From White to Dark
Chapter 4
.
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning: adult theme (violence, difficult conversation, etc), AU, OOC, typo(s), flat storyline, boring, etc!
.
Enjoy
.
.
Kerut-kerut di wajah tua Hiruzen Sarutobi hanya tergerak sedikit. bahkan jemarinya sama sekali tak bergerak dari atas meja mahoni yang menopang seluruh buku dan file dokumennya ketika Sakura dan Ino, masih dengan gaun dan wajah penuh peluh (sementara rambut palsunya entah telah dibuang entah kemana) melaporkan seluruh informasi yang mereka dapat, mulai dari 'keganasan' seorang Uchiha Sasuke yang membantai tanpa ampun orang-orang yang menginginkan kematiannya hingga informasi mengenai senjata buatan Hashirama Senju.
Ah, ya. Senjata itu.
Entah mengapa Sarutobi tidak mengingatnya sama sekali hingga detik sebelum kedua anak buahnya datang kepadanya. "Senjata buatan Ilmuwan jenius itu ya...ah, bagaimana pula aku melupakannya begitu saja?" dengusnya, akhirnya memberikan jawaban setelah menit-menit penuh keheningan berlalu. Sakura dan Ino duduk manis dengan patuh di depannya, menanti.
Kemudian lanjutnya, "senjata nuklir. Dulunya senjata itu hanyalah alat uji coba pertahanan yang didukung oleh pemerintahan Iwa...sebelum seorang bayaran mencurinya dan menjualnya pada kelompok hitam terkuat di Iwa; Zabuza Momochi, jika aku tak salah ingat," sinar redup dalam tatapan matanya menerawang ke pemandangan malam di luar jendela kantornya di lantai empat markas ANBU, "kemudian terjadilah perang itu—perang terbuka kelompok hitam di Iwa dan bercampur juga dengan kelompok-kelompok dari Konoha yang menginginkannya untuk tujuan mereka. Meski akhirnya tidak ada yang menang karena senjata tersebut sudah terlanjur diluncurkan—mungkin dilakukan oleh orang pemerintahan atau mungkin anggota kelompok yang muak dengan perang tersebut dan berusaha mengakhirinya, tapi harga yang dibayar sama sekali tak bisa dibayangkan oleh siapapun sebelumnya; nyawa beratus-ratus orang melayang, tanah mereka yang sama sekali tak bisa digarap lagi, bahkan penghapusan ibukota mereka sendiri dari peta. Itu...menyedihkan," pungkasnya. Ia menghempaskan kembali tubuh ringkihnya ke punggung kursi empuk. Rupanya, selama mendengar laporan itu ketegangan menjalarinya, membuatnya duduk tegak penuh ketegasan. Namun kini ia sudah menceritakan keseluruhan tragedi dua puluh tahun lalu, dimana ia sedang dalam masa kejayaannya dalam mengabdi pada negara, kepada dua perempuan ini.
Diam kembali.
Seolah telah memutuskan apa yang harus dilakukannya, Sarutobi mencondongkan kembali tubuhnya, menatap tajam Sakura dan Ino yang masing-masing menggigit bibir bawahnya dengan cemas—kalau-kalau mereka menerima hukuman akibat kelalaian dalam bertugas dan tidak meminta ijin melakukan penyelidikan pada senior sebelumnya—kemudian memberi perintah.
"Haruno dan Yamanaka, aku harus menjadikan kalian berdua tangan kanan dan tangan kiriku dalam kasus ini, dan terutama kau Haruno! Uchiha Sasuke adalah tersangka utama dalam kasus ini, dia harus diringkus untuk mendapatkan senjata itu dan meredam peperangan antar geng. Aku tahu Uchiha menginginkanmu, meski alasannya masih tidak kumengerti—tenang saja, kau dan keluargamu bersih dan kalian sama sekali tidak punya hubungan apapun dengan klan Uchiha, kujamin itu. Karena ketertarikan Uchiha Sasuke padamu itulah kau lebih leluasa dalam bernegosiasi dengan tikus sialan itu," Sarutobi mendengus sinis, "dan memang sesuai dengan tebakanmu juga, kurasa aku harus berkompromi dengan Uchiha Itachi dan Shimura Danzo. Dan aku—"
"Jangan!" suara nyaring Ino yang memotong perintah atasannya segera menggaung dalam ruangan temaram yang lumayan luas tersebut, "Ja-jangan Sarutobi-sama! Sefatal apapun damage yang ditimbulkan kelompok yakuza Uchiha Sasuke, kita tidak bisa berkompromi dengan mereka berdua, atau kita akan menyesal sendiri, seperti yang telah dilakukan pemerintahan terdahulu dengan politikus hitam semacam Uchiha Madara—itu...menurut saya, hal itu sangatlah beresiko."
Sebenarnya Ino yang memotong kalimat atasannya ini jauh lebih beresiko, batin Sakura kecut.
"...lalu, apa saranmu, nona Yamanaka?"
Ino terdiam sejenak, merasa ragu. Namun sorot mata tajam Sarutobi dan raut penasaran kawannya membuatnya berucap dengan pelan, "mencari...veteran yang telah pensiun...itu menurut saya."
"Pensiun?" senyum lebar tercipta disertai kerutan yang melesak dalam di wajah sang kepala divisi. Rupanya pilihan nomor duanya itulah yang didukung oleh para anak buahnya—oh, dia lupa mengatakan bahwa sebelumnya saran yang sama telah dilontarkan oleh Kakashi, Asuma, bahkan Sai yang menjadi anak tiri Danzo sekalipun. Usul yang sebenarnya sama beresikonya sebenarnya, karena mereka tidak tahu profesi apa yang dijalani pensiunan ANBU yang sudah hilang kontak bertahun-tahun yang lalu. Mungkin saja mereka beralih rupa menjadi teroris atau malah menjalani hidup tenang dengan sebuah keluarga, bukan?
Tapi resiko adalah jalan hidup yang telah dipilih Sarutobi sejak pertama ia menginjakkan kaki di markas ini hingga sekarang meraih jabatan tertinggi yang memungkinkannya merubah keputusan para pejabat pemerintah hanya dengan sekali melobi.
"Kalau begitu, kau dan Sai akan mencari Jiraiya dan Orochimaru. Dan Sakura, hubungilah lagi Uchiha itu dan koreklah informasi sekecil apapun yang bisa kau peroleh; aku tak mengijinkanmu untuk bertemu langsung dengannya seperti malam ini, tapi tetaplah menjaga komunikasi dengannya. Aku ingin tahu langkah selanjutnya yang akan diambilnya dan tujuan sebenarnya ia mengadakan perang terbuka dengan sengaja hanya untuk mempergunakan senjata nuklir Hashirama Senju tersebut. Mengerti?"
"Yes, sir."
.
.
Sakura mendapati badannya seolah berjalan tanpa pikiran semenit setelah ia meninggalkan markasnya bersama Ino, kelelahan sementara mereka ingin segera pulang ke apartemen masing-masing. Ia mendongak, mendapati langit malam yang bintangnya saja tak tampak, kalah oleh silaunya lampu-lampu kota yang terlalu besar. Tak ada satupun hal menyenangkan baginya di malam hari Konoha tanpa Ino yang mengoceh panjang lebar, batinnya. Oh, ya, pikiran mengenai Ino membuat gadis bertenaga selevel dengan gorilla—maksud penulis, selevel dengan atlet judo terbaik Konoha—membuatnya teringat dengan percakapannya sebelum mereka berpisah jalan pulang.
.
"Nee, Sakura."
"Hmm? Ada apa Ino?"
"Coba jawablah dengan jujur, apa kau mengenal Uchiha Sasuke? Kau tahu, dia terlihat begitu tertarik denganmu sewaktu di club itu, bahkan memberikan informasi bagus secara Cuma-Cuma hanya untuk mengobrol denganmu...hayo! jangan-jangan sewaktu SMA kalian sempat berpacar—"
"PIG!"
"Oke, aku bercanda."
"Aku tidak mengenalnya! Sama sekali! Bahkan siapa dia saja aku harus bertanya padamu—ingat sewaktu kau menginformasikanku perihal klan Uchiha dan kelompok Sasuke? Makanya, aku heran kenapa dia seolah tahu segala hal tentangku. Bahkan dia tahu namaku sebelum aku menyebutkannya!"
"Secret admire!"
"Jangan bercanda,"
Dengusan sinis Sakura terhembus.
"Bagaimana jika kau membuka album sekolahmu sebelumnya? Atau menanyakan pada teman-teman lama dan orangtuamu, apa kalian secara kebetulan pernah bertemu tanpa berkenalan? Bisa saja kan, sebenarnya kalian bertemu tapi kau tidak pernah berkenalan dengannya sementara dia mati-matian mencari informasi tentangmu dari orang lain akibat sifatmu yang lemot itu—"
Sebuah pelototan dilancarkan untuk Ino.
"—hehehe, maaaf. Aku bercanda, Sakura! Sudahlah, aku belok sini, ya, jalan ke rumahku lewat sini. Sampai jumpa besok!"
.
Dasar Ino, meski baru saja terlibat dengan adegan yang seperti film aksi dan berunding super serius secara langsung dengan atasan tertinggi mereka, ia masih saja sempat bergosip ria. Oh, tapi karena gosip Inolah Sakura tahu segala macam detil hal yang terjadi di kantornya saat ia dan Kakashi lebih banyak berada di lapangan belakangan ini. Yah, kau tahulah kasus penembakan ketua geng ini membuatnya melewatkan waktu dengan penyelidikan langsung dan pengawasan berkala.
Sedang asyiknya Sakura melamun, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah nada sebagai tanda bahwa pesan singkat masuk ke ponselnya. Gadis itu cepat-cepat merogoh isi tas tangannya dan mengernyitkan dahi membaca isi pesan
.
Sender: Dark
Recipient: Haruno Sakura
Subject: Prologue
"Seorang penonton melihat lebih cermat daripada pemain di lapangan*".
Berhati-hatilah, Sakura. Jaga dirimu.
—End Message—
.
Apa sih?
Sakura menelengkan kepala dengan heran. Siapa pula ini? Dark? Apa dia pernah menyimpan nomor seseorang bernama seaneh ini? Oh, pasti ada orang club yang memasukkannya diam-diam saat ia meninggalkannya di meja resepsionis tadi. Tapi apa pula maksud kalimat di dalam tanda petik ini? Dan kenapa pula subyeknya tertulis 'Prologue'?
Kernyitan Sakura bertambah seiring otak cerdasnya yang bekerja keras. Astaga, tidak cukupkah malam ini dipenuhi dengan kejadian-kejadian menegangkan? Kenapa pula ia harus menerima pesan singkat seaneh ini? Kurang kerjaan.
"Sudahlah," Sakura melemparkan ponselnya ke kasur segera setelah ia sampai ke apartemennya yang tak jauh dari markas ANBU, kemudian meraih handuk dan bersiap mandi. Perawakannya yang senantiasa berjalan dengan tegap dan penuh kebanggaan kali ini melorot lelah.
Tanpa Sakura tahu, sebuah kilatan sepintas yang berasal benda berbahan metal terpancar dari jendela terbuka di apartemen seberang, menghadap langsung dengan kamar tidurnya.
.
.
Mansion megah bergaya eropa kuno itu gelap, dan hanya beberapa lenter yang berisikan LED saja yang dinyalakan di hall masuk dan di pekarangan. Malam hari merupakan saat dimana kediaman itu tak pernah dihuni pemiliknya; Fugaku terbiasa menginap di hotel dimana ia akan dipanggil setiap saat untuk berunding mengenai kebijakan-kebijakan negara, Itachi sendiri sepertinya sudah mendapatkan penthouse yang sesuai dengan keinginannya di pinggir laut, sementara Mikoto, tentu saja mengikuti suaminya kemana pun sebagai istri pejabat yang baik.
Karenanya hanya ada Sasuke yang masih setia (lebih tepatnya, ia menjadikannya sebuah keuntungan untuk memindahkan setengah lusin anak buah kepercayaannya kesini) di dalam mansion, itu pun ia pergi keluar saat bulan menampakkan diri, entah untuk urusan apa. Dan jadilah mansion itu seperti halnya villa yang hanya dihuni oleh Suigetsu dan Jugo, meski terkadang Naruto pun ikut menginap disana seperti halnya saat ini.
"Kauuu...TEME!"
Seruan membahana membuat dua orang kepercayaan Sasuke yang lain, Neji dan Gaara, mengernyit heran. Tidak biasanya pemuda dengan trademark guratan di pipi itu berteriak dengan memanggil atasan mereka seperti tadi. Tapi tak merasa terganggu, keduanya kembali menekuni cerutu dan alkohol lain yang sedari tadi dikonsumsinya, membiarkan Naruto kembali mengomel (lebih tepatnya, berbicara dengan Sasuke yang bahkan sudah menyamai tembok).
Kembali pada si empu omelan, Naruto menatap gemas (lihat saja, bahkan kedua telapak tangannya mengepal sempurna) Sasuke yang sekarang malah sibuk berkutat dengan buku "Angsa-Angsa Liar"-nya—jangan tanyakan Naruto bagaimana isi bukunya karena dari tempatnya berdiri yang hanya diterangi cahaya lampu temaram, Sasuke yang berkulit putih pucat terlihat seperti sosok kunang-kunang. Namun begitu tak menyurutkan niatnya memarahi bos sekaligus sepupunya. Apa yang perlu ditakutkan? Toh, selama ini memang mereka tetap mengobrol (bahkan berkelahi) layaknya sepupu yang 'setengah-akrab-setengah-rival'.
"Kukatakan ya, Teme, kalau kau hendak membuat para anak buahmu kerja lembur dengan ekstra tenaga penuh seperti tadi—kau harus tahu, aku kelimpungan mencari orang yang bisa mengendarai helikopter dan menghubungi (tepatnya mengancam) petugas CCTV disana untuk mengikuti perkembangan pertemuanmu dengan Haruno Sakura dan berujung dengan melakukan hal gila seperti tadi! Well,walau aku juga senang dengan kehebohan tadi, kau harus lihat bagaimana syoknya perempuan itu," Naruto menggaruk-garuk pipinya sembari melebarkan cengiran khasnya. Bagaimanapun juga ia merasa tak keberatan dengan rencana-rencana dadakan bin gila ala Sasuke yang membuatnya agak kesal."Tapi Sasuke, mau kau apakan bom nuklir yang sedari kemarin kau sebut-sebut sebagai 'sang malaikat' itu? Aku sama sekali tidak melihat kesamaan bentuk silinder panjangnya yang seperti mala—"
"Maksud Sasuke-sama, warna putih dan ledakan cahayanya yang terang benderang sama halnya dengan legenda malaikat, baka!"
Kepala Naruto tertoleh kesal, "kalau itu saja aku juga tahu, Kiba!" kemudian ia menatap Sasuke yang tak menunjukkan sedikitpun tanda mendengarkan isi omelan Naruto, "ayolah, Sasuke! Setidaknya kau harus memberitahu wakagashira dan para shateigashira-mu agar kami bisa segera bertindak jika keadaan tidak menguntungkan!"
Hening.
"Uzumaki Naruto."
Perlahan tapi terdengar dalam, khas suara serius sang Uchiha bungsu, nama lengkap Naruto diperdengarkan sementara sang pemilik nama menegakkan bahunya. Ia tahu ada sesuatu yang mengganjal hati sang Oyabun.
"Kau tahu mengapa sebuah pemerintahan dikatakan gagal?" sebuah pertanyaan meluncur sebagai pembuka diskusi mereka hari ini, sekaligus pertanda bagi kelima shateigashira-nya untuk mendekat dan menghentikan kegiatan mereka. Saat itu, bulan sudah menunjukkan kuasa penuhnya terhadap langit malam, dan angin dingin tanpa sedikitpun manfaat kesehatan berhembus girang melewati celah-celah jendela dan ventilasi mansion.
Perlahan, wajah dingin Sasuke terangkat dari bukunya, menatap satu persatu anak buahnya dan berhenti di Naruto yang masih mengernyitkan dahi 'kau-ngomong-apa-sih' padanya; kemudian ia meneruskan, "jawab, Naruto."
"Apa?" Naruto yang masih tidak begitu mengerti dengan pertanyaan itu hanya menjawab sederhana, "eeh, menurutku...pemerintahan yang gagal itu ya, ketika kebijakan-kebijakannya tidak sesuai dengan keinginan hati rakyat, atau ketika negaranya jatuh bangkrut, atau karena mereka korup dan kotor, atau..." Naruto segera tercekat, kemudian serta merta memandang Sasuke dengan tatapan tak percaya yang juga dilemparkan shateigashira yang lain, "...Sasuke."
"Hn."
"Apa kau berencana...memusnahkan Konoha dengan bom nuklir itu karena menganggap kota ini sudah terlalu...gagal?"
Sebuah tawa kecil segera mengalun dari mulut Sasuke.
"Uzumaki Naruto, kuakui kau semakin cepat menangkap isyaratku."
"Tu-tunggu, Sasuke! Lalu, bukannya kau dan Haruno Sa—"
"DIAM!"
Seketika tubuh Naruto yang menegang hanya bisa terhenyak, mendapati onix sang Uchiha yang menatap kejam padanya; dingin, sama sekali tak tampak satupun tanda bahwa pemiliknya adalah seorang manusia—bukan, bahkan Naruto sendiri berpendapat sejak dulu bahwa Uchiha Sasuke hanyalah seorang manusia yang menjadi wadah bagi penjelmaan seekor iblis. Ya, SEEKOR. Iblis tanpa hati nurani sekalipun yang membenci manusia. Atau begitulah memang Sasuke yang sekarang berada di hadapannya, beranjak berdiri dengan tenang. Tubuhnya tegap penuh kesombongan, sementara dia sendiri berbicara mengenai 'pemerintahan gagal'. Jika saja saat itu tidak ada embel-embel pembantaian massal, pastilah Naruto hanya akan tersenyum kecut dan menegur sepupu tersayangnya untuk kembali tidur.
Uzumaki Naruto seakan tersadar dari mimpi dan mendapati dirinya berada dalam tangkupan tangan Mephistopheles. Atau mungkin, the real Sasuke.
.
.
"lalu apa yang menanti keduanya di pertemuan berikutnya?"
.
.
TBC...
.
.
Vocabulary:
*Penonton melihat lebih cermat daripada pemain di lapangan (dang ju zhe mi), merupakan sebuah pepatah Tiongkok kuno yang saya dapat dari internet.
Wakagashira : middle man in practice (1st lieutenant) dalam kelompok yakuza yang bertugas melaksanakan perintah oyabun dan mengawasi kinerja wakashu sesuaiperintah, info lengkap dapat ditelusuri di .id.
Shateigashira : (2nd lieutenant) orang yang menjadi pemimpin kyodai (big brother) info lengkap dapat ditelusuri di .id
Sekilas tentang "Angsa-Angsa Liar" karya Jung Chang, bercerita mengenai perjalanan tiga generasi perempuan dalam menghadapi masa-masa pergolakan Tiongkok.
Terakhir, terima kasih banyak kepada orang-orang yang telah secara sadar mereview fanfik ini, (sejauh ini di antaranya adalah) ichachan21, Eysha CherryBlossom, Aerizna Yui, .39, Uchiha Riri, mantika mochi, rainy de, the last summer, FiaaAtisrizqi, dan Alifa Cherry Blossom, juga kepada reader sekalian, dan maafkan atas segala kesalahan ketik, penyebutan nama dan istilah, serta keterlambatan alur cerita yang mungkin agak membosankan.
