You got a new message!

Chanyeol: Baekbaek

Chanyeol: Baekbaekbaekbaek

Chanyeol: Baeeeeeeeeeee

Chanyeol: kkkkkkkk

Baekhyun: Apaan, sih?

Chanyeol: Lagi ada di rumah?

Baekhyun: Ho-oh

Chanyeol: Di kamar?

Baekhyun: Ho-oh

Baekhyun: Kenapa?

Chanyeol: Kalau begitu aku aman

Baekhyun: ?

.

.

Break Her Up

.

Chapter 03

.

.

genre: romance, drama

rated: T

notes: boys love, boy x boy

.

.

happy reading!

.

Baekhyun mengernyitkan keningnya bingung. Terkadang kalau sedang membalas chat dari Chanyeol, membutuhkan banyak sel otak jenius dari Albert Einstein, Thomas Alva Edison, dan sekawanannya yang lain untuk bisa mengerti maksud chat anak itu.

Karena tidak kunjung ada jawaban, Baekhyun kembali mengetik:

Baekhyun: Aman kenapa, sih?

Tapi, ketika ia hendak menekan tombol Send, tiba-tiba saja sesuatu—lebih tepatnya seseorang—mengetuk jendela kamarnya dan Baekhyun langsung ternganga ketika mengetahui bahwa makhluk itu adalah Chanyeol.

"Monyet idiot!" maki Baekhyun seketika sambil membuka jendelanya. Untung saja jendelanya tidak dipasangi tralis, jadi badan raksasa Chanyeol bisa masuk ke dalam kamarnya dengan mudah. "Kau tidak tahu fungsi jendela yang baik dan benar, hah?!"

"Trims, Baek...," balas Chanyeol tidak nyambung sambil mengatur napasnya. Wajar saja, memanjat ke lantai dua bukanlah sesuatu yang mudah bagi Chanyeol.

Sambil mengomel sendiri, Baekhyun melangkah ke kulkas mininya, lalu menyerahkan sebotol Pocari kepada Chanyeol. Tak perlu sungkan lagi, Chanyeol langsung meraih minuman itu dan meneguknya hingga tetes terakhir.

Sembari menunggu Chanyeol menetralkan tubuhnya, Baekhyun duduk di tepi kasur, lalu menatap tajam Chanyeol yang sedang duduk bersandar di lemarinya.

"Kenapa tidak lewat pintu bawah saja?"

"Sudah malam, Baek. Aku tidak mau mengganggu Bibi," balas Chanyeol sambil menyengir.

Baekhyun melotot. "Ini masih pukul delapan malam, idiot!"

Chanyeol mengedikkan bahunya, tak peduli. "Yeah, masih termasuk malam."

Baekhyun pun akhirnya diam saja dan membiarkan Chanyeol mengeksplorasi kamarnya, dari mejanya sampai ke koleksi novel Do Kyungsoo yang diletakkannya dengan apik di atas meja.

Ini bukan pertama kalinya Chanyeol mengunjungi kamar Baekhyun, tapi entah mengapa Chanyeol selalu merasa terkesan dengan desain kamar Baekhyun. Alasannya satu: suka berubah-ubah. Yeah, kalian perlu tahu kalau Baekhyun adalah orang yang mudah bosan, makanya ia sering—mungkin maniak—memindahkan tatanan perabotan di kamarnya setiap minggu.

Anyway, Baekhyun jadi teringat sesuatu. Ini masih pukul delapan malam dan mengapa Chanyeol bisa dengan santainya berada di sini? Pakai acara memanjat segala pula. Bukannya... anak ini seharusnya sedang bersama Seulgi?

"Lah, bocah idiot!" seru Baekhyun tiba-tiba.

Chanyeol menoleh. Seperti merasa terpanggil. "Hah?"

"Kenapa kau di sini? Harusnya kan kau ada kencan, pabo!"

Chanyeol mendesah berat, lalu duduk dengan wajah pasrah di atas kursi.

"Aku baru saja melakukan kesalahan."

Baekhyun langsung memutar bola matanya dengan jengah. Memang Chanyeol ini, ia mungkin bisa dibilang lelaki terganteng seantero sekolahnya, tapi soal cewek, dia sangat payah.

Bisa berpacaran dengan Seulgi saja karena Seulgi yang lebih dulu menembaknya. Kencan pun rata-rata harus Seulgi yang memberi kode lebih dulu, baru Chanyeol mengajaknya.

Sebenarnya, lelaki macam apa Chanyeol itu?

"Kesalahan apa?"

"Jadi begini," Chanyeol bergerak menopang kepalanya dengan tangan yang bertumpu di meja sebelahnya, "awalnya aku bingung mau membawa Seulgi ke mana. Lalu Seulgi menceritakan kalau pasar malam di lapangan kosong dekat sekolah itu sudah dibuka. Jadi, akhirnya aku dan Seulgi memutuskan ke sana."

Baekhyun manggut-manggut.

"Awalnya sih baik sekali. Kami menjelajahi isi pasar malam itu sambil bergandengan tangan," cerita Chanyeol dengan mata menerawang. "Kemudian membeli permen kapas, naik roller coaster, dan menangkap ikan. Tapi..."

"Tapi...?" Baekhyun bersuara setelah Chanyeol menggantungkan ucapannya beberapa saat.

"Tapi... semuanya langsung berubah ketika Seulgi menarikku ke ferris wheel."

Mendengar kata ferris wheel, pikiran Baekhyun langsung merambat ke mana-mana. Untuk menekan pemikiran itu, Baekhyun langsung mengepalkan tangannya.

"Jujur saja, aku tidak takut ketinggian. Tapi, entah mengapa aku merasa gugup berduaan dengan Seulgi di ketinggian seperti itu. Entah apa yang membuatku gugup."

Karena biasanya ferris wheel itu ajang ciuman panas buat pasangan, bodoh! sambar Baekhyun dalam hati.

"Dan kegugupanku semakin bertambah ketika tiba-tiba Seulgi mencondongkan wajahnya ke arahku."

Baekhyun mulai ketar-ketir mendengar cerita itu.

"Kukira kami bakalan ciuman karena aku bersumpah saat itu bibir kami tinggal satu sentimeter lagi," Chanyeol mengira-ngira satu sentimeter itu dengan jari jempol dan telunjuknya.

Baekhyun langsung mengerutkan kening ketika mendapati kalimat janggal Chanyeol. "Tapi?"

"Tapi, entah refleks atau bagaimana," Chanyeol mendesah berat, "tiba-tiba aku menarik wajahku ke belakang, lalu kami jadi canggung. Bahkan saking canggungnya, ia minta untuk cepat-cepat pulang karena teringat harus membantu ibunya di rumah. Aku tahu sih kalau itu hanya alasan, tapi karena aku juga sedang canggung, jadi aku mengantarnya ke rumah."

Baekhyun langsung menepuk dahinya. Memang, ya. Chanyeol memang seorang idiot.

"Bagaimana ini, Baek? Kau ada solusi tidak?" Chanyeol mulai merengek.

Baekhyun memijat pelipisnya sejenak, lalu mencondongkan badannya ke arah Chanyeol. "Kau itu... sebenarnya serius tidak sih menyukai Seulgi?"

"Tentu saja!" sahut Chanyeol dengan mantap. "Siapa sih yang tidak menyukai gadis cantik?"

Baekhyun lagi-lagi memijat pelipisnya. "Maksudku, kamu itu sebenarnya benar-benar menyukai Seulgi tidak, sih? Apakah kamu punya hasrat untuk menyentuhnya atau menciumnya?"

"Tentu saja!" Chanyeol kembali menyahut dengan mantap. "Aku normal dan sudah sepantasnya aku ingin berciuman dengan gadis cantik."

Baekhyun akhirnya mengabaikan jawaban kekanak-kanakkan Chanyeol dan kembali bertanya, "Terus, mengapa kau menolak saat dicium oleh Seulgi?"

Chanyeol langsung mengalihkan pandangannya dari mata Baekhyun sambil memainkan jari-jemarinya dengan gugup. "Err... k-karena... karena..."

Baekhyun berpikir sejenak, memikirkan berbagai jawaban yang memungkinkan, tapi jawaban yang memungkinkan itu sayangnya hanya ada satu.

Dan jawaban itu langsung membuat perut Baekhyun geli.

"HUAHAHAHAHA!" Baekhyun tiba-tiba ngakak luar biasa. "JADI KAU BELUM PERNAH BERCIUMAN, YEOL?!"

Wajah Chanyeol langsung memerah sepenuhnya.

"Aigoo~ aigoo~ Tak kusangka cowok populer sepertimu memiliki bibir yang masih belum disentuh~" goda Baekhyun dan pemuda mungil itu kembali tertawa keras sambil berguling-guling di atas kasurnya.

Wajah Chanyeol semakin memerah. Astaga, ini memalukan.

Tapi, sudah kepalang basah. Baekhyun sudah tahu. Percuma kalau mau membantah atau membuat alasan.

Dan sudah lewat lima menit, Baekhyun masih tak kunjung menghentikan tawanya. Karena Chanyeol lama-lama merasa gerah juga gara-gara malu, akhirnya Chanyeol duduk di atas kasur Baekhyun, lalu memukul paha laki-laki mungil itu.

"Yach! Berhentilah tertawa!" ketusnya. "Memangnya kau sendiri pernah berciuman, hah?!"

Baekhyun otomatis mengulum bibirnya. "Tidak pernah, sih."

Chanyeol langsung cemberut. "Lantas kenapa kau mengejekku, sih? Sesama yang belum pernah berciuman tidak usah saling senggol, ya."

Baekhyun nyengir. "Tapi, setidaknya aku belum punya pacar seperti kamu, ya. Kalau aku punya pacar suatu saat nanti, pasti aku akan berciuman dengannya."

Chanyeol memutar bola matanya jengah. "Yah, semoga kau punya supaya kau bisa mengajariku!"

Baekhyun mengerutkan kening. "Mengajarimu apa?"

"Berciuman lah, bodoh!"

Baekhyun menganga dengan ide konyol yang dicetuskan Chanyeol. "Maksudnya... aku... kamu... berciuman... belajar...?"

Chanyeol mengerutkan kening dalam-dalam karena tidak mengerti tatanan bahasa yang dilontarkan Baekhyun. "Kamu ngomong apa, sih?"

Baekhyun langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ah, tidak, tidak."

Chanyeol terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia menjentikkan jarinya. "Ah, benar juga!" serunya penuh binar di matanya. "Mumpung kita berdua belum berciuman, bagaimana kalau kita belajar berciuman saja?"

Baekhyun langsung tersedak dengan ludahnya sendiri. "Whatdahell?!"

"Iya. Kita berdua. Kau dan aku. Belajar berciuman. Bagaimana?"

Baekhyun langsung menolak mentah-mentah. "No way! Aku tidak mau mencium laki-laki! Apalagi kamu!"

Karena aku takut terlarut...

Chanyeol langsung menggoyang-goyangkan badan Baekhyun. "Ayolah, Baek~ Kita kan bersahabat. Ini hanya ciuman persahabatan, kok~ Supaya ke depannya aku bisa mencium Seulgi dengan hot."

Agak sakit hati dengan ucapan Chanyeol, Baekhyun langsung melemparinya dengan bantal. "Belajar saja sendiri dari Youtube!"

Chanyeol berhasil menghindari bantal itu. "Tapi, aku maunya langsung praktek, Baek~ Masa aku praktek dengan boneka Rilakkuma-ku?"

"Itu lebih baik daripada merenggut kesucian bibirku," ketus Baekhyun tak peduli.

Chanyeol akhirnya menutup mulutnya, lalu cemberut. Mungkin Baekhyun bisa tenang untuk beberapa saat karena aksi diam Chanyeol, tapi lama-lama pikirannya tak tenang juga lantaran lelaki itu sama sekali tidak mau berbicara.

"Yach! Kenapa kau malah diam?!"

Chanyeol membuang muka. Enggan menjawab.

Baekhyun semakin gemas, lalu melempar satu bantal lagi ke arah Chanyeol. Tapi dengan mudah Chanyeol bisa menangkisnya dan melemparkan bantal itu kembali ke arah Baekhyun, lalu membalikkan badannya.

"Yach! Chanyeol!" geram Baekhyun. "Chanyeol!"

Tapi Chanyeol enggan beranjak dari posisinya. Masih tetap membelakangi Baekhyun.

"Jangan abaikan aku~" Baekhyun akhirnya mulai merengek. "Yeol~"

Bahu Chanyeol yang tadinya menegang mulai melorot karena rengekan Baekhyun.

"Yeol~" Akhirnya Baekhyun benar-benar merengek. "Baiklah. Ayo, kita belajar."

Chanyeol langsung membalikkan badannya dengan mata berbinar-binar. "Benarkah?"

"Ya ya ya."

Chanyeol langsung duduk bersila di atas kasur menghadap ke arah Baekhyun, sementara Baekhyun memposisikan diri duduk mendekati Chanyeol.

"J-jadi, kita harus bagaimana?" tanya Baekhyun dengan gugup.

Chanyeol mengedikkan bahu. "Mengalir seperti air?"

Belum sempat Baekhyun merespon, tiba-tiba saja Chanyeol meraih dagunya, lalu menariknya perlahan. Sumpah demi apapun juga, Baekhyun rasanya mau mengompol di tempat saking gugupnya. Entah karena wajah Chanyeol yang terlihat ratusan kali lebih seksi dalam jarak sedekat ini atau karena sebenar lagi ia akan berciuman bibir dengan Chanyeol.

Oh, Tuhan. Mungkin karena kedua-duanya.

Dengan gerakan agak kaku, Chanyeol memiringkan kepalanya supaya bisa menggapai bibir Baekhyun. Sementara Baekhyun hanya refleks memejamkan mata, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketika bibir mereka saling bersentuhan, rasanya Baekhyun mau meleleh. Otaknya tiba-tiba poof! Menghilang begitu saja sehingga ia tidak bisa berpikir. Sendi-sendi di tubuhnya pun ikut melorot saking lembutnya bibir Chanyeol menyentuh bibirnya.

Jadi, begini rasanya berciuman dengan seseorang? Efeknya akan sehebat ini?

Hanya beberapa detik mereka saling menempelkan bibir sebelum akhirnya Chanyeol menarik wajahnya. Laki-laki jangkung itu tidak mengatakan apa-apa, melainkan ia hanya berkedip sekali. Mungkin masih syok dengan sensasi ciuman pertamanya.

Baekhyun pun sama. Malah ia menahan napasnya.

Belum sempat Baekhyun memulihkan perasaannya, tiba-tiba Chanyeol kembali memajukan wajahnya ke arah Baekhyun. Merasa ini adalah pertanda bahaya, Baekhyun langsung meletakkan tangannya di depan bibirnya, sehingga ciuman Chanyeol mengenai telapak tangannya, bukan bibirnya.

"K-kurasa sudah cukup, Yeol," kata Baekhyun dengan suara serak.

Chanyeol menarik wajahnya, lalu meringis canggung. "Yeah... kau benar."

Diam-diam Baekhyun langsung menghela napas lega. Untung saja ia bisa menahan dirinya. Kalau ia tidak segera meletakkan tangannya, bisa-bisa bahaya bin gawat.

"Jadi, bagaimana ciumanku?" tanya Chanyeol, mulai mencairkan suasana. "Tidak begitu buruk, kan?"

Baekhyun menjulurkan lidahnya. "Biasa saja. Seperti berciuman dengan manekin. Tidak ada rasa," katanya. Dan tentu saja itu bohong.

Chanyeol hanya mencibir, lalu mengacak-acak rambut Baekhyun. "Sudah, ah. Aku pulang dulu kalau begitu."

Ketika Chanyeol bangkit dari kasurnya, Baekhyun juga mengikutinya. Kemudian ia hanya memperhatikan Chanyeol dalam diam sampai Chanyeol benar-benar menapaki tanah. Ia hanya berbicara ketika Chanyeol melambaikan tangan dan berseru, "Sampai jumpa besok!"

Baekhyun melambaikan tangan dan membalas, "Hati-hati, Yeol!"

Kemudian jendela ditutup. Rapat-rapat.

-o0o-

Peraturan pertama dan satu-satunya kalau berteman dengan Baekhyun adalah jangan pernah mengganggunya kalau sedang dalam kondisi bad mood. Kalau kau melanggarnya, mungkin kau akan bernasib sama seperti Jongdae, salah satu teman sekelasnya.

"Hei, hei, Baek~" sapa Jongdae dengan ramah sambil merangkul Baekhyun yang sedang berjalan seperti zombie.

Dengan kantong mata yang menghitam di bawah matanya, Baekhyun memandangi Jongdae dengan tidak berselera. "Enyahlah, Jongdae."

Tapi memang dasar Jongdae yang kurang peka, ia malah semakin mempererat rangkulannya di bahu Baekhyun. "Heyho~! Kenapa kau sangat tidak bersemangat hari ini, Baek? Kau kurang sarapan?"

Baekhyun menggeram. "Menyingkirlah, Jongdae..."

Jongdae semakin bersemangat untuk mengoceh. "Yach! Setidaknya tersenyumlah, Baek. Ayo, ayo, senyum~"

Baekhyun langsung meledak. Dunia terancam kiamat.

"ARGH! BISAKAH KAU MENYINGKIR DARI HADAPANKU, SIALAN?!" Baekhyun langsung menepis tangan Jongdae dengan kasar, lalu berjalan mendahului Jongdae dengan langkah yang tak kalah kasar.

Sementara itu Jongdae langsung kicep di tempat. Ia baru bergerak ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya.

"Sudah tahu Baekhyun gampang meledak kalau sedang PMS, kau malah menambah kemarahannya," komentar Jongin, teman sekelasnya dan Baekhyun juga, sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Jongdae hanya memamerkan wajah memelas sepanjang hari.

Kembali kepada Baekhyun, ia pun akhirnya masuk ke kelas dengan aura negatif menyelubungi seluruh tubuhnya, lalu langsung melemparkan tas di atas meja, kemudian duduk dengan wajah tertekuk.

Kalau kalian tahu alasannya, pasti kalian akan memakluminya.

Jadi, kemarin malam, setelah Baekhyun mengunci jendelanya, ia langsung melemparkan dirinya ke atas kasur sambil membenturkan kepalanya ke headboard. Bergalau ria seorang diri.

"Idiot kau, Baek. Idiot," ucapnya berkali-kali dengan mata yang mulai berair.

Bagaimana tidak? Beberapa menit lalu ia baru saja merelakan ciuman pertamanya, kawan! Mungkin memang belum bisa disebut ciuman karena hanya saling menempel. Tapi, apa lagi nama yang pas selain ciuman untuk kegiatan menempelkan bibir dengan bibir?

Itu sih tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah ia merelakan itu pada seseorang yang sebenarnya disukainya, tapi ia tidak bisa menyukainya.

Oke, apakah itu berarti kau mau mengakui bahwa kau menyukai Chanyeol, Baek?

"Bukan begitu," lirih Baekhyun. Akhirnya ia menghentikan kegiatan membentur-benturkannya karena sudah merasa sangat sakit. "Aku hanya... aku... tidak boleh menyukainya..."

Baekhyun pun menangis. Merelakan pertahanannya runtuh untuk sesaat.

Oh, lihatlah nasibnya saat ini. Ia menyukai seseorang, tapi orang tersebut belum tentu menyukainya. Mungkin mustahil untuk menyukai Baekhyun karena orang itu sudah mempunyai pacar yang disukainya.

Dan sekarang malah ia bersikap seperti jalang yang mengobral-obralkan tubuhnya begitu saja pada orang yang tidak menyukainya. Memang terlalu berlebihan kalau disebut jalang. Tapi... ini menyangkut bibir, bung! Awal dari segalanya!

Bagaimana kalau suatu saat nanti Chanyeol kembali menyelinap dan ia bercerita bahwa ia gagal melakukan 'itu' karena ia tidak tahu bagaimana cara melakukannya? Apakah Baekhyun juga akan merelakan keperjakaannya pada lelaki itu?

Baekhyun menggigit bibirnya kuat-kuat. Enggan menjawab pertanyaan itu sendiri.

Di sisa malam itu, Baekhyun hanya merenung seorang diri. Membiarkan pikirannya lari ke mana-mana karena ia sendiri tidak bisa tidur. Walaupun ia sudah meminum habis semua susu strawberry-nya, tetap saja bayangan Chanyeol yang memejamkan mata sambil menciumnya tidak dapat Baekhyun lupakan.

Astaga, ia benar-benar menyukai Chanyeol. Semuanya.

Dari wajah, sikap, suara, kecerdasan—dan saat ini ciumannya harus masuk ke dalam daftar hal-hal yang Baekhyun favoritkan dari Chanyeol.

Tapi, mengingat kembali akan Seulgi membuat Baekhyun murung.

Ini benar-benar dilema. Sangat dilema.

Oh, bahkan ia dilema bagaimana ia harus berhadapan dengan Chanyeol di sekolah besok. Apakah Baekhyun harus bersikap biasa? Atau...

...menghindarinya?

Sounds good.

"Baek?"

Great. Bahkan belum lagi ia sanggup melupakan ciuman itu, tiba-tiba ia dapat mendengar suara berat Chanyeol.

"Baek, bangunlah." Kali ini suara berat itu ditambah dengan tepukan di bahunya.

Ergh, menyingkirlah, geram Baekhyun dalam hati.

"BAEK! BANGUN!"

Baekhyun langsung membuka matanya sambil berteriak, "APA LAGI MAUMU?!"

Napasnya langsung terengah-engah. Keringatnya bercucuran memenuhi wajahnya. Dan entah mengapa saat ini ia sedang memeluk jaket Supreme hitam yang sudah dikenalinya sebagai milik Chanyeol.

"Baek, sudah jam istirahat. Mau makan?"

Suara berat itu langsung membuatnya menoleh. Matanya melebar ketika melihat Chanyeol sedang tersenyum lembut ke arahnya, menunggu jawabannya.

"K-kenapa..."

"Kau tertidur, dasar bodoh. Sudah kubangunkan beberapa kali, tapi tetap saja kau tidak bangun-bangun. Jadi, aku menukar tempat dudukmu dengan tempat dudukku supaya kau bisa terhalang dari pandangan para guru," jelas Chanyeol dengan sabar.

Kebaikan hati Chanyeol langsung membuat Baekhyun terenyuh. Entah mengapa, ia merasa seperti orang yang paling jahat di dunia.

Lihatlah, Chanyeol saja tidak apa-apa dengan hal itu. Tapi, kenapa Baekhyun malah bersikap aneh?

Lagipula, bukankah Chanyeol kemarin malam sudah memperingatkan kalau ciuman waktu itu hanyalah ciuman persahabatan?

Berhenti melakukan hal yang berlebihan, Baek!

Baekhyun langsung tersentak ketika mendengar suara itu muncul dari dalam dirinya. Baekhyun terdiam sejenak, lalu menggoyangkan kepalanya, kemudian menghela napas.

Entah mendapat pasokan dari mana, tiba-tiba senyuman Baekhyun mengembang begitu saja. "Terima kasih, Yeol."

"Tidak apa-apa~"

"Tidak, Yeol." Baekhyun menggeleng, lalu menyentuh punggung tangan Chanyeol yang sedari tadi diletakkan di atas meja Baekhyun. "Aku serius, terima kasih banyak."

Chanyeol mengedipkan matanya sekali, lalu terkekeh geli. Ia pun langsung mencubit sekilas pipi halus Baekhyun, kemudian berkata, "Tidak apa-apa, chagiya~"

Baekhyun bangkit berdiri dari tempat duduknya, lalu mengernyit heran. "Tumben kau memanggilku Chagiya lagi?"

"Kangen," jawab Chanyeol dengan singkat sambil menyengir. Sukses membuat Baekhyun berdebar tak karuan.

Ya, Tuhan. Aku benar-benar suka dia...

Tiba-tiba saja Baekhyun teringat akan ucapan Yoora.

"Bagaimana kalau kau merebut Chanyeol dari Seulgi?"

Baekhyun mengedip sekali. Mulai merasa kompetitif.

Y-yeah...

Kenapa tidak?

.

.

.

To be continued.

.

Haiiii! Firstly, gue mau ngucapin selamat berpuasa buat kawan-kawan yg melakukannya! Semoga sukses puasanya dan nggak ada yg bolong ya genks :)

Makasih banyak buat yg tetap review, fav, dan follow fanfic ini. Semoga kalian-kalian tersesat lagi ya ke sini XD Saranghaeyo. e)(o saranghaja!

PS: Btw, comeback EXO bener-bener sukses bikin gue jerit gegulingan. Gakuku oppa~