.

Reishi memijat pelipisnya dan setengah membantingkan tubuh di atas ranjang mewahnya. Ia tidak ingin mengingat-ingat informasi apa yang seharian diterimanya di kantor Scepter 4, tidak ketika dapur kantin Scepter 4 yang nyaris diledakkan—Reishi percaya dengan faktor kesengajaan tinggi—oleh tersangka Hidaka Akira dan Benzai Yuujirou dengan dalih menyelamatkan organ pencernaan masing-masing dari ancaman filet salmon bakar bumbu kacang kedelai sebagai menu baru sang letnan (yang konon katanya sedang melakukan eksperimen menu-menu masakan terbaru demi menggenapi kebutuhan gizi sang ketua hingga seluruh personel Scepter 4), lalu seekor merpati strain yang kedapatan menyelinap masuk entah dari mana asalnya lalu memekik nyaring dengan gelombang suara ultrasonik dan memecahkan hampir seluruh kaca jendela ruang perpustakaan… dan merpati tersebut alih-alih ditangkap, malah berakhir tragis di tangan seorang Fushimi Saruhiko yang sedang meliar semenjak beberapa hari ke belakang—atau begitulah menurut anggota pasukan khusus Scepter 4 lainnya.

Jangan suruh Reishi untuk menceritakan apa yang Saruhiko lakukan terhadap burung langka nan malang itu, atau segala jenis pengaduan yang bersumber dari anggota pasukan khususnya mengenai kebrutalan Saruhiko belakangan ini. Pokoknya jangan. Ia sedang tidak ingin tertular ketidakwarasan para bawahannya itu.

Reishi tengadah, menatap eternit kamarnya. Biasanya di saat-saat begini, saat-saat hidupnya diperumit oleh kelakuan minus para bawahan, selalu ada telinga yang akan mendengarkan segala racauannya, diselingi hela napas kecil, mencemooh ataupun memahami. Akan ada wangi wine, asap tembakau, atau paling tidak aroma seduhan kopi hilir-mudik di indera penciumannya. Dan akan ada sepasang mata amber yang menatapnya dalam, menembus hingga sudut pikirannya, membiusnya untuk melupakan satu harinya yang lelah dan menenggelamkannya dalam berbagai macam rasa yang kemudian tumpah-ruah.

Ia membalikkan tubuhnya. Setengah meringkuk. Seperti anak kecil yang ketakutan untuk tidur sendirian. Ia merasa ranjangnya begitu besar, dan ia terlalu kecil untuk berbaring di sana.

Reishi merindukan wangi tubuh itu. Suara berat dan serak itu. Sentuhan itu. Sepasang mata itu. Desah napas itu yang berpindah menyusuri daun telinga, leher, hingga pundaknya. Juga lengan kekar itu yang kerap membalut tubuhnya, mendekapnya erat.

'Mikoto….'

Aura dingin kemudian menyelimuti tubuhnya. Seakan ada angin yang menyusup dari sela-sela jendela, namun Reishi yakin jendelanya tertutup rapat dan ia tidak sedang memasang penghangat maupun pendingin ruangan. Dingin itu lalu berganti menjadi hangat… ya, sebuah kehangatan yang juga dirindunya. Reishi terduduk, tegak. Pandangan awas, mengedar ke sekeliling. Sebetulnya ia tidak percaya dengan hal berbau mistis, hanya saja….

… hanya saja hangat yang menjalari tubuhnya terlalu nyata untuk membuatnya mangkir dari hal-hal mistis tersebut.

Detik berikutnya, Reishi tercekat. Hampir tidak bisa bernapas. Bagaimana tidak?

Wangi itu kembali tercium semilir di hidungnya. Sentuhan itu kembali terasa di kulitnya. Sepasang lengan itu kembali melingkar di pinggangnya. Reishi merasakannya. Dadanya semakin sesak. Ia tidak bisa bergerak.

Lalu suara berat dan serak itu mengalun pelan di daun telinganya. Beserta derak tarikan dan embusan napas. Sekali lagi, Reishi mampu merasakannya.

.

Di sisi lain, Mikoto tersenyum sembari menyesap dalam-dalam aroma tubuh yang nyaris hilang dari ingatan. Tidak perlu ia melihat seperti apa raut wajah Reishi. Ia sudah tahu. Dan ia yakin Reishi pun sudah sama tahunya.

Sudah cukup Mikoto mengamati selama beberapa malam ke belakang. Sudah cukup Mikoto menahan hasratnya untuk tidak berusaha mengulurkan lengan tak kasatmatanya dan meraih tubuh itu. Sudah cukup Mikoto hanya terdiam memperhatikan malam-malam Reishi yang selalu ditemani gelisah, erangan, dan penggalan-penggalan namanya yang kerap dibisikkan lelaki itu.

Yang kali ini, Mikoto tidak sanggup menahan. Ia ingin merengkuh erat Reishi dan tidak membiarkannya pergi ke manapun… sebagaimana Reishi yang juga tidak ingin kehilangan dirinya.

"Aku juga merindukanmu, Bodoh."

.

Malam ketiga puluh sembilan, diselimuti sebuah dekapan tak kasatmata, Munakata Reishi akhirnya menemukan tidur lelapnya.


.

Project K (c) GoRa &GoHands

Kings ~Chapter 3: Consolation~

.

"Karena Misaki tidak ingin kehilangan Saruhiko, 'kan?"

.

.

.

Anna melayang-layang di antara awan-awan lembut berwarna perak. Ia mengedar pandang ke sekeliling, menemukan Mikoto dan Totsuka berdiri di sampingnya, masing-masing mengeluarkan senyuman mereka yang khas.

"Selamat datang di Dunia Antara—atau begitulah aku menyebutnya, Anna," ujar Totsuka mengawali mimpi Anna. Iya, Anna tahu dirinya sedang berada di alam mimpinya sendiri, tapi tidak tahu bagaimana caranya sehingga ia tertarik ke dalam dimensi itu. Ia memiringkan kepala. Wajar jika Totsuka menamai dunia tersebut sebagai Dunia Antara… antara alam mimpi dan kenyataan, atau boleh jadi antara alam kehidupan dan alam kematian. Benar-benar sebuah alam di antara dua entitas yang bertolak belakang.

Anna hanya ingin tahu kenapa ia dipanggil ke sini. Karena ia yakin ia belum mati. Setidaknya, saat itu.

"Lucu juga kalau ternyata Anna punya kemampuan untuk bermain-main ke sini—"

"—bukan aku… aku tidak bisa. Aku tidak tahu bagaimana…."

"Eh? Jadi yang memanggil Anna ke sini…."

"Aku orangnya."

Manik merah Anna kemudian bertemu dengan manik biru Isana Yashiro… ah bukan. Yang memiliki warna itu adalah Adolf K. Weismann. Jadi saat ini, yang ada di hadapan Anna adalah Adolf K. Weismann dalam wujud Isana Yashiro?

Untungnya, Anna sudah sangat terbiasa dengan keadaan serba janggal penuh keajaiban.

"Selamat datang di duniaku, Anna-chan. Eh… tidak tepat juga sih kalau dibilang dunia milikku. Seperti yang kau tahu, tempat ini adalah—"

"—persinggahan antara dunia kehidupan dan dunia kematian," potong Anna cepat. "Kenapa aku dibawa ke sini?"

"Karena kedua orang ini yang menginginkan jalan kembali ke duniamu, Anna-chan."

Kepala Anna menggeleng, rambut putih panjangnya mengibas. "Aku tidak bisa. Yang bisa melakukannya adalah Misaki—"

"—tapi mereka butuh bantuanmu sebagai mediator untuk Yata-kun."

"Terutama untuk menangani taraf penyangkalan Yata-kun yang hampir mencapai batasnya."

Anna memiringkan kepalanya lagi, masih tidak paham dengan apa yang ditambahkan Totsuka. Kali ini giliran Shiro yang menimpali kalimat Totsuka sebelumnya.

"Bagi Suoh-san dan Totsuka-san untuk melanjutkan hidup atau melanjutkan mati… keduanya bergantung pada keputusan Yata-kun… selain dari beberapa urusan krusial yang harus mereka selesaikan dalam tenggat waktu yang sama. Dalam hal Yata-kun, mudahnya, semakin Yata-kun tidak menerimanya, semakin tipis kesempatan kedua orang ini untuk hidup kembali."

Tertegun, Anna menundukkan kepala. Anna tahu persis yang menjadi masalah dari segala bentuk penyangkalan dalam diri Misaki. Tapi apa yang bisa Anna lakukan? Misaki bukanlah orang yang percaya begitu saja dengan ucapan-ucapan orang lain. Anna tidak mungkin membeberkan apa yang belakangan ia ketahui tentang subjek penyangkalan Misaki tanpa bukti yang kuat.

Bergilir berurutan, Anna menatap Mikoto, lalu Totsuka, dan terakhir kembali pada Shiro. Anna tahu misinya tidaklah mudah, ditambah kondisi raja barunya saat ini yang sama sekali tidak bisa diprediksi, bahkan oleh dirinya sekalipun. Ibarat sungai yang mengalir dari hulu mencari hilirnya, Anna hanya tahu di mana muaranya, namun tidak tahu sepanjang apa sungai itu akan dilaluinya.

Meski pada akhirnya Anna mengangguk, menerima misi barunya itu.

Satu senyum lebar Totsuka, diikuti belai lembut Mikoto di puncak kepalanya. Dan ketika Anna terbangun, menemukan dirinya bergelung di kasurnya, yang terngiang adalah suara ringan Shiro, seolah membisik tepat di telinganya.

"Ingat ya, Anna-chan. Waktu yang tersisa tinggal tiga puluh hari lagi. Karena jarum jam tidak akan pernah berhenti berlari."


"Halo, Yatagarasu-kun."

"Kau—Raja Biru…? Sedang apa kau di sini…?"

"Jalan-jalan sore. Tidak boleh?"

"Dengan mengenakan seragam garis-garis hitam putih seperti baju tahanan penjara? Kau punya hobi yang aneh rupanya, Raja Biru."

"Panggil aku Munakata saja, tolong. Dan aku kemari untuk mengajakmu minum teh."

"Heh. Tidak usah repot-repot. Setelah ini aku ada kerja sambilan."

"Minum satu gelas tidak akan membuatmu kehilangan pekerjaan, Yatagarasu-kun. Aku sudah jauh-jauh membawakannya untukmu."

"Hmm, baiklah. Aku terima kalau begi…tu…."

"Oya? Ada apa? Kau tidak suka minum teh?"

"… oi, Raja Biru… jangan bercanda. Yang kau tuang di gelasku ini SUSU dan bukan TEH! Kau mau meracuniku, hah?!"

"Ini namanya teknologi bernama teh susu, apakah kau tidak pernah mendengarnya? Coba saja satu teguk, kau pasti akan bertambah tinggi sebanyak sepuluh sentimeter."

"KAU MENGHINAKU, HAH?! Cih, sudahlah…! Aku mau pergi saja."

"Tapi kau tahu kau tidak akan bisa lari selamanya, Yatagarasu-kun. Para prajuritku, mari kita serang Raja Merah bersama-sama…! Ha ha ha ha haaa…!"

"Ggaaahh—hentikan…! Oi… berhenti—STOP! Kubilang BERHENTI MENYEMPROTKU DENGAN SUSU ATAU—GGAAAAKKKHH…!"

"Fufufufu…. Berlarilah dan kau tidak akan bisa menyembunyikan dirimu dari kejaran pasukan gelas beramunisi teh susu ini, Yatagarasu-kun~!"

"Kau sudah gila, Raja Biru…!"

Kkhh… aku harus lari ke mana lagi….

"Misaki…! Cepat ke sini…!"

Hah?! Suara itu… bukannya….

"Misaki…! Cepat ke sini atau—"

—oh tidak…. Lagi-lagi. Tidak! Tidak tidak tidak! Ini hanya mimpi. Kau harus bangun, Misaki. Ayo bangun…!

Jangan biarkan suara itu menghantuimu lagi, Misaki…!

"MISAKIIIII…!"

.

.

.

"YATA-CHAN…!"

Misaki terbangun dengan panik. Sekujur tubuhnya mandi peluh. Dadanya naik-turun dengan cepat, efek samping mulutnya yang megap-megap berusaha menarik oksigen sebanyak-banyaknya. Kedua matanya yang melebar menemukan Izumo dan Kamamoto di sampingnya, berjongkok untuk membangunkannya yang jatuh tertidur di sofa karena kelelahan bekerja sambilan semalam suntuk. Dari wajah kedua orang itu, kentara sekali kecemasan mereka terhadap dirinya.

"Kusanagi-san… Kamamoto… hah… hah…."

"Mimpi buruk lagi, Yata-san?" tanya Kamamoto menepuk-nepuk pundak Misaki sementara Izumo beranjak mengambil air minum untuknya. Misaki kemudian mengangguk pelan.

"Mimpi konyol sebetulnya… hahahaaaa… ha—aahh…."

"Mimpi apa lagi yang sekarang?"

Segelas air putih disodorkan padanya oleh Izumo. Misaki mengguman terima kasih sesaat sebelum meneguk airnya habis dalam tegukan besar-besar—Kamamoto bergidik sendiri melihatnya, khawatir jika salah-salah Misaki malah ikut menenggak gelasnya. Menurunkan gelas dari bibirnya dan masih menggenggam gelas itu, setelah menenangkan diri, Misaki akhirnya menjawab pertanyaan Izumo.

"Aneh… pokoknya aneh, banget. Aku mimpi dikejar Raja Biru. Dia bawa pasukan teh susu… err, jadi semacam gelas berisi teh susu tapi berkaki dan bertangan, dan meyemprotkan isi gelas itu ke arahku…. Mudah-mudahan saja Raja Biru tidak tahu aslinya aku memang benci susu…."

Misaki mengambil jeda sejenak, sekaligus mengamati ekspresi di wajah Izumo dan Kamamoto. Seperti biasa, keduanya akan menyembunyikan tawa dalam bentuk dengusan maupun kikik tertahan yang malah terdengar seperti geraman anjing sakit tenggorokan. Oke, lupakan. Padahal Misaki sendiri tidak keberatan kalau kedua orang itu ingin tertawa—dirinya sendiri pun seringkali tertawa jika mengingat-ingat lagi mimpi konyolnya belakangan. Mimpinya dikejar pasukan kuda putih yang diketuai Kamamoto lah, lalu kali ini mimpinya dikejar-kejar pasukan teh susu milik Munakata Reishi.

Seandainya saja, oh ya seandainya saja, di penghujung mimpinya tidak pernah ada sebuah suara yang memanggil dan meneriakkan namanya, ia pasti bisa menceritakan mimpinya dengan mimik terbodoh yang mampu Misaki tunjukkan.

Suara di ujung mimpinya itulah yang selalu membuatnya kehabisan napas. Merasa dijerat. Ditusuk-tusuk. Ditindih sekujur tubuh hingga ia tidak bisa bergerak maupun bernapas sekalipun.

"Karena pengalaman sebelumnya—aku yang nyaris membakar kamar apartemenku, kuputuskan untuk tidak melawan dan kabur dari kejaran tentara gelas itu," ujar Misaki melanjutkan. "Walau… seperti biasa, di akhir mimpi, aku selalu… selalu…."

Lidah Misaki tercekat. Ia tidak bisa meneruskan kalimatnya. Sementara cengkeramannya pada gelas yang sudah kosong itu semakin mengerat, membuat Izumo buru-buru menyambar gelas yang nyaris jadi korbannya hari itu.

"Kau hanya terlalu lelah, Yata-chan. Kenapa tidak mengambil libur saja? Aku tahu persis alasanmu menyibukkan diri dengan berbagai macam kerja sambilan… tapi apakah itu tidak terlalu berat? Meskipun pikiranmu tidak merasakannya, tubuhmu bisa, loh."

Untuk kesekian kalinya, Misaki merasa ditampar oleh kata-kata seniornya itu.

Misaki tidak bisa menyangkal. Semenjak kepergian Mikoto, ia memilih untuk mengambil begitu banyak kerja sambilan, dari tukang cuci mobil, tukang lap kaca bangunan, kuli angkut barang, penjaga kasir toko buku dan supermarket, sampai menjadi pelayan dari restoran ke restoran. Semua itu dilakukannya demi membebaskan pikiran dan perasaan sedihnya atas kepergian Mikoto. Misaki tidak ingin terhanyut. Mikoto pergi tidak hanya karena membalas dendam Totsuka, namun juga menyelamatkan ribuan nyawa agar tidak lagi termakan dan terhasut oleh si Raja Tanpa Warna. Misaki memahaminya. Misaki berusaha untuk menerima kepergian rajanya. Mikoto pergi diiringi satu tindakan heroik, sudah sepantasnya Misaki bangga karenanya.

Lalu pada malam itu saat tubuhnya terbakar api setelah satu bulan kekuatannya—dan anggota klan lainnya—menghilang, di tengah kebimbangannya akan status barunya, Misaki masih terus menyibukkan dirinya. Ia masih terus berusaha membebaskan pikirannya dari pertanyaan-pertanyaannya seputar raja dan tugas para raja. Misaki berusaha mencari ritmenya sendiri. Misaki belum bisa menerimanya. Namun setidaknya, Misaki mencoba.

Termasuk pertanyaannya mengenai kesendirian yang dirasakannya… Misaki berusaha menyelesaikan masalahnya dengan si biang kerok yang—menurutnya—seharusnya bisa mengurangi beban di pundaknya sebagai seorang raja dengan memberikan solusi dari masalah-masalah yang berputar di kepalanya.

Namun pada kenyataannya tidak. Pada malam delapan hari yang lalu, Misaki merasa dicampakkan. Misaki sudah tidak bisa menghitung ini kali keberapanya. Ibarat sebuah luka menganga lebar yang kemudian ditaburi garam, sesuatu dalam diri Misaki runtuh. Harapan dan sisa asanya seakan dibakar bengis tanpa ampun. Harga dirinya dilumat diluluhlantahkan. Malam itu, Misaki merasa kehilangan tenaganya, bahkan untuk sekedar berdiri dan berjalan pergi dari gang tersebut. Ada yang hilang dari dalam dirinya, hancur menjadi puing-puing berserakan dan ia tidak lagi memiliki energi untuk menyusunnya kembali. Misaki tidak meraung, tidak menghajar benda apapun dalam jangkauannya, tidak berteriak, tidak menangis.

Misaki tidak bereaksi apapun, sedikitpun. Emosinya yang menguap begitu saja. Ia merasa kosong. Hampa.

Misaki tidak lagi bisa merasakan apapun.

Selama setengah hari setelahnya, waktunya ia habiskan termenung di bar. Bahkan kehadiran Anna di sisinya yang kemudian merapat dan menyandarkan tubuh mungil gadis itu padanya pun tidak ia hiraukan. Yang kemudian membuatnya tersadar adalah dering panggilan kerja melalui PDA-nya. Mau tak mau Misaki menyeret langkahnya, diikuti sorot kekhawatiran level maksimum dari seluruh anggota Klan Merah—yang juga sudah diceritakan secara lengkap dan terpercaya mengenai insiden malam sebelumnya, tentang keterlibatan raja baru mereka dengan seekor monyet bodoh oleh duet Izumo dan Kamamoto.

Sudah genap satu minggu lebih satu hari. Misaki yang jadwal kerjanya semakin merepet dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan kini tubuhnya minta dikasihani. Begitu pula jiwanya yang sempat ia telantarkan selama beberapa waktu lamanya.

Misaki menangkupkan kedua tangan di wajahnya. Tubuhnya gemetar, menahan sakit dari berbagai sisi. Diikuti emosi-emosi yang perlahan-lahan menguar dari dasar benaknya.

Ia masih belum bisa berhenti bertanya. Mengapa?

Satu tepukan mampir di pundaknya. Ia tidak sadar bahwa dirinya sudah diapit oleh Izumo dan Kamamoto di kanan-kirinya.

Tidak perlu menunggu lama, hingga satu kalimat meluncur mulus dari bibirnya yang bergetar. Kalimat yang munculnya jauh dari dalam jiwanya yang lelah.

"Kusanagi-san… Kamamoto… tolong… aku tidak ingin jadi raja."


Anna mendongak. Tersentak. Perak yang ia lihat pada Mikoto dan Totsuka memudar drastis. Kini peraknya hanya berupa siluet tipis. Rapuh. Seakan bisa hilang sewaktu-waktu hanya karena tertiup angin sepoi semata.

"Tidak… kalian jangan pergi…."

Totsuka tersenyum. Senyumnya kali ini terasa pedih. Mikoto sendiri hanya memalingkan wajah. Air mukanya tidak bisa dibaca Anna.

"Jangan… belum waktunya…. Misaki masih bisa…."

"… kalau Yata sendiri tidak mau, kami juga tidak bisa berbuat apa-apa."

Tidak bisa menunggu lebih lama lagi, pikir Anna. Ia harus memutar otak. Ia tidak bisa terus-terusan diam dan membiarkan Misaki menyangkal semuanya; tentang tugas yang diemban pemuda itu kini maupun jeritan hati kecil yang terlupakan. Jika Anna masih ingin melihat merahnya Mikoto dan Totsuka, Anna harus melakukan sesuatu. Dan cepat.

Tiga puluh hari lagi. Namun jika sang raja tidak mengizinkan, tidak akan ada bahkan satu detik tambahan pun sebagai jaminan bagi Anna untuk masih bisa melihat Mikoto dan Totsuka yang berwarna perak.


"Misaki."

Ia mendongak, menemukan Anna berdiri di hadapannya. Wajahnya yang kemudian bersemu merah, oh bukan… bukan karena Misaki menyimpan rasa pada Anna, melainkan karena gerak refleksnya secara fisiologis maupun psikologis ketika berhadapan dengan kaum perempuan. Anna sebetulnya sudah menjadi pengecualian, karena Misaki tidak lagi berjengit ngeri dan melompat sejauh dua meter untuk menjauhkan diri dari Anna… sementara hal itulah yang akan dilakukannya jika terdapat perempuan mana saja yang tiba-tiba mendekatinya.

Misaki lalu tersenyum ketus. Merutuki dirinya sendiri. Ia berpaling dari manik merah Anna. Ia tidak ingin melihat Anna yang menatapnya sendu.

"Misaki… sedih….?"

Menghela napas. Ia tidak tahu harus menjawab apa pada Anna. Anna pasti sudah tahu, sudah melihat sendiri tanpa perlu ia berkata apa-apa. Mengapa Anna masih juga bertanya? Atau… ada yang ingin Anna tunjukkan padanya?

"Misaki merah, kok…."

Ia tertawa miris. "Err… yah, mungkin karena aku sudah jadi… raja?"

Oh, betapa kata terakhirnya itu selalu saja mengganjal di tenggorokan, turun melilit hingga perutnya.

"Misaki juga… punya merahnya Mikoto."

Kali ini ia melihat Anna memandangnya melalui kelereng merah gadis itu. Sorot gadis itu masih sendu, meski bibir mungilnya mengulas sedikit senyum. Entah mengapa rasanya menyejukkan bagi Misaki. Terlebih lagi kata-kata yang baru saja Anna ucapkan. Tentang Mikoto. Tentang merah yang dimiliki Mikoto, yang menurut Anna telah terpancar dari dirinya.

"Sungguh…?"

Dilihatnya gadis itu mengangguk, diiringi cengiran lebar di wajah Izumo.

"Tuh 'kan, Yata-chan… Anna sudah bicara, kau masih mau menyangkal apa lagi?"

Semburat di pipinya semakin kentara. Bentukan lengkung di mulutnya melebar. Misaki membuang napas. Lega. Kapan ya terakhir kali ia bisa mengembus napas dengan ringan begitu? Jadi, apakah memang ini jalan takdirnya? Untuk menjadi seorang raja…?

"Misaki, Misaki…."

Ah, satu hal yang membuat Misaki heran. Kenapa ia mau-mau saja dipanggil nama depan oleh Anna? Apakah mungkin karena Anna yang memang memanggil semua orang dengan nama depan dan tanpa embel-embel sufiks? Lucu rasanya mendengar namanya dipanggil oleh Anna seperti itu… rasanya sama seperti mendengar Anna memanggil nama Mikoto sembari menarik-narik ujung jaket mendiang rajanya dulu.

"Ya?"

"Apa yang sekarang Misaki inginkan? Yang paling ingin Misaki dapatkan dan lakukan?"

Apa yang diinginkannya? Misaki termenung. Otaknya terlalu banyak bertanya, 'mengapa' dengan berbagai raupan emosi bergejolak. Pikirannya terlalu sibuk mencari jawaban. Misaki lupa untuk bertanya pada dirinya sendiri… apa yang ia inginkan? Apa yang ingin Misaki lakukan? Yang ia tahu, ia benar-benar tidak ingin menjadi raja. Tidak jika….

Tidak perlu menunggunya menjawab, Anna melontarkan pertanyaan baru, "Kenapa Misaki tidak mau jadi raja?"

Misaki terlihat berpikir sejenak, "Tidak tahu, hanya saja… aku merasa tidak bisa. Tidak siap. Aku tidak punya kekuatan untuk itu…."

"Mikoto juga tidak pernah siap dan tidak pernah memintanya."

Misaki berpikir lagi. Benar juga. Pedang Damocles tidak mungkin sembarangan memilih tuannya. Pedang itu punya kuasa untuk memilih potensi-potensi yang tepat. Kalau ia sudah dipilih, ia tidak bisa melawan.

Jadi apa? Apa yang benar-benar membuatnya sebegitu tidak inginnya menjadi raja?

"Karena aku… sendirian."

"Misaki merasa sendirian… atau Misaki merasa akan ditinggalkan, atau malah meninggalkan jika Misaki menjadi raja, makanya Misaki tidak mau menjadi raja?"

Pertanyaan Anna kali yang yang terasa seperti pernyataan itu sukses membungkam rapat mulutnya. Misaki hanya ternganga lebar. Mungkin inilah jawabannya.

"Misaki percaya, kalau Saruhiko juga merah?"

Yang kali ini, tutur kata polos Anna membuatnya tersedak dan terbatuk-batuk keras. Gadis ini… kalau bukan Anna yang berbicara, Misaki bersumpah akan membuat si pelontar kalimat tidak bisa makan selama tujuh hari tujuh malam. Dan membawa-bawa topik yang menyangkut si brengsek itu… emosinya mulai naik-turun tidak karuan. Lagi.

"Wajar saja kalau dia punya aura merah, Anna… dia 'kan dulunya anggota HOMRA."

Dulunya. Misaki tahu kata yang dicetak miring terasa begitu jauh. Teramat jauh.

Gadis di hadapannya itu menggeleng-geleng. Kedua tangan kecilnya meraih telapak tangan Misaki, menggenggamnya erat. Misaki mampu menangkap pancaran kehangatan aura merah dari Anna. Rasanya menentramkan. Aneh. Merah yang damai.

"Saruhiko… ada di antara merah dan biru. Tapi belakangan, birunya memerah. Sesekali birunya meluap-luap, tapi ia lebih sering memunculkan merahnya. Makanya… makanya…."

Misaki menelan ludah. Ia ingin menutup telinga dari rangkaian kalimat manis Anna yang seperti buaian mimpi. Misaki tidak ingin berharap. Misaki tidak ingin terlibat lebih dalam lagi. Ia muak. Lelah. Ia sedang tidak ingin membicarakan Saruhiko. Namun masalahnya adalah… yang kini tengah berusaha meyakinkannya dan membantunya menyambungkan potongan-potongan gambar di kepalanya adalah seorang Kushina Anna. Bagaimana mungkin kata-kata itu tidak akan tertancap dan tertanam sempurna di ingatan hingga benaknya?

"Kenapa… tiba-tiba membicarakan Saruhiko…?"

"Karena Misaki tidak ingin kehilangan Saruhiko, 'kan?"

Satu dengus tawa tertahan, keluar dari ujung tenggorokan Kamamoto. Tanpa basa-basi dan tak perlu izin, Misaki langsung mendaratkan satu tinjuan di perut buncit berlemak Kamamoto. Misaki juga sebetulnya gatal ingin mencakar-cakar wajah tampan Izumo yang tersenyum-senyum menyebalkan sembari melenggang kembali ke balik counter. Dirinya? Tidak ingin kehilangan Saruhiko. Jangan gila. Yang benar saja.

Yang benar saja? Bukankah kenyataannya seperti itu?

Seperti menyambung satu kabel putus yang menyebabkan korslet di otaknya, Misaki teringat akan hal yang semula ingin ia katakan pada Saruhiko delapan malam yang lalu. Ingatan Misaki melayang pada bisikan hati kecilnya yang menyuarakan apa yang diinginkannya saat itu. Misaki ingat semuanya, Misaki merasakan lagi semuanya.

Sebetulnya sederhana. Ia hanya ingin Saruhiko kembali padanya. Untuk kesekian kalinya dan didukung watak keras kepalanya, ia ingin memaksa pemuda itu untuk jujur mengenai alasannya meninggalkan HOMRA. Jika alasan itu ada sangkut-paut dengan dirinya, Misaki tidak keberatan untuk melakukan apa saja agar Saruhiko memaafkannya. Saruhiko seharusnya tahu bahwa dirinya bukanlah tipe orang yang bisa menebak-nebak sesuatu dengan mudah tanpa diberi penjelasan panjang lebar. Hubungannya yang terjalin selama bertahun-tahun dengan pemuda itu harusnya tidak merenggang sampai sejauh itu, dan dengan semudah itu.

Ada beban yang kini ditanggungkan di pundak Misaki; bebannya sebagai seorang raja. Dan ia ingin membaginya dengan Saruhiko. Hanya pemuda itu, seorang.

"Makanya… Misaki jangan pergi. Kalau menolak, Misaki akan seperti Mikoto…. Aku tidak mau Misaki pergi. Izumo dan semuanya pun tidak akan mau. Saruhiko juga… kalau Misaki pergi, Saruhiko juga pasti—"

Memotong kata-kata Anna, untuk pertama kalinya Misaki meletakkan tangannya di puncak kepala Anna. Untuk pertama kalinya, ia berhasil menginisiasi sebuah kontak fisik dengan perempuan… yah, dalam kasus ini Anna, sih, tapi tetap saja namanya kemajuan. Misaki pun tidak merasa terpaksa. Tangannya bergerak sendiri. Ia kemudian tersenyum.

"Terima kasih, Anna. Mungkin ini yang kubutuhkan," ucapnya lirih sembari mengusap rambut Anna. Begitu halus di kulitnya. Pantas saja setiap kali Anna merebahkan diri di pangkuan Mikoto, rajanya itu tidak pernah absen menenggerkan tangan di kepala Anna. Ia kemudian mendongak ke arah Izumo, "Kusanagi-san, kamar Mikoto-san kosong, 'kan? Kurasa aku butuh istirahat sebelum kerja sambilan nanti malam."

"Silakan, Yata-chan. Asal jangan mimpi buruk lagi karena aku sudah bosan mengganti tempat tidur maupun sofa di kamar Mikoto yang pasti hangus minimal sebulan sekali."

Yata nyengir lebar. Ia bangkit dan menyeret langkahnya menuju tangga. Namun sesuatu lantas menghentikannya. Sepersekian detik tubuhnya ditiup aliran udara yang panas, dan detik berikutnya ada yang menyentuh pundaknya. Seperti sebuah tepukan. Ia sontak berbalik, dan Anna masih memandangnya dengan senyuman di wajah. Misaki tidak begitu paham, tapi setidaknya ia tahu satu hal. Apapun yang menyapa tubuhnya tadi bukanlah unsur cerita hantu mengerikan yang selalu ia takutkan. Alih-alih, Misaki merasa dadanya dihimpit sesuatu. Ia tidak tahu apa, meski matanya tiba-tiba saja terasa panas.

"… Yata-san?"

"Hahaha, tidak ada apa-apa, Kamamoto. Sudah ya, aku naik dulu."

Untungnya Misaki tidak tahu, bahwa ia baru saja diberi penghiburan terbaik yang pernah mendiang rajanya berikan, baik dari semenjak rajanya itu masih hidup maupun kini sang mendiang raja yang status kehidupannya di ambang perbatasan.


"King, mau keluar lagi?"

Mikoto menggumam pelan menanggapi pertanyaan Totsuka.

"Seumur hidup aku tidak pernah melihat King pergi keluar sebelum malam datang seperti ini. Ada apa?"

"… urusan krusialku yang harus kuselesaikan, Totsuka. Karena yang satu ini pula, aku tidak bisa mati dan digantung di dunia ambigu begini."

Anna ikut berbisik dan menimpali, "Penyesalan… karena tidak bisa menyelamatkan, dan malah mengakhiri…."

Totsuka terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar dan menyeringai jahil, "Aaah~ begitu rupanya? Aku tidak tahu kalau King ternyata punya semacam hubungan khusus dengan orang itu."

Mikoto tersenyum simpul. Sekilas ia melempar pandang dan mengangguk pada Anna, lalu sosoknya menghilang ke balik pintu bar.

.

Sementara di sisi lain, Izumo menurunkan kacamata lensa ungunya. Matanya mencari-cari di dalam manik merah Anna. Isi pikiran yang berkecamuk. Dugaan demi dugaan yang membangun sebuah persepsi di mana harapan bisa berbenturan dengan kenyataan, dan mungkin bisa menjatuhkan Izumo setelah diangkat tinggi-tinggi oleh sayap-sayap asa.

Meski begitu, Izumo tetap membutuhkan kepastian. Gerak-gerik Anna selama satu minggu ke belakang—dari mulai melirik kanan-kiri dengan gugup, tersenyum sendiri atau malah panik sendiri, sampai berbisik sembari menatap pada satu arah tertentu—hal itu sudah kelewat mencurigakan bagi Izumo.

"Anna. Aku mau bicara sebentar, boleh?"

Yang bersangkutan balas memandangnya singkat, kemudian melangkah mendekati Izumo. Tangan kanan gadis itu menjulurkan sebutir kelereng merah. Yang bersangkutan sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Izumo, jadi Anna tidak perlu bekata apa-apa lagi. Izumo lalu meraihnya, mengangkat kelereng itu ke depan wajahnya, dan mengintip apa yang ada di balik kelereng itu, sebagaimana Anna biasa melakukannya.

Beberapa detik berlalu dalam hening, sampai pada suatu momen di mana yang terdengar dari dalam bar hanyalah bunyi kelereng Anna yang jatuh disusul rentetan pertanyaan panik dari Kamamoto tentang wajah Izumo yang memucat seputih tembok. Namun bagi Izumo, ada suara lain yang menyapanya ramah, begitu nostalgik, bersamaan dengan saat ia mengintip ke balik kelereng itu.

"Sudah lama kita tidak bertemu, ya…Kusanagi-san?"


.

Author's note: JENG JEEENNGG~~! Buat yang menantikan kemunculan Saruhiko beserta kegilaan-kegilaannya setelah beliau 'ditolak' Misaki *dihajar*, maaf karena kalian terpaksa harus puasa dulu di chapter ini, huahahahahaa~~ *author nyebelin dan ngetroll* *siap-siap ngga bakal di-review sampai chapter lainnya keluar*. Tapi Night Antares janji bakal 'bermain-main' sama Saruhiko di chapter selanjutnya, mungkin bakal diselingi sama MikoRei juga (AKHIRNYA...!). Beribu-ribu terima kasih buat partner-in-crime tasyatazzu yang udah nyempetin baca draft awal chapter ini (juga ceplosan tentang, "MikoRei ternyata sering bobo bareng..." #heeaaaa sampai cakaran beliau yang gemes bin kesel sama kelakuan Saruhiko di chapter 2), dan tentunya untuk para reviewer sekaligus pembaca setia Damian Iswara dan jiro yujikku... yang di atas cuma kocak2an antara Reishi-Misaki aja (karena kebayang banget Reishi ngejar-ngejar Misaki dengan alasan yang super random dan bodoh, mohon maaf karena author belum kepikiran buat bikin romansa buat pairing ReiMisa m(_ _)m)... plus gapapa kok review-nya berasa curhat karena author's note (beserta ceritanya) pun sebenernya curhatan author yang engga rela sama ending animenya TT_TT. Stay tune dan tetap me-review yah, karena review kalian adalah semangat ekstra bagi Night Antares untuk bisa apdet secepat kilat...! ;)