"Dilarang menyentuh milikku, aku tidak suka berbagi hal-hal yang sudah menjadi milikku!"
Kyuhyun tiba-tiba saja sudah berada dalam satu ruangan bersama mereka lalu merampas tangan Sungmin dari Donghae, kemudian memandang Sungmin sambil menyunggingkan sebuah senyum menggoda. Ia senang saat melihat Sungmin melengos, Kyuhyun sudah berhasil meniru kata-kata yang selalu diucapkannya.
"Kau sudah bersiap-siap? Kita ke rumah Eomma-mu dulu, aku sudah menyiapkan pakaianmu juga, mungkin kita akan menginap satu malam."
Sungmin menarik tangannya dan berkemas-kemas. "Aku harus menemui sajangnim dulu. Kau tunggu saja di mobil." Sungmin kemudian memeluk map-nya erat-erat. Lalu tersenyum kepada Donghae sebagai tanda perpisahan.
.
Cho Kyuhyun x Lee Sungmin
.
KYUMIN, BoysLove, Mpreg, Mature Content
.
Disclaimer : I don't have anything and don't have any intention.
Phoebe Maryand fully owner all these stories
.
Summary:
"Aku berusaha melupakan hasratku semenjak itu, tapi malam ini aku tidak bisa! Kau sudah menyebabkanku melakukan hal yang paling tidak aku sukai selama dua minggu terakhir ini, Sungmin."/ Melakukan hal apa?/ "Onani!"
.
~KYUMIN ~
.
Sungmin menyusuri kota Tokyo dengan perasaan yang berkecamuk. Dia benar-benar belum siap bertemu dengan orang tua Kyuhyun. Bagaimana bila orangtua Kyuhyun memaksa Sungmin untuk menikah saat ini juga? Bagaimana bila mereka menempatkan dia dan Kyuhyun di kamar yang sama? Sungmin khawatir bila kali ini dia tidak akan sanggup menghindar dari godaan Kyuhyun bila itu benar-benar terjadi.
Jetlag yang dirasakannya cukup parah, terlebih saat mengetahui bahwa keluarga Kyuhyun tinggal di Fukuoka dan mereka harus mengalami perjalanan yang cukup jauh untuk sampai di sana.
Berangkat dari Seoul dengan pesawat pagi dan sampai di Fukuoka pada sore hari tidak sesederhana kedengarannya. Sungmin benar-benar lelah, ia merasa harus secepatnya mengistirahatkan diri.
Ketika sampai, Sungmin disuguhi deretan rumah-rumah khas Jepang. Rumah keluarga Kyuhyun juga sama seperti rumah-rumah di sekelilingnya bertingkat dua dan memiliki halaman yang tidak begitu luas, namun memiliki arsitektur yang indah.
Begitu masuk ke rumah, Sungmin disambut dengan hangat oleh Nyonya Cho, wanita paruh baya yang masih memiliki sisa-sisa kecantikan khas wanita Korea. Meskipun sudah lama tinggal di Jepang, namun keluarga Kyuhyun selalu menggunakan bahasa Korea sebagai percakapan sehari-hari, karena itulah Sungmin merasa lega karena ia tidak perlu bersusah payah mengingat-ingat bahasa Jepang yang dulu sempat ia pelajari.
Sebelum duduk di ruang tamu, Sungmin merasakan kedua tangan hangat Nyonya Cho menyentuh pipinya dengan penuh kasih.
"Setelah melihatmu aku jadi ingin segera bertemu dengan eommamu." Nyonya Cho berbicara dengan logat khasnya sambil memandang Sungmin. "Aku ingin berterimakasih padanya karena sudah melahirkanmu sebagai jodoh untuk uri Kyuhyun."
Sungmin tersenyum malu. Dia cukup senang mengetahui Nyonya Cho menyukainya. Tapi Sungmin masih belum merasa lega karena ia belum bertemu dengan ayah Kyuhyun, pria itu masih berada di kantornya. Sungmin sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ayah Kyuhyun nanti saat bertemu dengannya.
"Eomma, bisakah aku beristirahat sekarang? Aku benar-benar sangat lelah." Kyuhyun mulai mengeluh.
"Aigoo, maafkan eomma ya. Kalau begitu kau bawakan barang-barang Sungmin dulu ke kamar."
Sungmin terbelalak. Kamar? Kamar siapa yang akan ditempatinya? Kamar tamu? Semoga saja bukan kamar Kyuhyun karena jika itu terjadi Sungmin pastikan dirinya akan mati bunuh diri besok pagi.
"Maaf, ahjumma. Kalau boleh tahu kamar siapa yang akan ku tempati?"
"Kau akan menempati bekas kamar Ahra, Dia kakak perempuan Kyuhyun. Sekarang dia sudah menikah."
Nyonya Cho tiba-tiba memandang Sungmin dengan ekspresi yang aneh, tubuhnya berguncang dan salah satu tangannya menutup mulutnya sendiri sambil terpekik kecil. Ia sedang teringat sesuatu dan sepertinya wanita itu merasa sudah melakukan kesalahan.
"Ommo, Apa sebaiknya kau sekamar dengan Kyuhyun? Kenapa aku tidak ingat kalau kalian sudah bertunangan!"
Sungmin shock. Ia sangat menyesal karena sudah bertanya dan sekarang ia harus melihat seringai Kyuhyun di ujung sofa.
"Tidak, ahjumma. Jangan begitu." Sungmin berusaha bersuara dengan lebih sopan. "Maksudku, jika aku tidur di kamar yang sama dengan Kyuhyun, itu bisa membuatku merasa tidak enak."
"Kau tidak perlu merasa tidak enak, aku mengerti kalau kau pasti ingin terus bersama Kyuhyun, tidak apa-apa. Sebentar lagi kalian kan akan menikah."
"Jangan ahjumma, aku mohon. Eommaku pasti akan sangat kecewa kalau mengetahui hal ini." Ucapan Sungmin terdengar lebih memelas. Eommanya akan kecewa? Tidak sama sekali. Eommanya justru merasakan hal yang sebaliknya.
Sungmin masih ingat kalau eommanya hampir bersorak dan melompat-lompat saat kemarin Kyuhyun meminta izin kepadanya untuk membawa Sungmin bertemu dengan orang tuanya di Jepang.
Nyonya Cho mengelus dada lega. "Maaf, sebenarnya aku malah merasa lega kau mengatakan hal seperti itu. Aku juga khawatir bila kau dan Kyuhyun tidur di kamar yang sama, mengingat anakku cukup mesum. Aku pasti akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu padamu besok pagi."
"Eommaaaa..." Kyuhyun mengeluh tidak terima.
Nyonya Cho hanya tersenyum sedangkan Sungmin menghembuskan nafas lega, ia memandang wajah masam Kyuhyun yang kehilangan senyumnya.
Tanpa bicara apa-apa lagi Kyuhyun segera mengangkat koper Sungmin dan membawanya ke dalam kamar. Sungmin mengikutinya setelah mengatakan permisi kepada Nyonya Cho.
Kamar yang akan ditempati Sungmin berada di lantai dua, bukan kamar yang luas tapi bisa dipastikan kamar ini memiliki kualitas yang lebih baik bila dibandingkan dengan kamar flatnya.
Kyuhyun meletakkan tasnya di atas ranjang dan kembali turun tanpa mengatakan apa-apa. Sepeninggal Kyuhyun, Sungmin membuka koper kecilnya untuk ganti baju. Tapi mengingat ia hanya membawa pakaian dalam jumlah yang sedikit Sungmin membatalkan niatnya.
Sebuah tas plastik berisi perlengkapan mandi dikeluarkannya dari dalam koper. Sungmin ingin mandi sebelum dia beristirahat. Karena di kamar itu tidak ada kamar mandi pribadi, Sungmin berinisiatif untuk turun ke bawah dan mencari kamar mandi sendiri.
Sungmin berjalan ke dapur dan memperhatikan keadaan rumah itu lebih seksama. Pertama, ia menemukan ruang tengah dengan televisi dan sebuah Kotatsu di atas karpet berwarna hijau. Lalu sebuah pintu yang Sungmin duga sebagai kamar dan terakhir adalah ruang makan dengan kitchen set yang bersih dan luas. Nyonya Cho ada di sana dan tampak sangat sibuk dengan masakannya. Sungmin mendekatinya dengan agak gugup.
"Ahjumma, kamar mandi ada di sebelah mana?"
Nyonya Cho berbalik kemudian memandangnya sambil tersenyum lalu menunjuk pintu yang berada di sebelah lemari pendingin. "Disana ada satu, tapi sedang dipakai Kyuhyun. Di atas juga ada, ruangan yang di seberang kamarmu."
Sungmin berusaha mengingat-ingat, ia sepertinya agak kurang teliti karena tidak melihat ada pintu di seberang kamarnya.
Sungmin berusaha tersenyum lalu membungkukkan badan sambil mengucapkan terima kasih. Ia akan kembali naik ke lantai dua, tapi Sungmin merasa ia tidak bisa membiarkan Nyonya Cho sibuk sendirian.
Wanita itu pasti sedang menyiapkan makan malam dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya karena kedatangannya, atau mungkin masakan yang dimasaknya kali ini bukan masakan yang biasa. Nyonya Cho bisa saja menyiapkan masakan yang spesial untuk menyambut kedatangan Sungmin di rumahnya.
Sungmin kemudian meletakkan tas plastiknya di atas meja makan dan menyampirkan handuknya di kursi. Ia kembali lagi mendekati Nyonya Cho yang kelihatan semakin sibuk.
"Ahjumma mau masak apa? Ada yang bisa ku bantu?"
"Ah, tidak usah. Kau istirahat saja, wajahmu sangat pucat. Kau pasti sangat lelah." Nyonya Cho berusaha menolak dengan sopan.
Tapi Sungmin tidak menyerah begitu saja. "Biarkan aku membantumu. Aku bisa melakukan apa saja, mengiris tomat, mengiris daun bawang, mencuci piring juga tidak masalah. Ahjumma kelihatan sangat kerepotan mengerjakannya sendiri."
"Tapi kau adalah tamu di sini, mana mungkin aku membiarkan tamu memasak."
"Astaga, ahjumma. Bukankah aku calon menantumu? Biarkan aku membantu, aku berjanji tidak akan mengacaukan masakanmu." Sungmin masih berusaha.
Sejenak hening, Nyonya Cho lalu memandang Sungmin dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti. Sungmin menggigit bibirnya. Apa dia salah bicara?
"Aku senang kau mengatakan itu." Nyonya Cho akhirnya kembali bersuara. Kata-katanya membuat Sungmin mengerti makna dari pandangan Nyonya Cho tadi. "Aku harap kau dan anakku bisa segera menikah. Semula aku khawatir karena anak itu bilang kalau dia tidak mungkin menikah. Beberapa waktu kemudian dia memberitahuku bila dia akan menikah, tapi dengan orang yang mungkin tidak akan aku sukai. Pada awalnya aku sendiri tidak yakin ketika dia bilang dia akan menikahi seorang pria. Tapi sepertinya dia salah, kau pria yang baik dan aku sangat menyukaimu."
Benarkah? Ternyata Nyonya Cho mengkhawatirkan itu. Nyonya Cho khawatir kalau Kyuhyun akan menikah dengan orang yang tidak cocok dengan keluarganya. "Terimakasih ahjumma." Sungmin mengatakannya dengan sepenuh hati dan kali ini dia cukup terharu.
"Kalau begitu panggil aku Eomma. Bukankah kau calon menantuku?"
Sungmin tersenyum dan Nyonya Cho tampak lebih berbinar-binar dari sebelumnya. Ia membiarkan Sungmin memotong daun bawang dan Sungmin terlihat sangat senang.
Tiba-tiba Sungmin teringat eommanya. Memanggil Nyonya Cho dengan sebutan eomma membuatnya merasa bersalah karena dia tidak menginginkan Kyuhyun sebagai suaminya.
Bunyi pintu kamar mandi yang terbuka membuat Sungmin dan Nyonya Cho menoleh. Kyuhyun sudah kelihatan lebih segar dari sebelumnya. Sungmin merasa iri, dia juga ingin mandi.
"Sudah cukup, kau tidak usah membantuku lagi. Seharusnya kau beristirahat, sekarang mandilah dan kembali ke kamarmu." Nyonya Cho berusaha menghentikan kegiatan Sungmin.
"Tapi eomma, aku tidak lelah sama sekali." Sungmin berbohong.
"Kalau begitu kau pergi saja bersama Kyuhyun." Nyonya Cho kemudian memandang Kyuhyun yang terpaku saat namanya disebut-sebut.
"Ajak Sungmin jalan-jalan ke pantai. Kalian di sini hanya sebentar. Eomma tidak ingin dia menghabiskan waktunya di dapur."
"Eomma, aku tidak apa-apa." Sungmin masih membujuk.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya lalu mendekati Sungmin dan menarik tangannya menjauh dari dapur sampai mereka mendekati tangga.
"Sekarang kau mandi di lantai atas. Ganti pakaianmu dan dalam waktu tiga puluh menit kau sudah harus selesai lalu susul aku ke depan."
"Tapi aku ingin…"
"Sungmin, percayalah. Eommaku tidak suka diganggu siapapun saat memasak, noonaku saja tidak pernah melakukannya. Suatu keajaiban saat dia membiarkanmu memegang pisaunya. Jadi jangan kecewa dengan ini. Cepatlah naik ke atas."
Sungmin menghentakkan kakinya lalu naik ke lantai atas dengan terburu-buru sehingga lupa membawa handuk dan tas plastiknya yang tertinggal di atas meja makan.
Baru saja Sungmin ingin mengambilnya, Kyuhyun sudah berada di depannya sambil memberikan kedua barang yang tertinggal tadi.
Kyuhyun kemudian kembali menuruni tangga dan masuk ke kamarnya yang berada di sebelah kanan tangga, tepat di bawah kamar mandi.
Seandainya boleh memilih, Sungmin ingin tidur saja. Tapi tidak sopan bila ia melakukannya. Kesannya pasti sangat tidak baik meskipun alasannya masuk akal, ia lelah. Akhirnya Sungmin masuk ke kamar mandi dengan langkah gontai.
~ KYUMIN ~
Hampir tiga puluh menit, Sungmin akhirnya mengganti pakaiannya juga dengan sebuah t-shirt polos berwarna putih kemudian membungkusnya lagi dengan jaket hitam kesukaannya.
Melihat pantai disore musim gugur mungkin bisa jadi pengalaman yang menyenangkan karena Sungmin selalu tidak punya waktu untuk mengunjungi pantai, semenjak dia menjabat sebagai pengacara terhadap beberapa kasus yang ditanganinya.
Dengan wajah yang lebih segar, Sungmin kemudian turun ke lantai bawah dan menyempatkan diri untuk berpamitan kepada Nyonya Cho. Wanita itu lalu mematikan kompornya untuk menemani Sungmin keluar rumah.
Nyonya Cho terus memujinya dengan mengatakan bahwa Sungmin adalah calon menantu termanis di dunia yang diciptakan untuk putranya. Ungkapan yang membuat wajah Sungmin merona. Tapi rona wajahnya tidak bertahan lama karena ia terkejut melihat seekor kuda putih bersama Kyuhyun dan seorang anak laki-laki sebaya Sungjin yang tidak Sungmin ketahui namanya.
"Kenapa kau lama sekali?" Kyuhyun langsung memasang ekspresi kesal saat melihat Sungmin yang sudah dari tadi ditunggu-tunggunya.
Kemudian dengan nada yang lebih lembut Kyuhyun memperkenalkan laki-laki yang sedang bersamanya dan darimana ia mendapatkan kuda.
"Ini kuda pamanku. Tapi bukan ayah Donghae Hyung, karena pamanku ada banyak. Kuda ini sangat tangguh karena dia adalah kuda dari Dojo Yebusame. Dan ini adalah pengasuhnya, Haru."
Sungmin menyapa Haru dengan senyuman, lalu ia kembali memandang Kyuhyun dengan bingung. Tidak mungkin mereka akan berkuda kan? Satu kuda untuk berdua?
"Ayo, sayang. Kita ke pantai sambil berkuda."
"Tidak bisakah kita berjalan kaki saja?"
"Ayolah, jarak dari rumahku ke pantai cukup jauh." Kyuhyun naik ke punggung kuda dengan sigap lalu mengulurkan tangannya kepada Sungmin yang masih terpaku di depan pintu.
"Cepat naik, kita harus pulang sebelum makan malam."
"Pergilah Sungmin. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa karena Haru juga akan pergi bersama kalian. Kyuhyun juga cukup pandai berkuda, sejak kecil ia terus berlatih Yabusame sebelum bersekolah di Osaka." Nyonya Cho berusaha untuk membujuk Sungmin yang masih ragu.
Sungmin kemudian pelan-pelan mendekati Kyuhyun, memberikan tangannya dan membiarkan Kyuhyun menggenggamnya erat. Tidak begitu sulit untuk naik ke atas kuda dengan bantuan Kyuhyun.
Kyuhyun memintanya untuk duduk di bagian depan, jadi mau tidak mau Sungmin harus menurutinya meskipun ia lebih suka duduk di bagian belakang.
Beberapa waktu kemudian kuda tersebut sudah melangkahkan kakinya dalam tempo yang tidak begitu cepat. Haru masih dengan setia berjalan membimbing kudanya menjauhi rumah.
Pantai sudah terlihat dan ternyata tidak sejauh yang diperkirakannya. Kata-kata Kyuhyun tadi mengesankan seolah-olah pantai tidak mungkin bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Dasar pembohong.
"Aku kira pantai masih beberapa kilo lagi." Sungmin menyindir.
"Memangnya kenapa? Aku lelah dan sekarang harus menemanimu jalan-jalan. Kau sangat keterlaluan kalau masih memaksaku untuk berjalan kaki."
"Jadi kau keberatan untuk menemaniku? Bukankah aku tamu kehormatan? Aku ada di sini juga karenamu, kau sudah memaksa…"
"Sudahlah." Mata Kyuhyun membesar menunjukkan kekhawatirannya atas kelanjutan dari perkataan Sungmin. Haru bisa mendengarnya dan anak itu cukup dekat dengan ibunya. Semuanya bisa kacau karena Haru bisa saja menceritakan apa yang dia lihat hari ini kepada ibunya.
"Kau suka dengan caraku itu? Haruskah aku mengulanginya?" Kyuhyun mengingatkannya tentang kejadian saat di mobil.
Sungmin terkejut. Bukan hanya karena kata-kata Kyuhyun barusan, tapi juga karena tangan Kyuhyun sudah beraksi dengan meraba-raba tubuh bagian depannya dan kini sedang berusaha menarik resleting jaketnya. Sungmin berusaha menahan.
"Mau apa kau?"
"Mau apa? Kau harusnya tahu apa yang akan aku lakukan." Kyuhyun kemudian terkekeh. "Kau punya kulit yang sangat indah sayang. Tapi kau selalu menutupinya dengan rapat. Menutupi kulit indahmu adalah tindakan kejam. Sekarang buka jaketmu"
"Kau ini kenapa?!"
"Aku hanya ingin bersenang-senang" Kyuhyun masih terkekeh. Dia sangat menikmati, selalu menikmati saat-saat dimana Sungmin kewalahan menghadapinya.
"Cukup! Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku tidak suka dengan permainanmu yang seperti ini!"
"Tapi aku suka. Aku menyukai apapun yang tidak kau suka. Sekarang buka atau aku yang akan melakukannya. Kau tahu betul apa yang akan ku lakukan bila itu sampai terjadi."
Sungmin merasakan nafasnya mulai tidak teratur. Memangnya apa yang akan Kyuhyun lakukan? Saat ini banyak orang di jalan dan Kyuhyun tidak mungkin berani melakukan sesuatu kepadanya di hadapan banyak orang. Sungmin tidak mau membuka jaketnya apapun yang terjadi.
Tapi tindakan keras kepala Sungmin berbuah tidak menyenangkan. Kyuhyun benar-benar menggerakkan tangannya dengan cepat kemudian merangkul pinggang Sungmin dan perlahan menelusupkan tangannya ke balik kaos yang Sungmin kenakan. Posisinya yang duduk di belakang Sungmin memudahkan Kyuhyun untuk menjalankan aksinya.
Tangan Kyuhyun terus naik mendekati dada Sungmin seiring dengan tangan lainnya yang membuka resleting jaket dengan perlahan. Ia bahkan tidak kesulitan melakukannya meskipun mendapat perlawanan Sungmin di atas kuda yang masih berjalan.
Haru juga melakukan hal yang sama, meskipun melirik sesekali, ia tetap bertindak pura-pura tidak tahu dengan apa yang dilakukan Kyuhyun.
Sungmin tidak berhenti mengutuk, tangannya mulai memukul-mukul Kyuhyun saat resleting jaketnya terbuka seluruhnya.
Tangan Kyuhyun terus bergerilya di daerah dadanya. Sungmin hampir mendesah saat ia merasakan remasan keras pada nipple-nya. Tubuh Sungmin melemah. Jaketnya kini sudah terlepas dan berpindah ke tangan Kyuhyun.
"Aku sudah bilang padamu sayang. Lebih baik kau melakukannya sendiri seperti saranku tadi." Kyuhyun kelihatan sangat senang, terlebih saat melihat Sungmin menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
Sungmin tak habis fikir, Kyuhyun benar-benar berani menggerayangi tubuhnya di atas kuda yang sedang berjalan. Keberadaan Haru ternyata tidak berpengaruh apa-apa bagi Kyuhyun. Ketidakpedulian Haru yang seolah-olah tidak melihat ataupun mendengar kegiatan yang sedang terjadi di atas kudanya menambah semangat Kyuhyun untuk terus melakukannya.
Sungmin sempat berfikir untuk melompat dari kuda, tapi itu adalah tindakan bodoh karena bisa saja menyebabkan kakinya terkilir dan jika itu terjadi keluarga Kyuhyun pasti akan memaksanya tinggal lebih lama lagi. Sungmin tidak mau hal itu terjadi, karena itu ia lebih memilih membuang muka ke arah lain yang jauh dari pandangan Kyuhyun.
Sungmin tidak berkata apa-apa sampai beberapa waktu, tidak mengutuk, tidak mencaci, tidak juga mengancam. Sungmin hanya membisu dan baru berbicara setelah Kyuhyun berhenti menjalankan aksinya .
"Bisakah kita pulang sekarang?"
Sungmin masih tidak mau memandang Kyuhyun, matanya terus tertuju pada hamparan laut yang luas yang sejak tadi terus ditelusuri oleh kuda yang mereka naiki. Harapan untuk menikmati pantai pada musim gugur benar-benar sudah lenyap.
Sungmin sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Kyuhyun sendiri dapat merasakan gelombang yang tidak biasa dari Sungmin. Suara Sungmin yang sedikit bergetar membuat Kyuhyun merasa tidak enak.
Kyuhyun tidak menjawab pertanyaannya dan lebih memilih meminta Haru untuk berhenti dan menyuruhnya pulang lebih dulu setelah memberikan jaket Sungmin untuk dia bawa pulang. Haru hanya mengangguk dan segera pergi.
Kali ini Sungmin memandangnya dengan pandangan galak yang biasa diberikannya. Kyuhyun merasa lega, mendengar Sungmin memakinya itu lebih baik daripada melihat Sungmin diam tak bersuara.
"Kenapa kau malah menyuruh Haru pulang? Aku yang ingin pulang!" Suara Sungmin kembali kencang.
"Sekarang istirahatlah." Kata Kyuhyun dengan suara pelan. Kyuhyun menyadari kalau wajah Sungmin benar-benar terlihat sangat lelah. Sungmin bahkan kesulitan menahan agar matanya tetap terbuka. "Aku tahu kau tidak akan bisa tidur dengan tenang di rumah, jadi sekarang pejamkan matamu dan bersandarlah di dadaku karena kau bisa saja pingsan kalau harus menahannya sampai makan malam. Aku akan memegangimu"
Sungmin tidak mungkin pingsan hanya karena kurang tidur. Pekerjaannya sudah terlalu sering membuatnya melalaikan waktu tidur. Tapi Lelah karena tidak melakukan apa-apa sama sekali tidak sama dengan lelah karena mengerjakan tugas yang menumpuk.
Kyuhyun cukup kagum karena Sungmin masih terus bertahan dengan egonya. Hingga akhirnya Sungmin tidak bisa lagi menahan kantuknya, kemudian merebahkan kepalanya untuk bersandar di sebelah kiri dada Kyuhyun. Sungmin tertidur sambil merangkul bahunya sendiri. Ia merasa kedinginan karena jaket yang tadi dikenakannya sudah dibawa pulang oleh Haru.
Kyuhyun menatap Sungmin yang bersandar di dadanya. Tiba-tiba saja ia merasa terpesona oleh Sungmin, setiap hembusan nafas Sungmin benar-benar membuatnya terlena dalam gelombang gairah yang aneh. Bibir shape-M itu seakan menyedotnya untuk terus mendekat hingga akhirnya Kyuhyun hanya bisa mematung menyadari bahwa ia hampir menciumnya.
Wajah Sungmin tiba-tiba mengingatkannya pada kekecewaan yang Sungmin tunjukkan karena aksinya beberapa saat yang lalu. Kyuhyun tidak jadi menciumnya, ia menjauhkan bibirnya kembali dari pelarung dahaga yang sangat diinginkannya itu.
Kyuhyun kemudian menghentakkan kudanya agar kembali berjalan, ia melajukannya dengan sangat pelan. Ia menyerahkan semua kendali kuda pada tangan kanan dan membiarkan tangan kirinya mendekap Sungmin agar lebih rapat kepadanya dan melindunginya supaya tidak terjatuh.
~ KYUMIN ~
Sungmin sedang sibuk mencari-cari jaket hitam miliknya yang kemarin dibawa pulang oleh Haru, tapi ia tidak menemukannya dimana pun. Sungmin malas bertanya kepada Kyuhyun, bahkan ia tidak bertegur sapa dengannya pada saat makan malam karena masih merasa kesal dengan perlakuannya saat di pantai kemarin.
Ditambah lagi saat mengingat dirinya terbangun dalam pelukan Kyuhyun, itu membuatnya bertambah kesal karena bisa saja Kyuhyun melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya saat dia tertidur. Meskipun begitu, Sungmin sangat merasa lega setelah bertemu dengan ayah Kyuhyun. Sikap ayah Kyuhyun ternyata sama ramahnya dengan istrinya.
Tuan Cho bersikap hangat seperti seorang ayah yang sudah lama Sungmin rindukan, karena itu dengan senang hati pagi-pagi sekali Sungmin membantu Nyonya Cho menyiapkan sarapan untuk Tuan Cho sebelum dia berangkat ke kantor.
"Kalian jadi ke Tokyo hari ini?" Tuan Cho bertanya dengan nada suara yang penuh wibawa. Ia sudah siap untuk pergi dan sekarang mereka sedang berdiri di depan pintu.
"Iya. Nanti sore." Suara Sungmin terdengar berat. Ia sangat ingin memanggil laki-laki itu dengan sebutan appa, tapi masih sulit. Memanggil Tuan Cho dengan sebutan itu jauh lebih sulit bila dibandingkan dengan memanggil istrinya dengan sebutan eomma.
"Kalau begitu hati-hati di jalan. Bersabarlah dengan sikap Kyuhyun."
"Ne." Sungmin menjawab sambil tersenyum.
"Appa pergi dulu." Tuan Cho kemudian benar-benar pergi.
Bersabar dengan sikap Kyuhyun? Sungmin selalu berusaha untuk bersabar tapi dia sama sekali tidak tahu sampai kapan bisa menahan kesabarannya.
Nyonya Cho masuk ke rumah lebih dulu kemudian Sungmin menyusul di belakangnya, ia baru saja hendak menutup pintu kembali saat Nyonya Cho menyebut namanya dengan suara pelan.
"Ye, eomma?" Sungmin hanya mampu merespon dengan itu.
"Apakah kau dan Kyuhyun sedang ada masalah? Appa mengkhawatirkan hal itu makanya dia berkata seperti tadi. Meskipun kau menyembunyikannya tapi appa mungkin bisa merasakannya. Kyuhyun sudah melakukan apa padamu?"
"Tidak ada. Kami tidak punya masalah apa-apa, kami mungkin cuma kelelahan makanya terlihat seperti itu." Sungmin menghela nafas, sangat berat baginya untuk berkata jujur. "Dia tidak pernah melakukan hal-hal yang menggangguku. Semuanya baik-baik saja" Sungmin masih melanjutkan sandiwaranya.
"Benar begitu?"
"Tentu saja."
"Eomma merasa lega mendengarnya. Kalau begitu kau mau kan membantu eomma membangunkan Kyuhyun? Sekarang sudah hampir siang tapi dia belum juga bangun. Bukankah kalian harus siap-siap pergi ke Tokyo? Kau juga belum sarapan karena terlalu sibuk melayani appa Kyuhyun. Kalau begitu eomma akan menunggu kalian di dapur." Nyonya Cho terus bergumam tentang alasannya meminta Sungmin dan Kyuhyun segera ke dapur sambil terus melangkah ke belakang.
Membangunkan Kyuhyun? Akhirnya mau tidak mau Sungmin harus tetap berbicara dengan Kyuhyun meskipun egonya menolak. Ia harus berusaha menyimpan kekecewaannya untuk beberapa waktu.
Dengan berat hati Sungmin mengetuk pintu kamar Kyuhyun dan sedikit merasa kesal karena Kyuhyun tidak kunjung menjawab. Apa ia harus berteriak? Moodnya sedang buruk untuk berteriak-teriak sekarang.
Sungmin lebih memilih untuk langsung membuka pintu kamar dan berharap Kyuhyun tidak menguncinya. Harapannya terkabul, Kyuhyun tidak mengunci pintunya.
Sungmin sempat berfikir, bagaimana bila Kyuhyun melakukan sesuatu lagi kepadanya yang mungkin lebih parah dari yang sudah-sudah? Dia berniat untuk keluar lagi dari kamar tapi hal itu diurungkannya. Ia kembali memandang Kyuhyun yang ternyata sedang tidur sambil memeluk jaket hitam yang sedari tadi dicari-carinya.
Dengan kewaspadaan tinggi Sungmin mendekat dan duduk di pinggir ranjang lalu menatap Kyuhyun lebih dalam. Wajah yang sama sekali berbeda, Kyuhyun yang sedang tidur terlihat sangat manis dan tampak kekanak-kanakan, dia juga tampan dan wajahnya menenangkan. Sungmin menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ini bukan saatnya untuk terpesona.
"Hei, Tuan Muda. Ini sudah siang, kau mau tidur sampai jam berapa?"
Kyuhyun tidak bergeming. Ia masih terlelap dan tidak perduli dengan panggilan Sungmin.
Sungmin berdecak. "Cho, cepat bangun."
Kyuhyun hanya menggeliat. Sungmin mulai mengusahakan banyak cara untuk membangunkannya, mulai dari memanggil-manggilnya dengan keras dan kasar, menggoyang-goyangkan tubuhnya, sampai mengancam akan mengguyurnya dengan air, tapi Kyuhyun kelihatannya masih tidak mau bangun.
"Kyuhyun!" Sungmin mulai kehabisan kesabaran. Ini adalah pertama kalinya Sungmin memanggil nama Kyuhyun tanpa marga. "Bangunlah, aku harus bagaimana lagi? Kau harusnya tahu aku sedang marah. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu, aku juga sangat membencimu dan…" Sungmin melanjutkan kata-katanya dengan teriakan kecil saat merasakan tangan Kyuhyun menarik pinggangnya dengan kuat dan dalam tempo yang sangat cepat tubuhnya sudah berada di bawah Kyuhyun, wajah mereka sangat dekat dan tinggal beberapa inchi lagi bibir mereka akan saling bersentuhan.
"Diamlah." Kyuhyun berkata dengan suara parau, ia kemudian beranjak lalu membaringkan kepalanya di atas pangkuan Sungmin. "Biarkan aku tidur sebentar lagi."
Semua yang terjadi begitu tiba-tiba membuat Sungmin shock untuk kesekian kalinya. Ia bahkan sudah berniat untuk berteriak minta tolong jika Kyuhyun bertingkah lagi. Tapi Kyuhyun tidak melakukannya, ia hanya meminta Sungmin untuk diam dengan cara yang sudah pasti akan membuat Sungmin tutup mulut.
Sungmin berusaha bangkit kemudian mendudukan dirinya. Kyuhyun adalah laki-laki pertama yang tidur di pangkuannya seperti ini.
Kyuhyun sendiri tidak benar-benar tidur, sepertinya ia hanya ingin bermanja-manja dengan Sungmin meskipun hanya untuk beberapa saat.
Mengapa? Itu yang selalu bergema di dalam otak Kyuhyun. Ia sangat menyukai tubuh Sungmin yang hangat. Tidak, tubuh Sungmin tidak hanya hangat, tapi juga hot, benar-benar hot, seolah ada jutaan gairah yang meletup-letup di dalam tubuhnya. Tubuh Sungmin seperti drugs dengan merek khusus untuknya dan itu membuatnya kecanduan. Mungkin karena itulah dia selalu ingin menyentuhnya.
Kyuhyun merasakan hawa panas itu saat telapak tangan Sungmin menyentuh keningnya, menyelimuti tubuhnya dan membelai rambutnya. Semuanya benar-benar membuatnya ingin berlama-lama seperti itu.
.
TBC
.
Kotatsu : Meja yang dibawahnya terdapat penghangat, biasa digunakan pada musim dingin
Dojo Yebusame : Tempat latihan para pemanah berkuda
Yabusame : Olahraga memanah di atas kuda
Hallo semuanya,,,
Seharusnya ini jadwal saya untuk update 'HUSBAND', tapi 'HUSBAND' akan saya pending dulu untuk beberapa chap.
Sedikit penjelasan, mungkin juga jawaban dari beberapa pertanyaan:
- Ya, Sungmin disini selalu mengancam setiap calon yang dijodohkan dengannya. Jadi terlihat seolah-olah mereka yang menolak Sungmin padahal Sungmin yang menolak mereka.
- Adegan yang di summary? Ada ko, mungkin sekitar 2-3 chapter lagi.
- Cerita ini hanya akan berfokus pada Kyumin. Casting-casting yang dipilih kebanyakan hanya figuran, bahkan beberapa diantaranya hanya dimention namanya saja, kecuali untuk Donghae dan Shindong yang mungkin porsinya agak sedikit lebih banyak. Jadi nanti jangan kecewa ya jika tidak ada side story untuk couple2 lain seperti Eunhae, Sibum, atau yang lainnya.
Saya ucapkan terima kasih buat yang kemarin sudah bersedia meninggalkan jejak nya di kotak review, love u all...^^
Ok, See u next chap,,
.
.
_Pegasuss_
