia bisa langsung mempekerjakanku".
"Aku tidak tahu apa aku bisa mengijinkanmu".
Jae memutar wajahku yang semula kupalingkan. Ia berusaha untuk meyakinkanku lagi.
"Kau tenang saja sayang, aku tidak akan berbuat macam-macam dibelakangmu".
"Kau janji Jae?".
"Aku janji".
OoOoO
