TENTANG KEHIDUPAN
Pagi yang indah, cerah, dan berisik di kediaman keluarga Nara.
"SHIKAMARU! ayo cepat bangun, nanti kau terlambat ke sekolah!" Teriakan dari sang pemimpin koloni bangsa Nara yang bernama Yoshino menggema di seluruh penjuru kediaman Nara.
"Aku tidak sekolah hari ini bu, aku harus ke kantor polisi untuk menyelesaikan kasus pembunuham itu!" jawaban tanpa pertanyaan itu di lontarkan dengan nada malas dari sang Nara muda yang baru bangun tidur karena teriakan membahana seorang ibu yang merepotkan menurutnya.
"APA, sudah ibu bilang kau tidak boleh lagi mengurus kasus itu! nanti kalau kau yang terbunuh bagaimana?" amuk sang ibu murka. Pasalnya anak ini durhaka ini tidak mau menuruti perintahnya.
"Mendokusai" yah, hanya satu kata andalan Nara yang keluar dari bibirnya.
"Cepat mandi sana! jangan selesaikan kasus ini, nanti kau mati dengan eek di mayat mu bagaimana? kau mau jadi seperti si Kakuzu itu? Ibu khawatir kalau saja kau akan terbunuh seperti itu Shikamaru! pembunuh itu, kalau kau sudah melihatnya dia tidak akan segan-segan menghabisimu Shikamaru!" cerocos Yoshino sampai air jigongnya muncrat.
"Tidak akan, aku harus bisa balaskan dendam ayah" ujarnya dengan nada yang dingin dan ekspresi yang sangat serius.
.
.
.
.
Jauh dari kediaman Nara lebih dari setidaknya 4 orang sedang membicarakan sesuatu yang menjadi dasar atas pembunuhan ini.
"Bagaimana, tuan Gaara?" tanya seorang pria yang menutupi sebelah wajahnya dengan kain.
"Hm, rencanamu itu tidak di perlukan Baki" jawabnya dengan nada datar dan ekspresi yang dingin, "Aku sudah tau harus membunuhnya dari awal" sambungnya lagi dengan nada yang masuh datar.
"Tapi, tuan ini tidak baik! anggota keluarga Sabaku hanya masih kalian bertiga, jangan saling membunuh!" Matsuri tidak terima.
"Tenang aku akan memberinya sedikit rasa senang," balas seorang wanita yang di ketahui namanya sebagai Pakura.
"Hn, kau basmi saja bajingan kecil itu dan aku si keparatnya, bagaiamana?"
usul seorang Uchiha.
"Tidak, aku akan membunuh mereka! benarkan tuan Gaara?" tanya seseorang dengan kepercayaan tinggi yang sangat tinggi.
"Jangan kau bunuh mereka,Shira" balas Gaara, "Biar aku yang mengbisinya, untuk balas dendam," sambungnya sambil tersenyum licik.
"Apa aku harus melaporkan ini kepada nona Temari?" tanya pria berambut merah lainnya yang dari tadi bungkam dan langsung saja dia mendapatkan layangan death glear dari 4psikopat.
.
.
.
.
"Padahal kau menyuruhku kesini, tapi kau justru tidak tau harus apa? keparat kau!"
"Diam kalau masih ingin hidup!" bentak orang dengan pakaian seba hitam.
"..." dan Tadaaa bungkam lah si bajingan Uchiha ini.
"Aku kesini bukan tanpa alasan!" bentaknya, "Di sini adalah tempat bajjnganitu membunuh kedua orang tua ku!" sambung pria dengan pakaian serba hitam dengan nada kesal.
"Iya aku tau, tapi jangan membawa aku kesini" bela Uchiha.
"Aku ingin kau membawanya kesini, agar aku bisa bermain dengannya sedikit saja," dengan nada sinis dan disusul senyum licik.
"Kau yakin mau membunuhnya di sini Kakuro? bukankah itu terlalu berbahaya?" tanya Sasuke terkejut sekaligus tak terima.
"..." tidak ada jawaban dari Kankuro. Ya, dia tahu kalau kalau dia tidak punya tempe?
Sebenarnya dia tau, mustahil baginya mengalahkan orang yang dengan mudahnya merenggut nyawa kedua orang tuanya. Padahal sang ayah Sabaki Rei sangat hebat dalam bertarung dan ibunya yang sadis.
Ya, mau bagaimana lagi namanya juga 'buta akan dendam' itulah pikirnya. Dia tau pasti kehebatan bertarung sang ayah dan berapa sadisnya sang ibu yang tidak segan-segan menghabisi siapapun menurun pada orang yang telah menghabisi mereka, sang kakak.
.
.
.
.
"Hei, Temari mau ikut pesta di kamar denganku malam ini?" tanya pria yang jelas ia sudah tau siapa itu, Naruto.
"Hn, boleh saja" ujarnya sambil tersenyum, "jika kau bisa membunuh Uchiha dan Yamanaka itu" sambungnya dengan nada datar.
"Kampret" balas Naruto, "padahal gue kan mau buatin lu anak!" sambungnya.
Temari Pov
Naruto Uzumaki yang kampret ini sekarang pindah duduk di samping gue, pakai megang paha gue lagi!
Kalau bukan di sekolah udah gue congkel tuh mata.
Tapi, dari pada gini terus kan, gue sikut aja tuh mukanya kuat-kuat.
"Woy, lu tau sakit gk sih!?" tanya si kampret dengan muka yang menurut gue norak banget.
Gue jawab aja langsung, "Gk".
Dan dengan seenak kata dia ngejawab, "Kampret lu gue nih anak yang punya sekolah tau gk sih!?" tanyanya, yah mana gue tau.
"Lu tuh yang gk tau rasa sakit jangan sembarang nonjok dong!" teriaknya.
Ih, rasa sakit gue lebih sakit dari dotonjok tau gk sih gue nih punya rasa 'sakit hati' karema keluarga gue udah die semua
"Terserah kamu aja mau apa" ujarku sekenannya.
"Kampret dah" balas nih orang.
End Temari Pov
.
.
.
.
"Bagaimana, Sasuke?" tanya orang itu.
"Apa? nasib boker gue?" tanya balik Sasuke yang lagi makan pisang sambil ngupil dengan tidak elitnya.
"Tiga orang itu WTF!"
"Selo la bang, bise ku lah yang ngurus e" sahut Sasuke santai dengan bahasa Mentok ala kadarnya.
"Baik, kalau begitu kau harus bunuh mereka, bunuh juga Temari" ujarnya dingin sedingin lemari es yang menyelam ke dasar laut di antartika.
Sasuke langsung membeku seketika, "Jangan, biar aku yang menyelesaikannya jangan bunuh dia juga!"
"Kalau begitu kau saja yang mati!" teriak orang itu sanbil berlari menghantam tubuh Sasuke.
Crash!
.
.
.
.
23 agustus 2003
"Kak, hentikan semua ini apa kau gila!" teriak Kankuro murka melihat kakak tercinta membunuh ayah tepat di depan matanya.
"Apa urusanmu?" tanya sang kakak dingin sedingin telanjang di laut kutub selatan.
"Kenapa? kenapa? kenapa, kau jadi begini!" teriak Kankuro sambil mengeluarkan katana miliknya dan siap menyerang sang kakak walau resikonya adalah kematian.
"Aku tidak ada urusan denganmu" balas Temari datar sambil menangkis serangan yang Kankuro berikan kepadanya, "Kau memang sehebat ayah Kankuro" sambunya.
"BERISIK, kenapa kau membunuh ayah!?" Kankuro teriak, "pedangmu itu adalah hadiah ulang tahunmu dari ayah kan, kenapa?".
"Kenapa, kau masuk ke sini?" tanya Temari tanpa mengindahkan pertanyaan Kankuro.
"Itu, karena aku ingin mengatakan sesuatu kepada ayah," jawabnya dengan agak keringat dingin yang mulai bercucuran melihat sang kakak yang telah menmpatkan katananya di bagian leher Kankuro.
"Aku hanya mengakhiri penderitaan orang itu," kata Temari sambil melihat ke arah ayahnya yang tergeletak di lantai dengan berlumuran darah, dan menyerang tengkuk Kankuro dan membuatnya pingsan.
"Sialan, kau Temari" geram Kankuro.
"Permisi tuan, aku datang membawa laporan pihak kepolisian yang mengatakan bahwa Sasori tewas tak berdaya dengan bagian perut yang terkoyak," ujar nya dan sontak membuat Kankuro terkejut.
"Baik, keluarlah" balas Kankuro kepada anak buahnya yang bernama Kiba tersebut.
'Sasori tewas, apa kau yang membunuhnya kak? kenapa, kau mengubah dirimu? kemana sosokmu yang lembut dan perhatian itu kak? ' tanya Kankuro kepada dirinya sendiri.
.
.
.
.
23 Agutus 2003
"Kak Temari" panggil Gaara masuh berusia 12 tahun kepada sang kakak, Gaara melihat pemandangan yang mengerikan yang belum pernah ia lihat di sini sebelumnya.
Kedua orang tuanya yang sudah di lumuri oleh darah, Gaara melihat kakak laki-laki nya sedang terbaring di atas sang ayah yang sudah berlumuran darah dengan katana yang di lumuri darah tak jauh dari sana.
Kakak permpuannya yang menatap sinis ke arah Gaara dan ibunya sudah lemas terbaring tak berdaya di bawah kaki sang kakak perempuan.
"Apa yang kau lakukan, Temari?" tanya Gaara sambil gemetar dengan perbuatan kakaknya.
"Mengakhiri dunia ini, merenggut semuanya," itulah jawaban Temari yang tidak bisa di mengerti oleh Gaara saat itu.
"Kenapa caranya seperti ini, kak!" balas Gaara dengan pandangan mata penuh kebencian dan dendam, membuat Temari puas.
"Menciptakan dendam yang berkepanjangan itu bagus bukan?" Tanya Temari dan seketika itu juga Gaara langsung pingsan di tempat.
"Mengakhiri dunia ini, dan merenggut semuanya" ucapnya, "Apa maksudmu itu, mengambil semua kebahagian kita?" lirih Gaara dengan perasaan bingung bin galau.
"Tuan Gaara, nona Temari sudah mengunggu di depan," Kata seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan Gaara tanpa permisi.
"Aku segera datang Tayuya" balas Gaara datar sedatar tembok baja di lapis beton emas.
Gaara pun turun dan mendapati seseorang yang selama ini dinantinya.
TBC
Hai, chapter empat up date!
Gimana udah panjang belum.
Salam kenal juga buat PratiwiPrasaribu
Nih, ceritanya udah Author panjangin karena di sini banyak kata-kata kotor jadi diubah ke Rate M
OK
REVEUW
fanfic gembel ku ini ya
