Len menatap lantai yang berlumuran darah dengan horror. Cairan kental amis berwarna merah pekat yang berasal dari tubuh korban benar-benar membuatnya muak. Ia mengedarkan pandangannya, hanya ada satu jendela dan beberapa ventilasi. Sepertinya Rin tidak terlibat dalam kasus ini. Namun yang membuatnya bingung, dimana gadis itu sekarang?
"Hei! Anak kecil tidak boleh masuk!"
Len tersentak mendengar seruan dari seorang satpam. "Ah, aku hanya ingin tahu keberadaan temanku. Bukan untuk mengganggu atau apa," tuturnya pelan.
Satpam itu mengernyit. "Tetap saja tidak boleh! Cepat pergi dari sini! Ini urusan polisi!"
Len menghela nafas berat, ia tampak enggan. "Tapi─"
"CEPAT!" ucapan satpam tersebut membuatnya ingin segera melangkah kabur darisana. "TUNGGU APA lagi? CEPAT!"
Len bergidik ngeri. "Hai', hai', satpam jelek," ia segera kabur dari situ.
"BOCAH NAKAL!"
Lonely Heart © Akari Hikari
Vocaloid © Yamaha and Crypton Production
Warning : abal, jelek, alur cepet, typo (s) dan kekurangan lain
Chapter 4 : Perasaan
Len mendesah pelan ketika tidak menemukan ojou-nya. Rasa kekhawatiran tersirat dari wajahnya. Bolak-balik ia mengusap tengkuknya atau menggaruk-garuk kepalanya, ia benar-benar kebingungan! Petunjuknya hanya jendela, tidak lebih dan tidak kurang. Ia memutuskan untuk melihat jendela tersebut dari luar cafe.
Di belakang cafe, ada sebuah gang kecil yang tidak pernah di lewati siapapun. Salju yang menumpuk di sana tidak pernah di bersihkan atau di singkarkan sehingga membentuk gumpalan salju putih besar. Jendela itu menghubungkan cafe dengan gang tersebut.
"Loh? Jejak kaki?" gumamnya pelan. Ia menatap gumpalan salju putih yang membentuk jejak kaki. Ada dua jejak kaki berbeda dan satu jejak aneh yang sepertinya jejak barang yang diseret, namun yang membuatnya bingung adalah kenapa jejak barang begitu abstrak dan aneh?
"Hm ..." Len berjongkok dan menatapnya dengan seksama. "Kemungkinan ada dua orang yang menyeret Rin dengan paksa sehingga Rin meronta dan membuat jejak seperti itu. Masuk akal," gumamnya pelan.
Ia segera berlari dan mengikuti jejak tersebut. Namun langkahnya kembali terhenti ketika sudah berada di luar gang karena jejak tersebut menghilang!
Len mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Terlebih lagi ada dua arah yang bisa saja mereka tempuh! Sungguh membingungkan! Ternyata jadi bodyguard sangat susah, ya!
"Err ... kau ... Kamine, ya?"
Pertanyaan itu membuat Len menoleh ke belakang untuk menatap si sumber suara. Seorang lelaki berambut merah yang diikat ponytail dan menggunakan kaca mata memberikan sebuah surat. Wajahnya yang tanpa ekspresi membuat Len enggan menerimanya.
"Ambil ini," ucap lelaki itu datar.
"Bagaimana aku bisa mengambilnya kalau aku tidak mengenalmu?" tanya Len dingin. "Aku tidak menerima apapun dari orang yang tidak kukenal."
"Aku Kasane Ted, kakak dari Kasane Teto. Kau pasti mengenal adikku," ucap Ted datar.
Len tetap merasa enggan. Walaupun ia tahu Teto, tapi ia tidak tahu kalau Teto punya seorang kakak laki-laki.
"Aku tahu kau pasti sedang mencari seorang gadis berambut pirang yang diseret paksa─" Ted menahan nafasnya. "─mereka pergi ke arah sana," Ted mengarahkan telunjuknya ke sisi kanan.
Len mengernyit, bingung kenapa Ted tahu tujuannya. "Apa kau melihatnya? Dia pergi sama siapa dan kemana mereka pergi?" tanyanya sambil mengambil surat tersebut.
Ted mengangguk. "Ya, aku melihatnya. Aku hanya melihat arahnya dan sepertinya ada dua orang yang menyeretnya, tapi aku tidak tahu pasti," ucapnya sambil mengendikkan bahu.
Len memanggut-manggut. "Baiklah, terima kasih atas infonya,"
Ted hanya mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Len yang sibuk membuka suratnya. Len tidak habis pikir, kenapa si penculik menulis surat seperti itu.
Yah, paling isinya tebusan atau apalah sebagai pertukaran, pikir Len.
Namun nyatanya ia salah sangka! Surat itu merupakan petunjuk dimana mereka berada!
Len Kamine, kami menunggumu di gedung hitam. Kau hanya punya waktu sebelum matahari tenggelam.
Len mendesah pelan. "Gedung hitam? Memangnya ada gedung hitam di sana?" tanyanya pada diri sendiri. Ia melihat jam tangannya. Jam 4.00.
Karena Len merupakan murid pindahan, jadi wajar saja kalau ia belum terlalu kenal dengan kota ini. Ia masih belum tahu banyak tempat dan tidak terlalu hafal tempat-tempat tertentu. Apalagi seperti gedung-gedung yang menjulang tinggi, ia tidak terlalu memedulikannya.
Len memutuskan untuk bertanya pada salah satu pejalan kaki yang melintas di trotoar. Ia bertanya pada seorang lelaki dewasa berbadan kekar yang memiliki jenggot panjang.
"Gedung hitam? Aku tidak pernah mendengarnya," Ia mengelus-elus jenggotnya, tampak berpikir. "Ah! Aku tahu!"
Len langsung berbinar-binar mendengarnya. "Apa-apa?"
"Disana dulu ada sebuah gedung yang pernah kebakaran dan merenggut puluhan jiwa. Karena perusahaannya bangkrut dan juga penampakan yang sering mereka lihat, akhirnya gedung itu dikosongkan dan tidak pernah direnovasi. Sepertinya gedung itu yang dinamakan gedung hitam," tutur lelaki itu.
"Apa masih jauh dari sini?"
"Lumayan sih, tapi kau hanya tinggal berjalan lurus dan akan menemukan gedung itu,"
Len membungkuk. "Woah, terima kasih banyak, paman!" Ia segera berbalik. "Aku pergi dulu, paman~!" Ia segera berlari dengan cepat.
Lelaki itu hanya bisa menggeleng-geleng melihat keantusiasannya Len.
Len terus berlari, menerobos kerumunan manusia. Ia hanya bisa berkata "maaf!"jika menabrak seseorang. Keringat mulai membasahi tubuhnya, rasa letih menjalar di sekujur tubuh, namun ia abaikan itu sekarang. Ia hanya memedulikan Rin yang merupakan majikannya. Ini merupakan tugasnya sebagai bodyguard, yaitu melindunginya. Terlebih lagi ia sudah berjanji pada Rinto.
Namun sekarang ia tidak menyadari kalau sekarang perasaannya sudah berkembang lebih dari itu. Ia hanya menganggap kalau ini sudah merupakan kewajibannya.
"Haaahh ... haaah ... haahh ..."
Nafas Len memburu ketika ia sudah sampai di depan gedung hitam. Sesuai dengan julukannya, gedung tersebut sudah hitam akibat insiden kebakaran dan terlihat sangat menyeramkan. Suasananya mencekam sehingga orang-orang tidak berani untuk melewatinya.
Setelah mengontrol nafasnya, Len memberanikan diri untuk masuk ke dalam dengan mengendap-endap. Ia dapat melihat kalau ada dua orang bertubuh kekar yang menjaga pintu utama.
"Sepertinya aku harus benar-benar menggunakan senjata itu," gumamnya pelan. Sontak memorinya berputar ke masa lalu, telinganya kembali terngiang-ngiang akan perkataan seseorang.
"Ini, Len-chan! Aku mengambilnya dan menghadiahkannya untukmu. Tenang saja, aku jamin aku tidak akan dimarahin,"
Len kecil merasa enggan atas pemberian gadis kecil itu. "Eh!? Tapi ini kan ..."
"Percayalah padaku, Len-chan! Oh ya gunakan di saat genting saja ya, Len-chan."
"Kenapa kau memberikannya padaku? Seharusnya kau yang menggunakannya karena kau ini perempuan dan lebih muda dariku."
Gadis itu menggeleng. "Aku tidak peduli! Aku memberikannya untukmu karena ... aku menyayangimu. Aku ingin melindungimu terus dan akan menyingkirkan orang yang kau benci!"
Len menggeleng-gelengkan kepalanya, nafasnya terasa sesak ketika mengingatnya. Ia menunduk dan menghela nafas berat. Sejujurnya, ia tidak mau mengingatnya lagi.
Ia mengambil sebuah pistol dari balik jaketnya. Pistol itu memang terlihat biasa, namun tidak biasa jika dipakai. Sebenarnya diam-diam Len suka membawa senjata dan peralatan lainnya yang disembunyikan di balik jaket atau di dalam tasnya. Tentu saja semuanya untuk melindungi Rin.
Ia segera mengendap-endap pergi ke belakang gedung. Setelah itu meneliti dimana sang penculik berada. Namun getaran handphonenya membuatnya mengurungkan niatnya terlebih dahulu.
From : 08XXXXXXXXXXX
Aku tahu kau sudah berada di kawasan gedung hitam. Bodyguardku sudah melihatmu, tenang saja mereka tidak akan menyakitimu sebelum aku menyuruh. Datanglah ke atap gedung, aku menunggumu di sana.
Len segera memasukkan pistolnya dan segera berlari ke dalam melewati pintu utama. Karena merasa takut kalau lift tiba-tiba saja berhenti di tengah jalan, ia memutuskan untuk menggunakan tangga. Ia tidak memedulikan rasa letih, capek, dan pegal yang menjalar di sendi-sendi kakinya. Ia tidak peduli kalau peluh kembali membanjiri tubuhnya. Ia tidak peduli kalau penampilannya terlihat sangat berantakan hingga membuat ketampanannya berkurang 50%. Ia tidak peduli. Yang ia pedulikan sekarang hanyalah keselamatan Rin.
"RIN ...!" teriaknya kencang, mengeluarkan semua kekesalan pada dirinya.
Teriakan itu menggema sampai atas, hingga membuat sang penculik mendengarnya dan merasa kalau sekarang dadanya terasa sesak.
Akhirnya Len sampai di atap gedung. Keringat bercucuran, nafas memburu serta penampilan yang acak-acakan. Ia mengedarkan pandangannya dan tak sengaja kedua iris azure-nya memandang dua orang penculik yang sedang bersandar pada pagar pembatas.
Len terbelalak ketika melihat sang penculik. Ia menahan nafas saking terkejutnya. "Kau ... AKITA NERU!?" ucapnya hampir menjerit. "Dan kau ... KASANE TETO!?"
Neru dan Teto tersenyum. "Ya, begitulah," ucapnya bersamaan.
"Dimana Rin!?" tanya Len cepat. Ia sudah muak atas semuanya.
Neru mengarahkan telunjuknya ke depan. "Itu,"
Di sana, tampak Rin sedang berdiri di sudut sisi. Kedua tangannya yang diikat di pegang oleh dua orang lelaki dewasa. Kakinya juga diikat serta mulutnya di lakban. Dan lebih parahnya lagi, tidak ada pagar pembatas disana! Ia bisa jatuh kapan saja!
"Jangan mencoba mendekatinya, Len Kamine," ucap Neru dengan nada manis. "Atau dia akan kujatuhkan sekarang juga,"
Len menggeram. "Kenapa kau melakukan semua ini?!" tanyanya dengan penuh amarah.
Neru diam dan membiarkan Teto menjawabnya. "Dia sakit hati tahu!" sahut Teto kesal. "Apa kau sengaja tidak peka atau apa!? Dia menyukaimu, menyayangimu! Kenapa kau menyia-nyiakannya begitu saja!?"
Len menarik sebelah alisnya. "Lalu kenapa Rin di sangkut pautkan?"
"Karena kami tahu kalau kalian mempunyai hubungan khusus dan kedekatan kalian membuat Neru sangat cemburu!" Teto menjawab lagi. "Tidak bisakah kalian tidak bersikap seperti itu? setidaknya jika kau tidak pacaran, renggangkan kedekatan kalian!"
Len mengernyit. "Jadi semua ini hanya karena cemburu!?"
"Tidak." Neru menjawabnya dengan tegas. "Tidak hanya itu. Saat SMP dia sering sekali mengungguliku dalam segala hal dan terus bersikap angkuh dan sombong hingga membuatku muak. Dan sekarang adalah saat yang tepat untuk membalas semua dendam ini,"
"Dan dulu dia telah mencaci makiku ketika kami TK, aku harus balas dendam!" lanjut Teto.
"Kami harus membalaskan dendam kami!" seru mereka berdua kompak.
Len menghela nafas berat. "Jika kau masih mau meneruskannya, aku tidak akan segan melaporkanmu pada sekolah apalagi polisi,"
"Jika kau melakukan itu, kami akan menjatuhkan Rin!" seru Teto kencang.
"Jadi apa yang harus kulakukan agar bisa menyelamatkannya?" tanyanya dingin. "Cepat jawab dan jangan buang-buang waktu!"
"Jadikan aku pacarmu, ajak aku kencan dan cium aku dengan mesra," jawab Neru puas. "Dan kau harus melakukannya selama tiga tahun di sekolah ini!"
"Oh ya?" Len menyeringai. "Tapi sayangnya aku tidak mau,"
"A-apa!? Jadi kau mau mengorbankan gadis itu!?" tanya Neru tidak percaya.
"Aku tidak bilang akan mengorbankannya," jawab Len dingin. "Aku akan menyelamatkannya dan aku tidak mau menjadi pacarmu karena─" Len menggantungkan kalimatnya dan berjalan ke arah Rin. "─kau terlalu jelek."
Neru dan Teto terbelalak. "APA!? BERANINYA KAU, LEN KAMINE!" jerit Neru. "Cepat serang dia hingga mati! Aku tidak mau melihat wajahnya lagi!"
Len segera berlari ke arah Rin namun dicegah oleh dua orang lelaki besar. Dengan lincah ia menghindari serangan dari kedua lelaki itu. Len tidak membalas pukulan atau tendangan mereka sama sekali. Ia hanya menghindar dan menghindar hingga membuat kedua lelaki tersebut kewalahan. Ketika kedua lelaki tersebut menyerangnya dari kanan dan kiri secara bersamaan, Len langsung menghindar dan memukul tengkuk mereka dengan kencang di saat bersamaan.
"A-APA!?" jerit Neru dan Teto histeris. Mereka berdua segera kabur karena ketakutan. Padahal orang-orang yang mereka sewa adalah semi-profesional loh, pakai duit mereka sendiri lagi. Gimana gak shock!?
"Haah, untung aku tidak perlu menggunakan senjata itu," gumamnya pelan. "Sangat melegakan karena aku tidak perlu mengingat dirinya lagi,"
Len mendekati Rin dan langsung membuka ikatannya. Setelah melepaskan semuanya, Rin segera memeluk lengan kanan Len. Len bisa merasakan kalau cairan bening telah menempel di jaketnya.
"Len ... aku ... sangat takut ..." gumamnya pelan. "Mereka semua ... kejam ..." ucapnya dengan suara parau.
Len terbelalak ketika menyadari bahwa kulit Rin tidak semulus sebelumnya, di tangan dan kaki Rin banyak luka serta bajunya yang banyak sobekan ─seperti bekas tebasan. Ia yakin kalau Neru dan Teto telah melakukan hal buruk pada gadis itu. Len menggeram kesal.
"Aku sudah di sini, kok," ucap Len lembut. Ia mengusap surai kuning dengan pelan, ia bisa mencium wangi shampo yang Rin pakai dalam jarak dekat. "Ayo, kita pulang," Len berdiri dan mengulurkan tangannya, namun Rin hanya membalasnya tanpa berdiri.
"Len sepertinya ... kakiku terlalu lemas dan gemetar ..." ucap Rin dengan rona merah di kedua pipinya.
Len segera mengangkat tubuh gadis itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Rin menjerit karena kelakuan Len yang tiba-tiba, terlebih lagi Len menggendongnya ala bridal style!
"WHOAAA! LEN TURUNKAN AKU!" jeritnya kencang.
"Lah? Katanya kakimu lemas? Jalannya bagaimana kalau aku menurunkanmu?" tanya Len polos.
"M-maksudku ... gendongnya jangan di depan dong!" serunya cepat. "Di belakang aja! Aku tidak nyaman jika seperti ini!"
"Oh ... oke, oke,"
Len segera menurunkannya agar Rin bisa merubah posisinya. Rona tipis terbentuk di pipi keduanya. Len sebenarnya malu, begitu juga Rin. Rin hanya menunduk dan bersandar pada punggung itu. Entah kenapa disisi lain Rin merasa perasaannya sangat nyaman dan hangat, suatu hal yang belum pernah ia alami selama ini.
Aneh, sungguh aneh.
Rin memejamkan matanya, mencoba untuk menikmati kehangatan itu lebih dalam. Rasanya ia tidak ingin melepaskannya lagi. Ia hanya ingin menikmatinya lebih lama lagi.
"Terima kasih, Len," gumamnya pelan.
Len yang mendengarnya hanya tersenyum, entah kenapa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya dan ia merasa senang atas ucapan itu. Rasanya ia ingin selalu melindungi gadis itu, menatap gadis itu terus, merasakan darahnya yang berdesir lebih cepat dan hanya dengan gadis itu, Len bisa tersenyum kembali setelah sekian lama bertahan dengan raut dinginnya.
Len tersentak, menyadari kalau perasaannya sudah membesar. Sekarang bukan rasa suka biasa antara majikan dan pelayan, melainkan rasa suka antara lelaki dan perempuan.
"Tidak mungkin ..."
.
.
To Be Continued
.
.
Author's Note :
Fiuhh ... akhirnya selesai juga ...
Oke saatnya membalas review :
Kiriko Alicia :
BETUL! Hebat, kok tau sihh XD / Ini udah lanjut / Makasih udah review
Arrow-chan3 :
Entahlah, saya juga tidak tahu xP *ditabok* karena ini semua tergantung ide yang muncul dikemudian hari *apa sih* / Makasih udah review
Kurotori Rei :
Entahlah, yang penting bukan Rin / Temennya itu Teto, bukan Luka XD / Tidak, tidak, bukan Neru, tapi ... rahasia! Khehehehe *tawa gaje* / Makasih udah review
Guest [1] :
Sedikit terluka sepertinya / Ini udah lanjut / Makasih udah review
Mikan Chan3 :
Enggaklah~ Piko udah mati / Ini udah lanjut / Makasih udah review
Guest [2] :
Sedikit terluka / Ini udah apdet / Makasih udah review dan disemangatin
Oke~ semuanya udah terbalaskan.
Bagaimana chapter ini? Menyenangkan kah? Gaje kah? Terlalu cepat kah? Review ya minna! Kalo ada yang gak ngerti bisa ditanyakan di kotak review. Sebenarnya saya gak ngecek lagi loh ._. mohon dimaklumi jika ada typo (s) (_ _)
Dadah~
