Why am I alone?

I'm all alone, I need someone

I need someone right now

.

.

.

Tidak ada yang lebih penting lagi bagi Namjoon kecil selain tiga hal. Ibunya, ayahnya, dan tetangga sekaligus sahabatnya yang paling cantik, Kim Seokjin.

Namjoon kecil sangat tahu bahwa Seokjin adalah anak lelaki, sama sepertinya. Tapi matanya tidak bisa dibohongi, wajah Seokjin sangat cantik. Itu bukan masalah untuk Namjoon kecil, dia tetap bermain dengan Seokjin yang dua tahun lebih tua darinya.

Namjoon kecil senang bermain dengan Seokjin. Seokjin hyungnya adalah teman yang sangat mengerti dirinya, Namjoon kecil bahkan ragu bahwa ibunya tahu lebih banyak tentang dirinya dibanding Seokjin.

Namjoon kecil tidak ingin makan bila tidak makan bersama Seokjin. Karena itu Ibu Namjoon selalu mengajak Seokjin makan di rumah mereka, mulai dari sarapan hingga makan malam. Ibu Seokjin tidak masalah, dia senang melihat interaksi keduanya.

Namjoon kecil tidak akan tidur jika dia belum bertemu Seokjin. Karena itulah Ibu Namjoon memindahkan kamar Namjoon yang sebelumnya berada di bawah menjadi di atas, yang memiliki balkon yang berhadapan dengan kamar Seokjin. Jadi Namjoon kecil bisa terlelap dengan pulas.

Tapi itu adalah Namjoon kecil. Namjoon kecil yang polos dan penyayang Seokjin sudah berubah menjadi Namjoon dewasa yang berwibawa, bertanggung jawab, dan sibuk. Ayahnya meninggal ketika usia Namjoon menginjak dua puluh satu, membuat Namjoon mau tidak mau melepas masa bermainnya dan masuk ke dunia penuh perhitungan dan tanggung jawab.

Dia mendapat hampir segalanya, uang, pernghormatan, kekuasaan, hanya saja hatinya tidak mendapat apa yang seharusnya didapatkan. Namjoon selalu berpikir bahwa dia terlalu sibuk untuk itu. Dunia bisnis ini kejam, belum lagi dia adalah CEO termuda yang pernah ada. Dan pikiran masih ada waktu untuk cinta selalu datang ke pikirannya.

Tepat pukul dua belas siang, sebuah kotak makan akan selalu sampai di meja kerjanya. Kotak makan pink berisi bibimbap yang selalu Namjoon sukai. Di atas kotak makan akan selalu tertulis nama si pengirim. Kim Seokjin, sahabatnya hingga sekarang.

Setahun tidak bertemu apa masih bisa dianggap sahabat? Baik Namjoon ataupun Seokjin tidak pergi kemana pun. Namjoon hanya terlalu sibuk di ruang kerjanya. Jika pulang pun dia akan langsung tidur, tapi dia tidak sempat melihat Seokjin. Kamarnya masih berada di kamar yang sama. Kamar yang berhadapan dengan kamar Seokjin. Tapi tentu saja kamarnya yang sekarang terlihat jauh lebih dewasa.

Namjoon tidak tahu dengan Seokjin. Dia ingat bahwa kamar Seokjin didominasi oleh warna putih dengan beberapa dekorasi berwarna merah muda. Terlihat feminim, tapi itulah yang Seokjin suka. Namjoon sering merasa penasaran mengenai kamar Seokjin, hanya saja dia tidak memiliki waktu walau hanya untuk sekedar mengintip.

Ah.. Namjoon kecil adalah bocah yang sering melupakan syal saat musim gugur dan dingin. Membuat dirinya mudah diserang oleh flu. Namjoon rasa Seokjin ingat itu, jadi lelaki itu selalu menghadiahkan sebuah syal setiap dua minggu sekali meski masih terjebak di musim panas.

Sebenarnya hidup Namjoon itu membosankan. Hanya saja satu Kaws setiap harinya disertai note 'Fighting! 3' setiap harinya membuat semangat Namjoon terpompa.

Tapi semua itu tidak membuat Namjoon tertarik untuk memulai suatu hubungan dengan Seokjin. Namjoon akui, Seokjin itu tipenya meskipun dia adalah lelaki. Dia tidak masalah dengan itu. Seokjin juga perhatian padanya, itu hal yang penting. Tapi Namjoon tidak memiliki hasrat untuk memulai suatu hubungan. Dan Namjoon pikir perasaan yang dia rasakan untuk Seokjin adalah perasaan sahabat kepada sahabatnya. Tidak lebih.

Namjoon pikir Seokjin mengerti. Tapi ketika Seokjin datang dengan sebuah kotak makan tepat pukul dua belas siang, juga sebuah kotak hitam besar dan mengatakan bahwa dia mencintai Namjoon.. itu mengejutkan Namjoon.

Namjoon tidak ingin menyakiti perasaan Seokjin, ditambah mereka baru bertemu setelah satu tahun. Tapi dia mengatakan pada Seokjin bahwa dia tidak tertarik, pada hubungan romantis ataupun pada Seokjin.

Hati Namjoon lega ketika Seokjin melebarkan senyumnya dan berkata bahwa itu bukan masalah dan dia ingin melanjutkan persahabatan mereka. Namjoon tidak salah, Seokjin adalah sahabat yang baik untuknya.

Bahkan hubungan mereka mengerat. Namjoon belajar cara membagi waktu antara waktu kerjanya dengan waktu yang dia habiskan dengan Seokjin. Jika pekerjaannya menghalanginya dari bertemu Seokjin, maka dia akan membawa pekerjaannya serta. Bahkan sekarang Namjoon lebih sering membawa pekerjaannya ke kamar Seokjin, bekerja dengan Seokjin yang juga bekerja. Seokjin adalah seorang interior decorator.

Tapi kemudian Seokjin lenyap begitu saja. Persahabatan mereka yang terjalin kembali berjalan enam bulan dan tiba-tiba lelaki cantik itu menghilang, membuat Namjoon kelimpungan. Namjoon bertanya pada ibunya, tapi tidak mendapat jawaban. Kakinya berlari ke rumah Seokjin, tapi gerbangnya dikunci. Lalu seorang nenek yang tinggal berseberangan dengan Seokjin memberitahu Namjoon bahwa Seokjin dan keluarganya pindah secara mendadak malam kemarin.

Tidak ada petunjuk. Namjoon merasa kosong. Waktunya menjadi sangat berantakan. Biasanya ada Seokjin yang mengingatkannya tentang segala hal yang harus dia lakukan, tapi sekarang hanya ada dirinya. Telinganya seolah tuli dengan ucapan sekretarisnya sendiri. Bahkan ibunya pun tidak Namjoon dengar.

Lalu dia mendapat harapan melalui sebuah email. Alamat email yang menyelipkan nama Seokjin di dalamnya. Namjoon tidak pernah membuka email secepat saat dia membuka email itu.

Itu Seokjin, mengirim foto sebuah sungai dan menuliskan bahwa dia hidup dengan baik dan sangat merindukan Namjoon.

Senyum Namjoon terlukis lebar. Dia dengan cepat mengetikkan serangkai kata. Memberitahu Seokjin bahwa dia kelimpungan mencarinya. Bahwa waktunya berantakan karena dia menghilang. Bahwa dia juga sangat merindukan Seokjin.

Seminggu dia berbalas email, lalu Seokjin tidak pernah membalas satu pun email yang Namjoon kirimkan. Namjoon bertanya-tanya ada apa. Keinginan untuk menyusul Seokjin sangat besar, sayangnya dia tidak tahu kemana Seokjin pergi. Selama ini Seokjin hanya mengirim foto beberapa pemandangan disertai serangkai kata yang membuat senyum Namjoon mengembang dengan sendirinya.

Lalu dia dibuat tidak bisa tidur hanya karena mendengar dari ibunya bahwa keluarga Seokjin akan kembali.

Banyak hal masuk ke pikiran Namjoon. Tentang bagaimana Seokjin membuatnya kacau. Bagaimana Seokjin membuatnya senang. Bagaimana Seokjin bisa mengendalikan dirinya. Bagaimana Seokjin seolah mengatur kehidupan Namjoon. Lalu dia mendapat satu jawaban.

Bahwa dia mencintai Seokjin.

Lalu muncul kata andai. Andai dia tidak bertemu Seokjin, apa dia bisa jatuh cinta? Andai Tuhan tidak membuat Seokjin datang ke ruangannya, akankah Seokjin tetap masuk ke dalam hatinya?

Tidak lama kemudian Namjoon sadar, bahwa setelah ini yang seharusnya dia lakukan adalah menjadikan Seokjin pendamping hidupnya. Bukan berandai-andai hal yang buram untuk dilihat.

Saat matahari baru mengintip Namjoon sudah sangat siap dengan setelan jas ditubuhnya. Kakinya melangkah turun dan menemukan ibunya berdiri di anak tangga terakhir. Namjoon menunjukkan senyumnya, menyapa ibunya.

Tapi ibunya membalikkan tubuhnya dan menyuruh Namjoon untuk ikut dengan beliau. Itu pertama kalinya Namjoon dibuat bingung oleh ibunya. Itu juga kali pertama bagi Namjoon untuk melihat ibunya berdiam diri di sepanjang jalan.

Mereka sampai. Pohon-pohon yang tidak terlalu besar, angin sejuk, dan gundukan-gundukan tanah. Namjoon kenal dengan tempat itu, itu pemakaman, tempat dimana ayahnya beristirahat untuk waktu yang sangat lama.

Langkah Namjoon mengikuti langkah ibunya. Dahinya berkerut ketika jalan yang mereka ambil berbeda dengan jalan yang biasa mereka lewati setiap kali mengunjungi makam Ayah Namjoon. Lalu langkah ibunya berhenti, membuat Namjoon ikut memberhentikan langkahnya. Mata Namjoon memandangi makam di depannya.

Kim Seokjin. Terpatri begitu rapi di atas batu itu. Bingkai yang membingkai foto si cantik juga diletakkan dengan rapi. Ada banyak bunga di atas gundukkan itu.

Namjoon merasa sangat bingung.

Apa ini?

Apa maksudnya?

Lalu dia mendapat penjelasan. Bahwa Seokjin berjuang melawan AIDS yang dia dapat dari jarum suntik saat mendonorkan darah. Bahwa Seokjin ke Amerika untuk menyembuhkan dirinya, hanya saja sama sekali tidak membuahkan hasil. Bahwa Seokjin sudah mencoba bertahan hanya untuk bisa menemui Namjoon, yang sayang sekali juga tidak membuahkan hasil.

Air mata Namjoon menggenang dan mengaliri kedua pipinya. Tangannya terkepal.

Ini begitu menyakitkan.

Baru saja dia menanamkan cinta dihatinya, tapi Tuhan mencabutnya paksa. Meninggalkan lubang yang begitu besar. Meninggalkan perasaan kosong yang menyiksa.

Dan mulai saat itu Namjoon berubah menjadi Namjoon yang belum bertemu kembali dengan Seokjin. Bahkan lebih buruk dari itu. Namjoon sama sekali tidak tersenyum. Tidak bersikap ramah. Lebih sering menghabiskan malamnya untuk minum di apartemen yang dia beli dua hari setelah Seokjin beristirahat di dalam gundukan tanah.

Dia begitu dingin saat matahari bertahkta, tapi begitu rapuh ketika bulan menyapa. Air mata selalu jatuh di atas kertas-kertas yang berserakan di mejanya. Isakannya menggema di seluruh ruang apartemennya. Dia merasa kosong.

Dan dia butuh Seokjin untuk mengisinya.

.

.

.

END

Ahah, apa ini? :")

Makasih buat kalian yang baca dan follow :))

Oh iya, kalau kalian mau request cerita dari lagu Day6 jangan sungkan :) cerita ini hasil request dari cintyap. Sayang banget dia muncul as a guest. Tapi ngga apa-apa, dia bikin aku nulis cepet-cepet dan akhirnya publish ini :)

Maaf kalau ngga memuaskan :(

Maaf kalau ada typo :(

Have a nice day! Peace.