Mian kalau author terlalu lama up date fanfic ini. Berhubung author ikut semester pendek liburan ini, jadi author sibuk dengan tugas kuliah yang diberikan dosen. Jeongmal mianhae :( Oh iya, gomawo untuk reviewnya. Itu sangat membantu author lho :) Btw, di part ini ada satu tempat yang memang ada di Korsel sana, yaitu Katedral Myeongdong. Cuma untuk penggambaran dalamnya author ngarang bebas karena memang belum pernah masuk *ya iyalaah -_-* terus untuk ritual berdoanya juga author minta maaf kalo salah. Berhubung author muslim, jadi author kurang paham tata cara aturan berdoa di katedral gimana *katedral sama gereja beda atau sama sih?* Sebelum ada yang protes, author minta maaf kalo penggambaran katedral & tata cara berdoanya salah. Ini nggak ada maksud sama sekali buat bawa-bawa unsur SARA ya. Oke, author udah banyak bacot nih. Let's read it out readers! :)
Waktu masih menunjukkan pukul 05.00 KST ketika sebuah ponsel bergetar pelan dan mengusik mimpi indah seorang yeoja berparas cantik. Yeoja itu menggeliat sebentar dan sebelah tangannya menggapai-gapai ke segala arah, berusaha mencari sumber getaran itu. Begitu tangannya berhasil meraih benda yang dimaksud, ditariknya benda itu dan dihadapkannya tepat di depan wajahnya. Kedua matanya memicing untuk menghalangi sinar lampu yang menerobos tanpa ampun ke dalam retinanya. Setelah berhasil menyesuaikan dengan rangsang cahaya di sekitarnya, kedua mata yeoja itu terbuka dengan kelopak yang sedikit menggantung menahan kantuk. Dengan gerakan lamban, ia memiringkan kepala dan menyipitkan mata untuk melihat apa yang tertera di layar ponselnya. 1 new message. Kening yeoja itu langsung berkerut begitu mendapati satu pesan terpampang di layar ponsel itu. Siapa sih yang berani sms pagi-pagi buta begini? rutuk yeoja itu dalam hati. Ia segera menekan perintah view dan terpampanglah sederet kalimat dari orang yang memiliki janji dengannya hari ini.
From : GameKyu Oppa
Hei nenek rusa, bangun! Ingat janjimu hari ini untuk menemaniku berjalan-jalan. Cepat bersiaplah karena 30 menit lagi aku akan sampai di dorm-mu. Arra?
"Aish, hampir saja aku lupa kalau hari ini ada janji dengan Kyuhyun oppa." Desah yeoja itu. Dengan berat hati ia menyingkap selimut yang menyelubungi tubuhnya dan beranjak bangun dari tempat tidur. Tanpa berkata apapun, ia mengambil selembar handuk bersih dari dalam lemari dan sebuah sikat gigi dari tempat penyimpanannya lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama kemudian terdengarlah guyuran shower dari dalamnya. Sepuluh menit kemudian yeoja itu keluar dari kamar mandi dengan raut wajah yang segar setelah terbasuh air shower. Badannya menguarkan harum sabun mandi beraroma apel yang menyegarkan. Rambutnya yang panjang terlihat basah dengan wangi bergamodt yang tercium samar-samar. Setelah menyampirkan handuk di tempat jemuran dan meletakkan kembali sikat giginya, yeoja itu berjalan ke arah lemari kayu yang berada di sudut ruangan lalu membuka salah satu pintunya. Ia sibuk memilah-milah baju yang akan dipakainya sampai ia menemukan setelan dress putih kasual dengan lengan pendek berenda dan pita yang menjuntai manis di bagian pinggang. Ia menarik dress itu dan segera berganti pakaian. Begitu selesai berpakaian, ia melangkah ke meja rias dan mengambil hair dryer. Ujung kabel alat itu dimasukkan ke dalam stop kontak yang berada di samping meja rias. Begitu tersambung dengan aliran listrik, alat itu dinyalakan dan diarahkan ke rambutnya yang masih basah. Perlu waktu 10 menit untuk membuat rambutnya kering sempurna. Setelah itu, ia mengambil sisir dan menata rambutnya dengan membuat belahan samping dan menjepitnya dengan jepitan sederhana. Belahan lainnya dibiarkan menjuntai begitu saja. Sebagai sentuhan terakhirnya, ia memoleskan make up tipis ke wajahnya dan menyemprotkan parfum ke leher, belakang telinga, serta pergelangan tangannya.
"Selesai. Sekarang aku tinggal menunggu Kyuhyun oppa sambil membuat sarapan." Ujar yeoja itu sambil mematut dirinya di depan cermin meja rias sekali lagi. Setelah puas dengan hasilnya, ia melangkah keluar dan menuju ke dapur dimana telah ada seorang yeoja lainnya di sana tengah menyeduh susu putih.
"Annyeong Hyunnie-aa." Sapa yeoja itu pada yeoja lainnya yang tengah menyeduh susu. Yeoja yang disapa mendongak dan terlihat kaget saat melihat siapa yang menyapanya barusan.
"Ah, annyeong… Yoona eonnie? Tumben sekali sepagi ini sudah rapi? Apa hari ini eonnie ada jadwal?" tanya Seohyun sambil menatap bingung ke arah Yoona. Susu putih yang diseduhnya sudah jadi dan tinggal diminum.
"Ani, hari ini aku tidak ada jadwal tapi ada janji dengan Kyuhyun oppa. Kemarin dia memintaku untuk menemaninya berjalan-jalan entah kemana." Jawab Yoona sambil membuka lemari dapur dan mengambil mangkuk serta gelas dari dalamnya. Tanpa memperhatikan kerutan di kening Seohyun yang semakin dalam, ia menuangkan sekotak sereal ke dalam mangkuk dan mencampurnya dengan susu kotak dingin yang berada di kulkas.
"Berjalan-jalan? Dengan Kyuhyun oppa? Apa itu tidak bahaya eonnie? Maksudku, kalian kan sama-sama public figure yang diincar media. Apa tidak apa-apa berjalan-jalan seperti itu?" tanya Seohyun lagi. Yoona memandang dongsaengnya dan tersenyum menenangkan.
"Tenanglah, aku dan Kyuhyun oppa tidak sebodoh itu. Tentu saja kami sudah menyiapkan kostum penyamaran masing-masing agar tidak mudah dikenali. Oh iya, ngomong-ngomong mala mini kita ada jadwal perform ya?" tanya Yoona sambil membawa semangkuk sereal dan segelas air putih ke ruang makan dan meletakkan kedua benda itu di atas meja makan.
"Ne, malam ini kita ada jadwal perform untuk mempromosikan single terbaru kita. Eonnie tidak berniat untuk pulang malam kan?" selidik Seohyun. Sekarang yeoja itu telah duduk berhadapan dengan Yoona yang asyik melahap sarapannya.
"Tentu saja tidak! Aku tahu kewajibanku, Hyunnie." Jawab Yoona sambil menyuapkan sesendok sereal ke dalam mulutnya. Seohyun hanya mengangguk mengerti dan meminum susunya. Kedua yeoja itu terlarut dalam kegiatan masing-masing dan tidak lagi terlibat dalam percakapan. Beberapa saat kemudian, baik Yoona maupun Seohyun sudah menyelesaikan santapan paginya masing-masing. Yoona berdiri dan baru saja mau membawa mangkuk dan gelas kotornya ke dapur ketika Seohyun mencegahnya.
"Biar aku saja eonnie. Eonnie bersiap-siaplah dulu." tawar Seohyun sambil mengambil alih mangkuk dan gelas kosong dari tangan Yoona.
"Baiklah, gomawo Hyunnie-aa." Balas Yoona sambil tersenyum berterima kasih. Seohyun hanya mengangguk kecil dan membawa peralatan makan yang kotor itu ke bawah keran air di dapur. Yoona telah berada di kamarnya ketika didengarnya kucuran air keran dari dapur. Yeoja itu baru saja keluar dari kamar ketika didengarnya Seohyun bertanya lagi.
"Apa eonnie berjanji dengan Kyuhyun oppa di suatu tempat untuk bertemu?" Yoona menelengkan kepalanya menndengar pertanyaan itu dan menggeleng cepat.
"Ani, dia yang akan menjemputku. Waeyo?" balas Yoona. Seohyun tampak salah tingkkah dan memainkan jemarinya di depan dada.
"Aniyo, eonnie. Aku hanya ingin tahu. Oh iya, apa manajer Kibum oppa sudah tahu hal ini? Kalau eonnie akan pergi dengan Kyuhyun oppa?" tanya Seohyun lagi.
"Ne, aku sudah meminta izin padanya kemarin. Aku juga sudah memberitahu Taeng eonnie dan Fany eonnie tentang janjiku ini. Jadi kau tenanglah, arraseo?" jawab Yoona tersenyum kecil. Seohyun mengangguk singkat. Sebelum ia sempat mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya, bel pintu dorm berbunyi.
"Ah, itu pastilah Kyuhyun oppa! Kalau begitu aku berangkat dulu ya. Tolong sampaikan pada yang lain kalau aku akan pulang setelah makan siang. Oh iya, dan tolong kau kunci pintunya dari dalam Hyunnie-aa. Annyeong!" pamit Yoona. Yeoja itu segera mengambil mantel coklatnya yang berada di tiang gantungan dan sepasang sepatu hak tingginya dari barisan rak di dinding lorong menuju pintu keluar. Seohyun mengikuti langkah Yoona dan hanya mampu melihat nanar pada satu sosok yang berada di balik tubuh Yoona. Cho Kyuhyun.
Kyuhyun menyadari ada orang lain di belakang Yoona dan menjulurkan kepala melewati bahu Yoona untuk melihatnya. Senyumnya terkembang begitu melihat Seohyun.
"Ah, Seohyun-aa, annyeong! Maaf kalau aku membangunkanmu." Sapa Kyuhyun ramah. Sementara itu Seohyun hanya tersenyum kecil dan menjawab, "Annyeong Kyuhyun oppa! Aniyo, kau tidak membangunkanku. Kebetulan aku bangun lebih dulu karena ingin melanjutkan membaca buku yang baru saja kubeli kemarin".
"Oh, begitu. Baiklah kalau begitu, aku dan Yoona pergi dulu ya. Annyeong." Pamit Kyuhyun sambil menggamit tangan Yoona dan menariknya keluar dari dorm.
"Annyeong Hyunnie-aa." Pamit Yoona sambil menatap Seohyun tanpa melepaskan pegangan tangan Kyuhyun dari tangannya.
"Annyeong Kyuhyun oppa, Yoona eonnie. Semoga perjalanan kalian menyenangkan." Balas Seohyun. Matanya yang semula melihat kedua wajah yang dikenalnya itu langsung turun ke pemandangan yang membuat sebelah hatinya nyeri. Tautan tangan Kyuhyun dan Yoona yang seakan tak akan pernah bisa terpisahkan.
Begitu kedua orang itu pergi, Seohyun melangkah ke pintu dan meraih pegangannya lalu menutupnya dengan pelan. Tanpa bersuara, ia segera memasukkan serangkaian kombinasi angka yang merupakan kode kunci pintu dorm mereka. Setelah itu, yeoja yang berusia setahun lebih muda dari Yoona itu menghembuskan napas berat dan melangkah kembali ke dalam kamarnya.
-o0o0o-
Di dalam sebuah mobil sedan berwarna biru gelap, terdapat seorang namja dan yeoja yang terlibat dalam pembicaraan hangat. Namja yang duduk di kursi pengemudi itu berpakaian kasual dengan mantel hitam tebal tersampir di bantalan kursi. Sebuah kacamata hitam bertengger manis di hidungnya yang mancung. Kulit putihnya yang tampak terawat terkena berkas pantulan sinar matahari yang baru saja merangkak naik menerangi penjuru kota Seoul. Sementara itu, seorang yeoja yang duduk di sebelahnya tampak bersandar nyaman sambil sesekali memainkan tangannya seolah tengah memimpin sekelompok orkestra di atas panggung. Yeoja itu juga mengenakan kacamata hitam untuk melindungi matanya dari pantulan cahaya yang menyorot langsung ke matanya.
"Oppa, sebenarnya kita mau kemana?" tanya yeoja itu masih dengan tangannya yang bermain-main di udara mengikuti alunan musik yang terdengar dari perangkat audio di dalam mobil itu.
"Rahasia. Kau akan tahu nanti saat kita sampai di sana." Balas namja itu sambil tersenyum misterius. Wajahnya sempat berpaling sebentar menatap yeoja yang ada di sampingnya. Kedua alisnya terangkat penuh makna yang membuat yeoja itu semakin penasaran.
"Aish, pakai main rahasia-rahasiaan segala! Oppa tidak asyik!" ujar yeoja itu sambil mengerucutkan bibir mungilnya. Kedua tangannya yang tadi bermain kini bersedekap terlipat di depan dada.
"Begitu saja marah. Sudahlah Yoong, kau tenang saja. Aku tidak akan membawamu ke tempat yang aneh-aneh. Percayalah padaku." ujar namja itu sambil mengusap pelan bahu yeoja itu.
"Bagaimana aku bisa percaya? Selama ini kan oppa selalu saja menjahiliku." Ucap yeoja itu sambil memiringkan kepalanya dengan pandangan mata yang sedikit disipitkan.
"Hahaha, itu tidak akan terjadi kali ini Yoong. Percayalah padaku, ne?" pinta namja itu. Pandangannya terfokus pada jalanan di depannya yang mulai ramai dipadati oleh kendaraan lainnya.
"Aku akan percaya kalau oppa memberitahuku kemana kita akan pergi." Balas yeoja itu tidak mau kalah. Namja di sebelahnya menghembuskan napas pelan dan berbalik menghadap yeoja itu. Untunglah saat itu mobil tengah berhenti karena terhalang lampu merah yang menyala.
"Yoong, aku mohon." Pinta namja itu sekali lagi. Yeoja di sebelahnya hanya mengangkat bahu acuh.
"Aniyo, Kyuhyun oppa. Katakan dulu kita mau kemana baru aku mau percaya padamu." Balas yeoja itu tetap pada pendiriannya. Namja yang dipanggil Kyuhyun itu mendesah dan memajukan badannya ke arah yeoja itu yang tak lain adalah Yoona. Melihat tubuh Kyuhyun yang condong ke arahnya membuat Yoona sedikit memundurkan punggungnya dan menatap dengan mata membeliak lebar.
"Kyuhyun oppa! Apa… apa yang ingin kau lakukan?" tanya Yoona dalam bisikan. Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan itu dan malah semakin memajukan tubuhnya sampai akhirnya kedua bibir mereka bertemu dalam kecupan singkat.
"Diamlah Yoong, atau aku terpaksa menutup mulutmu dengan ciumanku lagi." ujar Kyuhyun sambil mengerling nakal. Posisi tubuhnya kini sudah kembali ke tempat semula. Salah satu tangannya tampak menggeser persneling mobil dan memindahkan gigi lalu menginjak rem untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka. Sementara itu Yoona masih terlihat shock dengan perlakuan Kyuhyun tadi dan hanya bisa menatap Kyuhyun dalam sepersekian detik sebelum akhirnya ia kembali bersuara.
"Kau… Ya! Apa yang baru saja kau lakukan huh? Seenaknya saja menciumku! Memangnya aku mainan yang bisa seenaknya kau cium begitu saja? Cih." Cibir Yoona sambil memalingkan wajah keluar jendela. Sebenarnya ia melakukan hal itu bukan karena marah, namun karena ia harus menyembunyikan wajahnya yang merona merah setelah ciuman itu. Ia hanya tidak ingin Kyuhyun melihatnya memerah seperti kepiting rebus.
"Sudahlah Yoong, aku tahu kau tidak marah padaku. Aku bahkan yakin kalau kau menyukai ciumanku. Benar kan?" tanya Kyuhyun dengan tingkat percaya diri yang tinggi. Tanpa sadar senyumnya terkulum saat ia mengingat kembali perasaan ketika ia mencium yeoja itu. Meski singkat, namun ia menikmatinya. Ingatannya itu segera buyar saat sebuah pukulan ringan mendarat di bahunya.
"Ya! Enak saja! Siapa bilang kalau aku menyukainya? Kau sembarangan saja oppa." Bantah Yoona. Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya tanpa memandang yeoja itu, "Benarkah? Lalu kenapa tadi tidak ada perlawanan sedikitpun darimu saat aku menciummu?". Yoona tampak terkejut mendapat pertanyaan seperti itu.
"Itu… itu karena kau tiba-tiba saja menciumku! Bagaimana mungkin aku melawan? Hahaha, ada-ada saja kau oppa." Jawab Yoona sambil memaksakan tawa untuk menutupi kecanggungannya. Kyuhyun hanya tersenyum tipis mendengarnya dan tetap berkonsentrasi pada jalanan di depannya. Tidak berapa lama kemudian, namja itu membelokkan kemudinya ke suatu area parker yang cukup luas dengan sebuah bangunan menjulang tinggi di tengahnya. Yoona mendongak untuk melihat bangunan apakah itu. Begitu menyadari kemana Kyuhyun membawanya, Yoona menatap namja itu dengan penuh pertanyaan.
"Katedral Myeongdong? Untuk apa kau membawaku ke sini oppa? Bukankah hari ini bukan hari Minggu?" cecar Yoona. Kyuhyun hanya berpaling sebentar dan mulai memarkir mobilnya di salah satu garis batas yang terdapat di sana. Setelah yakin mobilnya terparkir dengan benar, Kyuhyun membuka sabuk pengamannya dan membuka kunci mobil secara otomatis. Ia melangkah turun dan melihat melalui sudut matanya kalau yeoja itu juga mengikuti gerakannya.
"Oppa, kau belum menjawab pertanyaanku. Untuk apa kau membawaku ke sini?" tanya Yoona lagi sambil berjalan memutari bagian depan mobil dan berdiri bersisian dengan Kyuhyun. Kini keduanya telah mengenakan mantel masing-masing dengan topi yang menutupi kepala mereka sampai sebatas mata. Kacamata hitam tetap bertengger di hidung mereka untuk menyempurnakan penyamaran kali ini.
"Ayo kita masuk!" ajak Kyuhyun tanpa menjawab pertanyaan Yoona. Sebagai gantinya dia menggenggam tangan Yoona dan menariknya untuk memasuki katedral yang cukup terkenal itu. Mau tidak mau Yoona mengikuti langkah kaki Kyuhyun dan berjalan memasuki ruangan dalam katedral yang luas. Barisan bangku kayu coklat tempat para jemaat biasa duduk dan mendengarkan khotbah pemuka agama berjajar rapi di kanan-kiri jalan utama menuju altar. Pagi itu tidak banyak jemaat yang datang karena memang tidak ada jadwal ibadah. Kyuhyun mengajak Yoona terus berjalan melewati barisan bangku-bangku tersebut dan berhenti tepat di depan altar dan patung Bunda Maria. Yoona menolehkan wajahnya ke arah Kyuhyun dan melihat namja itu menutup matanya.
"Berdoalah bersamaku, Yoong. Berdoalah untuk hubungan kita." Perintah Kyuhyun dalam bisikan lembut yang membuat Yoona memajukan badannya untuk memastikan pendengarannya.
"Nde? Apa katamu oppa? Berdoa untuk hubungan kita? Maksudmu?" tanya Yoona. Kyuhyun membuka matanya dan menatap lembut ke arah Yoona.
"Ikuti saja apa yang kuperintahkan Yoong, jebal." Pinta Kyuhyun. Yoona bermaksud menolak permintaan itu, namun batinnya menolak dan mengikuti Kyuhyun yang telah berlutut di bawah patung Bunda Maria dengan kedua tangan ditangkupkan di depan dada. Seulas senyum kecil tersungging di wajah yeoja itu ketika ia melihat keteduhan dan kedamaian di wajah Kyuhyun dengan kedua mata yang terpejam. Yoona turut memejamkan mata dan membisikkan doa dengan penuh kekhusyukan.
Tuhan, aku mohon lindungilah kami, umatMu, dimanapun kami berada. Berkahilah kami dengan karuniaMu dan limpahilah kami dengan cinta kasihMu. Bukakan jalan rezekiMu dan tuntunlah kami untuk tetap berada di jalanMu. Tuhan, aku meminta padamu akan satu hal, tolong berikan aku kesempatan untuk terus melindungi Yoona, untuk tetap berada di dekatnya, untuk tetap bersamanya. Aku mencintainya Tuhan, aku mencintainya dengan segenap jiwaku. Jika Kau izinkan, sandingkan aku dengannya dalam ikatan suci pernikahan di depan altar suciMu. Amin. Kyuhyun mengakhiri doanya dan membuat tanda salib di dadanya. Kemudian dia membuka mata dan mendapati Yoona tengah menatapnya sambil tersenyum manis.
"Waeyo?" tanya Kyuhyun saat melihat Yoona tersenyum seperti itu padanya. Yeoja itu hanya menggeleng. Kyuhyun hanya mengangkat bahu dan tidak berminat untuk bertanya lebih lanjut. Namja itu kemudian berdiri dan membersihkan sedikit debu yang menempel di celananya. Setelah selesai, ia kembali menggamit tangan Yoona dan menggenggamnya. Kemudian kedua orang itu melangkah keluar.
"Sepertinya doamu panjang sekali oppa." Tebak Yoona sambil berjalan bersisian dengan Kyuhyun yang dibiarkannya menggenggam tangannya. Kyuhyun menoleh dan tersenyum penuh rahasia.
"Benarkah? Yah, mungkin saja doaku memang lebih panjang darimu." Jawab Kyuhyun santai. Mendadak langkahnya terhenti dan membuat Yoona tersentak.
"Ada apa oppa? Apa ada yang tertinggal?" tanya Yoona bingung. Kyuhyun menggeleng dan menatap Yoona penuh selidik.
"Apakah aku boleh tahu apa isi doamu tadi?" tanya Kyuhyun dengan mimik penasaran. Yoona menarik dagunya dan menatap tidak mengerti. Beberapa detik kemudian dia kembali melemaskan kepalanya dan tersenyum penuh arti.
"Aniyo. Aku tidak akan memberitahu oppa. Itu rahasia!" jawab Yoona sambil mengedipkan sebelah matanya. Kyuhyun tampak kecewa dengan jawaban Yoona, namun hal itu tidak terlalu dipikirkannya.
"Arraseo. Kalau begitu, ayo kita ke perhentian selanjutnya. Kajja!" ajak Kyuhyun semangat sambil menarik Yoona keluar dari katedral. Sinar matahari yang baru sepenggalah naik langsung menyinari keduanya saat mereka telah berada di luar. Dengan langkah ringan, keduanya berjalan menghampiri sebuah mobil yang terparkir agak jauh dari pintu masuk katedral. Kyuhyun membuka kunci otomatis mobilnya dan membukakan pintu penumpang untuk Yoona. Yeoja itu menggumamkan terima kasih sebelum Kyuhyun menutup pelan pintu itu. Kemudian ia berjalan memutari bagian depan mobil dan membuka pintu pengemudi lalu masuk ke dalam dan memasang sabuk pengaman. Namja itu memasukkan kunci mobil ke lubang di bawah kemudi dan memutarnya. Tak lama kemudian terdengarlah deruman halus dari mesin mobil itu dan perlahan mobil itu meninggalkan area parker katedral kembali menembus jalanan Seoul.
Yoona menoleh ke arah Kyuhyun dan tersenyum kecil. Oppa ingin tahu apa doaku? Aku berdoa agar kita selalu sehat dan sukses, terutama untukmu. Aku memohon padaNya untuk menyembuhkanmu atau setidaknya mengurangi sakit paru-parumu. Aku berharap kau sehat selamanya oppa, gumam yeoja itu dalam hati dan kembali mengalihkan pandangannya ke jalanan di depannya.
