Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah 3 tahun mereka menjalani hubungan ini. Banyak hal yang mereka lalui. Susah, sedih,dan senang mereka lewati bersama. Kini semua menjadi sebuah memori indah yang takkan pernah mereka lupakan.
Chanyeol dan Baekhyun berada di gedung sekolah. Mereka berencana untuk menginap di sana. Seperti biasa, atap sekolah menjadi tempat favorit mereka menghabiskan waktu berdua. Hari itu, sangat banyak bintang-bintang yang bertaburan di langit. Menambah indahnya malam dan suasana menjadi semakin romantis. "Yeol, apa kau tau apa yang aku pikirkan sekarang?" tanya Baekhyun lembut. "Apa? Memangnya apa yang kau pikirkan?" Chanyeol tertarik dengan apa yang dipikirkan si cantik kesayangannya. "Melihat bintang-bintang itu, aku membayangkan kita hidup bersama di tempat yang lebih besar, lalu menikah, memiliki beberapa anak, dan hidup bahagia sebagai keluarga yang harmonis." Baekhyun mengatakan hal yang ia pikirkan sambil menerawang langit yang menjadi lautan bintang. "Khayalanmu tinggi sekali Byun. Hahaha" Chanyeol terkekeh meledek Baekhyun dan mengusap kepala Baekhyun. "Kau benar-benar lucu Baek. Orang yang akan menikah denganmu sangatlah beruntun." Kata-kata Chanyeol membuat Baekhyun sedikit emosi. "Apa kau tidak mau hidup bersamaku? Apa kau mau pergi meninggalkanku? Kau berencana memutuskanku? Baiklah kalau begitu, kita—"
'CUP'
Sebuah ciuman mesra menghentikan percakapan mereka sejenak. "Tepat, aku memang tidak mau hidup bersamamu, aku akan meninggalkanmu, dan aku akan memutuskanmu." Mata Baekhyun melotot mendengar pernyataan itu. "Aku tidak mau hidup bersamamu hanya sebagai kekasih, aku akan meninggalkanmu di rumah untuk menungguku pulang bekerja, dan yang paling penting aku akan memutuskanmu untuk menikahimu." Lanjut Chanyeol. Baekhyun tercengang dengan apa yang ia dengar. Yang membuatnya tercengang bukanlah kata-kata romantis itu, melainkan ekspresi datar Chanyeol saat mengucapkannya. Bagaimana bisa seseorang yang melamar kekasihnya menggunakan wajah datar seperti itu? Hanya Chanyeol yang bisa melakukannya. "Kau benar-benar aneh, Yeol. Kau membuatku terbang tinggi, tapi kau membantingku lagi dengan wajah datarmu itu. Bisa-bisanya." Baekhyun segera memeluk Chanyeol. Tidak peduli seberapa anehnya Chanyeol, ia tetap mencintainya.
.
"YEOL, YEOLLIE-YAA!" teriak Baekhyun memanggil Chanyeol. "Apa? Kau tidak perlu berteriak, Baek. Aku mendengarmu dengan jelas." Chanyeol menutup telinganya karena teriakan Baekhyun membuat telinganya bergetar. "Cepatlah kesini!" perintah Baekhyun. Chanyeol berjalan menuju tempat Baekhyun berada. "Ada apa?" tiba-tiba sebuah pelukan mendarat di tubuh Chanyeol. 'Aish, anak ini. Berteriak sekencang itu hanya untuk ini' batin Chanyeol. Ia sedikit sebal dengan yang Baekhyun lakukan. Tapi, ia tidak akan bisa marah kepada Baekhyun. "Aku merindukanmu. Diamlah di sini dan temani aku memasak, oke?" pinta Baekhyun manja. Chanyeol hanya menanggapinya dengan sedikit anggukan di kepalanya. Ia sedikit heran dengan sikap Baekhyun yang lebih manja dari biasanya. Baekhyun yang sedikit cuek, mendadak ekspresif. Chanyeol memiliki ide untuk mengajak Baekhyun bersenang-senang. "Eumm, Baek. Besok kan hari minggu, bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tanya Chanyeol pada Baekhyun yang sedang sibuk memasak. "Jalan-jalan? Boleh saja. Tapi kau yang traktir, bagaimana?" pinta Baekhyun. "Aish, kau ini. Memangnya selama ini siapa yang membayar saat kita jalan-jalan? Sudahlah, kalau kau tidak mau. Lebih baik aku pergi dengan Sora noona saja." Chanyeol berpura-pura kesal untuk meledek Baekhyun. "Yaa, jangan tinggalkan aku sendiri di rumah. Kau tidak tau bagaimana agresifnya Irene kalau dia tau aku sendiri di sini? Aigoo, wanita itu mengerikan sekali. Aku ikut." Baekhyun bergidik membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya jika ia ditinggal sendiri di rumah. "Oke, kali ini kau yang bayar. Setuju?" Chanyeol terus meledek Baekhyun dengan ancaman yang sebenarnya sangat tak berarti. "Tapi kan, kau—" "Tidak, kau yang bayar." Chanyeol memotong perkataan Baekhyun. Ia sangat senang ketika melihat Baekhyun dengan pasrahnya menerima kenyataan bahwa ia harus mengeluarkan uang untuk pergi.
Keesokan harinya, mereka bersiap untuk pergi ke suatu tempat yang dirahasiakan oleh Chanyeol. "Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Baekhyun penasaran. "Sudahlah, kau tenang saja. Kita akan pergi ke tempat yang cukup ramai, tapi menyenangkan." Chanyeol berusaha merahasiakan tempat tujuannya. "Ya tuhan, selamatkanlah isi dompetku dari angka-angka yang besar." Baekhyun memohon kepada tuhan dengan wajah memelas tapi cantik agar Chanyeol tidak menguras habis isi dompetnya. "Ish, kau pelit sekali." Chanyeol menoyor kepala Baekhyun dengan jari telunjuknya. "Yak! Kasar sekali." Protes Baekhyun. "Ah maaf, apa ada yang sakit?" Chanyeol mengusap kepala Baekhyun dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. "Maafkan aku, Baek. Ayo berangkat. Tapi sebelumnya, kau harus menutup matamu dulu." Akhirnya mereka berangkat menuju tempat tujuan. Baekhyun sangat penasaran kemana Chanyeol akan membawanya pergi. Sepanjang perjalanan ia hanya menduga-duga tempat yang menjadi tujuannya itu. Sesampainya mereka di tempat tujuan, Chanyeol membukakan penutup mata Baekhyun. "Sudah sampai, ini dia tempatnya" mata Baekhyun masih buram karena matanya yang tertutup dalam waktu yang lumayan lama. Ia mencoba memfokuskan matanya. "Tulisannya Lotte World? Kenapa ke sini? Lalu yang membayar tiketnya?" tanyanya heran. "Aku yang membayar. Di sini menyenangkan, kita bisa sepuasnya bermain seharian." Chanyeol memamerkan apa yang telah ia lakukan. "Kau bilang aku yang harus membayar. Tapi, kenapa?" Baekhyun merasa tidak berguna dengan penyesalan yang ia rasakan sekarang. "Ah, itu. Aku hanya ingin meledekmu. Kau tak perlu memasang wajah menyesal seperti itu, sayang. Hari ini spesial untukmu. Ayo." Mereka berjalan bersama terasa dunia hanya milik berdua. Mereka bersenang-senang seharian, bergandengan tangan, dan melakukan hal lainnya yang dilakukan sepasang kekasih. Mereka menghabiskan waktu di tempat itu dengan sangat baik. Hari mulai petang, mereka memutuskan untuk menaiki Bianglala sebagai wahana terakhir ssekaligus untuk menikmati matahari terbenam.
Di atas Bianglala, Chanyeol mengeluarkan mengeluarkan sesuatu. Di dalamnya terdapat benda yang sudah sangat lama ia simpan. "Baek, aku ingin memberikan ini." Chanyeol mengulurkan tangannya dengan maksud memberikan benda spesial tersebut. "Ini apa?" tanya Baekhyun. "Bukalah. Kau akan tau isinya nanti." Baekhyun mulai membuka kotak yang diberikan Chanyeol. "Cincin? Bukannya ini cincin yang kau pakai?' Baekhyun heran mengapa Chanyeol memberikan cincin yang selalu ia kenakan. "Maksudmu ini?" Chanyeol menunjukkan cincin yang ia gunakan. "Cincin itu adalah pasangannya. Sudah lama sekali aku menyimpan cincin itu." Lanjut Chanyeol. "Tapi, kenapa? Kenapa kau memberikannya padaku?" tanya Baekhyun penasaran. "Cincin itu kubeli 6 tahun yang lalu. Saat itu, aku berharap akan ada orang yang tepat untuk memakai cincin ini. Memang terdengar berlebihan, tapi cincin ini seperti mengetahui siapa pemiliknya." — "Maksudnya?" Baekhyun memotong perkataan Chanyeol karena tidak paham maksudnya. "Dulu, saat aku masih berpacaran dengan mantanku, cincin ini sempat hilang. Tapi, setelah kami berpisah cincin ini tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Aku sendiri juga tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Tapi yang pasti, selama 3 tahun ini cincin ini tidak pernah menghilang." Lanjut Chanyeol menjelaskan apa yang ia maksud tadi. "Jadi, maksudmu cincin ini memilihku? Wah, hebatnya. Terima kasih kau telah menungguku selama ini, cincin. Sekarang kau berada di tangan yang tepat. Hihi" Baekhyun berbicara dengan cincin tersebut dan tertawa pelan. "Sini, biar kupakaikan." Chanyeol mengambil cincin itu dari tangan Baekhyun dan memakaikannya. "Yeol, terimakasih banyak. Kau telah memberikanku segalanya. Aku sangat beruntung menjadi kekasihmu. Bukan karena materi yang berlimpah, melainkan ketulusanmu yang benar-benar besar. Dari luar maupun dari dalam, kau benar benar mengagumkan." Mata Baekhyun berbinar-binar mengatakan hal tersebut.
