EXO © SM Entertainment ® 2012

.

.

.

Kazuma House Production

present...

.

.

.

A Day Off

® 2018

.

.

.

.

.

11.05. PM

Kai baru saja tiba di rumah. Bangunan dua lantai itu sudah sepi ditinggal tidur para penghuninnya. Hanya lampu dapur yang biarkan menyala, sisanya mati, membuat Kai harus meraba-raba sepanjang jalan menuju kamar utama di lantai dua.

Dinginnya AC menyapa wajah Kai begitu ia membuka pintu. Seperti ruangan lainnya, kamar itu sudah gelap. Sisa lampu dari walk-in-closet dan kamar mandi yang Kyungsoo biarkan menyala. Ia bahkan bisa melihat istrinya itu sudah meringkuk hangat dalam selimut.

Kalau dipikir-pikir, Kyungsoo yang ia lihat sekarang amat berbeda dengan figur Kyungsoo yang tersimpan dalam kepalanya. Bahkan ia sempat mengira kalau mertuanya sudah menukar Kyungsoo dengan wanita lain. Kyungsoo dalam ingatannya adalah gadis pendek dengan poni rata dan pipi bulat yang seakan sedang menyembunyikan cherry di sana. Terlihat menggemaskan seperti bola ubi.

Pertemuan pertama mereka benar-benar berjalan dengan amat buruk. Saat itu perayaan ulang tahun pernikahan orang tuanya. Tepat saat itu dia diperkenalkan pada Kyungsoo sebagai calon pendamping hidupnya. Sedikit kaget, tapi mengingat neneknya sering berkata kalau dia sudah ditunangkan sejak lama, jadi tak ada alasan bagi Kai menolak. Toh Kyungsoo tidak seburuk itu.

Karena masih muda, tidak punya pengalaman, dan tidak punya clue harus berbuat apa. Jadi yang mereka lakukan hanyalah diam menikmati makan malam ketika orang tua mereka meninggalkan keduanya berduaan saja di tengah pesta. Berasa dijebak.

Belum lagi perilaku Krystal, sepupu Kai yang paling muda, yang menyiram Kyungsoo dengan jus jerus sambil mengatainya gendut. Itu benar-benar kenangan buruk untuk Kai. Ia tidak menyangka sepupunya akan bertindak sebarbar itu yang membuatnya harus meminta maaf berkali-kali pada Kyungsoo. Meskipun gadis itu berkata tidak apa-apa dan langsung pulang setelahnya, tetap saja rasanya permintaan maaf tidak akan pernah cukup.

Tujuh tahun tidak pernah bertemu lagi secara resmi ternyata merubah Kyungsoo begitu banyak. Gadis itu jadi langsing. Bahkan Jongin bisa melihat tulang selangkanya menyembul tegas di hari pernikahan mereka, seolah menyuarakan seberapa banyak berat yang Kyungsoo hilangkan dari tubuhnya. Dan dia jadi berkali-kali lebih cantik daripada yang selama ini Kai bayangkan.

Hah… mengingat seberapa kakunya hubungan mereka membuat kecantikan Kyungsoo di mata Kai tidak lagi berarti. Dia bahkan menghitung tanggal, berapa lama ia akan bertahan dalam pernikahan dingin ini.

Daripada dipikirkan, lebih baik Kai segera mandi dan tidur.

.

.

.

.

.

Oh Kyungsoo benci hal ini, bagaimana dirinya jadi seperti nenek-nenek yang selalu buang air saat malam datang. Padahal ia belum tidur lama. Lihat! Jam saja baru menunjukkan jam 11.30.

Ia sempatkan melirik ke sisi lain kasur yang masih tertata rapi, belum tersentuh. Tidak ada pula tanda-tanda orang lain yang masuk ke kamar ini. Sesaat batinnya jadi lebih tenang. Berarti Kai belum pulang.

Iapun bangkit berdiri menuju kamar mandi yang ada di ujung dari walk-in-closet. Tanpa pikir dua kali ia langsung menekan tuas, membuka pintu. Yang pertama kali Kyungsoo lihat bukanlah kamar mandi kosong, melainkan sesosok laki-laki bertelanjang dada sedang menyikat gigi di depan wastafel.

"Ma-maaf! Aku tidak tahu kalau kau pulang! Maaf!" segera saja Kyungsoo membanting pintu.

Ia bersandar pada salah satu lemari sambil memegangi dadanya yang berpacu begitu kencang. Heol. Kenapa pemandangan tidak senonoh yang Kyungsoo dapatkan di tengah malam?

Ceklek…

Kyungsoo memberanikan diri melirik pintu kamar mandi. Tidak ada sedetik, ia sudah kembali menunduk dengan wajah merah seluruhnya. Kai masih tidak berpakaian. Hanya mengandalkan handuk putih yang melingar di pinggang untuk menutupi kelelakiannya.

Oh harusnya Kyunsoo pakai kamar mandi di bawah saja daripada menunggu di sini.

"Maaf lama, kau bisa pakai kamar mandinya sekarang," kata Kai sambil bertanya-tanya dalam hati kenapa telinga Kyungsoo berwarna merah.

Tanpa bicara lagi, Kyungsoo langsung menyelinap masuk ke kamar mandi, membuang semua urin yang sejak tadi ia tahan. Lama ia bertahan duduk di atas closet meskipun sudah tidak ada yang ia lakukan lagi. Sebenarnya ini hanya untuk membuang waktu sampai Kai tidur dan ia bisa menyelinap kembali dalam selimut.

Harusnya dia sudah tidur… pikir Kyungsoo mengingat ia berada di sana cukup lama.

Perlahan ia membuka pintu, lalu berjalan mengendap-endap kembali ke kasur yang tidak berubah sejak ia tinggal tadi. Sama sekali tidak tersentuh. Kyungsoo jadi bertanya-tanya kemana Kai. Tapi tidak mau ambil pusing mencari kemana lelaki itu malam ini.

Jadi Kyungsoo menyembunyikan tubuhnya kembali dalam selimut hangat hingga pagi menjelang dan ia tidak juga menemukan tanda-tanda Kai berbaring di sebelahnya.

Hal itu berlanjut kurang lebih tiga hari kemudian. Kyungsoo akan menemukan kasur sebelahnya masih licin tak tersentuh, tapi juga menemukan keranjang pakaian kotor terisi kemeja putih yang Kai kenakan untuk ke kantor.

Hal ini jelas membuat Kyungsoo bertanya-tanya. Kemana lelaki ini tidur.

"Aku tidak punya kebiasaan tidur yang aneh, kan?" tanya Kyungsoo pada Luhan lewat sambungan telefon.

"Seingatku tidak," jawab Luhan mengingat hari menginap bersama yang beberapa kali mereka bertiga—dengan Baekhyun tentu saja—lakukan dulu. "Oh! Kau tidak bisa tidur tanpa guling! Kalau gulingmu hilang, kau akan menggunakan apapun untuk menggantikannya. Termasuk memeluk Baekhyun!"

"Ya, dan berakhir aku ditendang dari kasur," keluhnya mengingat bagaimana pagi harinya harus disertai rasa sakit di bokong. "Aku tidak akan pernah lagi tidur di sebelahnya!"

Luhan terkekeh. "Jadi, apa kau juga memeluk Kai saat tidur?"

Pertanyaan Luhan membuat Kyungsoo menghela napas. "Karena itu aku bertanya hal ini padamu. Sudah hampir seminggu ini aku bahkan tidak tahu dia tidur dimana."

"Maksudmu? Kai tidak pulang?"

"Bukan seperti itu." Kyungsoo kembali menghela napas. "Kai pulang setiap malam, tapi aku tidak melihat tanda-tanda ia tidur di kamar yang sama denganku."

Lama Luhan menggumam tanpa arah sampai akhirnya mengeluarkan statement akhir yang membuat Kyungsoo merasa bersalah. "Apa ini karena pernyataanmu waktu malam pertama?" Kalau benar karena kalimatnya waktu itu, ia benar-benar kejam sudah mendepak suaminya sendiri dari kamar.

Di malam ke empat, hari Jumat malam, akhirnya Kyungsoo membulatkan tekadnya untuk mencari tahu. Ia sengaja membuka matanya lebar-lebar meski jam sudah menunjuk pukul 10. Ia duduk di meja makan sambil terus chatting dengan Luhan dan Baekhyun yang memberikan beberapa saran khas drama tv.

"Oh? Kau belum tidur, Kyungsoo-ssi?" tanya Kai ketika ia sampai di ruang makan, hendak naik ke lantai dua.

"Iya…"

"Ada apa?" tanya Kai mendekat ke meja makan, tempat Kyungsoo duduk.

"A-apa kau sudah makan?" tanya Kyungsoo gugup melihat Kai dalam jarak kurang dari setengah meter menatap hanya kepadanya.

"Sudah. Kau?"

"Umm…" Kyungsoo mengangguk. Matanya tidak lepas dari tas yang dijinjing Kai sejak masuk ke rumah. "Tasmu biar aku bawakan ke ruang kerjamu."

Alis Kai naik, tidak biasnya Kyungsoo bertindak seperti ini. Gadis itu lebih sering lari menghindarinya ketika ia hendak mendekat. Bahkan melihat Kyungsoo bertahan dalam jarak sedekat ini membuat Kai sedikit bingung. Tapi ia tidak bertanya dan tetap menyerahkan tas jinjingnya ke tangan Kyungsoo.

Gadis itu segera melesat, meninggalkan Kai dengan tanda tanya di kepalanya.

Belum juga berakhir di sana, pertanyaan Kai semakin bertambah ketika ia selesai mandi dan menemukan Kyungsoo belum tidur sama sekali. Gadis itu masih duduk bersandar pada headboard ambil memainkan ponselnya. Padahal Kai biasanya akan menyelinap pergi dari kamar tanpa membangunkan Kyungsoo.

"Kau belum tidur? Tidak mengantuk?" tanya Kai menyadarkan Kyungsoo dari halaman chatting.

"Belum…" jawab Kyungsoo.

Mulut Kai membulat, sambil mengangguk-angguk. Akhirnya Kai berbelok menuju pintu keluar.

"Mau kemana?" tanya Kyungsoo tiba-tiba menghentikan langkah Kai yang hampir mencapai pintu.

"Kamar sebelah," jawab Kai datar membuat Kyungsoo malu sendiri ingin mengatakan apa yang disuruh teman-temannya atau tidak. "Ada apa, Kyungsoo-ssi?"

"Itu…" Kyungsoo melirik kaki ranjang yang terlihat lebih menarik daripada wajah tampan Kai. "Kau… selama ini tidur di sebelah?"

"Eo…" Kai mengiyakan.

"Apa itu karena ucapanku waktu itu?" Merasa Kai tidak menjawab membuat Kyungsoo mengambil kesimpulannya sendiri. "Aku minta maaf. Bukan maksudku mengusir—"

"Aku tidak apa-apa kalau kau memang tidak siap. Maksudku, memang kita menikah, tapi aku tidak mau memaksamu kalau memang kau tidak merasa seperti itu. Aku bukan suami pemaksa," jawab Kai menohok hati Kyungsoo meski lelaki itu mengatakannya sambil bercanda.

"Aku tidak apa-apa!" sambar Kyungsoo. "Yah… maksudku… ini kamarmu juga. Kau punya hak di sini… jadi… yah…" Kyungsoo kehilangan kata-kata yang sudah tersusun di kepala. Padahal sejak Kai masih di kamar mandi dia sudah melatih melafalkan kalimat itu. Nyatanya yang keluar hanyalah kalimat putus-putus yang Kyungsoo sendiri sesali.

"Apa kau sedang mengajakku tidur bersama?" tanya Kai tahu-tahu sudah ada di ujung tempat tidur.

"Eh?!" Kyungsoo kaget bagaimana Kai mengartikan kalimatnya barusan. Terdengar sangat murahan, seperti jalang.

Kai tidak bisa menahan tawanya ketika melihat wajah Kyungsoo memerah padam. Belum lagi matanya yang membulat, begitu juga mulutnya. Terlihat sangat menggemaskan sampai-sampai Kai tidak rela kalau pemandangan di depannya segera hilang.

Melihat Kai tertawa lebar membuat Kyungsoo sebal sendiri. "Kalau tidak mau juga tidak apa-apa," ujarnya lalu segera berbaring dan menyelimuti diri.

Padahal ia sudah menelan malu dan harga dirinya, berharap lelaki itu tidak mengejeknya. Namun yang ia dapati malah tawa puas. Membuat Kyungsoo menyesal sejadi-jadinya. Lain kali ia tidak akan menuruti saran picisan yang Luhan berikan.

Kai merangsek naik ke sisi lain kasur, berbaring di sebelah Kyungsoo setelah puas tertawa. Ia menatap langit-langit kamar yang sudah gelap. Kyungsoo di sebelahnya berbaring sambil memunggungi dia. Kasur kamar ini memang lebih baik daripada kamar sebelah, tapi entah bagaimana rasanya kantuk tidak juga segera datang.

Malam berlalu dengan begitu panjang bagi sepasang insan bumi tersebut. Tanpa keduanya saling tahu, masing-masing sibuk menetralkan detak jantung mereka.

.

.

.

.

.

Hari Sabtu datang dengan sangat terlambat. Kyungsoo baru bisa memejamkan mata saat jam menunjuk pukul dua pagi. Beruntung hari ini akhir pekan, jadi ia tidak harus takut terlambat. Ia mengeratkan diri pada selimut yang membungkus tubuhnya seperti kepompong. Hangat dan enggan melepaskan Kyungsoo.

Tapi mau bagaimanapun, bunyi annoying dari ponselnya memaksa Kyungsoo untuk membuka mata. Ia meraba-raba meja nakas, menggeser panel tanpa melihat nama sang penelfon.

"Yeoboseyo?"

"Kyungsoo? Kau belum bangun?" tanya suara di seberang sana seketika membangunkan Kyungsoo dari mimpi.

"AaEommeonimAnnyeonghaseyo," sapa Kyungsoo sedikit malu mengingat ibu mertuanya tahu-tahu menelefon dan dia ketahuan belum bangun. Padahal ibunya selalu mewanti-wanti untuk bangun pagi sebelum suaminya bangun. Tapi kini, ketika ia melihat samping, kasur sudah kosong. Memang tidak serapi biasanya. Kyungsoo ingat kok, kemarin malam Kai tidur di sana.

Wanita paruh baya itu tertawa seringan angin. "Ah… tidak perlu kaget seperti itu, Kyungie… Ibu tahu kok kalian masih muda. Pasti masih rajin melakukan itu."

Kyungsoo hanya bisa menanggapi dengan tawa kering—sesungguhnya tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan. "Ada apa Eommeonim menelfon?"

"Oh iya, Ibu mau memastikan, kau dan Kai datang kan malam ini?"

"Malam ini? Memangnya ada apa, Eommeonim?"

"Jadi Kai belum memberitahumu? Anak itu…" Mertuanya keki. "Malam ini sepupu Kai pulang dari Amerika. Semua keluarga akan berkumpul di rumah utama jam tujuh malam nanti. Jangan lupa datang ya, sayang. Beritahu Kai juga untuk datang, oke?"

"Baiklah, Eommeonim, nanti aku beritahu Kai," jawab Kyungsoo.

Setelah sambungan berakhir, Kyungsoo segera bangkit berdiri membereskan kasurnya lalu pergi mandi sebelum kejadian memalukan barusan terulang lagi. Kan tidak lucu kalau ia turun ke bawah dengan wajah lusuh sedangkan Kai, seperti biasanya, terlihat begitu tampan bahkan sebelum lelaki itu mandi!

Kyungsoo turun ke ruang makan dengan rambut diikat kuda. Di meja sudah ada pancake dengan sirup maple kesukaan Kyungsoo. Tanpa pikir dua kali ia segera melahap sarapannya sembari melempar pandang pada halaman dengan kolam renang yang hanya dibatasi oleh pintu-pintu lipat dari kaca. Matanya mengikuti sosok yang sedari tadi bolak-balik berenang di kolam.

Apa Kyungsoo pernah bilang kalau Kai itu hot? Tubuhnya yang biasa terbalut kemeja dan setelan jas itu benar-benar bagus tanpa pakaian. Kulitnya yang berwarna kecoklatan kelihatan berkilat akibat tetes-tetes air yang seakan membentuk anak sungai mengikuti lekuk otot yang menonjol. Samar-sama Kyungsoo bisa melihat bentuk kotak-kotak mengintip dari perut Kai. Membuat jari-jari Kyungsoo gatal ingin menyentuhnya, memastikan bagaimana wujudnya.

Tanpa Kyungsoo sadar, Kai sudah melihat ke arahnya dengan seringai geli sekaligus menggoda. "Menikmati apa yang kau lihat, Do Kyung Soo?"

Sial. Kyungsoo semakin terlihat seperti jalang dalam kurang dari 24 jam.

.

.

.

To Be Continue...

.

.

.

Yey, aku akhirnya kembali update. Maaf menunggu lama. Hehehe…

Sebagai permintaan maaf, aku mau jawab beberapa pertanyaan kalian:

Lebih panjang? Akan aku usahakan ya...

Kai selingkuh? Hohohooo... nggak kok, dia cuma ngungsi ke kamar sebelah. wkwk...

Little Kim? Hmmm... coba ditanya ke cast-nya #colekKaiSoo wkwkwkk...

Terima kasih yang sudah baca, fave, follow, dan review : DoWhetDo, Narin. S, ruixi1, Guest, bubblesbear, andiaminahnamirah, Amaliia216, Kyungkyung, kaisoooooo, kimi2266, Rly. C. JaeKyu, ELF Japan, erikaalni, babytaaa, Mon Angel, vichuu, Guest, Lady Azhura. Peluk, kecup, muahmuah. Kalo ada yang mau nanya atau kepo-kepo soal ADO, feel free to ask.

29 July 2018

02.03 A.M

Sign,

Uchiha Kazuma Big Tomat

A Day Off © Kazuma House Production ® 2018