Tiada Yang Mustahil

by: Shin Chunjin

Semua character asli KnB adalah milik Fujimaki Tadatoshi sensei.

Cerita "Tiada Yang Mustahil" adalah milik saya seorang.

Warning alert: typo, ooc, gaje

Enjoy~

Kepada yang mereview, kubalas via PM ya. Bagi pembaca yang baru mengikuti, selamat menikmati dan mohon review-nya~

Selamat membaca!

.

.

Author's POV

Jam empat sore, menandakan seleksi klub basket Universitas Tokyo akan dimulai. Karena peminatnya sangat banyak, sudah menjadi tradisi bahwa akan ada penyeleksian terhadap calon anggota baru. Bagi yang tidak lolos, latihan mereka akan dijadwalkan di hari yang berbeda dengan anggota yang lolos. Lolos disini maksudnya adalah diterima sebagai anggota tetap dan latihan bersama dengan senior anggota tetap lain, namun belum sampai pada tingkat anggota tim.

Gedung M tampak sangat ramai dengan calon anggota baru itu sendiri maupun dengan anggota tetap tim. Akashi dan yang lainnya bersama-sama menuju lapangan indoor yang digunakan sebagai tempat penyeleksian dan tempat latihan rutin nanti. Banyak decakan kagum ketika memasuki pintu lapangan indoor itu. Bayangkan saja, ada tujuh lapangan basket di dalamnya, dan tempat duduk penonton di atas itu begitu luas. Seperti lapangan sepak bola saja. Benar-benar, fakultas pendidikan jasmani ini tidak bisa dianggap sepele!

Ketika semua calon anggota baru sudah berbaris rapi, kapten tim dan beberapa pelatih segera membagi kelompok. Yang perempuan di sebelah kanan dan yang laki-laki di sebelah kiri. Akashi melihat sebagian besar mahasiswa baru yang berminat bergabung adalah laki-laki. Dia mengamati orang-orang yang ada disekitarnya itu, menilai apakah saingannya itu kuat atau tidak. Ada yang Akashi kenal selain anggota Kiseki no Sedai, seperti Kagami Taiga, Himuro Tatsuya, Takao Kazunari, dan Sakurai Ryou.

Akashi beralih melihat barisan mahasiswi di sebelah kanan. Dia melihat gadis berambut coklat itu sedang berbicara dengan yang lain. Suasana kelompok perempuan tidak semencekam kelompok laki-laki, yang membuat Akashi memutar ingatannya tentang prestasi yang pernah diraih klub ini. Seingatnya, tim perempuan tidak pernah menang di final. Akashi menghela nafas memaklumi. Pantas saja tidak pernah menang kalau setiap latihan tidak serius, pikirnya.

Peluit pun ditiup, tanda penyeleksian akan segera dimulai. Seleksi diadakan dengan cara mini-game dengan anggota tingkat dua. Kelompok mahasiswi dibawa ke lapangan yang paling ujung. Tak lama, ke tujuh lapangan basket indoor itu terpakai semua. Satu untuk latihan anggota tetap tim, satu untuk latihan anggota tetap klub tingkat empat, satu untuk latihan anggota tetap klub tingkat tiga, satu untuk latihan anggota tetap klub tingkat dua, satu untuk latihan anggota tetap klub tingkat satu, satu untuk penyeleksian, dan satu lagi untuk yang perempuan.

Akashi mengamati, tampaknya latihan anggota klub didasari dengan angkatan. Sesama semester tiga akan latihan dengan yang semester tiga, merekalah yang disebut anggota tingkat dua. Akashi akan masuk ke tingkat satu apabila dia lolos seleksi ini, dan Akashi pun yakin dia akan berhasil. Akashi melihat yang dia kenal tidak ada yang sekelompok satu sama lain. Dia tidak memikirkannya, lagipula mereka akan menghadapi anggota klub, bukan satu sama lain. Selesai memberi penjelasan, pelatih utama bersiap untuk memulai mini-game yang pertama. Yang akan memberi penilaian adalah pelatih utama, ketua klub, dan kapten tim sendiri. Baru saja peluit hendak ditiup, ada keributan dari kelompok mahasiswi. Penyebabnya adalah...

Si gadis berambut coklat.

Dia tampak keberatan melihat yang laki-laki memakai lapangan begitu banyak. Di satu lapangan terakhir ini, anggota tetap tim, anggota tetap klub, dan calon anggota yang hendak diseleksi ditempatkan. Anggota tetap tim dan calon anggota yang akan diseleksi ini terpaksa berbagi lapangan sehingga hanya setengah lapangan saja yang digunakan untuk seleksi yang juga berupa mini-game dengan anggota tetap klub. Jika Akashi tidak salah tangkap, gadis itu protes pada pelatih dan kaptennya dan hendak menghadap pelatih utama.

Kapten tim perempuan sudah berusaha untuk mencegahnya, namun karena pada dasarnya kapten itu lemah lembut dan Shiki (kalau sudah kesal) sangarnya tingkat akut, maka tak lama kemudian gadis itu pun sudah berada di hadapan pelatih utama dan mini-game pertama tak jadi berlangsung.

"Pak Pelatih! Siapa yang menetapkan aturan ini?" Shiki langsung bertanya to the point.

"Apa maksudmu? Kau menghambat saja. Lebih baik kau kembali ke tempatmu," kata ketua klub. Dia takut kaptennya akan meledak karena tingkah Shiki yang berani ini.

"Kenapa yang perempuan hanya mendapat satu lapangan? Padahal mereka juga anggota tetap tim dan anggota tetap klub ini, bukan?" Shiki tidak beranjak dari tampatnya, malah menatap pelatih utama, ketua klub, dan kapten tim laki-laki bergantian untuk mendapat penjelasan.

"Kau akan mengerti setelah melihatnya sendiri. Tim perempuan tidak sebanyak dan sehebat laki-laki. Kami mengejar prestasi membawa nama universitas, tentu saja harus serius dalam berlatih. Untuk apa aku memberikan jatah lapangan yang banyak untuk kalian? Toh selama ini kalian tidak pernah menjuarai final," pelatih utama dengan sangat tenang menjawab.

Ketika mendengar hal itu, Akashi merasa sedikit tidak setuju. Namun, ini bukan urusannya. Tidak ada artinya apabila dia ikut campur. Berbeda dengan Shiki, yang mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan amarahnya. Shiki merasa harga dirinya sebagai perempuan tersinggung mendengar kata-kata pelatih utama tadi. Ekspresi pelatih tim perempuan dan semua anggota tetapnya pun sama, sedih dan tak bisa melawan. Shiki menghela nafas untuk menenangkan diri dan mengajukan sebuah tantangan.

"Etto.. Kapten," Shiki tidak tahu nama kapten tim laki-laki itu namun ia tidak peduli. "Izinkan aku melawan anggota tetap tingkat duamu."

Semua yang mendengar kata-kata Shiki terkejut. "Jika aku berhasil mengalahkan mereka, mohon berikan satu lapangan lagi untuk tim perempuan. Jika aku kalah, aku akan mengundurkan diri dari calon anggota klub dan tidak akan pernah muncul lagi di depan klub basket."

"Heh.. Kau mau mengundurkan diri atau tidak, itu tidak ada untungnya untukku. Kau malah merugikan seluruh anggota yang ada di sini dengan kekeraskepalaanmu dan hal itu tak terbayarkan hanya dengan kau mengundurkan diri," kata ketua klub.

"Aku yakin aku tidak akan kalah. Aku bisa memastikan tim perempuan dapat mengalahkan tim laki-laki," Shiki membalasnya dengan mantap. "Kalian setuju, kan?" Gadis itu melihat ke arah tim perempuan.

Tak ada satu pun yang menatapnya. Mereka tidak berani mengambil resiko untuk mencoba melawan tim laki-laki. Meski hanya tingkat dua, kemampuan laki-laki dan perempuan sangatlah berbeda. Pelatih tim perempuan pun menggeleng sedih, dia tidak bisa mendukung rencana gadis berambut coklat ini.

Pelatih utama pun tersenyum puas. "Hahaha... Kau lihat? Mereka tidak jauh berbeda dengan pengecut yang hanya bisa mengeluh di belakang. Sekarang, lebih baik kau menyingkir dari sini dan bergabunglah dengan mereka." Tatapan pelatih utama itu benar-benar tidak menyenangkan.

Ya Tuhan, apakah penilaiannya selama ini salah? Shiki menggigit bibir, tidak rela apabila dia harus menyerah sekarang. Namun, secara tidak terduga pintu lapangan indoor terbuka dan masuklah enam orang gadis.

"Kau tidak sendirian, Shiki." Kata gadis berambut oranye.

"Shiki-chan! Long time no see!" Seru gadis berambut pirang sambil melambaikan tangannya.

"Yo, Shiki! Maaf kami terlambat." Gadis berambut ungu ini melambai sambil tertawa.

"Ini semua karena Ren-chan! Kami jadi terlambat ikut seleksi, kan." Gadis kecil berambut hitam ini menyikut gadis di sebelahnya.

"Ahaha, maaf maaf," kata gadis berambut silver sambil mengusap rusuk yang disikut.

Gadis berambut merah muda yang Akashi kenal, Momoi Satsuki, membawa masuk lima orang yang tampaknya mengenal gadis berambut coklat itu. "Maaf kami terlambat, ketua klub, pelatih, dan kapten. Kami sedikit tersasar ketika hendak menuju ke sini," kata Momoi sambil membungkukkan badan.

Shiki ternganga tak percaya. Lima orang teman bermain basketnya di Amerika, yang tidak dia beritahukan tentang masalah tunangan dan sebab dia harus ke Jepang, tiba-tiba saja muncul dihadapannya. Apakah dia bermimpi?

"Ayase-chan, Hoshi-chan, Rin-chan, Nagisa-chan, Ren-chan!" Shiki memeluk mereka semua. Senyumnya merekah sambil menatap ke lima temannya itu, "Kalian mau membantuku?"

"Hah! Sudah pasti, kan" seringai gadis berambut ungu, disertai anggukan yang lain.

"Sat-chan! Tak kusangka kau di sini juga. Aku merindukanmu," kata Shiki sambil memeluk Momoi.

"Aku juga tidak tahu kau di sini. Jahat, tak mengabariku kalau kau akan datang," Momoi pun memeluknya sambil cemberut.

"Gomen~ Sekarang, sudah saatnya aku menyelesaikan taruhanku," Shiki kembali menghadap ketua klub dan pelatih utama. "Aku sudah siap untuk memenangkan satu lapangan tambahan bagi tim perempuan. Bagaimana, Kap~ten? Kau tidak takut menyuruh anggotamu melawan perempuan, kan?" Shiki tersenyum menantang.

Calon anggota laki-laki menatap ke arah kapten dan pelatih utama tersebut, mereka bisa merasakan ketegangan suasana. Akashi diam-diam tertawa. Gadis itu benar-benar berbahaya, pikirnya. Meskipun belum ada perintah apa-apa, calon anggota laki-laki sudah mengosongkan lapangan dan berdiri di pinggir. Mereka sangat tertarik untuk menontonnya. Sang kapten dan ketua klub pun melirik ke arah pelatih utama, menunggu perintah apa yang akan dikeluarkan.

"Nijimura! Kau yang menangani dia!" Pelatih utama benar-benar kesal karena merasa diremehkan oleh gadis ingusan, dan dia pun menyuruh tim inti yang turun.

"Baik, Pelatih," jawab sang kapten, lalu menatap tajam ke arah Shiki. "Riwayatmu hanya sampai di sini, gadis kecil."

Seisi lapangan indoor hening, hanya ada tim inti dan tim Shiki yang melakukan pemanasan. Tak ada yang menebak bahwa pelatih utama akan mengutus tim inti langsung. Hasilnya sudah jelas, kan? Tidak mungkin tim inti Universitas Tokyo dikalahkan oleh sekelompok perempuan? Apalagi hanya ada satu gadis yang tingginya lumayan, sisanya tidak terlalu tinggi. Mana mungkin menang melawan laki-laki yang tingginya bisa dua kali lipat dari mereka.

Akashi dan yang lainnya duduk di pinggir lapangan sisi tim Shiki. Entah kenapa ada yang mengganjal hatinya melihat tim itu. Tapi apa? Lamunannya buyar ketika Kuroko mengangkat suara, bertanya pada teman-teman terdekat.

"Menurut kalian, siapa yang akan menang?"

"Sudah pasti tim inti, kan. Nijimura senpai ternyata ada dalam tim inti. Benar-benar tak kusangka-ssu."

"Aku tidak tahu. Rasanya ada yang tidak beres, nanodayo," kata Midorima sambil menghela nafas.

"Kau merasakannya juga, Midorima?" Akashi berpaling menatap Midorima yang sedang menaikkan kacamatanya.

Midorima mengangguk, Aomine pun menimpali hal yang sama. Murasakibara hanya menatap bosan kedua tim yang sedang pemanasan. Kagami dan Kise heboh menanyakan apa yang aneh. Akashi kembali memperhatikan gadis berambut coklat ini. Apa yang mengganggu pikirannya? Sepertinya jawabannya akan muncul sebentar lagi, pikirnya.

Waktu pemanasan habis. Kedua tim bersiap untuk memulai pertandingan. Bukan mini-game, selainkan pertandingan yang sesungguhnya. Sebelumnya, Shiki sudah memilih pemain sebagai cadangan. Melihat kesungguhan Shiki, pelatih tim perempuan, Cornelia Mastina, mendukung dan berhasil menyemangati tim inti perempuan menjadi pemain cadangan. Mereka semua menaruh harapan pada Shiki agar bisa menyejajarkan kedudukan perempuan dalam klub ini.

"Saa.. Mari kita tunjukkan kehebatan perempuan!" Seru Shiki, disambut oleh semua anggota perempuan.

Pertandingan antara tim inti laki-laki dengan tim amatiran perempuan akan segera dimulai, dan jawaban dari keanehan yang dirasakan anggota Kiseki no Sedai akan segera terungkap.

-to be continue-

Hi minna... Chun's here! Terima kasih telah me-review, membaca, memfavorit, dan/atau memfollow ff pertama saya ini.

Maaf sebelumnya, aku tidak pintar mengarang nama.. Rasanya frustasi sekali ketika hendak menentukan nama-nama orang. Jika terlalu banyak OC-nya, aku rasa kalian yang membaca akan bingung.. #alasanauthor #sebenarnyayangpusingauthor #peacesign

Namun, cerita ini sudah jadi. Kuharap kalian dapat memahami dan menikmatinya ya.

Mohon di-review.. Kritik dan saran apapun akan sangat berguna untuk memotivasi saya.. :D

Please don't be a silent reader.. Press the "Review" button and write what are you thinking about this story. Thank you~

Salam sejahtera,

Shin Chunjin