The Naked Truth
"Aku sudah tahu rahasia yang ada pada tubuhmu." Ujar Chisato sambil tersenyum tipis.
"E—eh? Apa yang kamu bicarakan, Chii-chan?" Kaoru berlagak pura-pura bodoh.
Chisato mengubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Kaoru.
"Kalau begitu, boleh kupegang letak 'rahasiamu' itu?"
Kaoru tersentak dan reflek memegang kedua bahu Chisato. "Jangan!"
Mereka pun saling diam untuk beberapa detik.
"Hei, Kao-chan…"
"A—apa lagi kali ini?"
"Aku tak akan mengungkit lagi tentang rahasiamu, namun sebagai gantinya…"
"Sebagai gantinya?"
"Jadianlah denganku."
Butuh durasi hampir dua menit bagi Kaoru untuk mencerna kata-kata Chisato.
"EEEEH?!" Kaoru tentu saja kaget lengkap dengan wajah merah padam.
"Fufufu, ahahahahaha!" Chisato tertawa terbahak-bahak.
"Tu—tunggu, ini tidak serius, 'kan?!"
"Kalau permintaan jadiannya tidak, kok~" jawab Chisato sambil menyeka air matanya yang menitik karena tawanya yang berlebihan barusan.
Kaoru menghela nafas lega.
"Tapi kalau perasaanku yang sesungguhnya terhadapmu, siapa yang tahu~?" lanjut Chisato sambil bangkit dari bath tub.
Kaoru menelan ludahnya begitu melihat tubuh Chisato dari atas sampai bawah.
"Hmm? Kao-chan memang mesum, ya?" goda Chisato.
"Ha—hah?! Mana mungkin!" Kaoru langsung mengalihkan pandangannya dari dada Chisato.
Sudah kuduga, memang semakin besar… dadanya Chii-chan… gumam Kaoru.
"Jangan lama-lama mandinya, Kao-chan." Ucap Chisato seraya mengenakan kimono mandinya. "Ah, tapi mitosnya sih orang bodoh tidak akan terkena flu, ya? Fufufu."
Setelah Chisato keluar dari kamar mandi, Kaoru tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Perasaanku terhadap Chii-chan, ya…? Pikir Kaoru sambil menenggelamkan wajahnya sebatas hidung ke dalam air.
"Festival kembang api?" tanya Kaoru keesokan harinya setelah Hina memberikan pamflet yang didapatnya di jalan menuju kampus.
"Yup! Ayo, kita ke sana, Kaoru-kun!" Hina terlihat begitu bersemangat. "Pasti bakal runrunrun banget deh ini!"
"Ah, tapi aku tak bisa janji…" ujar Kaoru. "Aku ada banyak tugas yang deadline-nya mepet-mepet."
Hina menggembungkan pipinya. "Huh! Bilang saja kalau kamu mau ke sana berduaan dengan Chisato-chan!"
Telinga Kaoru memanas begitu nama gadis berambut pirang itu disinggung.
"Hina-san, jangan begitu, ah." Tegur Maya.
"La—lagipula… menikmati festival tidak akan menyenangkan… dengan keadaan terpaksa, 'kan?" tambah Rinko. "I—itu yang selalu dikatakan Ako-chan…"
"Dan lagi kenapa kau tidak mengajak Sayo-san atau Aya-san saja, Hina-san?" tanya Maya.
"Huh… kalau mereka bisa, mana mungkin aku mengajak Kaoru-kun, 'kan?" dengus Hina.
"Ah, benar juga, sih…" kata Maya.
Kaoru bangkit dari kursinya. "Maaf, aku pulang duluan, ya."
"Ah, iya. Hati-hati!" ucap Maya.
Di perjalanan menuju apartemen, Kaoru melihat Kanon yang menemani Misaki belajar di kafe.
"Menempuh jarak cukup jauh dari rumah demi bertemu sang kekasih, ah… Misaki, kau benar-benar hakanai~" Kaoru menghampiri mereka.
"Ah, Kaoru-san…" respon Misaki dengan datar seperti biasa.
"Sore, Kaoru-san." Sapa Kanon.
"Boleh aku ikut bergabung?" tanya Kaoru.
"Boleh asalkan di-limit dulu semua kutipan Shakespeare-mu itu." Jawab Misaki sambil lanjut mengerjakan soal.
"Ahahahaha, Misaki-chan seperti Chisato-chan saja." Gelak Kanon.
"Chisato, ya…?" Kaoru berbicara sendiri.
"Kalian berantem lagi?" tanya Misaki. "Yah, walau bukan berita baru sih kalau kalian berantem."
"Perasaanku terhadapnya, ya…?" Kaoru masih berada di dunianya sendiri.
"Kaoru-san, ada Shirasagi-senpai tuh di belakangmu." Ucap Misaki.
"Hah? Kalau begitu aku pulang du—" Kaoru auto jantungan.
"Tapi bohong." Lanjut Misaki.
Kaoru menghela nafas. "Mou, jangan mengagetkanku, dong…"
"Tapi Kaoru-san sejak tadi kamu terus bertingkah aneh, lho." Ujar Kanon.
"Eh?"
"Makanya aku mengagetkanmu." Jelas Misaki.
"Ah, ahahaha… maaf, aku jadi membuat kalian cemas." Ucap Kaoru canggung.
"Yah, berhubung aku mau istirahat dulu dari soal-soal ini, bagaimana kalau kau curhat saja padaku dan Kanon-san?" saran Misaki.
Kaoru pun akhirnya curhat pada Misaki dan Kanon.
"Itu artinya jelas-jelas kau suka padanya, 'kan?" Misaki menarik kesimpulan.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kaoru-san tidak ingin merusak hubungan pertemanan kalian selama ini, ya?" Kanon mencoba menebak-nebak.
"Eh? Bagaimana kau bisa tahu, Kanon?"
"Karena Kaoru-san baik, sangat baik malahan." Ujar Kanon sambil tersenyum. "Dari cara Kaoru-san menangani para konekochan pun kami tahu kalau—"
"Kalau Kaoru-san tipe yang selalu mengalah." Tegas Misaki.
"Makanya kau tak pernah berani mengungkapkan perasaanmu selama ini pada Shirasagi-senpai, apa kami salah?"
Kaoru menunduk. "Chisato selama ini selalu berjuang sendirian, terluka sendirian, dan jika aku sampai mengungkapkan perasaanku…"
"Hubungan kami akan berubah, aku tak mau itu terjadi…" Kaoru semakin frustasi.
"Hei, Kaoru-san, apa kau tahu kenapa di setiap film atau drama ber-genre romance yang dibintangi Chisato-chan tidak pernah ada adegan ciuman?" tanya Kanon tiba-tiba.
"Eh?"
"Chisato-chan pernah bilang padaku, kalau dia ingin menyimpan ciuman pertamanya untuk orang yang dicintainya selama ini." Jelas Kanon.
"Ta—tapi bisa saja orang itu bukan aku, 'kan?"
"Kalau begitu, kenapa tidak kau pastikan saja?" balas Misaki yang mulai kesal.
"Waktu tahu Shirasagi-senpai lolos audisi di film dewasa saja kau langsung panik, takut keperawanan Shirasagi-senpai diambil orang lain." Sindir Misaki. "Sampai-sampai Shirasagi-senpai sengaja menolak perannya meski telah lolos audisi, hahaha."
"Kaoru-san, berhentilah mengelak." Ucap Misaki. "Kau jelas-jelas jatuh cinta padanya."
"Tidak, jelas-jelas perasaan kalian berbalas, Kaoru-san." Tambah Kanon sambil tersenyum.
"Tadaima…" ucap Kaoru sambil melepas sepatunya.
Ah, dia ketiduran di sofa… gumam Kaoru saat menemukan Chisato tertidur dengan binder yang dipeluknya.
"Dasar, Chii-chan." Kaoru terkekeh pelan sambil mengambil binder itu dari pelukan Chisato dan menggendong gadis itu untuk dibaringkan di kamar.
Usai mandi, Kaoru pun menyiapkan makan malam.
"Ah, udon dan tempura?" tanya Chisato sambil menggeliat.
"Iya, akhirnya kamu bangun juga, Chii-chan." Jawab Kaoru. "Ah, maaf… kamu sedang diet kah?"
Chisato menggeleng. "Tidak, kok. Kebetulan aku ingin makan ini."
"Terima kasih, Kao-chan." Ucap Chisato sambil tersenyum.
Mereka pun makan malam bersama.
"Oh ya, kata Hina ada festival kembang api malam ini." Celetuk Kaoru. "Bagaimana kalau kita lihat dari balkon?"
"Boleh~" jawab Chisato.
Selesai membersihkan peralatan makan, mereka pun duduk di bangku panjang yang ada di balkon sembari menikmati es teh gandum.
"Sudah musim panas, ya?" kata Chisato. "Benar-benar tidak terasa."
"Hmm, kau benar, Chisato."
"'Chii-chan'…" koreksi Chisato.
"Ahahaha, iya iya~"
Chisato menarik lengan baju Kaoru. "Kao-chan, selfie dulu, yuk? Ibuku penasaran kita sedang apa di hari festival kembang api seperti ini."
"Oh, boleh boleh."
Kaoru lah yang mengambil fotonya karena lengannya lebih panjang supaya keduanya tertangkap dalam satu frame tanpa ada yang terpotong.
"Terima kasih, Kao-chan." Ucap Chisato sambil mengirim foto itu ke ibunya.
Keduanya saling diam karena kehabisan bahan obrolan.
"Lama juga kembang apinya." Keluh Chisato. "Ini kapan mulainya?"
"Ahahaha, sebentar lagi, kok." Jawab Kaoru.
Keduanya pun tersentak karena mendengar jeritan dan desahan Kanon dari kamar sebelah.
"Ah, Misaki-chan! Jangan!" seru Kanon yang terdengar panik. "Jangan yang itu… hyaaa!"
"Huh… itu 'kan salahmu sendiri karena lengah, Kanon-san…" dengus Misaki.
Kaoru dan Chisato auto negative thinking padahal mah MisaKanon cuma lagi main UNO.
Kembang api pun mulai diluncurkan satu per satu ke angkasa.
"Indahnya…" Chisato terpana.
Kaoru menggenggam tangan Chisato. "Padahal hanya nonton kembang api dari balkon, tapi Chii-chan sampai niat memakai yukata."
"Fufufu, tidak boleh, ya?"
Kaoru menggeleng. "Tidak apa-apa, Chii-chan terlihat cantik sekali dengan yukata itu."
"A—ah… begitukah?" wajah Chisato memanas. "Oh, kalau pas pakai yukata saja ya aku terlihat cantik?"
"Bodoh, tentu saja tidak." Jawab Kaoru. "Apapun yang dikenakan Chii-chan, pasti Chii-chan selalu terlihat cantik."
"Hmm… Kaoru, apa kamu sedang mencoba menggombaliku seperti yang kamu lakukan pada para penggemar bodohmu itu?" tuding Chisato.
"Apa aku terdengar seperti itu?" volume suara Kaoru merendah, tanda kekecewaan.
"Yah, mau berusaha seperti apapun juga Chii-chan selalu menganggap ucapanku main-main, sih, ya…?"
Chisato menghela nafas. "Maaf… lagi-lagi aku menyakiti perasaanmu."
"Tidak, ini salahku juga yang tak pernah mahir merangkai kata-kata yang tepat saat bersamamu." Ucap Kaoru.
"Kaoru… apakah ada yang ingin kamu sampaikan padaku?"
Kaoru menyentuh pipi kiri Chisato, membuat mereka saling menatap satu sama lain.
"Chii-chan, aku mencintaimu."
Belum sempat membalas, mulut Chisato pun terkunci. Bersamaan dengan tamaya yang menghiasi langit malam pertama musim panas, Kaoru sukses merebut ciuman pertama Chisato.
