Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Pria tua itu meremas selembar koran yang berisi berita terbaru tentang kasus kematian Dan Kato, sementara senyum sinisnya tersungging. Ah, alangkah sulit dimengerti takdir ini! Entah untuk apa sayatan-sayatan dan pukulan-pukulan itu musti merenggut nyawa pria tua bangka bau tanah, sedangkan seharusnya Dan bisa mati dengan tenang di hari tuanya.
Ia kembali membaca hasil tes DNA yang disimpan sebagai arsip, lalu mendengus. Mungkin selembar kertas yang telah mengguncangkan mental para polisi itulah yang membuatnya berpikir bahwa mungkin begini cara kerja alam memberi keadilan. Meski demikian, masih saja ada sesuatu yang mengganjal yang tidak menyenangkan bagi nuraninya.
"Orochimaru-sensei," sapa seorang pria.
Si pria tua berambut hitam panjang menoleh. Ia tersenyum.
"Kabuto."
MADDENING RIDDLES
o
o
o
o
o
Riddles #4: The Untamable Ally.
Empat kasus pembunuhan lain tidak serumit ini. Setidaknya, masih ada petunjuk yang menjadi titik terang. Namun, kasus Dan benar-benar di luar semua akal. Baru empat hari penyelidikan berjalan, tim Sasuke serasa dilempar ke sebuah dunia di mana mereka seakan dipermainkan. Bukan pula mereka yang mengendalikan permainan, melainkan si pelaku yang seolah menciptakan dunia itu.
Sasuke memejamkan mata, memusatkan seluruh konsentrasinya pada apa yang sedang ia hadapi. Ia tak habis pikir bagaimana hanya satu orang saja mampu membuat kalang kabut delapan polisi penyelidik. Entah bagaimana cara si pelaku melakukan ini semua, terutama soal darah anjing itu.
Sakura, sebagai satu-satunya orang yang masih memiliki rasa optimis dibanding yang lain, memandang rekannya satu persatu. Saat itu, mereka berada di markas yang khusus disediakan oleh NPA untuk tim Sasuke. Mereka semua sedang berkutat menyidik barang-barang bukti, termasuk data-data calon tersangka. Sayang, sang ketua justru seperti kehilangan keyakinan.
"Jadi, hanya begini saja rasa percaya dirimu?" ejeknya.
Seperti sihir, kata-katanya membuat kelima polisi NPA berhenti dari apa pun yang sedang mereka kerjakan. Hanya Gaara yang tidak merasa ketakutan dan tetap meneruskan tugasnya. Ia memang tak peduli jika dunia runtuh; misi adalah nomor wahid.
Sebuah tatapan melesat bagai pisau berburu; tatapan yang Sasuke tujukan pada satu-satunya inspektur wanita di sana. Hatinya semakin mendidih ketika Sakura sama sekali tak terpengaruh layaknya polisi lain yang nyalinya langsung terlumat habis hanya oleh matanya saja.
"Yang ingin kukatakan adalah ... kenapa kita tak segera bergerak untuk memanggil saksi-saksi yang sudah ada di dalam daftar?" imbuh Sakura.
Sasuke menaikkan salah satu alis.
"Seorang inspektur yang telah mengikuti seminar Interpol mengatakan ini ... sungguh mengesankan!" balas Sasuke.
Sang kapten tak akan mau mengikuti cara kerja Sakura yang menurutnya kurang perhitungan. Tidak mungkin baginya untuk langsung memanggil para saksi calon tersangka sebelum mempelajari sedikit seluk-beluk mereka. Lagipula, ia merasa tak memiliki kewajiban untuk mengikuti apa kata Sakura sebab dialah yang memimpin di sini.
Melihat adanya pertanda tak baik di antara keduanya, Naruto mulai gelisah. Ia tak pernah melihat sang kapten kehilangan muka sebelum bertemu dengan Haruno Sakura. Jujur, ada sisi lain di hatinya yang melihat hal ini sebagai sesuatu yang menarik. Namun, tetap saja ia tak mungkin membiarkan kemurkaan sang kapten dilampiaskan begitu saja. Bagaimanapun juga, ia pernah menyaksikan Sasuke marah besar karena kinerja lamban para anak buahnya.
"Inspektur Haruno," sela Naruto, "aku setuju denganmu untuk segera bergerak secepatnya, tapi tunggulah setidaknya sampai besok!"
"Kupikir itu benar, Senpai," tambah Gaara, "tapi kau bisa mengisi waktu luangmu yang sangat banyak ini untuk menjenguk nyonya Tsunade. Kau tak punya banyak hal yang pantas dikerjakan, bukan?"
Usulan Gaara tak ubahnya seperti minyak tanah yang disiramkan pada bara. Andai saja wanti-wanti Kakashi untuk tidak "menghilangkan kepercayaan" MPD bisa ia abaikan, maka saat itu juga ia akan menarik kerah si pemuda berambut merah dan melemparnya ke luar jendela. Emosinya memancing semua bayangan kejam tentang Gaara yang meregang nyawa di jalanan beraspal di bawah sana.
Andai saja. Andai saja.
Beruntung, kepatuhan yang hebatnya masih sanggup ia pertahankan tak membuatnya menjadi pelaku pembunuhan ketujuh tahun ini. Ia tak harus membaca namanya sendiri di headline berita maupun surat kabar.
"Benar juga," ujar Sakura.
Bagus! Sasuke juga ingin melemparnya.
"Adakah perintahku yang mengharuskanmu menemui Tsunade?" tanya Sasuke dengan nada mengancam.
Keduanya beradu pandang, ingin tahu siapa yang lebih tahan lama dalam pertandingan kecil ini. Deretan sumpah serapah mengentak gendang telinga Sasuke sendiri, yang mana tak akan bisa mereka dengar, ketika lawannya tak sedikit pun mengalihkan pandangan. Bola mata hijau itu seperti rumput liar yang tak mati dengan mudah hanya karena diinjak. Mereka bertahan menantang buasnya kekesalan Sasuke.
Tanpa membalas perkataan pria itu, Sakura menunjukkan lencananya untuk mengingatkan perihal otoritas yang dimiliki MPD. Sasuke harus ingat bahwa NPA bakal tetap mengirim perayu-perayu dari Departemen Komunikasi untuk menaklukkan hati MPD. Namun, ia sedikit terhenyak ketika pria itu melangkah dan berdiri begitu dekat di depannya, bahkan terlalu dekat.
"Kau," ujarnya sambil menunjuk dahi Sakura, "tetaplah berada di bawah kepemimpinanku dalam kasus ini!"
"Kalau begitu, kau hanya punya dua pilihan: merengek pada Superintendent-mu atau membiarkanku melakukan apa yang harus kulakukan," balas Sakura, "karena aku bisa memprovokasi Sabaku Temari untuk membatalkan semuanya dan MPD akan melakukannya sendiri."
Mendengar itu, Sasuke mengingat nama-nama binatang apa saja yang memiliki sifat licik. Rupanya berita mengenai Sakura yang jago bernegosiasi hingga menekan bukanlah isapan jempol belaka. Ia tak mengira bahwa bekerjasama dengan polisi MPD akan begini merepotkan, atau memang karena yang ia hadapi adalah Haruno Sakura. Ia tak tahu.
Uchiha Sasuke bahkan tidak mengerti mengapa Tenten yang biasa selalu mendukungnya sekarang hanya diam saja dan malah mengulum senyum. Tidak hanya itu, Tenten juga terlihat sering berdekatan dengan Gaara. Ia tak senang dengan ini, dengan bagaimana salah satu anak buah andalannya mulai berpihak pada kedua polisi MPD sialan. Sementara itu, Naruto hanya mengangkat tangan sebab ia juga tak bisa membujuk Sakura.
"Baik, kau dan aku akan menemui Tsunade," katanya.
Sakura memiringkan kepala. "Apa kau benar-benar tidak bisa sedetik saja berpisah dariku?" celanya.
Kali ini, tawa-tawa yang meskipun masih tertahan dari para anak buahnya pun lebih terdengar jelas. Untung saja Sasuke masih mempertahankan kewibawaannya dengan tidak meneriaki mereka. Ia hanya berjalan mendahului Sakura.
XxX
Di markas besar MPD, Temari duduk di kursi singgasananya sambil memegangi kening. Sudah cukup kepeningannya hari ini! Belum ada satu pun kabar kemajuan yang ia harapkan tentang empat kasus pembunuhan misterius sebelumnya. Sekarang, Kakashi memperburuk harinya dengan tiba-tiba muncul di sana.
Sejak terjalinnya kerjasama itu, Kakashi semakin sering menampakkan diri, sementara sebelum ini mereka hanya bertemu jika sang mantan suami berniat menjenguk anak-anak mereka. Itu pun sangat jarang. Temari memang tidak ingin sering-sering berjumpa dengannya.
"Aku membawa sesuatu untuk Nao dan Yuki," ujar pria itu sambil menunjukkan dua buah kotak berbalut bungkus kertas warna coklat. "Aku ingat mereka akan memasuki tahun ajaran baru."
"Kau bisa langsung menemui mereka," balas Temari.
Si pria berambut perak diam. Ia memang tak berniat untuk membalas perkataan dingin sang mantan istri. Tak ada gunanya juga. Maka, ia langsung saja meletakkan dua kotak itu di atas meja yang terletak di ujung ruangan Temari, lalu ia duduk di seberang meja wanita itu.
Sesekali, suara klakson bus kota yang bersahutan dengan detak jarum jam dinding terdengar seperti semakin menenggelamkan suara mereka. Sama seperti Kakashi yang tak berniat untuk meneruskan obrolan tadi, Temari pun tak berkeinginan untuk bertanya sesuatu yang bersifat basa-basi. Ia sungguh tak memerlukan itu meski mereka telah bercerai cukup lama.
Kakashi yang memahami watak Temari pun akhirnya memilih untuk melihat sebuah papan putih di mana di sana terdapat coretan Temari. Coretan perumusan kasus-kasus pembunuhan di tahun ini. Semua pemetaan itu bermuara pada satu kesimpulan sementara yang dilingkari oleh Temari.
"Aku sempat berpikir bahwa empat kasus termasuk kasus pembunuhan Dan dilakukan oleh satu orang. Orang yang sama," ujarnya sambil menunjuk kata pembunuhan berantai yang dilingkari itu. "Tapi, aku tahu kau setengah tak yakin karena bukti-bukti maupun jejak yang ditinggalkan pelaku dari masing-masing kasus berbeda."
Temari melayangkan delikan tajam. Memang benar yang Kakashi katakan, namun ia tak suka jika Kakashi yang mengatakannya. Pria itu masih saja bertingkah seolah seperti seseorang yang paling bisa memahaminya.
"Apa ada bokong anak buahku yang harus kupukul?" tanyanya.
"Nah." Kakashi menggerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan. "Kenapa kau berpikir kalau aku mengetahuinya dari anak buahmu?"
Temari bungkam. Kakashi bukan seorang pembohong yang baik, kecuali saat ia harus membuat alasan untuk membatalkan janji kencan atau apa pun yang berkaitan dengan kehidupan pribadi mereka. Dulu.
Dulu!
Mungkin inilah mengapa ia selalu berusaha untuk meminimalisir intensitas pertemuan mereka dan membiarkan Kakashi hanya bertemu dengan anak-anak, sementara ia akan memilih berdiam di kamar atau pergi keluar. Mencela keburukan Kakashi memang akan memuaskan, tapi mengingatnya terasa tidak menyenangkan.
"Selamat siang, Komisaris ... oh, maafkan aku!" Seseorang menginterupsi.
"Tak apa, Aoba. Komisaris Hatake akan segera kembali ke markasnya," jawab Temari.
Di saat mulut Aoba sedikit menganga karena hendak mengatakan sesuatu, Kakashi menyela, "Berikan aku lima belas menit! Ada hal penting yang berhubungan dengan kasus Dan Kato yang harus kubicarakan."
"Lima belas menit, Aoba," timpal Temari.
Sang polisi muda mengangguk, kemudian menutup pintu dan meninggalkan mereka berdua.
"Katakan!" Temari memasang wajah serius.
Kakashi memberikan hasil laporan dari Naruto. Ia memang sengaja dan secara pribadi meminta Naruto untuk mengawasi Sasuke dan Sakura sehingga ia dapat mengetahui apakah kerjasama ini berjalan dengan baik. Sayangnya, hasilnya tidak memuaskan. Dalam laporan itu disebutkan bahwa masing-masing anak buah andalan mereka selalu berselisih. Lebih tepatnya, Sakura acap kali membuat Sasuke naik darah dan sebaliknya, Sasuke juga tak pernah menghargai pendapat Sakura.
Di sisi lain, Temari juga menyadari bahwa dua anak buah andalan tak selamanya dapat sejalan, apalagi keduanya berasal dari departemen yang boleh dikatakan tak punya hubungan baik yang disebabkan oleh kedua pemimpinnya. Sasuke dan Sakura sama-sama memiliki sifat dominan dan superior yang tak menguntungkan bagi kondisi saat ini.
"Aku berpikir tentang taruhan," ujar Temari.
Kakashi menaikkan alisnya tinggi-tinggi.
"Kalau aku bisa mengendalikan mereka, maka selanjutnya kau harus melepaskan Sasuke agar ia ditempatkan di MPD, tapi kalau kau yang bisa membuat mereka bekerjasama dengan baik dengan caramu, maka-"
"Kau harus rujuk denganku," potong Kakashi.
"Apa?"
Temari memalingkan wajah dan tergagap ketika ia melihat keseriusan yang ditunjukkan Kakashi. Ia masih ingat bagaimana wajah dan sorot mata pria itu saat ia sedang tidak bermain-main. Namun, bukan tak mungkin kalau Kakashi sedang menggodanya demi kepuasan pribadi.
"Aku tahu kau senang menyesatkan orang lain dengan perkataanmu, tapi-"
Sekali lagi, Kakashi menyela. Katanya, "Kau tahu aku tidak bercanda."
"Kenapa?"
"Karena kau yang menginginkan perceraian itu, bukan aku! Aku menandatanginya karena kau begitu tersiksa dengan pernikahan kita, tapi ... kalau kau berpikir bahwa aku benar-benar setuju, maka kau salah. Aku hanya mundur sejenak sampai aku mendapatkan kesempatan agar anak-anak kembali padaku," ujar Kakashi, "dan inilah waktunya."
Harus Temari akui bahwa hatinya berdesir. Meski begitu, ia masih tak bisa menerimanya, mengingat bagaimana dulu Kakashi bermain belakang dengan wanita lain yang tak lain dan tak bukan adalah Mei Terumi, anak kedua Dan Kato. Maka, bisa ia simpulkan bahwa semangat Kakashi untuk memecahkan kasus ini mungkin tak lebih dari sekedar caranya untuk tetap berdekatan dengan wanita itu sekaligus mendapatkan kembali anak-anak mereka. Kakashi tahu bahwa anak-anak selalu lebih memilih untuk ikut Temari.
Karena ingatan itu pula hatinya seperti tertusuk belati. Ia tak menyangka bahwa ia akan kembali menjumpai perasaan benci yang sempat berhasil ia buang walau sedikit saja.
"Baik," katanya.
Dalam hati, ia bersumpah akan memenangkan taruhan ini agar Kakashi tahu bahwa ia tak bisa dipermainkan. Ia bukanlah Temari yang Kakashi kenal lima belas tahun lalu.
Sebelum pembicaraan mereka berlanjut, Aoba kembali masuk dan meminta maaf karena ia kembali sebelum waktu yang mereka minta. Situasi daruratlah yang membuatnya nekat masuk, bahkan tanpa memedulikan keberadaan Kakashi.
"Lanjutkan!" perintah Temari.
"Tim Shino dan tim Neji telah berhasil menangkap pelaku kasus pembunuhan Ajisai dan pembunuhan Mirai. Salah satu pelaku sedang dirawat setelah inspektur Neji menembaknya karena sempat terjadi konfrontasi," lapor Aoba.
"Suruh kedua tim menghadapku setelah urusan mereka selesai! Terima kasih, Aoba," jawab Temari.
Sepeninggal Aoba, sepasang mantan suami-istri itu saling bertatapan. Mereka tahu bahwa kemungkinan pembunuhan berantai menipis.
XxX
Sasuke dan Sakura sedang menuju rumah sakit di mana Tsunade dirawat. Pria itu sesekali melirik Sakura dan berpikir apakah wanita itu memiliki sedikit saja rasa empati. Situasi yang tengah mereka hadapi bukanlah situasi yang menyenangkan. Mereka sama sekali tak mendapatkan bukti fisik nyata yang lebih jelas selain benda-benda tanpa sidik jari. Kini, wanita itu malah asyik tersenyum-senyum sambil memainkan ponselnya.
Berkomunikasi dengan kekasih di tengah tugas sungguh tidak profesional, sedangkan selama ini Sakura selalu bersikap sok setia pada tugas. Sasuke mendecih saat membayangkan hal itu, atau mungkin ia mendecih pada dirinya sendiri. Untuk apa pula ia memikirkan hal ini, padahal di antara mereka tak ada pembicaraan yang tepat untuk mengisi kebungkaman?
"Apa kau tak pernah memutar musik? Mobilmu seperti makam raja-raja. Sunyi, mencekam, dan sakral," komentar Sakura.
"Aku tak memerlukannya."
"Dingin sekali! Bagaimana kau akan mendapatkan istri kelak?" ejek wanita itu.
"Aku juga tak perlu."
"Wow, jangan-jangan kau gay!"
"Bisakah kita diam?"
Dan, begitulah perjalanan mereka. Keduanya hanyut dalam pemikiran dan kegiatan masing-masing. Sejujurnya, Sasuke tersinggung oleh tuduhan Sakura soal dirinya yang menyukai sesama jenis. Ia masih menyukai wanita, hanya saja bukan wanita yang banyak bicara, apalagi yang terlalu berani mengomentarinya. Terserah saja jika ia dibilang sebagai pria tiran!
Perjalanan sunyi mereka pun berakhir begitu gedung rumah sakit nampak di depan mata. Mereka bergegas dari tempat parkir ke paviliun rumah sakit di mana sebuah ruang perawatan VVIP menampung Tsunade. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, tampaklah dua polisi NPA dan seorang pengawal Dan yang ditugaskan untuk mengawasi sedang menahan beberapa orang. Sasuke dan Sakura tahu bahwa orang-orang itu adalah para wartawan yang masih getol mencari berita tentang Tsunade.
Di satu sisi, wartawan juga berguna bagi polisi karena mereka kadang membantu mendapatkan informasi, namun tidak untuk kali ini. Pihak keluarga Dan Kato telah meminta polisi untuk menekan dan menahan pemberitaan tentang sang istri mendiang korban. Alasannya sama: kondisi Tsunade sedang tidak memungkinkan.
Sasuke menyeringai saat merasa dirinya menang atas Sakura yang bersikeras untuk tetap menemui Tsunade. Sementara itu, Sakura tak memedulikan bagaimana Sasuke menatapnya, seolah sedang mengatakan bahwa dirinya yang paling benar.
Melihat kedua orang yang dipentingkan dalam NPA dan MPD, kedua polisi pengawal dan ajudan Dan membungkuk. Wartawan pun dibuat kecewa dan jengkel karena hal itu.
"Inspektur Haruno ingin melakukan investigasi," ujar Sasuke dengan nada penuh sindiran.
Wanita itu menoleh pada Sasuke dan mengedip. "Aku tak ingat pernah mengatakannya. Aku hanya bilang kalau aku ingin menjenguk nyonya Tsunade."
Dua polisi NPA itu menatap Sasuke ragu-ragu. Mereka tak yakin akan mengizinkan karena mandat yang mereka terima sudah jelas. Baik pihak keluarga korban, dokter, maupun Kakashi, belum mengizinkan siapa pun untuk mencari informasi.
Sakura berdehem. "Agar kalian tahu," katanya dengan wajah sok memelas, "kapten Uchiha tak mengizinkanku melakukan apa-apa. Begini-begitu selalu salah sampai-sampai ia harus mengawasiku secara pribadi-"
"Aku tak bermaksud begitu!" desis Sakuke, menyela perkataan seenaknya itu.
"Tapi aku bosan, Kapten! Aku hanya ingin menjenguk. Lagipula, keluarga beliau tahu aku berteman baik dengan Ino-chan."
Sasuke tak tahan. Ingin rasanya ia menjambak rambutnya yang mencuat itu sampai rontok. Ia yakin ia tak pernah mendengar dari ibunya bahwa ia pernah disumpahi atau semacamnya, namun kehadiran Sakura sekarang terasa bagaikan kutukan. Bahkan, saat ini kedua polisi NPA yang pangkatnya bahkan di bawah Sakura saja berani terang-terangan tersenyum.
Berkurang sudah harga dirinya gara-gara inspektur sialan ini! Beruntung, seorang dokter datang dan menanyai apa keperluan mereka di sana sehingga Sasuke tak perlu meneriaki Sakura yang sedang menyampaikan jawaban. Alasannya untuk menjenguk rekan pun dapat diterima oleh sang dokter dan mereka masuk ke ruangan Tsunade.
Di sana, mereka mengangguk pada Mei dan Noriko, lalu kedua putri Tsunade itu mempersilakan mereka untuk mendekati si saksi kunci. Tsunade pun menyambut mereka dengan seulas senyum lelah.
"Bagaimana keadaan Anda?" tanya Sakura lirih.
"Lebih baik. Terima kasih, Inspektur Haruno dan Kapten Uchiha," jawab Tsunade.
Kedua polisi itu saling melempar tatapan sekilas. "Anda ... sudah mengetahui nama kami?"
Kekehan ramah lepas dari bibir Tsunade. Wanita itu, meskipun sudah berumur, masih tampak menawan dan awet muda. Tak banyak kerutan di wajahnya, apalagi di bagian mata dan seputar bibir. Nyaris tidak ada.
"Bagaimana aku tak tahu? Ino kami selalu bercerita tentang kalian yang sering bertengkar," jawab Tsunade.
"Benar," sahut Mei, "Ino kami sangat menyukai Anda, Inspektur Haruno."
"Wah, aku sangat senang!" bala Sakura.
Dalam keadaan normal, mungkin Sasuke akan merasa bosan dengan obrolan para wanita. Ia tak pernah nyaman berada di tengahnya, namun kali ini ia memercayai Sakura. Cara wanita itu memang agak lamban, tapi toh berhasil saat ia gunakan pada Yamanaka Ino. Maka, sambil menunggu dan menyimak setiap rinci, ia pun duduk di kursi yang terletak di dekat pintu.
Awalnya, Sakura mengatakan hal yang sama dengan apa yang ia katakan pada para penjaga dan ia menjadi jengkel. Mungkin juga malu. Cara bicara Sakura seakan-akan menyiratkan bahwa ada sesuatu di antara mereka meski ia tahu Sakura hanya beralasan. Kemudian, Sakura mulai memuji kecantikan para wanita di keluarga Dan Kato.
Ya, wanita!
"Kau juga perlu merawat dirimu saat sudah mendekati usia tiga puluh, Nona," ujar Mei.
"Akan kupikirkan. Tapi, kurasa kecantikan kalian berasal dari hati," balas Sakura.
Demi Tuhan, Sasuke merinding mendengarnya! Pujian semacam itu selalu saja dilontarkan para wanita dan ia tak mengerti mengapa, sedangkan yang ia tahu wanita akan bangga ketika dirinya merasa lebih cantik daripada wanita lain.
"Tentunya juga karena kalian adalah keluarga yang bahagia," tambah Sakura. "Kebahagiaan akan memancarkan aura yang bagus."
Ketiga wanita cantik itu terkekeh, namun Sasuke memicing. Ia mulai mengawasi gerak-gerik ketiga wanita dalam keluarga Dan, juga gerak-gerik Sakura yang membuatnya tahu bahwa wanita itu memang sedang melaksanakan misinya.
"Kau benar, Haruno-san. Walau pertengkaran ...," Tsunade menghela napas dan tersenyum. "pertengkaran dan ketidakcocokan pasti terjadi dalam setiap keluarga, tapi semua itu seharusnya ... bisa diselesaikan. Ah, maksudku ... karena semua adalah keluarga, maka kasih sayang akan menyelesaikan segalanya."
Sakura terdiam, lalu ia mengangguk dan tersenyum. "Benar. Itu mengapa aku kagum pada Anda karena Anda dan putri-putri Anda yang sangat cantik ini tetap tegar meski apa yang telah terjadi."
Mendengar itu, Sasuke menyunggingkan senyum, seakan ia sedang memuji kepintaran Sakura. Hal itu terbukti saat Noriko dan Mei tersenyum gugup, sementara tatapan Tsunade tampak kosong.
Tsunade mendesah berat. "Biasanya, Dan sedang bekerja di ruangannya di jam-jam ini ... sambil minum jahe hangat yang Shima buatkan dan aku akan sesekali mengingatkannya untuk beristirahat. Aku tak percaya dia ... sudah pergi," katanya.
"Pasti sangat berat untuk Anda, apalagi kejadian itu tak terduga," balas Sakura, "tapi yang terpenting adalah keluarga Anda tetap baik-baik saja."
"Apa Ibu tak melihat wajah pelaku?" sela Mei.
Sakura dan Sasuke menyumpah dalam hati. Pertanyaan Mei bisa mengacaukan rencana Sakura. Mereka berpikir kalau Mei terlalu terburu-buru dan tidak mengingat kondisi sang ibu, mentang-mentang Tsunade dapat berbicara panjang lebar. Namun, Sasuke juga tak bisa menyalahkannya. Ia tahu bahwa Mei sangat khawatir dan tidak sabar untuk mengungkap kasus ini.
Seperti yang ia duga, Tsunade mulai gelisah dan air matanya merebak. Jelas sekali ketakutan yang tergambar dalam wajahnya.
"Sudahlah, Nyonya! Sebaiknya Anda beristirahat," sela Sakura.
"Pria itu ... sepertinya aku tak pernah melihatnya, tapi aku juga tak yakin ... ." Tsunade menggeleng-geleng.
Tepat di saat Tsunade mulai memegangi dadanya, Mei beranjak dan memencet tombol pemanggil tim medis. Sambil menunggu, Mei dan Noriko mencoba menenangkan ibu mereka, sementara Sakura mundur dan berdiri di samping Sasuke sampai seorang dokter dan dua perawat datang.
Kedua polisi itu keluar dan menunggu di sana. Mereka harus tahu tentang status klinis Tsunade dari dokter yang khusus menganganinya. Tak lama, orang yang mereka tunggu akhirnya keluar dari ruangan Tsunade.
"Kami tim penyelidik kasus Dan Kato. Apa kami bisa mendapatkan penjelasan dari Anda tentang keadaan nyonya Tsunade?" Sasuke bertanya tanpa basa-basi.
Si dokter wanita menghela napas sebelum menatap Sasuke dan Sakura secara bergantian.
"Nyonya Tsunade telah lama memiliki penyakit jantung dan musibah itu memungkinkannya mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), namun hal ini harus dipastikan. Saat ini, dokter ahli kejiwaan juga sedang mengobservasi. Yang jelas ... perasaan trauma yang muncul setiap ia mencoba mengingat kejadian itu akan memancing penyakit jantungnya kambuh, bahkan bisa lebih buruk," ujar sang dokter ahli jantung.
XxX
Setelah mendengarkan penjelasan dokter, Sasuke dan Sakura meninggalkan rumah sakit. Jujur, meski Sasuke menentang Sakura, ia sempat menaruh harapan bahwa dengan cara Sakura mereka akan mendapatkan titik yang lebih terang. Namun, seperti yang telah ia ketahui sebelumnya, satu-satunya saksi kunci harapan mereka sedang berada dalam keadaan yang lebih buruk dari apa yang mereka bayangkan. Polisi tidak diperbolehkan untuk menekan saksi, apalagi sampai merisikokan nyawanya.
Baik penyakit fisik maupun mental Tsunade benar-benar akan menempatkan para polisi di medan yang lebih berat. Akan tetapi, Sasuke telah mengantongi sedikit saja petunjuk yang ia dapatkan dari hasil pengamatannya selama Sakura berbincang dengan Tsunade dan kedua putrinya.
Ia pun melirik Sakura yang sedang menatap lurus ke depan. Wanita itu tidak lagi memainkan telepon genggam atau pun berkomentar tentang sesuatu. Garis wajahnya pun mengencang. Memang agak ajaib terdengar, tapi Sasuke telah sedikit memahami bahwa jika Sakura bersikap demikian, artinya wanita itu sedang serius memikirkan sesuatu.
"Kau lapar?" tanya Sasuke.
"Aku ingin makan takoyaki, sih," jawab Sakura.
"Ap- takoyaki?"
Sakura mengangguk, sementara Sasuke tak percaya jika Sakura hanya menginginkan jajanan dibandingkan makanan berat. Tadinya, ia pikir Sakura ingin makan sushi atau apa pun yang dijual di tempat yang lumayan mewah. Setidaknya, begitulah yang ia tahu tentang apa yang wanita dengan penampilan seperti Sakura akan pilih.
Entah mengapa, meski Sakura tidak mengenakan banyak riasan atau sesuatu yang berkilauan, ia tetap tampak glamor. Elegan. Dan, Sasuke bergidik karena ia secara tak sadar juga memuji wanita itu.
"Astaga, Uchiha-san, kita baru saja melewatkan kedai takoyaki langgananku!" seru Sakura.
Sasuke mendadak menginjak rem mobilnya.
"Apa sudah jauh?" tanyanya.
Sakura menggeleng, lalu menunjuk kedai takoyaki yang kira-kira berada 50 kaki di belakang mobil yang mereka kendarai. Sasuke memijit-mijit pangkal hidung, merasa bodoh dan dikerjai. Ia pikir mereka telah sangant jauh melewati kedai itu.
Masih merasa kaget; Sakura kembali mengejutkannya dengan menepuk-nepuk lengannya. "Biar aku saja yang turun. Kau tunggu saja di mobil! O, ya, kau juga mau takoyaki?"
"Tidak!" jawab Sasuke tegas. "Aku ikut turun. Aku tak percaya pada pilihanmu."
"Aku tidak akan memilih serangga untuk isian takoyakimu, astaga!"
Pria itu tak mendengarkan protes Sakura dan berjalan meninggalkannya. Kedai itu menyediakan empat meja dan bangku di luar, yang dinaungi oleh pepohonan. Suasananya nyaman, itu mengapa Sasuke memutuskan untuk makan di sana saja.
Berada di sana membuat Sasuke bernostalgia tentang masa-masa sekolah. Dulu, ia punya sahabat yang senang makan takoyaki dan ia pun jadi sering ikut membeli. Selama bukan makanan manis, ia mau saja. Ia cukup senang memakannya dan melihat enam buah takoyaki yang ia pesan membuat rasa laparnya semakin buruk.
"Ini pesanan Anda, Nona," ujar si penjual yang mengantarkan makanan itu ke meja mereka.
Sasuke terbelalak. Tak ia sangka Sakura memiliki nafsu makan yang besar. Wanita itu bahkan memesan delapan buah takoyaki sebelum melahapnya seakan tak ada hari esok lagi.
"Ah, enaknya! Kau tak tahu bagaimana laparnya aku," ujar Sakura.
Sasuke tertegun, takjub akan cara Sakura makan. Terlihat ... rakus.
"O, ya," kata Sakura lagi, "entah mengapa aku merasa Tsunade tidak bahagia. Begitu juga kedua putrinya."
Sambil mengunyah, Sasuke menatap Sakura dan menunggu apa yang akan wanita itu katakan selanjutnya. Ia ingin tahu apakah alasan kecurigaan mereka sama.
"Tawa dan senyum mereka aneh. Anak buahmu yang pucat itu-"
"Sai," Sasuke meralat.
"Sai," Sakura membeo, lalu melahap takoyaki keempat. "Dia memiliki senyum yang aneh juga, tapi berbeda sekali dengan cara mereka tersenyum."
Sasuke setuju dengan poin itu. Poin selanjutnya pun juga sama dengan pendapatnya. Katanya, senyum yang sungguh-sungguh juga akan terlihat dari mata meski tak harus sampai menutup. Setidaknya, ada kerutan di sudut luar mata atau di seputar bibir yang nampak. Dari keseluruhan yang Sakura amati, Tsunade seperti seseorang yang jarang tersenyum dengan tulus atau dari hatinya.
"Ironisnya, perawatan wajah itu tidak menyembunyikan garis yang cukup dalam di area antara kedua alisnya," ujar Sakura.
Boleh juga, pikir Sasuke. Namun, karena wanita itu bisa kapan saja menunjukkan keangkuhan dan sikap memberontak, ia tak akan sekali pun memuji Sakura. Ia tak akan membiarkan Sakura merusak apa yang telah ia rancang.
"Apalagi ... Tsunade seperti ... merasa ada sesuatu yang memberatkannya ketika ia mengatakan tentang pertengkaran dalam keluarga," imbuhnya. "Aku akan menggali ini lebih dalam, terutama dari Tsunade."
"Kau tidak akan melakukan sesuatu tanpa seizinku!" tegas Sasuke.
Dan, dimulailah perdebatan mereka yang telah memasuki ronde kesekian; tentang keputusan mereka, tentang kemungkinan pembunuhan berantai yang diam-diam Sasuke amini, dan masih banyak lagi. Namun, akhirnya mereka bungkam pada titik di mana mereka sama-sama membahas tentang pembunuhan berantai itu. Lagipula, tiga kasus yang lain juga sama misterius dan sadisnya, juga dilakukan oleh satu orang.
XxX
Jarum jam dinding terus berputar hingga berhenti di angka sebelas. Kakashi dan Temari mengumpulkan tim Sasuke di markas untuk membahas langkah selanjutnya. Wajah-wajah lelah itu membuat kedua Superintendent kasihan, tapi mereka tak bisa membiarkan segalanya berlarut-larut tanpa penyelesaian.
"Kasus pembunuhan Ajisai dan Mirai telah terungkap," kata Kakashi, "dan pelaku pembunuhan Mirai masih dirawat karena luka tembak di kaki dan punggung."
"Jadi, pembunuhan berantai masih menjadi dugaan utama kita meski tak sekuat sebelumnya sebab masih ada satu kasus lain yang belum terungkap, sedangkan satu kasus lagi dilakukan oleh beberapa orang. Jadi, kasus itu bukan bagian dari 'rangkaian'. Itu pun kalau ada kasus pembunuhan sadis lagi setelah ini," imbuh Temari, "tapi kuharap tak ada."
Gumaman-gumaman dari para polisi gabungan NPA dan MPD itu sontak memenuhi lengangnya ruangan, kecuali suara Sasuke dan Gaara yang absen seperti biasanya. Sekali lagi, dugaan mereka sedikit meleset.
"Aku akan menemui pembunuh Mirai," ujar Sakura.
"Tidak, tanpa izinku!" tukas Sasuke.
Seperti seutas tali yang ditarik dari kedua sisi, ketegangan yang diciptakan Sasuke dan Sakura membuat kedua Superintendent mereka menghela napas. Sekarang, mereka percaya akan kebenaran dari laporan Naruto. Sang inspektur pirang itu hanya mengangkat pundak.
"Sakura, Sasuke, ikut denganku sebentar!" Temari menyudahi pertengkaran mereka.
Mereka bertiga pun berdiri di balkon markas. Sakura dan Sasuke menunggu Temari berbicara sampai sang Superintendent usai menyulut sebatang rokok.
"Kuminta agar kalian bisa benar-benar bekerjasama!" tegasnya.
Keduanya mengernyit melihat roman wajah Temari yang nampak frustrasi.
"Kalian bekerja dalam tim, jadi tolong aku!"
"Tolong?" Sakura bertanya. "Apa Hatake melakukan sesuatu pada Anda?"
Sasuke sedikit menukikkan alis ketika Sakura menuduh pemimpinnya.
Temari menggeleng. "Kuraharap kalian tahu apa itu bekerja dalam kelompok. Jadi, lakukan saja! Ini perintah!" pungkasnya sebelum ia mematikan bara api rokok yang baru empat kali dihisap itu, lalu kembali ke ruangam bersama Sasuke.
Sang inspektur tak mengikuti mereka. Ia masih berdiri di sana sambil memikirkan apa maksud ucapan sang superintendent karena yang ia tahu Temari tak pernah terang-terangan menyampaikan keberatannya tentang perselisihan yang terjadi antara ia dan Sasuke.
Sakura menggeleng. Ia tak bisa begitu saja menerima hal itu. Pasti ada hal yang tak beres terjadi. Selain itu, ia memang tak mau patuh pada sang kapten NPA yang angkuh dan sok berkuasa, namun tak cepat mengambil sikap. Jika ia tak segera melakukan sesuatu, maka seluruh proses pengungkapan kasus ini akan bergerak lamban dan ia tak akan membiarkannya!
o
o
o
o
o
o
Bersambung...
A/N: Finally, I update hahaha. Maaf, ya, kemarin2 saya sedang bertapa dan berpikir. Semoga bab ini masih oke.
Sitilafifah989: Soal SasuSaku, ditunggu aja ya jeng hehehe... Hubungan ini-itu pasti akan terungkap nanti.
Guest: Makasiiih. Tetep ikutin, ya!
Ayase Nanjo: Haish hahaha. Makasih lho btw. Oya, aku masih setia nungguin Cascade, jadi kamu tetep semangat!
Khoerunnisa: Hmmm siluman anjing ya... Maybe yes, maybe no hahaha. Ikutin aja sampai terungkap hohoho.
Lacus Clyne 123: Sejauh ini saya belum berpikir untuk memunculkan Itachi sih. Entah kalau nanti hahaha. Oya, oneshot yang mana nih? Ada dua soalnya hahaha.
Ash Shey: Kok bisa darah hewan? Saya juga tak tahu #lho. Pokoknya ikutin aja, juga kisah mereka berdua ini hmhmhm.
Fleur: Haaai! Wah, saya senang baca review kamu huhuhu. Mudah2an kamu betah baca fic multichap ini ya...
Annis874: Akhirnyaaaa hahaha... Ini kuota masih ada kaaan? Makasih udah selalu ngikutin cerita2ku dan nantikan kelanjutannyaaaaa.
Nejes: Makasih, makasiiih... Nah, untuk tahu jawabannya, itu harus baca sampai kelar hahaha.
Alvie. Lupysielupy: Huhuhu makasih beibeeeehhh.
Adityanaya4: Halo! Nah, review kayak kamu nih yang saya tungguin. Berarti kamu bener2 menghayati dan memperhatikan detail huhuhu. Mudah2an saya tetep semangat nerusin dan kelanjutannya gak mengecewakan ya... Oya, saya pernah denger film yang kamu sebutin, tapi belum pernah nonton. Nanti kutonton deh. Makasih bangeeeet.
Scandal. April: Whoa... HP nokia jadul hahahaha... Semoga bab-bab selanjutnya tetep menggetarkan. Salam metal hahaha.
Sekian bab 4. Semoga memuaskan dan saya tunggu review kalian. Muaahhh!
