"Aku membuat janji dengan pemilik surat ini. Jika kau mau menemaniku mengantarkan suratnya, maka sebagai gantinya, aku akan menemanimu mencari adikmu di East Blue, bagaimana?"
Reiju menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sasuke. Dia merasa sangat senang dengan penawaran yang diajukan Sasuke. Meskipun Reiju tidak bisa langsung melakukan pencarian terhadap adiknya, tapi ia tidak merasa keberatan sama sekali. Selama gadis itu diberikan kesempatan untuk mencari adiknya, itu sudah lebih dari cukup baginya.
Selain itu, bagi Reiju, memiliki rekan dalam perjalanan jauh lebih baik dari pada harus berpetualang seorang diri.
"Uhm!" ucap Reiju dengan semangat.
Senyum manis mengembang di wajahnya, kedua matanya yang terpejam menambah kesan manis yang dimiliki oleh nona Vinsmoke itu.
Dengan latar lautan sore berwarna jingga, sosok seorang gadis bernama Vinsmoke Reiju terlihat jauh lebih menawan dengan senyum yang menghias wajahnya. Sesaat Sasuke sempat berpikir bahwa sosok yang ada di depannya ini hanya sebuah ilusi indah yang ditimbulkan oleh otaknya. Hingga akhirnya Sasuke sadar bahwa gadis yang sedang tersenyum manis ke arahnya adalah gadis yang sama yang hampir dibunuhnya malam itu. Sasuke membalas senyuman indah milik Reiju dengan senyuman tipis yang dia perlihatkan.
Dia mengalihkan direksinya ke arah lain, karena jika tidak begitu, Sasuke merasa bahwa dirinya akan lupa caranya bernapas karena terpukau dengan pesona yang dilihatnya. 'Musuh kemarin malam, menjadi teman perjalanan hari ini', itulah pepatah yang Sasuke ingat untuk menggambarkan situasi mereka berdua.
Dengan begini, dua orang anak manusia dengan latar belakang yang sangat berlawanan itu pun siap untuk menyongsong segala rintangan yang akan menghambat perjalanan mereka.
Naruto by Masashi Kishimoto
One Piece by Eiichiro Oda
genre : Adventure, Fantasy, Friendship, little bit romance.
Summary : Seorang pemuda yang tidak jelas latar belakangnya-pun harus kabur dari negara tempat tinggalnya karena terlibat suatu insiden yang tidak dia duga sama sekali. Dengan hanya berbekal pedang kayu yang selalu dia simpan di pinggangnya, bisakah dia melewati berbagai macam kejadian yang menurutnya menyebalkan itu?
Chapter 3 : Bisnis Baru Uchiha Sasuke
XxxxX
Warna biru yang berasal dari birunya lautan dengan airnya yang jernih, dan juga birunya langit cerah dengan sedikit awan yang berenang-renang di atas sana, menjadi panorama indah yang menemani perjalanan dua orang manusia yang saat ini sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Di atas prahu nelayan berukuran kecil yang saat ini terbawa oleh tiupan angin, dua orang yang berbeda jenis kelamin itu nampak tenang menyelami dunia mereka masing-masing.
Di atas perahu itu, terdapat seorang pemuda dengan rambut bergaya pantat bebek, dia nampak seperti orang yang hampir mati kebosanan karena tidak ada seekor ikanpun yang memakan umpan di kail pancingnya. Berbeda dengan si pemuda yang terlihat bisa terkapar sewaktu-waktu, si pemudi dengan rambut sebahu berwarna merah muda yang duduk tidak jauh dari si pemuda justru nampak sangat menikmati buku kecil yang sedari tadi ia baca.
Sasuke, nama si pemuda itu, sudah tak terhitung beberapa kali ia menguap. Yukata yang sebelumnya terpasang dengan sangat rapi di tubuhnya, kini terlihat lusuh di sana-sini tanpa alasan yang jelas.
Sesekali, Sasuke akan melirik ke arah Reiju, nama pemudi yang berada di satu perahu dengannya, untuk memastikan apa yang gadis bangsawan itu lakukan. Saat Sasuke telah merasa cukup untuk memandangi Reiju yang tengah serius dengan buku bacaannya, Sasuke akan kembali fokus ke lautan, berharap ada seekor ikan yang datang menjemput umpan yang ia pasang di mata kailnya.
Namun, tidak lama kemudian, Sasuke kembali melirik Reiju yang duduk tidak jauh darinya, lalu kembali lagi memfokuskan matanya ke pancingannya. Tidak lama setelah itu, Sasuke kembali lagi melirik Reiju, dan dia akan kembali memandangi pancingnya saat dia merasa cukup. Hal seperti itu terus diulang-ulang oleh Sasuke hingga membuat pelipis milik Reiju mengeluarkan setetes keringat dengan ukuran sebesar biji jagung.
Tidak, meskipun terlihat sangat mencurigakan, Sasuke bukanlah orang yang gugup karena bingung ingin menyatakan perasaannya ke gadis yang disukainya. Samurai dengan pedang kayu ini hanya berusaha membunuh rasa bosan, sekaligus rasa frustasi yang dihadapinya saat ini.
"Behentilah melakukan itu, Sasuke. Kau terlihat seperti seorang penguntit saja," ucap Reiju setelah dia merasa risih dengan ketidak jelasan yang ditunjukan Sasuke.
"Kalau begitu, tolong gantikan aku, aku ingin tidur sebentar,"
Reiju menaruh sebuah penanda pada halaman yang telah ia baca di bukunya, dan menutupnya dengan pelan. Dia sedikit merasa bingung dengan Sasuke yang berada di hadapannya saat ini.
"Bukankah kau ini seorang nelayan? Kenapa kau begitu kesusahan hanya untuk menangkap seekor ikan?"
"Apa kau pikir seorang nelayan itu mencari ikan dengan hanya bermodal pancingan bambu seperti ini?" balas Sasuke dengan tampang datarnya.
"Eh? Memangnya tidak seperti ini, ya?"
Sasuke menatap tidak percaya dengan reaksi yang ditunjukan oleh Reiju. Meskipun Sasuke tahu bahwa Reiju adalah seorang bangsawan yang tidak perlu susah payah untuk memenuhi kebutuhan perutnya, namun ia tidak menyangka bahwa teman seperjalanannya ini benar-benar telah salah paham dengan metode para nelayan menangkap ikannya sehari-hari.
Pria yang Reiju ketahui sehari-harinya terus menggunakan yukata ini mengabaikan pertanyaan yang gadis cantik itu lontarkan. Bagi Sasuke, menjelaskan bagaimana cara seorang nelayan yang harus berangkat tengah malam untuk mencari ikan, dan pulang di pagi buta untuk mengantarkan hasil tangkapannya adalah hal yang sangat merepotkan.
"Hei, jangan mengabaikanku saat aku bertanya seperti itu. Kau membuatku terlihat seperti orang bodoh saja,"
Reiju yang merasa sedikit kesal karena diabaikan oleh Sasuke, mau tidak mau harus memprotes lelaki yang menawarinya untuk kabur bersama. Dengan wajah yang minim ekspresi dari samurai dengan pedang kayu tersebut, Sasuke kembali melirik Reiju melalui ekor matanya. Kemudian, laki-laki yang menjadi lawan bicara Reiju itu membalas.
"Lalu?"
"Apa maksudmu dengan lalu?" tanya Reiju yang bingung dengan respon Sasuke.
Reiju menghela napasnya pelan. Sudah sekitar empat hari mereka berlayar bersama menggunakan perahu nelayan yang berukuran kecil ini. Sepanjang waktu itu juga, setidaknya telah membuat Reiju sedikit mengerti tentang sifat laki-laki yang pernah hampir merenggut nyawanya itu.
"Bukankah tidak perlu untuk memaksakan diri mencari ikan? Ikan-ikan yang kau asapi kemarin masih tersisa beberapa, 'kan?"
"Jika kita memakannya secara normal, itu hanya akan bertahan hingga dua hari saja,"
"Aku tahu, tapi berkatmu yang mampu memperkirakan cuaca, dan menentukan arah mata angin dengan sangat presisi meskipun tanpa kompas, setidaknya kita bisa berlabuh di pulau Izglude sekitar besok pagi," jelas Reiju dengan cukup cermat.
"Hmmm..."
Alis keriting yang telah Reiju miliki sejak lahir seketika menekuk saat mendengar balasan tidak niat dari Sasuke. Lebih parahnya lagi, Reiju merasa kesal karena laki-laki itu membalasnya dengan wajah tidak pedulinya.
Gadis berambut merah muda ini menghela napasnya pelan untuk meredam emosinya. Meskipun dia membalas seperti itu, setidaknya Reiju paham bahwa Sasuke hanyalah seorang pemuda yang akan melakukan banyak hal demi menunjang kehidupan mereka berdua untuk kedepannya.
"Kau tahu, aku masih memiliki beberapa uang. Meskipun tidak banyak, setidaknya kita bisa membeli beberapa persediaan makan di kerajaan Pronteina untuk satu minggu ke depan,"
Reiju masih berusaha memberi pengertian pada Sasuke agar pria itu tidak terlalu memaksakan dirinya. Sebagai seorang teman seperjalanan, tentu saja Reiju merasa khawatir jika Sasuke terlalu memforsir tubuhnya. Apalagi, pria yang awalnya menjadi musuhnya itu telah berbaik hati untuk membawanya kabur bersama, dan menawarkan bantuan untuk mencari adiknya yang telah lama melarikan diri ke East Blue.
Sebuah reaksi luar biasa ditunjukan oleh Sasuke. Laki-laki itu dengan cekatan membereskan pancingannya, dan menaruhnya di tempat ia menyimpan perkakas-perkakasnya yang lain. Dia menghampiri Reiju tetap dengan tampang datarnya. Reiju menatap dengan pandangan penuh tanda tanya terhadap perubahan sikap Sasuke yang tiba-tiba.
Setelah pemuda itu berada di hadapan satu-satunya teman seperjalanan yang ia miliki saat ini, dengan gerakan yang pasti, Sasuke langsung melakukan duduk dengan posisi seiza di hadapan Reiju. Dengan lutut yang menempel di alas perahu, dan pantat yang ia dudukan di bagian atas kakinya, Sasuke menatap Reiju dengan pandangan mata yang sangat sulit diartikan.
Dengan masih dalam posisi duduk seiza, Sasuke secara perlahan sedikit membungkukan badannya ke arah Reiju untuk melakukan ojigi. Melihat perilaku Sasuke yang semakin aneh, kontan saja membuat gadis pemilik surai merah muda itu sedikit salah tingkah.
"Reiju-san, terima kasih atas kemurahan hati yang anda miliki,"
Pria yang berasal dari negeri Wano itu mengatakannya dengan nada yang tegas, dan dengan posisi yang masih melakukan duduk seiza, sambil badan yang membungkuk tanda ia sedang ber-ojigi.
Karena tidak tahu harus merespon seperti apa, Reiju hanya bisa tertawa hambar, sambil mengibas-ibaskan tangan kanannya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari keluarga bangsawan Vinsmoke itu.
'Ah, benar juga. Sasuke adalah orang yang mempunyai ketergantungan yang cukup tinggi dengan uang, 'kan?'
ucapnya dalam hati sambil merutuki dirinya karena sempat lupa dengan sifat Sasuke yang menurutnya paling menyebalkan itu.
XxxxX
Untuk masuk ke lautan Grand Line, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan oleh para pelaut yang berasal dari empat lautan di dunia. Mulai dengan masuk dengan cara yang aman, namun dengan biaya yang sangat mahal. Atau masuk dengan gratis, namun cara yang dilakukan sangatlah riskan.
Bagi para bangsawan, atau para saudagar kaya raya, mereka pasti tidak akan berpikir panjang, dan langsung memilih untuk menggelontorkan dana yang sangat besar asal keselamatan mereka terjamin. Namun, bagi para pelaut dengan keuangan yang biasa-biasa saja, mereka pasti memilih menggunakan cara yang tidak menguras kantung keuangan mereka, bahkan meski itu berarti harus mempertaruhkan nyawa sekalipun.
Bagi mereka yang ingin masuk Grand Line dengan gratis, hal yang paling penting yang harus mereka persiapkan terlebih dahulu adalah perbekalan, dan kondisi kapal yang baik. Jika salah satu tidak terpenuhi, bisa dipastikan bahwa mereka akan hancur saat mendaki puncak tertinggi di Red Line, yaitu Reverse Mountain.
Pada tiap-tiap empat lautan yang ada di dunia, pasti terdapat satu kerajaan, atau negeri yang dijadikan persinggahan terakhir sebelum menyeberang menuju lautan terganas di dunia, Grand Line.
Pronteina, sebuah kerajaan maju yang terletak di pulau Izglude. Pulau Izglude adalah pulau terakhir yang berada di North Blue. Para pelaut, mulai dari pelaut biasa hingga bajak laut, kebanyakan dari mereka yang bertujuan untuk memasuki Grand Line akan singgah terlebih dahulu di pulau ini untuk mengisi beberapa persediaan, dan mengecek kondisi kesiapan kapal mereka. Dengan banyaknya kapal-kapal yang singgah di pulau ini, membuat pulau Izglude, yang di dalamnya terdapat kerajaan Pronteina, menjadi pulau strategis dengan perekonomian rakyatnya yang sangat maju.
Meskipun terdapat banyak bajak laut yang singgah di kerajaan Pronteina, tidak lantas membuat kerajaan ini menjadi sebuah negeri yang berbahaya. Dengan adanya pasukan kerajaan, dan juga pangkalan militer dari Angkatan Laut, mampu menekan tingkat kriminalitas di kerajaan Pronteina pada tingkat yang sangat rendah. Pangkalan Angkatan Laut yang dipimpin oleh seorang marinir dengan pangkat wakil admiral di kerajaan Pronteina itu menjadi momok menakutkan bagi para kriminal yang singgah di sana.
Kebanyakan bajak laut yang enggan berurusan dengan Angkatan Laut di kerajaan Pronteina, mereka akan mempersiapkan seluruh kebutuhan kapal mereka di pulau yang terletak sebelum pulau Izglude. Meskipun dengan biaya yang lebih mahal dari pada yang bisa mereka dapatkan di kerajaan Pronteina, tapi menurut mereka itu lebih baik dari pada harus berurusan dengan Angkatan Laut.
Meskipun begitu, tetap saja ada banyak kriminal yang dengan nekat singgah di negeri yang mendapat julukan sebagai negeri terakhir di lautan terkeras dari empat lautan yang ada. Banyak dari mereka yang berhasil dijebloskan ke penjara, namun ada beberapa pula yang berhasil lolos dari pengejaran Angkatan Laut.
Di jalanan yang berada pada pelabuhan besar di kerajaan Pronteina, terdapat dua orang yang sedang berjalan saling beriringan. Sasuke, dan Reiju, sama seperti para pelaut lain yang ingin masuk ke dalam Grand Line, dua orang dengan warna rambut yang kontras itu juga berada di kerajaan Pronteina untuk menyiapkan segala sesuatu yang mereka butuhkan agar bisa sampai di Grand Line dengan selamat.
Namun, berbeda dengan para pelaut lain, masalah yang mereka berdua hadapi ada pada tingkat yang lebih kompleks dari sekedar menyiapkan persediaan, dan mengecek kondisi kapal. Banyak masalah yang harus mereka cari jalan keluarnya, khususnya adalah kapal yang akan mereka gunakan untuk menaiki Reverse Mountain.
"Jadi, nona bangsawan, apa yang sebaiknya kita lakukan?"
Reiju hanya diam tanpa niat untuk menjawab pertanyaan dari Sasuke. Gadis itu saat ini lebih mementingkan agar wajahnya tidak terlihat oleh orang lain. Dia tidak ingin berbesar kepala, tapi dia sadar bahwa dia adalah seorang bangsawan Vinsmoke. Jika ada orang yang mengenali wajahnya, maka itu akan menjadi pertanda buruk bagi Reiju.
Jika beberapa hari belakangan ini Reiju selalu memakai kemeja putih, celana pendek sepaha, dan tampak percaya diri saat mengumbar kecantikannya, maka kali ini gadis itu memilih busana yang berbeda. Dia masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang biasa ia pakai selama perjalanan. Hanya saja, sang putri Vinsmoke itu menutupi tubuh moleknya dengan sebuah jubah hitam bertudung yang juga ia gunakan untuk menutupi kepalanya.
"Reiju, kau mendengarkanku, 'kan?" ucap Sasuke sambil sedikit menepuk bahu gadis itu.
"A- ah, tentu saja. Kita biarkan saja perahu kecil itu, kita sudah tidak membutuhkannya lagi,"
"Tunggu, bukankah itu terlalu kejam? Perahu itu adalah alat penyambung hidupku, lho. Cepat, minta maaf sana!"
Reiju tidak mempedulikan umpatan protes yang diucapkan oleh Sasuke. Bagi gadis itu, menjaga agar identitasnya tidak ketahuan adalah sesuatu yang sangat penting untuk saat ini. Setidaknya, Reiju tidak ingin langkah pertamanya untuk mencari adik kesayangannya harus berhadapan dengan sebuah masalah.
"Tidak perlu setegang itu, aku akan menebas siapapun yang ingin membawamu pulang,"
Mendengar ucapan lembut dari Sasuke, membuat Reiju mau tidak mau merasa sedikit tersanjung dengan ucapannya. Dia melihat paras putih tanpa cacat yang dimiliki oleh pemuda itu. Reiju ingin tahu, seperti apa ekspresi Sasuke saat mengucapkan kata-kata yang mampu membuat hatinya merasa lebih tenang.
"Jangan salah paham, pengetahuanmu masih aku butuhkan untuk mengantarkan surat itu, ingat? Ini bukan berarti aku peduli padamu atau semacamnya,"
Ucap Sasuke sambil mengalihkan direksinya ke arah lain. Reiju tersenyum manis saat melihat reaksi Sasuke yang menurutnya unik itu. Dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya, gadis itu berkata.
"Kau benar-benar pemuda yang kaku, ya?"
Tidak ada sebuah perbincangan lagi setelah itu. Baik Sasuke maupun Reiju, mereka berdua terus berkutat dengan berbagai pikiran yang berhubungan dengan cara untuk sampai ke Grand Line.
Sesekali mereka akan bertukar pikiran untuk memastikan langkah selanjutnya yang akan mereka ambil. Namun, kesunyianlah yang paling mendominasi di antara dua insan yang mempunyai dua kepentingan berbeda itu. Reiju yang merupakan seorang warga asli dari North Blue, tentu saja dia juga paham dengan beberapa lokasi rawan yang ada di kerajaan ini.
Meskipun kerajaan Pronteina bukanlah kampung halamannya, tapi dia telah beberapa kali berkunjung ke negeri yang sangat indah dengan bangunan-bangunan megah yang bergaya abad pertengahan ini. Oleh karena itu, Reiju menjadi orang yang bertanggung jawab untuk memandu Sasuke selama mereka ada di sini. Pengalamannya berkunjung dalam rangka sebuah perjanjian bilateral antara kerajaan Pronteina dengan kerajaan Germa, membuatnya mampu mengantisipasi titik-titik yang bisa saja membuat mereka berdua terjebak dalam masalah-masalah yang mungkin saja terjadi.
Dengan banyaknya permasalahan yang bahkan belum mereka temukan jalan keluarnya, menghindari masalah lain yang ada adalah hal mutlak bagi mereka.
Perjalanan yang sudah terasa seperti tur wisata ini akhirnya berakhir pada sebuah katedral dengan menaranya yang tinggi. Katedral yang menjadi ikon kerajaan Pronteina, membuat lokasi ini menjadi sebuah tujuan wisata bagi para wisatawan, baik itu dari wisatawan dalam negeri, maupun dari luar negeri. Tentu saja, karena ramainya tempat ini dengan pengunjung, keamanan yang diterapkan di sekitar katedral juga pastilah sangat ketat.
Jika dilihat dari sudut pandang tersebut, tentu saja katedral bukanlah lokasi yang baik bagi Sasuke dan Reiju. Namun, atas dasar pemikiran Sasuke tentang "tempat dengan keamanan yang tinggi adalah lokasi paling cocok untuk persembunyian sementara", maka di sinilah mereka sekarang, ruang kecil di puncak menara katedral.
"Apa kau yakin dengan ini, Sasuke?"
"Tentu saja. Dari sini kita bisa melihat istana kerajaan, dan pangkalan militer Angkatan Laut sekaligus,"
Ucap Sasuke sambil terus memperhatikan keindahan pemandangan ibu kota kerajaan Pronteina dari puncak menara di katedral. Meskipun Reiju merasa sedikit enggan, tapi akhirnya gadis itu hanya bisa menurut dengan Sasuke. Dia hanya merasa, bahwa pemuda yang kini tengah asik memandangi ibu kota itu mempunyai pengalaman yang lebih banyak dari dirinya jika berbicara tentang urusan bersembunyi seperti ini.
Reiju yang mengingat akan satu hal selama perjalanan mereka menuju katedral, kini berjalan menghampiri Sasuke, dan menanyakan sesuatu.
"Omong-omong, kau tadi terlihat membagi-bagikan sebuah kertas kecil, 'kan?"
"Ah, ini ya?"
sambil mengatakannya, Sasuke mengambil sesuatu yang ia sembunyikan di balik yukata-nya.
Reiju menerima dengan baik apa yang disodorkan Sasuke. Itu adalah kertas yang Reiju maksud. Gadis itu membaca tulisan yang ada pada kertas tersebut dengan wajah yang sangat penasaran, namun wajahnya berubah seketika menjadi masam saat setelah selesai membaca isi kertas yang Sasuke berikan.
Di sana, di kertas itu tertulis.
Sasuke-san Service.
Seorang profesional yang memberikan pelayanan apapun dengan harga yang terjangkau.
Mulai dari mencari kucing yang hilang, hingga menghilangkan nyawa manusia sekalipun. Kami akan mengerjakannya dengan sepenuh hati.
Cukup panggil melalui den den mushi, maka kami akan datang secepat kilat.
nomor : xxxx-xxxx-xxxx
"Apa ini, Sasuke-san?" tanya Reiju dengan wajah yang datar
"Sebuah solusi untuk masalah keuangan kita, Reiju-san," jawab Sasuke dengan wajah yang lebih datar.
Mendengar jawaban dari Sasuke yang terkesan sangat menggampangkan saja sudah membuat Reiju ingin mengucapkan segala sumpah serapah yang ada di dalam kepalanya. Tapi, Reiju memilih untuk bersikap tenang. Setidaknya, dia harus bisa bertahan dari segala ketidak jelasan yang mungkin ada pada sosok samurai muda itu.
"Baiklah, aku mengerti kalau kita tidak mempunyai banyak uang. Tapi, apa memang kau harus melakukan pekerjaan seperti ini? Selain itu, bagaimana bisa yang awalnya mencari kucing hilang, justru menuju menjadi menghilangkan nyawa seseorang?"
Ucap Reiju sambil sedikit terengah-engah karena berusaha menahan gejolak emosi yang ada di dalam dirinya. Sedangkan tersangka yang membuat seorang Vinsmoke Reiju menjadi uring-uringan seperti ini, justru menampilkan wajah yang sangat tenang.
Sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dan memejamkan kedua matanya, Sasuke membalas kegelisahan yang ditunjukan oleh Reiju.
"Bukan hanya aku, tapi kita berdualah yang akan melakukan pekerjaan ini. untuk memulai sebuah bisnis, kau harus sedikit menambah bumbu-bumbu menarik di iklanmu. Itu adalah sesuatu yang paling mendasar,"
"Ya, aku tahu. Tapi, apa memang harus menyebut terang-terangan tentang membunuh orang? Yah, aku bukannya bersifat sok suci atau semacamnya. Hanya saja, bukankah itu sedikit berlebihan untuk sebuah iklan?"
Masih dengan posisi dan sikap yang sama, Sasuke menghela napasnya pelan, lalu membalas.
"Kau benar-benar salah paham. Itu hanya menandakan bahwa kita siap melakukan apapun, kita siap mencari apapun. Kita siap untuk mencari sesuatu yang memang ada, atau yang bahkan harus mengada-ada,"
"Kau bodoh, ya? Memangnya kau ini wartawan?"
"Ya, jika memang itu dibutuhkan, bahkan kita bisa menjadi seorang jurnalis lepas,"
Reiju terdiam saat mendengar penjelasan terakhir dari Sasuke. Otak cerdasnya berusaha menemukan sesuatu yang tidak beres dari perkataan Sasuke barusan.
"Tunggu, jika memang begitu, bukankah itu berarti ... kita ini hanya seorang pengangguran biasa, ya?" tanya Reiju untuk memastikan.
Tidak ada respon dari Sasuke. Pemuda yang selalu membawa pedang kayu di pinggang kirinya itu hanya bisa diam sambil tetap menyilangkan kedua tangannya, dan memejamkan matanya.
"Kau salah, Reiju-san. Kita ini adalah ... seorang pekerja lepas," ucap Sasuke dengan sorot mata yang penuh keyakinan.
Yah, pemuda itu masih berusaha menolak kebenaran yang ditunjukan oleh Reiju bahwa mereka ini hanyalah seorang pengangguran biasa.
Merasa lelah ketika harus meladeni ketidak jelasan Sasuke, akhirnya membuat Reiju enggan mengomentari lebih lanjut tentang hal ini. Dia menarik dalam-dalam oksigen melalui lubang hidungnya, dan mengeluarkannya keras-keras melalui mulutnya, sebuah tanda bahwa ia telah menyerah.
Tapi sejujurnya, usaha yang dilakukan oleh Sasuke itu tidak sepenuhnya buruk. Reiju sangat mengerti, jika mereka tidak mencoba sesuatu, mereka tidak akan bisa memperbaiki kondisi keuangan yang mereka miliki.
Reiju tidak masalah dengan usaha yang digagas oleh Sasuke, dia hanya tidak habis pikir dengan kalimat iklan yang ditulis oleh Sasuke tersebut. Menurut gadis pink itu, iklan yang ditulis oleh pemuda tersebut bisa saja mengundang sebuah permasalahan lain pada mereka.
Namun, jika dipikir-pikir lagi, gadis itu mulai paham dengan jalan pikiran Sasuke.
'Bukankah ini sederhana? Jika kami dalam masalah, kami hanya perlu melewatinya bersama, 'kan?'
Ungkap Reiju dalam hati sambil membayangkan apa yang saat ini ada di dalam pikiran Sasuke.
Dengan begini, masalah keuangan sudah sedikit teratasi. Setidaknya, dengan usaha yang digagas oleh Sasuke, mereka akan mendapat sedikit pemasukan jika ada yang menyewa jasa mereka berdua.
Namun, sesaat setelah Reiju merasa beban yang harus mereka atasi sedikit terangkat, muncul pertanyaan lain yang timbul di dalam benak gadis itu.
"Bukankah kita tidak mempunyai den den mushi, Sasuke?"
"Tentu saja punya, aku mengambil dua buah den den mushi milik mayat para pemberontak. Satu aku bawa, dan satu aku serahkan ke Konohamaru untuk memberiku kabar jika mereka terkena apa-apa," jelas Sasuke.
"Kau tidak mengambil barang berharga mereka, 'kan?" Reiju bertanya kembali sambil memasang ekspresi jijik ke arah Sasuke.
"Mana mungkin aku melakukan itu? Lagi pula, aku tidak akan mengambil barang berharga mereka untuk kepentinganku sendiri tanpa alasan yang masuk akal,"
Reiju memandangi Sasuke dengan tatapannya yang terlihat merendahkan pria itu, sorot matanya menunjukan bahwa ia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Sasuke. Sedangkan subjek yang sedari tadi dipandangi oleh Reiju, sama sekali tidak menunjukan respon apapun untuk membalasnya. Fokus yang dimiliki oleh pemuda itu telah sepenuhnya teralihkan oleh sesuatu yang ia lihat di tempat yang jauh sana, sebuah pangkalan Angkatan Laut.
"Hei, Reiju,"
Merasa namanya dipanggil oleh rekannya, Reiju mengangkat sebelah alisnya sebagai jawaban. Gadis itu menunggu dengan tenang terhadap apa yang ingin Sasuke katakan.
"Saat kita tiba di kerajaan ini, dan melihat negeri ini yang sangat makmur dengan perekonomiannya yang sangat maju, keamanannya yang sangat terjaga, serta kehidupan masyarakatnya yang sangat damai. Mau tidak mau membuatku harus membandingkan kondisi di sini, dengan kondisi di pulau Papuan,"
Tidak ada niat dari Reiju untuk menyela perkataan Sasuke. Karena gadis itu tahu, bahwa Sasuke masih belum menyelesaikan apa yang ingin ia sampaikan.
"Aku masih tidak percaya ada negeri semakmur ini di dekat pulau Papuan yang hampir hancur karena perang saudara. Saat aku mengingat fakta itu, entah kenapa itu membuatku merasa marah saja," Sasuke terlihat membuang napasnya secara kasar, kemudian ia melanjutkan.
"Kerajaan dengan perekonomian yang sangat maju ini, tidak sedikitpun menengok masyarakat pulau Papuan yang bahkan orang-orangnya hanya bisa berpikir bagaimana caranya mereka bisa makan, dan bertahan hidup di hari itu. Negeri-negeri makmur di sekitar pulau Papuan, seperti Kerajaan Pronteina ini, tidak pernah sekalipun aku mendengar mereka menyalurkan bantuan logistik pada orang-orang di pulau Papuan,"
Tangannya mengepal seketika saat Sasuke mengingat bagaimana lemahnya nenek Chiyo ketika meringkuk tidak berdaya di atas kasur. Seorang nenek tua yang memberinya kehidupan setelah ia kabur dari takdir yang telah ia pilih sendiri, seorang nenek yang memberinya pekerjaan setelah ia merasa bahwa dirinya hanyalah seorang samurai tumpul yang tidak berguna, seorang nenek yang membuatnya berjanji untuk melindunginya di depan makam suami dari nenek tua itu yang telah lama meninggal.
Hanya memikirkan bahwa nenek tua yang telah banyak berjasa padanya selama tiga tahun terakhir ini meringkuk tidak berdaya karena perang saudara yang terjadi di sana, membuat perasaan tidak senang muncul di dalam diri Sasuke.
"Bukankah para Pemerintah Dunia itu hanya seperti sekumpulan orang-orang idiot? Mereka justru melindungi negeri yang sudah damai seperti ini, namun malah ikut memperkeruh suasana di negeri lain yang telah diambang kehancuran,"
Menampilkan seringai tipis yang Sasuke miliki, dan sorot mata yang mampu menumbuhkan perasaan ngeri pada siapapun yang tidak disukainya, Sasuke mengatakan dengan penuh rasa amarah di dalam dirinya.
"Karena itulah, bagaimana kalau kita sedikit membuat kekacauan di sini, lalu mencuri salah satu kapal bangsawan yang ada di sana itu, Reiju?"
Reiju menelan ludahnya dengan sedikit kesulitan. Baginya, Sasuke yang ia lihat saat ini, mengingatkannya dengan Sasuke yang pertama kali ia temui. Hanya dengan melihatnya saja, sudah mampu membuatnya mengingat kembali betapa mengerikannya teror yang dibawa oleh seorang samurai dengan pedang kayu yang bernama Sasuke.
"Sasuke, kau ... benar-benar gila,"
Reiju ingat, masih banyak misteri yang belum ia ketahui tentang Sasuke. Di saat yang sama pula, Reiju juga sadar akan satu hal. Dibalik segala ketidak jelasan yang ada pada diri Sasuke, dia masih tidak mengerti seperti apa monster sesungguhnya yang tersembunyi di paras rupawan pemuda itu.
Bersambung
Author note : Ada review yang menanyakan kenapa kepalanya Reiju masih utuh, tidak terpotong. Padahal di chapter 1 ditunjukan bahwa Sasuke menebasnya.
Oke, aku jawab di sini. Sasuke memang menebasnya, tapi dia hanya menggunakan sisi tumpul pedang kayunya. Itulah alasan kepala Reiju masih utuh. Lalu, kenapa Reiju tidak menanyakan itu ke Sasuke? jawabannya simpel, Reiju itu seorang kesatria. Dia mengerti bagaimana cara menggunakan pedang (meskipun dia tidak mahir dalam menggunakannya), jadi saat dia sadar bahwa ternyata tidak ada luka gores di kepalanya, dan hanya ada luka hasil pukulan benda tumpul. Reiju seketika pasti sadar bahwa dia hanya diserang menggunakan sisi tumpul dari pedang kayu Sasuke. yap, kurang lebih seperti itu
Kemudian seiza, seiza adalah tradisi duduk di lantai saat acara-acara formal di Jepang. Yah, aku sedikit bingung untuk mendeskripsikannya, kalian yang sering menonton anime pasti paham dengan posisi duduk seiza, 'kan? Sedangkan ojigi itu posisi membungkuk untuk memberi salam, penghormatan, meminta maaf, dan sebagainya. Karena Sasuke berasal dari Wano, maka aku buat Sasuke memahami tradisi di Jepang.
Arc ini adalah arc terakhir yang menceritakan saga di North Blue. Setelah arc ini berakhir, nanti akan pindah ke grand line, dan fokus utama Sasuke adalah mengantarkan surat yang ia pungut di chapter 1.
Sasuke terkesan aneh? Labil? Memang sengaja aku bikin gitu kok. Lalu, sasuke mudah terbawa emosi? Bukannya di animenya juga gitu? Meskipun tenang, Sasuke mudah marah jika itu menyangkut sesuatu yang emosional baginya. Di fictku juga seperti itu, dia akan marah jika itu berhubungan dengan orang yang menurutnya berharga.
Lalu, ada alasan khusus aku membuat terkesan aneh seperti itu. bisa dibilang, di sini aku membuat Sasuke itu kehilangan sebagian akal sehatnya, alias sedikit tidak waras. Tentu saja ada penyebabnya kenapa aku bikin seperti itu, dan nanti akan terungkap seiring berjalannya waktu.
Yap, itu saja ulasan dariku. Jika ada yang ingin ditanyakan, bisa langsung tulis saja di kolom review. Akhir kata, aku ucapkan terimakasih ke para pembaca semua karena telah menyempatkan waktu untuk membaca, mereview, dan memfoll/fav cerita ini. kritik dan saran sangat dari pembaca sekalian sangat dibutuhkan untuk terus berbenah dalam penulisan cerita.
