Disclaimer: Vocaloid is Not MINE!

Warning: FULL OF SHONEN-AI, boyxboy, shonen-ai, BoysVocaloidsXKaito, uke!Kaito, typo, picisan. AllXKaito, Rating may go up if I want.

Don't Like? Then Don't Read~ 3

=xxx=

Summary: Kaito si maniak game dan pecinta es krim mendapat CD kaset game yang ia idam-idamkan! Siapa kira kalau sekeping CD game malah membuatnya memasuki dunia penuh konflik yang berkecamuk dan membuatnya terpaksa mengikuti petualangan demi mempertahankan kehidupannya?

=xxx=

The Lost Blue Kingdom Saga

Route 4

=xxx=

=XXXXXXXXXXXXX=

Gakupo membelai surai biru lembut itu perlahan. Wajahnya yang tadi penuh kekhawatiran kini menjadi lega.

"Syukurlah…" ujarnya pelan sambil terus membelai surai milik pemuda yang kini tertidur dengan tenang.

"Hey… what's going on?" ujar pemuda berambut merah yang sedari tadi bersandar di dinding sambil menyilangkan kedua lengannya di dadanya.

Gakupo menoleh, "ia sakit. Sepertinya ia demam gara-gara kemarin bermain air dan masuk angin," ujar knight itu. Nada bicaranya berbeda dengan nada bicara ketika bersama Kaito. Nada bicaranya kini lebih formal dan tegas.

Pemuda pemilik iris crimson itu mengangguk, kemudian berjalan mendekati ranjangnya yang kini ditiduri oleh pemuda yang sedari tadi dibicarakan oleh mereka berdua.

Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahi si pemuda manis, tapi keburu dihentikan oleh Gakupo yang memandangnya dengan tajam.

"You lay one finger to him, I'll slice you to a piece…" desis Gakupo. Iris violetnya menatapnya tajam dari balik kacamata berbingkai emasnya.

Akaito tertawa mengejek, "aku hanya ingin mengukur suhunya. Siapa tahu obat buatanku dapat menyembuhkannya."

Gakupo menatap pemuda bersyal merah itu lama, kemudian mengangguk. Tanda ia mengizinkan Akaito menyentuh Kaito (walau dengan berat hati).

Akaito menyentuh dahi Kaito dengan perlahan. Ia merasakan kehangatan pemuda itu mengalir ke tangannya. Tak disangka, demam pemuda itu tinggi juga.

"Sepertinya aku punya obatnya, wait here," Akaito berjalan keluar kamar. Ia mendekati rak kayu willow dan membukanya. Kemudian jarinya menelusuri berbagai macam botol dengan cairan berwarna-warni. Ia sempat tersenyum ketika jarinya menyentuh botol bening bertuliskan 'chlorofoam'.

"So innocent…" gumamnya sambil kembali menelusuri botol-botol itu. Jarinya tiba-tiba berhenti di sebuah botol berisi cairan berwarna merah. Ia mengambil botol itu dan berjalan kembali ke kamarnya.

"Nih," Akaito menyodorkan botol itu ke wajah Gakupo. Gakupo hanya menatapnya dengan satu alis yang terangkat.

"Obat penurun panas. Dibuat dari daun-daunan sekitar sini," ujar Akaito, kali ini ia melempar botol itu ke arah Gakupo yang langsung ditangkapnya dengan satu tangan.

"Pangeran, bangunlah sebentar…" ujar Gakupo pelan sambil menggoyangkan bahu pangerannya yang kini tertidur.

Kaito hanya mengerang pelan, kemudian kelopak matanya membuka sedikit.

"G-… Gaku…" rintih Kaito pelan. Gakupo tersenyum sabar, kemudian menuangkan sedikit cairan kental dari botol yang diterimanya ke sebuah sendok perak.

"Minumlah ini, ini akan mempercepat kesembuhan anda," ujar Gakupo sambil menyodorkan sendok itu. Kaito langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain.

Oh, sudahkah aku mengatakan kalau Kaito benci obat apapun bentuknya?

"Pangeran…" ujar Gakupo lagi. Kaito tetap tidak mau membuka mulutnya. Akhirnya Gakupo menghela napas dan menuangkan cairan berwarna merah itu kembali ke botolnya.

"Tch… manja," dengus Akaito yang sedari tadi bersandar. Gakupo hanya menatap Akaito tajam. Kemudian Gakupo bangkit dari duduknya dan mengambil wadah kayu yang berisi air yang kini terasa hangat.

"Aku akan mengambil air lagi untuk mengompres, tolong jaga pangeran selama aku pergi. Tapi, jangan menyentuhnya," tegas Gakupo sambil menatap pemuda yang sepantaran dengannya itu. Akaito hanya menyeringai sebagai balasannya.

BLAM.

Pintu pondok kayu itu tertutup begitu pemuda berambut ungu panjang itu melewatinya. Akaito yang sedari tadi bersandar langsung berdiri tegap dan berjalan ke tempat pemuda yang merupakan pangeran Azureridge itu berbaring.

"Beautiful… wake up," ujarnya lembut. Ia membelai pipi kemerahan milik Kaito. Rasa hangat menjalari tangan pemuda itu yang terbalut fingerless leather gloves.

Mata Kaito terbuka perlahan, menampakkan sepasang iris azure yang sedikit menggelap karena kelelahan. Irisnya bergerak perlahan ke arah sumber suara.

"…" Kaito menatap Akaito lemah. Kemudian ia membalikkan badannya secara perlahan agar dapat menatap si mata merah dengan lebih jelas.

"Minum obatnya," ujar Akaito singkat. Jari telunjuknya menunjuk botol berisi cairan merah kental yang ada di meja kecil disamping ranjang.

Kaito hanya diam, pandangannya ia alihkan ke bawah. Menatap lantai yang terbuat dari kayu.

"… kau memang tidak pernah mau menurut dengan cara baik-baik ya," ujar Akaito jengkel. Akaito kemudian mengangkat kepala pemuda berambut biru itu sedikit dari bantal. Dengan lihai, ia membuka tutup botol bening itu dan memasukkan satu sendok obat itu ke mulutnya. Ia segera menempelkan bibirnya ke bibir Kaito.

Kaito yang tidak sempat mengelak langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Ia benci obat! Ia tidak akan pernah mau minum obat sampai kapanpun. Walaupun diminumkan dari mulut ke mulut oleh orang ganteng macam Akaito!

Akaito tidak habis akal. Kelicikan adalah salah satu kemampuan wajib assassin. Oleh karena itu, Akaito menggunakan cara liciknya agar Kaito mau membuka mulutnya. Akaito kemudian menggerakan tanganya untuk menyentuh tubuh pemuda itu dengan lembut.

Kaito yang terkejut langsung membuka mulutnya, dan saat itulah Akaito ikut membuka mulutnya dan membiarkan cairan merah itu mengalir dari mulutnya ke tenggorokan Kaito.

Kaito menggeram kesal, ia ingin mengeluarkan cairan itu. Pahit… cairan itu sangat pahit. Tapi gara-gara Akaito malah memiringkan kepalanya dan memperdalam ciuman mereka, jadilah Kaito terpaksa menelan cairan merah itu.

Setelah merasa Kaito sudah menelan semua obatnya, barulah Akaito menarik dirinya. Napasnya dan napas Kaito menderu-deru.

"What does it taste?" tanya Akaito dengan smirk.

Kaito terdiam sejenak, "pahit…"

"Benarkah? Aku merasa itu sangat manis. Apalagi ketika aku meminumkan cairan itu ke mulut kecilmu," ujar Akaito asal. Disambut dengan rona merah Kaito.

"A-asal…" umpat Kaito pelan. Akaito langsung tertawa lepas.

"… apa?" ujar Akaito di sela-sela tawanya. Kaito menatapnya sedari tadi dengan tatapan intens.

"Kau tertawa…" ujar Kaito pelan. Jari telunjuknya menunjuk Akaito dari balik selimut birunya.

Akaito langsung terdiam. Ia segera membuang muka, "sudah berapa lama aku tidak tertawa seperti ini…"

"Huh?"

"Baru kali ini… aku tertawa seperti ini lagi…" ujar Akaito pelan. Pemuda beriris ruby itu menundukkan kepalanya.

Pemuda beriris ruby itu kemudian menatap Kaito, tatapannya bukanlah tatapan sinis ataupun tatapan mengejek. Tatapannya sungguh lembut, "it's all thanks to you…" ujarnya sambil tersenyum tipis.

Wajah si biru Shion kini merona kemerahan. Baru pertama kali ini ia melihat Akaito tersenyum tulus padanya. Bukan seringaian ataupun senyuman sadis. Kaito mengangguk pelan. Akaito tertawa kecil, kemudian ia membelai rambut biru sepanjang pipi milik Kaito.

"Uh… kenapa kau ada disini…? Ini dimana…?" ujar Kaito pelan. Ia baru sadar kalau tempat ini bukanlah rumahnya maupun penginapan yang ada di game-game. Ia membiarkan Akaito memainkan helaian rambut birunya. Akaito tertawa kecil, sebuah seringaian terpampang jelas di bibirnya.

"Ini adalah rumahku. Pondok kayu sederhana ini adalah rumahku. Knight-mu yang membawamu kesini, dan sekarang ia sedang pergi ke sungai yang jaraknya lumayan jauh dari sini…" ujar Akaito. Seringaian tidak lepas dari bibirnya. Bahkan kini makin menjadi-jadi. Ia beranjak naik ke kasur yang ditiduri oleh si pemuda Shion.

"R-rumah-mu…?" Kaito merasakan tenggorokkannya tercekat. Alarm tanda bahaya seperti sudah mengiang-ngiang di telinganya.

"Yup, my humble home…" ujarnya. Kini ia sudah berada di atas tubuh Kaito. Kedua tangannya bertumpu di samping kepala si pemuda Shion. Kakinya berada di antara kaki Kaito.

Intinya, our beloved uke gak bisa kemana-mana…

"A-Akaito… kumohon… jangan…" ujar Kaito dengan nada yang memohon. Tubuhnya yang lemah membuatnya pasrah.

Lagipula, kenapa sih Akaito selalu berusaha untuk uhukmerapeuhuk Kaito?

"Semakin kau memohon, semakin susah diriku untuk menahannya, beautiful…" ujar Akaito sambil mengecup pipi pemuda yang ada di bawahnya. Kaito merasakan pipinya menghangat akibat kecupan lembut dari pemuda yang ada di atasnya itu.

"Kenapa…? Kenapa kau selalu berusaha untuk memilikiku, Akaito…?" ujar Kaito pelan. Ia takut. Tapi setidaknya ia harus mengulur waktu sampai Gakupo datang.

Akaito tertegun, kemudian tersenyum sinis, "you really forget it, blue?" ujar Akaito. Sekali lagi ia mengecup kelopak mata si biru dengan lembut.

"A-ano… lupa-… apa?" balas Kaito lagi. Sebisa mungkin ia bertahan dari godaan dan kecupan lembut dari Akaito. Pemuda merah ini memang mengetahui titik kelemahan dirinya dengan tepat!

"Ingat ketika kau bermain di hutan ini, dulu? Itulah saat pertama kali kita bertemu…" ujar Akaito, "waktu itu kau masih terlihat sangat bocah… kau terlihat bangga dengan pakaian istanamu."

Kaito diam, ia memperhatikan kata-kata pemuda itu. Mungkinkah ia bisa diajak untuk mengikuti party dan membantuku melawan Zeito dan Taito? Pikir Kaito dalam hati.

Woi Kaito! Bukan saatnya mikir begituan! Gak sadar apa kalau posisimu itu membahayakan?!

"Saat itu aku masih seorang pangeran. Pangeran kerajaan Rubyerie. Red Prince of Flame, Akaito," ujar Akaito. Ia kemudian menyusuri rahang Kaito sampai ke leher menggunakan jari telunjuknya.

Tahan Kaito… orang yang tahan godaan disayang Gakupo… ujar Kaito berulang-ulang dalam hati.

"Pa-pangeran…?" ujar Kaito pelan. Hembusan napasnya memberat akibat godaan-godaan yang diberikan Akaito.

Dasar iblis merah tampan penggoda!

Akaito mengangguk, "ya, sejak pertama kali bertemu dengan denganmu aku tertarik padamu. Hingga sekarang-…" ia mencium dahi Kaito, "…-aku tetap tertarik padamu-…" cium pipi, "…-dirimu-…" cium bibir, "…-selamanya…"

Kalau diperhatikan sekarang, wajah Kaito tidak beda jauh dengan kepiting yang direbus sampai kematengan; merah padam.

Kaito bingung harus ngomong apa. Semua perlakuan Akaito membuatnya bungkam seketika.

"Ada yang ingin kau tanyakan lagi, beautiful?" ujar Akaito dengan devilish smirk-nya. Kaito menggeleng cepat. Seringai Akaito malah semakin melebar.

"Tapi kini aku bukanlah pangeran lagi… aku adalah assassin…" ujarnya sambil mendekati leher putih sang pangeran biru yang terekspos. Ia kemudian mengecupnya pelan, membuat tubuh pemuda yang di bawahnya gemetar.

"Kh… ke-kenapa…?" tanya Kaito lagi. 'Ayo Kaito! Buat ia sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaanmu sehingga Gakupo sempat datang!' seru Kaito dalam hati. Ia menyemangati dirinya sendiri.

Akaito tersenyum ketika melihat bekas merah yang belum menghilang dari leher pemuda biru itu. Bekas merah itu sudah sedikit pudar sehingga ia berniat membuatnya lagi.

"A-AKH! A-Akaito… kau menggigitku… lagi…" ujar Kaito putus-putus. Napasnya berat. Lehernya terasa sakit.

"Kerajaanku hancur… hanya aku yang tersisa…" ujar Akaito pelan. Iris azura Kaito yang tadi tertutup kini langsung terbuka, "semuanya hancur, tiada sisa kecuali diriku… hanya aku seorang… semuanya dibantai habis…" ujarnya lirih. Pemuda itu terlihat sedih ketika menceritakan hal tersebut. Ia menundukkan kepalanya.

Tiba-tiba Akaito merasakan sepasang lengan melingkar di lehernya.

"Ssshh… sekarang sudah tidak apa-apa. Lupakan saja yang sebelumnya. Sekarang adalah kehidupanmu di lembar yang baru, iya kan?" ujar Kaito pelan. Nada suaranya menenangkan dan lembut. Membuat si mata merah terkesiap.

"Kau sudah tidak apa-apa sekarang. Kehidupanmu aman, nyaman, dan tentram. Kau punya rumah ini, Gakupo, dan aku…" ujar Kaito lembut. Ia mengusap bahu pemuda berambut merah itu dengan hati-hati.

"Kaito…" Akaito membenamkan wajahnya di leher Kaito. Ia menghirup aroma yang menguar dari tubuh pemuda itu dalam-dalam. Baunya manis. Seperti bau susu strawberry.

Pantes aja si Gakupo demen deket-deket Kaito…

Tiba-tiba instingnya mengatakan kalau ia harus segera mendorong tubuh pemuda berambut biru itu. Maka ia segera mendorong tubuh Kaito hingga punggungnya menyentuh kasur empuk itu.

JLEB!

Sebuah pedang menancap di kayu dinding rumah Akaito. Akaito tersenyum mengejek. Sebenarnya dalam hati ia bersyukur ia segera mendorong tubuh Kaito. Kalau tidak, kepalanya lah yang menjadi tempat menancapnya pedang berukiran huruf kuno itu.

"Sudah saya bilang untuk tidak menyentuh pangeran, kan…" ujar sebuah suara dingin. Pemilik suara dingin itu segera mencabut pedang bergagang emasnya dan bersiap mengayunkannya ke arah Akaito lagi.

Pemuda merah itu segera berguling dan menyerang pemuda berambut ungu itu dari belakang menggunakan claw yang terpasang di fingerless leather gloves-nya.

TRANG!

Peraduan kedua benda metal itu menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Membuat si biru Shion mengeratkan cengkramannya pada selimut putih yang menutupi tubuhnya yang hanya terbalut coat Gakupo.

"Gakupo! Akaito! Hentikan!" seru Kaito ketakutan. Gimana gak ketakutan coba? Gerakan mereka berdua tidak bisa dilihat secara kasat mata. Gerakan mereka terlalu cepat bagi mata si pemuda Shion itu. Yang terdengar hanyalah peraduan pedang dan claw yang mendesing dan umpatan serta ejekan yang dilontarkan kedua makhluk labil itu.

Kok labil?

Ya jelaslah… mereka memperebutkan Kaito. Makanya Kaito menyebut mereka labil. Mungkin lebih tepatnya disebut cowok SMA labil yang rebutan pacar…

"Eh?" barulah Kaito menyadari. Di atas kepala Gakupo dan Akaito, terdapat sebuah bar berwarna hijau. Yang satu bertuliskan Gakupo Kamui Lvl 69 dan yang satu lagi bertuliskan Akaito Lvl 73.

Idih buset… levelnya tinggi amat…

'Jadi… kalau memasuki mode PVP, barulah ketahuan level dan nama orang tersebut…' Kaito bergumam dalam hati. Ia langsung menggelengkan kepalanya. Bukan saatnya untuk menganalisis! Ia harus menghentikan pertarungan ini! Segera!

Syaats!

"TCH!" Akaito mendecih. Lengan kanannya terkena sayatan pedang dengan hilt emas milik Gakupo. Gakupo berjalan ke arahnya dengan pedang yang teracung. Iris violetnya menggelap.

"Ini hukuman karena telah menyentuh pangeran…" Gakupo mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mengayunkan pedang itu untuk melukai Akaito yang sudah pasrah di tempatnya. Akaito memejamkan matanya.

"TUNGGU!" jerit Kaito. Ia berdiri di hadapan Akaito sambil merentangkan tangannya. Matanya terpejam dengan rapat.

Gakupo yang terkejut segera menghentikan ayunan pedangnya, 1 senti lagi pedang itu mengenai wajah pangerannya.

"PANGERAN! Apa yang anda lakukan?! Anda nyaris terbunuh jika saya telat menghentikan ayunan pedang saya!" seru Gakupo. Ia mengacungkan pedangnya, "menyingkir dari sana, pangeran… saya akan menghukumnya…"

"Ti-tidak! Akaito tidak jahat!" seru Kaito. Iris azure-nya menatap Gakupo dalam-dalam. Akaito tersentak. Ia mendongak untuk menatap punggung milik pangeran Azureridge yang melindunginya.

"Tidak jahat, anda bilang? Ia nyaris melukai anda!" seru Gakupo. Napasnya menderu-deru. Kemarahan terpancar dengan jelas di iris violetnya.

"Jika Akaito tidak ada, aku tidak akan berdiri disini! Aku pasti masih merepotkanmu! Berkat Akaito, aku sembuh!" seru Kaito, "kumohon Gakupo…"

Gakupo menatap Kaito dengan tatapan bimbang. Akhirnya ia menurunkan pedangnya dan memasukkannya ke sarung pedangnya lagi. Tangan kanannya ia bawa untuk menepuk-nepuk kepala pangerannya, "hati anda memang baik…"

Kaito menatap Gakupo dengan iris berkaca-kaca. Ia langsung memeluk guardian-nya, "terima kasih, Gakupo!"

Gakupo tertawa kecil sambil membelai punggung pangeran yang sangat ia sayangi, "justru sayalah yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih sudah menyadarkan saya…"

Kaito mengangguk riang. Ia kemudian melepaskan pelukannya dan berbalik untuk menatap Akaito.

"Akaito, maafkan Gakupo ya. Lukamu tidak apa-apa?" tanya Kaito khawatir. Akaito mengangguk pelan. Kaito melepaskan scarf yang melingkar di leher si rambut merah dan membalutkannya ke lengannya yang terluka. Akaito menatapnya bingung.

"Untuk pertolongan pertama," ujarnya sambil tersenyum. Akaito membalas senyumannya.

"Thank you, beautiful…"

Cup!

Plis deh… reader gak usah pura-pura gak tau arti sound effect ini…

Yup! Akaito mencium bibir Kaito dengan lembut. Ciuman itu hanya berlangsung sebentar. Karena Akaito tahu, si knight of purple sudah mulai mengeluarkan aura kematian dari tubuhnya.

"A-Aka-Akaito…?!" Kaito terkejut. Kedua tangannya ia bawa untuk menyentuh bibirnya. Pipinya merona merah.

Gile… uke banget!

"Kau ini-… dikasih hati minta jantung… dikasih jantung minta ampela…" desis Gakupo sambil menarik kembali pedangnya. Matanya berkilat-kilat.

Akaito tertawa lepas, kemudian menjulurkan lidahnya ke arah Gakupo.

"He-hei… jangan mulai la-…" tiba-tiba Kaito merasakan kantuk yang luar biasa. Hey tunggu! Kalau dia tidur, lalu yang menghentikan pertarungan kedua makhluk labil ini siapa?! Lalu, kenapa ia tiba-tiba merasa sangat mengantuk-…

"Kau mengantuk Kaito?" ujar Akaito dengan smirk yangkhas. Tanpa aba-aba, tubuh Kaito langsung limbung ke dekapan Akaito. Akaito tersenyum penuh kemenangan. Ia menatap wajah tertidur Kaito dengan lembut.

"Kau meracuni pangeran?!" seru Gakupo. Pedangnya tercabut dari sarungnya dengan sempurna dan kini teracung ke wajah si merah tampan.

Akaito terkekeh, "pernah dengar yang namanya 'efek samping', tuan feminism?" ejek Akaito. Ia segera menggendong pemuda yang terlelap di pelukannya ala bridal style, "ini adalah efek samping obat penurun panas buatanku, idiot."

Gakupo menggeram marah. Sudah dikatain tuan feminism, dikatain bodoh pula! Siapa yang nggak marah coba?!

"Kembali kau ke sini! Biar kucincang lidahmu agar tidak bisa berkata-kata lagi!" seru Gakupo sambil berlari mengejar pemuda berambut merah itu.

"Oh ya? Kejar kalau bisa! Nih lidahku, nih!" ejek Akaito sambil menjulurkan lidahnya. Tangannya mendekap tubuh Kaito erat-erat agar tidak jatuh. Dengan lincah ia melompat ke pepohonan.

"TURUN KAU!" amuk Gakupo. Tiba-tiba pedangnya diselimuti aura ungu-kebiruan, "Sonic Slash!"

BUMM!

=xxx=

Kaito membuka matanya perlahan-lahan, 'uh… sudah berapa lama aku tertidur…?'

Kaito bergerak gelisah, rasanya panas…

Tiba-tiba iris birunya melebar. Ia baru menyadari kalau posisinya lah yang membuatnya panas:

Gakupo yang tertidur di sebelah kanannya melingkarkan tangannya di pinggang si manis Shion. Sedangkan Akaito yang tertidur di sebelah kirinya melingkarkan tangannya di bahu dan dada Kaito. Kedua seme itu tidur sambil mendekap Kaito. Tapi, yang paling awkward itu sebenarnya cuma satu…

WAJAH MEREKA BERDUA TERLALU DEKAT!

Kaito dapat merasakan hembusan napas kedua seme labil itu di lehernya. Tubuhnya gemetar, antara ketakutan dan senang. Senang karena akhirnya mereka berhenti bertengkar. Takut karena ia menyadari kalau kancing kemeja Gakupo terbuka dan menunjukkan dadanya, sedangkan baju hitam Akaito terlihat basah oleh sesuatu yang berwarna putih. Apalagi ia menyadari kalau ia tidak mengenakan baju apapun, tubuhnya hanya terlapisi selimut putih tipis milik Akaito.

Threesome anyone? (authoress digebukin)

Sebuah imajinasi buruk langsung melintas di otak remaja berambut biru itu.

"GYAAAAA!" Kaito menjerit layaknya wanita yang mau di uhukrapeuhuk. Ia menarik selimut itu hingga ke lehernya. Wajahnya merah padam gara-gara bayangan kotor yang diproduksi otaknya. Sesungguhnya Kaito bukanlah tipe orang yang mesum, tapi ia terpaksa berpikir seperti itu… demi mempertahankan kehidupannya di dunia penuh seme labil ini.

"Ng…? Pangeran? Ada apa?" ujar Gakupo. Ia menggosok kedua matanya dengan punggung tangannya. Ia menatap Kaito yang memojok ke dinding sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

"Hoaaahhmm… siapa sih pagi-pagi begini sudah ribut…?" keluh Akaito. Ia merentangkan tangannya tinggi-tinggi sambil menguap. Ia melirik Kaito.

"K-Kalian… apa-… apa yang kalian lakukan padaku…" ujar Kaito. Suaranya bergetar.

Krik krik…

"Hah?" Gakupo dan Akaito berbarengan. Keduanya menampakkan wajah kebingungan.

"Ja-Jangan pura-pura bodoh!" seru Kaito. Wajahnya merah padam. Ia langsung menarik selimut itu untuk menutupi wajahnya. Ia merasa sangat malu. Tidak ada yang menutupi tubuhnya selain selimut putih tipi situ.

"Apa maksud anda?" tanya Gakupo bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Sementara di sisi lain, Akaito sudah senyum-senyum mesum. Ia mengerti apa yang Kaito pikirkan. Si rambut merah langsung mendekati Kaito dan berbisik padanya, "kau tahu? Jeritanmu semalam sungguh indah. Sangat merdu di telingaku. Kau tidak berhenti menjerit ketika aku 'menyentuhmu'. Dan lihat hasilnya, bajuku sampai basah begini…"

PLAK!

Sebuah tamparan melayang ke pipi si pemuda berambut merah dengan sukses.

"A-aw! Apa maksudmu hey!" omel Akaito sambil memegangi pipinya yang ditampar oleh uke yang sibuk mojok di dinding karena ketakutan.

"Ja-jangan bercanda!" isak Kaito. Iris birunya berkaca-kaca.

Masa dia gak sadar di 'gituin' pas lagi tidur sih? Kacau banget!

BLETAK!

Sebuah jitakan mendarat di ubun-ubun Akaito dengan mulus.

"HEYY! Apa masalahmu, tuan feminism?!" omel Akaito sambil mengelus-ngelus kepalanya yang kini berdenyut-denyut.

Gakupo mendengus, ia langsung menepuk-nepuk kepala pemuda yang nyaris menangis itu, "akan kuceritakan dari awal. Sebenarnya kemarin kami berkejar-kejaran…"

"…- sampai kalian terluka…?" ujar Kaito pelan. Mata birunya melirik health bar milik Gakupo yang berwarna kuning dan tersisa tinggal seperempat. Tuh kan, ditinggal tidur sebentar aja health bar mereka sudah mencapai seperempatnya… gimana kalau ditinggal sehari? Udah pada mati kali yak…

Gakupo mengangguk, "lalu, setelah merasa lelah kami kembali lagi kesini. Setelah si bocah merah-…"

"Aku bukan bocah!"

"…- menaruh anda di tempat tidur kembali, saya segera tidur di sisi anda untuk melindungi anda dari si mesum ini," ujar Gakupo sambil melirik Akaito tajam. Disambut dengan juluran lidah si rambut merah.

"Tahu-tahu, ia malah tidak sengaja menumpahkan krim yang akan ia makan ke bajunya dan coat saya yang anda kenakan. Si bodoh ini tidak mengganti bajunya, sedangkan saya terpaksa melepaskan baju anda dan membungkus tubuh anda dengan selimut. Saya tidak ingin anda masuk angin lagi."

"Ja-jadi…"

Gakupo menghela napas, "kami tidak melakukan apapun pada anda. Saya berani bersumpah. Semua yang dikatakan si bodoh itu hanyalah kebohongan belaka."

Kaito menghela napas lega, tiba-tiba ia merasa malu karena sudah menuduh guardian-nya dengan hal yang tidak-tidak.

"Tapi, kalau anda menginginkan hal 'itu' sekarang, saya akan dengan senang hati melakukannya untuk anda…" ujar Gakupo tiba-tiba. Secara ajaib ia sudah mencapai jarak yang menurut Kaito berbahaya. Tangan kanannya menyentuh dagu si pemuda berambut biru sambil membawanya menemui iris violetnya.

"Jangankan dia, aku juga siap. Berapa kalipun akan kami layani…" ujar Akaito sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia ikut memojokkan uke malang itu.

PLAK! PLAK!

"AW! It's hurt…!"

"MESUM!" seru Kaito. Tangan kanannya terasa panas setelah menampar kedua makhluk labil itu. Ia mengeratkan cengkramannya ke kain putih itu. Ini sih bener-bener gak boleh lengah sedikitpun… lengah sedikit saja, maka hilanglah 'sesuatu' yang paling berharga baginya.

If you know what authoress mean…

"Ma-maafkan saya… saya kan hanya memberi usul…" ujar Gakupo pelan. Ia mengusap-usap pipinya yang kini memerah akibat tamparan Kaito.

"Ngeles aja kayak delman!" celetuk Akaito, "bilang aja pengen!" komentar Akaito asal. Ia ikut mengusap-usap pipinya yang baru saja ditampar oleh si uke biru manis ini.

"Apa katamu?!" seru Gakupo sewot. Ia menatap Akaito tajam-tajam. Pedangnya nyaris ia tarik lagi.

"Su-sudah hentikan!" seru Kaito. Ia sudah lelah melihat kedua makhluk ini bertengkar. Kalau tidak menyeret dirinya sih gak masalah. Lah ini ikut-ikutan nyeret dia ke masalah, mau gak mau Kaito harus turun tangan. Karena hanya dia yang bisa menghentikan pertarungan kedua makhluk yang memiliki sifat bertolak belakang itu.

"Akaito! Berhenti mengejek Gakupo! Lalu, Gakupo! Kita harus ke kerajaan Azureridge! Ingat?" seru Kaito. Disambut dengan anggukan kedua makhluk itu.

"Pakaian anda sudah kering, akan saya bawakan. Setelah anda mengenakan pakaian, kita akan melanjutkan perjalanan," ujar Gakupo. Kemudian ia membungkuk hormat dan berjalan ke luar. Ia sempat melemparkan tatapan galak ke arah Akaito yang malah dicuekin sama si rambut merah.

Kaito melemparkan pandangannya pada Akaito.

"Apa?" dengus si kepala merah.

"Mau ikut denganku?" tanya Kaito. Ia mengulurkan tangannya ke pemuda merah itu.

Pemuda yang memiliki iris ruby itu mengerjapkan matanya, "ikut? Kemana?"

"Merebut kembali tahta kerajaanku, mengalahkan Zeito dan Taito, lalu menciptakan perdamaian di dunia ini," kata Kaito lancar. Halah, pengalaman nge-game sebenernya…

Akaito tertawa mengejek, "aku tidak mau diperintah oleh bocah sepertimu."

Kaito menatap Akaito dengan kesal, kemudian membuang muka.

"Lain cerita kalau kau menyerahkan tubuhmu padaku," ujar Akaito sambil mengedipkan matanya.

BLETAK!

Sebuah jitakan pun mendarat dengan mulus di puncak kepala Akaito.

"SAKIIITT!" Akaito langsung mengusap-usap kepalanya yang sukses dijitak Kaito akibat omongannya yang asal.

"Makanya jangan asal ngomong!" omel Kaito. Sumpah, ia merasa dirinya seperti piala bergilir. Selalu diperebutkan semua orang.

"Aku tidak akan ikut denganmu," tegas Akaito. Ia menatap Kaito lurus-lurus. Kaito menundukkan kepalanya dan menghela napas, 'tidak bisa ya…'

"Tapi aku janji, kita akan bertemu lagi…" ujar Akaito sambil membimbing wajah Kaito untuk menatap wajah tampannya. Kaito mengikuti bimbingan pemuda yang sepantaran dengan Gakupo itu.

"… janji…? Kau akan membantuku melawan mereka…?" tanya Kaito pelan. Akaito tertawa kecil, hidung mereka kini bersentuhan. Akaito memiringkan kepalanya sedikit.

"Aku janji…"

Dengan kata-kata itu, kedua bibir mereka tersegel satu sama lain. Sebuah ciuman yang lembut. Akaito dapat merasakan bahwa Kaito tidak ingin meninggalkan dirinya. Tapi pemuda berambut biru itu harus… ia harus pergi.

Akaito segera melepaskan ciuman mereka, meninggalkan Kaito yang menatapnya dengan tatapan kecewa walaupun napasnya menderu-deru. Akaito tertawa melihat hal ini.

"Tenang saja, nanti kalau kita bertemu lagi, kita akan melanjutkannya," ujar Akaito sambil mengacak-acak rambut biru Kaito, "bahkan kita akan melanjutkannya sampai ke tahap yang 'lebih'," ujar Akaito sambil mengecup dahi pemuda beriris biru langit itu.

Kaito bingung harus tertawa atau marah, akhirnya ia hanya tersenyum lembut.

TRANG!

Tiba-tiba Gakupo sudah memegang pedangnya yang disambut dengan claw yang ada di tangan kanan Akaito. Kaito memekik kaget.

"Masih nekat juga…?" geram Gakupo. Akaito tertawa mengejek. Ia segera menepis pedang itu sehingga Gakupo mundur beberapa langkah. Akaito segera merangkul Kaito –yang masih menutupi tubuhnya dengan selimut- dengan mesra.

"Kau iri, tuan feminism?" ejek Akaito. Ia mengecup pipi pemuda yang dirangkulnya. Membuat pipi si pemuda bersemu merah.

Iris violet Gakupo berkilat-kilat marah. Pedangnya kini berkilat-kilat dengan aura biru-violet.

Kaito menghela napas, "mulai lagi deh…"

=xxx=

"Akaito, kami pergi dulu!" seru Kaito sambil melambaikan tangannya. Ia telah mengenakan pakaiannya kembali; kaos biru dengan celana biru muda selutut. Scarf birunya kini tidak dibiarkan menjuntai ke bawah seperti biasanya, melainkan diikat membentuk pita besar di bagian belakangnya. Sebenarnya ini adalah ide Gakupo, katanya sih biar tidak terinjak atau tersangkut. Padahal cuma pengen lihat ke-uke-an Kaito berlipat-lipat ganda doang tuh…

"Yeah! Be careful! And remember our promise, okay?" ujar Akaito sambil mengedipkan matanya. Disambut tawa ceria Kaito.

"Bye~!" Kaito melambaikan tangannya dan berlari-lari kecil ke arah Gakupo yang sudah menantinya.

"Janji apa…?" kata Gakupo tiba-tiba. Kaito tersenyum sambil menaruh jari telunjuknya di bibir.

"Hi-mit-su~" ujarnya dengan nada yang lucu. Gakupo ingin mengomel, tapi hal itu diurungkannya begitu saja karena merasa terhibur dengan nada suara Kaito yang menggemaskan.

"Dasar anda ini…" Gakupo mengacak-acak rambut Kaito gemas. Merekapun melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda.

=To Be Continued=

XXXXXXXXXXXXXXXXXX

A/n: HAHAHA… KALI INI BENGKAKNYA SAMPAI 4000 WORDS! #ditabokin. Kok perasaan fict ini makin lama makin bengkak yah words-nya… #nangis. Chap 1 sekitar 1k words, chap 2 2k words, chap 3 3k words, chap 4 4k words, hahaha… #dibuang. Ya kali nanti kalau udah nyentuh chap 10 bakal jadi 10k words… gileee… #facepalm.

Balas review!

ShiroNeko: bener nih gak keberatan? Wordsnya makin lama makin bengkak lho… #duk. Hika juga masih galau soal rate ;;A;; masalahnya Hika gak bisa bikin lemon/lime/citrus ;;3;; bukannya gak bisa sih… belum bisa kali yah… narasi/komentar Hika lucu? Well, that's my favorite~ XD Hika emang suka menyertakan sedikit humor biar gak serius-serius amat. Cek aja di fict Hika yang lain :3 and btw, it's your own fault to check this fanfict =w= #geplaked. Ah, PIXIV itu semacam deviantArt-nya orang jepang. Thanks for the review, dear~

Doggy: A-arigatouu~ ;;v;; yeah, disini emang jarang multi-chap yaoi #duk. Makanya Hika bikin :3 yah, walaupun ini fict boyxboy/shonen-ai/yaoi pertama Hika :3. Semoga tidak mengecewakan yah~ la-lalu… lemon…? #pingsan. Kayaknya ide itu harus di pending dulu deh… Hika belum berani bikin lemon ;;u;; dan soal Mikuo… anda beruntung karena chapter depan Mikuo akan muncul! 8"DDD #dilempar. Mikuo akan muncul dengan title Priest Mikuo~… weleh… malah ngasih spoiler… #shot. Thanks for the review~

Yup, sekian balas review kali ini~ nantikan chapter 4 yah! Karena reviewer sudah mencapai 10 lebih, maka Hika akan kasih hint-hint buat chapter depan. Monggo ditebak XD

"Kastil… tembok batu… court/courtesse…"

"Namaku Priest Mikuo… salam kenal."

"Kau memiliki kekuatan… yang tidak kau sadari."

Yup! 3 kata itu aja cukup untuk menebak chapter selanjutnya sepertinya XD. Pokoknya tiap review menyentuh kelipatan 10, Hika akan kasih hint chapter selanjutnya~

Yosh! Jaa-ne!

Sign,

~HiShou~