Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Story © Clovery
Kazei Yuuki © Clovery
Warning : AU, Fantasy, OC, OOC, typo, 1st fict, and more.
Don't Like? Don't Read ^^
Chapter 4
Aku Bahagia
Gadis itu lalu menggenggam tangan si pemuda dengan kedua tangannya.
"Kuharap kita bisa berteman. Mulai sekarang aku akan membuatmu mengenal setiap sisi dunia ini Kuroko Tetsuya-kun."
Hangat, itulah yang Kuroko rasakan. Perasaan yang belum pernah ia dapatkan. Dengan senyum selebar yang ia bisa, tangan kirinya ikut bergabung dengan kedua tangan Yuuki dan tangan kanannya sendiri. Menggenggam, saling menghangatkan di pagi yang terbilang sudah cukup hangat ini. 'Hangat' kini Kuroko tahu bagaimana 'Hangat' yang seringkali diucapkan para pemiliknya dahulu, bukan hanya sekedar kata saja. Ah ini kah?
Di bawah guyuran sinar mentari pagi ini. Kuroko yang sedari tadi terdiam mulai menanggapi.
"Ya, kuharap kita bisa berteman Kazei Yuuki-san."
Kruyuk~~
Mereka berdua terdiam. Yuuki menahan tawa kecilnya. Kuroko bingung akan tingkahnya. Ia bertanya "Ada apa?"
Sambil menahan tawanya Yuuki berkata, "Kurasa, aku harus mengajarimu bagaimana caranya manusia itu hidup Kuroko-kun."
Hidup, ya. Kuroko ingin tahu bagaimana rasanya.
-.-
Bukankah salah satu kegiatan yang wajar dilakukan di pagi hari adalah mandi? Membiarkan guyuran air menyuntikkan dosis semangat untuk memulai hari, sekaligus membersihkan tubuh dari segala kotoran pengganggu. Jadi di sinilah mereka berada saat ini. Di depan kamar mandi.
Yuuki terlanjur pusing sendiri. Pasalnya, sedari 19 menit lalu. Kuroko tak juga mengerti bagaimana manusia membersihkan diri. Haruskah mengadakan praktek langsung dengan dirinya sendiri sebagai instrukturnya? Haruskah?! Itu ide yang buruk, sekali lagi buruk.
Yuuki menggeleng cepat-cepat. Berusaha melempar jauh pikiran nyeleneh tadi. Kembali berpikir jalan lain. Mana mungkin ia harus memandikan Kuroko sendiri? Meskipun, tanpa ia sadari, ia sudah melakukannya kemarin sore. Keadaannya berbeda saat ini. Ia bukan hendak membersihan tubuh bongkar pasang porselen. Melainkan tubuh asli seorang pria yang saat ini tengah menatapnya datar, tanpa ekspresi berarti.
Hampir saja si pemuda buka mulut, hendak menanyakan apa yang terjadi. Baru akan seucap, si gadis berteriak frustasi.
"Arghhhhh"
"Aku menyerah, kau menang. Masuk ke kamar mandi sekarang. Akan ku mandikan kau tuan Kuroko Tetsuya."
Tanpa basa-basi, Yuuki menarik tangan di pemuda yang masih tak mengerti situasi.
-.-
Butuh setidaknya 25 menit untuk sekedar 'memandikan' seorang Kuroko Tetsuya. Tentu saja 'seorang', dia sekarang adalah manusia ingat?
Yuuki tak mau pusing-pusing menjelaskan bagaimana ia 'memandikan' Kuroko. Setiap detail ingatan yang masih hangat itu dengan mudah membuatnya tersipu sendiri. Terlebih ingatan tentang ta-
"Ah!" Yuuki berteriak kecil ketika pisau tajam yang ia gunakan untuk memotong tomat malah mengiris jari tangannya sendiri, meninggalkan sayatan tipis yang mulai dialiri darah segar. Sungguh, ingatan tentang kejadian tadi memberikan efek buruk pada gadis ini.
"Eh? Tanganmu mengeluarkan air merah." Kuroko yang tadinya sibuk memperhatikan lampu kulkas yang mati ketika pintunya tertutup -ia mengklaim bahwa itu keajaiban- kini sudah berada di belakang Yuuki, memperhatikan tangan Yuuki yang mengeluarkan air merah yang disebutnya tadi, dengan mata sedikit kagum?
"Ini namanya darah, tiap manusia punya darah." Yuuki mulai berjalan ke arah keran air di sebelah kanan kulkas miliknya.
Menghabiskan hampir seluruh hidupnya yang ia ingat di dalam toko antik, dan gudang membuatnya tak tahu banyak hal. Ia hanya tahu dari apa yang ada disekitarnya. Sepanjang mata kacanya memandang dan seluas telinganya mendengar.
Sekarang Kuroko hidup, itu artinya masih banyak langkah yang bisa ia ambil untuk mengenal dan mengetahui bukan?
"Warnanya bagus, bisa perlihatkan lagi?" Kuroko mengikuti Yuuki yang tengah membasuh tangannya dengan air mengalir. Lalu berjalan menuju laci yang ia ingat sebagai tempat penyimpanan alat-alat P3K miliknya.
"Tidak bisa, darah itu berharga. Lagipula rasanya sakit." Jawab Yuuki tanpa memandang Kuroko. Dimana aku menyimpan plester itu?
"Kau bilang semua manusia punya darah kan?"
"Hm"
"Aku manusia?"
"Ya?" Yuuki sedikit ragu harus menjawab apa.
"Berarti aku punya darah?"
"Tentu jika kau manusi- APA YANG AKAN KAU LAKUKAN HA?!" Yuuki yang selesai mengaplikasikan plester ke jari tangannya dibuat kaget oleh Kuroko yang tengah memegang pisau yang Yuuki gunakan tadi, seolah ingin memotong jari tangannya sendiri ketika Yuuki berbalik. Yuuki cepat-cepat menyita benda tajam itu. Mengamankannya dari tangan pucat Kuroko. Yuuki memandangnya horror.
"Kau tak mau memperlihatkan darah lagi. Dan kau bilang aku punya. Aku ingin melihatnya." Nada monoton dan wajah datar Kuroko membuat Yuuki menghela napas. Aku belum menikah, tapi aku sudah punya anak sebesar dan sepolos ini? Kau pasti bercanda HA.
"Baiklah-"
"Apa kau akan memperlihatkan darahmu padaku?"
"TIDAK" Sambar Yuuki cepat. Yuuki menarik napas panjang. Lalu mulai lagi.
"Baik, begini. Setiap manusia memang punya darah. Dan darah itu SANGAT berharga." Yuuki menekankan pada bagian 'sangat'. "Jika kita kehilangan terlalu banyak darah, kita akan mati. Itu artinya, kita tidak bergerak dan tidak bernapas untuk selama-lamanya. Jadi, aku tidak bisa memperlihatkan darahku mengalir lebih banyak. Lagipula luka harus segera diobati. Mengerti?"
"Apa mati itu sama seperti ketika aku menjadi boneka?" Pandangan Kuroko menerawang.
"Secara teknis, boneka itu memang benda mati. Begini saja, mati itu seperti kau tidur dan tidak pernah bangun lagi."
Yuuki rasanya ingin membenturkan kepalanya ke dinding di sebelah kanannya saat ini juga. Apa yang membuatnya seperti itu? Tanyakan pada mata bulat nan menggemaskan milik Kuroko yang menatapnya penuh rasa ingin tahu. Pemikirannya membuat Yuuki tak sadar akan perubahan ekspresi pria didepannya saat ini.
"Itu menakutkan" Yuuki tersadar dari lamunannya.
"Ha?"
"Tidak pernah bangun lagi. Jika Yuuki tidak pernah bangun, itu menakutkan. Aku tidak tahu kenapa. Tapi disini tidak menyenangkan." Kuroko menyentuh dadanya sendiri. Dada yang selalu ia yakini hanya dipenuhi oleh udara. Kini dipenuhi rasa yang tidak ia sukai, rasa 'tidak menyenangkan'.
Yuuki menatap Kuroko. Entah kenapa dadanya sakit ketika melihat Kuroko dengan pandangan sedih seperti ini. Seharusnya ini tak terjadi kan?
"Ahahaha apa yang kau bicarakan? Ayo kita makan, kau harus makan. Lapar kan?" Yuuki tahu, tawanya tadi sangat dipaksakan. Ia hanya ingin mengalihkan pembicaraan tadi. Yuuki juga membenci topik itu. Mendengar perkataan Yuuki, Kuroko mengangkat kepalanya yang tadi menunduk lesu. Sedikit kaget ketika Yuuki menariknya kembali ke dapur.
-.-
Selesai. Setelah 15 menit berkutat dengan roti dan sayur, kini sarapan yang Yuuki buat sudah siap. Ketika dia disibukkan dengan pekerjaannya, ia membiarkan Kuroko kembali ke tempat asalnya, bermain dengan kulkas. Biarlah tagihan listrik naik, asalkan Kuroko jauh-jauh dari benda tajam yang berbahaya.
"Kemarilah Kuroko-kun." Kuroko yang mendengar namanya dipanggil, lalu menoleh dari kulkas dan berjalan menghampiri pemilik suara.
"Duduklah di sana." Tunjuk Yuuki ke arah kursi yang terletak bersebrangan dengan kursi yang didudukinya saat ini. Sambil mendorong piring dengan pelan kepada Kuroko.
"Kau sudah pernah lihat orang makan kan?" Kuroko mengangguk, mengingat beberapa anak kecil yang membawa makanan ke dalam toko tempatnya dipajang dulu.
"Baiklah, ayo makan." Yuuki mulai mengambil potongan roti isinya. Kuroko mulai meniru dirinya.
-.-
Saat ini mereka tengah duduk di depan televisi yang memutar salah satu film kesukaan Yuuki. Mereka tidak sedang menonton film sebenarnya. Tidak ketika tak satu pun dari keduanya memberikan perhatian kepada tayangan tersebut. Lantaran, Yuuki sibuk tertawa dan Kuroko yang dengan ajaib memasang wajah datar namun dipenuhi semburat merah sambil memandang Yuuki dengan jengkel, mungkin.
"Ahaha kau- hahaha aku tak habis pikir, kenapa langsung kau telan? Tak kau kunyah dulu. Kau sangat lucu." Yang Yuuki maksud adalah kejadian ketika mereka sarapan tadi. Dimana Yuuki dibuat kaget oleh Kuroko yang tak bisa menelan makanannya sendiri, dan terlihat sangat tersiksa tadi. Kenapa? Karena Kuroko langsung ingin menelan makanannya, tanpa mengunyahnya terlebih dahulu. Entah mengapa, Yuuki berpikir itu hal yang patut untuk ditertawakan bermenit-menit.
Tentu Kuroko tidak berikir itu lucu. Itu memalukan, lebih memalukan daripada berdiri kaku tanpa pakaian seperti ketika dirinya masih menjadi manekin dulu. Kuroko terus saja memandangi Yuuki sambil tanpa sadar memerah sendiri.
Sayang, tawa bahagia Yuuki diinterupsi oleh suara telepon yang menunggu untuk dijawab. Yuuki berdiri lalu meraih telepon genggamnya yang sedari tadi berdiam di meja kopi di depannya. Ah Riko rupanya, Yuuki lalu menjawab telepon yang masih berdering itu.
Melihat Yuuki yang berdiri di depannya sambil menelpon, Kuroko diam-diam merasa lega. Karena Yuuki tak lagi mentertawainya. Kuroko memandang Yuuki yang membelakanginya.
"Moshi-moshi." Yuuki mengawali.
"Moshi-moshi Yuuki-chan. Maafkan aku, aku baru menghubungimu sekarang. Keadaan benar-benar kacau disini. Kau bisa dengar kan?" Ya, kacau. Yuuki dengan jelas mendengar orang-orang berteriak saling memanggil, meminta bantuan dengan perlengkapan pernikahan.
"Ya ya. Terserah. Aku maafkan. Disana terdengar sangat kacau. Bukankah seharusnya kau membantu disana juga?"
"Hehehe apa aku juga sudah kau carikan hadiah untuk Satsuki?"
"Sudah." Yuuki mengingat kembali apa yang ia beli ditoko klasik kemarin, selain Kuroko tentunya. Sebuah kalung dengan pendan berbentuk bunga sakura dan sebuah jam meja klasik.
"Uwaa kau memang yang terbaik! Terima kasih!" Yuuki bisa membayangkan Riko tersenyum lebar saat ini di seberang telepon. Dan mau tak mau Yuuki tersenyum membayangkan wajah bahagia sahabatnya itu.
"Ya.. eh sepertinya ibumu memanggil." Ya, sangat jelas Yuuki bisa mendengar suara Ibu Riko yang memanggil nama putrinya.
"Ah, benar. Aku harus kembali bekerja. Sampai jumpa Yuuki-chan, terima kasih sekali lagi ya!" Dan dengan begitu, percakapan mereka diakhiri. Yuuki menghembuskan napas lega, mendengar suara temannya tadi.
Tiba-tiba, Yuuki merasakan sepasang tangan merengkuh pinggangnya. Memeluknya dari belakang. Ia mengenali tangan pucat itu adalah milik Kuroko. Tapi kenapa?
Kuroko masih diam. Itu membuat Yuuki merasakan darah mulai berkumpul di wajahnya. Seolah mengerti kebingungan Yuuki. Kuroko berkata pelan.
"Anak-anak kecil selalu memeluk orang tuanya ketika dibelikan pakaian yang mereka inginkan. Dan berterima kasih." Kuroko masih menenggelamkan wajahnya di bahu kanan Yuuki. Ini nyaman.
"Lalu kenapa kau memelukku Kuroko-kun?" Yuuki tak kuasa bergerak. Kedua tangannya berdiam di depan dadanya, tergegam erat–erat, dengan telepon genggam di antaranya. Yuuki berusaha mati-matian menenangkan dirinya. Agar ucapannya tak tergagap.
"Aku ingin berterima kasih." Kuroko menjawab pelan. Sebelum Yuuki sempat bertanya mengapa, Kuroko sudah melanjutkan.
"Untuk semuanya. Pakaian, kata-kata asing, makanan, dan untuk semua perasaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya ketika masih kaku sebagai manekin." Yuuki bisa merasakan Kuroko semakin mengeratkan pelukannya. "Terima kasih Yuuki. Aku bahagia."
Bahagia? Yuuki tak tahu apa yang terjadi. Namun yang ia sadari adalah saat ini tangan kanannya ikut bergabung dengan kedua tangan Kuroko di pingganggnya. Menggenggam kedua tanga itu. Sedangkan tangan kanannya mengelus lembut helaian biru Kuroko yang kini jatuh di kanan Yuuki, karena si pemilik menyembunyikan wajahnya disana.
Setelah sekian menit kesunyian hinggap. Yuuki akhirnya membuka bibirnya, dan berkata.
"Aku bersyukur kau bahagia Kuroko-kun. Aku juga." Ucap Yuuki tulus. Karena memang ia begitu. Ia juga merasa bahagia, tidak sendirian lagi di rumah ini, memberikan apa yang ia tahu, tertawa dengan sepenuh hati, dan melihat seseorang bahagia karena dirinya. Dunia tak tahu betapa Yuuki selalu kesepian di rumah ini. Teman-temannya tentu juga memiliki dunia sendiri bukan?
"Aku juga bahagia." Katanya pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.
Mereka bisa merasakan kebahagian lain lagi bukan? Yuuki tak sabar untuk menunjukkan kebahagian lain kepada kedua mata Kuroko yang kini terpejam.
Sungguh, ia tak sabar.
TBC
Author's note
Serasa bangkit dari kubur. MAAFKAN SAYA ;-;
Semoga chapter ini tidak mengecewakan. Saya benar-benar tidak menyangka.. TERIMA KASIH untuk semua reader.. terlebih yang memberikan fav, follow, dan review. Saya benar-benar merasa bersyukur. T^T
Author tidak bisa update kilat kemungkinan.. maaf ;-;
Balasan Review
uzumaki himeka : aduh.. terima kasih pujiannya.. semoga chapter ini tidak mengecewakan... ^^
Niechan Seicchi : saya baca review juga nge-feel... terima kasih! semoga tidak kecewa dengan chapter ini.. ^^
kuroi uso : aduh ditunggu.. maaf update selama ini.. author macam apa saya... nasib kuroko waktu yuuki kerja hmm? chapter selanjutnya mungkin akan menjawab.. terima kasihh ^^
sherrysakura99 : waa terima kasih kritiknya.. author sadar ceritanya kurang panjang.. dan malah ini lebih pendek dari chap sebelumnya.. huwaaa maaf! semoga tidak terlalu kecewa.. ;-;
LeafandFlower : waaah terima kasih sudah mereview.. kenapa kuroko hidup? mungkin akan dijelaskan di chapter yang masih jauh hehe... terima kasih! ^^
rita89 : waa terima kasih review-nya... semoga tidak kecewa dengan chapter ini ya ^^
Asia Tetsu : terima kasih sudah me-review cerita ini! aduh maafkan author yang setahun baru update.. maaf! semoga tidak mengecewakan ;-;
magdalenaharuno : terima kasih sudah me-review fict ini! semoga tidak mengecewakan.. ^^
ChiyakiRyuu : uwaa terima kasih sudah me-review! alasan kuroko hidup? nanti di chapter yang sepertinya masih jauh huhu T^T
Mohon kritik dan sarannya!
Sampai jumpa di chapter selanjutnya! ^0^
