"Woi, Sakura suka sama Sasuke, loh." teriak seorang temannya tepat di depan kelasnya. Sakura mengernyitkan dahinya. Apa-apaan ini? Kedua temannya yang sedari tadi bercengkrama dengannya pun kini menatapnya menggoda, begitu pula berpuluh-puluh pasang mata di dalam kelas. Ini memalukan.
Sakura berdiri dengan ekspresi tidak sukanya, "Jangan menyebar gosip yang aneh-aneh deh, Suigetsu." Sakura menatap tajam anak laki-laki yang kini menyerigai itu. "Jujur, aku nggak suka ini."
"Hee~ bilang saja yang kebenarannya, Sakura. Kau menyukainya, kan? Dan lagi pula Sasuke tampaknya nggak keberatan akan hal itu. Soalnya kan kalian dekat banget tuh. Kau tahulah, kalau Sasuke itu berjaga jarak sama perempuan lainnya–selain kau, tentunya."
Iris emeraldnya bergerak ke arah teman semasa kecilnya itu berada. Dia tampak sibuk dengan kegiatannya sendiri, seakan-akan tidak terganggu dengan kehebohan kelas. Meskipun begitu, Sakura tahu satu hal. Sasuke merasa tersinggung. Dia tidak menyukai ini.
"Suigetsu, hentikan ini. Kau membuatku tidak nyaman." tegur Sakura untuk kedua kalinya. Matanya menatap keberatan. Ia tidak ingin Sasuke terganggu akibat ini. Memang anak laki-laki itu terlihat dingin di luar, tapi di dalamnya ia sangat sensitif akan beberapa hal. Beberapa pasang mata menatapnya menggoda, mengindahkan kalimat Sakura barusan.
Suigetsu semakin memperlebar serigaiannya. "Melihat responmu, berarti kau memang menyukainya, kan?"
"Eh?"
Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu memasang wajah memuakkan, "Jika kau tidak menyukainya, seharusnya kau mengabaikan hal itu, Sakura."
"Tidak, aku hanya–" Ucapan Sakura terhenti. Ia tidak mungkin mengatakan kalau Sasuke akan terganggu akan hal ini. Mengatakan itu sama saja membuatnya terperangkap kembali dalam ejekan Suigetsu. Iris emeraldnya melirik anak laki-laki itu yang masih sibuk dengan dunianya. Tatapannya berharap agar Sasuke mengatakan beberapa kata sanggahan agar ini tidak berlanjut.
"Hanya apa, Haruno?" Suigetsu memaksanya untuk kembali menatapnya. Serigaian itu belum terlepas dari wajahnya. Sakura menalan air liurnya. Sepertinya teman masa kecilnya itu tidak bisa diharapkan.
"Aku hanya tidak ingin menyukai teman semasa kecilku. Itu saja."
Dan serigaian Suigetsu sedikit meluntur. Jelas, itu adalah penolakan secara langsung. Tanpa Sakura sadari, itu adalah sebuah kalimat yang cukup membekas di hati anak laki-laki beriris onyx itu.
Don't Ignore Me, Please!
.
.
.
Karakter :
Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Gaara
.
.
.
Genre:
Romance, Friendship, dan lain-lain
.
.
.
WARNING:
Out Of Character, Typo dan lain hal sebagainya (-n-")
.
.
.
Tokoh-tokohnya sudah pasti punya Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 04 : Tolong, Beri Aku Satu Kesempatan
.
Langit yang bewarna biru kini mulai sedikit kemerahan. Bel pulang sudah berbunyi setengah jam lalu. Sakura menuntun sepedanya. Hari ini dia pulang sendiri, tanpa Hinata dan Ino. Matanya menatap lapangan baseball yang tengah di penuhi oleh suara teriakan para anggota yang sedang berlatih. Perempuan beriris emerald itu memakirkan sepedanya. Dengan langkah sedikit lebar, kakinya melangkah mendekati pagar yang membatasi lapangan dengan trotoar. Sedikit menyipitkan matanya, kedua bola matanya memandangi seisi lapangan.
Terlihat seorang pemuda berambut merah tengah terfokus pada pitcher yang akan melempar bola. Sebuah bat bewarna merah berada di kedua tangannya, bersiap untuk memukul. Sakura menatap antusias. Senyumannya mulai mengembang ketika Gaara memukul lemparan itu dengan sangat sempurna. Bolanya jatuh tepat di ujung lapangan baseball itu.
"Home run!" gumam Sakura semangat. Gaara tampak sangat puas. Lagi-lagi Sakura melihat senyuman terlebar yang pemuda itu tampilkan sambil mengelilingi base. Ah, lima hari lagi ada latihan tanding dengan kakak kelas, tentu saja Gaara sedang berusaha keras agar masuk ke tim inti, menggantikan angkatan tahun lalu yang sudah lulus.
"Hei," Tepukan pada bahunya membuat Sakura mengalihkan pandangannya. Senyumannya sedikit luntur. Ia berdeham kecil, mencoba agar tidak membuat suasana canggung. Uchiha Sasuke. Pemuda itu berdiri tepat di sampingnya. Mata onyxnya menatap lapangan baseball. "Sejak kapan kau menyukai olahraga ini?"
Sakura menaikkan sebelah alisnya. Iris emeraldnya kembali terfokus pada kegiatan di lapangan itu. "Sudah cukup lama. Seorang temanku membuatku menyukainya."
"Pemuda berambut merah itu?"
Kerutan tercetak di dahi Sakura. Matanya menatap bingung Sasuke, "Kau mengenalnya?"
"Aku pernah melihatmu tengah mengobrol dengannya di lorong." Sasuke menarik napasnya. "Kau tampaknya sangat nyaman di dekatnya saat itu." lanjut pemuda itu dengan nada pelan. Sebenarnya, ia hanya mendengarnya di balik pintu saat itu. Tidak melihat. Tapi, dari intonasi suara Sakura, ia dapat mengetahui itu.
Sakura tidak memberikan respon apapun. Perempuan beriris emerald itu hanya membulatkan mulutnya. Sasuke yang melihat itu pun terdiam. Onyx pemuda itu memandangi Sakura dalam diam. Tangan Sasuke mengepal, menahan dirinya agar tidak menyentuh teman semasa kecilnya itu.
"Ah, sudah kuputuskan." ucap Sakura tiba-tiba. Sasuke mengernyitkan dahinya, menatap Sakura bingung. "Aku akan menjadi manager tim ini."
"Mengapa tiba-tiba?" tanya pemuda itu. Nada suaranya terdengar sedikit tidak menyukai keputusan Sakura.
"Hm? Aku tidak tiba-tiba, hanya saja masih memikirkan jawabannya. Gaara sudah menawarkan itu sebelumnya." Sakura tidak menyadari perubahan nada Sasuke. Dengan semangat, dia pun kembali memikirkan tugas manager pada tim ini. "Besok aku akan mengatakan ini pada Gaara."
Iris emerald itu menatap antusias lapangan baseball. Tanpa perempuan itu sadari, pemuda di sampingnya sedikit mengeraskan rahangnya ketika dirinya menyebutkan nama pemuda berambut merah itu. Sasuke menarik napasnya. Sepertinya, teman semasa kecilnya itu tidaklah lagi mudah digapai olehnya. Iris onyx itu terus memandangi ekspresi Sakura yang terlihat antusias dan terpaku pada rambut hitam perempuan itu. Entah mengapa hatinya sedikit miris karena ia tidak melihat helaian warna pink yang ia sukai.
Tangannya tidak bisa lagi ditahan. Dengan gerakan berlahan, tangan pemuda itu terangkat menyentuh helaian rambut hitam sebahu milik perempuan itu. Sakura menoleh pelan dan itu membuat kedua mata mereka bertemu. Emerald bertemu dengan onyx. Untuk beberapa detik, mereka saling terhanyut dalam suasana itu. Sasuke enggan memutuskannya. Matanya menatap dalam-dalam emerald itu.
Tersadar dengan situasi, emerald itu pun mengalihkan pandangannya, kembali menatap lapangan baseball yang masih di penuhi oleh teriakan semangat para pemainnya. Sakura berdeham pelan, mencoba agar tidak salah tingkah, "Jangan berkomentar apapun mengenai rambutku."
Sasuke mengabaikannya, "Kau memiliki alasan untuk mengecatnya?"
"…" Tidak ada respon. Sakura menggigit bibir bawahnya. Tangannya memegang pagar pembatas sedikit erat. Sasuke masih diam menatapnya, menunggu perempuan beriris emerald itu membuka mulutnya. "Tidak ada alasan khusus," ucapnya kemudian dengan nada yang sangat pelan namun dapat di dengar oleh pemuda itu.
Sakura dapat mendengar suara helaan napas pemuda itu. "Rambut pinkmu itu lebih cocok berada di sana dibandingkan sekarang." ucap Sasuke sambil mengacak-acak pelan rambut Sakura. "Ayo pulang."
Perempuan dengan rambut sebahu itu memegangi helaian rambutnya berlahan. Kepalanya mengangguk pelan lalu mengikuti langkah Sasuke. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Sasuke menyukai rambut pinknya. Haruskah dia tidak lagi mengecat rambutnya? Membiarkan warna asli dari rambutnya itu terpampang di kepalanya.
Tanpa Sakura sadari, sebuah senyuman terukir di wajahnya. Mungkin nanti dia akan berpikir ulang untuk mengecat rambutnya.
Sakura menatap punggung pemuda itu. Ia sedikit bingung mengapa teman semasa kecilnya malah memilih sekolah di sini. Sampai nge-kost pula. Dia memang bertemu dengan pemuda itu di sekolah. Bahkan dia sering berpapasan di lorong. Tapi, tidak sedikitpun dia menegur pemuda itu. Sakura selalu menyibukkan dirinya seolah-olah dia tidak menyadari pemuda itu.
Tapi lain halnya jika dia yang ditegur duluan oleh pemuda itu seperti tadi. Sakura tidak bisa mengabaikannya. Mulutnya spontan merespon tegurannya. Ini membuat perasaannya tercampur aduk. Sebagaimana usaha perempuan beriris emerald itu mengabaikannya, matanya pasti selalu memandangi punggung pemuda itu dalam diam.
Punggung tegap yang selalu membuatnya nyaman. Sakura mendekati Sasuke yang sudah berdiri di samping sepedanya. Ia tidak akan pernah bisa mengabaikan pemuda itu.
.
"Sakura," panggil sang ibu sambil membuka kamarnya. Sakura menoleh ke ambang pintu kamarnya. "Antarkan ini ke kostnya Sasuke, ya?"
Sakura mengernyitkan dahinya, "Ibu tahu kalau Sasuke ngekost di sini?"
"Ya, tahulah. Tiga hari sebelum sekolah malah ibu tahunya."
"Kenapa nggak bilang?" kata Sakura sambil berjalan mendekat ke ibunya. Ia kira selama ini ibunya tidak tahu apa-apa. Ibunya bukanlah seorang ibu-ibu yang suka bergosip dengan tetangga. Bahkan Bibi Kurenai lebih dekat dengan dirinya dibandingkan dengan Mebuki.
"Lah, bukannya nantinya kamu akan bertemu dengannya di sekolah?" ucap ibunya. "Sekarang antar ini ke sana, gih." Mebuki memberikan dua kotak makan yang dibungkus oleh kain kepadanya. Sakura memperhatikan benda itu dan lagi-lagi ia mengernyitkan dahinya. Kenapa harus dirinya?
"Sudahlah, cepat sana. Nanti kemalaman."
Mau tidak mau, Sakura menganggukkan kepalanya. Dengan langkah yang sedikit diseret, dia berjalan menuruni tangga. Baru tiga jam yang lalu dia bertemu dengan pemuda itu dan kini dirinya dipaksa untuk bertemu kembali. Di kamar kostnya pula. Entah apa yang akan dia katakan nantinya. Mendadak otaknya dipenuhi rangkaian kata agar dirinya tidak salah ucap nantinya.
Sakura menghela napasnya ketika dirinya sudah berdiri tepat di depan pintu rumah Bibi Kurenai. Ini pertama kalinya dia memasuki rumah itu–dari sekian tahun. Karena rumah Bibi Kurenai itu kost, dia tidak pernah berani memasuki rumah itu. Bertemu dengan orang asing yang terus berganti membuat Sakura tidak nyaman. Perempuan beriris emerald itu mengetuk pintu rumah itu tiga kali. Samar-samar dia mendengar suara dari dalam yang disertai langkah mendekat. Pintu terbuka, menampilkan seorang wanita berumur tiga puluh tahun.
"Sakura-chan, ada apa?" Bibi Kurenai tersenyum tipis. Tepat di belakangnya ada Mirai yang tersenyum lebar sambil memanggilnya. Sakura tersenyum tipis melihat bocah itu lalu kembali menatap Bibi Kurenai.
"Ada Sasuke? Ibu menitipkan ini untuknya."
Bibi Kurenai memandanginya jail, "Ternyata kau mengenal pemuda itu, ya? Kamar ketujuh dari belokan ini, itu kamarnya." ucap Kurenai sambil menunjukkan arahnya. Mirai mendekati ibunya. Tangan mungilnya memegang ujung celemek wanita itu. Dengan wajah yang sangat polos, dia memamerkan kue yang tengah ia makan–bocah itu memakan cemilannya sebelum makan malam. Sakura tersenyum, tangannya terulur mengacak-acak rambut bocah itu.
Rencananya sih, Sakura ingin menitipkan ini ke Bibi Kurenai dan langsung pulang. Tapi, karena tidak enak–dan Sakura yakin wanita itu tengah sibuk–mau tidak mau dia harus mengantarkan ini kepadanya langsung.
"Maaf, mengganggu," kata Sakura sambil melangkah masuk melewati Kurenai. Wanita itu tersenyum dan dengan cepat, kedua tangannya langsung menggendong Mirai yang baru saja ingin mengikuti Sakura. Mirai merengut kesal, matanya menatap ibunya sedikit memohon.
"Tidak, Mirai, biarkan Sakura-nee dengan temannya saat ini." ujar Kurenai lalu memberikan sebuah bendera kecil ke tangan anaknya. "Mau menusukkan bendera ini ke hambuger milikmu?" Dan setelahnya terdengar suara sorakan senang dari bocah perempuan itu.
Iris emerald Sakura menelusuri beberapa pintu kamar yang berada kedua sisi dinding di sampingnya. Bibi Kurenai memang mengatakan kamar ke tujuh, tapi beliau tidak mengatakan di sisi kiri atau kanan bagian dindingnya. Dengan terpaksa, Sakura mencoba mengambil insting terdalam dirinya.
Kakinya bergerak ke kamar keempat dari sisi kiri. Ia menghela napasnya, mencoba menenangkan diri dari pikiran negatif–jika seandainya di salah memasuki kamar. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu kamar itu. Namun, belum sampai tangan itu menyentuhnya, pintu itu terbuka. Seorang pemuda berperawakan tampan dengan rambut dark bluenya muncul di balik pintu.
Mata pemuda itu terbelalak sedikit lebar, terkejut melihat perempuan beriris emerald yang sangat ia kenal berdiri di depan kamarnya. Sakura tersenyum canggung. Tangannya terangkat, memperlihatkan dua kotak makan untuk memberitahu tujuannya kemari. Pemuda di hadapannya menatap benda itu lalu melirik Sakura.
"Masuklah," kata pemuda itu membuka pintu kamarnya lebar. Tangan pemuda itu menyalakan lampu kamarnya yang baru saja ia matikan. Terlihat sebuah kamar dengan lua yang tertata rapi dan sederhana.
"Ah, tidak, aku akan langsung pulang." tolak Sakura memberikan dua kotak makan itu ke tangan Sasuke secara terburu-buru. Setelah sudah terpegang oleh pemuda itu, Sakura berbalik, berniat pulang.
"Sebentar saja, Saki." Sasuke menahan tangannya, membuat langkah Sakura terhenti. "Kita mengobrol sebentar. Hanya beberapa menit, oke?"
Sakura menggelengkan kepalanya pelan lalu matanya menatap baju Sasuke. "Bukannya kau ingin keluar tadi?" Di dalam hatinya, dia menggerutu. Pemuda di hadapannya ini sangat suka untuk membuat langkahnya terhenti.
"Aku bisa melakukan itu nanti setelah kita berdua mengobrol." ujar Sasuke tetap memegangi tangan Sakura. "Aku mohon,"
Sakura memandangi pemuda itu. Entah hanya perasaannya saja atau tidak, wajah pemuda itu terlihat sedikit pucat. "Oke, hanya sebentar saja, kan?" Sasuke tersenyum sangat tipis yang membuat jantung Sakura kembali berpacu cepat. Buru-buru Sakura menarik dan menghembuskan napasnya untuk mengontrol detak jantungnya.
Sakura memasuki kamar pemuda itu dan duduk di kursi meja belajar, "Memangnya tadi mau pergi ke mana?"
"Beli obat." jawab pemuda itu singkat sambil menaruh minuman kaleng di atas meja belajar. Minuman bersoda. "Maaf, cuma itu yang ada di sini."
Sakura mengabaikan kalimat terakhir pemuda itu. Kedua alisnya bertemu, "Kau sakit?" Ada nada kekhawatiran di sana. Sasuke yang mendengar itu pun lagi-lagi tersenyum tipis. Dia pun duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Tidak, hanya pusing. Belum reda dari satu jam lalu,"
Ah, jadi itu alasan mengapa pemuda itu tampak agak pucat sekarang. Sakura berdiri lalu duduk di samping Sasuke. Pemuda itu hanya memperhatikan Sakura yang kini berada sangat dekat dengannya. Tangan perempuan itu terangkat, memegangi pelipis sang pemuda dan lalu menekannya pelan. Sasuke yang merasakan jari perempuan itu pun merasa nyaman.
"Duduklah di bawah, biar aku yang memijitnya." Sasuke menuruti ucapan perempuan itu. Pemuda itu duduk di lantai, bersandar pada kedua kaki Sakura yang tengah duduk di tempat tidurnya. Jari-jari Sakura mulai bergerak, memijat kepala pemuda itu. Sakura sedikit menahan napasnya ketika aroma mint menguar dari rambut pemuda itu. Detakan jantungnya tidak terkontrol, ia berharap pemuda itu tidak mendengar suara jantungnya saat ini.
Sasuke menikmatinya. Jari-jari Sakura yang berada di kepalanya sungguh membuatnya nyaman. Rasa pusing yang sedari tadi mengganggunya mulai mereda berlahan-lahan. Diam-diam, pemuda itu sudut bibir pemuda itu tertarik ke atas. "Saki," panggil pemuda itu. Sakura tidak merespon, tapi dia tahu kalau perempuan itu mendengar panggilannya.
"Aku ingin tahu alasanmu mengecat rambutmu." kata pemuda itu. Jari-jari Sakura mulai melambat, lagi-lagi pemuda ini mengungkit topik pembicaraan ini. "Itu sedari tadi mengusik pikiranku, jika kau mau tahu itu." lanjut pemuda itu membuat Sakura menimbang-nimbang ingin menceritakannya atau tidak.
"Jadi itu yang ingin kau bicarakan?" tanya perempuan itu agar suasana tidak terlalu canggung. Emeraldnya menatap pemuda itu dari atas, mencoba melihat ekspresi pemuda itu.
Pemuda yang kini bersender di kakinya menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan tiga kali dengan pelan, "Tidak, hanya mencari topik pembicaraan. Menanyakan kabar atau bagaimana keadaan sekolah sudah sangat mainstream." Mendengar itu, Sakura tertawa pelan yang terdengar sangat canggung. Setelahnya, perempuan beriris emerald itu kembali memikirkan pertanyaan pemuda itu.
Mereka terdiam cukup lama. Sakura masih menimbang-nimbang sedangkan Sasuke masih menunggu teman semasa kecilnya itu mengeluarkan suaranya. Pemuda itu mulai tidak sabar. Salahnya juga sih, terlalu to the point. "Jika tidak–"
"Aku akan menceritakannya jika kau sangat ingin tahu." potong Sakura cepat. "SMP itu adalah masa kelamku, bisa dikatakan seperti itu." Sakura mengawali ceritanya. Pemuda yang duduk di bawah mendengarnya dalam diam, mencoba tidak ingin menganggu. Telinganya terfokus pada tiap kata yang perempuan itu keluarkan.
"Teman pertamaku adalah Hinata. Waktu itu kami memang belum cukup dekat karena sifat kami yang berbeda. Aku yang ekstrovert dan dia yang introvert. Sakura yang dikenal sangat ceria dan kekanak-kanakkan pun terkenal seangkatan–itu dulu. Banyak yang bilang, aku adalah anak yang baik. Tapi, saking baiknya diriku, aku bahkan menolong seorang yang dibuli."
'Jangan jadi sok pahlawan, deh!' ucap perempuan berambut pirang pucat itu sambil mendorong bahu Sakura dengan kasar. Kedua temannya berdiri tepat di belakangnya, memasang wajah angkuh. Ketiga pasang mata itu menatap Sakura sinis.
'Kayaknya kita punya mainan baru, nih. Mumpung, lagi bosen ngeladenin cewe cupu ini." ujar salah satu dari ketiga orang itu. Mereka tersenyum penuh arti. Sejenak Sakura merasakan kalau dia berhadapan dengan setan saat ini.
Sakura menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya berlahan. Samar-samar suara itu menggema di otaknya. "Yang dibuli adalah teman seangkatanku. Anaknya agak pemalu. Berambut merah dan berkacamata. Kakak kelasku yang membuli dia menganggapku menganggu kesenangan mereka. Makadari itu, mereka mengganti target. Tidak lagi perempuan berambut merah itu, tapi beralih ke diriku. Tidak ada yang menolongku saat itu. Hinata sedang memiliki urusan keluarga selama seminggu dan anak berambut merah itu justru hanya memperhatikan diriku yang dibuli."
'Aku tidak bisa membantumu. Aku tidak ingin mereka membuliku lagi.' Perempuan berkacamata itu menatap takut Sakura. Tangannya gemetar. Tepat di belakangnya, ketiga kakak kelas itu tersenyum penuh kemenangan. Sakura menatapnya kecewa. Luka lecet lagi-lagi menghiasi bagian tubuhnya. Tepat di hadapannya, seorang teman yang dia bela tidak ingin turun tangan untuk membantunya.
Sakura menggigit bibir bawahnya kuat. Inikah balasannya? Ia sudah berbuat baik, bukan? Lalu menga–
'Makanya, jangan bersikap sok jagoan. Menganggu kami, berarti sudah menerima resikonya.' Lamunannya terhenti. Suara itu kembali menyadarkannya. Itu tidak benar. Dia hanya ingin membantu. Tapi mengapa dianggap mengganggu?
'Seharusnya, kau abaikan saja dia. Lihat, perempuan yang kau selamatkan itu saja tidak ingin menatapmu, apalagi untuk membantu.'
Sakura menatap Karin yang kini mengalihkan pandangannya. Ah, sepertinya, sebagian dari dirinya mulai menyesali perbuatannya. Ucapan kakak kelasnya mungkin benar. Sedari awal seharusnya dia tidak ikut campur.
Bahu perempuan itu menegang. Mengingat masa-masa itu membuat rasa benci itu menjadi-jadi. Tanpa ia sadari, tangannya meremas helaian rambut Sasuke disertai suara perempuan itu yang sedikit meninggi, terdengar nada kemarahan di sana. Sasuke terdiam, saat ini dia sangat tahu temannya itu sedang menahan emosi.
"Sejenak, aku tak berpikir apa-apa saat itu. Aku yang menolongnya, tapi mengapa dia tidak ingin menolongku?. Begitu pula dengan yang lainnya. Mereka mengalihkan pandangannya dariku, menganggap inilah kesalahanku. Apa aku salah menolong seorang teman yang dibuli saat itu? Tatapan mata mereka yang merendahkan membuatku sedikit muak. Aku benci semua manusia di sana saat itu."
'Ini salahmu. Seharusnya kau tahu itu dan jangan berharap kami akan menolongmu.' Salah seorang teman sekelasnya bergumam pelan sebelum membalikkan badannya. Mereka pergi, meninggalkan Sakura sendirian duduk di kursi kelas. Iris emeraldnya menatap seorang teman sekelasnya yang memandanginya penuh prihatin. Entah mengapa, melihat itu dirinya merasa di hina. Rahang Sakura kembali mengeras ketika teman sekelasnya itu berjalan keluar kelas setelah berkata,
'Kau terlalu baik, Haruno,'
Tangan pemuda itu menyentuh lembut tangan Sakura, mengelusnya untuk menenangkan emosi perempuan itu. Berlahan, remasan tangannya mengendur. Elusan tangan Sasuke di tangannya membuatnya sedikit tenang. Rasa hangat menjalar berlahan dari tangan pemuda itu.
"Kakak kelas itu menyinggung rambutku. Mereka menghinanya dengan berbagai macam hal. Tak hanya itu, mereka bahkan memotongnya." Nada suaranya menurun, sedikit lebih tenang. Sakura menikmati elusan lembut di tangannya. Sasuke yang mendengar itu pun mengeraskan rahangnya. Elusan di tangannya berubah menjadi genggaman. Sasuke mendongakkan kepalanya dan menatap Sakura yang kini berkaca-kaca.
Perempuan berambut pirang pucat itu menarik helaian pink milik Sakura. Perempuan yang menjadi korban itu meringis pelan. Cukup ia menahan rasa perih dari luka lecet di beberapa bagian tubuhnya–yang sekarang malah justru di tambah. 'Rambut pink? Cih, norak, tahu nggak.' Rahang Sakura mengeras ketika dia mendengar nada ejekan itu keluar dari mulut kakak kelasnya itu.
'Bagaimana kalau kita rias sedikit rambut norak ini? Di potong agak pendek, gitu?' Salah seorang temannya menyerigai, membuat firasat Sakura semakin tidak enak. Tangan perempuan itu mencari-cari sesuatu dari dalam tasnya dan beberapa menit kemudian keluarlah gunting dari dalam sana.
Sakura menggelengkan kepalanya kuat, 'Tidak!'
"Untungnya Hinata menyadari kejanggalan pada hari pertama dia masuk. Dialah yang melaporkan itu semua. Tepat di saat itu juga, mereka di keluarkan dari sekolah. Aku tertekan saat itu. Makadari itu–"
"Sudah, jangan dilanjutkan." Tangan pemuda itu menutup mulut Sakura dengan lembut, menghentikan cerita perempuan itu. Air mata Sakura menetes mengenai pipi Sasuke yang membuat pemuda itu kembali mengeraskan rahangnya. Berbagai macam penyesalan timbul di pikirannya. Sakura menahan napasnya ketika pemuda itu mendekatkan wajahnya lalu mencium keningnya dalam diam. Detakan jantungnya kembali tidak normal. Ini sangat berbahaya untuk kesehatan jantungnya.
Kedua tangan pemuda itu memegangi kepala Sakura, meremas helaian hitam itu. "Jangan khawatirkan apapun lagi," ucap pemuda itu setelah beberapa detik kemudian. Dahi mereka bersentuhan. Wajah pemuda sangat dekat sehingga Sakura dapat merasakan napas Sasuke. "Karena sekarang, aku ada di sampingmu."
Sakura menatap kedua iris onyx itu dalam-dalam, "Kau tahu, aku sudah tidak mempercayai orang lain sejak saat itu." Iris emeraldnya menatap Sasuke dengan tatapan terpukul. "Kau tidak jauh bedanya dengan Karin, Sasuke. Mengalihkan pandanganmu dan membiarkanku sendirian yang menanggungnya."
Tangan Sasuke langsung melemas, berlahan turun dari helaian rambut Sakura ke pundak perempuan itu. Kepala Sasuke bergerak ke belakang, mengambil jarak dari teman masa kecilnya itu. Onyx hitam itu menatap menyesal. Ia sangat menyesal.
Sakura menjauhkan tangan Sasuke dari pundaknya, berdiri lalu mengusap air matanya. Iris emeraldnya menatap Sasuke, "Aku sudah terlalu takut untuk mempercayai orang lain." Perempuan itu mengambil langkah meninggalkan ruangan itu, "Aku pulang,"
"Lalu kau mempercayai pemuda berambut merah itu?"
Sakura berhenti tepat di depan pintu. Ia tidak menoleh, tapi ia tahu Sasuke sedang menahan emosinya saat ini. Dia juga tahu jika pemuda itu sangat bersalah kepadanya. Setelah sekian tahun lamanya, bukannya ini yang ia tunggu? Lalu mengapa dirinya bersikap dingin seperti imi? Memang, ini yang ia harapkan, tapi kekecewaannya terhadap pemuda itu lebih dulu mengambil alih emosinya.
Ia tidak memiliki kesempatan untuk sekedar memberi pelukan reuni pada pemuda itu.
"Gaara selalu ada ketika aku membutuhkannya." Memori ingatannya kembali berputar. Masa-masa disaat ia bertemu pemuda itu, berbagi cerita, hingga ketika pemuda itu mengobati lukanya. "Dia pemuda yang baik."
Sasuke terpaku mendengarnya. Onyxnya menatap punggung Sakura dengan tatapan kosong. Tubuhnya kaku, bahkan dirinya tidak bergerak untuk sekedar menahan teman kecilnya itu pergi keluar dari kamarnya. Ia ingin di percaya oleh Sakura. Tangannya mengepal kuat kemudia memukul lantai kamar itu hingga tangannya memar.
"Kumohon, berilah satu kesempatan untukku…" ucap pemuda itu frustasi. Ia menggigit bibir bawahnya kuat, sebelum akhirnya ia kembali menggerakkan bibirnya membetuk dua kata yang sangat ingin pemuda itu katakan.
"…. aku mencintaimu."
.
.
.
.
Krik… krik… krik… jangkrik lewat… kuakkk… kuakkk… kuakkk…. kali ini gagak yang lewat. Dan aku berada di tengah-tengah mereka ._.
*menghela napas kuat-kuat* etto…. Sepertinya ceritanya rada melenceng gitu, ya? -_-" *entah mengapa merasa seperti itu* *tapi nggak punya ide lagi TT_TT* *memandang langit biru untuk mencari inspirasi yang sayangnya nggak dapat-dapat…* *padahal awalnya numpuk banget loh…* *tapi mengapa?!*
Ehem…. Abaikan semua yang di atas. Jadi, hanya satu kata. Maaf kalau ceritanya kurang dan melenceng. Sekian TT_TT
