Title : Surrender To Forget You

Disclaimer : Naruto belongs only to Masashi Kishimoto-sensei

Warning : AU, typo(s), OOC, no intention for bashing any chara, etc

.

Rated M

.

This is my first fanfiction. I hope it doesn't make you regret after read this story.

All the story contents are purely from Haruta Rin.

.

Don't Like Don't Read

.

.

CHAPTER 3

.

"Oi, bocah sialan. Apa yang kau lakukan di tempat bermain kami lagi, ha?"

Tiga anak lelaki berdiri menjulang dengan tubuh besar mereka di hadapan seorang bocah berusia lima tahun yang duduk di sebuah ayunan yang terletak di taman kompleks. Tiga lelaki yang terlihat berusia sekitar tujuh tahunan itu menatap remeh pada orang di hadapan mereka. Salah seorang dari mereka yang berbadan paling besar menggoncang-goncangkan rantai ayunan yang bocah lima tahun itu duduki.

"Oi, Oi. Kenapa kau diam saja, ha? Cepat pergi dari sini!" bentaknya.

Bocah berusia lima tahun itu hanya duduk diam di tempatnya. Kaki kecilnya yang menggantung di atas tanah mengayun seiring dengan irama goncangan keras dari anak bertubuh besar itu. Bocah lelaki itu menunduk. Suara gemeretak gigi terdengar dari bibir mungilnya.

"Aku tidak mau!" teriaknya dengan suara keras. Membuat tiga anak lelaki yang berdiri di hadapnnya tersentak tak percaya.

"APAAA?"

"Berani sekali kau bilang seperti itu, ha?"

"Chikuso! Lancang sekali bocah tanpa Ayah sepertimu berani membantah kami."

"Sadarlah bocah brengsek!"

Salah satu anak paling tinggi di antara ketiga anak lelaki itu dengan kasar mencengkeram rambut pirang milik bocah lelaki yang mengerang kesakitan di atas ayunan. "Oi, Shinobu. Mau kita apakan anak ini?" tanyanya pada anak lelaki yang bertubuh besar dengan seringai jahatnya. Semakin erat cengkeraman rambut pirang di tangannya seiring dengan gerakan memberontak dari bocah lima tahun itu.

Anak yang bernama Shinobu itu tersenyum dengan lebar. Matanya yang bulat bersinar menikmati pemandangan di hadapannya. Tangan gempalnya mencengkeram dengan erat kaos bagian atas yang bocah pirang itu kenakan. "Aku mulai bosan bermain-main denganmu, Boruto. Kali ini aku sedang berbaik hati padamu, jadi pergilah selagi kau bisa." katanya dengan seringai lebar.

Dua anak lelaki lainnya tersentak kaget mendengar perkataan teman mereka, "Oi, Shinobu. Fuzakenda yo!"

"Apa yang kau katakan? Kau ingin membebaskannya begitu saja?"

Shinobu menyeringai lebar pada Boruto yang menatapnya dengan pandangan jijik. Mengabaikan kedua temannya yang berdiri tak percaya di sampingnya. "Jadi bagaimana? Kau bisa mengadukanku pada Otousanmu, hm?"

Boruto mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Sekuat tenaga menahan amarah yang mulai mencapai ambang batasnya. Rasanya ingin bocah kecil itu melayangkan genggaman tangannya pada pipi besar lelaki di hadapannya.

"Menyingkir dariku!" bentaknya kemudian dengan seluruh tenaga kecilnya ia mendorong tubuh gempal Shinobu. Membuat anak lelaki itu terjungkal mundur ke belakang hingga pantatnya mencium tanah. Boruto menahan tarikan perih rambutnya dari tangan anak bertubuh tinggi.

"Kuso," umpat Shinobu. Dengan cepat ia mengambil keseimbangannya untuk berdiri. Kakinya berjalan ke arah Boruto yang saat ini mengerang kesakitan karena kedua pergelangan tangannya digenggam dengan kencang oleh kedua temannya. Lelaki bersurai coklat itu menarik kaos bagian atas milik Boruto kemudian mendorongnya dengan keras ke tanah.

"Hee.. Apa kau mau menangis, bocah kecil? Mau mengadu pada Otousanmu? Ah, benar. Kau tidak punya Otousan ya," cetus Shinobu yang mengundang gelak tawa dari dua orang yang berdiri di sampingnya.

"Cih. Apa kau mau menyombongkan dirimu hanya karena kau memiliki seorang Otousan? Aku punya Otousan. Suatu saat nanti akan aku tunjukkan padamu!"

Pernyataan lantang Boruto membuat ketiga orang dihadapannya tertawa terpingkal. Bahkan salah satu dari mereka memegang perutnya yang mulai terasa sakit karena tawa yang terlalu keras.

"Hontou? Saa, kalau begitu bawa Otousanmu kemari dan kau bisa bermain di ayunan ini semaumu. Bagaimana?" tawar Shinobu masih di tengah tawanya. Tangan besarnya mengusap bagian tepi matanya yang mulai berair.

Boruto bangkit dari tanah. Dengan pelan menepuk-nepuk celananya yang ditempeli pasir. Mata birunya menatap dengan nyalang kepada tiga orang yang berdiri di hadapannya. Tanpa ragu ia mengacungkan jari telunjuknya ke depan.

"Baiklah. Aku akan membawanya kemari nanti sore. Kau harus menepati janjimu, gendut!"

Shinobu menghentikan tawanya. Ia terdiam melihat tatapan serius milik Boruto. Sesuatu di dalam mata bocah itu membuat hatinya bergejolak. "Hn. Bagaimana jika kau tidak membawanya sore ini?" tantangnya.

"Nani?"

Boruto tersentak.

"Bagaimana jika kau tidak datang kemari sore nanti, hn?"

"Aku tidak mungkin mengingkari janjiku! Aku akan datang kemari bersama Touchan."

Shinobu menyeringai melihat nada bergetar di suara Boruto. "Hn. Jika kau tidak datang kemari tanpa Otousanmu itu, maka kau tidak boleh bermain lagi di taman ini. Mengerti?"

Hyuuga Boruto menganggukkan kepalanya dengan keras. "Setuju."

.

Boruto terdiam. Setelah kepergian tiga orang usil yang selalu membullynya, ia mengacak-ngacak rambut kuningnya yang sedari awal memang sudah berantakan. Ia merutuki dirinya sendiri yang berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Kini bocah Hyuuga itu harus memikirkan cara untuk bisa membawa Touchannya kemari. Ia tidak rela jika tidak boleh bermain lagi di tempat ini. Hanya taman ini satu-satunya tempat yang bisa ia tuju ketika ia keluar rumah. Boruto tidak ingin membuat Hinata kecewa. Bocah itu hanya menginginkan Okaasannya itu tidak mengkhawatirkan dirinya. Hinata pernah mencurigai dirinya tidak memiliki satupun teman. Walaupun memang itu kenyataannya, tapi tentu saja bocah Hyuuga itu tidak akan pernah menghancurkan hati Hinata dengan berkata jujur. Maka dari itu, ia mulai berbohong dan mengatakan jika ia ingin bermain bersama temannya. Pada awalnya ia tidak tahu harus melakukan apa. Ia hanya berjalan tak tentu arah di sekeliling kompleks perumahannya. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah taman kecil yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Beruntung Hinata tidak pernah mencarinya hingga ke taman itu. Boruto tidak ingin Hinata bersedih karena tahu jika di tempat itu ia tidak bermain melainkan berkelahi dengan tiga orang mantan senpainya di Taman kanak-kanak. Boruto selalu datang lebih pagi sebelum ketiga orang itu datang. Setidaknya ia bisa megulur waktu sebelum pulang ke rumah. Namun, kali ini sepertinya kesialan sedang menimpa dirinya. Baru saja ia sampai di taman itu, ketiga anak itu sudah datang menghampirinya.

"Cih, kenapa aku bodoh sekali!" rutuk Boruto pada dirinya sendiri.

Ia menyamankan dirinya di kursi ayunan yang terbuat dari kayu. Dengan satu hentakan keras ia mendorong tubuhnya ke depan bersama ayunan itu. Membiarkan tubuhnya berayun semakin tinggi seiring dengan cepatnya ayunan berayun. Boruto menengadahkan kepalanya ke atas menghadap langit pagi yang berwarna biru cerah. Membiarkan hangatnya matahari menerpa wajahnya.

Awan-awan berwarna putih berkumpul menghiasi langit tersebut. Bocah itu merasa tubuhnya terbang seperti burung yang melintas di hadapannya. Ia terus mempertahankan posisinya sembari memikirkan berbagai cara untuk bisa membawa seseorang sebagai Otousannya. Karena ia tidak memiliki satu niat pun untuk menanyakan keberadaan sosok pria itu pada Hinata. Bahkan kapan pria itu akan datang. Boruto memejamkan matanya menikmati semilir angin dan ayunan yang terasa semakin pelan.

"Sepertinya kau sangat menikmati ayunannya."

.

.

Namikaze Naruto memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kompleks rumah barunya. Perasaannya semalam terasa begitu kacau. Sekarang saatnya ia untuk menenangkan dirinya dengan menghirup udara pagi yang menyegarkan. Langit di atasnya terlihat biru cerah senada dengan warna matanya. Ia menghirup dalam-dalam udara pagi yang terasa begitu sejuk memasuki paru-parunya.

Naruto mencoba melihat dari sudut matanya sebuah rumah yang berada tepat di sebelah rumahnya. Menyadarkannya bahwa rumah itu memang ada dan kemarin bukanlah sekedar mimpi baginya. Rumah itu masih sama berdiri dengan kokoh di samping rumahnya. Meskipun ingatan tentang malam tadi belum bisa hilang dari pikirannya, namun pria itu mencoba bersikap lebih tenang. Hanya dengan memandang rumah Hinata saja membuat jantungnya berdetak keras di hari sepagi ini. Naruto menggelengkan kepalanya dengan keras. Mengembalikan kesadarannya sekaligus meredam detak jantungnya yang bergemuruh tak beraturan.

"Yosh, aku akan berkeliling sekarang," ucapnya pada diri sendiri.

Kaki jenjangnya melangkah dengan santai di atas aspal jalan. Tanpa melewatkan satu hal pun, Naruto mengamati dan mengingat daerah rumahnya di dalam memori otaknya. Rumah-rumah yang ada di daerah itu tidak jauh berbeda dengan daerah kompleks rumah lamanya. Hanya saja, udara di sini masih sangat sejuk tidak seperti rumahnya yang terletak di daerah pusat kota.

Hampir satu jam ia berkeliling. Tanpa terasa kakinya membawanya keluar dari kompleks rumahnya. Meskipun begitu, Naruto tidak menyesalinya. Walaupun ia tidak menyangkal jika mulai merasa kelelahan. Pria bersurai pirang itu berjalan ke ujung blok perumahan dan menemukan sebuah tempat yang menarik baginya. Sebuah taman bermain kecil yang terlihat sangat nyaman di matanya. Beberapa pohon tinggi tumbuh di tepi taman sehingga menampakkan nuansa teduh. Namun, ada satu hal di antara taman itu yang menarik perhatiannya. Seorang anak kecil berayun sendirian di atas sebuah ayunan kayu.

Pria bersurai pirang itu tak kuasa menahan senyum menyadari sosok mungil yang saat ini ada di depan matanya. Tanpa berusaha membuat sebuah suara, pria itu berjalan dengan perlahan mendekati ayunan.

"Sepertinya kau sangat menikmati ayunannya," ucapnya ketika gerakan ayunan mulai melambat. Ia tidak ingin membuat bocah itu tersentak kaget. Siapa yang tahu jika bocah itu akan tiba-tiba melompat dari atas ayunan.

Bocah mungil yang ada di hadapannya tersentak mendengar suaranya. Dengan kaki kecilnya ia menginjak tanah meski ayunan masih berayun.

"Ohayou," sapa Naruto dengan senyum lebarnya.

"Naruto-Jisan!" teriak Boruto dengan semangat. Terlalu semangat hingga membuat tubuh kokoh Naruto sedikit terhuyung ketika Boruto menghambur ke dalam pelukannya. Seperti berhasil memecahkan sebuah teka-teki, Boruto tak berhenti mengulas senyum tak kalah lebar dari Naruto.

"Ada apa? Apa kau sebegitu senangnya bertemu denganku?" goda Naruto melihat senyum lebar putranya itu.

"Un."

Melihat sepasang mata sapphire yang bersinar bahagia di hadapannya membuat hati Naruto terasa begitu tenang. Dengan kedua tangannya Naruto mengangkat tubuh kecil Boruto dan menyejajarkan wajah kembar mereka.

"Aku sangat senang bertemu dengan Jisan. Apa yang kau lakukan di sini, Jisan?" tanya Boruto.

"Jalan-jalan. Pagi ini terlalu cerah untuk dilewatkan, bukan begitu?"

Boruto mengangguk setuju.

"Bagaimana denganmu? Bermain sendirian di taman, hn?"

Boruto berpikir sesaat sebelum akhirnya memilih untuk berkata jujur pada tetangganya itu, "Begitulah. Apa Naruto-Jisan tidak pergi bekerja? Sepertinya langit mulai siang," pikir Boruto.

"Hari ini Jisan libur."

"Boruto juga."

"Ah, benar. Apa yang ingin kau lakukan hari ini?"

"Hmm.. Tidak ada."

Naruto mengerutkan keningnya. Bibir tipisnya mengerucut mencoba memikirkan sesuatu. Hingga sebuah ide yang cemerlang melintas di pikirannya. "Bagaimana jika jalan-jalan dengan Jisan?"

Boruto mencoba mempertimbangkan ajakan Naruto dengan serius. Jemari kecilnya mengusap perlahan dagu mungilnya seakan memikirkan sesuatu yang sangat besar.

"Baiklah," jawab Boruto dengan senyum lebarnya.

Naruto tertawa. Dengan semangat ia berjalan keluar dari taman sembari menggendong Boruto di tangannya.

"Jisan sangat lapar. Bagaimana jika kita mencari makan, Boruto?" rengeknya pada anak kecil itu. Meskipun Naruto adalah pria dewasa, jika itu menyangkut makanan maka sifat kekanakannya pasti akan keluar.

Mata Boruto bersinar penuh semangat. "Oke, Jisan. Sejujurnya, aku juga sangat lapar," tandasnya dengan wajah memelas. "Kaachan bangun kesiangan hari ini, jadi dia belum sempat menyiapkan makanan untukku," ucapnya dengan bibir mengerucut.

"Eh? Hinata? Aku tidak tahu jika ia akan bangun kesiangan. Tidak biasanya."

"Hn? Bagaimana Jisan bisa tahu? Ini memang baru pertama kali aku melihat Kaachan masih tidur saat aku melihatnya."

Naruto tersentak. Hatinya merasa gelisah. "Apakah Hinata sakit?" tanyanya ragu.

Boruto menatap Naruto tepat ke mata biru pria itu. Kemudian kepala kecilnya menggeleng. "Kaachan bilang dia baik-baik saja. Dia hanya kelihatan seperti tidak tidur semalaman. Meskipun begitu, aku tetap saja khawatir."

Naruto tersenyum getir melihat betapa sayangnya anaknya itu pada Hinata. Ia merasa berterimakasih pada putranya itu karena telah berada di samping teman terbaiknya. Melihat raut wajah Boruto yang menunduk murung, Naruto mengeratkan gendongannya. Memeluk putra kecilnya itu dengan erat. "Kaachanmu adalah wanita terkuat yang Jisan kenal. Maka dari itu, semua akan baik-baik saja." Dengan lembut Naruto tersenyum pada Boruto.

Melihat senyuman hangat Naruto menghangatkan hati Boruto. Hanya dengan mendengar perkataan pria itu, Boruto merasa sangat tenang. Entah kenapa, ia sangat percaya pada Naruto.

"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran Hinata?" gumam Naruto tanpa sadar.

"Kau bicara apa Jisan?"

Naruto berjengit. "Eh? Tidak. Tidak ada apa-apa. He he. Ayo kita cari makan."

.

.

Butuh waktu cukup lama bagi Naruto untuk menemukan sebuah kedai ramen yang buka di hari yang bisa dibilang masih cukup pagi ini. Entah mengapa saat ini pria bersurai pirang itu ingin sekali makan semangkuk besar ramen. Ah, tidak. Satu mangkuk mungkin tidak cukup baginya. Sudah cukup lama ia tidak menyantap makanan favoritnya itu. Walaupun sebenarnya baru dua hari ia belum menyantap ramen. Tapi bagi seorang Namikaze Naruto waktu dua hari tanpa ramen adalah siksaan yang sangat teramat berat. Entah bagaimana ia mampu bertahan hingga saat ini. Mungkin ini adalah batasnya. Karena saat ini ia benar-benar menginginkan mie dengan kuah yang sangat lezat itu. Membayangkannya saja membuat Naruto hampir meneteskan air liur. Apalagi, Boruto juga tidak menolak jika mereka makan ramen. Ayah dan anak memang memiliki selera yang sama.

"Irrashaimase," sapa pemilik kedai ramen dengan penuh semangat.

"Tolong dua mangkuk ramen special ya, Ouchan," pesan Naruto setelah dengan nyaman menempatkan dirinya di salah satu kursi yang terletak di pojok ruangan.

Boruto duduk dengan nyaman di samping Naruto. Kaki kecilnya bergoyang pelan. Menunjukkan betapa bahagianya bocah dengan kedua garis di masing-masing pipinya itu. Sepertinya Boruto juga tidak sabar untuk menyantap ramen, sama halnya dengan seseorang yang duduk di sampingnya. Keduanya sama-sama menampilkan cengiran lebar.

"Ini dia dua mangkuk ramen special untuk sepasang Ayah dan anak yang special," kata si pemilik kedai sembari meletakkan dua mangkuk ramen di atas meja.

Naruto tersentak. Dengan ragu ia melirik Boruto yang terdiam di tempatnya. Wajah polosnya nampak berpikir dengan keras. Hati pria berkulit tan itu bergemuruh tak terkendali. Apa yang harus ia katakan jika Boruto menanyakan hal yang aneh. Dan benar saja, sebuah suara keluar dari bibir putranya.

"Naruto-jisan, kenapa paman itu menyebut kita Ayah dan anak?"

Bingung. Otak Naruto sekarang terasa begitu buntu. Dengan panik ia mencoba mencari-cari sebuah jawaban yang tidak membuat anaknya itu curiga. Bukannya ia tidak mau berkata yang sejujurnya, tetapi pria itu hanya tidak ingin mengatakannya tanpa persetujuan dari Hinata. Beruntung, sepasang Ayah dan anak memasuki kedai ramen itu. Pria bermata sapphire itu merasa terselamatkan.

"Hm, mungkin karena hari ini ada potongan harga khusus untuk sepasang Ayah dan anak di kedai ini. Jadi, paman itu mengira kita pastilah Ayah dan anak. Ha ha," jeas Naruto dengan canggung.

"Benarkah?" sergah Boruto tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Tanpa mengucapkan kata lagi, ia memasukkan mie hangat itu dengan sumpit ke mulutnya. Matanya yang biru terbuka dengan lebar. Membuat tangan Naruto bergetar di atas meja. Ia menutup matanya dengan erat bersiap menerima kata apapun yang keluar dari bibir Boruto. "Enak sekali!"

Naruto terbelalak. "Apa?"

"Ramen ini rasanya enak sekali Jisan. Sangat sangat enak! Benarkah ada potongan harga untuk sepasang Ayah dan anak? Kalau begitu, bolehkah aku minta satu mangkuk lagi? Aku sangat lapar, Jisan. Dan ramen ini rasanya sangat enak. Aku jadi ingin terus memakannya. Bolehkah? Bolehkah?" tandas Boruto penuh harap pada Naruto yang masih tercengang di depannya.

"Boleh. Tentu saja, boleh. Makanlah sebanyak yang kau mau. Ha ha." Naruto tertawa dengan lega sekaligus tak percaya. "Habiskan dulu makananmu, lalu kau bisa tambah lagi ttebayo."

"Yosh! Arigatou, Jisan. Waah, untungnya kita terlihat seperti Ayah dan anak ya, Jisan. Jadi, kita bisa dapat potongan harga untuk ramen seenak ini," kata Boruto dengan polos.

"Ha ha. Be-begitulah."

.

Menghabiskan waktu dengan anak semata wayangnya memang sebuah mimpi yang ingin dilakukannya. Dan hari ini bagaikan sebuah hadiah dari Kami-sama, Naruto dapat bertemu Boruto saat berkeliling kompleks. Karena tidak ada hal yang harus mereka lakukan, sepasang Ayah dan anak itu memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan seharian. Lagipula mereka berdua sama-sama libur. Sesekali bersantai adalah terapi yang bagus untuk membuang penat.

Dua orang bersurai pirang itu tak kenal lelah menyusuri jalan hingga sampai ke jalan utama dimana banyak pusat perbelanjaan dan kendaraan yang lalu lalang. Bahkan ad ataman bermain tak jauh dari tempat mereka berdiri. Waktu terus berjalan tanpa mereka berdua sadari. Memasuki berbagai macam toko dan bermain di game center tanpa kenal lelah. Meskipun, sudah hampir setengah hari mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan, Boruto mendapat sebuah mobil mainan di tangannya. Dengan gembira bocah itu memainkan mobil itu di sebuah bangku yang ada di taman bermain. Seakan-akan ia sedang berada di sebuah perlombaan balap mobil.

"Jisan akan membeli minuman sebentar. Tunggulah di sini, mengerti?" pinta Naruto. Boruto mengangguk. "Jangan pergi ke mana pun," tambahnya.

"Baiklah, Jisan."

Naruto berjalan dengan tergesa-gesa ke arah vending machine. Setelah memasukkan koin, ia memilih sebuah coke dan jus. Tak ingin membuang banyak waktu, ia berjalan dengan cepat ke tempat Boruto. Pria itu menghembuskan nafas lega melihat Boruto yang masih sibuk bermain di tempat yang sama. Dengan senyum lebar, ia menghampiri bocah lima tahun itu. Tangannya dengan iseng menempelkan kaleng jus yang terasa dingin ke pipi mungil Boruto. Membuat bocah kecil itu tersentak.

"He he. Maaf mengejutkanmu. Ini untukmu." Naruto mengangsurkan sekaleng jus jeruk yang telah ia buka tutupnya pada Boruto.

"Arigatou, Jisan."

Naruto mengangguk dengan cengiran lebar. Dengan santai ia duduk bersandar di bangku sembari menikmati sekaleng coke dingin.

"Tadi ada seseorang menyuruhku memberikan ini pada Ayahku."

Naruto mengangkat alisnya ketika menatap mata Boruto. Bocah itu mengangsurkan sebuah benda yang tak asing baginya. Itu dompetnya.

"Are? Bagaimana dompet ini bisa ada padamu?" tanya Naruto tak percaya. Ia yakin tidak meninggalkan dompetnya dimana pun. Kecuali, saat ia ingin membayar mobil-mobilan Boruto. "Siapa yang memberikan ini padamu, Boruto?"

"Eh? Tadi ada obasan yang memberikannya padaku. Dia bilang dompetnya tertinggal di tempat kita membeli mobil ini," terang Boruto menunjukkan mobil mainan di tangannya.

"Ah, benar dugaanku."

"Tapi, dompet itu milik Naruto-Jisan?"

"Aa. Ini dompetku. Ada apa?"

"Tak apa. Hanya saja obasan itu mengatakan padaku untuk memberikannya pada Otousan. Jadi, yang obasan tadi maksud itu Naruto-jisan."

Lagi-lagi. Naruto mengacak rambutnya dengan gemas. Kenapa orang-orang menganggap Boruto dan dirinya adalah sepasang Ayah dan anak. Walaupun, hal itu memang sebuah kebenaran yang tak dapat Naruto sangkal. Tapi, tetap saja Naruto tidak bisa memberitahukan sendiri pada Boruto. Ia ingin Hinata yang menjelaskannya pada anak itu. Naruto hanya tidak ingin Boruto membencinya. Lagipula, Naruto juga tidak bisa menyalahkan orang-orang itu. Naruto dan Boruto memang terlihat sangat mirip.

"Ah! Aku jadi ingat sesuatu. Sepertinya sekarang sudah hampir sore. Jisan, maukah kau menemaniku ke taman yang tadi pagi?"

Boruto melompat dari bangkunya duduk. Dengan tegak berdiri dengan kedua kaki kecilnya. Matanya menatap Narto dengan penuh harap.

Melihat hangatnya mata Boruto yang memohon padanya membuat hati Naruto tak kuasa menolak permintaan bocah kecil itu. "Baiklah. Tapi, kenapa kau ingin kembali ke taman itu? Apa ada sesuatu yang tertinggal?"

"Tidak ada yang tertinggal. Jisan tak perlu khawatir. Hanya ikut saja denganku," pinta Boruto yang menggandeng tangan Naruto dengan erat. Membuat pria bersurai pirang itu mengerutkan keningnya dengan bingung.

.

.

Warna senja mulai samar-samar nampak di langit Konoha. Boruto mempercepat langkah kakinya. Tangan kecilnya memegang erat tangan Naruto dan menariknya bersamanya. Pria Namikaze itu tak dapat memungkiri rasa penasarannya pada bocah kecil itu. Dengan langkah kecilnya yang menyesuaikan langkah kaki Boruto, Naruto membiarkan dirinya mengikuti apa keamauan putra tunggalnya. Tak lama kemudian mereka sampai di taman tempat mereka bertemu.

"Kita sampai," desah Boruto dengan perasaan lega. Meski, nafasnya tersengal karena jalannya yang terlalu cepat. Namun, bocah itu mengulas sebuah senyum lebar. Dengan mantap ia berjalan ke arah tiga orang anak yang sedang asyik bermain di sebuah ayunan.

"Gomen, aku terlambat," ucapnya yang seketika menarik perhatian ketiga lelaki di hadapannya.

Naruto memasang senyum lebarnya ketika ketiga anak itu menatapnya tak percaya. Seperti melihat hantu saja, pikirnya.

"Kau harus menepati janjimu, gendut!" tegas Boruto.

Naruto tak mengerti arah pembicaraan anak-anak kecil di hadapannya itu. Ia hanya terdiam mendengarkan percakapan yang mereka buat.

"Aku telah menunjukkannya padamu. Jadi sesuai kesepakatan, aku boleh bermain di sini."

Bocah dengan tubuh paling gempal itu terlihat menegang di tempatnya berdiri. Begitu pula dengan kedua temannya yang terdiam tak percaya menatap secara bergantian pada Naruto dan Boruto.

"Tidak mungkin!" gumam anak kecil itu.

"Cih! Baiklah, akan aku perkenalkan pada kalian secara resmi," kata Boruto. Mata kecilnya menyelami dalamnya mata Naruto. "Perkenalkan, namanya adalah Naruto, dia adalah Ayahku."

.

-Tsuzuku-

.

.

.

.

#Author Words#

Ohayou, Konnichiwa, Konbanwa minnasan. \^^/

Sepertinya Author perlu meminta maaf untuk keterlambatan update fanfict ini. Gomen ne minna, Author sedang banyak tugas jadi belum sempat lanjutin fict ini. T.T

Dan Author juga minta maaf kalau fict chapter ini menurut minna ternyata kurang memuaskan. Sebab, Author ini juga merasa kurang puas. He he. *none of romance sih

Di sini Author memang sengaja buat khusus interaksi antara Naruto dan Boruto, karena Author memang pengen masukin unsur family di fict ini.

Subete wa arigatou gozaimasu.

Salam hangat dari Haruta Rin

#End of Author Words#

.

Review, Onegai ^^V