Race: *berjalan mengendap-endap
Rain: Mau curi apa kamu?
Race: *terkejut* Ssst! Jangan keras-keras! Lihat dia! *nunjuk Akuma
Rain: Hm? Kuma kah? Kenapa?
Race: Dia nangis terharu! Apa cerita ini sesukses itu sampai membuatnya terharu ya?
Rain: Hm... (melihat cerita Akuma yang lain) tentu saja dia terharu... baru pertama kali ini ceritanya mendapat respon sebanyak itu.
Ngomong-ngomong... kita belum memperkenalkan diri kepada para pembaca.
Race: Hm? Ah benar! Halo! Aku Race! Ya... aku yakin kalian sudah tahu saat membaca chapter kemarin.
Rain: Aku adik kembarnya, Rain si penyuka hujan. Salam kenal... dan ada pesan dari Kuma (panggilan RaceRain untuk Author)
Race: Biar aku yang baca! (merebut kertas dari tangan Rain) Ok... isinya...
Halo Readers!
Aku minta maaf membuat kalian menunggu lama untuk cerita ini.
Sedikit terkejut dengan review kalian... hehe...
Aku sedikit banyak urusan... karena itu lama...
Untuk saat ini si kembar R yang memegang chapter ini. Aku ingin melanjutkan chapter selanjutnya, tapi agak lama karena persiapan event yang dibuat sama kak Fanlady (bener gak tulisannya?). Jadi untuk chapter selanjutnya menguji kesabaran kalian teehe~
Ok! Sekian! Aku kembalikan pada si Kembar R!
Race: Kenapa kita yang kena?! Kenapa bukan OC yang lain?! (teriak atas bukit)
Rain: Mau bagaimana lagi? OC yang muncul di cerita ini hanya kita saja. Terima nasib saja deh...
Race: Hah... terserahlah! Untuk para pembaca... baca dengan perlahan dan santai~
Rain: Selamat membaca...
Chapter 4: Terulang
Boboiboy melihat jam tangan yang memiliki kekuatan itu dengan ragu. Dia bingung mau memakainya atau tidak. "Oh ayolah..." gumam Boboiboy.
Mengambil nafas dalam, Boboiboy memasang wajah bersalah, "Aku tahu ini sangat egois, selama 4 tahun aku mengabaikan kalian karena aku tidak membutuhkan kalian lagi. Sekarang saat aku membutuhkan kalian aku mulai mengingat kalian maaf. Sekali ini saja... sekali ini saja aku minta tolong pada kalian. Pinjamkan kekuatan kalian."
"Aku tahu kalian sedang tertekan dan aku sudah menemukan sumber ketertekanan kita. Kalian boleh melakukan apa saja padanya. Lampiaskan amarah kalian, jangan perdulikan aku," wajah ragu Boboiboy langsung berubah serius. "Aku tidak keberatan kalian mau bunuh dia, siksa dia, cincang dia, atau apapun. Persetan dengan prinsip 'semua makhluk berhak hidup'. Pada akhirnya, ada saatnya suatu makhluk tidak pantas untuk hidup. Tapi utamakan keselamatan mereka. Kumohon."
Laki-laki itu mengambil nafas dan membuangnya secara perlahan, "Dan dengarkan rencanaku, aku yakin kalian mendengarnya."
SGSH
BoBoiBoy © Animonsta Studios/Monsta
Say Goodbye Say Hello © KashikAkuma Himitsuko
Rate: T+
Language: Bahasa Indonesia
Genre: Friendship, Hurt/Comfort, Fantasy
Warning: Typo(s), OOC –maybe?–, Teori hasil imajinasi, No Pair
SGSH
Di suatu taman di Pulau Rintis, terdapat sangkar besar yang digantung di pohon. Di dalam sangkar tersebut terdapat penduduk Pulau Rintis yang kebingungan karena guncangan yang berasal dari tendangan perempuan berambut hitam dikuncir twintail rendah. Tidak jauh dari pohon tersebut, terdapat pesawat angkasa bewarna putih.
"Lebih baik aku tetap membencinya seperti dulu! Dia sudah berubah!" kata Ying. Dia meringkuk karena lelah menendang pintu sangkar raksasa tersebut untuk melampiaskan amarahnya.
"Aku tidak tahu Boboiboy setega itu, apa perkataannya dulu hanya kebohongan," kata Gopal, dia menyesal telah menganggap Boboiboy teman baiknya.
Fang hanya mendengus, dalam hati dia akan menghajar rivalnya itu setelah dia keluar dari sangkar ini. "Tapi… benarkah dia tidak menganggap kita sebagai temannya?" ucapan Yaya membuat ketiga temannya itu menatap gadis berhijab pink tersebut.
"Apa maksudmu? Sudah jelas dia bilang kita bukan siapa-siapanya," kata Race langsung nimbrung. Sedari tadi dia mendengar pembicaraan keempat orang tersebut.
"Err… siapa ya?" pertanyaan tersebut membuat hati Race tertohok.
"Maaf langsung nimbrung, aku Race. Senior kalian," perkenalan dadakan milik Race hanya ditanggapi dengan gumaman saja.
"Jadi apa maksud ucapanmu tadi perempuan berkerudung pink?" Race langsung mengembalikan topi.
"Namaku Yaya kak…" ralat Yaya, "ya… tadi dia mengucapkannya dengan topi yang di posisikan ke depan, aku jadi tidak bisa melihat ekspresinya."
Fang, Gopal, Ying, dan Race mulai mengingat kembali penampilan Boboiboy sebelum laki-laki itu meninggalkan mereka. Biasanya Boboiboy saat sekolah memakai seragam yang ditutupi dengan jaket jingga, tas punggung hitam, sepatu hitam, dan topi jingga yang di posisikan ke belakang.
Mereka memfokuskan ingatan mereka bagian posisi topi yang dipakai Boboiboy. "Benar! Topinya menghadap ke depan tadi, makanya aku agak gak jelas melihat wajahnya tadi," kata Race setelah berhasil mengingat penampilan juniornya tersebut.
"Nah… coba kita pikir kenapa Boboiboy memakai topi ke depan seperti itu?" Yaya menuntun pemikiran keempat orang tersebut.
"Untuk menyembunyikan ekspresinya bukan?" Yaya menatap laki-laki yang ada di belakang Race. Keempat orang tersebut mengikuti pandangan gadis berhijab pink tersebut.
Lagi-lagi orang asing ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka, "Rain! Kenapa kau ada di sini?" seru Race yang langsung ditatap datar oleh laki-laki tersebut.
"Aku sedang bersantai! Ya nggak lah! Kenapa kakak menanyakan hal bodoh?" sindir laki-laki tersebut– Rain.
'Ah… adiknya ya?' pikir Yaya, Ying, Gopal, dan Fang kompak.
"Bukannya kamu ada di rumah tadi ya?" tanya Race mengabaikan sindiran sang adik.
"Pikun ya? Aku tadi ikut kakak ke sekolah," Rain kembali menyindir kakaknya.
"Ah ya! Kudengar kalian dulu Superhero, seharusnya kalian bisa menghancurkan sangkar ini 'kan?" tanya laki-laki berambut hitam-biru keunguan tersebut.
Race menatap keempat orang tersebut tidak percaya, sedangkan orang yang ditatap hanya tersenyum sendu. "Iya dulu. Sekarang tidak lagi," jawab Yaya mewakili temannya.
"Bicara tentang kekuatan... bukannya kakakmu punya ya Fang?" tanya Gopal pada Fang yang sibuk memikirkan balas dendam pada Boboiboy.
"Itu akan kulakukan dari tadi jika saja sangkar ini tidak menyerap kekuatanku," Kaizo, kakak Fang langsung menjawab pertanyaan Gopal. Diam-diam dia mendengar pembicaraan keenam orang tersebut. Sekali lagi ada orang yang bergabung dengan mereka.
"Eh?! Terus gimana caranya kita keluar dari sini?!" seru Gopal panik.
"Ada satu orang yang bisa membebaskan kita," kata Kaizo.
"Siapa?" tanya keenam orang tersebut yang didengar oleh orang-orang yang ada di sangkar tersebut.
"Tentu saja, orang yang baru saja mencampakkan kita tadi," jawab Kaizo membuat semua orang di sangkar tersebut menatapnya datar.
"Mana mungkin lah! Mana mungkin dia kembali untuk menyelamatkan kita! Jelas-jelas dia tidak menganggap kita siapa-siapanya gitu!" sewot Ying, dia bangkit dari kegiatan meringkuknya.
"Dia pasti kembali."
SGSH
Boboiboy menuruni tangga kemudian mencari teman robotnya. "Ochobot?" panggilnya setelah menemukan temannya tersebut di ruang keluarga.
"Ya? Ada apa Boboiboy?" tanya Ochobot berpaling dari TV yang ia tonton.
Boboiboy membenarkan topinya yang sedikit miring, "Atok kemana? Dari tadi aku tidak melihatnya."
"Lho? Bukannya kamu sudah diberitahu ya? Atok ada urusan di KL, aku disuruh menjagamu dan kedai tutup hari ini. Mungkin dia akan pulang besok," jawab Ochobot.
"O-oh... kalau begitu aku keluar dulu ya Ochobot. Kamu kunci semua jendela dan pintu, jangan buka pintu kalau itu bukan aku atau Atok," pamit Boboiboy kemudian langsung keluar rumah tanpa mendengar seruan Ochobot.
"Haduh... kenapa dia?" gumam Ochobot kemudian mengunci pintu rumah. Pada akhirnya dia menuruti ucapan laki-laki bertopi belakang tersebut. Dia tidak sadar kalau...
... lambang yang biasa ada di jaket dan topinya itu bukanlah petir melainkan tanah.
SGSH
Tit! Tit! Tit!
Bunyi berisik berasal dari komputer yang ada di pesawat angkasa tersebut, "Komputer! Apa yang terjadi?!" tanya Adu Du, sang pemilik pesawat angkasa tersebut. Dia baru saja mau meminum air yang dibawakan robot ungu kesayangannya, Probe.
"Saya mendeteksi adanya kehadiran seseorang Tuan," jawab Komputer sambil menayangkan gambar berbentuk lingkaran yang merupakan pendeteksi. Pendeteksi tersebut menunjukkan lingkaran kecil yang berkedip, artinya ada seseorang yang menuju lokasi mereka.
"Hah? Siapa?" tanya Adu Du lagi.
"Diperkirakan Boboiboy Tuan, dia berlari ke arah sini."
Adu Du terkejut dan detik berikutnya tergantikan oleh seringaian kejam. "Bukannya dia menganggap mereka bukan siapa-siapanya ya?"
"Mungkin untuk membuat Bos lengah, dia Boboiboy lho Bos... mana mungkin dia mengabaikan orang-orang terdekatnya," kata Probe mengingatkan akan sifat musuh utama mereka yang dikenal setia kawan.
Adu Du mengiyakan ucapan Probe, "Tuan, dia ada sudah sampai," lapor Komputer.
"Ok... mari kita sambut dia," ucap Adu Du dengan seringaiannya.
[Taman Pulau Rintis]
Boboiboy berjalan cepat menuju taman, ia sedikit lega saat sangkar raksasa yang telah mengurung penduduk Pulau Rintis dan temannya itu masih ada di sana. 'Sepertinya prediksinya tepat, aku harus mengalihkan perhatian mereka berdua tersebut seperti yang direncanakannya,' batin Boboiboy.
"Oh... lihat siapa yang datang? Kukira kau tidak memperdulikan mereka," Boboiboy menatap datar makhluk berkepala kotak tersebut. Para tawanan yang sibuk berdebat karena ucapan Kaizo menatap tidak percaya laki-laki bertopi terbalik tersebut.
"'Kan apa yang kubilang? Dia akan kembali," kata Kaizo sombong.
"T-tapi... bagaimana mungkin..." mereka masih tidak percaya. Setelah apa yang dilakukan oleh Boboiboy, kenapa laki-laki itu kembali?
"Aku memang tidak memperdulikan mereka," kata Boboiboy membuat para tawanan mendesah kecewa, "tapi aku ada urusan dengan... maaf, siapa namamu ya?" mereka langsung bergubrak ria mendengar pertanyaan laki-laki bertopi tersebut.
"ADU DU LAH!" seru Adu Du kesal.
"DAN PROBE!" sambung Probe.
"Benar! Aku ada urusan dengan kalian, Adu Du, Probe!" seru Boboiboy kemudian.
Adu Du tertawa keras, "Urusan? Aku sudah tidak punya urusan denganmu lagi Boboiboy... sekarang aku ada urusan untuk melenyapkan teman-temanmu!" ucapnya sambil menunjuk sangkar yang ia gantung di pohon.
Boboiboy tertawa meremehkan, "Teman-teman? 'Kan aku sudah bilang mereka bukan siapa-siapa aku, aku hanya ingin melampiaskan amarah dan tekanan pada kalian. Lagian apa maksudmu 'melenyapkan'?" tanya Boboiboy dengan senyum meremehkan.
"Kamu bodoh ya? Bos-ku bilang akan melenyapkan tawanannya," jawab Probe.
"Tawanan? Jadi tawanan kalian itu pohon?" pertanyaan aneh yang dilontarkan laki-laki berjaket jingga agak kemerahan itu membuat dua makhluk itu mengernyit. Mereka langsung melihat sangkar mereka yang seharusnya tergantung di pohon tersebut, namun yang ada hanya pohonnya. Kemana sangkarnya pergi?
Adu Du geram, "Kau... KAU PASTI YANG MELAKUKANNYA 'KAN?!" teriaknya.
Boboiboy hanya menanggapi teriakan Adu Du dengan tawanya, "Bodoh ya?" perempatan imajiner muncul di kepala kotak sang Alien, "Aku dari tadi di sini, mana mungkin aku mengambil sangkar yang besar itu? Itu diluar kendaliku."
"'Kan sudah kubilang… aku ke sini karena ada urusan denganmu, mana mungkin aku memperdulikan tawananmu itu," lanjutnya santai.
Adu Du mengerang, "URUSAN?! URUSAN KAU BILANG?! MEMANGNYA KAU PUNYA URUSAN APA DENGANKU HAH?!" sang Alien kembali berteriak.
Boboiboy menyeringai, "Ya ampun... kamu mendengarkan atau tidak sih? Aku ke sini untuk melampiaskan amarah dan tekanan yang aku terima pada kalian. Seperti... ini!" tangan Boboiboy langsung tertutup dengan tanah sehingga membentuk sarung tangan.
"Tumbukan tanah!" serunya sambil memukul tanah. Tanah langsung mencuat keluar melempar kedua makhluk tersebut.
'Aduh... mereka lama amat sih! Aku tidak bisa menggulur waktu lebih lama lagi!'
[Di Suatu Tempat]
Klang!
Pintu sangkar tersebut terbuka saat laki-laki bertopi jingga menghadap ke depan itu membukakan gembok yang ada di pintu sangkar tersebut dengan kunci yang ia 'ambil-tanpa-izin'.
Buagh!
Tinju langsung diterima oleh laki-laki tersebut setelah ia membuka pintu sangkar tersebut, "FANG!" seru Yaya, Ying, dan Gopal.
"KAU BILANG KAMI BUKAN SIAPA-SIAPAMU! KENAPA KAU MENYELAMATKAN KAMI HAH?!" teriak laki-laki berambut raven acak-acakan tersebut.
Laki-laki tersebut mendecih, "Diselamatkan bukannya bilang terima kasih malah memukul orang yang menyelamatkan," ucapnya sambil membenarkan posisi topinya.
"Siapa juga yang mau nyelamatin orang yang ceroboh dan merepotkan seperti kalian? Kalau bukan karena dia, mungkin aku sudah membiarkan kalian dilenyapkan sama Alien hijau itu," lanjutnya sambil melemparkan suatu benda kepada keempat orang tersebut. Keempat orang tersebut sangat terkejut saat melihat apa yang dilemparkan oleh laki-laki tersebut.
"I-i-i-ini..." Gopal berkata gagap.
"Jam kuasa! Bagaimana kau..." Ying melanjutkan ucapan Gopal.
"Boboiboy kau..." Yaya menggantungkan ucapannya.
Laki-laki– Boboiboy mendengus, "Kalau sudah mengerti aku akan pergi! Dan kau!" Boboiboy menatap tajam Fang. Yang ditatap langsung membalas tatapan tersebut.
"Terima kasih sudah memukulku!" serunya sarkastik, "Pergi jauh-jauh dari hadapanku sana!"
"Apa kau bilang?!" seru Fang tidak terima.
"Petir!" suara yang terdengar ceria itu membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka ke atas. Terdapat laki-laki yang melayang di langit bersama pusaran angin yang mengelilingi tubuhnya.
Mereka semua terkejut, "B-B-B-Boboiboy ada dua?! Dan d-dia terbang?! T-terus laki-laki yang ada di taman itu siapa?!" seru Race panik.
"Sudah selesai urusannya? Kita harus pergi! Tanah sudah mulai bertarung!" kata laki-laki tersebut sambil melayang mendekati Boboiboy yang dipanggil 'Petir' oleh laki-laki tersebut mengabaikan semua orang.
"Lho? Kenapa dengan pipimu? Kok merah?" tanya laki-laki tersebut.
"Bukan urusanmu! Sekarang kita akan menyusul Tanah, kita sudah melakukan permohonannya. Aku yakin Api dan Air sedang ke sana sekarang," kata Boboiboy– lebih tepatnya Petir mengabaikan pertanyaan laki-laki tersebut.
"Ah... ok... tapi sebelum itu..." Petir mulai kesal.
"Apalagi?! Cepat katakan Angin! Tanah mungkin sudah kewalahan sekarang!" semua orang yang mendengar perdebatan dua orang berwajah kembar dengan posisi topi yang berbeda itu bingung. Sementara Gopal, Ying, Yaya, Fang, dan Kaizo mulai mengerti apa yang dua orang itu bicarakan.
Laki-laki itu– Angin menampilkan cengirannya, "Jangan galak ah! Apa perlu kita buat barrier* biar mereka tidak ikut campur?" tawarnya sambil menunjuk kumpulan penduduk Pulau Rintis.
Petir berpikir sebentar, dia menatap penduduk Pulau Rintis khususnya kelima orang –Yaya, Ying, Gopal, Fang, dan Kaizo– yang mempunyai kekuatan super itu dengan tajam, "Boleh, barrier angin dan petir?" tanyanya menerima usulan yang dibalas dengan anggukan antusias laki-laki berpakaian serba kuning tersebut.
"Percuma kalian membuat barrier, akan aku hancurkan dengan pedang tenagaku dengan mudah," kata Kaizo yang mendengarkan rencana laki-laki berwajah kembar tersebut. Dia mengeluarkan pedang tenaganya yang selama ini ia ikatkan di pinggangnya.
Angin dan Petir menyeringai, "Boleh," kedua laki-laki kembar itu mundur beberapa langkah, "kalau kau bisa," ucap mereka kompak lalu mengeluarkan kekuatan mereka masing-masing dan membuat barrier combo mereka.
Semua orang langsung menutup mata saat angin besar menerbangkan pasir-pasir yang ada di sekitar mereka. "Akan lebih baik kalian pergi sejauh-jauhnya! Kalian mengganggu!" teriak Angin kemudian melesat menyusul kembarannya bersama Petir.
SGSH
"Hah... hah... aku tidak menyangka kau sudah berpecah," kata Adu Du sambil mengusap darah yang ada di sudut bibirnya karena serangan mendadak tersebut.
Boboiboy tersenyum heran, "Berpecah? Maksudnya?" tanyanya menambah kekesalan Adu Du.
"Jangan pura-pura tidak tahu! Aku tahu dari lambang dan gaya pakaianmu itu!" seru Adu Du.
Senyuman heran milik Boboiboy langsung berganti dengan senyuman bersalah, "Aduh... ketahuan ya?" ucapan Boboiboy terdengar seperti sindiran bagi Adu Du.
"Probe! Serang dia!" perintahnya kepada robot tempurnya.
"Baik! Probe: Mega Probe!" Probe berubah menjadi Mega Probe kemudian meluncurkan beberapa misil yang besar kepada Boboiboy.
Entah kenapa mulutnya tidak lelah menampilkan senyuman yang maknanya berbeda-beda, dia kemudian memukul tanah. "Tanah Pelindung," gumamnya. Tanah kembali mencuat membentuk perisai.
DUARR!
Ledakan yang dihasilkan oleh misil milik Mega Probe membuat debu menutupi pandangan mereka. Adu Du tersenyum kemenangan, "Matilah kau Boboiboy... matilah!" alien tersebut kembali berseru sambil tertawa jahat.
Hening sejenak, hanya tawa jahat milik Adu Du saja yang meramaikan taman Pulau Rintis tersebut. Hingga suara kilatan ikut meramaikan suasana hening bersama dengan desiran angin, sinar yang panas, dan percikan air.
"Keris Petir!"
"Pusaran Angin!"
"Bola Api!"
"Bola Air!"
Seruan tersebut membuat tawa jahat milik Adu Du berganti menjadi teriakan kesakitan. Di balik perisai tanahnya Boboiboy tersenyum, "Kenapa lama sekali? Hampir saja terkena misil tadi," tanyanya kepada empat laki-laki yang mirip dengannya. Hanya cara memakai topi dan warna jaket yang membedakan mereka.
"Maaf kami terlambat, sedikit ada hambatan tadi. Kau tidak apa-apa 'kan Tanah?" jawab laki-laki bertopi miring mewakili ketiga laki-laki yang lain. Dia yang melemparkan Bola Angin tadi.
Boboiboy– Tanah tersenyum, "Ya. Aku tidak apa-apa. Sudah menyelesaikan rencananya?" pertanyaan Tanah dijawab oleh anggukan keempat laki-laki tersebut.
"Uhuk! Uhuk! Sialan! Kali ini aku sungguh-sungguh akan membunuhmu!" seruan sang musuh membuat kelima laki-laki berwajah mirip itu memasang wajah serius.
Debu menghilang, pandangan mereka yang ada di taman kembali jelas. Dua kelompok yang saling bermusuhan itu saling menatap tajam, mengeluarkan ancaman sejelas-jelasnya agar lawan mereka takut.
"Hee… jadi mereka yang membuat kita tertekan? Asyik! Aku bisa membakarnya!" seru laki-laki bertopi menghadap depan agak ke atas girang, Api. Dia mengeluarkan api di tangannya.
"Sebelum kamu membakarnya aku akan menenggelamkannya dulu," kata laki-laki bertopi menghadap depan agak ke bawah tenang, Air. Sekumpulan air mengelilingi dirinya.
"Ide kalian bagus juga, aku akan menyetrumnya agar dia cepat mati," kata laki-laki bertopi menghadap depan, Petir. Tangannya berkilat, siap menyengat siapapun.
"Dan aku akan menerbangkannya sampai ke luar angkasa," imbuh laki-laki bertopi miring ceria, Angin. Dia mengeluarkan angin dari tangannya.
"Sebagai serangan terakhir, aku akan menguburnya sampai ke tanah yang terdalam. Dengan begitu dia tidak akan muncul lagi. Selamanya," kata laki-laki bertopi terbalik, Tanah. Dia meninju tangannya yang bersarung tanah.
Tawa kejam langsung keluar dari bibir kelima orang tersebut. Mereka adalah pecahan Boboiboy yang mewakili setiap kekuatan dan kepribadiannya. Kedua makhluk itu merasakan aura gelap dari mereka. Senyum meremehkan milik Adu Du ditunjukkan kepada kelima pecahan tersebut, "Heleh! Cuma tingkat pertama saja bangga, dengan kekuatan kecil seperti itu kalian tidak bisa mengalahkanku."
Tawa kelima laki-laki tersebut berhenti, "Hee... meremehkan kami ya..." dan Adu Du tahu, kalau ucapannya tadi adalah kesalahan yang sangat fatal.
SGSH
"GYAAA!" teriakan dari laki-laki bertubuh gempal memekakkan telinga orang yang ada di sekitarnya.
Bruk!
Tubuhnya terlempar sejauh 2 meter. Asap hitam keluar dari laki-laki bertubuh gempal tersebut. "Haduh... ini mustahil... listriknya membuatku tidak bisa menyentuhnya. Anginnya juga terlalu kuat sampai membuatku kembali lagi ke sini," katanya.
"Jadi kita bisa mengetahui kalau listriknya akan menyengat kita kalau disentuh dan anginnya membuat kita tidak bisa mendekati barrier," simpul laki-laki berambut raven yang sebagian rambutnya melawan gravitasi.
"Jangan-jangan kalian menjadikanku bahan percobaan ya?!" seruan laki-laki berkulit gelap itu membuat kedua laki-laki itu mendecih.
"Pintar juga," gumam kedua laki-laki tersebut.
"Aku mendengarnya oi!"
Tiba-tiba dua perempuan menghampiri mereka bertiga. "Bagaimana? Kalian sudah bisa menghancurkan barriernya?" tanya perempuan berambut hitam.
"Belum. Kalau kalian?" jawab laki-laki berambut raven acak-acakan sekaligus bertanya.
Kedua perempuan tersebut menggelengkan kepalanya sedih. "Kami sudah mengungsikan para penduduk dan kedua senior yang ngotot ingin bantu kita itu. Kalau tentang barrier... mereka membuat barrier yang mengelilingi jalan ke taman," jawab perempuan berhijab pink dengan muram.
Gopal, nama laki-laki yang baru saja terkena serangan dari barrier bangkit dari ambruknya, "Kalau masuk lewat atas gimana? Yaya 'kan bisa," usulnya.
Empat orang itu menghela nafas, "Kau dengar tidak sih? Mereka berdua membuat barrier yang mengelilingi jalan ke taman. Artinya jalur udara juga tertutupi oleh barrier, Yaya tidak akan bisa masuk. Yang ada dia terkena serangan dari barrier sepertimu," jelas perempuan berambut hitam tersebut dengan cepat, Ying.
Mereka berlima kembali merenung, "Bicara tentang mereka berdua... itu bukan pecahan dari teman kalian ya?" tanya Kaizo, orang yang paling tua dari kelompok tersebut.
Empat orang itu mengangguk, "Dilihat dari kekuatan dan kepribadiannya sih iya. Kalau gak salah mereka Halilintar dan Taufan," jawab perempuan berhijab pink mewakili temannya, Yaya.
"Tapi mereka tingkat pertama, jadi mereka Petir dan Angin," lanjut Ying.
"Tingkat pertama tapi kekuatannya sudah seperti ini. Bagaimana dengan tingkat kedua mereka?" gumam Kaizo.
Dia melihat pedang tenaganya, "Pedangku tidak bisa menghancurkan barrier yang terlihat lemah di luar ini. Tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali kita bisa menembusnya," kata Kaizo.
"Memangnya siapa yang bisa menembus barrier gabungan dari petir dan angin ini? Mendekatinya membuat kita terlempar ke sini. Walaupun berhasil melewati anginnya kita harus berhadapan dengan listrik yang kalau siap menyengat kita kapanpun," tanya laki-laki berkacamata nila yang merupakan adik Kaizo, Fang.
Empat orang itu menatap Fang. "Maaf kak... bukannya menghina, tapi kenapa adikmu ini jadi bodoh ya?" kata Gopal yang terdengar seperti sindiran bagi Fang.
"Hei!" seru Fang tidak terima.
Kaizo menghela nafas, "Aku juga gak tahu... apa aku salah kasih dia makan ya?"
"Kakak!"
"Aku setuju dengan kalian berdua, bahkan kita tertangkap karena komandonya," Yaya ikut nimbrung. Sedangkan orang yang menjadi bahan topik menatap mereka tidak percaya.
"Sebenarnya kalian kenapa sih?!"
"Dia jadi lebih bodoh daripada Gopal, padahal dia punya kekuatan lain selain kekuatan bayangan. Lalu fungsi kacamatamu itu buat apa? Gaya?" Ying menambah daftar sindiran yang diterima Fang.
Fang langsung memegang gagang kacamatanya, senyuman malu tercipta di bibir laki-laki bermata ruby tersebut. "Maaf, aku lupa. Sudah lama aku tidak memakainya... kalau gitu aku akan menyusulnya dan membuatnya untuk menghilangkan barrier ini," ucapnya kemudian menekan huruf F yang terukir di gagang kacamatanya.
Kacamata tersebut langsung berganti menjadi topeng menyerupai rubah yang menutupi wajahnya. "Kekuatan Penembus," ucapnya pelan kemudian berjalan tenang melewati barrier tanpa terkena serangan dari barrier tersebut. Intinya dia menembus barrier berkat kekuatan yang ada di kacamatanya.
Fang memang tidak terkena dampaknya, tapi masih agak sulit karena angin kencang yang dikeluarkan oleh barrier tersebut. "Ukh... sepintar apa dia sampai bisa membuat kemungkinan agar tidak ada orang yang masuk dalam wilayah barrier ini?" gumamnya.
Badai yang menghalagi pandangan Fang kini menghilang digantikan oleh jalanan sepi. "Sekarang..." Fang mengembalikan topengnya menjadi kacamata, "susul dan hajar dia," gumamnya sambil berlari dengan kekuatan bayangannya.
Niatnya setelah sampai di taman dia akan menghajar rivalnya tersebut, dia belum puas dengan pukulannya tadi. Tapi niatan tersebut langsung menghilang saat melihat apa yang telah dilakukan rivalnya terhadap makhluk luar angkasa tersebut.
SGSH
Bruk!
Probe kembali ke wujudnya yang semula. "M-m-mustahil..." Adu Du menatap tidak percaya kelima orang tersebut.
"Maafkan saya Bos. Kekuatan mereka berbeda dengan yang dulu. Saya merasa melawan 5 pecahan tingkat kedua sekaligus," ucap Probe.
"Pecahan? Yang benar saja! Kami bukan pecahan!" seru Petir mendengar ucapan Probe.
Adu Du memasang wajah heran, "Lalu? Kalau kalian bukan pecahan, kalian siapa?" tanyanya.
"Kami adalah kami, Boboiboy adalah Boboiboy. Dia berbicara pada kami layaknya teman. Jadi jangan pernah menyebut kami pecahan darinya. Dia yang menahan tekanan kami sendirian dan menemani kami setelah mereka meninggalkan kami," kata Tanah sambil menyerang Adu Du.
Jantung Adu Du serasa berhenti setelah menghindar serangan maut secara kebetulan. 'Apa ini? Mereka berbicara seolah Boboiboy bukan bagian dari mereka. Tunggu… pecahan ya?' seringaian langsung tercipta di bibir Adu Du.
"Tapi kalian keluar setelah Boboiboy berpecah, itu bukannya sama dengan pecahan ya?" 5 orang tersebut langsung menatap tajam Adu Du.
"Dia gak punya telinga ya? Sudah dibilang kami bukan pecahannya juga," sindir Angin. Adu Du berusaha menahan amarahnya.
"Tapi kalian tidak akan muncul kalau Boboiboy tidak berpecah, apa aku salah?" Adu Du kembali mengatakan ucapannya, 5 orang itu terdiam.
Hening sejenak. Dalam keheningan tersebut Api tertawa, "Pecahan ya? Kalau kami pecahannya bukannya Boboiboy ingat semua yang kami lakukan? Kami bahkan bisa mengendalikan ingatan kami sendiri," dia membalikkan ucapan Adu Du. Tawanya langsung menghilang digantikan dengan ekspresi dingin, api langsung menyelimuti tubuhnya. "Sudah kami bilang, kami adalah kami. Boboiboy adalah Boboiboy. Kau yang tahunya menghancurkan apa saja jangan sok-sok-an tahu tentang kami, dasar Kepala Kotak."
Adu Du masih mempertahankan seringaiannya, "Wow… pecahan yang tidak mengakui dirinya sebagai pecahan. Kalian seharusnya sadar diri, kalian tidak akan bisa muncul tanpa jam kuasa yang Boboiboy pakai," ucapnya.
"Cukup," butiran air mengelilingi tubuh Air, "aku akan mengakui kalau aku adalah pecahan. Tapi perasaan apa ini? Kalau aku pecahan tidak seharusnya aku memiliki perasaan marah dan melakukan tugasku sebagai pecahan. Aku mewakili kemalasan Boboiboy, tidak seharusnya aku memiliki perasaan marah yang seharusnya diwakili Petir. Jadi… aku menyangkal ucapanmu tentang diri kami sebagai pecahan," air yang mengelilingi tubuhnya melesat ke arah Adu Du.
"BOS!" Probe langsung melindungi Adu Du yang tidak sempat mempersiapkan diri.
Duar!
Kekuatan yang diluncurkan Air langsung meledak saat mengenai tubuh besi milik Probe. Adu Du terkejut yang langsung digantikan ekspresi datar. "Komputer, keluarkan mereka," perintahnya pelan.
Pintu pesawat angkasa terbuka, robot besar sebanyak 5 buah keluar dari pesawat tersebut. Senyuman sinis ia tunjukkan kepada 5 laki-laki tersebut, "Menghancurkan apa saja kau bilang? Aku tidak sama seperti dulu, semua sudah kurencanakan dengan matang. Aku yakin kalian masih ingat dengan model robot ini."
5 orang itu menatap terkejut robot tersebut, "Besar... lebih besar dari pada robot ungu tadi," komentar Api kagum yang disusul protes tidak terima dari Probe.
"Kayaknya aku pernah lihat... tapi dimana ya?" tanya Angin lebih kepada dirinya sendiri.
"Kalau gak salah namanya kayak nama makanan yang biasa dipakai orang lalapan. Warnanya hijau," Petir berusaha mengingat nama robot tempur yang ada di depannya lewat makanan bewarna hijau, bermaksud menyindir lawannya.
"Aku gak tahu, pertama kali ini aku melihat robot seperti ini, tapi... lumayanlah daripada robot ungu tadi," Air secara terang-terangan menyindir. Kedua makluk asing itu berusaha menahan marah.
"Benar... kayak pernah lihat... mungkin kita pernah bertarung melawannya," hipotesa Tanah.
"Tapi aku merasa tidak pernah melihatnya," kata Api dan Air kompak.
"Mungkin kalian belum muncul? Ugh... karena 4 tahun gak pernah keluar, rasanya ingatanku kacau balau," Tanah berhipotesa lagi.
Wajah Adu Du memerah, sebenarnya lawannya ini serius atau mempermainkan dirinya?! Dari tadi berbicara melenceng jauh dari pertanyaannya. "PETAI LAH! ROBOT PERISAI TEMPUR ANGKASA I!" seru Adu Du akhirnya. Dia tidak bisa mendengar lebih lama ocehan musuhnya tersebut.
Petir menjetikkan jarinya, "Benar! Petai, makanan yang biasanya dibuat lalapan," ucapnya sambil menyeringai. Sepertinya dia berencana untuk membuat Adu Du marah.
Api dan Air mengangguk polos sambil membentuk mulutnya huruf O. Entah mereka mengerti maksudnya atau tidak. "Ah benar! Aku sampai harus membuat Naga Tanah," kata Tanah.
"Aku ingat! Dia yang buat hoverboardku rusak, aku harus menghajarnya!" kata Angin sambil mengeluarkan anginnya membentuk sebuah pusaran. Api dan Air hanya bisa saling menatap, mereka tidak pernah berurusan dengan robot yang namanya entah kenapa mirip dengan nama makanan bewarna hijau tersebut.
"Oh... kalian mau menghajarnya ya? Setelah aku melakukan ini?" Adu Du menjetikkan jarinya, makhluk yang menyerupai Adu Du tapi lebih tinggi darinya itu keluar di antara robot tempur sambil memegang suatu benda.
Benda tersebut berbentuk bulat, bewarna kuning, matanya bewarna biru electric, dia sedang memberontak berusaha lepas dari pegangan Alien tersebut. Kelima orang itu terdiam, mereka sangat kenal dengan benda itu. Ochobot, teman mereka.
Ok, hentikan permainan. Waktunya mereka untuk serius sekarang.
"Kamu sudah melakukan apa yang diminta dia 'kan Tanah?" tanya Petir dingin, sorot matanya menjadi tajam. Petir tiba-tiba menggelegar di cuaca yang cerah.
"Kamu tidak lupa bilang 'kan?" Angin menuntut Tanah. Angin di sekitar mereka tiba-tiba berhembus dengan kencang.
"Aku sudah bilang padanya untuk tidak membuka pintu kecuali itu Boboiboy atau Atok. Aku juga sudah menyuruhnya untuk mengunci pintu dan jendela," jawab Tanah. Entah kenapa tanah tempat mereka berpijak bergetar.
"Jadi... kalau bukan Ochobot yang mengabaikan perintahmu, Alien yang mirip dengan Kepala Kotak itu masuk ke rumah dengan paksa dan menculik Ochobot," hipotesa Api dengan suara datar. Udara yang dingin akibat angin tiba-tiba menjadi panas.
"Tapi bagaimana? Petir dan Angin sudah membuat barrier yang menutupi semua jalur ke taman ini, aku dan Api juga sudah membuat barrier di sekitar rumah. Itu adalah combo terkuat kami," tanya Air. Hujan mulai turun dengan deras.
Adu Du yang mendengar ucapan kelima pecahan tersebut tersenyum jahat, "Oh... mudah saja... Ejo Jo yang telah menjadi bawahanku ini memakai baju tempur yang tahan dengan kekuatan kalian. Meskipun dia masih terkena dampaknya," ia melihat bawahannya, Ejo Jo luka-luka akibat barrier yang dibuat Petir, Angin, Api, dan Air.
"Ugh... lepaskan aku!" Ochobot, benda yang dibawa oleh Ejo Jo memberontak.
"Berhenti memberontak! Komputer! Serap energi robot ini dan pindahkan ke PETAI!" perintah Ejo Jo pada Komputer milik Adu Du.
Teriakan langsung memenuhi indra pendengaran kelima pecahan tersebut. "Hentikan... jangan lagi... jangan lakukan itu lagi..." gumam mereka. Potongan ingatan saat Ochobot diserap energinya 4 tahun lalu muncul di kepala mereka.
"Hm? Apa yang kalian bilang? Aku tidak dengar~! Tolong keraskan suara kalian seperti saat kalian mempermainkanku tadi~!" kata Adu Du yang disusul dengan tawa jahat bersama Ejo Jo.
Kelima orang itu menatap tajam makhluk luar angkasa tersebut, "Lepaskan Ochobot, kalau tidak..."
"Kalau tidak apa hah? Mau menghabisi kami?" tantang Ejo Jo.
"Hee..." lima orang tersebut menyeringai, "nantang ya? Kalian yang minta lho..."
Untuk kedua kalinya, Adu Du merasa apa yang dikatakan oleh bawahannya itu sangat fatal seperti apa yang dikatakannya tadi. "Petir dan Air ambil Ochobot! Gunakan kekuatan gabungan! Kalian tidak ingin kejadian 4 tahun lalu kembali terulang 'kan?" Petir dan Air mengangguk.
"Bagus! Sisanya ikut aku! Tidak ada belas kasihan untuk mereka!" iris mata Tanah berubah warna menjadi gold. Begitu juga dengan iris mata pecahan Boboboy yang lain.
"M-mereka memasuki tingkat kedua bos!" lapor Probe.
"Tahulah!" sewot Adu Du.
Tiba-tiba suatu sinar menyilaukan mata makhluk asing tersebut. Saat sinar mulai memudar, mereka dikejutkan dengan tubuh mereka yang terikat dengan tumbuhan berduri. "Apa ini?!" seru Adu Du panik.
"Akhirnya mereka keluar," kata Petir yang sudah memasuki tingkat kedua dengan senyumannya, Halilintar.
"Ok! Dua orang yang baru muncul bantu kami dari belakang!" Tanah yang berubah menjadi Gempa menambahkan komandonya.
"Boboiboy sudah mengizinkan kita untuk melakukan apapun pada musuh. Hari ini... adalah hari terakhir musuh melihat dunia!"
[To Be Continued]
SGSH
Note:
Barrier: Penangkal, Pelindung
Race: Kembali lagi bersama kami~!
Rain: Ok... (membaca kertas yang diberikan Akuma) kami akan membalas review para pembaca...
Race: (mata berbinar) membalas review?! Bagaimana dia memberikan tugas sepenting itu?!
Rain: Katanya sih terserah kita akan membalas gimana... seenggaknya bisa di tolerir...
Race: Jadi kita harus membaca review-annya dulu? (membaca review para pembaca)
Rain: Mau nggak mau kita harus baca... aku sudah baca tadi, kita balas review-nya sekarang
Race: Eh eh! Aku belum selesai bacanya!
Rain: Bodo amat
Betelgeuse Bellatrix:
RaceRain: Ok! Ini sudah next!
Race: Memangnya Halilintar dendam sama temannya ya Rain?
Rain: Entahlah... aku bukan Author di sini... di lihat dari chapter ini... sepertinya antara tidak dan ya.
Race: Lalu... tentang tertangkapnya Kaizo... sudah terjawab 'kan? Adu Du yang tidak pernah berpikir panjang ini ternyata sudah menyiapkan rencananya matang-matang!
Rain: Dan tentang perbaikan Ochobot... karena teori milik Kuma di sini hanyalah sebuah imajinasi... kakak bisa anggap kalau sistem Ochobot ini sudah di pelajari Boboiboy selama dia baru masuk SMP. Dia 'kan punya data tentang Power Sphera dari Fang... ini juga hasil dari imajinasi Kuma..
RaceRain: Yang terakhir... terima kasih sudah menyukai cerita Kuma~!
kurosaki7setsuna:
Rain: Terima kasih atas dukungannya kak... aku juga setuju tentang alien kakak beradik itu dibuat bodoh sama Kuma, dia sedikit suka dengan kakak beradik ini... entah kenapa di membuat Fang dan Kaizo OOC
Race: Tentang sequel... itu agak... sudahlah! Doakan saja si Kuma punya inspirasi untuk membuat sequel SGSH ini...
Shidiq743:
RaceRain: Ini sudah lanjut~ apa kakak menikmati ceritanya?
Adashino san:
Race: Dia sampai dua kali review! Segitunya kah kakak menunggu SGSH ini?
Rain: Kenapa BBB berubah 360 derajat? Aku tidak tahu... tapi yang aku tahu pasti Kuma suka membuat salah seorang tokoh tersiksa dan itu peran BBB yang ada di cerita ini.
Race: Tentang BBB harus jahat... kita lihat saja nanti. Bagiku dia sudah jahat di chap ini
Rain: Kemudian tentang pin BBM... ini dia (mengeluarkan HP Akuma yang dia 'pinjam)
Race: Kapan kamu pinjam HP-nya? Kamu tahu paswordnya?
Rain: Katanya sih terserah... dia juga membiarkanku 'mengambil' HP ini. Tentang password... tahulah. Sekarang pin-nya Kuma... D294DBEB invite ya! Tapi dia jarang on... jadi maklumi, kasihan dia kontaknya hanya sedikit...
Race: Ternyata kamu menakutkan... dan yang terakhir... fanfic Sousei no Onmyouji ya... mungkin dia harus marathon nonton animenya. Terakhir dia lihat ep. 27. Dia juga belum punya inspirasi untuk membuat cerita dari anime itu. Dia juga harus mengenal karakter dari anime itu secara mendetail jadi... yang sabar saja, kalau punya saran tema cerita tentang anime sousei... kasih tahu saja... mungkin bisa jadi inspirasinya.
Rain: Darimana kamu tahu kalau Kuma nonton sampai ep. 27?
Ai no Est:
Rain: kakak pintar menebak ya... cocok lho... aku sudah yakin bakal ketebak karena jalan ceritanya sedikit mainstream.
Race: Belajarlah bersabar nak...
Rain: Siapa yang kamu panggil nak?
Race: Hehehe... terima kasih atas reviewnya... ini sudah lanjut...
CherrySFTT27:
Rain: Sudah kejawab penasarannya 'kan kak?
Race: Ini sudah lanjut lho...
Namekukukuku:
Race: Banyak yang gak sabar nunggu kelanjutannya cerita ini ya?
Rain: Hm... Ini sudah lanjut...
Ruri11:
RaceRain: Halo juga kak! Sudah kejawab rasa penasaran kakak 'kan?
Race: Fiuuh~ Banyak yang review ternyata... kalau dilihat-lihat balasan yang banyak itu adashino san ya? Apa Kuma terharu saat ada yang minta pin BBM nya ya?
Rain: OK... sepertinya waktu kami sudah habis... for the last..
RaceRain: Mind to Reveiew?
See you next time~!
