**Destiny**
Cast : Kagamine Len, Kagamine Rin, Shion Kaito
Genre : Drama, Romance
FF ini adalah story utama dari PRince Evil. *sigh* Genre awal memang Yaoi karena saya pikir Len ama Kaito itu unyu banget kalo jadi couple. Maap kalo bahasanya pasti kacau soalnya ini udah lama bingit lah ya dan emang pas itu males nulis.
Kaito selalu percaya pada takdir. Dia tidak percaya apa itu kebetulan. Dia percaya bahwa segala hal yang terjadi selama hidupnya itu adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan untuknya termasuk kekasih hidupnya. Dia percaya ketika neneknya dulu berkata bahwa cinta sejatinya kelak adalah orang yang bisa memakai cincin pemberian neneknya itu dengan pas. Dia masih ingat ketika itu usianya baru menginjak 7 tahun, ia berlari kepangkuan neneknya. Hal yang biasa terjadi ketika dia tidak melihat orang tuanya ketika bangun tidur. Kaito kecil akan menangis dipangkuan neneknya memanggil2 nama orang tuanya kemudian sang nenek akan membacakan dongeng untuknya agar dia kembali tersenyum.
"Ayah dan ibu tidak mencintai Kaito... Hiks..hiks..." tangis Kaito dipangkuan sang nenek.
Kaito-chan jangan bersedih sayang. Mereka pergi tapi tidak berati mereka tidak mencintaimu malah sebaliknya. Percayalah itu Kaito-chan, pasti suatu saat akan ada seseorang yang digariskan Tuhan untuk mencintaimu dan kau cintai tanpa harus Tuhan mengambilnya dari sisimu lagi." ujar sang nenek seraya mengelus surai biru Kaito kecil.
"Benarkah nek?" tanya Kaito kecil dengan polosnya.
"Nah ambil ini... " ujar sang nenek melepas cincin yang selama ini dia gunakan untuk kalung. Cincin berharga yang merupakan kenangan mendiang suaminya yang telah tiada. Kaito menerima dua buah cincin pasangan itu dengan mata berbinar.
"Berjanjilah kau akan menemukan orang itu dengan cnicin ini." ujar sang nenek seraya mengelus puncak kepasa Kaito kecil.
Sejak itulah Kaito mempercayai takdir, tidak bukan takdir yang sebenarnya ingin dia ikuti dia hanya ingin menepati janjinya pada neneknya. Menemukan seseorang yang ditakdirkan untuknya dengan cincin itu. Rin bisa memakai cincin itu dengan pas. Mungkinkah Rin benar-benar takdirnya? Tapi bagaimana jika hatinya malah menolak tadirnya itu? Menolak Rin? Jujur saja Kaito telah menyadari perasaanya untuk Rin bukanlah benar-benar cinta. Itu murni obesesinya pada cincin dan janjinya pada neneknya. Dia bahkan merasa ada secuil rasa lega ketika menyadari kenyataan bahwa yang kencan bersamanya pertama kali kemungkinan besar adalah Len. Tapi kenapa? Bukankah Kaito saat itu mengajak Rin kencan? Dan dia kan pada saat itu belum kenal Len? Kenapa Len harus menggantikan Rin waktu itu? Kaito benar-benar butuh jawaban. Dia tidak mau terus-terusan merasa dibohongi seperti ini. Tidak...! Dia harus mencari kebenaran segera.
'Len bisa kita bicara? Aku tunggu dihalte biasa besok.'
Len cuma bisa terheran-heran membaca pesan singkat itu. Tumben, banget Kaito ngemail dia ngajak ketemuan. Ada apa gerangan?
"Dari siapa Len?" tanya Rin kepo ngeliat adeknya cuma bengong natep ponselnya.
"Kaito-nii mengajakku bertemu." jawab Len seadanya. Dia merebahkan Kembali tubuhnya disamping Rin. Mereka sedang berada dikamar Len. Niatnya si tadi Rin mo minta diajaRin bahasa inggris sama Len. Tapi lihatlah hasilnya(?) keduanya enggak jadi belajar dan malah tiduran dikasur. -_-
"Cieeee... Len. Ini kesempatan. Siapa tau Kaito mau mengajakmu kencan."
"Itu tidak mungkin." jawab Len super yakin. Mana mungkin Kaito ngajak dia jalan? Kaito kan sukanya sama Rin. Pasti kalo mo ngajak jalan Kaito bakalan ngajak Rin bukan Len.
"Tidak ada yang tidak mungkin Len." ujar Rin lagi yang malah bikin Len merasa emosi.
"Sudahlah oneechan tidak perlu berusaha sekeras itu untuk mendekatkanku dengan Kaito-nii. Kaito-nii hanya suka pada oneechan seorang dan tidak mungkin menyukaiku. Jadi semua hal yang oneechan lakukan selama ini sia2 saja." kata Len menumpahkan segala kekesalanya selama ini.
Hening suasana kamar itu mendadak menjadi sunyi senyap, hanya suara jadi jangkrik diluar rumah yang mengisi kekosongan. merasa bersalah Len melirik Rin yang berbaRing disampingnya kakaknya itu berwajah hampa. Oops... Tampaknya Len terlalu keras tadi.
"Hiks..." Len otomatis kaget ngedenger suara isakan itu. Rasa bersalah melingkup hatinya ngeliat Rin nangis sesegukan disampingnya. Menghela napas, Len merubah posisi jadi miRing kearah sodara kembarnya itu. Ia memeluk Rin dengan erat.
"Maafkan Len oneechan. Len tidak bermaksud membuat oneechan menangis." ujar Len lembut ambil ngelus rambut Rin biar nangisnya berenti tapi malah bikin Rin nangisnya tambah kenceng.
"Maafkan oneechan, oneechan tidak bermaksud membuat Len marah. Oneechan hanya ingin membantu Len menemukan cintanya. Oneechan janji tidak akan lagi memaksa Len melakukan hal-hal yang tidak Len sukai. Hiks..." kata Rin masih dengan sesegukan. Len tersenyum mendengar kata-kata kakaknya. Walau bagaimanapun Rin adalah kakaknya jadi tidak seharusnya masalah cowok membuat keduanya jadi bertengkar dan saling membenci satu sama lain. Mereka bagaimanapun adalah saudara, saudara yang berbagi tempat dirahim sang ibu. Saudara yang bersama-sama sejak mereka terlahir kedunia ini. Serese apapun Rin, Len tetaplah menyayangi kakanya itu. Dia tidak bisa melihat Rin bersedih apalagi menangis karenanya.
"Oneechan aku pergi." seru Len panik sambil memakai sepatunya asal-asalan. Dia sudah telat setengah jam dari waktu janjianya dengan Kaito. Sialan... Gara-gara dia harus membatu Rin bersihin rumah dia jadi telat. Len berlari secepat yang ia bisa kehalte yang merupakan tempat janjian. Sampai dihalte Len merasa lega sekali melihat Kaito masih menunggunya. Len menghampiri Kaito dengan napas sekarat(?).
"Kaito-nii" panggil Len dengan napas yang ngos-ngosan menghampiri Kaito yang duduk dikursi tunggu halte.
"Len..." panggil Kaito dingin yang bikin senyum Len luntur seketika. DEG! Len tidak pernah merasa begitu ketakutan seperti sekarang. Kaito, cowok itu menatapnya dengan begitu dingin, iris kebiruan yang selalu Len suka karena selalu menatapnya lembut penuh keramahan itu kini berubah menjadi menatapnya penuh kebencian. Jangan-jangan...
"Kaito-nii ada apa? Kenapa Kaito nii menatapku seperti itu?" Len tau percuma menanyakan pertanyaan yang bodoh itu. Dia sendiri sudah tau jawabanya tapi bodohnya ia tetap bertanya.
"Pluk!" Len refleks menangkap sesuatu yang Kaito lempar padanya. Sebuah gelang... Itu gelang pemberian Kaito.
"Kaito-nii aku bisa jelaskan..." ujar Len dengan wajah hampir menangis. Dia tidak ingin Kaito membencinya. Walau bagaimanapun Kaito harus mendengar penjelasanya.
"AKU TIDAK BUTUH PENJELASAN APAPUN DARIMU ATAU KAKAKMU ITU. SEMUANYA SUDAH JELAS KALIAN BERDUA MEMPERMAINKANKU!" teriak Kaito emosi.*sinetron mode on*
"Kaito-nii san..." Len berusaha menggapai Pemuda bersurai Biru itu tapi langsung ditepis kasar oleh Kaito yang sedang emosi akut.
"Jangan menyentuhku!"
"hiks..." Len tidak bisa menahan aer matanya untuk tidak meluncur saat itu juga. Dia tidak ingin terlihat lemah tapi tidak bisa. Terlalu sakit rasanya melihat Kaito yang membencinya seperti sekarang.
"Aku merasa sangat bodoh bisa dengan mudah dipermainkan seperti ini. Aku... Aku merasa benar-benar kecewa!" ujar Kaito kali ini suaranya terdengar bergetar kemudian pergi entah kemana hanya author yang tau. Mungkin sebenernya ntu cowok juga pengen nangis, tapi ditahan. Masa seme nangis? Enggak ada dalem kamus sejarah kan?
"Kaito-nii hiks... Maafkan Len..." isak Len penuh penyesalan.
Rin sedang sibuk membaca manga disofa ruang depan ketika Len masuk kedalam rumah dengan kondisi kacau. Wajahnya memerah dan matanya bengkak seperti sehabis menangis. Khawatir pastinya Rin menutup manga favoritnya dan menghampiri adiknya yang terlihat begitu lesu.
"Len... Apa yang terjadi?" tanya Rin prihatin. Setahunya tadi Len begitu bersemangat ketika pergi, dia bilang mau menemui Kaito. Tapi kenapa sekarang adiknya itu pulang dengan kondisi seperti orang stres?
"Oneechan..." Bukanya Ngejawab pertanyaan kakaknya Len malah meluk kakaknya dengan erat. Dia menangis lagi dipelukan kakaknya. Hal yang biasa dilakukanya dari dulu ampe sekarang kalo dia lagi sedih. Tuhkan... Len pasti ada masalah ama Kaito. Rin merasa panggilan jiwanya sebagai seorang kakak berkobar. Dia harus cari tau sebab Len jadi begini. Ya! Harus!. Len pasti tidak mau memberi tahunya kalo dia tanya langsung. Mending dia tanya sama sumber masalahnya saja... Ya Rin harus tanya pada Kaito!
Kaito Shion, cowok bersurai biru itu berjalan melamun dilorong kelas yang sepi. Ya melamun, kegiatan yang akhir-akhir ini menjadi favoritnya semenjak masalahnya dengan Len. Ntu cowok enggak bisa berenti mikiRin Len. Wajah menangis Len saat itu masih terbayang dibenaknya. Jujur saja dia mulai merasa menyesal telah marah-marah seperti itu pada Len. Dia harusnya bisa lebih dewasa dan berkepala(?) dingin menyelesaikan ini semua. Apalagi kan dia sebenernya mulai menyadari diRinya menyukai Len. Ya, semenjak kebenaran terungkap Kaito mulai bisa memahami banyak hal. Termasuk hal yang rumit seperti perasaanya untuk Len. Dia kangen Len tapi dia bisa apa? Disatu sisi dia marah tapi disisi yang lain dia kangen ama ntu anak. Kaito pengen banget ketemu Len tapi egonya masih gede. Dia masih enggan menemui Len dan tetep teguh mempertahankan keegoisan menguasainya.
Ehh? Langkah Kaito otomatis berenti ketika seorang gadis mencegatnya. Rin gadis itu berdiri didepan Kaito dengan wajah garang.
"Rin..." gumam Kaito meRinding merasakan aura buruk disekitarnya.
"Kaito-kun! Apa yang kau lakukan pada Len? Berani-beraninyanya kau membuat adik tersayangku menangis! Tidak bisa dimaafkan! Kau menyebalkan! Brengs*k! Terima ini... Rasakan!"ujar Rin sambil nimpukin Kaito pake tasnyaa yang otomatis berat bawa buku ama peralatan make up.
"ya... Ya... Rin hentikan!" Kaito berusaha melindungi diRinya dari serangan tak terduga itu. Rin yang dalam mode murka memang mengerikan. Satu pelajaran untuk Kaito. Jangan coba-coba membuat masalah dengan seorang yandere jika tidak ingin berakhir dengan babak belur. -_-
"Ini..." Kaito mendengus menatap kantong plastik yang disodorkan Rin padanya. Setelah tadi puas dengan acara gebuk mengebuk(?) sampai Kaito babak belur ntu cewek malah ngajakin Kaito duduk-dudukan dikursi taman sekolah. Pake acara beliin eskrim segala.. Katanya si buat minta maaf tapi entahlah... Apakah itu permintaan maaf atau sekedar sogokan belaka biar Kaito tidak melaporkan Rin gara-gara kasus penganiayaan.
"Maaf.. Aku terlalu emosi tadi." kata Rin seraya duduk disebelah Kaito. Kaito cuma bisa menghela napas, emosi? Lah kan harusnya Kaito yang marah ama Rin bukan malah sebaliknya.
" Aku harusnya menuntutmu atas kasus kekerasan setelah ini." gurau Kaito sambil membuka kantong plastik yang tadi dikasih Rin ternyata isinya es krim coklat favoritnya.
"ya~ Kaito-kun aku benar-benar tidak bermaksud buruk tadi. Hanya sedikit terbawa emosi. Aku hanya ingin memberimu pelajaran saja." sahut Rin membela diri.
"emosi? Bukankah sebaliknya? Harusnya aku kan yang marah padamu. Kalian berdua bersekongkol membodohiku." bukanya kaget mendengar kata-kata Kaito Rin malah cikikikan gaje membuat Kaito mengira Rin benar-benar telah gila.
"Jadi Kaito-kun sudah tau..." balas Rin tanpa rasa bersalah.
"Hmmm..."
"Harusnya Kaito-kun tidak perlu marah pada Len. Semuanya itu murni kesalahanku. Aku yang menyuruhnya menggantikanku waktu itu."
"Kenapa?" Kaito tidak bisa mengerem mulutnya sendiri untuk bertanya. Ya? Kenapa? Kenapa Rin menyuruh Len menggantikanya kencan waktu itu padahal Rin tau Kaito waktu itu sedang dalam mode tergila-gila pada Rin?
"kau percaya takdir?" Kaito mengernyit mendengar pertanyaan yang dulu ia lontarkan pada Rin kini berbalik padanya.
"Tentu aku percaya."
"Mungkin ini semua bagian dari takdir Kaito-kun."
"Kalau ini semua takdir berarti kau adalah takdirku Rin." kata Kaito yang sebenarnya tak yakin.
"Benarkah? Bagaimana kalau ternyata aku bukan takdir Kaito-kun? Kaito-kun tau kenapa aku tidak terlalu percaya dengan takdir?" Kaito menggeLeng.
"Karena setiap orang cukup mengikuti kata hatinya. Maka hatinyalah yang pasti akan menuntunya menuju takdir mereka dengan sendiRinya." JlEB! Begitu dalam kata-kata Rin menghunus hati Kaito. Kenapa dia tidak pernah berpikir sejauh itu ya? Kaito merasa benar-benar bodoh.
"Uhm... Terimakasih Rin kau menyadarkanku tentang banyak hal. " Ujar Kaito yang ternyata udah tobat dari kelabilanya.
"Nah Kaito-kun...jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Rin sambil tersenyum manis banget.
Sudah seminggu berlalu semenjak kejadian itu, Len tidak pernah lagi bertemu Kaito. Dia tidak berani lagi menampakan diRinya dihadapan si cowok kece bersurai biru itu dan dia merasa bersyukur Rin tidak berusaha bertanya tentang masalah internalnya yang satu ini. Mungkin Rin sudah tau tapi diem ajha or belom tau sama sekali. Sudahlah itu tidak terlalu penting baginya. Tapi masalah satu belom kelar eh sekarang udah nambah lagi dan sumber masalahnya tetap saja satu orang Rin. Kakaknya yang yandere itu kumat lagi resenya pemirsa.
"Aku tidak mauuuu!" teriak Len cetar membahana bahkan masih terdengar sampai radius 5km dari rumahnya.
" Len... Please... Aku cuma tidak ingin kau terlalu lama menjomblo... Ini kesempatan bagus agar kau punya pacar. Ayolah~ sekali saja ya?" rayu Rin dengan ekspresi nistanya.
"Tidak mauuuu...!"
"Len, tolong lah... Sekali ini saja. Oneechan hanya ingin melihatmu bahagia." Ujar Rin dengan wajah yag hampir menangis. Awalnya Len ngira ntu aer mata buaya kayak biasanya tapi ketika dia natep mata Rin cuma ada ketulusan disana. Kakaknya yang satu ini serius ternyata.
"oke, kali ini saja. Janji?"
"Uhm..."
Hari kencan yang sudah direncanakan matang oleh Rin tiba. Len duduk manis dihalte nungguin pasangan kencanya yang ditunggu enggak dateng2.
Tak ada wig rok seperti kencan pertamanya dengan Kaito waktu itu cuma ada diRinya Kagamine Len dengan penampilan cowoknya denga jeans dan jeket serta kaos. Ahhh~ hatle ini mengingatkanya dengan Kaito. Ngomong-ngomong Kaito sedang apa ya sekarang? Apa dia masih marah pada Len?
Kling...
Len refleks menunduk melihat sebuah cincin menggelinding didekat kakinya. Len memungut cincin itu. Ia melihat sekitar tetapi tidak menemukan siapapun disekitarnya yang mungkin pemilik cincin itu. Iseng Len mencoba memakai cincin itu dijari tangan kananya. Tapi tidak pas. Beralih ke yang kiri, hooo~ ternyata cincin itu muat dijari manis tangan kiRinya.
"Kau suka cincinya?" Len refleks menoleh pada pemilik suara itu. Matanya melebar melihat seorang cowok bersurai biru bersandar disebuah pohon tak jauh dari halte. Len merasa begitu gugup ketika Kaito berjalan menghampiRinya.
"Kaito-nii? Ini cincin..."
"itu cincinku..." Glup, Len neLen ludah, cincin punya Kaito? Len buru-buru mo ngelepas ntu cincin takut Kaito salah paham padanya dikira berniat nyuri tapi si cowok berambut biru itu malah mencegahnya. Len balik natap Kaito bingung.
"Jangan dilepas." nah Loh kok? Len niatnya ngelepas ntu cincin kan biar enggak bikin Kaito semakin benci ama dia. Eh sekarang malah Kaito sendiri yang enggak ngebolehinn dia ngelepas cincin itu. Apa mungkin Kaito sudah memaafkan Len?
"Kaito-nii sudah memaafkanku?" tanya Len takut2.
"Menurutmu?"tanya Kaito balik.
"uhm.. Aku tidak tau. Ngomong-ngomong Kaito-nii sedang apa disini?"
"Mengukir takdirku sendiri mungkin?. " Jawab Kaito dengan senyum yang malah Len semakin bingung dan cengo dengan sikap Kaito yang kembali baik seperti semula.
"eh tapi..tapi..."
Cup!
Len membeku seketika karena Kaito tiba-tiba nyium dia.
"Lupakan apa yang terjadi." Ujar Cowok ganteng itu dengan senyum mautnya, bikin Len makin kicep.
"Nah Len busnya sudah datang ayo kita pergi... " ujar Kaito seraya narik tangan Len kearah bus yang entah kapan datangnya tpi udah mangkal disitu.
"Pergi kemana Kaito-nii?" tanya Len bingung.
"tentu saja kan... Kencan."
O_O Eh?
END
