Little Piece of Heaven
Pairing: SasuSaku
Disclaimer: I do not own Naruto, nor the story.
Warning: This is an Indonesian translation of Leanne Ash's story with the same title. Done with permission.
Summary:
"Aku tidak melakukannya karena aku menganggapmu lemah! Aku melakukannya karena-! Karena... aku... Sudahlah." Bertahun- tahun kemudian, kejadian ini akhirnya terjadi. Sayangnya, Sakura sudah tidak peduli. Sebuah kisah tentang cinta dan ironi, dimana yang satu tidak sadar, dan yang lainnya adalah Sasuke.
Chapter 4
Tekanan yang Sakura rasakan di kedua lengannya terasa seperti terbakar. Dia bisa merasakan tenaga yang ada di tubuhnya bergelombang, penuh namun tidak ada pelepasan. Dadanya terasa semakin sesak saat dia akhirnya jatuh tersungkur di kedua lututnya, keringat bercucuran dari keningnya, nafasnya putus- putus, terengah. Tapi dia tidak menyerah dan kembali mengumpulkan chakra.
Sedikit lagi!
Tsunade, berdiri dengan tenang dengan kedua lengan menyilang di dada, memperhatikan muridnya. "Konsentrasi, Sakura!" perintahnya. "jika kau, seorang ninja medis, tidak bisa membebaskan chakra, kau harus bisa menanganinya! Taruhannya adalah banyak nyawa!"
Naruto, melihat latihan Sakura dan Tsunade dari jauh, sekikit ngeri melihat kesulitan yang sedang di hadapi teman masa kecilnya.
"Kau bisa melakukanya, Sakura-chan…" bisiknya.
Ini bukan kali pertama dia melihat latihan Sakura yang sangat berat. Pemuda pirang itu selalu melihat bagaimana jalannya latihan sahabatnya itu selagi ada kesempatan sejak Sakura pernah dirawat di rumah sakit beberapa bulan silam.
Berlatih sebagai seorang ninja medis membutuhkan keahlian yang hampir sempurna untuk mengontrol chakra, dan dia tahu bahwa Sakura bisa mengatasinya. Tetapi ada saat dimana kekeras kepalaan Sakura mengambil alih akal sehatnya… saat dimana tekadnya mengabaikan tubuhnya yang memohon untuk istirahat. Naruto sangat prihatin saat melihat Sakura dalam masa- masa suram dahulu, dia memutuskan untuk tidak akan membiarkannya terjadi lagi.
"Naruto," panggil sebuah suara dari arah belakangnya.
"Oi, Sasuke…" sapanya tanpa mengalihan pandangannya dari sang gadis merah muda.
"Ayo bertarung."
Naruto mengibaskan tangannya ke arah Sasuke. "tunggu sebentar."
Mengerutkan dahi karena diminta untuk menunggu, dengat tak Sabar Sasuke menghampiri si pirang untuk melihat apa yang begitu menyita perhatiannya. Dengan cepat Sasuke mengenali sosok rekan satu timnya yang lain. Merengut, Sasuke menyadari betapa Sakura terlihat snagat lelah.
"Apa yang sedang terjadi disana?" tanya Sasuke, melipat kedua tangannya.
"Tsunade-baachan memblokir aliran chakra Sakura-chan. Dia tengah mencoba untuk membebaskannya, sudah satu jam…"
"Bagaimana?"
"Kau pikir aku tahu bagaimana cara membebaskannya…?"
Percakapan mereka tersela saat pekikan hampir putusasa keluar dari bibir Sakura. Dia tengah menunduk di tanah, terengah sambil bersusah payah menahan berat tubuhnya dengan kedua lengannya agar tidak jatuh tersungkur.
"Cukup, Sakura…" kata Tsunade dengan suara yang lembut. "cukup untuk hari ini, kita akan mulai lagi bes—"
"Tidak!" kata Sakura cepat. "aku bisa melakukannya… Tsunade- sama…!"
"Ini tidak baik…." gumam Naruto.
Sasuke mamandangnya, tetapi teman baiknya itu sudah berlari dengan kecepatan penuh ke arah Sakura. Sasuke menyandarkan sebelah lengannya di batang pohon; kehadiran Naruto sudah lebih dari cukup untuk mengatasi situasi yang sedang terjadi, tetapi dia merasa…. tidak tenang. Menghela napas berat, dia bangkit dan mengikuti Naruto.
"SAKURA-CHAN!" teriak si pirang. "sudah cukup!"
Sakura mengangkat kepalanya kaget, tekadnya kembali saat melihat Naruto dan Sasuke. Kilasan kenangan tentang tim 7 berputar di pikirannya: Naruto, berisik dan penuh ambisi; Sasuke, jenius dan bertekad kuat; Sakura, selalu dilindungi dan tidak berguna… yang paling lemah.
Tidak lagi.
Mereka berdua akan berdiri disana, menjadi saksi kekuatannya. Dia harus mengalahkan jutsu gurunya sekarang.. di depan mereka… dia harus!
Tapi kemudian Sakura terbatuk hebat. Darah menyembur dari tenggorokannya, memerciki kerikil di bawahnya dan mengaliri dagunya – menjelaskan bahwa tekanan chakra di dalam tubuhnya mulai meremuknya dari dalam. Dalam keadaan setengah sadar, Sakura terpaku melihat percikan darah di buku-buku jarinya sebelum kemudian ambruk.
"Kau tidak pernah mendengarkan…" bisik Tsunade sambil secepat kilat membebaskan jutsunya.
"Sakura-chan!"
Naruto sampai terlebih dulu, memangkunya saat Sakura terengah lemah kelelahan. Marah, Naruto menatap tajam Hokage. "Baachan! Apa yang sudah kau lakukan?!"
Wanita yang lebih tua memutar matanya dan berlutut di samping mereka. Menyeka keringat yang membasahi helai rambut yang menempel di wajah muridnya dengan lembut. "Kau melakukannya dengan baik, Sakura. Tinggal sedikit lagi."
Sinar kehijauan mulai memancar dari tangan Tsunade, menyembuhkan cedera Sakura.
"Maaf, Tsunade-sama…" lirih Sakura.
Sasuke ikut membungkuk untuk memeriksa kondisi Sakura.
Mendesah, Naruto menggelengkan kepala. "Jangan minta maaf pada nenek tua ini," katanya, tersenyum miring melihat wajah dongkol Tsunade. "kau sudah melakukannya dengan baik, Sakura-chan."
"Kau harus menghentikannya lebih cepat," gumam Sasuke. "dia bisa terbunuh."
"Yeah!" setuju Naruto.
Memberi masing- masing tatapan mematikan, Tsunade bangkit berdiri. "Tentu." ejek Tsunade "kalau kalian mempunyai begitu banyak waktu untuk memarahiku,lebih baik kalian semangati dia."
"Naruto selalu menyemangatiku," gumam Sakura cepat, membentuk senyum lemah untuk Naruto.
Sasuke merengut, menunggu kelanjutan perkataan Sakura. Jika maksud perkataannya adalah untuk membuat Sasuke marasa beralah karena ketidak hadirannya selama betahun- tahun maka katakanlah. Sasuke berdiri, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Bisa berdiri, Sakura?" tanya Tsunade.
"Ya, tidak apa- apa." jawabnya cepat, terhuyung di kedua kakinya.
"Bagus. Kumpulkan lagi energimu. Aku kembali ke kantor."
"Ya…" gumam Sakura, nadanya terdengar tidak puas. Dia ingin mencoba kesempatan kedua.
Tsunade berbalik dan melangkah menuju kantornya. "Naruto!" teriaknya. "Tetap awasi Uchiha!"
"Kenapa harus aku?" Naruto protes. "memang aku salah apa?"
"Diam, Dobe."
Desahan kekesalan keluar dari bibir Sakura saat dia menyeret langkahnya ke rumah Sasuke. Tubuhnya mulai memperlihatkan efek latihan paginya dengan Tsunade. Menggenggam lengannya yang sakit, dia mengomeli dirinya yang tidak bisa membebaskan cakranya sendiri. Apa yang akan terjadi dalam peperangan nyata jika dia tidak bisa menggunakan kemampuan mengobatinya?
Menghela napas, dia berusah payah melangkah dengan ransel di tangannya dan mengetuk pintu perlahan.
Beberapa detik kemudian, pintu bergeser membuka dengan Sasuke yang berdiri merengut padanya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Sakura berkedip. Mungkin bertarung dengan Itachi merusak otak Sasuke dan membuat ingatannya menghilang dengan cepat. "Aku kesini untuk memeriksa-"
"Iya, aku tahu," selanya. "kenapa kau tidak istirahat saja?"
"Tsk, tsk…" Sakura menepuk pundak Sasuke main- main, tersenyum manis. "Aku perawatmu, ingatkan?"
Sasuke menatapnya ragu beberapa saat, lalu dengan enggan bergeser ke samping.
Sakura melewatinya dan menghidupkan lampu ruang tamu, saat Sasuke meraih ransel dari genggamannya. Sakura menatapnya penuh tanda tanya.
"Aku bawakan." gumamnya.
Perkembangan menarik : Sasuke menunjukan sisi lembutnya. Ataukah itu hanya rasa kasihan padanya? Sakura berpikir jika ini Sasuke, pastilah yang kedua.
Sakura mengangkat bahu dan menghidupkan lampu untuk menerangi seluruh ruangan. "Kau berlatih dengan Naruto sore ini, kan? Mungkin itu bukanlah ide bagus…"
Kini giliran Sasuke yang mengangkat bahu dan berjalan melewatinya menuju kamar.
"Sasuke!" dia memperingatkan. "level chakramu sudah cukup bagus, tapi kau masih butuh waktu lebih untuk penyembuhan secara fisik."
"Aku baik- baik saja," jawabnya pendek.
Sakura menggelengkan kepalanya, mengekor di belakang Sasuke. "Aku hanya menyarankan," katanya sambil memasuki kamar, "bahwa lebih baik sampai beberapa minggu kedepan, tahan dirimu untuk tidak ditendang atau menendang pantat orang dahulu."
Sasuke menyeringai.
"Itu saranku sebagai perawatmu." kata Sakura dengan sebuah kedipan mata. "Lengan?"
Sasuke mengangkat lengannya yang kemudian Sakura genggam di pergelangan tangan dan lengan bagian bawah. Perlahan membengkokannya, dia mencoba menggerakan sendinya.
"Besok sebagian dari kami tidak ada misi," kata Sakura dengan mata masih terfokus di lengan Sasuke, "jadi, kami berencana makan siang di lapangan dekat tempat latihan."
"Naruto sudah mengatakannya."
"Jadi kau datang?"
"Tidak, terimakasih."
Sakura melepaskan lengannya dan mengerucutkan bibirnya. Biasanya, inilah yang akan dilakukan Sakura kecil, lalu mulai merengek dan menarik- narik lengan Sasuke yang kemudian membentak Sakura agar meninggalkannya sendiri. Wow… Sakura menyadari bahwa dirinya yang dulu benar- benar menyebalkan. Jika hal seperti itu terjadi pada Sakura, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan Sasuke.
Jika Sasuke tidak ingin pergi, maka Sakura tidak akan memaksanya. Dia mungkin punya alasan tersendiri.
"Hm…" Sakura menggumam sambil bangkit untuk memeriksa lengan yang satunya lagi. "sayang sekali."
Untuk beberapa detik, Sasuke melemparkan tatapan ingin tahu pada Sakura…tapi kemudian memalingkan wajah dan memilih tetap diam saat Sakura memeriksa gerak refleksnya.
Sakura mengoceh seperti biasa, mengobrol tentang apa saja untuk membuat suasana mengalir di dalam ruangan. Saat Sakura mulai membahas tentang latihannya dengan Tsunade pagi itu, Sasuke memotongnya,
"Itu bodoh." katanya serius.
Sakura membeku, "Apa?"
"kau terlalu memaksakan diri. Kalau kau tidak bisa, berarti memang tidak bisa. Jangan mencobanya mati- matian."
Mengerutkan dahi, kedua matanya memancarkan kekecewaan. "Kau…tidak perlu berkata demikian…"
"Penggunaan chakra yang berlebihan hampir membunuhmu. Jangan melakukannya lagi."
Tiba- tiba, mata emeraldnya menyorot Sasuke dengan tatapan mengejek. "Apa yang kau lakukan saat Kakashi sudah memberitahumu bahwa kau hanya boleh mengunakan chidorimu dua kali?"
Sasuke sedikit tersentak, menghindari tatapan emerald itu. "Itu-"
"Berapa banyak kau menggunakannya saat ujian chuunin? Berapa kali kau menggunakannya sekarang?"
Sasuke menatapnya tajam, bisa dibilang congkak. "Kita tidak sama, Sakura."
Menggigit bibirnya, Sakura berperang tatapan dengan Sasuke hampir selama sepuluh menit. Akhirnya Sakura berdiri dan meraih ranselnya, memutuskan pandangannya dari Sasuke. Betapa dia ingin meninju pemuda di hadapannya dan menerbangkannya sampai desa sebelah.
"Benar. Semoga kau juga akan tetap bertahan hidup malam ini." gumam Sakura sarkastik, mengakhiri pertemuan hari ini.
Thanks To : Kiren Nia, hanazono yuri, Maria, Lala yoichi, furiikuhime, Ai, Mia Rinuza, K, rifasalsah
Anyway, Terimakasih sudah membaca.
Kritik, saran dan pendapat silahkan sampaikan lewat review.
-with cherry on top-
.the autumn evening.
