DO YOU WISH TO KNOW THE TRUTH?

Disclaimer :

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Do you wish to know the truth? © Akabane Kazama

Genre (s) :

Suspense

Drama

.

.

Chapter 4

.

.

Kau ingin aku melakukan apa untuk bisa meyakinkanmu?

.

.

Malam berakhir dan pagi pun menjelang. Genangan air sisa hujan kemarin memenuhi jalanan. Udara juga terasa lembab dan bunyi kodok masih terdengar hingga ke ujung lorong terjauh. Awan hitam tak ingin menyingkir dari penglihatan sang surya. Namun jika dirinya bersinar seterik ini, ia yakin siang nanti cuaca akan kembali cerah dan aktivitas bisa dilanjutkan kembali.

Bicara soal aktivitas, mengapa ia belum berangkat juga? Bukankah 'sekolah' dimulai pada jam 08.00 pagi? Seharusnya ia sudah bersiap-siap sekarang.


Sempit dan gelap. Seperti itulah ruangan tempat dirinya berada sekarang.

Perasaannya tak enak. Sesak. Ia tak bisa melihat apapun di sekitarnya, hanya bisa menangkap siluet yang terbaring di atas lantai, tak jauh darinya. Sebagian dari dirinya tak mengenalnya, tetapi sebagian lainnya merasakan kerinduan yang tak dapat dibendung. Ia mengulurkan tangan, mencoba menjangkau sosok yang masih terbaring tak bergerak. Digguncang-guncang tubuhnya, namun tetap tak ada reaksi. Malah ia mendapati sesuatu yang tak terduga ketika menyentuh tubuh itu.

Cairan merah pekat membasahi seluruh telapak tangannya.

Seketika itu juga jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya bergetar. Matanya berputar-putar. Detik berikutnya, semuanya menjadi hitam


Lelaki berambut crimson red itu terbangun dengan tubuh penuh keringat dan napas tak beraturan. Hal pertama yang ia lihat adalah lampu krem bundar yang tergantung di langit-langit kamar. Lama ia terbengong, sebelum akhirnya pertanyaan demi pertanyaan datang dengan begitu liar seperti banteng mengamuk dalam pikirannya, "a-apa itu tadi?"

Sebuah mimpi, kah? Atau sebagian dari ingatannya yang hilang?

Tapi itu terlalu nyata untuk disebut mimpi, dan terlalu membingungkan untuk sebuah kenyataan. Jarum jam berlapis cat fluorescent yang menyala dalam gelap menunjukkan angka 07.00. Tak lama lagi sekolah akan dimulai. Namun setiap ia berusaha bangkit dari tidurnya, kepalanya mendadak pusing. Pandangannya menjadi kabur. Keringat dingin kembali mengalir, membasahi seluruh baju yang ia kenakan. Percuma. Dirinya tak bisa bergerak sedikitpun dengan sakit yang begitu hebat ini. Sepertinya hari ini ia tak akan bisa masuk sekolah. Kagami mengambil handphone yang berada tak jauh darinya, "setidaknya aku harus mengabari Himuro dan Hyuuga senpai sebelum mereka cemas." dan jari jemarinya mulai menari, mengetik kata demi kata sebelum akhirnya menekan tombol 'send'

Kagami menghembuskan napas yang terasa dingin, panjang sekali. Ia menutup mata, mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kaku. Namun setiap kali kegelapan menerpa dirinya, ingatan itu kembali melintas. Begitu jelas, begitu nyata. Alisnya berkerut dan dahinya mengernyit. Ia tak akan bisa beristirahat jika seperti ini. Kagami kembali membuka kelopak mata yang tadinya ia tutup, berniat untuk memandang langit saja.

Dan yang didapatinya malah sesosok anak laki-laki dengan warna rambut yang serupa.

Kalau dalam keadaan normal, seharusnya Kagami terkejut—atau parahnya melonjak kaget dan langsung berseru marah. Namun tubuhnya terlalu lelah untuk itu. Yang bisa ia lakukan hanyalah balas menatap sang hantu yang masih melayang di depannya, "Kagami-kun. Kenapa kau tidak sekolah hari ini? Kau membolos, ya?"

Kagami menggerak-gerakkan tangannya, mengusir Kuroko yang terlalu dekat dengan wajahnya, "aku sakit, tahu. Tak bisa sekolah hari ini."

Anak laki-laki bersurai biru itu mendarat dan duduk di samping tempat tidur Kagami. Kepalanya disandarkan di atas tempat tidur, "ternyata kau bisa sakit juga ya. Kukira orang bodoh tak pernah sakit."

Oke. Ia bisa merasakan lebih dari satu perempatan muncul di dahinya. Kuroko bangkit dari duduk, berjalan menuju kamar mandi. Kagami dapat melihatnya karena pintu kamar mandi tak ditutup, lelaki itu sedang memanaskan air. Setelah beberapa kali memasukkan ujung jarinya ke dalam bathub, merasakan apakah panasnya sudah pas atau belum, ia memasukkan sebagian ke dalam ember berukuran sedang. Ia kembali ke ruangan awal, dengan ember dan selembar handuk lembut di tangannya—asap putih mengepul-ngepul keluar. Tanpa menunggu persetujuan sang lelaki yang sedang sakit, Kuroko langsung menempelkan handuk yang telah direndam air hangat ke dahinya, "kalau begitu kau harus beristirahat. Tak ada yang lebih membosankan daripada terbaring di atas kasur, tak bisa melakukan apa-apa."

Anjing hitam putih yang dipungut Kuroko kemarin, menyadari bahwa kedua pemiliknya sudah datang, langsung berlari keluar dari dalam kotak butut di sudut kamar dan melompat naik ke atas tubuh Kagami—membuatnya langsung merinding ketakutan. Kuroko tersenyum, "lihat. Bahkan Nigou juga khawatir denganmu."

Anjing—yang diberi nama 'Nigou' itu—menyalak sekali, seakan menyetujui perkataan sang hantu. Melihat mereka berdua, amarah Kagami langsung surut. Meskipun memiliki mata kosong dan ekspresi kalem yang sama, Kagami bisa menangkap secercah kecemasan dibaliknya. Baru kali ini ia melihatnya seperti itu. Suasana pun berubah menjadi hening, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kagami memandang ke luar jendela, menatap langit biru yang mulai terlihat setelah awan-awan hitam pergi karena teriknya matahari bersinar. Mimpi yang didapatnya kemarin lagi-lagi membayangi. Ia ingin bertanya, namun apakah itu pilihan yang tepat?

"Ano...Kuroko." lelaki berperawakan besar itu kembali mengalihkan pandangan pada Kuroko yang sedang membaca salah satu bukunya. Walau kedua manik polosnya masih terpusat pada lembaran bertuliskan tinta hitam, Kagami yakin ia mendengarkan, "kalau boleh tahu—" ia menelan ludah, mencoba memilih kata-kata yang tak terlalu menyinggungnya, "—mengapa kau bisa jadi hantu?"

Alisnya terangkat sedikit begitu mendengar pertanyaan yang Kagami lontarkan tiba-tiba tadi. Tangannya mungilnya mencengkeram buku dengan amat kuat, tubuhnya gemetaran meskipun pelan. Caranya membalikkan halaman buku terasa kaku. Dari tindak tanduknya, Kagami tahu ia telah melewati garis batas yang seharusnya tak ia sebrangi. Lelaki yang merasa bersalah itu membuka kedua bibir pucatnya, ingin berkata bahwa ia tak perlu menjawabnya. Namun suara kalem Kuroko yang terdengar lebih tegas dari biasanya memotong, memecah kesunyian yang mencekam, "maaf. Tapi aku tak bisa menjawabnya. Aku tak ingat apa-apa dengan kehidupanku yang sebelumnya."

Matanya yang kosong terlihat lebih kosong daripada sebelumnya. Kedua alisnya berkerut dan sudut bibirnya menekuk tajam ke bawah, "b-baiklah..." Kagami tahu tak ada gunanya bertanya lebih lanjut daripada itu. Meskipun jelas bahwa Kuroko berbohong, ia merasa hubungan pertemanannya dengan sang hantu akan hancur seketika jika ia memaksanya untuk bercerita. Lagi-lagi sunyi menyerang mereka, kali ini lebih dalam. Kagami jadi agak menyesal. Sekarang dirinya merasa canggung untuk berbicara dengan Kuroko.

"Kagami-kun, bukankah kau seharusnya beristirahat?" Kuroko menutup bukunya, melihat Kagami dengan mata yang sama. Ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, "kau tak akan sembuh kalau kerjanya memandang langit terus seperti itu."

"Ah...kau benar." ragu-ragu, ia menjawab. Sedari tadi juga, ia berusaha untuk tidur. Namun bagaimana kalau ingatan mengerikan itu kembali muncul saat ia sedang tidur?

Di tengah kebimbangannya itu, ia bisa merasakan kehangatan di tangannya. Saat ia menoleh, Kuroko sudah terlelap di sisi ranjang. Pipinya yang pucat menempel—lebih tepatnya menembus—tangan Kagami yang dingin. Padahal hantu tak memiliki tubuh fisik, tapi entah mengapa perasaan hangat menyentuh kulit lelaki yang sedang demam itu.

Ternyata hantu juga bisa kelelahan, ya? gumam Kagami.

Aneh. Rasa cemas yang tadinya memenuhi dirinya perlahan-lahan menghilang setelah melihat wajah tidur sang hantu yang kelihatan seperti seekor anjing kecil—mirip seperti Nigou yang ikut-ikutan tidur, masih di atas tubuh Kagami. Tak terasa, dirinya memaparkan sebuah senyum simpul sebelum akhirnya memejamkan kedua matanya.


Aah...akhirnya dia menanyakan pertanyaan itu.

Apakah itu artinya sebagian dari ingatannya telah kembali?

Apa yang harus dilakukannya? Apakah ia harus menjawab pertanyaan itu? Tapi masih banyak misteri yang belum terkuak di dalam kehidupan barunya. Dan lagi ia masih harus waspada pada 'orang itu'. Dirinya yakin, kemarin lelaki itu sudah bertemu dengannya. Ramalan Oha-asa juga mengatakan bahwa pasangan terburuk Leo hari itu adalah Sagitarius.

Oh, ya. bukankah hari ini Aquarius berada di peringkat paling atas? Mungkin ini waktu yang tepat, mengingat tingkat kecocokannya dengan Leo tak terlalu bagus akhir-akhir ini.


Kalau dilihat dari jarum jam yang menunjukkan angka 02.30, sepertinya ia sudah tidur cukup lama. Tak ada yang berubah di kamarnya. Yang berbeda hanyalah Nigou yang sudah terbangun dari tidurnya, dan sekarang berlarian senang di sekitar kaki Himuro yang sedang mengganti air hangat di ember dengan yang baru. Lelaki berambut hitam kelam itu memamerkan senyum lebar dan perasaan lega terpancar begitu jelas di wajahnya, "Taiga, bagaimana perasaanmu? Sudah baikan?"

Kagami mencoba bangun. Masih agak sakit, tapi tak separah tadi, "ya. Sudah lebih baik."

Himuro langsung mengambilkan air mineral dan memberikannya pada Kagami, "lagipula, kenapa kau bisa demam? Kau bukanlah tipe orang yang tak menjaga kesehatan, mengingat kau ikut dalam klub basket."

Lelaki berambut crimson red itu menghabiskan air yang disuguhkan dalam sekali teguk. Diletakkannya cangkir yang sudah kosong di atas meja, "kemarin aku kehujanan." Ia menjawab asal. Kagami merasa, sekarang bukan waktu yang pas untuk membicarakan mimpi tak jelas yang menyerangnya tadi pagi.

.

"Apakah kau yakin bahwa 'Himuro Tatsuya' itu...memang temanmu?"

.

Atau lebih tepatnya ia tak ingin Himuro tahu tentang hal itu.

"Aku akan memasakkan sesuatu untukmu. Kau pasti lapar." Himuro berkata, seraya berjalan menuju dapur. Tak lama, terdengar suara pisau bertemu talenan. Lalu berubah menjadi harum masakan yang memenuhi apartemennya yang cukup luas. Kagami menghela napas. Padahal seharusnya ia tak meragukan orang yang telah menolongnya itu. Apalagi dia adalah temannya sendiri. Memang perkataan Kuroko membuatnya bimbang, ditambah lagi dengan konfirmasi dari Momoi sang agen perumahan. Banyak kejadian aneh yang menimpanya sejak kali pertama ia terbangun dari tidurnya dan tentunya membuatnya bingung mana yang sebaiknya ia anggap benar.

KRIING KRIING

Handphonenya berdering, tiba-tiba dan begitu keras. Sebelum bunyi ringtonenya membuat kesal, Kagami segera meraih kotak berwarna merah yang berada di dalam jangkauan tangan lebarnya. Nomor yang tampil di layar tidak ia kenal.

"Kagami-kun! Hisashiburi!"

Tapi suara memekakkan telinga yang terdengar dari seberang telepon itu sangat ia kenal. Kagami mengatur ulang pendengarannya dengan satu jari sebelum menempelkan handphone kembali ke telinga luar, "hisashiburi? Kita baru 2 hari belum ketemu."

"Tidak apa-apa, kan? Lagipula bagiku itu sudah lama." Di sela-sela perbincangan, Kagami bisa mendengar suara tangan menyentuh keyboard komputer. Sepertinya gadis itu sedang bekerja saat ini. Lalu mengapa ia sempat-sempatnya menelpon lelaki itu jika sedang sibuk? Bukankah seharusnya ia mengurusi pelanggannya? Aah...Kagami memang termasuk salah satu pelanggannya sih, "kudengar dari Kise, kau sedang sakit. Kau tidak apa-apa sekarang"

"Ya. aku sudah lebih baik." manik merahnya melirik ke arah dapur. Sepertinya belum ada tanda-tanda Himuro akan keluar dari sana, "kenapa Kise memberitahukannya padamu? Kalian saling kenal?"

"Agensi kerja Kise sebagai model saat ini sedang bekerja sama dengan kami. Katanya ia ingin menggunakan latar belakang rumah untuk majalah bulan depan." Seperti biasa, ia begitu semangat, "manager setuju saja karena dengan begitu rumah yang kami jual ikut terpromosikan. Bisa dibilang 'membunuh dua burung dengan satu batu', ya."

Ia kembali tertawa. Tawa yang begitu imut. Kagami membayangkan jika Kise dan Momoi, dua orang itu bertemu satu sama lain, pasti akan jadi ramai sekali. Soalnya mereka berdua sama-sama suka mengobrol. Ia bisa mengatasinya jika hanya 1 orang. Tapi kalau mereka berdua sudah saling membuka mulut? Uuh...Kagami lebih suka menghadapi ucapan 'menusuk' Kuroko daripada 'celotehan' dua burung yang tak kunjung usainya itu. Masih berkhayal tentang kedua orang dengan kemiripan yang sama kini saling berteman, Momoi kembali berkata, "besok sore kau tak ada rencana, kan? Aku dan Kise ingin mengunjungi 'teman' kami yang keras kepala. Toh, dia tak ada sesi pemotretan besok dan aku juga sedang tak ada kerjaan. Ja, Matta ne!"

KLEK

Dan sambungan telepon pun terputus.

Tidak ada kerjaan? Lalu bunyi yang ia dengar tadi itu? Jangan jadikan dirinya alasan untuk meninggalkan pekerjaan! Lagipula tujuannya menelpon tadi untuk apa? Menghilangkan kebosanannya? Kagami—lagi-lagi—menghela napas, cukup panjang. Himuro keluar dari dapur—dengan nampan berisikan Katsudon di tangannya—melihat sang sahabat sedang memandang kesal layar handphone miliknya, "kenapa, Taiga? Apa seseorang menelponmu tadi?"

"A...ah, tidak. Hanya spam biasa dari operator telepon" Kagami berkata, segera menghapus daftar panggilan masuk dan menyembunyikan handphonenya di bawah bantal.

Himuro memiringkan kepalanya sebentar, sebelum akhirnya menampilkan senyum tipis dan berjalan menghampiri sisi ranjang lelaki itu, "oh, ya. Taiga. Aku kemari ingin membawakan catatan pelajaran hari ini dan mengembalikan buku yang pernah kupinjam" ia mengeluarkan 3 buah buku dari dalam tas. 1 buku catatan miliknya dan 2 buku lainnya memiliki sampul dari kertas minyak berwarna, "aku pernah meminjamnya seminggu sebelum kau kecelakaan. Maaf baru bisa mengembalikannya hari ini. Ada banyak hal rumit yang mesti kuurus."

"Ah...tidak apa-apa." Lagipula Kagami tak ingat ada berapa banyak buku yang dulu dimilikinya sebelum ia lupa ingatan, "kau bisa meletakkannya di rak buku sebelah sana." Lanjutnya, sembari menunjuk ke arah rak buku yang berada di depan ranjang.

"Sebelum itu, aku menemukan ini di dalam salah satu bukumu. Apa ini pembatas buku milikmu?" lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam salah satu buku. Itu salah satu dari kartu remi, joker hitam dan joker merah yang saling menempel satu sama lain, depan dan belakang, dan ada coretan pena tinta berbentuk angka 8 yang cukup besar di masing-masing gambar jokernya. Sebuah pembatas buku yang cukup aneh. Daripada dibeli, lebih tepatnya itu seperti dibuat sendiri.

Kagami menerima pembatas buku itu dari tangan Himuro sementara ia mengembalikan buku yang dipinjamnya ke dalam rak. Alisnya mengernyit memandang joker hitam dan joker merah di tangannya. Tapi jika benda ini memang dibut oleh 'dirinya' di masa lalu, untuk tujuan apa? Apakah mungkin benda ini juga menyimpan sebuah rahasia seperti nomor di handphonenya dan kunci yang ditemukannya berdasarkan poster di kamarnya? Ia yakin hal-hal yang dialaminya bukan kebetulan semata. Pertemuannya dengan sang hantu juga bukan hanya karena takdir—sial.

Lelaki kekar itu ingin menanyakan sudah berapa lama pembatas itu ada di dalam buku kepada temannya. Namun niatnya terhenti ketika melihat Himuro menatap buku-buku dengan tatapan membelalak kaget. Tubuhnya terlihat bergetar dan wajahnya pucat pasi. Melihat keadaannya yang aneh, membuat Kagami menanyakan hal lain dari yang ia pikirkan, "kenapa, Himuro? Apakah ada sesuatu yang aneh?"

Dirinya terhenyak begitu menyadari Kagami memperhatikannya. Gerakannya jadi sedikit aneh dan bicaranya juga agak terbata-bata, "ah, bukan apa-apa. Aku hanya agak terkesan kau membaca buku seperti ini. Tidak sepertimu saja." lalu meletakkan buku yang dipinjamnya ke tempat seharusnya, "daripada itu, kau harus menghabiskan makanamu, Taiga."

"Dan segeralah sembuh."


Suara pena menyentuh kertas menggema di dalam ruangan penuh meja dan lemari besi berisi buku. Cuaca di kala siang itu sudah lebih baik. Masih banyak guru-guru dan murid-murid yang tinggal di sekolah untuk menyelesaikan kegiatan mereka masing-masing. Memeriksa nilai ujian, latihan klub. Adalah hal wajar bagi mereka yang masih mengajar dan meraih ilmu. Suasana bisa berubah menyenangkan, bisa juga menyebalkan, tergantung dari berapa banyak pengalaman dan teman yang kau dapat untuk melewati waktu 3 tahun di tempat yang sama itu.

"Sedikit aneh, menerima murid pindahan pada saat seperti ini. Apalagi kau meminta masuk ke kelas yang sama dengannya." Teppei menerima surat pendaftaran murid baru setelah diisi dengan lengkap, "apakah kalian saling mengenal?"

Ia hanya memberi satu buah senyuman tipis terhadap pertanyaan itu, "bisa dibilang iya, bisa dibilang tidak. Aku juga bingung harus memilih yang mana."

"Hahaha...kau orang yang menarik!" sang guru menepuk pundak murid baru itu dengan begitu bersahabat. Senyum sumringah menghias di wajahnya yang tegas, membuat ia terlihat lebih muda daripada umur yang sebenarnya, "semoga kalian cepat akrab, ya."


Keesokan harinya...

Setelah beristirahat penuh seharian kemarin tanpa melakukan apa-apa, kesehatannya sudah lebih baik dan sekarang ia masuk ke sekolah seperti biasa. Himuro bilang hari ini akan ada ulangan seni rupa—mengenai kode-kode warna yang waktu itu mereka pelajari. Untungnya, ia sudah meminjamkan catatannya pada Kagami. Setidaknya ia sudah memiliki persiapan, walau tak seluruhnya ia hapal, "aku tak menyangka materi aneh beberapa hari yang lalu itu akan dijadikan bahan ulangan seperti ini." Ia menggerutu.

Tentu saja. Lagipula, mengetahui kode warna tak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari kan? Bahkan matematika yang dianggap penting, nanti juga yang berguna hanyalah dasarnya saja. Perkalian, pembagian, pertambahan dan pengurangan. Hanya itu saja.

Ia melirik Himuro yang sudah duduk di kursinya, sedang membaca buku. Kagami jadi teringat kejadian kemarin, tentang Himuro yang terkejut melihat jajaran bukunya di dalam rak. Ada apa gerangan? Wajahnya kemarin begitu pucat. Kuroko sedang tak ada disana, jadi kemungkinan Himuro melihat hantu, itu tak mungkin. Apa ada majalah 'dewasa' seperti milik Aomine tersembunyi di antaranya? Kalaupun ada, ia pasti langsung menyadarinya mengingat ukuran majalah lebih besar daripada sebuah buku. Dan akan segera membuangnya.

Bel tanda masuk pun berdering, menyadarkan lelaki berambut crimson red itu dari lamunan pagi hari. Kiyoshi Teppei sensei masuk membawa beberapa buku dan map yang diperlukannya untuk pelajaran. Wajahnya lebih ceria daripada biasanya dikarenakan berita yang akan ia bawa pagi ini, "semuanya. Sebelum memulai pelajaran, hari ini kita kedatangan murid baru."

Seisi kelas langsung ricuh. Butuh waktu bagi sensei bersahabat satu itu untuk menenangkan mereka yang begitu bersemangat, "ia pindah ke sekolah ini karena pekerjaan orang tuanya. Dan ia meminta untuk masuk ke kelas ini karena ada seseorang yang ia kenal."

Sang guru menyuruh anak baru yang sudah menunggu di balik pintu geser untuk masuk. Dia seorang anak laki-laki—membuat para siswa kecewa dan para siswi bersemangat. Kagami menggosok-gosok matanya, mencoba untuk melihat murid baru lebih jelas. Apa jangan-jangan ia masih sakit, jadinya ia melihat ilusi seperti ini? Apa sinar matahari hari ini terlalu terik, membuat matanya melihat fatamorgana yang biasanya hanya ada di gurun pasir? Benar kan? Yang salah itu bukan dirinya, tapi matanya kan? Aaah...tapi mata juga termasuk dari bagian tubuh ya.

Tidak, tidak.

Ini pasti mimpi.

Sebuah mimpi buruk lainnya!

.

.

Tubuhnya membungkuk 90 derajat, sebelum akhirnya terangkat kembali, menatap para siswa siswi di kelas itu dengan kedua matanya yang tak terbaca. Surai birunya diterpa angin sejuk yang masuk dari jendela. Senyum tipis terulas di wajah pucatnya. Begitu tenang, begitu misterius, "perkenalkan—"

"—namaku Kuroko Tetsuya."

.

"Semoga kita dapat berteman dengan baik."

.

.

.

Ramalan bintang hari ini.

Bagi kalian yang berbintang Scorpio.

Keberuntungan kalian tak begitu baik, namun juga tak begitu buruk.

Asalkan kalian membawa item keberuntungan hari ini : sebuah bingkai foto, kalian akan baik-baik saja.

Tingkat kecocokan kalian dengan Aquarius bisa dibilang jelek. Lupakanlah hal-hal yang telah lalu dan jalinlah persahabatan yang baru dengannya.

Semoga hari kalian menyenangkan!

.

.

~TO BE CONTINUE~


Chapter 4 selesai...

Sedikit membosankan, ya? Soalnya disini Kagami tidak kemana-mana selain berbaring di kasur apartemennya. Misteri disini adalah sebuah pembatas buku dan reaksi Himuro terhadap buku-buku yang tersusun di rak milik Kagami.

Dan satu lagi, Kuroko di chapter selanjutnya akan tampil sebagai seorang manusia! *akhirnya saya tidak akan dikeroyok para penggemar Kuroko!*

Saya akan usahakan untuk update secepatnya. Jadi, tunggu kelanjutannya, ya.

Mind to RnR?

Best Regards

Akabane Kazama