"ANBU and The Girls"

Disclaimer : Naruto Belong to Masashi Kishimoto, Ceritanya punya Author.

Rated : T

Genre : Romance, Friendship.

Pairing: NaruHina, SasuSaku. Dan yang lain jadi kejutan nanti :D

Warning! : AU, OOC,TYPO(S), Gaje

_ Happy Reading _

.

.

Chapter 4~

Matahari pagi menunjukan rupanya, memamerkan silauan dari cahaya indahnya. Didukung oleh burung-burung yang bernyanyi menambah kehangatan pagi ini.

Tapi sepertinya tidak menghangatkan bagi beberapa orang…

"Hooaaammz, ah sudah pagi ya ?" ujar pemuda berambut kuncir layaknya nanas yang bangun dari tidurnya. Dilihatnya seisi kamarnya, terlihat beberapa sahabatnya yang masih terlelap, kecuali seseorang yang terlihat baru saja keluar dari kamar mandi. Dia berambut coklat panjang yang dikuncir bagian ujungnya, serta iris amethyst di matanya.

"Oh, kau sudah bangun, Shika?" tanyanya. "Ya" jawab lelaki yang diketahui bernama Shikamaru itu. "Dasar anak-anak pemalas, kerjanya cuman tidur saja" lanjut Shikamaru ngoceh-ngoceh nggak jelas yang membuat pria berambut coklat a.k.a Neji itu sweatdrop. 'Sebenarnya siapa yang kebanyakan tidur sih?' batin Neji berkata.

Kemudian mereka membangunkan teman mereka yang lain. Semuanya terlihat mudah, sampai…

"Oy, Kiba bangunlah, ini sudah pagi" Shikamaru berkata sambill mengguncang-guncang tubuh Kiba. Mereka semua sudah bangun, kecuali dua anak ini, Kiba dan Naruto.

"Enggh…Akamaru pergilah, ini kamarku" sepertinya Kiba bergumam dalam tidurnya. Sebuah seringaian meuncul di wajah Shikamaru.

'Kiba, kami turut berduka atas Akamaru…' kira-kira begitulah bisikan Shikamaru pada Kiba. Lantas Kiba bangun dengan tidak elitnya. "Akamaru" teriak Kiba yang langsung disusul gelak tawa dari Shikamaru.

"Jiaahahaaha, kau kenapa Kiba? Menghawatirkan anjing kecilmu?" tanya Shikamaru. "Diam kau sialan, jangan membuat lelucon seperti itu" jawabnya super kesal. "Hah,..hah,.. ayolah jangan marah, wahai pangeran anjing"

Disisi lain, Naruto masih saja di alam mimpi. "Hey, bangunkan adik iparmu itu Neji" Gaara berujar. "Cih, bikin repot saja" jawab Neji kemudian menghampiri ranjang Naruto di bagian tingkat atas. 'Wah, dia tidak mengelak, jangan-jangan dia sudah benar-benar menerima Naruto' batin Sai sambil senyum-senyum tak jelas, "Oy, Rubah pirang, bangunlah" Neji berusaha membangunkan Naruto. "Hmm..5 menit lagi Kaa-chan" Naruto bergumam tak jelas. "Bagaimana ini, dia tak mau bangun" kata Neji putus asa. "Aku ada aide" ujar Sasuke tiba-tiba, kemudian ia berjalan ke kamar mandi, beberapa saat kemudian dia keluar sambil membawa ember kecil berisi air penuh.

Dia mendekat ke Naruto, dan kemudian… disiramlah air itu tepat kemuka Naruto.

Zlaaarrsshhh

"Gyaaa, Tsunaaamiiii… Kaa-chan, Tou-chan selamatkanlah diri kalian. Hinaataa dimana kau, aku akan menyelematkanmu" teriak Naruto tak jelas, sambil meronta-ronta diatas tempat tidurnya.

Brruukkkk

"I-ittai.." jerit Naruto saat sudah jatuh dari tempat tidur tingkat yang tingginya sekitar 2 m itu, yang membuat semua temannya tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha, bagaimana rubah pirang? Apa kau berhasil menyelamatkan putrimu?" tanya Kiba disertai gelak tawa yang langsung mendapat hadiah lemparan bantal tepat dimukanya.

"Sialan, siapa yang berani menyiramku?" tanyanya dingin. "Aku" Sasuke menjawab santai layaknya orang tak berdosa.

"TEMEEE,, beraninya kau, ngajak berantem hah?"

"Diamlah rubah pirang"

"Pantat ayam."

"Sudahlah kalian berdua, sebaiknya kalian semua bersiap, karena sebentar lagi pengumuman kegiatan" ujar Neji menengahi.

.

.

Memang benar, pagi ini tidak menghangatkan bagi beberapa orang.

.

.

Sesampai di tempat perkumpulan, Tsunade sebagai Kepala Sekolah sekaligus ketua panitia kegiatan ini memberikan beberapa pengumuman.

"Untuk melaksanakan beberapa kegiatan, Para siswa dan siswi diberi kesempatan untuk memilih pasangan untuk melakukan setiap kegiatan yang akan dilakukan" Tsunade berbicara.

"Pasangan yang akan dipilih terserah pada kalian, kalian ingin pasangan laki-laki atau perempuan silahkan kalian pilih" lanjutnya. Semua siswa berbisik-bisik.

"Silahkan kalian pilih, 10 menit dari sekarang, mulai" ujar Tsunade memberi aba-aba. Semua siswa berlari tak karuan kesana kemari. Khusus untuk para angoota ANBU, belum sempat mencari pasangan, sudah dikerubungi para gadis-gadis. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah mengajak para anggota ANBU untuk menjadi pasangan mereka.

Namun hal itu tidak digubris para anggota ANBU. Bahkan ini kesempatan mereka untuk dekat dengan orang yang mereka sukai.

Tanpa pikir panjang Gaara, Sai, Neji, dan Shikamaru berlari ke pasangan mereka, siapa lagi kalau bukan Matsuri, Ino, Tenten, dan Temari.

Sasuke malah kebalikannya, Sakura yang berlari kearahnya.

"Sasuke-kuun, kamu dengan aku yah?" minta Sakura dengan nada manja.

"Hn" jawaba Sasuke singkat seolah tidak ingin Sakura menjadi pasangannya. Padahal dalam hati lagi berpesta ria saking senangnya Sakura mau menjadi pasangannya.

"Aduh, aku dengan siapa yah?" kata Kiba frustasi. Dari tadi dia sudah berlari kesana kemari mencari pasangannya. Sampai dia melihat seorang gadis berambut putih putih pendek sedang melihat kekiri-kekanan. Dia terpaku dengan gadis itu. Perasaan hangat menjalar didadanya. Seppertinya dia sudah terkena gejala 'Love at the first sight'. Sudah dia putuskan, dia akan berpasangan dengan gadis itu.

"Hai, aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau anak baru ?" tanya Kiba sesaat setelah menghampiri gadis itu.

"Iya, aku anak baru dari kelas XII-IPA 3. Namaku Yumi, senang berkenalan denganmu." Jawabnya sekalian memperkenalkan dirinya.

"Namaku Inuzuka Kiba, senang juga berkenalan denganmu. Oh iya, apa kau sudah ada pasangan?" tanya Kiba kemudian.

"Belum, bagaimana dengan Kiba-kun ?" ujar Yumi. 'Manisnyaaa, apalagi dia panggil aku pakai suffix. Gyaa, kenapa jantungku berdetak kencang begini' Kiba berkutat dengan pikirannya sendiri.

"A- aku belum punya pasangan, bagaimana kalau kau jadi pasanganku?" tanya Kiba takut-takut.

"Baiklah" jawabnya agak nyaring. Dan akhirnya Kiba sudah mendapat pasangannya, yang kebetulan adalah teman para gadis incaran anggota grupnya.

Disisi lain, Naruto sedang berjalan kesana-kemari, sepertinya dia sedang mencari seseorang.

"Hinata" teriaknya memanggil gadis berambut indigo yang sedang celingak-celinguk.

"Na-naruto-kun? A-ada apa?" jawab gadis dengan nama Hinata dengan kikuk. Baru dipanggil begitu saja mukanya sudah merona merah. Astaga-_-

"A-ano, apa kau sudah punya pasangan?" tanya Naruto.

"Be-belum" jawabnya singkat.

"Kalau begitu, apa kau mau jadi pasanganku ?" ujarnya bertanya. Mendengar Naruto bertanya begitu, membuat jantung Hinata berpacu makin menjadi. Dia diam terpaku, menautkan kedua jari telunjuknya, berusaha mengatur deru nafasnya.

"B-ba-baiklah" jawabnya setelah beberapa detik berkutat dengan kegugupannya. Membuat Naruto melompat kegirangan.

Sekarang semua siswa sudah mendapat pasangan masing-masing. Mereka disuruh berbaris bersebelahan dengan pasangan mereka. Hinata yang berdiri di sebelah Naruto dari tadi hanya menunduk malu dengan poni yang menutup wajah manisnya.

Naruto melirik ke para teman-temannya. Terlihat Gaara yang malu-malu dengan Matsuri begitu sebaliknya, Sai yang selalu menampilkan senyum palsunya dengan Ino disampingnya, Neji yang berdiri dengan semburat merah tipis disebelah Tenten yang daritadi membaca novel, Shikamaru yang tampak sedang berdebat dengan Temari, Kiba yang terlihat dengan seorang gadis berambut putih yang asing dimata Naruto sampai-sampai membuat Naruto mengerutkan alisnya saking bingung siapa sebenarnya gadis ini, Sasuke yang sepertinya sedikit menderita karena Sakura yang sedari tadi menggandengnya dengan genit. Dia tersenyum melihat semua temannya mendapat pasangan yang menurutnya sangat bagus.

.

.

.

.

Setelah mendapat pasangan masing-masing, para siswa dan siswi pun dipersilahkan sarapan. Hari ini sarapan disiapkan oleh para staf guru, namun hari-hari selanjutnya, panitia sudah menetapkan bahwa yang akan menyiapkan sarapan adalah para siswi yang dilakukan secara bergiliran.

Di acara sarapan ini, para siswa terlihat sangat nyaman. Mereka berbincang-bincang satu sama lain. Begitu juga para anggota ANBU yang duduk di sebuah meja panjang dengan para gadis yang juga duduk tidak jauh dari mereka.

"Hey, siapa itu?" tanya Naruto memulai pembicaraan sambil menunjuk seorang gadis berambut putih pendek sambil meyeringai.

"Oh itu. Itu anak baru dari kelas XII-IPA 3, namanya Yumi. Tadi aku sudah berkenalan dengannya dan aku juga baru tau bahwa dia adalah teman mereka." Jawab Kiba panjang lebar.

"Dan biar aku tebak, dia pasti pasanganmu kan?" tanya Naruto lagi dengan seringaian yang semakin terpampang di wajah tannya.

"I-iya" jawab Kiba kikuk.

"Hahaha baiklah, karena pasangan kita memang seseorang yang kita incar, proses pendekatannya akan lebih mudah" kata Naruto.

"Bagaimana denganmu Kiba? Apa kau sudah dapat seseorang ?" tanya Gaara penuh pendekatan yang membuat keringat dingin bercucur di pelipis sang Inuzuka.

"Se-sepertinya sudah" jawabnya sambil melirik Yumi. Dan Naruto yang melihat momen dimana temannya ini melirik Yumi ini pun timbul pikiran jahil diotaknya.

"Hohoho, anak baru langsung diambil" gumam Naruto dengan nada jahil. Semburat merah bertengger dipipi Kiba.

"Di-diam kau rubah, terserah aku mau sama siapa" Kiba ngotot.

"HEI KALIAN SEMUA PARA ANAK BARU, BERHATI-HATILAH, ATAU KALIAN AKAN DIGANGGU OLEH ANJING LIAR" Suara Naruto terdengar diseluruh ruangan, dia sekarang sedang berdiri dikursinya sambil menunjuk Kiba, yang ditunjuk hanya menundukan mukanya, sangat malu.

Semua siswa pun terlihat tertawa terbahak-bahak, ada yang sambil guling-guling, meneteskan air mata, namun ada juga yang hanya menanggapinya dengan menguap. Jika kalian semua bertanya siapa, cari saja pria dengan rambut berkuncir nanas.

Pttookk

Sebuah sendok penggorengan melayang tepat dikepala Naruto, dengan kesal Naruto mencari siapa pelakunya, celingak-celinguk sampai akhirnya dia menemukannya, saat dia melihat sang pelaku, tubuhnya gemetaran, emosi yang tadi hampir dia luapkan hilang entah kemana. Ya, Tsunade lah pelakunya, dengan perempatan siku di dahi, dan tangan yang mengepal.

Glek. Naruto menelan ludahnya dengan susah payah, mengambil ancang-ancang untuk melakukan jurus yang biasanya disebut 'Langkah Seribu no jutsu'

"Gyaaa, seseorang tolong aku,, seorang nenek sihir sedang mengejarku" teriak Naruto sambil berlari menegelilingi ruangan, dibelakangnya terlihat Tsunade sedang mengejarnya dengan sendok penggorengan ditangannya. "Kemari kau bocah, kau membuat onar lagi" suara Tsunade menggelegar.

Para siswa juga siswi yang melihat adengan nenek-cucu yang sangat harmonis ini hanya terkekeh. Namun, raut wajah Hinata terlihat khawatir dengan keselamatan Naruto. Oh ayolah Hinata, dia itu neneknya, tidak mungkin dia ingin melukai pria idamanmu itu, kecuali babak belur sih.

Setelah puas dengan adegan larinya, Naruto kembali duduk ditempatnya, dan terihat benjolan besar dikepalanya.

"Oke sampai dimana tadi? Oh iya, karena semua sudah punya incaran, selesai acara sarapan ini, kita akan bertanya pada seseorang yang sudah berpengalaman." Kata naruto sambil mengusap benjolan dikepalanya yang membuat para anggotanya hanya mengerutkan alis, muncul sebuah pertanyaan dibenak mereka 'Yang sudah berpengalaman?Siapa?'

"Tenang saja, kalian akan tau saat bertemu dengannya nanti" seolah dapat membaca pikiran teman-temannya, Naruto berujar yang malah membuat ke-6 temannya tambah keheranan.

.

.

.

Seperti kata Naruto tadi, setelah mereka sarapan, mereka pun terlihat sedang berjalan menuju suatu tempat tujuan. Setelah beberapa lama berjalan, mereka pun sampai disebuah pondok. Naruto yang memimpin grupnya ini langsung berjalan ke dalam pondok.

"Hai Ojii-san." sapa Naruto. Sepertinya ada orang dipondok itu, para teman Naruto kemudian memasuki pondok itu dan terjadi sesuatu yang tak terduga. Terlihat seorang pria paruh baya berambut putih panjang. Siapa lagi kalau bukan Jiraya, guru sekaligus kakek Naruto yang terkenal akan kemesumannya. Beberapa dari mereka pun terlihat menyesal mengikuti rencana ketua mereka ini. Namun, demi cinta apapun akan mereka lakukan.

"Oh Naruto, mau apa kau kesini?" tanya Jiraya sambil tetap menulis sesuatu yang diketahui adalah novel. Meja kecil yang digunakan untuk menulis itu juga terdapat beberapa seri dari novel Icha-Icha. Kiba yang juga terkenal mesum -sama seperti Naruto- langsung mengambil salah satu novel itu tanpa permisi dan langsung membukanya. Neji langsung emosi, dengan sebuah jitakan akhirnya Kiba menaruh kembali buku itu.

"Ada beberapa hal yang ingin kami bicarakan dengan anda sensei" Sai yang memulai pembicaraan.

"Ya, dan ini pembicaraan yang penting." Naruto menambahkan. "Hmm, memangnya apa yang ingin kalian bicarakan?" Jiraya mulai dibuat bingung oleh para murid plus cucunya ini.

"Kau tau kan kami ini sudah remaja" Naruto kembali menjelaskan dan dijawab anggukan Jiraya. "Berarti kami, yang termasuk merupakan anak berumur 13-17 tahun, dimana hormon didalam tubuh kami membua-…"

BLETAKK

"Langsung ke intinya saja bodoh, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan" sebuah jitakan kembali bersarang dikepalanya yang dilakukan oleh Jiraya seraya memberhentikan aksi sok tau cucunya.

"Ittai, baiklah. Kami ingin menanyakan bagaimana caranya melakuan pendekatan pada gadis yang kami sukai, atau bahkan kami cintai" kata Naruto panjang lebar membuat Jiraya cengok seketika.

"Kalian para cowok yang terkenal akan kepopulerannya di sekolah tidak tahu cara mendekati gadis?" tanya Jiraya tidak percaya. Para anggota ANBU hanya mengangguk menjawab pertanyaan itu.

Jiraya menghela napas, memegangi jidatnya dan sambil geleng-geleng. Tak habis pikir apa yang baru dia dengar saat ini.

"Haah, sepertinya memang aku harus membantu kalian." kata Jiraya dengan pasrah. "Dengar yah, aku akan menjelaskan beberapa hal untuk mendekati gadis. Dan aku tidak menerima pertanyaan." Jiraya berujar, angoota ANBU mengangguk semangat.

"Beberapa cara untuk mendekati gadis itu simple. Kalian hanya perlu membuat mereka nyaman berada didekatmu, jangan membuatnya sedih dan selalu membuat dia bahagia, selalu menolongnya saat kesusahan, dan yang paling penting adalah saat kalian mengungkapkan perasaan kalian kepadanya" kata Jiraya memulai penjelasannya.

"Dan untuk kalian yang sudah terkenal dikalangan para gadis seharusnya tidak susah untuk mendekati gadis, seperti diriku. Aku ini dulunya sangat terkenal dikalangan para gadis, bahkan lebih terkenal dari pada kalian" ujar Jiraya dengan bangga membuat ke-7 muridnya sweatdrop.

"Para gadis dulunya sangat mengejar-ngejarku, Tsunade adalah salah satunya, dia selalu mengemis cinta padaku, karena aku kasian dengannya, akhirnya aku menikahinya."

'Astagaa, ceritanya sama seperti cerita Tou-chan' batin Naruto berkata.

Para teman-teman Naruto pun melihat Jiraya dedengan tatapan kagum. Mereka mulai berfikir, bagaimana terkenalnya guru mereka ini saat masih muda. Naruto pun sweatdrop melihat teman-temannya yang tidak sadar tentang omong kosong Jiraya.

Di tempat lain…

Haaachiiim

"Anda kenapa Tsunade-sama?" tanya Sizune.

"Tidak apa-apa, sepertinya ada yang membicarakanku"

"Hihihi, anda seperti mengada-ngada saja Tsunade-sama."

Kembali ke Naruto dkk.

Setelah sekitar satu jam berbincang, mereka pun pamit. Di perjalanan, mereka semua terdiam, sambil sedang memikirkan sesuatu. Naruto hanya terlihat kebingungan akan saran yang diberikan kakeknya tadi. Dia hanya memikirkan saran 'Membuat dia merasa nyaman didekatmu'. Ia selalu berfikir, Hinata selalu pingsan saat didekatnya. 'Sepertinya ini akan lebih sulit dari yang kuperkirakan' batin Naruto.

Sedangkan keenam temannya memiliki cara pemikiran berbeda, ada yang matia-matian menghafal seluruh saran dari gurunya seperti Kiba, menulisnya di buku catatan seperti Sai, bahkan ada yang mengabaikannya seperti Shikamaru.

.

.

.

Jam menunjukan pukul 01.00 siang. Para siswa NHS khususnya kelas XII sudah berkumpul didepan sebuah taman budaya, atau biasa disebut juga kebun binatang. Mereka bersiap-siap melaksanakan kegiatan dihari pertamanya, yaitu mengunjungi kebun binatang.

Setelah memberikan sedikit peraturan dan juga beberapa pengumuman, para siswa dipersilahkan bereksplorasi di kebun binatang selama 3 jam. Ya, waktu yang cukup lama untuk mendapatkan kesenangan.

Para anggota ANBU berjalan bergerombol dengan pasangan masing-masing. Ke-14 siswa siswi ini terlihat sangat bergembira.

"Oh iya, namamu Yumi kan?" tanya Naruto pada Yumi sambil menyodorkan tangan. Yumi pun menjawab sambil membalas menjabat tangan Naruto. "Iya, salam kenal yah". Hinata yang melihat adegan jabat tangan ini sedikit memanas hatinya. Cemburuan juga ni anak-_-

"Hehehe, perkenalkan namaku Namikaze Naruto, dan ini teman-temanku, yang itu Sasuke, Neji, Gaara, Sai, Shikamaru, dan yang pasti kau sudah kenal Kiba" Naruto memperkenalkan diri dan juga teman-temannya.

"Kami tergabung dalam grup ANBU" lanjutnya, Yumi hanya mengangguk. Dia tidak heran dengan nama itu karena semua teman sekamarnya selalu membicarakannya.

Percakapan diantara mereka terlihat akrab, dan menyenangkan, setelah berkeliling ke berbagai tempat, sekarang sampailah mereka ke tempat yang digolongkan dalam golongan 'Reptil', para gadis sebelumnya sempat menolak, namun dengan berbagai rayuan dari para lelaki, para gadis pun menyetujui.

Hewan yang ada sangat beragam, terdengar sedikit jeritan disana-sini yang sudah pasti disebabkan oleh para gadis yang mungkin saja takut akan hewan reptil. Hal ini membuat pikiran jahil di otak Naruto.

Dia meminta pengawas hewan itu mengalungkan seekor ular berwarna hijau berukuran kecil dilehernya, dicarinya seseorang untuk dijahili. 'Ah, ini merupakan kesempatan bagus' pikirnya. Naruto mendatangi Hinata dengan niat melakukan kejahilan sambil pendekatan. Namun, sepertinya cara yang ditempuh Naruto sedikit ekstrim.

"Hinata~" panggil Naruto sedikit manja.

"Kyaaa, Naruto-kun, aku takut ular" Hinata berusaha menghindar namun Naruto terus mengejarnya.

"Hehehe, wajah takutmu itu sangat manis Hinata"

BLUSH

Dengan serempak jantung Hinata berdetak lebih kencang dan juga wajahnya semerah kepiting rebus. 'Naruto mengatakan aku manis, Kyaaa' Hinata berkutat dengan pikirannya sendiri sambil memainkan kedua jari telunjuknnya dan jugaa menunduk malu. Teman-teman Naruto yang melihat adegan ini menjadi sedikit kagum akan ketuanya. Mungkin sesekali mereka akan mencontoh trik ini.

"Hei, apa kau sakit Hinata? Wajahmu memerah?" ujar Naruto tidak peka sambil menaruh telapak tangannya didahi Hinata. Bukannya menghilang, rona merah diwajah Hinata malah semakin menebal bahkan sampai ketelinganya. 'Jangan pingsan sekarang, kumohon' batin HInata berkata.

"A-a-aku tidak papa, Naruto-kun"

"Benarkah? " tanyanya, Hinata mengangguk.

"Tapi kalau ada apa-apa, bilang saja ke aku yah, aku akan selalu ada untukmu" kalimat yang mungkin bagi Naruto hanya kalimat biasa, namun bagi Hinata kalimat ini membuat dirinya mak-

Bruuuuk

Yah sepertinya terlambat. Sang gadis lavender sudah tergeletak tak sadarkan diri. Naruto kembali menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke ruang kesehatan (ularnya entah sudah dibuang kemana). Teman-temannya kembali hanya dibuat gemas akan tingkah keduanya ini.

Setelah waktu yang diberikan telah habis, kegiatan mengunjungi kebun binatang hari ini pun selesai, para siswa pun dipersilahkan kembali kekamar masing-masing dan beristirahat.

.

.

Jam sudah menunjukan pukul 09.00 malam. Di kamar ANBU terlihat tujuh pria sedang mendiskusikan sesuatu. Sabar dulu, sepertinya hanya enam pria yang berdiskusi, seorang lagi yang berambut nanas hanya berbaring dikasurnya sambil senyum-senyum tidak jelas.

"Bagaimana hari ini perkembangannya?" Naruto sebagai ketua berkata.

"Sepertinya lumayan bagus, aku dan Matsuri sudah semakin dekat" ujar Gaara.

"Hn, aku juga"

"Dan sepertinya aku dan Yumi sudah semakin akrab, kami sudah saling mengenal" kata Kiba. Dan sepertinya para anggota ANBU lainnya juga sudah semakin akrab dengan pasangannya.

"Tapi sepertinya aku dan Hinata belum ada perkembangan sama sekali" gumam Naruto lesu. "Dia masih sama, selalu saja pingsan saat didekatku, kalau begini bagaimana cara membuatnya nyaman jika berada didekatku." lanjutnya. Teman-temannya hanya menpuk jidat, ternyata memang ketua mereka ini tidak peka.

"Ah biarlah, aku akan terus berusaha, aku tidak akan menarik kata-kataku, karena itulah jalan hidupku" Naruto berkata sambil berapi-api.

"Ne, bagaimana denganmu Shika?" tanya Sai.

"Aku sudah tidak butuh lagi, aku dan Temari kan sudah pacaran"

Hening

1 detik

2 detik

3 detik

Kriik Kriik Kriik

"AAPAAAAAAAAAAAAAA?" teriak mereka berenam bersamaan. Ini membuat sang pengawas penginapan menegur mereka karena menimbulkan keributan.

"Ba-bagaimana bisa?"

"Kenapa kau cepat sekali?"

Dan masih banyak pertanyaan lain yang terlontar dari mulut mereka seakan tidak percaya.

Flashback : on

Terlihat 2 orang remaja sedang berdiri didepan penginapan siswi. Seorang pria bercepol nanas dan seorang gadis bercepol empat.

"Terima kasih sudah mau mengantarku" kata gadis bercepol empat.

"Hmm" jawab sang pria. Sang gadis pun hendak melangkahkan kaki masuk kedalam namun..

"Temari"

"Ya"

"A-ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu" Temari bersumpah dia melihat semburat merah dipipi Shikamaru saat mengatakan itu.

"Apa itu?"

"Se-.."

"Ya?"

"Sebena-.."

"Ya?Ya?"

"Sebenarnya .."

"Ya?Ya?Ya?"

"Sebenarnya aku.."

"SEBENARNYA KAU ITU KENAPA HAH?" teriak Temari tak sabar, Shikamaru menutup telinganya saking kerasnya raungan Temari. Shikamaru mengambil napas panjang, kemudian menghembuskannya lagi.

"Sebenarnya aku menyukaimu"

"Eh?"

"Ya, itulah yang kurasakan kepadamu, maaf ini sangat tiba-tiba. Tapi, aku hanya ingin mengatakan itu, jadi sekarang aku kembali dulu" kata Shikamaru kemudian hendak pergi namun tangannya digengganm Temari.

"Baka. Kenapa baru mengatakannya sekarang?"

"Eh?" sekarang balik Shikamaru yang kaget.

"Aku juga menyukaimu"

"Be-benarkah ?" tanya Shikamaru sambil menatap gadis ini, dan Temari hanya mengangguk.

Shikamaru tersenyum, senyum yang jarang sekali dilihat Temari. Shikamaru pun menundukan kepalanya menatap Temari, kemudian dengan perlahan mengeliminasi jarak diantara mereka. Temari yang sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya pun menutup mata. Jarak di antara mereka semakin menipipis, 3cm, 2cm , 1cm…dan

"Ehemm" deheman dari Kurenai-sensei menyadarkan mereka berdua dari kasmarannya. Mereka berdua salah tingkah, karena ingin menghindari hukuman, Shikamaru pun bertindak.

"Sampai jumpa besok, pacarku" bisik Shikamaru lalu menggunakan jurus 'Langkah seribu no jutsu' untuk menjauh dari situ.

Sementara Temari, mukanya sangat merona sekarang. Dengan kikuk pun ia melangkahkan kaki kedalam penginapan perempuan itu. Setelah beberapa saat sampai didalam, terdenngar…

"KYAAAAAAAA" teriakan dari kamar dilantai dua. Kalian semua pasti sudah tau apa penyebabnya.

Flashback : off

"Begitu." Shikamaru mengakhiri ceritanya.

"Kau tidak adil Shikamaru, kau yang duluan" Naruto mencibir.

"Iya, dasar penghianat" Kiba ikut-ikutan sambil melempar bantal kewajah Shikamaru.

Dan malam itu pun menjadi malam yang panjang dan sedikit gaduh di kamar para ANBU. Ini mungkin terjadi karena perang bantal yang sedang terjadi diantara mereka.

.

.

TBC

.

.

Hallo minna-san, ini saya update chapter 4 nih. Updatenya kelamaan yah?:( gomen yah, saya banyak tugas jadi nggak sempet nulis, jadinya agak lama. Tapi tetap aja kok, fic ini akan terus berlanjut. Hehe, bagaimana ceritanya? Maaf kalau kurang memuaskan yah. Sekarang saya mau balas review dulu.

caesarpuspita : kayaknya bukan Sasu aja deh yang sial, wkwkwk. Dan emang Shika ini kebiasaan tidurnya parah banget yah,hehehe. Hinata juga kayaknya seneng banget tuh :D. Udah pasti lanjut. Makasih yah.

YOktf : makasih yah.

NikeLagi : Emang mungkin hari sial kalee :D. Arigatou ne.

SkilerGonz : Oke deh.

mitosenju : Wah, saya sendiri juga rasa kurang greget. Tapi mudah-mudahan chap" selanjutnya bisa memuaskan yah. Arigatou ne, tapi ngomong2, maunya dipanggil apa nih?dan kamu itu cewek atau cowok?

DrunKenMist99 : Naruto gituloh :D. Oke (y)

shinji R : Sip

Rafki D'Namikaze : Sepertinya konflik dalam cinta mungkin ada, namun nanti saya sesuaikan dengan humor sama romance juga. Makasih yah.

Lucifer : Makasih ya.

yudi arata : Makasih yah. Hehehe, sepertinya di chap ini akan ketahuan. Dan saya sendiri juga untuk mikir bikin nama grup Naruto dkk itu ANBU, itu sepertinya langsung plek aja gitu. Jadi, ingat nama ANBU, langsung aja dipake. Makasih lagi yah.

Sekian dulu yah minna, terima kasih yang udah men-review, fav, and follow fic ini. Saya ucapkan banyak terima kasih. Sampai jumpa di chap selanjutnya, bye-bye…

.

Note : Update perbaikan typo, dan kata-kata yang kurang pas. Namun karena author hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan (Eaaaa #buagh), jika masih ada typo dan sejenisnya, mohon dimaafkan.

Oke Jaa ne.

Tanaka-kun desu ~