out of luck
Naruto © Masashi Kishimoto
Sasuke kembali memulai pagi dengan mengenaskan—badan kaku, penuh keringat serta bercak, dan mata yang agak bengkak. Pria berambut hitam tersebut bukanlah morning person seperti Naruto, ia tahu jika ia melewatkan tujuh alarm paginya di ponsel. Lagipula ini hari Sabtu, sah-sah saja jika ia bangun jam satu siang.
Sasuke berusaha duduk dengan susah payah. Naruto benar-benar kejam, pria pirang itu sampai membuat pinggulnya sakit. Saat Sasuke berhasil duduk menyender pada headboard, ia baru sadar bahwa Naruto sudah pergi. Biasanya morning person itu selalu bangun siang di hari Sabtu (duh, who doesn't?). Sasuke masih bingung, apalagi saat ada secarik kertas di sisi Naruto menghabiskan malam—tidak biasanya ia begini. Jika Naruto ingin memberi pesan ia akan langsung mengirim chat pada Sasuke atau langsung membangunkannya. Apalagi, isi pesannya tidak begitu penting.
Sasuke, i gotta go
Jangan lupa makan!
—Naruto
p.s. maaf jika pinggulmu sakit, hehe
—
Tidak berbeda jauh dengan keadaan Sasuke yang mengenaskan, Hinata juga bangun dengan mengenaskan. Bercak di tubuh telanjangnya terlihat dengan jelas saat ia mendudukan dirinya dengan susah payah. Hinata merutuk kenapa Menma harus memasang kaca besar di sebelah sisi ia tidur, gadis berambut panjang tersebut harus menahan malu melihat bayangannya di kaca tanpa sehelai benang—ia lalu buru-buru menarik selimut putih tebal Menma ke dadanya.
Berbeda dengan Naruto yang menghilang, Menma masih tidur dengan dengkuran di samping Hinata. Terkadang Hinata tidak percaya bahwa pria ganas yang menghabisinya semalam bisa jadi selucu ini saat tidur. Kemana perginya pria 'memohonlah-padaku-Hinata' semalam?
Hinata mengulurkan tangannya untuk menekan pipi Menma. Ia yakin Menma akan bangun dan marah-marah, tetapi ada sesuatu yang ingin ia katakan pada pria tersebut. Menma mulai menggerutu dan Hinata mulai mencubit kecil pipinya.
"Menma ayo banguuun!"
Masih dengan mata terpejam, Menma yang sudah setengah bangun dan merasa sebal, mencoba menepis jari Hinata yang nakal, "Berisik! Aku ingin tidur!"
"Tapi ini pentiiing!"
Menma yang mendengar kata 'penting' langsung membuka matanya dan menatap Hinata galak, "Apa?!"
Hinata tersenyum manis tanpa merasa bersalah sekalipun, "Aku lapar."
Menma menggeram kesal. Ia menarik selimutnya sampai ke hidung. Pria tersebut memaki Hinata dalam hati, ia membiarkan Hinata yang menggoyang-goyangkan badannya. Tidak tahan dengan sikap Hinata, Menma bangun dan menatap Hinata sangar, sebelum mencubit pipi Hinata keras.
Hinata meringis kesakitan. Ia memukul-mukul tangan Menma yang masih menggantung dekat pipinya. "Lepaaas!" dan dengan begitu Menma melepas cubitannya. Ia menatap Hinata sebal, sedangkah Hinata hanya mengusap pipinya yang merah.
"Mau makan apa?"
Hinata terkekeh mendengar suara Menma yang tidak mood, "Apa saja."
Menma turun dari kasur dan memungut pakaiannya. Ia memakai celana dalam dan celananya dengan malas. Ia baru saja ingin memakai baju hitamnya saat suara dering ponsel terdengar. Ia menengok ke Hinata dan menemukan gadis tersebut memohon dengan matanya. Menma menghela napas dan langsung pergi ke sumber suara tersebut, diam-diam dia mengejek pemilihan ringtone Hinata yang norak karena memakai lagu jaman dulu. Saat melihat ponsel pintar itu terkapar di depannya, ia langsung mengambil dan membaca caller id yang tertera.
Hinata menunggu Menma melempar ponsel itu kepadanya, tetapi ia kebingungan melihat raut wajah Menma yang berubah. "Siapa?"
Menma terdiam beberapa saat, ia menunjukan layar ponsel tersebut ke Hinata, "'Bucin* 1' itu siapa?" Menma melempar ponsel itu ke arah Hinata.
Hinata tertawa, "Kepo." Ia menangkap dengan mudah, lalu buru-buru menekan tanda hijau di layarnya. "Halo?"
—
If I could save time in a bottle
The first thing—
Naruto langsung terbangun saat suara Jim Croce mengganggu mimpinya. Ia mengambil ponselnya di lantai buru-buru—tidak ingin membangungkan Sasuke yang sudah menggeliat saat tertidur. Naruto sedikit menyesal keputusannya memilih ringtone yang sama dengan Hinata.
Ia melihat caller id yang tertera dan buru buru menekan tanda merah di layarnya. Naruto susah payah melepaskan dirinya dari pelukan Sasuke, berusaha agar kekasihnya tidak terbangun akibat ulah dirinya. Setelah lepas, Naruto buru-buru bangun dan meninggalkan Sasuke yang tertidur. Ia berjalan cepat ke arah pintu dan keluar dari kamar tidurnya.
Naruto menjauh dari pintu dan memilih masuk kamar mandi luar. Ia mengamati recent calls di depan layarnya dengan gelisah, tangannya ragu menekan kembali nama yang tertera paling atas. Naruto masih berkutat dengan pikirannya sebelum nama tersebut muncul lagi. Entah apa yang merasukinya, ia langsung menekan tanda hijau.
Tidak ada suara apapun di seberang, yang ada hanya napas halus yang berat. Naruto baru mencoba untuk memulai ketika si penelpon memulai percakapan.
"Sayang?" suara Kushina bergetar. Getaran aneh merambat di dada Naruto. Ia menahan apapun yang keluar dari bibirnya walaupun hatinya berteriak menjawab satu kata tersebut. "Ka-kau di sana?" Naruto tahu ibunya mencoba mati-matian untuk tegar.
Naruto menelan ludah, "Mama," ia berkata lirih. Seluruh bagian hatinya merindu pada sosok berambut merah di seberang, ada rasa bersyukur yang membuncah saat sang ibu memanggilnya 'sayang'. Matanya memanas, bola mata birunya bergerak ke atas—menahan tangisan yang akan keluar, "Ma-Mama…"
Isakan Kushina mulai terdengar, "Apa ka-kabar, Sayang?"
Naruto mengusap air matanya yang mengalir, "Ba-baik," ia berbohong. Suaranya mulai bergetar, "Mama apa kabar?"
Kushina tertawa kecil dalam isakannya, "Kacau." Ia memberi jeda pada Naruto untuk tertawa, "Sa-sayang, bisa bantu Mama?"
"Tentu." Naruto menjawab cepat. Pikirannya sudah macam-macam, sebagian negatif, sebagian lagi tidak masuk akal.
"Bisa ke rumah?"
—
Naruto ingat, saat kecil temannya pernah menumpahkan jus manga ke celananya. Gadis yang menumpahkan minuman itu memohon maaf pada Naruto dengan berbagai cara—dari menawarkan untuk mencuci celananya sampai membelikan Naruto es krim. Seperti yang diajarkan oleh ayahnya, Naruto hanya tertawa dan menolak pertolongan gadis itu. Ia membiarkan celananya basah dan terasa lengket di pahanya.
Naruto mengutuk keputusan membawa pulang celana olahraganya. Pada sore hari itu, Naruto gemetar membayangkan ibunya yang akan memarahinya saat ia pulang nanti. Ia berharap sore itu angin kencang mengeringkan celananya yang basah dan bau mangga.
Sekarang, Naruto merasakan hal yang sama seperti sore itu. Pikirannya kalang kabut, takut dimarahi atas apa yang bukan menjadi kesalahannya. Naruto kecil sadar bahwa itu bukan kesalahannya jika jus mangga tersebut tumpah di celananya. Tetapi, sore itu Kushina memarahinya karena ia lalai sampai membiarkan jus mangga itu menodai celananya. Sampai sekarang ia masih bingung, kenapa ibunya menyalahkannya atas apa yang bukan kuasanya? Kecelakaan jus mangga itu terjadi begitu cepat sampai Naruto tidak sempat berpindah. Siapa yang bisa menduga jika lantai licin sekolahnya membuat gadis tersebut kehilangan kontrol atas minumannya?
Ia yakin, ia tidak salah. Mencintai seseorang bukanlah sesuatu yang patut dipermasalahkan. Tetapi, ia merasa dunia ini begitu membenci dirinya yang mencintai seorang pria. Padahal, perihal cinta itu bukan kuasanya. Ia ingin mencintai seperti kebanyakan orang. Bukan sekali-dua kali Naruto mencoba memulai hubungan dengan wanita atau berusaha menjauhkan Sasuke dari pikirannya—namun semua usaha itu sia-sia. Ia telah melewati berbagai rintangan, melukai banyak hati, dan mengecewakan diri sendiri untuk sampai pada tahap menerima dirinya sebagai gay.
Sampai pada tahap itu pun, Naruto masih harus belajar untuk mencintai dirinya. Entah sudah berapa malam ia menangis karena jijik pada refleksinya di kaca, sudah berapa tetes darah yang terkumpul akibat percobaan bunuh dirinya, sudah berapa obat ia telan agar Sasuke pergi dari otaknya. Mencoba menjadi straight itu tidak mudah, apalagi mengakui diri sebagai gay dan mencintai diri sendiri setelah perlakuan dunia pada kelompoknya.
Telah banyak hal yang ia lalui untuk sampai pada tahap ini. Tetapi, perlakuan yang belakangan ini ia terima dari ayah dan ibunya membuatnya kembali mempertanyakan usahanya, bahkan dirinya.
Apa usaha yang ia lakukan tidak cukup? Apa semua pengorbanannya sia-sia? Apa mencintai seseorang sebuah kesalahan?
Sama seperti jus mangga, perasaannya terhadap Sasuke itu di luar kendali Naruto. Jika ia bisa memilih, maka ia harap ia bisa jatuh cinta saja pada Sakura, Shion, Hinata, atau wanita lain di luar sana. Namun, sepertinya Tuhan ingin mempermainkan dirinya. Sang Kuasa melarang cinta antar sesama jenis, namun Ia juga yang melabuhkan hati Naruto pada Sasuke. Apa perasaannya adalah taman bermain bagi Tuhan?
Mobil Naruto menembus fajar. Jam 5 mulai menunjukan suasana pagi yang sepi dan Naruto masih berkutat dengan pikirannya, sesekali ia merutuk karena harus bagun pagi di hari Sabtu ditambah teknik penyampaian pesannya pada Sasuke yang tadi terkesan terburu-buru.
Lampu lalu lintas berubah merah. Naruto harap, lampu ini tidak berubah hijau. Perasaan takut itu terus merambat, padahal ia sudah menyiapkan segala argumen yang akan ia gunakan nanti. Tetapi, ketakutannya menyebar sampai ke ujung kaki. Menekan pedal gas saja ia enggan, padahal ia sudah lebih dari setengah jalan saat lampu berubah hijau.
Akhirnya, Naruto terus melaju—menuju apa yang dulu ia anggap rumah. Sedikit lucu, karena saat ini ibunya masih berpikir bahwa Naruto menganggap mansion di pinggir kota tersebut rumah. Jika saja Kushina tahu bahwa Naruto yang sekarang tidak tahu jawaban di mana rumahnya.
Naruto tidak akan mengesampingkan fakta bahwa tempat tersebut menorehkan banyak cerita dalam hidupnya, membentuk pribadinya, dan menjadikannya Naruto yang saat ini banyak didamba orang. Tapi mengingat apa yang dikatakan ayah dan ibunya saat itu memaksa Naruto menghilangkan embel-embel home sweet home pada mansion pinggir kota tersebut.
Jujur, walau terlihat normal setelah insiden yang belakangan ini terjadi, Naruto sebenarnya sangat terguncang. Ia seperti hilang arah tanpa tahu di mana tempat ia pulang. Tadinya, ia mantap untuk menjadikan apartemennya sebagai rumah. Tapi hanya karena ia bisa malas-malasan di apartemen dan makan mie instan bukan berarti tempat itu layak dijadikan rumah—rumah tidak sebercanda itu.
Lalu ia berpikir menjadikan Sasuke sebagai rumah adalah ide yang bagus. Tapi kemudian ia sadar, menjadikan seseorang sebagai rumah itu egois. Ia tidak ingin memenjarakan Sasuke dalam definisi "yang selalu ada"—seperti sekarang, ia tersesat dan Sasuke selalu ada. Tapi, bagaimana suatu saat jika Sasuke berubah? Apa ia akan tetapi menjadi rumah baginya? Atau ia harus mencari rumah baru dan mulai mengisi rumah tersebut dari awal?
Bukannya tidak percaya pada cinta Sasuke, tetapi setelah pria tersebut menolak lamarannya tanpa alasan yang jelas—mengekang Sasuke bukanlah jawabannya. Berada di sisinya adalah jawaban yang masuk akal saat ini dibanding harus menjadikan Sasuke sebagai rumah.
Sampai saat mobilnya berhenti di depan gerbang Mansion Uzumaki, Naruto tidak tahu apa ia akan kembali menyebut tempat ini sebagai rumah atau ia masih harus mencari. Semoga saja Tuhan berpihak padanya kali ini.
—
Naruto mengerti betul tentang selera ayahnya, pria itu suka apapun yang tidak ketinggalan zaman. Minato tidak suka aura mencekam Uchiha, jadi ia memilih cat putih untuk ruang kerjanya, dan kaca besar di belakang kursinya yang langsung menghadap ke pohon-pohon besar, tidak lupa lantai parket dari kayu jati. Satu lagi, Minato suka kesederhanaan, maka dari itu ia memilih desain minimalis untuk interior dalamnya.
Tetapi, Naruto ingin memaki siapapun yang menjadi desainer ruangan ini. Aura mencekam pelan-pelan merambatinya, entah jam yang seolah mengejeknya sampai rak buku besar yang mentertawainya. Ia yakin ia tidak memakai LSD, tetapi perasaan itu terus menghinggapi hatinya. Apalagi saat ibunya menyambut dengan pelukan dan ayahnya hanya tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa belakangan ini.
Perasaan Naruto tidak enak, ia merasa awas atas keramahan yang tiba-tiba ini. Ia duduk di samping sang ibu dengan canggung. Tidak seperti ayahnya yang bersender di kursi, Naruto masih mempertahankan posisi duduk tegapnya.
"Jadi," Kushina menarik atensi semua orang dalam ruangan, "teh?" Naruto dan Minato sama-sama menggeleng. Kushina tahu Minato pasti lebih memilih kopi sedangkan untuk Naruto, ia harap putranya tersebut masih menyukai susu di pagi hari.
"Susu."
Jawaban Naruto membuat Kushina senang, tidak salah ia menyuruh pelayan menuangkan susu dingin untuk Naruto sebelum putranya itu datang.
"Bagaimana kerja sama dengan Flight24?" Minato membuka percakapan, "Untuk perusahaan baru, Flight24 berkembang pesat."
Naruto mengangguk. Merasa aneh jika kedatangannya ke sini hanya untuk membahas perihal kerja sama antar perusahaan yang sudah sukses beberapa bulan lalu. Ia yakin bahwa ayahnya hanya berusaha mencairkan suasana sebelum masuk ke topik utama.
"Lalu, bagaimana—"
"Langsung ke topik saja, Sayang." Kushina memotong perkataan Minato dengan cepat. Tatapannya lurus ke mata biru suaminya yang mempertanyakan tindakan tadi.
"Langsung?"
"Langsung."
Minato dan Naruto sama-sama menegak ludah. Keduanya takut pada apa yang akan terjadi kemudian. Bedanya, Minato tahu apa yang akan dibicarakan, sedangkan Naruto masih mencoba menerka apa yang membuat Kushina sampai menelpon pagi ini.
Minato mengambil udara dalam-dalam. Degup jantungnya makin cepat, paru-parunya menyempit, dan tenggorokannya mengering. Satu hembusan napas, dan dia membuka bibirnya, "Kenal Shion?"
Naruto mencoba mengingat seperti apa rupa gadis yang menjadi musuh Hinata. Ia mengangguk ragu, sungguh Naruto hanya mengingat rambutnya yang pirang dan bibirnya yang cerewet.
"Jadi," Kushina kembali mengambil alih. Berbeda dengan sang suami yang kalang kabut, Kushina terlihat lebih tenang untuk wanita yang menangis selama seminggu non-stop. "Ayahnya mengajukan—"
"—kerja sama bisnis." Kali ini Minato yang memotong. Walau wanita awet muda tersebut terlihat marah, Minato mencoba menenangkan istrinya dengan senyum simpul. Pandangan Minato kembali pada Naruto, "Kau tahu, tidak hanya kerja sama bisnis," pria tersebut mengambil jeda sebentar, "ayahnya—yang ternyata dulu satu SMA dengan Papa—juga mengajukan hal lain."
Perasaan Naruto tidak enak. Tiba-tiba kepalanya pening, ia sudah menebak hal lain yang dimaksud sang ayah adalah sesuatu yang sangat ia benci. Entah sudah berapa kali kemungkinan singkat yang coba Naruto pikirkan sebagai pengganti hal negatif tersebut. "Hal…," suaranya mendadak bergetar, "…lain?"
Minato mencoba mencairkan suasana dengan tertawa pelan. "Kau tidak perlu khawatir, itu hanya—"
"—lamaran."
Suara Kushina yang pelan menampar Naruto keras. Perutnya mendadak sakit, kepalanya tambah pening, dan pandangannya mengabur. Di sela-sela 'tamparan' spontan barusan, Naruto mencoba bertanya pada sang ayah lewat pandangannya—mengkonfirmasi apa yang dikatakan ibunya. Dunia Naruto serasa ingin hancur saat Minato mengangguk.
Menit-menit yang dilewati saat ada ketukan pintu untuk kopi dan susu yang dibawa pelayan hanya berupa hembusan angin bagi Naruto. Ia tidak bisa mendengar apapun kecuali denting jam yang berdetak. Bahkan saat si pelayan pamit dan keluar dari ruangan, Naruto masih menjadi pendengar setia jam.
Perasaannya kacau. Ia pikir ia akan ke sini dan akan mulai kembali menyebut tempat ini rumah, namun semuanya hancur. Otaknya tidak sempat memproses apa reaksinya untuk menanggapi perkataan itu. Naruto hanya bisa memainkan jemari tangannya dan merasakan setiap inci dari hatinya yang runtuh.
Seperti sentilan yang membawanya kembali pada bumi, suara Minato membuatnya sadar. Naruto melihat ayah dan ibunya bergantian. Astaga, Kushina dan Minato sama-sama berucap dalam hati—mempertanyakan kembali apa keputusan mereka dari tiga hari kemarin yang sudah matang itu tepat bagi Naruto saat pandangan si pirang semata wayang mereka hanya penuh dengan luka dan kekecewaan paling dalam. Apalagi saat Naruto mulai tersenyum pedih dan menggeleng pelan, sebelum membiarkan air matanya mengalir.
Naruto menghapus perlahan air mata di pipinya. Sudah tujuh tahun terakhir ia menahan air matanya, dan baru kali ini ia membiarkan Minato dan Kushina melihat sisi paling rapuh darinya. Ia ingin kedua orang tuanya melihat bahwa anak semata wayang mereka tidak lebih dari Naruto kecil yang kecewa karena jus mangga. Ia ingin mereka tahu bahwa anak mereka telah terluka untuk sampai pada tahap ini dan perlakuan mereka barusan sama saja menorehkan kembali luka baru pada jiwanya yang paling dalam.
Naruto berdiri, ia berjalan pelan ke arah pintu sebelum berbalik dan menatap kedua orang tuanya bergantian. Ia ingin mengingat bagaimana pandangan bersalah Minato dan Kushina yang kembali menangis pelan.
"Aku tidak bisa." Ia membiarkan isakan Kushina memenuhi ruangan selama beberapa detik. "Aku…," Naruto mengambil satu tarikan napas, "…akan mengambil barang-barangku."
Naruto membuka pintu dan berjalan menjauh.
—
Menma dan Hinata tiba di depan Mansion Uzumaki dengan mobil box berukuran sedang. Mereka tidak kunjung turun walau lima menit sudah lewat. Menma hanya mengusap punggung Hinata yang terbalut jaket denim kepunyaannya, ia tidak tega pada Hinata yang selama perjalanan mengompres matanya dengan kaleng bir dingin.
Hinata tidak sanggup berkata apapun, ia hanya memeluk Menma erat sebelum membuka pintu dan turun menuju gerbang terdepan mansion. Menma yang mengerti hanya mengikuti dari belakang dan memutuskan untuk menelpon Naruto dan mengabarkan pria itu.
Mereka memutuskan untuk menunggu di luar mansion, tidak ingin menambah kelam suasana di dalam sana. Akhirnya, Hinata dan Menma hanya bersender pada dinding kokoh kepunyaan Uzumaki dan mengobrol singkat dengan penjaga di luar.
Tidak lama, Naruto keluar dengan tas penuh dan penjaga yang mengekor membawa barang. Hinata yang langsung melihat temannya langsung menghambur dalam pelukan Naruto. Tas yang dipegang Naruto jatuh karena beban Hinata dan tangan Naruto yang lebih memilih untuk memeluk Hinata.
Menma menepuk pundak sepupunya, "Hei." Suara Menma membuat Hinata melepas pelukannya. Mereka bersalaman sebelum Menma menariknya dalam pelukan. Naruto bisa merasakan air mata Menma yang membasahi jaketnya perlahan. Menma baru melepaskan pelukannya saat salah satu barang Naruto terjatuh. Sang penjaga meminta maaf berkali-kali pada Naruto walau Naruto hanya tertawa dan menganggap itu angin lalu. Akhirnya, Hinata memutuskan untuk membantu menata beberapa barang dalam mobil box agar kejadian tidak serupa terulang pada barang penting. Sedangkan Menma dan Naruto menjauh untuk membahas hal yang lebih Uzumaki.
"How was Aunt Kushina?" Menma memulai dengan pilihan yang ia sadar tidak tepat sepersekian detik setelah kata itu keluar dari bibirnya. Ia baru tenang saat Naruto hanya tertawa kecil, "Is she still my favorite M.I.L.F?"
Naruto melotot, ia memukul lengan Menma agak keras sebelum sadar bahwa Menma memang punya masalah dengan saringan mulut. "Dia baik."
Menma mengusap lengannya kasar sebelum merangkul Naruto dan menurunkan suara volumenya, "Aku akan bicara pada Paman mengenai ini."
"Tidak usah." Naruto menyanggah cepat, "Mereka tidak akan berubah."
Menma baru saja akan mencoba untuk membujuk Naruto ketika tangan Naruto menepuk pundaknya untuk meyakinkan Menma bahwa ia baik-baik saja. Menma hanya tersenyum, "Bagaimana dengan Sasuke?"
Naruto tersenyum pasrah, "Entah."
—
Sasuke baru menonton film favoritnya saat Naruto datang. Ia kaget melihat pria tersebut datang dengan jaket lusuh kesayangannya, Sasuke ingat betul Naruto meninggalkan jaket itu di Mansion Uzumaki sebelum kejadian coming out Naruto terjadi. Untuk orang secerdas Sasuke, Naruto seharusnya sadar senyuman simpul di wajahnya tidak mampu meredam beribu pertanyaan 'ada apa' yang akan Sasuke tanyakan di detik berikutnya.
Sasuke masih bertanya-tanya dalam hati saat Naruto berlutut di bawahnya—mensejajarkan dahinya pada lutut Sasuke yang sedang duduk. Ia pikir Naruto akan menawarkan servis cuma-cuma, namun saat tangan kokoh pria pirang itu tidak melakukan apapun, Sasuke sadar bahwa ada yang salah terjadi saat dirinya masih tidur tadi.
"Menikahlah denganku."
Sasuke menghela napas, jika ini adalah salah satu drama Naruto ia akan benar-benar mencekik pria di depannya ini.
"Aku kan sudah bilang—"
"Please?" Naruto menempatkan dahinya di lutut Sasuke. "Aku tidak punya tempat pulang lagi, Sasuke," air matanya membasahi lutut Sasuke yang tidak ditutupi apapun, "Mereka akan menjodohkanku dan aku menolaknya," Naruto membiarkan tangan Sasuke menyentuh setiap helai rambutnya, "Lalu, aku pergi."
Sasuke bisa merasakan kesedihan Naruto yang mencekiknya perlahan. Pria di depannya ini berani untuk melakukan apapun untuknya, tetapi ia di sini takut untuk melawan dunia dan memilih untuk berlindung dalam topeng heterosexualnya. Sasuke malu, di saat Naruto berusaha mati-matian mengorbankan harta paling berharga yang ia punya, ia malah takut untuk melangkah maju bersama Naruto. Padahal, dia sendiri yang berjanji untuk ada dalam setiap langkah yang akan Naruto ambil.
Sasuke mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya sedikit demi sedikit. Mencoba untuk menyamai langkah Naruto dan menemani pria itu kemanapun ia akan pergi nanti. Ia memulainya dengan mengambil napas yang panjang dan meyakinkan dirinya sendiri.
"Aku…," ia menelan sisa keberanian yang ia kumpulkan tadi, "…akan me—shit!" ucapannya barusan mengangkat wajah Naruto yang penuh dengan air mata dan ingus, "Pokoknya begitulah! Aku mau—itu loh! ITU!"
Naruto memiringkan kepalanya. "Sex?" Sasuke melotot. "Menikah?" Sasuke hanya mengangguk dengan wajah yang memerah luar biasa, "Denganku?" dan anggukan terakhir pria itu disambut oleh pelukan Naruto yang spontan.
Sasuke yang tidak siap hanya marah-marah tanpa mengetahui Naruto lupa menutup kembali pintu yang ia buka dan membiarkan Hinata dan Menma yang merekam kejadian barusan dengan terkikik.
—
Sasuke duduk di depan ayah, ibu, dan kakaknya dengan wajah yang tenang. Ia menyesap teh buatan pelayan dengan pelan walau panas yang ia rasakan di lidahnya bukan main—mencoba mempertahankan ketenangannya di antara wajah-wajah kaget yang memancarkan kekecewaan.
"Apa katamu tadi?" suara Itachi menggema di ruang keluarga Uchiha. "Kau dan Naruto mau apa?"
Sasuke tidak mampu melihat wajah ketiga orang di depannya, ia hanya menunduk memperhatikan cangkir tehnya. "Menikah."
Mikoto tertawa, ia mengguncang bahu Sasuke dan memuji akting anak bungsunya. Wanita tersebut menepuk bahu Sasuke dan mencoba untuk meyakinkan suami dan anak pertamanya bahwa Sasuke hanya bercanda dan membuat jokes untuk April mop walaupun ini bukan bulan April. Mikoto berhenti untuk meminta Sasuke menjelaskan maksud dari leluconnya saat Sasuke masih diam tidak berniat untuk berbohong.
Fugaku masih bertahan dengan wajah dinginnya walaupun tangisan Mikoto sudah memenuhi ruang keluarga dan bagian hatinya yang terdalam. Ia hanya melihat Sasuke tepat di matanya dan tidak menemukan adanya kebohongan dan keterpaksaan dari perkataan yang tadi ia luncurkan.
"Keluar." Ucapan Fugaku diikuti Sasuke seperti perintah dari atasan. Sang ibu memohon untuk tetap diam di tempat dan kakaknya hanya menunduk bingung. Ia meminta Fugaku untuk memberi anaknya satu kesempatan lagi sebelum Sasuke membuka pintu ruang keluarga dan memilih pergi dari tempat itu.
Mikoto mengekor dari belakang, ia membujuk Sasuke untuk membatalkan rencananya. Sasuke tidak sanggup menahan tangisnya saat sudah di depan mobil dan Mikoto berbicara tentang dia yang dulu berada dalam rahim ibunya.
Mikoto masih mengoceh tentang perasaannya yang keliru dan rencananya yang begitu jauh dari kata 'waras'. Sasuke yang sedih hanya memeluk erat sang ibu dan mengecup dahinya sebelum masuk ke mobil dan memilih untuk pergi menjauh.
Sasuke pergi diiringi tangisan Mikoto yang mengguncang batinnya. Ia masih sempat melihat ibunya yang jatuh terduduk sebelum pergi meninggalkan kediaman Uchiha dengan kecepatan tinggi.
Sasuke tidak bisa lagi menahan sedihnya di dalam mobil. Ia memukul setir berkali-kali, tidak percaya bahwa keluarganya baru saja membuangnya. Sasuke seakan tidak berpikir apapun untuk berusaha mencoba membuat dirinya kembali diterima di tengah Uchiha—kembali berlindung menjadi pria heterosexual hanya akan menyakiti hatinya.
Sasuke masih berusaha menghapus segala kenangan tentang keluarganya saat dering ponselnya berbunyi. Nama sang ibu tercetak jelas di sana—Sasuke menekan tombol merah dan melempar ponsel tersebut ke jok belakang. Sasuke yakin, salah satu cara untuk menerima kenyataan dan memulai sesuatu yang baru adalah dengan menghapus yang lama.
Dering ponselnya masih terdengar, Sasuke sadar bahwa itu masih orang yang sama dengan yang menelpon barusan. Ia menghargai usaha ibunya yang berusaha untuk menjalin kontak dengannya, tetapi Sasuke tahu bahwa sang ibu akan berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa persaannya hanyalah kekeliruan semata. Di mata Mikoto, cinta sejati terjadi di antara Adam dan Hawa—pria dan wanita, bukan pria dan pria ataupun wanita dan wanita.
Mobil Sasuke melaju dengan cepat di jalanan. Ia menghiraukan rambu-rambu lalu lintas yang daritadi ia lewati. Air matanya mengaburkan pandangannya terhadap lampu lalu lintas yang berubah merah.
Mobil Sasuke berada di tengah jalanan yang sibuk, berbagai kendaraan datang dari berbagai sisi dan mobil hitam tersebut berada di tengah-tengah. Sasuke kebingungan, ia baru sadar bahwa ia tadi melewati lampu lalu lintas yang menyuruhnya berhenti.
"Fuck."
Entah ucapan itu ditujukan untuk dirinya yang mengabaikan lampu lalu lintas atau truk yang menghantam mobilnya dengan keras.
tbc
* = Budak Cinta.
p.s. wow. this. is. the. longest. chapter.
p.s.s. ini dibuat saat acu masi galau gengki karena mantan gue ngajak balikan hm
p.s.s.s. BUT WHO CARES BITCH? gue dulu masi inget sm lo yg toxic, so byeeeeee boyyy
p.s.s.s.s. disarankan buat baca chapter ini denger lagu-lagu yg mellow hehew
