Zuerna: MINA-SAMAAAAAAAAAAAAA! *Zuerna teriak pake toa sambil ngerentangin tangan (Mi: Gimana caranya)* Ehehehe... Gomen update yang err telat? lelet? lama? pokoknya gitu deh *nyengir bersalah*
Sawase: Lebih tepatnya dua bulan kita tak mengupdate cerita ini *senyum bersalah*
Minae: Yah, mau gimana lagi, kita sibuk sekolah, dan terlena akan liburan *wajah bersalah* Intinya mina,
ZuMiSa: SUMIMASEN!
Zuerna: Dan,
ZuMiSa: SELAMAT ULANG TAHUN RI YANG KE 68! *nebarin confeti*
Sawase: Semoga Indonesia tambah maju,
Minae: Korupsi dibasmi,
Zuerna: Dan lain sebagainya~~~!
Sawase: Review sudah dibalas lewat PM... Kalau belum maafkan kami yang ceroboh yah
ZuMi: HAPPY READING~~~~!
Disclaimer: Yamaha dan Crypton Future media
Warning:Typo bertebaran, Abal, Aneh, GaJe, tidak memenuhi syarat EYD dll
Genre:Mistery/Horror/Friendship/Romance
Haunted In Dark Forest Chapter 3 Start
"NERUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!"
"Itu suara Nero," Gakupo memasang pose siaga.
"NOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"
"Itu suara Neru-chan," Len memasang kuda-kuda karate.
"Ayo," Kaito segera menggenggam tangan Miku dan berlari ke asal suara Nero diikuti yang lainnya.
ZREEET
Gakupo menebas semak-semak di depannya dengan katana yang selalu dipunggungnya yang entah mengapa punggung Gakupo tidak bungkuk-bungkuk juga walau selalu memikul katana yang diperkirakan beratnya sebelas dua belas dengan Hagrid fandom sebelah.(Mi: NGACO! *lempar pensil ke Zuerna*)
"Nero! Ada apa?" Gakupo segera bertanya dengan keponya dan melihat Nero yang tertuduk lemas.
"I-itu," Nero menunjuk-nunjuk tak tentu arah, sedetik ke pohon, sedetik ke atas, sedetik ke tanah dsb.
"Yang benar Nero! Kau ini menunjuk apa sih!" Gakupo mulai kesal berkacak pinggang.
"Dimana Neru?" Len yang berada di belakang Gakupo angkat suara .
"D-dia,"
"ALOOOOOOOOOOOOOOOHAAAAAAAAAAAA! NEROOOOOOOOOOOOO! KAU MASIH DIATAS SANAAAAAAAA?!" terdengar suara Neru yang memotong perkataan Nero berasal dari lubang yang lumayan besar dan terlihat dalam yang berada di dekat mereka berdiri.
"Neru! Kau selamat?! Aku kira kau juga dibunuh!" Luka berkata dengan nada setengah senang setengah kecewa(?).
Twicth.
"Heiy Luka! Kau pikir Neru Akita ini akan mudah terbunuh hah?!" Neru membalas dari bawah lubang dengan perempatan yang ikut muncul di dahinya.
"Lalu kenapa kau bisa berada di dalam sana Neru?" Gakupo bertanya dengan kepo lagi.
"Tanyakan pada Nero!" teriak Neru kesal. Sekarang semua memandang Nero meminta penjelasan.
"Itu,"
Start Flashback
Saat berjalan tiba-tiba Hp Neru berbunyi, "Ng? Heiy! Lihat Nero! Disini ada sinyal! Perkataanmu benar!" Neru memekik girang. (Mi: Cerita ini makin lama makin kacau -_-`` / Sa: *ngangguk setuju* / Zu: *cuek. Lanjut ngetik*)
"Hujan juga sudah mulai berhenti,"
"Nero, dari tadi itu tidak hujan, tapi sedikit gerimis," Neru bersweaddroped ria.
"Ah, aku lupa, tapi petir juga sudah tak menyambar seperti tadi lagi," ucap Nero diikuti anggukan Neru yang mulai berkutat dengan Hp nya itu.
"Ah! Sinyal nya mulai menghilang Nero!" Neru memekik takut saat mengetahui sinyal mulai meredup(?). Nero mengangkat satu alis. Ayolah, sewaktu menemukan mayat Dell dan Haku, Neru hanya shock dan shock itu tidak berlanjut lama, maksud Nero, tidak sampai memekik takut dan gelisah seperti ini kan? Atau Neru kelewat lebay terhadap yang berhubungan dengan Hp tersayangnya itu? Coret yang terakhir. Neru tidak seperti itu, pikir Nero.
"Mungkin disana ada sinyal! Lihat!" Neru berjalan dengan mengacung-ancungkan Hp nya tinggi-tinggi.
"Tunggu Neru!" Nero segera mengejar Neru dan berjalan mengikuti sambil menendang-nendang kerikil di sekitarnya, di belakang Neru. Dan tiba-tiba.
Tuk. Sret.
"Eh?"
Wuuuuuuush.
"TIDAAAAK!"
"NERUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!"
"NOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"
Bingung? Mari kita lihat kembali dalam slow motion.
Begini, tidak sengaja Neru menginjak kerikil yang ditendang Nero dan membuat Neru terpeleset. Neru kaget. Neru menjatuhkan Hp yang dipegangnya beserta Hp-Hp cadangan yang ada di kantongnya. Hp-Hp Neru terjatuh dengan kecepatan lumayan tinggi ke dalam lubang. Neru yang tidak rela Hp-Hp nya masuk ke dalam lubang gelap nan dingin itu berteriak tak rela dan ikut terjun ke dalam lubang itu berharap dapat menyelamatkan Hp-Hp nya. Dan Nero yang melihatnya berteriak kaget dengan tindakan Neru, yang ternyata lebih memilih Hp-Hp nya dari pada nyawanya, sehingga berteriak kencang cetar membahana sampai terdengar teman-temannya. Neru yang berada didasar lubang melihat Hp-Hp tersayangnya hancur tak berbentuk dan berteriak frustasi.
End Flashback
"Begitulah ceritanya," ungkap Nero mengakhiri ceritanya dengan wajah polos. Sedangkan yang lainnnya hanya bersweaddropedria, atau pun cengo yang bisa kita sebut Gakupo dan Len.
"Tapi, kalian baik-baik saja kan?" Miki tersenyum senang mengetahui Neru dan Nero sejauh ini baik-baik saja.
"Selain aku yang masuk kedalam lubang dan Hp-Hp ku yang hancur tak berbentuk kami baik-baik saja," Neru berkata dari dasar lubang dengan nada sarkastis dan kesal.
"Setidaknya bukan kau yang hancur tak berbentuk Neru-san," ucap Piko.
"T-tapi, ITU KAN HP-HP KESAYANGANKUUU! HUWEEEEEEEH! PADAHAL AKU SUDAH MENINGGALAKAN KALIAN DEMI MENDAPATKAN SINYAL! DAN MENJUAL DIAM-DIAM SYAL KAITO DAN MENJUAL FOTO-FOTO LUKA YANG MENGGUNAKAN BIKINI UNTUK MEBELI PULSA!" hapus coretan pemikiran Nero yang terakhir dan coret pemikiran Nero yang pertama. Neru kelewat lebay terhadap yang berhubungan dengan Hp tersayangnya.
Twitch.
Perempatan muncul di dahi Kaito dan Luka.
"PADAHAL AKU SUDAH BERKORBAN SEJAUH ITU! ITU JUGA SANGAT SULIT DILAKUKAN! HUWEEEEEEEEH!" sedagkan Neru masih sibuk mengoceh dan menangisi pengorbanannya untuk Hp-Hp tersayangnya itu.
"Heiy Neru! Kenapa kaau tak bilang kalau kau mempunyai foto Luka-sama yang menggunakan bikini?! Aku juga mau liat tau!" Gakupo misuh-misuh sendiri gara-gara Neru tak memperlihatkan foto Luka-samanya yang menggunakan bikini.
Buagh!
Luka menjitak kepala Gakupo dengan agak (baca: sangat) keras. "Itai Luka-sama," Gakupo mengaduh dan mengelus-elus kepalanya yang mendapat hadiah gratis dari Luka.
"Hentai," Luka memalingkan mukanya dan berjalan kesamping Rin.
Sedangkan Kaito bersiap membunuh Neru yang telah menjual syalnya sedang ditahan oleh Len dan Nero.
"Sudahlah Kaito," Miku menggenggam tangan Kaito dengan senyum sangat manis. Kaito yang melihat Miku memalingkan mukanya dan menutup mukanya dengan sebelah tangan. Tentu saja karna blushing. 'Sial, kalau bukan karna Miku, Neru pasti sudah kubunuh,' batin Kaito.
"ALOOOOOHAAAAAAAAAAAA! KALIAN MASIH DISANA?! AKU DAN MY LOVELY HONEY SWEETY HP BUTUH PERTOLONGAN! KALIAN TAU?!" Neru yang berada di dasar lubang dan selesai mengumpulkan pecahan-pecahan dari Hp-Hp kesayangannya.
"Baiklah Neru!" Nero mengambil akar panjang yang berada di dekat Gakupo dan menjulurkan akar itu ke dalam lubang. Neru segera menggenggam akar yang dijulurkan Nero dengan satu tangan, sedangkan satu tangan lainnya dipakai untuk membawa semua Hp-Hp yang tak berbentuk lagi.
"Ah, aku akan menservis Hp-Hp ku kalau sudah keluar dari hutan gelap ini," Neru memasukan Hp-Hp nya ke dalam tas yang dibawa Nero.
"Hihihi... Itu kalau dia bisa keluar dari sini..." suara itu muncul lagi, pikir Miku. Menghilangkan senyum yang tadi bertengger di muka manis Miku.
"Lebih baik kita segera mencari jalan keluar lagi," Kaito menarik tangan Miku dan berjalan menurut instingnya diikuti yang lainnya.
"Berikutnya yang kuning, hihihi..."
Deg! Jantung Miku berdetak kencang. Takut. Sangat takut. Miku gemetarar. Wajahnya pucat pasi. Langkanya kian melambat. Miku tak mau ada korban lagi.
"Miku? Kau baik-baik saja?" Kaito yang keheranan ikut melambatkan langkahnya. Kaito melihat Miku yang berkeringat dingin dan wajah yang pucat pasi, bertambahlah keheranan Kaito.
"Ah-ahahaha... A-aku tidak apa-apa Kaito-san..." Miku tertawa garing + tersenyum paksa = gugup + aneh = absurd, huh? Tidak. Heran lebih tepat. Absurd lebih cocok untuk Len yang pendek. Lebih pendek dari Miku.
"Kau lelah?" Kaito mengangkat satu alisnya.
"Kalau kau ma-"
"Tidak!" Miku menggeleng dengan cepat. Kaito menghela nafas pasrah dan mulai berjalan lagi.
Mereka berjalan, berjalan dan berjalan. Hingga sampai di suatu tempat lapang yng dikelilingi perpohonan rindang dan sejuk.
"Huh? Aku rasa itu petunjuk, kan?" Piko menunjuk tempat lapang itu.
"Yah, tempat itu memang kelihtan tidak terlalu mencekam sepertiyang lainnya." Rin mengangguk-angguk.
"Tunggu apa lagi?" Miki mulai berjalan ke tempat lapang itu diikuti yang lainnya.
'Jangan... Jangan kesana! Manusia bodoh! Jangan kesana! Malaikat itu! Malaikat sialan itu sudah merencanakan ini!' suara itu muncul lagi, berbicara sesuatu yang tak dimengerti Miku seperti perjanjian, setan, siluman dan malaikat. Suara itu lama kalamaan menjadi kecil, seperti menjauh seiring Miku berjalan ke tempat lapang yang dikelilingi perpohonan itu.
"Hei! Lihat! Batu ini seperti peti yah?" Len menunjukan batu yang berbentuk peti pada semuanya dengan tersenyum lebar.
"Yah! Kau benar len! Ini benar-benar mirip peti! Pahatannya sangat detail!" Rin mengamati batu berbentuk peti itu.
"Terlalu mirip menurutku," Gakupo ikut mengamati batu itu. Luka mengerutkan keningnya, "Dimana kau menemukannya Len?" tanya Luka.
"Di tengah lingkaran kecil itu," Len menunjuk lingkarang kecil di tengah lapang itu. Luka berjalan kesana diikuti Kaito dan mereka menemukan batu berbentuk seperti, kunci?
"Hei Gakupo! Bawa kemari batu peti itu!" Kaito berteriak. Gakupo membawa batu berbentuk peti itu diikuti yang lainnya. Sedangkan Kaito dan Luka masih mengamati batu berbentuk kunci itu yang membuat mereka terlihat ehmmm mesra?
'Kaito-san dan Luka-san terlihat mesra sekali yah...' batin Miku menatap nanar Kaito dan Luka yang masih mengamati batu berbentuk kunci itu.
Gakupo meletakan batu berbentuk peti itu di dekat Kaito. Kaito segera mencoba memasukan batu berbentuk kunci kepada lubang kunci di batu berbentuk peti itu. Dan tiba-tiba, batu itu berubah menjadi peti mas berhiaskan berlian dan perak. Begitu juga dengan kunci yang berubah menjadi kunci perak. Semuanya menatap takjub.
"Bagaimana bisa? Bukankah itu terlihat agak mustahil?" Miku menatap peti itu kagum sekaligus heran. Kaito tersenyum, eh salah, lebih tepatnya, Kaito menyeringai mendengar perkataan Miku. "Tak ada yang mustahil di dunia ini," Kaito berkata datar.
"Kaito! Ada sesuatu di dalam peti itu!" Miku menunjuk sesuatu seperti kertas yang digulung di dalam peti itu dan mengambilnya.
Lorsque la pleine lune en deux
Pompage de l'Esprit rencontrer le diable, anges et démons
Choisissez l'un des trois partis
Persuasion furtif non comestibles
Les trois parties ont signé un accord
Discrétion de l'esprit remplace un accord avec le diable et l'ange
Esprit obtient le pouvoir de furtivité et dans les gardes Dark Forest qui peut faire quoi que ce soit dans Dark Forest
Et, ange ou démon ne peut rien faire
Seules les personnes ayant un cœur sincère et désintéressé, et avoir un lien de parenté avec cet esprit, ce qui peut détruire l'esprit
Alors que la pleine lune en quatre
Human se sacrifier en poignardant son poignet gauche rempli quelque chose de différent, du fond d'un feu de pleine lune
Et, une demande sera accordée
Le choix entre les possessions ou à des amis qui veulent détruire l'esprit de la
Hening.
Suasana menjadi hening.
"Err, apa kau mengerti maksudnya Kaito-san?" Miku terlihat kebingungan akan isi gulungan tersebut.
"Tidak," Kaito berkata dingin.
"Kau tak tau Kaito? Kukira kau tu jenius, tapi ternyata kau tidak tau," Gakupo tersenyum meremehkan.
"Kau... Memang kau mengerti arti tulisan ini?" Kaito menatap tajam Gakupo. Gakupo mengangkat bahu acuh.
"Setidaknya aku tau beberapa kata-kata dari tulisan ini," Gakupo mengambil gulungan itu. "Dark Forest adalah Dark Forest, hutan ini."
"Itu aku tau," Kaito mendesis. Gakupo mengangkat bahu acuh dan melanjutkan.
"Et adalah dan. La pleine lune itu bulan penuh. Le diable, anges et démons itu setan, malaikat dan siluman. Un accord itu perjanjian. La garde Dark Forest itu penjaga Dark Forest. Alors que la pleine lune en quatre itu Disaat bulan penuh menjadi empat. Du fond d'un feu de pleine lune itu Dari dasar api bulan penuh. Et, une demande sera accordée itu Dan satu permintaannya akan dikabulkan." Gakupo menjelaskan yang ia tau dari gulungan itu. Semuanya memandang Gakupo heran dan kagum.
"Kau hebat sekali Gakupo-san!" Miku tersenyum manis kepada Gakupo yang membuat Gakupo sedikit blushing (hampir tidak terlihat) dan Kaito memincingkan mata tidak suka kepada adegan yang ia lihat. Miku tersenyum manis pada Gakupo. Pada Gakupo. Tulisan yang memerlukan bold dan underline itu adalah, bagian itu yang paling tidak diterima Kaito. Kenapa Miku tidak tersenyum manis seperti itu padanya? Kenapa malah pada Gakupo? Sebal dan iri bercampur saat melihat adegan itu. Intinya, Kaito cemburu.
"Aku tak tau kalau kau bisa bahasa asing Gakupo," Rin juga menatap kagum Gakupo. Gakupo senyam-senyum mendengar pujian Miku dan Rin. Dipuji dikit langsung melalang buana gitu loh...
"Jadi ini akan dibaca,
Lorsque bulan penuh en deux
Pompage de l'Esprit rencontrer setan, malaikat dan siluman
Choisissez l'un des trois partis
Persuasion furtif non comestibles
Les trois parties ont signé perjanjian
Discrétion de l'esprit remplace un accord avec le diable et l'ange
Esprit obtient le pouvoir de furtivité et dans penjaga Dark Forest qui peut faire quoi que ce soit dans Dark Forest
Dan, malaikat dan setan ne peut rien faire
Seules les personnes ayant un cœur sincère et désintéressé, dan avoir un lien de parenté avec cet esprit, ce qui peut détruire l'esprit
Disaat bulan penuh menjadi empat
Human se sacrifier en poignardant son poignet gauche rempli quelque chose de différent, dari dasar api bulan penuh
Dan, satu permintaannya akan dikabulkan
Le choix entre les possessions ou à des amis qui veulent détruire l'esprit de la" Luka membaca isi gulungan itu dengan terjemahan Gakupo. "Rasanya aku tau bahasa yang digunakan, tapi aku lupa," Luka memasang pose berfikir.
"Hey Gakupo, dari mana kau tau kata-kata tadi?" Kaito menatap Gakupo penuh selidik.
"Tertera di balik gulungan itu," Gakupo menunjuk balik gulungan itu dengan polos.
Hening.
Semua terdiam mendengar perkataan Gakupo yang polos. Miku membalik gulungan itu dan melihat terjemahan dari beberapa kata-kata yang ada di gulungan itu.
"Pantas saja kau tau," Kaito berkata sarkastis.
"Aku menyesal memujimu tadi Gakupo," Rin memasang wajah pura-pura kecewa. Gakupo nyengir kuda mendengar komentar Kaito dan Rin.
"Sudahlah, yang pasti ini ada hubungannya dengan bulan penuh, setan malaikat dan siluman, perjanjian, penjaga Dark Forest, saat bulan penuh menjadi empat, dasar api bulan penuh, satu permintaan yang akan dikabulkan," ucap Luka masih memasang pose berfikir. Diam. Semuanya tampak berfikir.
"Ngomong-ngomong," Len angkat suara setelah beberapa lama diam. Semuanya menongok ke arah Len.
"Mana Neru-chan dan Nero-kun?" Semuanya saling berpandangan mendengar perkataan Len.
"Kita cari mereka," Kaito berdiri dan berjalan mengikuti instingnya.
"Yah, Kaito benar. Kita tidak boleh terpisah," Luka berjalan mengikuti Kaito. Miku yang melihat Kaito dan Luka menatap mereka sayu.
20 menit kemudian...
Terlihat gerombolan remaja tersebut masih mencari Neru dan Nero.
"Aku lelah," Miki segera menjatuhkan dirinya di sebuah pohon besar. Para perempuan –Miku, Rin dan Luka- mengikuti Miki untuk beristirahat di bawah pohon besar tersebut. Sedangkan para lelaki msih sibuk mencari di sekitar tempat para perempuan beristirahat.
Brukh!
Tiba-tiba Piko jatuh tertunduk sembari menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya. Sementara tangan lainnya digunakan untuk sedikit menopang badannya.
"Ada apa Piko-kun?" Miki segera berdiri dan mau menghampiri Piko.
"Apa kau baik-baik saja, Piko-kun?" Miku ikut menghampiri Piko dengan wajah cemas.
Sedangkan Rin dan Luka menatap Piko heran, Gakupo, Kaito dan Len mendekat pada Piko.
"J-JANGAN KEMARI!" bentak Piko pada Miki yang mendekatinya. Spontan Miki kaget dan menghentikan langkahnya.
"Ada apa sih?" Rin dan Luka mendekat pada Piko.
"JANGAN MENDEKAT! SEMUANYA DIAM DI TEMPAT!" Gakupo berteriak sembari menghalangi sesuatu yang dilihat Piko, membuat kaget para cewek.
"A-apa?!" Miku yang berhasil melihat apa yang dihalangi Gakupo dan yang dilihat oleh Piko membelalakan matanya.
Miku melihat. Tubuh Neru dan Nero yang dimutilasi. Tangan dipotong. Kaki dipotng. Kepala dipisahkan dari tubuh. Jantung tergeletak di sebelah kepala bersama usus yang melingkar di kepala bagaikan mahkota. Bola mata mereka tampak menggelinding ke arah Piko yang masih tertuduk. Kuku-kuku jari tangan dan kaki dicabut dan dikumpulkan membentuk huruf Death. Hp-Hp Neru terlihat hancur berkeping-keping tergeletak disebelah kepala Neru.
Kaito dengan secepat kilat memeluk Miku yang masih dalam tahap kekagetan yang luar biasa melihat ada temannya yang mati lagi dengan tragis. Miku memeluk Kaito erat. Membenamkan kepalanya di dada Kaito dan menangis sesenggukan.
Rin, Luka dan Miki yang melihat Miku menangis segera mengerti kalau. Neru dan Nero sudah mati. Miki mulai menangis. Rin memeluk Len. Luka menundukan kepalanya dan membenamkan kepalanya di dada Gakupo.
"Hihihi... Bagaimana karyaku... Indah bukan... Hihihi... Berikutnya giliran kalian minna-chan... Hihihi... " terdengar suara nyaring diikuti sebuah siluet yang mengitari mereka. Sontak, para lelaki bersiap melindungi para perempuan.
Dan,
SREEEEET
Haunted In Dark Forest Chapter 4 Finish
ToBeContinued
Zuerna: Yey~~~! Lebih panjang dari kemarin~~~! *nari-nari seneng*
Neru: Hp-hp ku... *meratapi nasib hp-hpnya yang sudah tak berbentuk*
Minae: Sabar yah, Neru-chan *puk-puk Neru*
Zuerna: Maaf kalo banyak typo dan lainya, soalnya Zuerna cepet-cepet publish malem-malem sih *nyengir* biar pas kemerdekaan gitu...
Sawase: Baiklah, maaf kalau lanjutannya tak berkenan di hati mina-sama dan bloody scenenya kurang...
ZuMiSa: Pastinya, 'BUDAYAKAN MEREVIEW SETELAH MEMBACA.' Jadi, MIND TO REVIEW PLISE?
