Rujukan cerita: Psikopat documentary | Self-harm documentary | CSI Series | Identifikasi forensik

Peringatan: AU. Mature content.

This story pure from my imagination and just for my own pleasure.


Criminal Mind

Park Jimin X Min Yoongi

Other cast


Taehyung masih terdiam dalam kamar rumah sakit, dinding berwarna cat putih bersih. Kamar hanya berisi satu ranjang, dan jendela yang langsung pada pemandangan taman rumah sakit.

Ia memandang ke arah luar, dengan wajah yang datar.

"Tae?" Seokjin menggunakan pakaian jubah dokternya.

"Kau bisa pergi bekerja kembali hari ini, saranku untuk sekarang kau harus mengendalikannya saat ini juga." Taehyung menatapnya.

"Hyung, pasti seluruh kantor takut padaku."

"Tidak, aku mengatakan pada mereka jika itu kecelakaan. Semua akan baik-baik saja." Ucap Jin sambil tersenyum.

Taehyung kembali terdiam, luka iris pada kedua tangannya telah terobati. Rasa sakit pada tubuhnya bahkan tak bisa mengalahkan rasa sakit dirinya akan masa lalu, di mana Taehyung kecil melihat kedua orang tuanya bertengkar karenanya.

Dan seketika pertengkaran itu berubah menjadi lebih mengerikan, membuat dirinya menyalahkan semua padanya.

...

Jimin malam ini dengan rasa penasarannya yang tinggi, akhirnya ia mencari seseorang yang akan menjadi mangsa pertamanya. Wanita pekerja seks, dengan pakaian dress pendek yang tak hanya menutupi setengah pahanya.

"Kumohon, aku akan lakukan apapun asal kau tak membunuhku." Ucap wanita itu dengan tubuh yang telah di penuhi luka iris pada paha dalamnya.

Jimin terkekeh sambil memainkan pisau lipat kesayangannya. "Apapun? Bisa ulurkan tanganmu sayang?" Ucapnya sambil menyeringai.

Wanita itu terdiam, tubuhnya bergetar ketakutan maniknya berputar memperhatikan sekeliling. Jimin mendengus kesal, dengan kasar dan secara paksa ia menarik satu tangan wanita itu. Pisau lipat seketika menancap pada lengan mangsanya, membuat suara teriakan nyaring darinya.

Jimin tertawa, darah mengenai wajahnya. Pun ia menghirup bau amis yang terasa manis dan menyegarkan untuknya, pisau lipat di sana secara paksa ia tarik kembali.

"Haah—darahmu terasa manis, ternyata benar kata ayahku. Darah wanita cantik sangatlah nikmat, seperti wine?" Ia terkekeh.

Dengan cepat ia menusukan pisau lipatnya pada perut bahkan tepat pada jantungnya, dengan kekuatan penuh. Tubuh wanita itu, kini telah terkulai lemah tak bernyawa.

Jimin tertawa dengan maniknya yang menutup, menikmati seluruh darah yang mengalir pada tubuhnya. Merasakan euphorianya, ini menyenangkan pikirnya. Malam itu adalah untuk pertama kali ia merasakan kepuasan pada dirinya, pun ia menemukan kesukaannya.

Kesukaan akan cairan pekat berwarna merah yang segar, remaja berumur 17 tahun itu. Kini telah menemukan jati diri yang sebenernya, Park Jimin pun terus melakukan hal itu secara terus menerus hingga kini.

Ya, ayahnya memang benar. Darah sangat terasa manis dan pahit, seperti satu gelas wine.

...

Taehyung membawa satu kotak berwarna putih yang cukup besar.

"Tae kau sudah baikan?" Ia berpapasan dengan Jimin pada lorong kantor.

"Hm, aku baik." Ucapnya sambil tersenyum.

"Apa itu?" Tunjuk Jimin pada kotak yang ia bawa. "Ah ini, Shownu hyung mengatakan padaku jika ini berkas milik korban di dalam apartemennya. Tempatnya bersih, TKP bukan di sana."

Taehyung dan Jimin segera masuk ke salah satu ruangan yang biasa di jadikan tempat khusus untuk memeriksa alat bukti, pun mereka membukanya.

"Korean book, wah lihatlah ada wajah Namjoon hyung di sini." Ucap Jimin terkekeh.

"Jadi isinya tentang mafia di kota ini?" Tanya Taehyung.

"Ya, berisi beberapa sejarah mafia." Ucap Jimin sambil membuka beberapa lembar buku.

Pintu ruangan pun terbuka, di sana Shownu datang membawa satu lembar.

"Taehyung, ini hasil pemeriksaan nomor seri pada piano." Ia memberikannya pada Taehyung.

"Piano di buat tahun 1966, dan pemilik aslinya adalah Park Seungchol."

"Bukankah dia penyanyi yang terkenal itu?" Ucap Jimin.

"Hm—aku tidak tahu jika dia seterkenal itu." Shownu mengerutkan keningnya.

"Siapa dia?"

"Setahuku dia hanya seorang legend." Ucap Namjoon yang tiba-tiba datang masuk ke dalam ruangan. "Tapi aku tidak mengenalnya, apanya yang legend hyung?"

"Cara dia memainkan piano serta cara dia di bunuh. Tahun 1966 masa keemasan Seoul, di mana di kelilingi tempat kasino dan perkumpulan mafia. Ia adalah pemain piano muda yang hebat, yang aku tahu dia di menggoda salah satu wanita temannya saat selesai pertunjukan lalu ia di tembak oleh pengawal itu. Namun tubuhnya menghilang dan pembunuhnya juga."

"Menghilang?"

"Ya, ia bernama Choi Seunghyun. Namun 10 tahun kemudia dia kembali, lalu Park Seungchul di lupakan." Ucap Namjoon sambil duduk pada salah satu kursi.

"Tapi piano ini tidak." Jimin menunjuk piano yang memang di simpan di sana.

Taehyung kembali memeriksa lembaran kertas di tangannya. "Piano ini di kirim ke toko perbaikan yang sama, selama bertahun-tahun sekitar Daejeon. Tempat itu juga di jadwalkan menerima tiga hari yang lalu."

"Kita harus pergi ke toko musik itu." Ucap Taehyung.

"Dan aku mendapatkan satu profil yang biasa membersihkan piano itu selama ini, Kang Daniel."

"Baiklah kita segera pergi ke sana."

...

Namjoon bersama dengan Jimin pergi ke salah satu toko musik, di sana terlihat seorang pria sedang memainkan gitar listrik berwarna merah bercampur hitam. Beberapa pengunjung memperhatikannya, lalu bertepuk tangan.

Namjoon mendekat pada pria tersebut. "Kang Daniel—sshi?"

Pria itu terseyum. "Ya, ada yang bisa aku bantu?" Pun ia menyimpan kembali gitar pada tempatnya.

"Apa kau mengenal Jung Soojung?" Tanya Jimin santai.

"Tidak, nama itu tak mengingatkan apapun."

Namjoon mengeluarkan satu buah foto korban, dan menunjukannya pada Daniel. "Apa kau ingat ini sekarang? Apa kau memindahkan piano ini?"

Daniel terlihat terkejut. "Aku banyak memindahkan piano."

"Aku punya bukti jika kau yang memindahkan piano itu dengan truckmu."

Daniel terdiam, ia menghembuskan nafasnya pelan. "Seharusnya aku mengantarkannya ke Incheon untuk perbaikan, jenazah wanita itu jelas tidak ada dalam manifes pengiriman."

"Bagaimana dia bisa ada di piano?" Tanya Namjoon.

"Aku tidak tahu, aku berhenti untuk mengisi bahan bakar. Aku memeriksa pianonya, mengencangkan talinya. Aku melihat darah pada sepatuku, tiba-tiba saja ada jenazah wanita yang menatapku."

"Kau melakukan yang benar, kau menelpon polisi bukan, benar?"

"Aku panik, aku membuangnya ke ladang kosong itu."

"Lalu siapa pemilik piano itu?" Jimin menyipitkan maniknya.

"Aku mengambil di salah satu teater tua."

"Aku serius tuan Kang."

"Ada perlindungan untuk saksi bukan? Bagaimana cara kerjanya?" Ucap Daniel dengan ketakutan. "Jadi siapa pemiliknya?"

"Kim Jongin."

Namjoon dan Jimin saling menatap. "Hyung, dia seorang pengusaha sebuah bar bukan?"

"Ya, kita harus memeriksanya."

...

Jimin dan Yoongi kini telah kembali pada tempat kejadian, mereka akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Dengan perlahan mereka menyemprotkan cairan khusus pada seluruh lantai kayu, setelah selesai mereka membuka maskernya.

Terlihat tiga bentuk kotak persegi, dan beberapa jejak darah yang baru di temukan.

"Aku rasa kita menemukan TKP."

"Ya, tiga titik kosong, identik." Ucap Yoongi.

"Apa yang kau pikirkan, kaki piano?"

"Ini tempat Soojung di serang."

Jimin memperhatikan setiap sudut lantai, manik elangnya menemukan sesuatu berwarna putih dan tetesan darah. Pun ia mengambilnya dengan pencapit.

"Melewatkan satu noda."

"Ya, dengan seutas serat di dalamnya. Mungkin jejak dari pembunuh kita." Ucap Jimin sambil memperhatikan serat tersebut.

"Ya, aku rasa kita butuh bantuan Shownu hyung untuk soal ini."

Tiba-tiba seorang pria dengan setelan jas hitam, dengan kacamata hitam yang bertengger di sana. Membuat kesan pria ini adalah seorang pengusaha dengan kekayaan yang melimpah, Kim Jongin.

Jimin denga segera melepas sarung tangan karetnya. "Jadi kalian mencariku?"

"Ya, Kim Jongin—sshi. Kami hanya ini menanyakan beberapa pertanyaan."

"Apa kau mengenal Jung Soojung?" Tanya Yoongi.

"Aku tidak pernah mendengar namanya."

Yoongi mengeluarkan foto korban. "Lalu bagaimana kalau wajahnya?"

"Ah dia, dia gila." Keduanya mengerutkan kening, tidak mengerti yang pria muda ini katakan.

"Jumat malam aku bertemu denganya, ia datang padaku untuk menanyakan tentang hubungan kami. Kami putus dan yah aku mengusirnya."

"Ya, lalu kau menumpahkan darahnya di lantai." Ucap Yoongi dengan nada sedikit tinggi.

"Hei, permisi. Saat sabtu malam di mana kau berada?"

"Aku di rumah sendirian."

"Kau berbohong Jongin—sshi, dia pasti bertemu denganmu lagi—"

"Yoongi." Jimin menghentikan pembicaraan Yoongi. "Kita harus bicara, baiklah Jongin—sshi jangan pergi ke mana pun, kami segera kembali."

Jimin menarik tangan Yoongi dan membawanya keluar dari ruangan, Yoongi menghentak-hentakan kedua kakinya kesal. "Apa yang kau lakukan?"

"Dia membunuhnya Jimin!"

"Tidak, hyung dia seorang tersangka. Kita belum bisa memastikan hal ini, bukti belum cukup kuat untuk menangkapnya."

"Tapi seluruh tempat ini di penuhi darah!"

"Aku tahu, kita harus bekerja pelan tapi pasti. Kau mengerti?" Ucap Jimin sambil tersenyum, Yoongi masih dengan rasa kesalnya menganggukan kepalanya.

...

Shownu kini telah berada di TKP, pun ia memeriksa serat yang berata di lantai. Pun ia memperhatikan beberapa jejak yang telah ia tanda dengan nomor secara tersusun, secara rapih. Ia melihat ke arah lorong yang cukup panjang.

Kedua kaki kekarnya dengan perlahan berjalan ke arah lorong, pun tak luma memegang senter hadapannya pintu berbahan kayu, ia buka dengan perlahan.

Terdengar alunan musik di dalam ruangan tersebut, ruangan ini cukup besar. Dengan tema minimalis, cat berwarna hitam, putih dan abu.

Ia memeriksa ke sekeliling, maniknya menangkap ada yang aneh dengan dindingnya. Dinding itu di lapisi dengan serat untuk membuat bantal, dan berisi kapas.

Lubang kecil terlihat, bahkan ada bekas darah pada lubang sobekan itu. Shownu kembali melangkahkan kedua kakinya ke dalam ruangan, alunan musik jazz semakin terdengar.

Pria dengan menggunakan pakaian kemeja putih dan celana katun hitam, sedang merebahkan dirinya di lantai yang beralaskan karpet bahan bulu angsa. Jangan lupakan gelas berisi wine yang tersimpan manis, di atas dadanya.

Shownu mengarahkan lampu senternya pada pria tersebut, membuat pria itu bergumam tak jelas. "Aku baru akan tampil 30 menit lagi, aku butuh istirahat."

Shownu memperhatikan piringan hitam yang masih menyala, ia sangat tahu alunan musik ini. Musik Sinatra.

"Pertunjukan berakhir, Kyungsoo."

Yah, dia adalah seorang penyanyi jazz pada club ini. Tentu saja Shownu mengetahuinya, karena ia sempat melihat pertunjukan pria ini.

...

"Bisa ada yang kalian katakan, mengapa aku di sini?" Ucap Do Kyungsoo.

Jimin memberikan foto korban Jung Soojung padanya. "Aku anggap kau mengenalnya, Kyungsoo—sshi?"

"Dia Jung Soojung, aku bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu. Aku membantunya menulis biografi Sinatra, aku kolektor memotabilia. Ada beberapa barang yang dia ingin lihat."

"Apa itu baru-baru ini?" Tanya Namjoon.

"Mungkin di tempat bermesraan—yang mereka punya di bawah teater di sana." Ucap Jimin sambil terkekeh.

"Itu bukan tempat bermesraan, mengerti? Itu tempat mendengarkan, itu bukan ruanganku tapi itu milik Jongin."

"Jadi kau dan Jongin memiliki ruangan mendengarkan? Tempat orang tak mendengarkan pesta kalian di sana, dan mungkin situasi tak terkendali."

"Hei tunggu—apapun yang terjadi pada Soojung, itu tidak berhubungan denganku."

Jimin dan Namjoon tetap memperhatikan gerak-gerik aneh pria di hadapannya ini. "Wanita itu mencari Jongin lalu ia bertemu dengannya, mungkin untuk membicarakan hubungan mereka lalu membuatnya marah."

"Dimana kau saat senin malam?"

"Aku bekerja di Avalon."

"Hei, itu klub hip hop bukan? Untuk apa kau di sana? Mereka bukan penggemar Sinatra—"

"Aku bukan penyanyi, aku mencari bakat." Ucap Kyungsoo lalu mengambil sesuatu pada kantung dalam jasnya.

Kyungsoo memberikan smartphone miliknya pada Namjoon dan Jimin. " Ini, Note seek."

Taehyung memegang smartphone miliknya dan menunjukan pada Jimin dan Yoongi. "Ini adalah aplikasi yang mengenali lagu, temanku baru saja mengajariku cara menggunakannya. Ini sangat keren."

"Daebak!" Ucap Yoongi.

"Note seek memiliki basis data lagu, yang di kelompokkan berdasarkan artis, tahun dan judul." Taehyung menyalakan piringan hitam pada meja.

"Lalu kau gunakan aplikasimu dan kau mendengarkan secara digital penggalan lagu."

Smartphone miliknya menyala. "Lalu aplikasi ini akan memberitahumu apa tepatnya yang kau dengarkan."

"Jadi kau menyukai koleksi Sinatra juga Tae?" Tanya Jimin.

"Ini punya Shownu hyung, seingatku dia memiliki beberapa koleksi."

"Aku pikir ini punyamu." Yoongi terkekeh.

"Aku tidak mengkoleksi seperti ini, terlihat tua."

Pun mereka bertiga duduk pada salah satu sofa yang tersedia di ruangan, Taehyung menyesap kopi hitamnya.

"Jadi apa hubungannya Kyungsoo dengan Note seek ini?"

"Menurut informasi yang ku dapat, perusahaan milik Jongin ternyata memiliki pencari bakat music dan ia mengirimkannya ke klub. Bahkan ia membuat beberapa lagu yang di remix dengan beberapa basis data." Ucap Jimin.

"Jadi Kyungsoo pada hari senin malam berada di klub Avalon itu?" Tanya Yoongi.

"Ya, aku sudah menanyakan pada perusahaan Note seek. Dan ia menyerahkan daftar musiknya."

"Jadi kita tak punya tersangka lagi?"

"Ya, kurasa begitu." Ucap Jimin sambil memijit pelipisnya.

Suara musik tiba-tiba berubah, setaip bagian music berulang berkali-kali.

"Oh ya ampun Tae!"

"Apa?" Taehyung yang terkejut seketika menyimpan gelas kopinya.

"Kau tak mengalami itu dengan MP3 kan?" Jimin seketika melepaskan pirigan hitam itu, ada yang ia pikirkan.

Maniknya memfokuskan pada bagian piringan hitam yang berada di kedua tangannya. "Ada apa Jim?"

"Hyung, setahuku pada laci ada pemotong kardus di sebelah kiri. Bisa tolong ambilkan?"

"Okay." Yoongi mengambil pemotong kardus dan memberikannya pada Jimin.

"Oh maafkan aku Shownu hyung, ini untuk alasan bagus. Aku akan menggantinya." Ucapnya sambil terkekeh, membuat Yoongi dan Taehyung mengerutkan keningnya.

Jimin dengan kasar mengarahkan pisau pemotong kardus pada piringan hitamnya. Jimin mengambil serat potongan vinil itu pada satu tangannya, dan mengumpulkannya di sana.

"Sampel vinil, yang kita temukan di piano." Ucap Yoongi.

"Sampel vinil, dan pemotong kardus. Mungkin sebuah piringan hitam berperan dalam kematian Soojung." Ucap Jimin dengan wajah yang serius.

Dentuman suara music hip hop terdengar di ruangan yang cukup besar ini, pria dengan potongan pendek berwarna hitam itu menggerakan kepalanya tanda menikmati musiknya.

Jimin tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam ruangannya, ia terkekeh geli melihat Shownu. "Astaga hyung, jadi kau suka music hip hop juga?"

"Ayo Jimin~" Ucap Shownu sambil tertawa.

"Maaf mengganggu panggungmu hyung." Pria di hadapannya punmenghentikan mesin musiknya. "Lagipua aku tidak sedang memainkannya, tapi membersihkannya."

"Membersihkan?" Tanya Jimin dengan raut wajah yang bingung.

"Sebenanrnya aku malu mengatakannya—tapi aku salah mengenai lem yang di temukan di piano. Kurasa pembunuh kita menggunakannya untuk membersihkan piringan hitam."

"Bukankah itu malah akan merusaknnya?"

"Tidak, bahkan aku lupa jika aku ternyata sering membersihkan koleksiku dengan resep ini."

Shownu menunjukan piringan hitamnya. "Tambahkan 113 gram lem hewan."

Tangannya dengan lihai menempelkan lem pada piringan hitam yang masih berputar pada mesinnya , setelah selesai ia mengambil alat berwarna hitam. "Oleskan secara merata pada vinil."

Jimin memperhatikannya. "Seiring waktu, debut dan partikel menempel pada lem. Setelah lem mengering, ambil pemotong kardus dan gunakan untuk melepas lem dari piringan hitam."

Shownu dengan perlahan memotong lem pada piringan hitam tersebut. "Tada~ piringan hitam yang bersih." Sebuah cetakan lem berbentuk piringan hitam di pegang olehnya.

"Kau juga mendapatkan negative sempurna dari alur piringan hitam, seperti ini" Jimin memperhatikan garus yang berbelok-belok pada cetakan tersebut.

Mereka memperhatikan potongan-potongan kecil buram, yang ia temukan dalam tuts piano. "Kita punya alurnya, bagaimana jika kita mainkan saja?"

Jimin menaikan satu alisnya sambil tersenyum. "Mengetahui judulnya, dan mengetahui pembunuh itu."

Jimin menganggukan kepalanya. "Oyah, untuk piringan hitam yang kau berikan pada Taehyung—aku akan menggantinya."

"Menggantinya? Maksudmu?"

"Hm—aku merusaknya maafkan aku hyung, ini demi kasus kita." Ucap Jimin dengan wajahnya terlihat sedih.

"Apa? Sialan! Kau harus menggantinya aku tidak mau tahu yah, itu koleksi yang lumayan sulit di cari Jimin!"

Jimin terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal. "Demi tuhan akan aku ganti—kau satukan saja dulu potongan itu ya." Jimin segera pergi dari sana.

"Yak bocah sialan! Awas saja kau tak menggantinya." Ucap Shownu dengan emosinya.

Shownu akhirnya berhasil menyatukan potongan-potongan lem vinil itu dan telah merekam sepenggal suara musiknya.

Namjoon dan Jimin kini berada di ruangannnya. "Aku bias merakit dan merekonstruksi empat segmen audio berbeda dari lem, ini yang kudapat. Ini trek pertama."

Suara music dalam hitungan detik menyala, terdengar seperti suara teriakan. "Mungkin album pertunjukan langsung?"

"Trek kedua." Shownu kembali menyalakannnya. "Mungkin jaz? Ada vocal juga. Trek ketiga."

Suara seorang pria terdengar. "Aku mendapatkan paling banyak dari music ini."

Ia kembali menyalakan musiknya. "Hanya itu yang ku dapatkan."

"Tunggu sebentar hyung, kita coba menggunakan aplikasi Note seek. Mainkan lagi hyung." Jimin memegang smartphone miliknya dan music mulai menyala.

Layar smartphone pun menyala. "We got it! Sinatra at the sands."

"Album klasik." Ucap Namjoon sambil tersenyum. "Tampaknya ke manapun kasus ini menuju, selalu kembali ke tahun 1966." Ucap Namjoon kembali.

"Ah tunggu—ini album yang sangat langka. Setiap piringan hitam vinil di cetak dengan cap identitas pada alur lead-out. Identitas itu biasa di gunakan untuk melacaknya ke pembuat atau label rekaman. Kau ingat nomor seri yang di temukan baru-baru ini di buku milik Soojung?"

"Ya ka—"

"Aku coba mencarinya sebentar." Shownu mengetik beberapa huruf pada layar komputernya. "Kau lihat? Nomor serinya sama. Mereka hanya membuat seribu keping, makannya ini langka."

Jimin memperhatikan layar computer itu sambil membacanya. "Kita harus ke took Daniel kembali ku rasa."

"Yak kau benar, hanya tokonya yang menjual kepingan itu di Seoul."

Namjoon bersama dengan Jimin kembali ke took music milik Kang Daniel.

"Apa kabar Daniel—sshi?" Ucap Namjoon.

"Kembali untuk membeli alat music?"

"Sebenarnya aku mencari piringan hitam."

"Produksi yang sangat langka dari Sinatra at the sands." Ucap Jimin.

"Aku tahu kau memindahkan banyak piringan hitam."

Pria itu terdiam. "Yah baiklah, aku memang memindahkan itu beberapa hari yang lalu. Aku menyimpannya di sini."

Daniel memberikan buku kecil pada Namjoon. "Do Kyungsoo, dia mengatakan itu hadiah untuk seseorang, katanya gadis seksi."

Jimin dan Namjoon saling menatap lalu tersenyum.

Kini Jimin dan Namjoon kembali bertemu dengan Kyungsoo.

"Memangnya kenapa? Aku membelinya bukan mencuri."

"Kau banyak mengkoleksi album Sinatra bahkan semua yang baru di rilis bukan? Wah daebak." Ucap Jimin sambil terkekeh.

"Tidak, ini adalah vinil 180 Gr. Ini seperti dia berbisik di telingamu."

"Pasti bagus untuk menggoda gadis." Ucap Namjoon sambil menaikan satu alisnya. "Daniel mengatakan padaku jika kau akan memberikan itu pada seorang gadis seksi."

"Jadi di mana kau saat senin malam? Kyungsoo—sshi?"

Pria itu menghembuskan nafasnya kasar . "Jalang itu membuatku gila; Aku membencinya sejak dulu, ia merebut Jongin dariku."

"Jadi senin malam itu kau—yah membunuhnya? Mengapa?"

Kyungsoo tersenyum. "Malam itu, dia datang padaku untuk menanyakan piring hitam yang ia cari. Dan yah beruntung aku mendapatkannya, sekaligus aku senang karena berita ia putus dengan Jongin—sshi."

Kyungsoo terkekeh.

Soojung datang dengan gaun berwarna peach dengan rambut hitam yang terurai. "Jadi kau mendapatkannya?"

"Ya, sungguh sulit memang mencarinya." Kyungsoo mengambil piringan hitam itu dan membukanya.

"Wah, terima kasih banyak—kau sangat baik. Aku rasa Jongin akan memaafkanku jika aku memberikan ini padanya." Jawabnya sambil tersenyum.

"Kau akan memberikan ini pada Jongin?" Kyungsoo membalikan tubuhnya menatap Soojung.

"Tentu saja, aku ingin memperbaiki hubungan kami."

"Sialan!" Bisiknya. Dengan kasar Kyungsoo mengarahkan pemotong kardus pada tubuh Soojung, pun wanita itu berlari.

Namun bodoh ia malah masuk ke dalam lorong dan berhenti pada grand piano, sambil menahan sakit karena luka berlari dan menghampirinya, wajah Soojung ia iris,

Dengan kekuatan yang kuat, ia mengiris tubuh wanita itu tanpa henti. Beberapa detik kemudian, ia terkulai tak bernyawa dan darahnya mengenai grand piano.

Soojung terkulai di lantai, Kyungsoo mengiris piringan hitam di tangannya itu dengan pemotong kardus. "Kau pantas mati jalang! Persetan dengan cintamu pada Jonginku!"

Suara alunan piano terdengar menggema di rumahnya, kedua tangan kecil dengan kulit putih pucat itu menekan setiap tuts dengan lihai.

Suara tepuk tangan dari seseorang terdengar membuat sang pianis tersenyum malu. "Aku suka, terima kasih telah memainkannya."

"Sama-sama, ini semua karena aku janji padamu. Aku bosan mendengar kau menagihnya, seperti penagih dari bank." Ucap Yoongi sambil terkekeh.

"Jadi, mau makan malam sayang?"

"Tsk, embel-embel sayangmu membuatku geli tuan Park."

Yoongi lalu berdiri dan mengikuti Jimin yang berjalan ke arah meja makan, mereka memang berada di rumah milik Jimin malam ini.

"Jim."

"Hm?"

Yoongi mendudukan dirinya pada kursi makan. "Hm itu—kamar mandimu bau amis, kau tak pernah membersihkannya yah?"

Jimin membeku, sepertinya ia lupa. Yah untuk membersihkan bekas kegiatannya kemarin malam, dan bodohnya ia lupa jika hari ini Yoongi akan berkunjung.

"Namanya juga bujangan—aku suka lupa." Jawabnya sambil terkekeh.

"Dasar jorok! Kaukan punya pembantukan? Mana mungkin rumah sebesar ini tak punya pembantu, katakana saja kau malas."

Jimin hanya membalasnya dengan senyuman manis. "Lain kali aku tidak akan lupa hyung, sudahlah. Selamat makan."

Yoongi memotong potongan kecil pada steak miliknya, dan dengan perlahan mengunyah daging itu sambil tersenyum. Jimin memperhatikan setiap gerik Yoongi, jantungnya berdetak cepat.

"Oh sialan! Jantungku sakit."


TBC

Ini kepanjangan yah? wkwk

semoga ga bosen sama ceritaku yang ini, maafkan untuk typo dan kata yang sesuai EYD.

Di tunggu reviewnya yah, see you soon bae...