Title :: The Moon and The Sun

Author :: Thazt

Pair :: Jung Yunho x Kim Jaejoong

Genre :: Romance, Fantasy, High School life, Drama, Boys Love

Rating :: PG 13

Lenght :: Phase 3

Disclaimer :: They belong to themselves and GOD!

Warning :: Alur yang LAMBAT, Alternatif Universe [AU], Bahasa Aneh, dan banyak hal lainnya.


[Happy Reading]


Sebuah mobil audi berwarna merah terlihat melewati gerbang sebuah rumah berlantai dua dengan gaya mediteranian modern yang berdiri di salah satu distrik di kota Seoul itu. Meskipun memiliki desain yang tak terlalu mewah, ada kesan elegan yang keluar dari bangunan itu.

Pasangan Kim Soo Ro dan Park Ye Jin yang merupakan salah satu pengusaha terkenal di Seoul lah yang memiliki kediaman tersebut. Pasangan yang merupakan salah satu dari kaum penyihir yang sukses berbaur dengan manusia normal lainnya.

Dari dalam Audi yang telah terparkir di depan teras rumah itu, keluarlah sosok Jaejoong dengan senyuman manisnya, "Sampai jumpa," ujarnya sambil melambaikan tangannya saat orang-orang yang berada di dalam mobil itu mulai melaju meninggalkan kediamannya.

Jaejoong memperbaiki letak tas ransel nya dan menapaki tangga teras rumahnya, membuka pintu utama rumahnya dan menghilang di balik pintu besar itu.

...

Tap tap tap tap

...

Langkah Jaejoong begitu santai manapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua, tempat dimana kamarnya berada. Sebuah pintu berwarna kuning keemasan di ujung koridor kanan terbuka. Sesosok butler tertua keluarga Kim muncul dari sana.

"Tuan muda," sapa butler itu hormat saat ia berada di hadapan Jaejoong.

"Tuan Han," balas Jaejoong sopan, "Apa Umma ada di rumah?" tanyanya.

Butler paruh baya itu menggeleng singkat, "Nyonya sedang ikut tuan ke salah satu rumah relasi bisnisnya, tuan muda," balas sang butler. Jaejoong meng-ooh-kan perkataan butlernya itu, "Baiklah, aku ke kamar dulu, tuan Han," Dengan diiringi oleh penghormatan butler itu, Jaejoong melangkah menuju kamarnya yang berada di koridor kiri.

Jaejoong membuka pintu kamarnya dan menepuk tas ranselnya du kali, sebuah benda berbentuk kotak yang beraasal dari lemari tasnya langsung melayang ke arahnya. Ia langsung meletakkan tasnya di dalam kotak tersebut yang langsung kembali ke tempatnya ke dalam lemari.

Memang, beberapa hal sudah disihir secara sesuai dengan kebutuhan pemilik kamar untuk memudahkan mereka melakukan apapun. Contohnya seperti tadi, lemari tas sekolah Jaejoong sudah di sihir untuk langsung mengeluarkan kotak yang kosong untuk di isi kembali saat Jaejoong menepuk tasnya dua kali di dalam kamarnya. Sedangkan untuk mengeluarkannnya dari dalam lemari, Jaejoong hanya perlu menepuk satu kali lemari tas mana yang ingin ia gunakan, agar kotak itu membuka.

Jaejoong melangkah menuju kloset kamarnya, membuka lemari besarnya, memilah-milih pakaian yang akan digunakannya. Ia memutuskan menggunakan celana pendek selutut dan sebuah kaus polo putih.

Keluar dari klosetnya, Jaejoong terduduk di sofa kamarnya. Memikiran apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Hmm, tidur?

Tidak. Masih terlalu pagi untuk tidur.

Mengerjakan tugas sekolah?

Tugas sekolah untuk hari ini saja tidak ada.

Lelaki cantik itu merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa. Bosan tapi ia tak tahu harus melakukan apa. Tanpa sengaja pandangan matanya tertuju pada keadaan luar rumahnya yang sudah sedikit menggelap. Sebuah ide melayang di kepalanya dengan cepat.

Ia berjalan menuju balkon kamarnya, "Anferks," gumam Jaejoong pelan dengan tangannya yang terjulur ke depan dan telapak tangan yang menghadap ke atas. Sebuah peri mini dengan pendar cahaya berwarna merah muncul di atas telapak tangannya. "Fire," ucapnya sambil melemparkan peri di tangannya ke langit.

...

Syuuuttt... Duaarr.. Daarrr...

...

Kembang api dalam skala besar tiba-tiba saja terbentuk di langit sesaat setelah sang peri menghilang menjadi seberkas cahaya. Di susul oleh berkas kembang api lainnya yang bergantian muncul dengan indahnya.

Begitulah cara Jaejoong menghibur dirinya, bemain sihir, membaca buku, atau melakukan hobi memasaknya. Kehidupannya sebagi anak tunggal membuatnya merasa kesepian jika sudah berada di rumahnya. Meskipun ia suka ada di dalam rumah, terutama kamarnya, tetap saja ia butuh teman bicara.

...


...

Ruangan berukuran 4x4 meter itu jika kau masuki kau tak akan mampu melihat apapun. Apalagi di saat malam hari seperti ini, ruangan itu akan menjadi sangat gelap karena tak ada penerangan satu pun diruangan itu. Kau hanya akan menemui satu buah jendela di sana. Itupun juga tertutup oleh sebuah tirai.

Pintu diruangan itu terbuka oleh seseorang.

Sinar lampu dari luar terlihat menerangi ruangan itu meskipun hanya sedikit. Tapi cukup untuk memperlihatkan sebuah peti mati yang berada di bagian tengah ruangan.

Yunho yang tadi membuka pintu, segera masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintunya kembali. Membiarkan kegelapan menyembunyikan wujudnya.

Krieet.

Duk.

Bunyi peti mati yang terbuka dan tertutup terdengar hanya dalam kurun waktu sedetik sebelum ruangan itu kembali sunyi.

Vampir modern seperti dirinya memang sudah terbiasa tidur di atas kasur. Namun, di saat-saat tertentu, mereka akan tidur di dalam peti seperti yang Yunho lakukan. Biasanya itu mereka lakukan untuk menekan insting vampir mereka yang bisa muncul kapan saja.

Cklek.

Pintu ruangan peti Yunho kembali terbuka oleh seseorang. Orang itu berjalan santai hingga ke depan peti Yunho dan mengetuknya, "Yunho, bangunlah sebentar," ujar orang itu dengan suaranya yang dalam dan tenang.

Detik berikutnya, bunyi deritan pintu mati yang terbuka kembali terdengar. Sosok Yunho dengan wajah yang kesal karena tidur nya terganggu tampak saat ia bangun dari pembaringannya. "Appa," keluhnya. "Ada apa?"

Orang yang dipanggil Ayah oleh Yunho itu tersenyum samar dalam kegelapan, "Maafkan Appa karena menganggu tidurmu, Yunho. Tapi ada hal yang harus kau lakukan besok pagi."

"Apa yang harus ku lakukan?" tanyanya.

"Besok pagi, antarkan map berwarna merah di atas meja kerja Appa dan berikan pada Tuan Kim Soo Ro di kediamannya," perintah pria paruh baya itu dengan tegas. Yunho memandang sang Ayah, "Kenapa tak Appa berikan sendiri pada tuan Kim Soo Ro?" tanyanya.

Sang Ayah berdehem pelan, "Malam ini Appa dan Umma harus berangkat ke HongKong untuk pertemuan bisnis dengan salah satu mitra di sana," urainya dengan jelas.

"Ya, aku mengerti. Have a safe flight dan sampaikan salamku pada Umma," ucap Yunho cepat sebelum kembali ke dalam peti matinya dan kembali tidur. Mengabaikan sang Ayah yang masih berdiri di samping peti matinya.

"Selalu saja seperti ini, padahal aku belum selesai berbicara" keluh sang Ayah dengan helaan nafas dan ia pun bergegas keluar dari ruangan itu. Ia harus segera berangkat menuju bandara agar tepat waktu untuk penerbangannya menuju HongKong.

...


...

Awan collumbus berwarna abu-abu gelap terlihat memayungi langit Kota Seoul dan menutupi sang matahari yang ingin memancarkan cahaya hangatnya di pagi ini. Seakan mendukung sang awan, angin pun terlihat sedikit bertiup dengan kencang. Membuat suasana pagi ini kian bertambah dingin saja.

Yunho membuka matanya dan retinanya matanya hanya menangkap kegelapan total di sekelilingnya. Dengan tangan kanannya, Yunho membuka peti matinya. Suasana ruangan yang remang-remang tak menghalanginya untuk segera keluar dari peti matinya.

Ia merapikan baju dan berjalan keluar dari ruangan,

Yunho memperhatikan koridor yang terlihat sepi, tapi ia bisa mendengar dengan jelas keributan-keributan yang diciptakan oleh maid dan butler di rumahnya yang berada di lantai satu.

Dengan kecepatan vampir miliknya, Yunho bergegas menuju ruang kerja Ayah nya dan mengambil map yang dimaksudkan Ayah sebelum ia harus bersiap-siap mengantarkan map itu dan berangkat ke sekolah.


[06.37 AM]

"Hari ini kau berangkat sendiri saja, Min. Aku tak bisa menjemputmu karena ada hal yang harus ku lakukan sebelum berangkat ke sekolah," Pintu utama dari mansion keluarga Jung terbuka oleh Yunho, dengan menenteng tas sekolah dan tangan lainnya yang sedang menahan handphone miliknya di telinga kanannya, Yunho terus berjalan menuruni undakan anak tangga menuju garasi, tas sekolah dan map merah titipan ayahnya ia letakkan di jok belakang sebelum masuk ke dalam mobilnya.

"Oke, sampai jumpa," Yunho memutus sambungan telponnya dengan Changmin dan meletakkan handphone nya di saku celananya.

Tak mengambil waktu banyak, mobil bentley itu segera melaju meninggalkan kediaman keluarga Jung yang luas.


"Sarapan sudah siap, tuan muda," sapaan yang setiap hari didengar oleh Jaejoong saat ia menuruni tangga dari lantai dua kembali ia dengar.

"Appa dan Umma mana?" tanya Jaejoong pelan. Pagi ini ia mendapatkan meja makannya kosong tanpa kehadiran kedua orang tuanya yang biasa nya selalu menyempatkan diri untuk sarapan pagi bersama nya.

"Tuan dan nyonya tadi malam berangkat ke HongKong," jawab sang butler sopan, "Nyonya tidak membangunkan tuan karena beliau melihat tuan tertidur nyenyak semalam," lanjutnya.

Jaejoong mengangguk singkat. "Terima kasih atas infonya Tuan Han," gumam Jaejoong. Hari ini ia harus melewati sarapannya sendirian dan sepi. Hanya dentingan garpu serta sendok dengan piring yang terdengar dari ruang makan mansion besarnya.

"Tuan muda, ada tamu di depan," seorang maid tiba-tiba muncul dari arah ruang tamu dan memberitahu Jaejoong, berhubung hanya ada sang tuan muda yang berada di rumah. Jaejoong menolehkan kepalanya saat ia berhenti meminum air dari dalam gelasnya dan mengangguk singkat, "Siapa?"

"Seorang laki-laki muda dengan pakaian sekolah yang sama dengan yang tuan kenakan," jawab sang maid.

"Junsu? Yoochun?" tebak Jaejoong. 'Bodoh,' makinya sedetik kemudian. Tidak mungkin Yoochun dan Junsuyang datang jika maidnya harus melapor padanya. Dua sahabatnya itu kan sudah dikenal baik oleh penghuni rumahnya.

"Bukan, tuan muda."

Jaejoong mengernyit, lalu siapa yang datang? Pikirnya. Akhirnya setelah menyelesaikan kegiatan sarapan paginya, Jaejoong bangkit dari kursi dan berjalan menuju ruang tamu rumahnya. Hendak menemui sang tamu.

Langkah Jaejoong terhenti tepat di ambang pintu yang menghubungkan ruangan tamu dengan ruangan bagian dalam. Mata doe nya membesar menatap sang tamu yang duduk santai di salah satu sofa ruang tamu rumahnya.

"Y-Yunho?" bibirnya mengucap nama sang tamu dengan pelan, setengah berbisik. Disekolah saja ia belum terbiasa melihat Yunho apalagi sekarang? Sang vampir ventrue malah muncul di rumahnya.

Sang tamu –Yunho- menatap sang pemilik rumah. "Kau mau cuma berdiri di sana atau menyapa tamu mu, Kim Jaejoong?" tanya Yunho.

"Eeeh?" Mata Jaejoong berkedip beberapa kali sebelum ia menyadarkan dirinya sendiri dan akhirnya ia berjalan menemui Yunho. "Maaf," ujar Jaejoong pelan. Ia mendudukkan dirinya di sofa yang berseberangan dengan Yunho dan kembali berujar, "Ada apa?"

"Apakah Tuan Kim Soo Ro ada?" tanya Yunho tanpa berbasa-basi.

"Appa?" beo Jaejoong, "Tadi malam dia berangkat ke HongKong," lanjutnya. "Ada perlu apa dengan Appa?"

"Ke HongKong?" ulang Yunho dengan nada kesal. Sial, lalu buat apa dia membuang waktu ke rumah ini sementara orang yang ia cari pergi ke HongKong? Ke tempat yang sama dengan Appa nya sendiri pergi.

"Iya, ke HongKong," ulang Jaejoong lagi.

"Ya sudahlah," Yunho bangkit, "Sebaiknya aku pergi. Orang yang kucari tak ada." Ujarnya cepat. Jaejoong ikut berdiri dan mengekor dibelakang Yunho, "Kenapa mengikutiku?" tanya Yunho.

"Memangnya kenapa?" tanya Jaejoong balik dengan polosnya, "Aku kan juga ingin keluar. Sebentar lagi Yoochun akan datang dan menjemputku," lanjutnya.

Ponsel Jaejoong tiba-tiba saja berdering, dengan cepat ia merogoh kantung celananya dan meraih hanphone miliknya, "Halo," sapa Jaejoong pada orang yang berada dalam sambungan telpon dengannya.

"Hyung!" Sapaan bersemangat Junsu seperti biasanya langsung menyapa telinga Jaejoong dengan sangat keras, "YA!" balas Jaejoong tak kalah keras, "Kenapa berteriak seperti itu Kim Junsu!" omelnya kesal. Dasar dolphin nyasar, batinnya dalam hati.

"Hehehehe," Kekeh Junsu ringan, "Maaf Hyung."

Jaejoong menghela nafas nya, "Ada apa?"

"Hyung berangkat ke sekolah sendiri ya." Jaejoong mengernyit mendengar kata-kata Junsu, "Kenapa?" tanya Jaejoong heran. "Aku dan Yoochun terjebak macet, hyung." Balas Junsu.

Jaejoong kembali menghela nafasnya, "Oke," balas nya. "Sampai bertemu di sekolah, Su." Dengan itu sambungan telepon mereka terputus. Ia kembali meletakkan handphone nya di dalam kantung celananya.

Dengan sedikit kesal, Jaejoong menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya. Kalau seperti ini masa ia harus menggunakan lamborghini nya ke sekolah? Menggunakan limo atau ferrari milik appa juga tidak mungkin. Hhhh.. kenapa tidak ada mobil yang normal di bagasi rumahnya? Stress Jaejoong dalam hatinya.

"Hei, Kim Jaejoong," panggil Yunho cepat saat Jaejoong baru saja membalikkan badannya dan masuk kembali ke dalam rumahnya untuk menyiapkan mobil. Jaejoong kembali membalikkan badannya dan menghadap Yunho, "Apa?" jawabnya.

"Jadi, Park Yoochun tidak menjemputmu seperti biasanya, huh?" ujar Yunho. Bukannya ia menguping pembicaraan Jaejoong, salahkan saja indera pendengarannya yang bisa mendengar suara sekecil apapun disekelilingnya.

Untuk sejenak Jaejoong terlihat terkejut dengan tebakan Yunho yang begitu tepat. Tapi itu tak berlangsung lama, 'Benar juga, dia seorang vampir sih,' gumam Jaejoong dalam hatinya. "Lalu, kau mau apa?" tanya Jaejoong lagi.

"Tidak ada," balas Yunho cuek. Dengan cepat sang vampir ventrue masuk ke dalam mobilnya dan keluar dari kediaman keluarga Kim. Meninggalkan Jaejoong yang kembali cemberut melihat tingkah Yunho yang mengesalkan baginya itu.


[HongKong | 07.23 AM]

Sebuah ruangan VVIP di salah satu restoran hotel ternama di HongKong.

Sebuah meja bundar dengan empat buah kursi yang mengelilinginya dan berbagai macam makanan serta minuman terlihat tertata rapi di atas meja. Dua orang pria dan wanita paruh baya yang berada di dalam ruangan tersebut terlihat sedang menikmati sarapan pagi mereka.

"Aku tak menyangka kita akan bertemu di sini Soo Ro," ucap salah seorang pria paruh baya yang masih terlihat begitu tampan.

"Hahaha.. aku pun begitu Il woo," sahut pria satunya lagi yang disebutkan bernama Soo Ro atau bernama Kim Soo Ro itu dengan santai.

Dua kepala keluarga yang berteman baik itu, tanpa sengaja bertemu di lobby hotel yang sama saat sedang menuju restauran untuk menyatap sarapan pagi. Jadi, sekalian saja mereka sarapan bersama.

"Padahal aku menyuruh Yunho untuk menyerahkan map itu padamu hari ini," ujar Il Woo yang memiliki warga Jung itu. "Tahu begini kan aku akan membawa map itu ke Hong Kong."

"Biarlah," kekeh Soo Ro.

"Bicara soal Yunho, anak itu baik-baik saja kan?" Ye Jin, seorang wanita yang duduk di samping Soo Ro angkat bicara.

"Tentu saja!" balas Yo Won, istri dari Jung Il Woo itu bersemangat. "Bagaimana dengan Jaejoong?"

"Baik," Ye Jin membalas pertanyaan Yo Won dengan tak kalah bersemangat. "Kau tahu.." Ye Jin melanjutkan ucapannya, raut wajahnya berubah, "...aku mulai khawatir. Usia mereka akan memasuki dewasa sebentar lagi. Jaejoong dan Yunho.. kau ingat..."

"Aku juga memikirkan hal yang sama," potong Il Woo. "Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu dan menjaga mereka ." Lanjutnya.

"Kita tidak akan kehilangan mereka," Yo Won mengenggam tangan Ye Jin, "Hanya terjadi sedikit perubahan saja," ujarnya.


[The Moon and The Sun : Phase 3]


Yosh! Ini update chapter 3 nya! Semoga suka :D