"Soo, jika suatu saat aku harus pergi jauh darimu, bagaimana?"

"Kau mau pergi? Tapi kau berjanji untuk tidak meninggalkanku, Kai. Hiks"

"Aku tahu. Tapi ini hanya sebuah pertanyaan. Apa kau akan merindukanku dan terus mengingatku?"

"Tentu. Aku tak akan pernah melupakanmu barang sedetikpun, Kai."


Preview last chap:

"Baik, Kris uisanim. Kami akan selalu mencoba dan berusaha yang terbaik untuk Suho. Gamsahamnida,"


Bau rumah sakit lagi. Aku seolah sudah sangat bersahabat sekali dengan bau ini. Tubuh ini terasa agak kurang nyaman. Apa mungkin karena dulu tubuhku tinggi dan sekarang aku masuk ke tubuh yang lebih pendek?

TAK!

"Aw!"

"Kau mengataiku pendek?"

"H-hyung?"

"Kau ini, masih untung Tuhan mengizinkanmu masuk ke tubuhku. Sekarang malah menghinaku. Mau ku minta ke Tuhan mencabutmu dari situ?"

"Ya! Hyung! Aku kan hanya bercanda! Lagipula, kau ini selama hidup jarang minum susu atau apa hyung? Kenapa tubuhmu masih lebih pendek dariku?"

"KAU!"

"I'm joking hyung! Ampun. Aku hanya bercanda. Ku mohon jangan bilang apa-apa pada Tuhan. Hah, kau ini tukang ngadu sekali, hyung. Ada apa kau tiba-tiba mengagetkanku, hyung? Katamu kau akan muncul jika ada hal penting saja?"

"Ya Tuhan. Kenapa tubuhku yang nyaris sempurna itu Kau berikan pada jiwa macam dia? Aku kemari membawa pesan dari Tuhan. Kau punya waktu satu bulan dalam tubuhku, untuk menemui orang yang kau cintai lalu membuatnya percaya, bahwa kau benar-benar mencintainya dan kau kembali untuknya. Kau juga harus menyelesaikan keinginanku yang belum terwujud."

"SATU BULAN? Kau gila hyung? Itu waktu yang sangat singkat. Bagaimana aku bisa menemukannya dan membuatnya percaya bahwa ini adalah aku? Keinginanmu? Apa itu hyung? Dan jika aku bisa menyelesaikan semuanya, apa yang ku dapat?"

"Ne, satu bulan. Entahlah, itu tergantung caramu. Aku hanya menyampaikan pesan dari Tuhan. Kau tahu yeoja yang bersama kedua orangtuaku kemarin? Aku mencintainya. Keinginanku adalah menyatakan perasaanku padanya, lalu menikahinya. Aku tak tahu apa yang Tuhan akan berikan padamu, yang jelas, lakukan saja perintahNya itu"

"Menikahi Lay noona? Yang benar saja hyung, aku bahkan tidak mencintainya, bagaimana bisa kau menyuruhku untuk menikahi Lay noona?"

"Yang menikah dengan Lay itu tubuhku, Kai. Jiwamu tentu saja tidak. Lagipula, saat kau selesai dengan tugasmu, aku tak akan lagi ada disini."

"Ma-maksudmu, ka-kau kembali ke sana? Bersama Haneunim? Lalu kau meninggalkanku dengan Lay noona? Ya hyung! Bukankah itu curang?"

"Keputusan Tuhan akan akhirmu nanti tergantung caramu sendiri menyelesaikan tugasmu, Kai. Aku hanya bisa membantumu dan mengingatkanmu. Tidak boleh ada orang yang tahu bahwa aku ada di sekitarmu. Rahasiakan ini dari siapapun sampai satu bulan waktumu nanti. Jika kau melanggarnya, kau akan pulang lebih cepat, Kai"

.

.

.

Kyungsoo pov

Pagi ini harapanku masih sama. Pembuat ribuan pesawat kertas itu muncul di hadapanku dengan pesawat kertas baru buatannya dan mengucapkan selamat pagi untukku. Tapi nihil. Lagi-lagi aku hanya menemukan Chanyeol disana. Satu-satunya namja yang selama ini kuanggap sebagai sahabatku bersama Lay eonnie, Xiumin eonnie dan Tao eonnie.

Ini sudah hampir 2 minggu sejak hari dimana aku menyadari bahwa dia benar-benar pergi dengan satu alasan yang membingungkanku. Dia mencintaiku.

"Selamat pagi putri tidur. Sudah benar-benar bangun dari hibernasimu?"

"Sepertinya begitu. Dia terlihat seperti sedang melamunkan sesuatu. Ya Kyungie, kami datang membawa caramel cake kesukaanmu!"

"Halooooooo! Kyungieeee?"

"A-ah, ha-halo eonnie. Kalian datang? Euh, bogoshippoyo eonnie"

"Ah, noonadeul. Selamat pagi, maaf aku baru bangun. Harusnya aku yang menjemput kalian ya,"

"Gwaenchana Chanyeol. Kami tau kau pasti lelah menjaga Kyungsoo, jadi kami memutuskan untuk kesini sendiri. Lagipula, tadi kami kesini diantar oleh sepupu Lay, jadi tidak masalah"

"Jinjja? Ya sudah, karena kalian sudah disini, aku akan pulang saja. Aku ada kuliah nanti jam 9. Aku pulang dulu, Kyung. Take care"

"Gomawo Yeollie. Pay!"

CKLEK!

BLAM!

"Jadi bagaimana kondisimu, Kyungie? Apa sudah semakin membaik?"

"Ne, eonnie. Kadang masih sedikit pusing tapi berkat Chanyeol yang selalu memaksaku untuk makan teratur dan minum obat dari dokter, sepertinya kondisiku berangsur membaik dari dua minggu lalu."

"Wah, Yeollie benar-benar tahu cara membuatmu sehat kembali ya Kyung. Tak salah aku punya namsaeng macam dia."

"Haha, kau memang tak salah punya namsaeng macam Chanyeol, Tao. Tapi, Chanyeol lah yang salah punya noona sepertimu. Mana ada kakak yang lebih manja dari adiknya?"

"Memangnya kenapa? Manja begini, aku tetap Park Zi Tao. Noona tercantik dan satu-satunya dari Park Chanyeol."

"Ya Tuhan, kalian ini. Kyungie kan baru saja sembuh, kenapa malah meneruskan hobi berdebat kalian disini, sih? Kasihan Kyungsoo,"

TUK!

TUK!

"Ya Lay! Kenapa kau memukul kepalaku?

"Karena kalian berisik. Kyungsoo terganggu pasti. Sudahlah, lebih baik kita makan saja kue yang tadi kita bawa. Ini untukmu, Kyungie."

"Gomawo eonnie. Hihi, gwaenchana. Aku malah rindu dengan perdebatan Tao dan Xiumin eonnie. Hm, eonnie, bagaimana keadaan Suho oppa? Kudengar dia benar-benar sudah kembali sehat?"

UHUK!

"Su-Suho? Di-dia baik. N-ne, dia sudah sehat. Ta-tapi..."

"Wae geurae eonnie? Tapi kenapa?"

"Dia amnesia. Dia tak bisa mengingatku. Tak bisa mengingat keluarganya. Tak bisa mengingat apapun."

"Ommona! Pasti kecelakaan itu membuat shock cukup berat untuk otaknya. Kris ge juga bilang kalau Suho ge sehat lagi itu benar-benar sebuah keajaiban!"

"Benar, aku mengakuinya. Itu adalah sebuah keajaiban Tuhan yang benar-benar aku harapkan. Jujur saja, aku belum siap kehilangannya. Aku..."

"Kau mencintainya, kan? Kenapa kau tidak mengatakannya saja padanya, Lay? Buat dia mengenang segala kegiatan rutinmu bersamanya dulu. Aku yakin, jika dia juga mencintaimu, ingatannya tentangmu akan cepat pulih."

"Ah, aku setuju dengan pendapat Xiu eonnie, Lay eonnie. Bagaimana jika besok, kita adakan pesta kecil-kecilan disini? Ya, dalam rangka kesembuhanku dan tentu saja Suho oppa juga. Kita dekor ruang tamu menjadi penuh pernak-pernik tentang Lay eonnie dan Suho oppa. Ya tentu saja ada pernak-pernik tentangku juga, sih."

"SETUJU!"

Kyungsoo pov end

.

.

Langit itu seperti mengajak mataku bermain. Menebak bentuk-bentuk awan yang kadang berbentuk kelinci, anjing, burung, dan entah ini hanya perasaanku saja atau bagaimana, tapi ada satu awan yang seperti membentuk siluet wajahmu. Ah, belum apa-apa aku sudah merindukanmu saja, ne?

"Junmyeon?"

"..."

"Kim Junmyeon?"

"..."

PUK!

"Ya Tuhan, apa kau sedang menulikan telingamu dari suara eommamu sendiri, Kim Junmyeon?"

"A-ah, e-eomma. Maaf, aku tadi sedang melamun. Ada apa eomma memanggilku?"

"Melamun? Tumben sekali, chagi. Kau tidak biasanya suka melamun? Makanan sudah siap, appamu sudah kelaparan di meja makan. Yixing juga sudah datang, kau pasti senang kan dia ada disini? Dan eomma sarankan, kau cepatlah melamarnya! Kau tahu, eomma sudah tak sabar untuk segera menimang cucu!"

MATI AKU. Apalagi ini? Menimang cucu? Ommona. Aku bahkan tak sedikit pun mengenal Lay noona. Bagaimana aku bisa menikahinya dan ... aahh, Tuhan kenapa tugasmu kali ini berat sekali?

"A-ah, a-apa yang eomma bicarakan. A-aku tidak paham."

"Haish, kau ini. Tidak paham tapi mukamu jadi merah begitu. Dasar anak muda, sudah segera turun. Kau tak mau jadi appetizer appamu kan?"

"N-ne eomma, aku segera turun"

CKLEK!

"Suho hyung!"

CRING!

"Ada apa?"

"Tak perlu ku jelaskan lebih lanjut, kau pasti mendengarnya. Bagaimana ini? Aku harus apa?"

"Berjuanglah Kai. Aku tak bisa terus menerus muncul membantumu. Kau harus melakukan semuanya dengan caramu sendiri. Siapa tahu Tuhan akan memberimu kesempatan untuk hidup lagi?"

"Ommona!Tapi, bukankah aku sudah hidup lagi? Ya, walaupun dengan tubuhmu."

"Ya, siapa tahu Tuhan akan memerimu kesempatan hidup dengan tubuhmu sendiri. Cerdaslah, Kai. Tuhan tak mungkin memberimu tugas tanpa ada imbalan di belakangnya."

"Ah benar juga. Kalau begitu, aku akan merencanakan segala sesuatunya hyung. Tapi tetap saja, kau harus membantuku mengenal siapa Lay noona lebih baik. Malam ini, kau harus berada disini, menjelaskan siapa Lay noona sedetail mungkin. Ya setidaknya, hal-hal yang perlu ku tahu saja."

"Arrasseo. Tunggu aku jam 9 malam, aku akan ada disini. Haneunim tidak mengizinkanku berada di dunia seharian. Aku hanya punya kesempatan 3 kali untuk muncul membantumu. 2 kali di siang hari, dan 1 kali dengan durasi cukup lama di malam hari. Dari jam 9 malam sampai matahari terbit, aku akan bisa membantumu secara leluasa."

"Aigo. Ribet sekali peraturannya. Baiklah, aku akan menunggumu. Tapi memangnya jika aku memanggilmu saat siang hari, kau tidak bisa menemaniku lama?"

"Dari 2 kali kesempatanmu bertemu denganku saat siang hari, masing-masing kesempatan, waktuku hanya 15 menit."

"MWO? Yang benar saja, hyung. Bagaimana jika aku benar-benar membutuhkanmu dan itu lebih dari 15 menit?"

"Jika kau memanggilku untukmembantumu selama 30 menit, kau sudah memakai 2 kesempatanmu. Jadi kau hanya akan bisa memanggilku lagi saat malam. Karenanya, pergunakan kesempatanmu bertemu denganku sebaik mungkin. Ingat, hanya untuk hal-hal yang sangat penting! Ini sudah hampir 15 menit, segeralah turun, sampaikan salam rinduku untuk Lay, eomma dan appa, ne Kai? Pay!"

CRING!

Aish. Suho hyung memang menyusahkan sekali. Apa-apaan itu pakai acara salam rindu segala? Ommona, aku harus bagaimana ini?

.

"Akhirnya kau turun. Hampir saja appa membawa pisau untuk merajangmu bersama sup yang eommamu buat, Suho."

"Mian appa. Aku tadi sedang sedikit bersiap, setidaknya aku tidak boleh terlihat jelek kan di depan Yixing?"

BLUSH!

"Hahaha, jika begitu, kau memang benar-benar anak appa, Junmyeon. Asal kau tahu, dulu appa juga tidak pernah mau terlihat jelek di depan eommamu. Gengsi,"

"Kim Siwon bisakah kau tidak membahas masalalumu yang selalu bersikap sok tampan, itu?"

"Oh ayolah, Kim Taeyeon. Jangan begitu, aku tidak sok tampan, chagiya. Bukankah aku ini memang tampan? Nyatanya Junmyeon tampan, berarti dia memperoleh gen tampan dariku."

"Kalian ini selalu saja berdebat sebelum makan. Bisakah kalian berhenti berdebat dan memulai makan malamnya, appa, eomma? Aku lapar, sangat lapar."

"Haish dasar ka-... Tunggu dulu, kau tadi bilang apa Kim Junmyeon? Selalu begitu? Apa kau sudah ingat bahwa kami ini memang sering berdebat ketika akan makan?"

"Ha? Be-benarkah? Mu-mungkin aku sedikit ingat. Entahlah, tadi ucapanku mengalir begitu saja, appa, eomma."

"Baiklah. Kami anggap itu kemajuan darimu, Suho. Nah Yixing, bisa kau ambilkan makanan untuk Suho? Sebagai calon istri Suho, kau harus belajar melayani suamimu dengan baik, ne?"

UHUK!

"EOMMA!"

"Apa? Bukankah kau- ah, baiklah eomma mengerti. Maafkan eomma ne. Maaf ya Yixing, tadi aku hanya menggodamu saja. Tapi tentang menjadi istri anakku itu, kami berdua benar-benar mengharapkannya, lho."

"Betul kata eommamu, Suho. Appa juga sangat setuju jika kalian berdua menikah. Kalian ini terlihat sangat serasi, bahkan appa sudah berteman baik dengan Eunhyuk dan Donghae. Jika benar kalian menikah, itu akan sangat baik."

"Bisakah kita makan saja dan berhenti membahas hal itu? Aku ini baru proses pengembalian ingatan, appa. Kenapa langsung disuruh menikahi, Yixing?"

"Arra arra. Maafkan appa, kalau begitu. Kajja kita mulai makan. Yeobo, aku mau bibimbap saja. Yixing, kau bisa mengambilkan makanan untuk Suho. Tentu saja jika dia mau,"

"N-ne, ahjussi. E-ehm, S-Suho..."

"Boleh, ini piringku. Tolong ambilkan apa saja makanan kesukaanku yang kau tahu."

"N-ne,"

Zhang Yixing. Apakah aku benar-benar akan menikahinya?

.

.

.

Reviene lagi chingudeul... aku sudah baca review-reviewnya mian belum bisa balas :"D.