It's Not About Me or You, It's About Us

.

.

.

Main Cast : Kim Junmyeon, Zhang Yixing

Rate : T

Author : DeerUnicorn

BoyxBoy. Romance! Angst!

.

.

.

Chapter 4

.

.

.

"Xing, kau mau ikut pergi jalan-jalan?" Tanya Chanyeol ketika kelas baru saja berakhir. Aku masih membereskan peralatan tulisku sebelum aku meliriknya dan menjawab, "Pergi kemana? Siapa saja yang ikut?"

"Menonton film. Katanya sedang ada film yang bagus. Kau, aku dan Baekhyun. Tadinya Baekhyun mengajak Junmyeon ikut serta, tapi sepertinya dia sedang sibuk, entah sibuk apa, aku dan Baekhyun tidak tahu. Kau kan pacarnya, seharusnya kau tahu Junmyeon kenapa" Jelas Chanyeol panjang lebar.

Aku berpikir sejenak, apa aku harus memberitahu mereka? Sepertinya mereka harus tahu. Perlahan aku menggelengkan kepala dan menutup resleting tasku setelah semua peralatan tulisku sudah kumasukkan ke dalam tas. "Kalian berdua saja yang pergi, aku tak akan ikut. Tiba-tiba saja aku merasa malas. Entahlah, aku dan Junmyeon akhir-akhir ini jarang komunikasi karena sama-sama sibuk"

"Ah, bukankah hari ini hari anniversary kalian? Apa kalian tidak merayakannya? Ini sudah masuk tahun ke-4..." Tanya Chanyeol lagi. Aku menghembuskan napas berat. Tiba-tiba saja air mataku ingin menetes lagi. Aku memalingkan wajah ke arah lain beberapa detik, untuk menahannya sampai aku berada di rumah nanti.

"Memang, tapi sepertinya dia terlalu sibuk sampai dia lupa kalau hari ini kami sedang anniversary. Aku tidak ingin mengganggu kesibukannya hanya karena ini"

"Hei, aku tahu kalau kalian sedang ada masalah. Tidak ingin membagi ceritamu, huh? Bahkan Baekhyun sudah tahu hanya dengan melihat kalian yang seperti saling menjauh beberapa bulan ini! Apa aku sahabatmu, Xing?" Bentak Chanyeol. Darimana ia tahu? Bagaimana Baekhyun mengetahuinya? Apa terlihat sangat kentara?

"Sudah kubilang tidak ada apa-apa, Chan. Bukannya aku menyembunyikan masalahku, memang aku dan dia tidak ada masalah apapun. Kau sahabatku, tentu kau tahu itu kan?" Sanggahku, berusaha menjelaskan dengan nada senormal mungkin.

"Tidak usah berbohong, Xing. Ekspresimu mengatakan iya. Terserahmu kalau kau tidak ingin cerita sekarang. Tapi satu hal yang harus kau tahu, kau bisa cerita padaku kalau kau sudah siap. Aku dan Baekhyun akan mendengarkanmu dan memberimu solusi. Kita sahabat, bukan?" Kata Chanyeol sambil menepuk pundakku pelan sambil tersenyum tulus. Aku tersenyum tipis, dan mengangguk tanda mengerti. Tak lama, Baekhyun masuk ke kelas kami dengan senyum cerahnya seperti biasa.

"Hei, Zhang Yixing! Ayo ikut jalan, mumpung ada film baru yang bagus" Katanya sambil duduk di bangku depan aku dan Chanyeol. Aku menggeleng pelan dan memasang tasku di pundak.

"Lain kali saja, Baek. Aku sedang malas. Aku ingin tidur saja di rumah. Kalian saja yang pergi"

"Yah tidak seru kalau orangnya tidak banyak. Kau sibuk, Junmyeon juga sibuk" gerutu Baekhyun. Aku mengedikkan bahu pelan, "Maaf sekali, Baek. Tapi aku benar-benar malas, aku ingin istirahat" aku memasang wajah bersalah.

"Baiklah, tak apa. Kau pasti lelah. Istirahat saja kalau begitu. Langsung pulang ya, Xing. Jangan keluyuran kemana-mana" Omel Baekhyun.

"Iya, Baek. Aku langsung pulang setelah ini" aku mengangguk dan berdiri. "Kalian pergilah, aku juga ingin pulang sekarang"

"Ingat kataku tadi. Hubungi saja aku atau Baekhyun kalau kau sudah siap" Chanyeol dan Baekhyun juga berdiri dan mengacak rambutku. Aku menggerutu dan mengangguk. Lalu kami bersama-sama berjalan ke tujuan kami masing-masing.

.

.

.

"Aku pulang" sapaku ketika aku membuka pintu. Aku meletakkan sepatu di rak, dan bergegas menuju kamarku. Langkahku terhenti ketika ibu menghampiriku dari ruang keluarga.

"Xing, tadi ada kurir paket datang mengantarkan paket untukmu. Sudah ibu letakkan di dalam kamarmu. Kau memesan sesuatu?" Tanya beliau sambil menatapku. Aku berpikir sebentar, mengingat apa aku memesan sesuatu. Tapi aku memang tidak pernah membeli apapun akhir-akhir ini. Terlebih dalam bentuk paket.

"Aku tidak pernah memesan apapun. Memangnya di paket itu tidak ada nama pengirimnya, Bu?" aku menggeleng dan bertanya kembali kepada ibu. Jawaban beliau hanya kedikan bahu dan pernyataan tidak tahu dan menyuruhku memeriksa isi paket tersebut.

"Baiklah, akan kuperiksa setelah aku mandi, Bu. Terima kasih. Aku ke kamar dulu" aku pamit kepada Ibu dan langsung bergegas ke kamar, penasaran dengan bentuk paket yang dimaksud ibu.

Tak lama, aku masuk ke dalam kamar dan melihat paket yang agak besar, sebuah kotak yang terbungkus oleh kertas kado dan sebuah pita di atasnya berada di atas ranjangku. Aku menghampirinya dengan penasaran dan lekas membukanya tanpa mandi terlebih dahulu. Mataku membulat besar ketika kotak tersebut sudah kubuka, sebuah boneka rillakuma ukuran sedang terbaring di sana. Belum sempat rasa terkejutku sirna dan bertanya siapa pengirimnya, di dalam genggaman rillakuma itu ada sebuah surat. Dengan penasaran, aku mengambil surat itu lalu aku duduk di atas ranjangku. Ah, aku tidak bisa menahan air mataku membaca isi surat itu. Bahkan hanya dengan kalimat pertama surat itu pun, aku sudah bisa menebak siapa pengirimnya. Junmyeon...

Happy anniversary yang keempat tahun, Yixing... My Unicorn Baby

Maaf aku terlambat mengucapkannya, maaf aku tidak bisa mengucapkannya langsung tepat jam dua belas tepat tadi malam. Aku sudah mengucapkannya ngomong-ngomong, tapi hanya kuucapkan pada diriku sendiri. Aku takut mengucapkannya langsung kepadamu, aku sangat takut mengganggumu... intinya, aku masih mengingat tanggal milik kita

Terima kasih sudah mengenalku, terima kasih atas waktu yang kau luangkan untukku, terima kasih untuk segalanya, Zhang Yixing. Aku bahagia bisa mengenal sosokmu, aku bahagia kau menjadi pasanganku. Setiap waktu yang kulalui bersamamu, aku merasa bahagia. Kita sudah melewati banyak hal selama empat tahun ini, baik suka atau duka. Walau sekarang sepertinya terasa ada jarak di antara kita, aku masih merasa bahagia karena kau ada, karena kita bersama. Semua kenangan kita yang telah berlalu, masih terasa nyata dalam ingatanku. Semua terasa nyata karena kita ada, Junmyeon dan Yixing. Perasaanku kepadamu sangat nyata, Xing. Aku sangat sangat menyayangimu. Walau kita sedang break, aku masih tetap menyayangimu. Tidak peduli kau sedang merasa jenuh atau apapun, aku masih menyayangimu. Walau sedikit kecewa, tidak apa. Sebisa mungkin, jangan menambah jarak di antara kita walau kita sedang berjauhan seperti ini. Walau kita sedang dalam masa break, tapi aku ingin mempertahankamu, mempertahankan kita. I love you, wo ai ni, saranghae, Zhang Yixing...

Fr. You know me so well

Junmyeon... aku menatap rillakuma yang masih berada di dalam kotak, mengambilnya dan langsung memeluknya lama. Melampiaskan rasa rinduku padanya, menumpahkan air mataku di sana seakan-akan boneka itu adalah Junmyeon. Erat, tak ingin kulepaskan. Membayangkan boneka itu juga membalas pelukanku. Tak lama, ponsel di dalam saku celanaku bergetar dan mengambilnya. Aku terkejut bahwa Junmyeon yang menelpon. Dengan ragu, aku mengangkat sambungan telpon itu.

"Hei, Xing..." sapanya. Dengan cepat aku menghapus air mataku dan meletakkan rillakuma itu di sampingku.

"Halo, Myeon" jawabku dengan suara serak. Aku berdeham pelan untuk menetralkan suaraku.

"Sudah menerima hadiahku?"

"Sudah. Terima kasih, untuk semuanya, Myeon. Sangat berterima kasih. Aku tidak tahu bagaimana harus membalasmu" aku mengangguk dan berusaha menahan tangisku lagi. Junmyeon tertawa pelan, aku tahu itu bukan tawanya yang sebenarnya. Ia hanya tertawa terpaksa. Aku sangat tahu bagaimana suaranya ketika tertawa.

"Tidak usah berterima kasih. Sudah menjadi kewajibanku memberikanmu sesuatu ketika kita sedang anniversary. Cukup kau baik-baik saja untuk membalasku, jangan sakit. Ingat syarat dariku, kan?"

"Tapi rasanya tidak sepadan kalau kau terus yang memberikanku kejutan. Sekali-kali aku juga ingin memberimu kejutan. Katakan padaku, kau ingin apa dariku? Aku ingin memberimu sesuatu juga, Myeon"

"Aku tidak tahu kau akan menyetujuinya atau tidak karena kau sepertinya masih terlihat jenuh, apalagi kita sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kuliah kita. Kata Chanyeol kau terlihat sangat frustasi dengan laporan praktik lapanganmu yang terus direvisi oleh dosen"

"Katakan saja, Myeon. Tak masalah. Lupakan dulu rasa jenuhku. Aku ingin kita hanya mengingat hari ini. Aku tidak ingin kau atau aku memikirkan hal lain selain anniversary kita"

"Baiklah kalau begitu. Aku ingin malam ini kita bertemu di kedai kopi seperti biasa, Xing. Aku ingin merayakan hari ini hanya berdua denganmu. Kalau kau tidak bisa, tak apa. Lupakan saja"

"Baik, nanti malam kita bertemu jam 8, Myeon. Aku bisa. Aku akan mandi dulu dan bersiap-siap kalau begitu"

"Sampai bertemu nanti, Xing. Terima kasih sudah mengabulkan permintaanku"

"Aku juga berterima kasih, untuk semuanya. Aku sudah membaca suratmu"

.

.

.

Aku menunggu di sudut kedai kopi dekat jendela dengan segelas Mocacinno hangat di hadapanku. Junmyeon masih belum datang. Aku menatap hiruk pikuk jalanan dengan tatapan kosong. Beberapa pasangan tertangkap lensa mataku, mereka terlihat hangat, terlihat bahagia, terlihat hidup. Aku ingat, dulu aku dan Junmyeon juga seperti mereka. Bahkan terlihat sangat bahagia.

"Hai, Xing. Maaf membuatmu menunggu" Sapa Junmyeon dengan wajah bersalahnya lalu duduk di seberangku. Aku mengangguk dan tersenyum.

"Hai juga, Myeon. Kau sudah memesan?"

"Sudah, tinggal menunggu pesananku datang. Ngomong-ngomong, apa kabarmu hm?"

"Seperti yang kau lihat, Myeon. Aku baik-baik saja. Kau bagaimana?"

"Sama sepertimu. Hanya saja aku sangat pusing karena tugasku terus bertambah"

"Kau kira hanya kau yang seperti itu? Aku juga"

Percakapan kami terpotong karena waitress mengantarkan pesanan Junmyeon. Americano, kesukaannya. Setiap kali kami kesini, ia selalu memesan itu. Baik aku maupun kasir kedai kopi ini hafal itu. Ia berterima kasih kepada waitress dan menatapku lekat. Aku membalas tatapannya itu, dan kami berdeham pelan karena suasananya menjadi canggung kembali.

Aku mengedarkan pandanganku ke seisi kedai kopi ini, lumayan agak sepi. Hanya ada beberapa meja yang terisi pelanggan, selebihnya kosong. Kulihat, Junmyeon seperti memikirkan sesuatu sambil melihat ke arah jendela.

"Xing, coba lihat sepasang kakek dan nenek di seberang itu" kata Junmyeon sambil menunjukkan jarinya ke arah jalanan di seberang, di bangku jalanan yang sedang diduduki oleh kakek dan nenek yang sepertinya sedang bersantai.

"Iya, mereka kenapa, Myeon?" aku juga menatap mereka berdua seperti Junmyeon.

"Mereka sangat serasi, bukan? Aku iri mereka masih terlihat mesra meskipun mereka sudah tidak muda lagi. Benar-benar cinta sejati"

"Kau benar, Myeon. Mereka sangat serasi. Kau tahu, sangat jarang sekali kau bisa menemukan dan mendapatkan cinta sejati seperti itu" Aku tersenyum melihat sang kakek yang membelai mesra kepala si nenek dengan tatapan mesra dan mereka berdua terlihat tersenyum.

"Apa kita bisa seperti itu, Xing?" Junmyeon mengalihkan tatapannya ke arahku yang masih melihat kakek dan nenek di seberang. Aku balas menatapnya dan tersenyum.

"Aku bukannya tidak percaya akan masa depan, aku tidak tahu masa depan kita seperti apa. Tapi aku sangat sangat sangat berharap, kita bisa seperti kakek dan nenek itu, Myeon" Aku mengangguk dan meminum Mocacinno milikku. Ia pun juga meminum americano miliknya.

"Aku sangat berharap itu terjadi, Xing. Aku sangat mencintaimu" ucap Junmyeon sambil menggenggam tanganku. Aku membalas genggamannya. Terasa hangat, aku menyukainya.

"Aku juga, Myeon. Maaf untuk anniversary kali ini aku tidak memberimu banyak. Aku bingung ingin memberimu apa" ucapku merasa bersalah. Junmyeon menggeleng pelan dan tersenyum lalu mengacak rambutku.

"Tidak apa. Tidak usah kau pikirkan. Dengan kau ada di sini untuk merayakan anniversary kita pun aku sudah sangat senang, Xing. Aku hanya ingin kau untuk kali ini. Jadi tak usah kau pikirkan. Ah, aku punya satu hadiah lagi untukmu. Sebentar" Kata Junmyeon sambil merogoh sesuatu dari mantel coklatnya. Aku penasaran dan menatap Junmyeon bingung. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah. Aku terkejut, dan berucap dalam hati bukan 'itu' yang ia berikan.

"Sebenarnya aku sudah lama ingin memberikan ini kepadamu. Hanya saja aku menunggu waktu yang pas" ia membuka kotak itu, dan kulihat ada sebuah cincin perak di sana. Aku menatapnya bisu, tidak tahu harus berkata apa.

"Aku... tidak pantas menerima itu, Myeon" Aku menggeleng pelan dan menunduk. Ya, aku tidak pantas menerimanya.

"Kau pantas menerimanya, Xing. Karena kau masih milikku" balas Junmyeon sambil meletakkan kotak cincin itu di meja dan menggenggam tanganku.

"Tidak, Myeon. Apa aku pantas menerima semua yang kau berikan sementara aku memintamu untuk break? Kau memberiku semuanya, coklat ketika aku sakit, lalu rilakkuma dan cincin ini di anniversary kita. Aku tidak pantas menerimanya" ucapku pelan. Kuberanikan diriku menatapnya. Ia tampak terluka, namun aku masih bisa melihat cintanya yang besar untukku dari matanya. Ia mengambil cincin itu lalu memasangkannya di jari manisku, terlihat sangat pas.

"Meskipun kita break, kita masih bersama, kan? Itu artinya kau masih milikku. Kau adalah tanggung jawabku. Aku patut khawatir dan memberikanmu sesuatu kalau kau sedang sakit. Kalau kita sedang anniversary, aku patut memberikan kejutan untukmu. Semua itu karena aku sayang padamu. Kecuali kalau ada kata putus yang terucap di antara kita. Itu semua akan berbeda, Xing" jelas Junmyeon. Aku mengangguk dan menatap cincin itu dan Junmyeon bergantian. Aku masih merasa tidak pantas menerimanya. Aku menyakitinya, dan ia memberiku banyak cinta. Rasanya tidak sepadan.

"Aku tidak ingin tahu. Kau harus menerima ini, Xing. Ini tanda bahwa aku serius padamu. Aku ingin kau terus memakainya sampai kau mati, Xing" ucapnya serius. Aku mengangguk.

Setelah beberapa menit semuanya hening. Aku dan dia tidak berkata apapun. Lalu akupun dengan gugup membuka percakapan lain dan membuat semuanya baik-baik saja. Aku tidak ingin semuanya tambah canggung ataupun rusak.

"Sudah malam, Xing. Ayo kita pulang. Aku tidak ingin kau pulang larut" Kata Junmyeon sambil melirik arloji di tangannya. Aku pun melirik arloji di tanganku. Hampir jam sepuluh malam. Ibu pasti mengkhawatirkanku.

Aku dan Junmyeonpun berdiri dan membayar minuman kami di kasir, lalu pulang. Kami berjalan berdua, menuju rumahku. Sesekali kami berbincang membahas banyak hal. Sampai tidak terasa kami sudah berada di depan rumahku. Aku berdiri di depan pagar rumah dan menatapnya.

"Terima kasih untuk hari ini, Myeon. Kau bahkan sampai mengantarku ke rumah. Tidak usah kau antarpun aku pasti akan baik-baik saja" aku tersenyum sambil menatapnya.

"Aku juga berteima kasih, Xing. Entah mengapa, aku sangat merasa bahagia hari ini. Dulu juga aku sering mengantarmu, apa kau lupa hm? Aku ingin memastikan kau selamat sampai kau berada di rumah. Dengan begitu aku jadi tidak repot mengkhawatirkanmu"

"Baiklah aku mengerti. Aku masuk dulu. Kau juga sebaiknya pulang, Myeon" ucapku. Ia mengangguk dan tersenyum lebar.

"Selamat malam, Xing. Happy anniversary. Aku mencintaimu" Ucap Junmyeon sambil berjalan pelan menelusuri jalan. Baru beberapa langkah ia melangkah, aku menghampirinya dan menahan lengannya. Ia menatapku bingung.

"Aku melupakan sesuatu" kataku gugup, dengan cepat aku mengecup pipinya dan tersenyum kikuk.

"Selamat malam, Myeon. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa besok" Kataku sambil menuju rumahku. Ketika berada di depan pagar, aku melihatnya masih membeku. Lalu ia menatapku dan tersenyum, kemudian melambaikan tanganku dan berlalu menuju ke arah jalan pulangnya. Aku pun masuk ke dalam rumah dan beristirahat di kamarku dengan memeluk rilakkuma pemberiannya.

.

.

.