Gomenasaaaaiiiii... (/-_-)/ karna lama bener updatenya, sebenernya sih udah selesai dari kapan tau, tapi baru sempet upload sekarang, gooommeeennnn


Gelap dan sunyi Itulah yang aku rasakan saat ini, racun karasu itu adalah penyebab aku merasa seperti ini… Surai biru panjang,itulah sebuah 'pecahan' yang ternyata cari selama ini.

Kesadaranku hilang dan berubah menjadi mimpi atau ingatan yang selama ini tidak pernah aku ingat sebelumnya.

Langit sangat cerah, padang rumput? Ini seperti… ah bukan ini pasti padang rumput yang menjadi medan perang antara aku dan karasu, tapii…sangat berbeda. Walaupun ini padang rumput yang sama, tapi entah kenapa keadaannya sangat berbeda, padang rumput ini sangat memanjakan mata, begitu banyak bunga beraneka warna,yang mengundang burung dan kupu – kupu untuk hinggap seperti padang rumput yang aku diami tadi malam,hampir semua rumput dan bunga sudah berubah menjadi sekumpulan bulu hitam membelai salah satu bunga, dan itu terasa sangat nyata,sensasi menggelitik yang aku rasakan pada bagian bawah jemari ku

"ne..ne Eli chan, apa mereka tidak jadi datang?" aku membelokkan pandangan ku ke arah samping kananku,guna untuk bertatap wajah dengan seseorang yang memanggil namaku, dan mataku bertemu dengan sosok Nekomata berambut orange namun dengan postur tubuh yang lebih ,itulah hal pertama yang aku rasakan, Rin masih kecil? Walaupun aku sudah merawat dia sejak dia di telantarkan di hutan, tapi kenapa aku tak pernah tau atau ingat kalau aku pernah mengalami kejadian ini.

"mereka pasti datang, percaya padaku" eh? Tidak mungkin!, aku merasakan kedua kelopak mataku sudah sepenuhnya terbuka dengan apa yang aku lihat Dan juga ku dengar barusan, tepat di samping Rin kecil aku melihat diriku sendiri, sama seperti aku sedang berdiri di depan sebuah cermin. Aku mulai melangkah untuk mendekati mereka,sampai berada tepat di samping si gadis rubah, aku mengarahkan tanganku untuk menyentuhnya, Dan secara mengejutkan tanganku tidak bisa menyentuhnya, atau lebih tepatnya tanganku menembus tubuhnya. Te..tembus? berarti tak bisa di sangkal lagi ini adalah mimpi akan ingatanku dimana aku hanya sebagai penonton yang tidak bisa melakukan apa – apa.

"Eliiii… Riiiinnnn., maaf agak sedikit terlambat" teriak seseorang dari arah depan tempat kami berada, dan saat aku mengarahkan pandanganku pada orang tersebut, aku melihat sosok wanita berbaju miko, dia mempuyai rambut biru panjang yang dia ikat rendah menjadi satu, dia berlari kecil menuju kearah kami "maaf ada sedikit masalah mendadak yang terjadi di kuil" , Dan sama seperti sebelumnya wajahnya seperti tertutup oleh kabut yang tidak tebal tapi cukup untuk memburamkan wajahnya, gadis itu lalu membelokkan pandangan ke arah punggungnya "ayoo zzzz, untuk apa kamu sembunyi di belakang kakak?", Dan aku tetap tak bisa mendengar siapa namanya. Dari belakang gadis itu muncul gadis kecil berambut biru panjang sama seperti kakaknya,dia menunduk malu dan masih menggenggam erat baju bagian belakang kakaknya, "horaa, tadi siapa?,yang bilang katanya kangen sama Eli,mau main sama Rin?" ucap gadis yang lebih tua dengan nada bercanda seraya mengusap bagian atas rambut adiknya

"ka..kakak!" Gadis kecil itu memukul – mukul manja pada punggung kakaknya seraya memendamkan wajahnya sedalam mungkin pada kain di depannya, Dan reaksinya mengundang tawa dari semua yang ada disini

Aku yang saat 'ini',menurunkan badannya hingga dalam posisi berjongkok Dan menatap kearah si gadis kecil "zzzz" diriku memanggil memanggil gadis kecil itu seraya tersenyum hangat padanya, gadis kecil itu tetap mengubur wajahnya "apa wajahku semenakutkan itu?, bahkan sampai kau tak mau melihat ke arahku?" gadis kecil itu menggelengkan kepalanya, Dan secara perlahan mulai melihat ke arah diriku.

"k..kau tidaklah menakutkan Eli,a..aku tidak,tidak takut padamu" jawab si gadis kecil yang sudah sepenuhnya melihat kearah diriku

Diriku membuat senyum mengejek, "benarkah?, karena kau bilang, kau tidak takut padaku, maka boleh kan kalau akuuuu…?" dengan cepat diriku mengangkat tubuh si gadis kecil kedalam dekapannya "menculikmu?"

"KYAAAA" si gadis kecil berteriak karena terkejut

"Hahahahaha" dirku tertawa lepas karena melihat ekspresi terkejut si gadis kecil yang ada di pelukannya, Dan membuat teriakan si gadis kecil menghilang dan berganti dengan tawa malu - malu

"Moouuu.. Eli chan, aku juga mau di gendong" Rengek Rin kecil seraya menarik – narik baju yang sedang di pakai diriku

"sudah…sudah, jangan nangis" ucap si wanita berambut biru panjang, "sini biar onee san yang gendong Rin" dia mulai mengangkat tubuh Rin dari belakang Dan menaruh si kucing kecil di atas pundaknya, "dengan begini semuanya senang kan?"

Melihat pemandangan sederhana yang ada di depanku ini, sudah bisa membuatku merasakan kembali perasaan yang telah lama hilang dari diriku yang sekarang, banyak orang mengatakan bahwa untuk mendapaat perasaan ini sangatlah sulit, tetapi melihat diriku bisa tertawa lepas dengan mereka, sudah membuatku cukup yakin bahwa diriku disini sudah merasakan perasaan itu, yaa..perasaan senang,apa yang namanya kebahagiaan.

Tetapi ada satu hal yang membuatku bingung, kalau ternyata aku mempunyai kenangan seperti ini, semenjak diambilnya Alisa dariku, lalu kenapa aku tak bisa mengingatnya, kenapa aku tak bisa mengingat kenanagan indah seperti ini?.Tiba – Tiba sensasi mengagetkan sekaligus menyakitkan menghampiriku Dan membawaku pergi dari Dunia ingatan ini, kembali pada kemasa dimana seharusnya aku berada, diriku masih melemas, karena efek racun itu, tetapi kedua mataku perlahan mulai terbuka, jadi..aku masih hidup?, dengan terbukanya kedua mataku aku melihat gadis biru pengganti Maki, dia sedang mengadahkan gelas di antara kedua bibirku,seketika dia terkejut saat melihatku membuka kedua mataku, Dan megalihkan pandangannya kearah lain, kenapa?, kenapa kau tidak mau melihat ke arah ku?, tapi sepertinya

efek racun itu benar – benar kuat, bahkan aku sudah tak sanggup untuk menahan kelopak mata ini untuk terus terbuka.

Jangan berpaling, aku..aku ingin melihat tatapan hangatmu.

Gelap Dan sunyi, aku kembali merasakan kedua hal itu, di saat kedua kelopak ku sudah benar – benar menutup.

Cercahan sinar terang sudah menembus kelopak mataku ,memaksaku unuk membuka keduanya, Dan benar saja, hari sudah siang, aku melihat keadaan sekeliling, inikan rumahku….

"hmm…" Aku diam sejenak untuk merangkai kembali memori – memori yang aku tinggalkan kemarin.

"AAHH.. KARASU!" bersamaan dengan teriakan yang keluar dari mulutku aku mengangkat tubuh bagian atasku dari atas futon "a..aww!" tapi bersamaan juga dengan bangunnya tubuhku, aku merasakan sakit luar biasa, dari arah rusuk kanan ku, aku meringis menahan rasa sakit itu, Dan aku baru menyadari kalau hampir sebagian dari tubuhku telah di balut oleh perban

"Eli chaan!" dari arah pintu depan terdengar suara Rin, ekspresi wajahnya terlihat seperti seseorang yang baru saja melihat hantu, dia menjatuhkan keranjang berisi buah – buahan yang sedang dia pegang, dia melompat kearahku, memelukku Dan akhirnya menangis di dadaku "huuwaaaa…, Eri chan kenapa lama sekali kau membuka matamu, kau tau aku..aku sangat takut kalau kau.."

"mati" jawabku memotong sebelum Rin sempat menjawabnya, sontak dia mengangkat wajahnya Dan melihat ke arahku.

"gak.. gak mau Rin gak mau, kalau sampai Eli chan meninggal" jawabnya dengan genangan air mata yang sudah siap turun mengalir di kedua pipinya

"sudah..sudah mana mungkin Kashikoi kawaii Elichika ini, akan mati hanya karena racun dari gagak itu, iya kan?" aku memegang kedua pipinya dengan kedua tanganku, lalu menghapus genangan air mataku itu dengan kedua ibu jariku, seraya tersenyum sehangat yang aku bisa. Walaupun sebenarnya aku juga hampir meregang nyawa tadi, "oohh… Rin hanya untuk memastikan,apa..apa tadi ada seorang gadis berambut biru panjang disini?, atau hanya halusinasiku saja?"

"Gadis berambut biru panjang?.., hmm, apa maksudmu Umi chan?" jawabnya

"Umi chan?", entah kenapa di saat aku mengucapkan kembali nama yang di sebutkan oleh Rin, secara tiba – tiba kepalaku terasa sakit, seperti di hantam oleh batu, refleks aku memejamkan kedua mataku, Dan menyanggah kepalaku dengan tangan kananku.Kenapa, kepalaku tiba – tiba terasa sakit seperti ini?

"Eli chan, kau tidak apa?" tanya Rin yang khawatir dengan kondisi ku

"tidak, tidak apa, hanya sedikit pusing, sekarang sudah hilang" aneh, sakitnya bagai angin lalu.

"Umi chan lah, yang telah merawat Eli chan, dia yang menghilangkan racun, menjahit luka, Dan membalut perban ke seluruh badan Eli chan, Dan tentu saja dengan bantuan ku juga" ucap Rin dengan perasaan penuh bangga

"Iya..iya, terima kasih yaa Rin, karena sudah merawat Rubah ini" ucapku seraya mengusap – usap rambutnya, jadi dia yang sudah melakukan semua ini padaku, mungkin kalau tidak ada bantuannya, bisa – bisa aku sudah mati,setidaknya aku harus berterima kasih padanya. "Lalu di mana dia sekarang?" tanyaku, dengan mengarahkan pandangan mengitari sekelilingku.

"aahh…Umi chan sudah kembali lagi ke kuil, Dan sepertinya dia terlihat sangat terburu – buru", jawab Rin seraya melepaskan dirinya yang sedari tadi menempel dengan ku

Aku terdiam, lalu menarik nafas dalam, "baiklah", aku mulai mngangkat seluruh badanku hendak untuk berdiri, Dan tentu saja secara hati – hati karena luka di rusuk kanan ku ini.

"Eli chan, ini.." dengan cepat Rin menyerahkan baju ganti untukku

Aku mengadahkan tanganku hendak untuk menerimanya "terima kasih, Rin chan"

Sebangunnya aku dari keadaan pingsan, ternyata sudah memakan waktu setengah hari, seperti biasa aku sedang duduk di dahan Dan sedang ber patroli dengan keadaan sekitar.

"kenapa aku selalu saja tak pernah bisa bertemu dengannya?, sekalinya aku bertemu dengannya hidupku sedang di ujung maut" tanpa sadar diriku bergumam dengan sendirinya

"Eeeliii cchhaaaann" panggil Rin padaku

Sontak aku langsung menundukkan wajahku kebawah untuk melihat ke arahnya "ada apa Rin?"

"Aku yakin pasti berita yang aku bawa ini, akan membuatmu senang" dia mengatakan hal itu seraya kedua kakinya melompat – lompat kecil,Dan tentu saja dengan senyum berseri – seri dari wajahnya. Jujur saja ini membuatku cukup penasaran kira – kira berita tentang apa yang sampai membuat dia seperti ini, " ano nee, ini tentang Umi chan"

Umi chan, nama itu sudah seperti sengatan listrik bagiku, tanpa sadar tubuhku melompat turun dari dahan yang semula aku duduki, tak menghiraukan tinggi jarak antara dahan dengan tanah yang nanti akan kedua kakiku tapakki. Berawal dari posisiku berada tinggi di atas Rin, sekarang aku sudah berdiri tepat di depannya, "Jadi ada berita apa tentang Umi?"

"woooww.. ternyata benar dugaanku, tapi tak kusangka kau akan menanggapinya seantusias ini" ucap Rin, yang perlahan mengambil satu langkah mundur dariku, sepertinya aku terlalu antusias sampai – sampai aku juga tidak menyadari kalau wajahku menjadi terlalu dekat dengannya,

" tadi aku melihat Umi chan Dan temannya yang berambut coklat,sedang mencari tanaman obat di hutan ini, setelah meihat mereka, aku langsung mengingat kalau Eli chan sepertinya ingin menemui Umi chan, maka dari itu aku berlari secara cepat kemari, untuk memberi tahu Eli chan"

Kedua mataku terbuka lebar karena berita ini, perlahan jantungku mulai berdegup kencang, akhirnya aku bisa bertemu dengannya, terima kasih Dewa Dewi, setelah sekian lama akhirnya kalian mengabulkan salah satu permintaan ku, "benarkah?"

"iyaa, tadi ku melihat mereka berada di hutan sebelah barat tak jauh dari kuil, tapi sepertinya sudah cukup jauh dari radius segel mantra, jadi aku pikir kau bisa menemuinya sekarang Eli chan".

Aku ingin melompat setinggi yang aku bisa, entah kenapa aku merasa senang akan hal ini, tapi kenapa?, "Terima kasih Rin, aku berhutang padamu" Aku yakin pasti wajahku sangat berseri – seri sekarang ini

"baiklah…baiklah, kalau begitu nanti Eli chan harus membelikanku Ramen sebanyak yang aku mau ya?, hehe"

"tenang saja, nanti kita akan pesta ramen", jawabku sebelum aku berlari menuju arah yang di beritahukan Rin, Hampir sampai. Aku bisa merasakan aliran chi miliknya, tapi secara cepat aku menghentikan laju ku, dia bersama dengan si rambut orange,aku tidak mungkin muncul dihadapannya, pasti akan muncul kepanikkan, aku merubah langkahku dari yang berlari kencang menjadi berjalan secara perlahan, Itu mereka.terlihat sosok gadis berambut orange pendek,Dan disampingnya adalah orang yang membuatku berlari kencang hingga kesini, ya..dia adalah si gadis berambut biru panjang, benar seperti yang dikatakan Rin mereka sedang mencari tanaman obat.

Sepertinya aku harus menunggu keadaan yang tepat untuk muncul di depannya, aku berjongkok di belakang salah satu semak belukar yang cukup besar sehingga bisa menyembunyikan tubuhku, pandanganku terus melekat pada si gadis berambut biru, ekspresi wajahnya saat tertawa, ataupun ekspresi jengkel yang wajahnya ciptakan, sama sekali tidak membuat ku bosan,bahkan aku bisa merasakan kedua ujung bibirku terangkat, hanya karena memandangi dirinya.

Aku harap mereka terpisah, tunggu…, tapi mana mungkin itu terjadi,tapi kalau itu tak terjadi untuk apa aku menunggu disini? Seperti biasa di dalam pikiran ku seperti sedang berlangsungnya acara debat, antara pemikiran diriku Dan pemikiran diriku yang lainnya. "Eh,apa?!" aku hampir tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang ini, mereka memisahkan

diri?, aku terdiam Dan kedua mataku berkedip cepat, si rambut orange berlari ke arah yang berlawanan, meninggalkan si rambut biru sendiri. Ini kesempatan mu Eli, ayo beranikan dirimu, perlahan aku keluar dari belakang semak belukar, dia sedang dalam posisi membelakangi ku,jantungku mulai berdegup tidak beraturan lagi,mulutku sudah terbuka namun tak ada satupun suara yang keluar dari dalamnya, suaraku tak mau keluar, kenapa aku bisa menjadi pengecut seperti ini?, "a..anoo", akhirnya keluar suara dari dalam mulutku.

"iya" Gadis itu merespon panggilanku Dan seraya membalikkan badannya menghadap ke arahku, saat kami sudah bertatap wajah, tiga detik awal di isi dengan diamnya kami berdua.

"WAAA!" Dan keheningan dihancurkan dengan teriakan kagetnya, Dan jujur saja aku tak menyangka kalau reaksinya akan sekaget itu, bahkan dia sampai menjatuhkan keranjang yang sedang di bawa olehnya.

""Aaah!,ma...maaf, sudah mengagetkanmu" bahkan aku juga ikut terkejut akan reaksinya, dengan cepat aku membungkuk untuk mengambil kembali keranjang yang dia jatuhkan beserta isi yang ada di dalamnya, aku kembali berdiri Dan hendak menyerahkan kembali keranjang itu padanya. "Ini" aku mengarahkan keranjang itu padanya

" te..te..terima kasih" dia mengucapkannya dengan wajah memerah seraya mengulurkan kedua tangannya, ini hanya perasanku saja atau memang dia tidak mau menatap ku dalam waktu lama?, imut, cantik, Dan manis, hanya ketiga kata itulah yang melintas di kepalaku saat ini.

Tapi mataku melihat sesuatu yang menghentikanku untuk mengembalikan keranjang ini padanya, "tunggu" , dengan cepat aku menaruh keranjang itu di tanah, Dan langsung menggenggam kedua tangannya. Di kedua telapak tangannya terdapat begitu banyak luka goresan, ada yang hanya sekedar goresan ringan Dan ada juga goresan yang cukup dalam, "parah sekali keadaan kedua telapak tangan mu.", aku mengangkat kedua telapak tangannya mendekati wajahku, aku membuka mulutku,Dan mulai mengeluarkan lidahku, perlahan namun pasti aku mulai menjilati seluruh luka yang ada di kedua telapak tangannya.

"Tu..tunggu, ap..apa yang kau lakukan!?" dia berusaha menarik kedua tangannya dari genggamanku

Karena rontaannya itu, aku berhenti menjilati lukanya, Dan menatap ke arahnya, tidak seperti sebelumnya, kali ini dia balas menatapku, Dan tidak memalingkannya dariku, "tenanglah sedikit,aku sedang berusaha untuk menyembuhkan luka mu" ucapku Dan masih menatap matanya

"me..menyembuhkanku?"tanyanya dengan ekpresi wajah bingung nan lugu

Sepertinya ini memang agak sedikit membingungkan untuk manusia, Dan kalau dilihat dari ekspresi wajahnya seperti nya dia memang belum pernah melihat sesuatu yang seperti ini sebelumnya, "lihat" aku mengangkat telapak tangannya ke depan wajahnya untuk memperlihatkan hasil kerja ku. ""Liur ku bisa menyembuhkan, atau lebih tepatnya mempercepat proses penyembuhan", aku mulai melepas genggamanku dari telapaknya.

"he..hebat!" ucapnya dengan kedua matanya tertuju pada hasil kerjaku yang ada di telapak tangannya, "terima kasih" dia tersenyum berbinar memperlihatkan deretan gigi atasnya, Dan karena hal itu aku merasakan suatu sengatan lagi di dadaku

"sama – sama" aku membalas senyumnya dengan membuat senyum sehangat yang ku bisa, tetapi mataku kembali melihat sesuatu yang tidak bisa untuk di biarkan "hmm…ada apa dengan lehermu?" aku melihat barisan ruam merah melingkar di lehernya, Dan ada goresan cakar di sekitarnya, seperti bekas cekik kan, seseorang telah menyakitinya, kenapa aku merasa kesal,kenapa aku merasa geram akan hal itu?

Tanpa berpikir panjang aku mulai mengambil langkah untuk mendekatinya,aku tak peduli walau seiring dengan majunya langkahku, gadis ini mengambil langkah mundur dari ku, tapi itu semua percuma karena langkahnya terhenti oleh pohon yang ada di belakangnya, Aku ingin menghilangkan luka itu, aku ingin menyembuhkannya, tangan kananku mulai bergerak menuju pundaknya, Dan mulai menggeser turun kerah kimono yang sedang dia pakai.

"Tu..tunggu, jangan" ucapnya Dan hendak meronta untuk lepas dariku, tapi itu juga tidak berhasil karena refleks tubuhku lebih cepat darinya. Tangan kiriku sudah terlebih dahulu menggenggam tangan kanannya, Dan tanganku yang lain mulai bergerak ke atas menuju tengkuk, Dan berhenti di belakang telinganya.

"izinkan aku menyembuhkan luka yang disini juga" aku berbisik di telinganya, Dan perlahan menundukkan wajahku menuju luka cakaran itu bersemayam,semakin aku menuju tempat luka itu semakin kuat juga aroma wewangian bunga sakura bercampur teh hijau, tercium di hidungku.

"To..tolong, ber..henti,hhaaaahh"rengeknya, namun seluruh pikiran dan tubuhku menolak untuk berhenti dan mengabaikan rengekannya, pikiranku kosong, entah kenapa aku merasa tubuhku sudah sepenuhnya dikendalikan oleh instingku, aku mulai membuka mulutku dan mengeluarkan nafas dari sana, aku merasakan tubuhnya bergetar, namun aroma sakura bercampur teh hijau yang keluar dari kulit yang ada di depanku ini bagaikan sebuah aphrodisiac bagiku.

Aku tidak bisa berhenti, tubuhku bergerak seakan – akan memang ini yang harus dilakukan.