Minaa~~~akhirnya Suki kembali dengan fic yang ngenes ini. hehehehe... Gomen, Suki kebiasaan telat update. Abis kahir-akhir ini Suki sibuk karena tugas sekolah, manalagi ulangan...#plak! *malah curhat* Oke Minna, Suki mau bilang sankyyu yang udah me-review chap sebelumnya ya. Ini kelanjutannya. Oh, iya, lupa... balasan review dulu deehhh... .

HinaRiku-chan : sankyuu buat reviewnya. Mudah-mudahan chap ini menghabiskan rasa penasaranmu ya... ^.^ Oh, ya kakek misterius enggak misterius kok, itu Yamamoto. hehehehe... Review lagi ya.

onyx sapphireSEA : Gak papa gk login juga, hehehe... Oke, sankyuu buat reviewnya. sekarang Suki udah lanjut... Review lagi ya. ^.^

Sinister : Chapter 3 memang lebih pendek. Dan sekarang Suki telah menampilkan Grimmjow, hohohohoho tenang saja... karena chap-chap berikutnya akan lebih ditampilkan lagi IchiHitsuGrimm. Jadi nanti review lagi ya... ^.^ Sankyuu buat reviewnya.

Mirai Mine : Sankyuu buat reviewnyaaa... . dan seperti apa kata mirai, Chi-san sudah mulai menyadari perasaannya. Dan akan semakin...semakin...semakin... (terus baca aja ya). Review lagi ya... ^.^

Azu-chan : mmm...Grimmjow suka sama Shiro gak yaaa? Dan untuk ciumannya, mmm...akan suki pikirkan untuk membuatnya lebih hot. hehehe... tapi fic ini gak akan naik rated ya. Okee, sankyyuu buat reviewnyaaa... . dan review lagi.

Minna~~ sankyu yang udah menyempatkan diri untuk me-reviewwww... Seneng banget deh dapet review dari kalian. karena bagaimana pun juga fic ini tak akan berjalan tanpa kalian... *Cielah bahasanya*

Oke, happy Reading Minna! ^.^


Disclaimer : Tite Kubo-sensei

Rated : T

Warning : Sho -ai, AU, OOC, Typo(s), and anything.

I DO NOT OWN BLEAC AND I'M WARNED YOU!


LOVE CONTRACT

Chapter 4

By : Sukikawai-chan


Ichigo mengehentak-hentakan kakinya dengan kesal. Langkah kakinya sengaja ia lebarkan untuk mempercepat laju kakinya. Ia kesal. Begitu kesal. Kesialan terus saja menghantui dirinya sepanjang hari ini. Dimulai dari ceramahan Kakeknya tadi pagi, yang tentu saja mengulang kembali pembicaraan tantang pernikahan. Memuakkan! Setelah itu, Ayah dan Ibunya sengaja menemuinya untuk menanyakan kebenaran berita ciuman yang dilakukannya saat pesta. Ichigo tidak mempermasalahkan tanggapan Isshin dan Masaki, karena ia juga tahu mereka berdua pasti akan menunjukan sikap bangga pada dirinya. Mengatakan kalau dirinya sudah beranjak dewasa, sudah bisa memilih pasangan hidup dan akan selalu mendoakkan kebahagiannya. Dan setelah itu, mereka bilang ingin bertemu dengan orang yang telah diciumnya. Damn! Mengapa masalahnya semakin rumit seperti ini?

Belum selesai masalah dengan keluarganya, kini Ichigo harus berhadapan dengan lingkungan sekolahnya. Oh! Ya Tuhan! Rasanya Ichigo ingin sekali mengakhiri hidupnya di dunia ini. Bayangkan saja, begitu ia memasuki gerbang sekolah, berpuluh-puluh atau mungkin beratus pasang mata meliriknya secara serentak. Memberikan tatapan mata yang berbeda-beda. Ichigo merinding dibuatnya. Karena ia tahu sebagian dari tatapan yang diberikan siswa-siswa padanya terdapat pasang mata seorang Fujodanshi atau sejenisnya. Atau mungkin tatapan membunuh dan jijik juga ditujukan padanya. Mengerikan!

Ichigo terus berjalan tanpa menghiraukan siswa-siswa yang menatapnya langsung atau sekedar menyapa ketika ia berjalan di sepanjang koridor sekolah. Samar-samar ia juga mendengar komentar-komentar yang tidak enak hati, seperti….

"Itukah Kurosaki-sama yang sedang diberitakan? Tidak kusangka ia akan berbuat seenaknya begitu. Apalagi di depan Kuchiki-sama dan Jaegerjaquez-sama,"

Atau…

"Dia itu sebenarnya punya malu tidak sih? Berciuman begitu saja di depan umum…"

Komentar lainnya…

"Aku penasaran siapa sebenarnya laki-laki yang diciumnya? Siswa sekolah kita?"

Bahkan ada yang seperti ini…

"Aku benar-benar iri dengan orang yang berhasil dicium Kurosaki-senpai! Andai saja aku yang menjadi orang yang diciumnya,"

Dan komentar-komentar lainnya yang membuat kedua telinga Ichigo menjadi panas. Sial! Jika waktu itu ia tidak dibakar emosi karena perasaan cemburu mungkin ia tidak akan mencium Hitsugaya. Mengingat kembali kejadian memalukan itu Ichigo jadi teringat kembali dengan Hitsugaya. Apakah pemuda itu juga mengalami nasib yang sama sepertinya? Karena dari foto yang Ichigo lihat wajah Hitsugaya tidak terlalu terlihat, rambut yang berwarna peraknya pun samar-samar terekam oleh kamera. Apakah siswa-siswa di sekolahnya sudah tahu siapa orang yang diciumnya? Dan yang paling penting, apakah Hitsugaya baik-baik saja?

Eh? Tunggu! Mengapa ia jadi memikirkan Hitsugaya? Bukankah hubungan secara tidak sengaja-nya dengan Hitsugaya sudah selesai? Mengapa ia harus jadi repot-repot memikirkannya?

Aiisshh! Ada apa dengan dirinya ini? Rasanya jiwanya sudah terganggu.

Ichigo menghentikan langkahnya di depan pintu atap gedung sekolah. Karena terlalu banyak berpikir Ichigo tidak menyadari kalau ia sudah sampai di atap gedung sekolah. Tempat sepi yang menjadi pelariannya ketika ia mulai stress dengan masalah yang ada. Seperti sekarang ini. Ichigo menghela napas panjang, membuka pintunya, lalu kembali melangkah. Hembusan angin sepoi-sepoi langsung menerpa wajahnya. Awalnya tenang dan damai, ia menutup kedua matanya perlahan. Namun, ketika ia merasakan tidak sendiri di atap gedung sekolah, Ichigo kembali membuka matanya. Dan saat itu juga kedua matanya membulat sempurna.

"Sekarang juga aku meminta penjelasan, Ichigo bodoh!"

Damn! Ia lupa kalau masalah terberatnya adalah menghadapi Rukia.

.

.

.

"Masuk saja Isshin!"

Pintu bergaya Jepang jaman edo itu bergeser dengan pelan. Suara derak di lantai kayu terdengar ketika orang yang dipanggil—Isshin—masuk setelah pintu terbuka lalu ditutupnya kembali. Memasuki ruangan besar Yamamoto. Ruangan yang didesain seperti Jepang jaman edo. Dimulai dari dekorasi sampai peralatan yang digunakan. Rumah besar yang ditempati Yamamoto bersama Isshin dan Masaki Kurosaki dengan kedua anaknya memang terlihat besar dan elegan dari luar, terlihat dengan kesan rumah adat barat. Namun pada bagian dalamnya benar-benar nuansa Jepang.

"Ottousan, apa yang sedang Otoussan lakukan?" tanya Isshin begitu melihat Yamamoto sibuk dengan beberapa gulungan kertas dan beberapa berkas. Ia menyimpan nampan yang terdapat ocha hangat di atas meja, lalu duduk bersila dekat Yamamoto.

"Menyusun sebuah rencana…" sahut Yamamoto singkat, kedua tangannya kembali sibuk membereskan beberapa berkas. Mencoba memahami apa maksudnya Isshin mengerutkan keningnya,

"Rencana? Ottousan bermaksud untuk membeli beberapa saham?"

"Bukan!" Yamamoto memukup pelan kepala Isshin dengan gulungan kertas, "Aku sedang menyusun rencana pernikahan anakmu,"

Isshin membelalak, "Ottousan benar-benar serius? Maksudmu rencana pernikahan Ichi dengan seseorang yang diciumnya di pesta waktu itu?"

"Hn," Yamamoto mengangguk yakin, "Anak itu benar-benar cocok dengan Ichigo. Aku tidak ragu jika memberikan Ichigo padanya. Anak itu memang pantas sebagai 'istri' Ichigo…"

Sepasang alis Isshin kembali mengerut, kata 'istri' yang diucapkan Yamamoto sedikit mengganggunya, "Istri? Bukankah anak itu seorang 'laki-laki'?"

Mendengar nada yang sedikit tidak setuju dari anaknya, Yamamoto menghentikan kesibukannya lalu menatap Isshin datar.

"Lalu ada masalah jika pedamping yang cocok untuk Ichigo adalah seorang laki-laki?"

"Tidak," sela Isshin cepat, "Hanya saja, ya… apa Ottousan tidak mengharapkan seorang… ketrunan dari Ichigo nantinya? Ottousan tahu kan, seorang laki-laki tidak bisa melahir—aduhh! Ottousan kenapa kau memukulku?"

"Jaga bicaramu itu Kurosaki Isshin. Kau tidak perlu mengkhawatirkan masalah itu. Masih ada Yuzu dan Karin yang masih bisa memberikan keturunan," Yamamoto mengambil ocha yang tersimpan di mejanya lalu meminumnya.

"Ya, aku tahu itu. Hanya saja…." Isshin menghentikan ucapannya, ragu sesaast, "Apakah pernikahan ini tidak terlalu cepat bagi Ichigo? Dia kan baru saja duduk di bangku kelas 2 SMA, dan masa-masa SMA adalah masa dimana menghabiskan waktu dengan senang, bukan memikirkan masalah rumah tangga."

Yamamoto membuka mulutnya lalu menutupnya kembali ketika mendengar suara pintu bergeser pelan. Dan di sana, tampaklah seorang wanita cantik dengan rambut orange panjang bergelombang. Refleksi diri dari Ichigo.

"Ayah, boleh aku bergabung? Aku tidak sengaja mendengar kalian membicarakan rencana pernikahan Ichi," sahut Masaki sambil tersenyum.

"Tentu Masaki, mungkin kau bisa menyadarkan Isshin agar ia mengerti," Yamamoto mengubah tumpuan posisi kakinya. Masaki berjalan mendekat lalu duduk di sebelah Isshin.

"Ottousan!" rengek Isshin, "Aku kan hanya ingin Ichigo menjalani masa SMA-nya dengan kesenangan. Anak remaja seusianya masih memiliki watak yang labil,"

"Kau tidak perlu memikirkan sejauh itu Isshin. Pernikahan ini hanyalah simbol bagi mereka berdua. Aku juga tidak akan memaksa Ichigo untuk menghentikan sekolahnya. Aku hanya ingin Ichigo menjadi pribadi yang dewasa, karena ia akan menjadi penerus perusahaan."

Isshin mengambil napas panjang lalu mengembuskannya pelan. Jika sang Ayah sudah mengambil keputusan, tidak ada kata tidak untuk Yamamoto terima. Semua keputusannya mutlak.

"Tapi Ayah yakin Ichigo benar-benar mencintai pemuda itu? Karena yang kutahu anak itu tidak pernah mengenalkan pacarnya pada kami kan?" tanya Masaki, sikapnya lebih tenang daripada suaminya.

"Tenang saja, aku sudah bertemud dengan anak itu," sebelah tangan Yamamoto mengelus janggut panjang putihnya dengan pelan, "Aku tidak pernah melihat Ichigo seperti itu sebelumnya. Berada di dekat dengan anak itu membuat ekspresi di wajah Ichigo sedikit berbeda,"

"Benarkah?" Masaki antusias, "Ayah sudah bertemu dengannya? Bagaimana menurut Ayah?"

"Sangat manis, untuk seukuran anak laki-laki. Serius tapi terlihat lembut. Badannya pun terlihat lebih kecil dari Ichigo. Untuk itu aku ingin segera menjadikannya menantuku, karena bagaimana pun juga aku ingin melihat cucuku menikah sebelum aku meninggal,"

"Ayah!"

"Ottousan! Kau tidak perlu membicarakan kematian. Yang seharusnya kita bicarakan apakah Ottousan yakin pernikahannya akan dilangsukan dalam waktu dekat?"

"Tentu saja," Yamamoto menggut-manggut, "Pernikahan dilakukan dua atau seminggu lagi,"

"Eh?!" Isshin membeliak, "Apa itu tidak terlalu cepat?"

"Bukankah jika mereka cepat menikah akan lebih baik? Jadi tidak perlu adanya wartawan yang bertanya hubungan mereka bagaimana. Aku sudah muak melihat wartawan-wartawan itu,"

Isshin dan Masaki saling tatap. Mereka sudah tidak bisa apa-apa lagi jika sudah menghadapi keputusan Yamamoto.

"Baiklah," ujar Masaki akhirnya, "Aku hanya ingin melihat Ichigo bahagia,"

"Ichigo pasti akan bahagia jika bersama anak yang bernama Hitsugaya Toushiro itu," Yamamoto meyakinkan, "Oh, satu hal lagi, Masaki hubungi Ichigo untuk mengajak pemuda itu untuk ikut makan malam sabtu nanti. Dan jika ia menolak, coba kau panggil anak itu untuk datang kemari."

.

.

.

Rukia menatap nanar sosok jangkung di depannya. Perasaan kesal dan marah melanda hatinya. Ia kesal. Benar-benar kesal!

"Kenapa kau tidak pernah memberitahu padaku, Ichigo!" bentak Ruki kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Hatinya ingin menangis, namun dengan kuat ia berusaha menahannya. Bagaimana tidak? Ichigo itu sahabatnya, tapi mengapa ia tidak pernah cerita tentang kekasih yang diciumnya di malam pesta waktu itu?

"Ru—Rukia, aku bisa menjelaskannya," Ichigo panik. Benar-benar panik. Ia tidak tahu harus berbicara apa pada Rukia. Jujur, jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih menyimpan perasaan untuk Rukia. Rasa sukanya yang mungkin tidak bisa dibalas.

"Tidak ada yang perlu kau jelaskan, bodoh! Aku tahu, Grimmjow tahu, semua orang tahu kalau kau sudah mencium kekasihmu itu di depan umum. Apalagi tepat di depan MATAKU!"

Oh! Dalam pembicaraan mereka, dan dalam keadaan apa pun, selalu saja ada kata Grimmjow.

"Lalu? Kenapa kau harus marah-marah seperti ini jika sudah tahu?" balas Ichigo kesal,

"Aku tidak marah!" elak Rukia,

"Kau marah,"

"Sudah kubilang aku tidak marah! Hanya saja kenapa kau menciumnya?"

Ichigo tertegun. Apakah itu penting? Mungkinkah Rukia cemburu melihat dirinya ketika berciuman dengan orang lain. Mungkinkah….Rukia memiliki perasaan yang sama seperti….dirinya?

"Kau tahu, aku juga ingin Grimmjow menciumku,"

Oh, ia salah besar! Lagi-lagi Grimmjow yang dibicarakan. Kenapa selalu Grimmjow dan Grimmjow?! Bukankah mereka sudah menjadi sepasang kekasih?

"Kenapa kau tidak memintanya? Bukankah kau—"

"Aku ditolak,"

"Eh?"

Ichigo membulatkan kedua matanya. Terlebih ketika melihat raut wajah Rukia perlahan-lahan berubah. Yang awalnya marah kini berganti menjadi seperti menahan tangisan. Dan apa yang dilihat Ichigo memang benar, terlihat butir-butir bening di balik pelupuk mata Rukia.

"Maksudmu, Grimmjow baru saja menolakmu?" Ichigo berjalan mendekat, mengusap puncak kepala Rukia pelan, berusaha menenangkan gadis itu.

Rukia mengangguk lesu, "Dia bilang dia menyukaiku, tapi hanya sebagai adik kesayangannya. Dia tidak pernah menyukaiku sebagai seorang wanita. Dia tidak memiliki perasaan yang sama sepertiku,"

Begitu mirip dengan dirinya.

Ichigo diam. Tidak merespon juga tidak menanggapi. Ia hanya membiarkan kepala Rukia dibenamkan di dada bidangnya untuk menyembunyikan suara tangisnya. Bahkan rasanya, kedua tangan Ichigo terasa berat hanya untuk memeluk gadis itu. Karena saat ini batin Ichigo juga sedang menangis. Sama seperti Rukia, perasaan Ichigo juga seperti itu. Mencintai seseorang yang tidak bisa membalas perasaan cintanya. Mengharapkan seseorang yang tidak diharapkannya. Apalagi mencintai seseorang yang tengah mencintai orang lain.

Dan sekarang Ichigo memiliki kesempatan. Mungkinkah ia bisa menjadi seseorang yang dicintai gadis di depannya saat ini? Mungkinkah ia bisa menghilangkan bayang-bayang Grimmjow dalam benak Rukia?

"Rukia…." Panggil Ichigo lembut. "Aku….aku…sebenarnya…me—"

Kimi wa kimi dakeshita….Inai yo….

Ichigo mengerang sambil mendecakan lidahnya kesal. Dasar ponsel sialan! Bisa-bisanya di saat seperti ini berbunyi! Dengan terburu-buru Ichigo mengambil ponselnya dari saku celana. Bermaksud me-reject nya namun terhenti ketika melihat nama yang tertera. Dengan cepat ia mengangkatnya.

"Ada apa Okaasan? Kenapa kau meneleponku di saat seperti—eh? Benarkah?"

.

.

.

Ya tuhan! Ia benar-benar sial!

Hitsugaya berlari secepat yang ia bisa untuk mengejar waktu yang tertinggal. Bagaimana mungkin ia bisa terlambat pergi ke sekolah? Ini semua gara-gara Hinamori karena tidak membangunkannya seperti biasa. Meskipun di lain sisi ia juga merasa kasihan karena melihat Hinamori begitu kelelahan sehingga tidak membangunkan dirinya lebih cepat. Dan alhasil, ia terlambat.

Hitsugaya makin mempercepat langkahnya. Sedikit lagi, gedung sekolahnya sudah di depan mata. Gerbang sekolahnya masih terbuka. Bagus! Berarti masih ada waktu!

Clek!

"Eh?"

"Maaf, kau terlambat, Nak. Siswa yang terlambat dilarang masuk ke gedung sekolah,"

"Tapi…aku belum benar-benar…terlambat…" ucap Hitsugaya dengan napas terengah-engah, ia memohon kepada penjaga ke sekolah lewat gerbang yang sudah tertutup, "Setidaknya biarkan aku masuk,"

"Tetap tidak bisa. Salahmu sendiri kenapa kau tidak datang lebih cepat."

"Aku mohon. Satu kali ini saja. Karena ini pertama kalinya aku datang terlambat,"

"Tetap tidak bisa. Gerbang ditutup bagi siswa yang terlambat!"

"Tapi…"

"Ada apa ini?"

Mereka berdua serempak menoleh. Kedua mata Hitsugaya sempat membulat ketika sosok yang dikenalnya berjalan mendekat dari arah sekolah. Berjalan mendekat ke petugas penjaga sekolah.

"Jaegerjaquez-sama," petugas itu membungkuk hormat, "Apa yang anda sedang lakukan di sini? Bukankah pelajaran sedang berlangsung?"

"Cih! Tidak perlu menceramahiku! Biarkan aku keluar,"

"Eh? Ba—baiklah,"

Petugas itu membuka gerbang untuk membiarkan Grimmjow lewat lalu menutupnya kembali. Hitsugaya sempat mengutuk dalam hati, kenapa bukan ia yang dibiarkan masuk? Malah Grimmjow yang dibiarkan keluar. Seperti biasa, anak dari seorang pemilik sekolah. Selalu seenaknya.

"Kau terlambat, Toushiro?"

Hitsugaya mengangkat bahu acuh, "Kau bisa melihatnya sendiri kan. Mungkin aku akan berada di kelas jika tidak terlambat datang ke sekolah,"

Grimmjow terdiam sejenak, lalu menatap Toushiro dari atas sampai bawah, "Kau tidak bersama Ichigo hari ini?"

Glek! Hitsugaya mematung. Oh, apa yang seharusnya ia katakan? Ia sempat lupa karena Grimmjow masih menyangka kalau sebenarnya ia adalah kekasih Ichigo Kurosaki.

"Ah, tidak…" Hitsugaya menggeleng, otaknya berusaha keras menemukan alasan yang cocok, "Sepertinya Kurosaki sedang sibuk. Jadi ia tidak bisa menjemputku,"

Grimmjow manggut-manggut. Ia sedikit bersimpati melihat raut wajah Hitsugaya yang memandang sedih gedung sekolah. Laki-laki itu benar-benar ingin masuk. Sebenarnya Grimmjow bisa saja membawa Hitsugaya masuk. Namun entah apa yang merasukinya, tiba-tiba saja ia mendapatkan ide yang cemerlang.

"Baiklah, kalau begitu kau ikut aku saja," ujar Grimmjow sambil menarik pergelangan tangan Hitsugaya. Setelah itu Grimmjow memaksa Hitsugaya untuk mengikutinya.

"Eh? Tu—tunggu! Bagaimana dengan pelajaran di kelas?" Hitsugaya berusaha melepaskan diri. Namun ia kalah tenaga. Cengkeraman tangan Grimmjow di pergelangan tangannya begitu erat.

"Biarkan saja! Hari ini aku bosan jika harus melihat semua pelajaran-pelajaran yang membosankan itu! Lebih baik kau menemaniku saja hari ini, Chibi."

"Aku tidak ingin! Hei, Grimmjow!"

Seruan Hitsugaya tidak Grimmjow hiraukan. Ia tetap menarik Hitsugaya dan berhenti di mana mobil porsch biru dongker Grimmjor terparkir. Dan secara paksa ia menyeret Hitsugaya untuk masuk ke dalam mobil, dan dengan paksa pula memasangkannya sabuk pengaman. Setelah itu Grimmjow berjalan memutari mobil dan duduk di belakang kemudi.

"Kita jalan-jalan saja, bagaimana?"

.

.

.

"Apa?! Kakek tidak serius kan?!"

"Ichigo!" sela Masaki, "Jangan berteriak seperti itu pada Kakekmu! Mana kesopananmu?!"

Ichigo menarik napas panjang lalu mengembuskannya kasar. Sensor otaknya masih berusaha mencerna apa yang baru saja Yamamoto katakan padanya. Dan ia berharap apa yang didengarnya salah.

"Kakek," Ichigo merendahkan suaranya, "Aku benar-benar tidak mengerti apa yang baru saja Kakek katakan. Kenapa-aku-harus-menikahi-Hitsugaya-Toushiro?"

"Kenapa katamu?" tanya Yamamoto, nadanya meninggi, "Tentu saja untuk menjadi pedamping hidupmu. Kau sudah harus bisa bersikap dewasa, Ichigo."

"Tapi aku baru saja menginjak umur 17 tahun, bahkan sebentar lagi 18. Mana mungkin aku menikah di saat aku masih duduk di bangku SMA? Apa Kakek mau membuat masa SMA-ku berantakan?"

"Ichigo," kali ini Isshin yang menginterupsi, "Ingat apa kata ibumu tadi,"

"Tapi…tapi…, ck! Apa Okaasan dan Ottousan langsung menyetujui keputusan Kakek?" Ichigo menatap Isshin dan Masaki. Berusaha meminta penjelasan dan pertolongan. Ini semua salah paham! Benar-benar salah paham!

"Dengarkan apa kata kakekmu, Nak." Ucap Isshin kemudian,

Ichigo menutup kedua matanya. Oh, damn!

"Aku tidak mau tahu. Kau tetap harus menikah dengan anak itu. Tidak ada penolakan sama sekali!"

Sudah cukup! Ichigo benar-benar sudah tidak tahan lagi. Bagaimana mungkin ia menikahi seseorang yang tidak bisa dicintainya?

"AKU TIDAK AKAN PERNAH MENIKAHI TOUSHIRO, KAKEK!"

"ICHIGO!"

"Ap—apa kata…." Suara Yamamoto terputus-putus. Sebelah tangannya terangkat dan mencengkeram erat dada bagian kiri. Kedua matanya membulat dan kesadarannya mulai menghilang ketika dirasakannya sakit di bagian dadanya.

"Ayah!" Masaki menjerit dan menghambur katika melihat tubuh Yamamoto ambruk di depannya. Sedangkan Ichigo, ia mematung di tempatnya.

Mengapa jadi semakin rumit?

.

.

.

"Hahahaha…Jadi waktu itu Ichigo membawamu ke rumahnya?" Grimmjow tertawa puas ketika mendengar Hitsugaya bercerita tentang ia yang berada di dalam rumahnya. Entah mengapa, mendengar Hitsugaya bercerita benar-benar membuat dirinya merasa senang. Tanpa sadar ia bisa tertawa begitu puas. Berkata apa yang tidak pernah dikatakannya kepada orang lain. Bahkan rasanya Grimmjow merasa nyaman ketika dirinya berada dekat dengan Hitsugaya.

"Begitulah," Hitsugaya menyeruput ice lemon tea-nya sambil menngangkat bahu. Rasa dingin dan asam langsung masuk ke tenggorokannya.

Karena tidak bisa melawan Grimmjow yang terus menariknya sampai masuk ke mobil, akhirnya Hitsugaya memutuskan untuk membolos sekolah dan mengikuti Grimmjow kemana membawanya pergi. Dan tanpa diduga Hitsugaya, Grimmjow mengajaknya ke sebuah café yang terkenal di Karakura. Café dengan interior kayu dan bangunan yang klasik namun elegan. Café Hueco Mundo. Tempat favorite Grimmjow. Hitsugaya takkan habis pikir mengapa Grimmjow memilih café Hueco Mundo sebagai tempat favoritnya. Semua orang tahu, Hueco Mundo adalah café bagi orang-orang sejenis seperti Grimmjow.

"Ngomong-ngomong soal rumah, kau tinggal bersama siapa Grimmjow?" tanya Hitsugaya, menatap kedua mata azure Grimmjow.

"Seperti Ichigo, aku tinggal sendiri. Yang menjadi bedanya, Ichigo tinggal sendiri di sebuah rumah sedangkan aku di sebuah apartemen. Semua keluargaku tinggal di Kyoto."

"Kau tidak pernah merasa kesepian?"

Grimmjow mengangkat sebelah alisnya. Dalam hati ia menahan geli. Ah…inilah Hitsugaya Toushiro yang baru saja dikenalnya. Remaja dengan sifat yang menurut Grimmjow terbilang unik. Begitu polos, tidak ragu untuk mengatakan apa yang akan dikatakannya, dan juga jujur. Jarang Grimmjow menemukan orang seperti Hitsugaya. Rasanya…Grimmjow jadi ingin lebih menganal remaja di depannya.

"Hah! Kesepian aku pasti akan merasakannya. Apalagi jika saat sakit, aku pasti akan kesulitan. Tapi aku sudah terbiasa melakukannya, jadi tidak ada masalah." Celoteh Grimmjow, tangannya sibuk mengaduk-aduk cappuccino lattenya dengan sedotan. Berusaha bersikap tenang saat menceritakannya.

"Kau tidak meminta bantuan pada Kurosaki atau teman perempuanmu yang waktu itu?" Hitsugaya memandang Grimmjow dalam, merasa tidak enak hati karena telah menanyakannya.

Grimmjow tertawa renyah, "Entahlah. Aku tidak suka suasana berisik saat aku sakit. Apalagi jika ada Ichigo dan Rukia, mereka pasti akan bertengkar, yang berakhir dengan apartemenku seperti kapal pecah. Menyebalkan!"

Hitsugaya tertawa lepas. Begitu pula dengan Grimmjow. Rasanya menceritakan kehidupannya pada Hitsugaya benar-benar menyenangkan. Grimmjow tidak tahu kalau orang seperti dirinya, pribadi keras kepala dan seenaknya, bisa luluh di depan pemuda bernama Hitsugaya Toushiro.

"Hei, Chibi,"

Hitsugaya menggembungkan pipinya, "Makin lama kau semakin mirip Kurosaki. Memanggilku seperti itu…"

"Benarkah? Kurosaki juga memanggilmu Chibi?"

"Dia memang selalu seenaknya,"

Grimmjow tertegun, penuturan cara Hitsugaya menceritakannya membuat Grimmjow yakin kalau Ichigo benar-benar sayang terhadap kekasihnya. Bahkan ekspresi Hitsugaya bisa langsung berubah jika sudah menyangkut soal Ichigo. Ekspresi yang hanya dikeluarkan saat Ichigo menajdi topik pembicaraan. Dan entah mengapa, Grimmjow mengakui dirinya tidak suka itu.

"Kau mau berjanji satu hal padaku?"

Hitsugaya mengangkat kedua alisnya. Ia menatap Grimmjow intens. "Berjanji apa?"

Grimmjow meletakkan tangan kanannya di atas meja dan mengacungkan jari kelingking-nya.

"Mana jari kelingkingmu?"

Kening Hitsugaya mengerut, "Untuk apa aku melakukannya?"

"Bukankah membuat sebuah janji harus dibarengi dengan mengikat jari kelingking satu sama lain? Agar perjanjiannya sah,"

"Aku tidak mau, kau seperti anak kecil." tolak Hitsugaya. Grimmjow memutar kedua bola matanya,

"Cepat lakukan! Jika tidak, aku akan menciummu saat ini juga,"

Hitsugaya membelalak. Dengan cepat ia mengaitkan jari kelingking-nya dengan jari kelingking Grimmjow. Melihat wajah panik dan bersemu merah Hitsugaya, Grimmjow tertawa pelan. Satu hal lagi mengenai Hitsugaya Toushiro, pemuda itu mudah sekali untuk digoda.

"Jangan berkata hal yang aneh-aneh!" seru Hitsugaya ketus,

"Liat wajahmu! Kau semerah tomat, apa kau begitu takut jika kucium?"

"Aku hanya tidak ingin mengalami hal yang sama seperti yang Kurosaki lakukan,"

"Baiklah," Grimmjow mengeratkan tautan jari kelingking-nya, "Apapun yang terjadi, kau harus menepati janjinya. Jika kau tidak menepatinya, aku akan menghukummu."

Hitsugaya menelan ludah dengan susah, melihat raut wajah dan senyum Grimmjow membuat bulu kuduknya merinding. Entah karena apa.

"Asalkan janji itu masih berada di dalam batas kewajaran,"

Grimmjow menyeringai senang, ia terdiam sejenak, tampak berpikir, lalu setelah itu ia memulai, "Jika suatu hari nanti aku merasa kesepian, orang yang pertama kali kuhubungi adalah kau! Untuk itu, kau harus langsung datang ke apartemenku apa pun yang terjadi. Bahkan di saat kau sedang bersama Ichigo, kau harus tetap datang!"

"Tunggu! Perjanjian apa—"

"Perjanjiannya sah! Kau tidak boleh melanggarnya,"

"Apa maksudmu dengan perjanjian itu?! Aku tidak ingin melakukannya!"

Grimmjow kembali menyeringai. Dengan cepat ia menarik lengan Hitsugaya dan Grimmjow mencondongkan tubuhnya ke depan. Menyisakkan beberapa cm antara wajah Hitsugaya dengan wajahnya. Ia memiringkan kepalanya dan berbisik tepat di samping telinga Hitsugaya,

"Atau…kau ingin aku mencium bibirmu saat ini juga? Memberikan tontonan gratis pada pelanggan, hm?"

"Tidak!" Hitsugaya menepis lengan Grimmjow. Ia berdiri dari kursinya dan menatap sepasang iris azure di depannya dengan tatapan tidak percaya. Kedua pipinya mulai panas. Pelanggan yang tak jauh darinya memandangnya dengan bingung, tapi Hitsugaya tidak peduli.

"Hei, hei Chibi…Kau tidak perlu terkejut seperti itu, aku kan hanya bercanda. Lihat, semua orang menatapmu," Grimmjow mengerling jail ke arah Hitsugaya. Menyadari kebodohannya Hitsugaya langsung duduk kembali. Ia menundukan kepalanya, malu.

"Kau itu mudah sekali panik," Grimmjow mendecakan lidahnya,

"Memangnya itu gara-gara si—Kurosaki?"

Mendengar nama itu disebut, Grimmjow mengikuti arah pandangan Hitsugaya, ia menoleh cepat ke belakangnya. Tepat yang seperti Hitsugaya katakan, orang itu memang Ichigo. Memandang mereka berdua dengan tatapan penuh dengan berbagai macam emosi. Tajam, kesal dan….panik?

Dan jika dilihat lebih seksama, wajah Ichigo begitu kelelahan. Bahkan nafasnya pun tersengal-sengal. Namun tatapannya begitu menusuk, apalagi terhadap Hitsugaya.

"Yo, Ichi!" Grimmjow mengangkat sebelah tangannya, berusaha bersikap santai, "Kapan kau kemari? Kau ingin bergabung bersama kami?"

Diam. Tidak menjawab juga tidak merespon.

"Tunggu, Ichi. Tidak perlu salah paham, aku dan Toushiro kebetulan bertemu dan kami memutuskan untuk berbincang-bincang di sini. Tidak ada maksud lain,"

Mengacuhkan penjelasan Grimmjow, Ichigo melangkah cepat lalu menarik Hitsugaya sampai berdiri. Ia menarik pergelangan tangan Hitsugaya dan menyeretnya sampai keluar café. Kesal karena melihatnya, Grimmjow mengikuti di belakang.

"Kurosaki! Lepaskan!" Hitsugaya meringis kesakitan, Ichigo menggenggam pergelangang tangannya begitu erat. Mereka berhenti di depan kaca jendela café, Ichigo meregangkan genggamannya, tapi tidak melepaskan.

"Hei, Ichi! Kau tidak perlu kasar seperti itu," Grimmjow yang mengikuti dari belakang berjalan mendekati mereka.

"Ada masalah apa, Kurosaki?"

Hitsugaya mengerutkan keningnya. Ichigo masih tetap sama. Diam dan tidak merespon. Apakah ia marah? Tapi jika marah pun, untuk apa? Mereka bukan benar-benar sepasang kekasih, tidak ada gunanya bukan jika melihat dirinya bersama dengan laki-laki lain?

Perlahan, Ichigo memutar badannya menghadap Hitsugaya. Bukannya melepaskan, sebelah tangannya yang menganggur terangkat dan mengambil sebelah tangan lain Hitsugaya. Ichigo menggenggam kedua tangan Hitsugaya dengan kedua tangannya. Hitsugaya menatap Ichigo heran, sedangkan tanpa sadar Grimmjow membelalak sambil mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengatup keras.

"Toushiro, menihkahlah denganku…"

.

.

.

Menihkahlah denganku….

Hitsugaya menarik napas panjang lalu mengembuskannya pelan. Ia menatap tubuh yang terbaring lemah di sampingnya. Sosok seorang Kakek yang pernah ditemuinya. Yamamoto Kurosaki.

Jarum infuse tertempel di tangannya. Masker oksigen menutupi sebagian wajahnya. Monitor yang menunjukan tanda-tanda kehidupannya tersimpan di samping yang lain. Detak jantungnya mulai berdetak stabil.

Ini semua demi Kakek.

Hitsugaya begitu terkejut ketika Ichigo mengucapkan kata pelamaran di depan café Hueco Mundo siang tadi. Semuanya terjadi begitu dengan cepat. Karena tanpa penjelasan apa-apa lagi, sampai Hitsugaya tidak bisa mengeluarkan protes, Ichigo langsung menariknya ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Tempat dimana Yamamoto dirawat karena mengalami serangan jantung.

"Kau belum mau pulang?"

Hitsugaya mendongak, dilihatnya Ichigo datang dengan sebuah bungkusan di tangannya. Berjelan mendekat dan duduk di samping kursi Hitsugaya.

"Makanlah, sejak tadi kau belum makan," Ichigo menyerahkan bungkusan itu ke pangkuan tangan Hitsugaya. Laki-laki itu menerimanya dengan lesu, tapi tidak membukanya.

"Grimmjow tidak bersamamu?"

"Dia sudah pulang," Ichigo menjawab acuh dan datar,

Suasana dalam ruangan menjadi hening. Yang terdengar hanyalah suara monitor detak jantung. Tidak ada yang mau membuka percakapan. Mereka berdua terlalu tenggelam dengan pikiran masing-masing. Berusaha memikirkan baik-baik apa yang baru saja terjadi.

"Aku sudah membuat keputusan," Hitsugaya membuka suara. Ichigo menoleh, namun Hitsugaya tidak menatapnya balik. Ia menundukan kepalanya, memandang wajah tidur Yamamoto. Mendengar Hitsugaya sudah membuat keputusan tiba-tiba saja keringat dingin mengucur di sekitar pelipis Ichigo.

"Jadi, apa keputusanmu?"

Hitsugaya menghela napas panjang, dan saat itulah ia menoleh, "Kita buat sebuah kontrak. Kontrak untuk pernikahan nanti,"

Ichigo membelalak, tidak menyangka Hitsugaya akan menyetuji tawaran yang diberikannya saat di mobil tadi. Tawaran yang harus mengorbankan segalanya. Bahkan perasaan mereka masing-masing. Membuat sebuah kontrak pernikahan.

Tanpa sadar, benar-benar tanpa disadarinya, Ichigo mendekat dan langsung menarik tubuh Hitsugaya. Mendekapnya dengan erat sampai-sampai jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Entah mengapa ia melakukannya. Yang jelas, Ichigo hanya ingin melakukannya.

Di sisi lain, Hitsugaya mematung dibuatnya. Apa ini? Tiba-tiba saja jantungnya serasa mau copot. Bahkan sampai terkejutnya, Hitsugaya tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa diam dalam pelukan Ichigo.

"Dengan satu syarat,"

Suara Hitsugaya terdengar kembali. Tanpa melepaskan pelukannya, Ichigo balas berbisik, "Katakan saja apa syaratnya. Aku akan memenuhinya,"

"Jika kontrak kita sudah selesai, aku ingin rumah yang sedang kau tempati sekarang ini menjadi milikku. Aku ingin rumah itu kembali,"


Entah kenapa Suki ngerasa kalo di sini Ichi lebih gombal deh. Liat aja dia... sok romantis gitu. Apa karena Suki ya? abis di fic Sekakoi juga Suki buat Takano-nya jadi gombal... #plak! *ngapain curhat!?*

Thanks for reading and Reviewww minnaaa...

Review please again and see you in the next chapter. ^.^