Mission
…
…
…
Setelah mendapat izin dari Hokage. Itachi menyertakan tiga orang anak muda yang tergabung dalam pasukan Khusus Konoha atau Anbu Ne. Mereka adalah Sarada, keponakannya sendiri. Lalu ada pula pria jabrik kuning, Boruto putera Hokage sekarang. Dan yang terakhir Mitsuki, anak yatim piatu tapi berprestasi.
"Paman, sebenarnya apa tugas kita ke sini paman?" Sarada berjalan mendekati Itachi yang dari tadi diam dan berjalan di depan ketiganya.
"Ada, nantilah baru kita akan ketahui. Kau tahu Sarada? Ada aturan di mana kita kita tidak boleh mengetahui misi apa yang harus kita jalankan sebelum menjumpai orang yang memberikan misi, biasanya kita hanya mengetahui rank dari misi itu. Kau sudah tahu kan arti rank dari setiap misi" jawab Itachi masih terus berjalan.
Tentu saja Sarada sudah tahu. Sarada, sebagai prajurit, ia hanya menjalankan perintah tanpa perlu mengetahui terlalu jauh soal misi yang akan di jalankan.
"Apa yang meminta bantuan pada kita, bukan Mizukage?" giliran Boruto yang bertanya. Tentu saja ia bertanya demikian karena ia merasa kalau sekarang mereka tidak menuju ke kantor Mizukage.
"Tentu saja yang meminta bantuan adalah Mizukage. Hanya saja, aku ingin menjumpai seseorang" jawab Itachi. "Lagi pula pembicaraan tentang misi tidak di lakukan di kantor Hokage".
"Siapa?"
"Ada" jawab Itachi kalem.
Keempatnya kini berada di depan rumah mewah khas rumah seorang bangsawan.
"Wow!" Boruto dan Mitsuki malah menatap kagum pada bangunan rumah itu.
Sarada cuma menggeleng atas sikap kedua rekannya itu, meski sudah bisa di katakan sering menjalankan misi bersama, namun Sarada masih nampak belum bisa beradaptasi dengan sikap Boruto dan Mitsuki yang di anggapnya norak.
Sarada menatap sisi luar rumah itu. Ia merasa ada yang menganjal dengan rumah tersebut. Sepertinya ini adalah rumah seorang yang penting, namun kenapa ia tidak menemukan adanya pengawal atau petugas keamanan.
Itachi menatap pada keponakannya, "Nyonya Terumi memang seperti itu, ia tidak suka jika ada yang mengawalnya"
"Nyonya Terumi?" Sarada menatap pamannya.
"Hm… namanya Mei Terumi" Itachi makin mempercepat langkahnya memasuki halaman rumah yang lebih menyerupai istana tersebut.
Itachi dan timnya langsung disambut oleh seorang wanita cantik. Jika di lihat usianya mungkin sedikit lebih tua dari Itachi…
"Kalian sudah datang?" pemilik rumah mulai menatap tamunya satu persatu, tapi tatapannya agak lama berhenti pada Sarada.
Dengan senyumanny,a ia mempersilakan Itachi masuk. Sang tuan rumah pun melangkah mendahului tamunya. Dan sejak kedatangan tamu-tamunya, ada salah satu tamunya yang menarik perhatiannya.
"Hey, cara berpakaiannya sangat unik ya" Boruto berbisik dan di anggukan oleh Mistsuki. Meski berbisik tapi Itachi dan Sarada sudah pasti mendengar.
"Kuyakin dia tidak memakai pakaian dalam sama sekali, lihat saja pakaiannya, tinggal di tarik kebawah dan dia akan polos sama sekali" balas Mitsuki.
Boruto maupun Mitsuki cekikikan, membayangkan jika sang nyonya cantik itu benar-benar polos.
"Kapan kalian berdua dewasa" pelototan Sarada tidak lantas membuat kedua pemuda tanggung yang seumuran dengannya berhenti.
"Justeru karena kami sudah dewasa, Sarada, makanya kami sedang… xi..xi..xi" lagi-lagi kedua pemuda itu cekikikan.
"Beruntung, kalian tidak bersama papanya Sarada, jika saja kalian bersamanya dan ucapan kalian seperti itu. Ku yakin, lubang di kepala kalian bertambah" kali ini Itachi yang menanggapi.
"Kenapa Paman Sasuke marah, apakah nyonya seksi itu mantan pacarnya?"
Kedua pemuda itu seperti tercekat, tiba-tiba saja tatapan membunuh dari Sarada ketika mereka menyinggung soal Sasuke. Kedua pemuda itu tahu, kalau Sarada menjadi sangat sensitif jika berbicara soal papanya, bahkan hanya sekedar menanyakan keberadaan papanya. Dari pada gadis cantik dari Uchiha itu mengamuk, lebih baik diam.
"Silakan duduk!" ucapan Mei Terumi segera mempersilakan tamunya duduk. Kedua pemuda yang tadi membicarakan soal nyonya ini, juga sudah berhenti sejak mendapat tatapan membunuh dari Sarada.
Begitu keempat tamunya duduk, Mei Terumi malah mengamati Sarada yang sejak kedatangannya tadi sudah menarik perhatiannya. Ia menoleh pada Itachi.
"Puterinya Sasuke" Mei Terumi hanya mengerti maksud Itachi dari gerakan bibir Itachi. Mei Terumi mengangguk.
Sarada sendiri merasa risih dari tadi di perhatikan oleh Si Pemilik rumah.
"Jadi kaukah puteri sulung Sasuke? Ternyata kau sangat cantik" Puji Mei sambil tersenyum pada Sarada.
Sarada yang di puji malah sedikit gelagapan, beruntung karena ia adalah seorang Uchiha terlebih ia adalah anaknya Sasuke, maka dengan mudah ia mengembalikan mimik nya seperti semula.
"Terima kasih, Nyonya" ujar Sarada berusaha memberikan senyum manis.
"Oh ya. Apa yang bisa kami lakukan" Itachi kembali bertanya.
Mei Terumi menatap Itachi, "Sepertinya kau mulai ketularan adikmu. Selalu buru-buru" Ujarnya dengan senyum yang selalu menghiasi bibir.
"Baiklah kalau kau memang ingin segera bertugas, kami ingin kalian memburu komplotan pembunuh. Kau yakin dengan tim yang kau miliki sekarang?" imbuh Mei masih menatap Itachi.
"Ya" jawaban singkat Itachi sambil melirik Sarada yang ada di sampingnya, seakan meyakinkan kalau ia bersama keturunan Uchiha berbakat.
Meski begitu, Mei kelihatan masih ragu, karena Sarada adalah seorang wanita.
"Apakah Kiri tidak memiliki pasukan pemburu, kenapa malah meminta kami?" Boruto yang paling ceplas-ceplos bertanya.
Sarada hampir saja menepuk jidad mendengar ucapan Boruto.
Mei Terumi hanya tersenyum menatap sekilas pada Boruto, "Pasukan kami terlalu sibuk oleh ulah sekelompok orang yang tak di kenal, yang selalu meneror kantor pemerintahan. Kurasa kalian juga sering mengalami"
Keempat tamu Mei Terumi malah diam secara bersamaan, ke empatnya masih menunggu kelanjutan ucapan Mei.
"Bagaimana? Kalian bisa?" tanya Mei lagi, ia merasa sudah cukup dengan informasi yang dia berikan.
"Ya. Meski yang ku bawa bukanlah prajurit super dari Uchiha, tapi aku bisa menjamin keahlian mereka" Itachi meyakinkan.
"Baiklah, sebaiknya kalian istrahat. Aku akan memanggil Mizukage Choujuro untuk merundingkan rencana kalian. Memang sebaiknya kalian berunding di sini karena akan terlalu menarik perhatian jika kalian berunding di kantor Mizukage"
Ketiga anak muda pun beranjak dari tempatnya. Mereka bertiga langsung istirahat dan di antar oleh para maid. Perjalanan dari Konoha ke Kiri memang sedikit melelahkan.
Lagi-lagi sang mantan Mizukage itu menatap Sarada dengan tatapan yang tidak ada satu orang pun yang mengerti kecuali Mei sendiri.
"Apa kah kau lebih berharap kalau Sarada lahir dari rahimmu" Itachi yang sudah bisa di katakan kenalan lama dengan Mei Terumi, tidak segan menggoda Mei Terumi. Itachi juga sudah mulai mengobrol tanpa sikap formal.
Mei Terumi hanya bisa mendengus sambil tersenyum, "Dari dulu kau memang tak pernah serius menghadapi masalah. Kau harusnya sadara sekarang, kita menghadapi masalah dan kalian dalam misi"
"Bukannya kau juga sama"
Mei tertawa kecil mendengarkan ucapan Itachi, "Aku juga sudah memiliki puteri yang sangat cantik".
"Dan kau lebih berharap ayahnya adalah Sasuke" kembali Itachi menggoda Mei.
Mei Terumi yang sudah mengenal Itachi itu, malah tertawa, "Kalau ku bilang iya, kenapa?"
Itachi balas tertawa, "Tidak ada. Oh ya, kemana puterimu"
Begitu mendengarkan pertanyaan Itachi, cuma desahan nafas dari Mei Terumi, "Dia sangat ingin menjadi ahli beladiri. Makanya ia ku biarkan untuk mencari pengalaman di luar. Dan sekarang ia berada di bawah orang yang tepat"
"Siapa?"
Mei Terumi lagi-lagi tersenyum, "Nanti kau juga akan tahu"
"Istrahatlah, Itachi" sambung Mei Terumi. Itachi mengangguk dan minta diri untuk meninggalkan Mei Terumi sendirian.
…
SSS
…
Akari kini berada di depan kantor pemerintahan Iwa.
Akari mulai melangkah ke depan gerbang, dimana cukup banyak pasukan keamanan yang tengah bersiaga.
"Siapa dan mau apa kau?" suara tegas khas dari seorang komandan.
"Aku ingin bertemu dengan Nyonya Tsuchikage" ujar Akari sambil menyerahkan sebuah gulungan yang ia simpan.
Sang komandan menatap sekilas pada Akari, lalu menatap pada gulungan yang baru saja di serahkan oleh Akari. Pengawal itu mengambil kertas lain, ia terlihat seperti membandingkan kertas yang di ambilnya barusan dengan gulungan yang di berikan Akari. Nampak pengawal itu mengerti.
"Maaf. Silakan masuk. Nyonya Tsuchikage menunggumu" pengawal itu kembali menyerahkan gulungan pada Akari
"Terima kasih" singkat ucapan Akari, ia meraih gulungan lalu ia simpan kembali. Selanjutnya ia melangkah dengan tenang melewati para pasukan keamanan kantor pemerintahan Iwa.
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, akhirnya Akari kini beraada di depan suatau ruang khusus yang di sebut sebagai ruang pribadi. Ruangan itu sepertinya memang tempat untuk mengatur strategi maupun sebagai tempat rapat darurat.
Lagi-lagi mata Akari mendelik. Ia melihat surai lavender duduk tepat berhadapan dengan seorang wanita yang di dampingi seorang pria bertubuh tambun.
"Oh, kau juga sudah datang. Silakan duduk" Akari segera mengambil tempat duduk di samping Mai.
"Mana gulungannya" Akari pun menyerahkan gulungan yang di maksud.
Selesai memeriksa gulungan yang di berikan Akari, Tsuchikage yang sekarang bernama Kurotsuchi, mengantikan Sang Kage yang sebelumnya, Onoki. Kurotsuchi menatap kedua remaja beda gender di depannya.
"Maaf. Demi keamanan, kami tidak bisa mengungkit siapa pengutus kalian. Tapi jika kalian sendiri yang ingin mengungkit identitas masing-masing, silakan saja. Jika kalian memang saling mempercayai. Di era sekarang, kita musti hati-hati dalam segala hal"
Akari dan Mai cuma bisa mengangguk.
"Baikalah, sebelum kalian melaksanakan tugas, ada baiknya kalian istirahat. Besok kita bertemu kembali dan membahas tentang misi kalian" Tsuchikage segera mempersilakan tamunya untuk istrahat di temani oleh para maid.
"Tidak kusangka kau juga dalam rangka menjalankan tugas, Pria Mesum" bisik Mai saat berjalan beriringan menuju tempat istrahat masing-masing.
"Aku heran, siapa yang mengutus wanita bodoh sepertimu"
"Apa?!" mata Mai membulat besar, nada Akari barusan seakan-akan menuduh atasannya adalah orang bodoh yang mengirim orang seperti Mai dalam misi. Memikirkan hal itu, Mai sedikit di buat kesal, karena pemuda itu sama saja menghina atasannya yang begitu ia kagumi. Tapi sebelum membalas perkataan Akari. Akari sudah memasuki kamar istrahatnya sambil menunjukan seringai pada Mai.
…
SSS
…
Di kamar yang terpisah, Akari maupun Mai kini bersiap-siap menemui Tsuchikage, untuk membicarakan masalah misi.
"Mesum!" gumam Mai saat berpapasan dengan Akari.
"Bodoh!" balas Akari, "Kau sudah janda kan?"
Mai menatap tajam pada Akari.
"Kau tahu, konon warna ungu itu warna janda" makin mendidihlah darah Mai mendengar celotehan Akari.
Pria itu sangat menyebalkan, apa hubungannya warna ungu dengan janda. Lalu apa pula maksudnya menyinggung soal warnah rambutnya.
Akari yang melihat kejengkelan Mai, malah tersenyum. Bagi Mai, kalau saja mereka tidak berada di kantor Tsuchikage, sudah pasti ia meminta Akari untuk tarung ulang.
"Nah, Akari, Mai, sesuai janjiku kemarin, saatnya kita berbicara soal misi kalian"
Akari dan Mai masih diam menunggu instruksi dari Tsuchikage itu.
"Mungkin saya tak perlu menjelaskan, yang jelas di kota kami ini terdapat geng bandar kejahatan. Nah tugas kalian melacak dan menghabisi mereka"
"Maaf Nyonya, tapi, kalau hanya kami berdua. Bisakah kami melakukan tugas ini. Masuk kedalam sarang preman" Mai mulai ragu.
"Karena aku sudah mengetahui latar belakang kalian. Terutama kau Akari. Tugas ini ada di pundakmu. Lagi pula, tugas kalian hanya menyusup dan mencari tahu siapa dalang dari semua kejahatan itu. Saya tidak meminta kalian untuk bertindak kekerasan. Ini cuma saran, tapi kalau kalian mau bebuat sesuatu, lakukannlah, kalian ku beri wewenag penuh atas tugas ini" Tsuchikage menatap dua pemuda yang ada di depannya.
Mai menatap Akari yang belum memberikan tanggapan. Akari begitu mendapat kepercayaan, ia mulai meraba-raba siapa pemuda di sampingnya.
Semakin Mai perhatikan, ia makin melihat kemiripan dengan atasannya. Apakah Akari adalah Uchiha, pikir Mai.
"Hn, kami siap!"
Tsuchikage cuma bisa mengangguk, "Kau punya rencana?"
"Apa kalian menyimpan barang bukti narkotik atau barang apa saja yang berasal dari dunia preman?" Tanya Akari.
"Iya, kami memang memiliki"
"Aku ingin membawa beberapa, sebagai samaran untuk bisa memudahkan kami masuk"
Tsuchikage mengerti, ia segera memerintahkan assistennya untuk mengambil beberapa barang bukti kejahatan yang di sita.
"Agar kalian tidak terhambat, sebaiknya kalian ku bekali dengan tera dari saya"
"Jangan!" Akari mencegah, "Tidak mengapa jika kami di sebut sebagai buronan kalian, bahkan kalau perlu, jadikan kami dalam DPO kalian"
Mai masih diam, berusaha menganalisa maksud dari Akari, "Aku setuju" kini Mai mengerti dengan maksud Akari.
"Kenapa kalian ingin di jadikan buronan?" tanya Tsuchikage.
"Jika kalian pajang wajah kami dimana-mana, bukan tidak mungkin ada anggota dari komplotan kejahatan itu akan melihat kami, dengan demikian kami akan memiliki reputasi. Dengan modal reputasi ini, mudah-mudahan memudahkan kami untuk bisa menyusup kedalam komplotan itu" terang Akari.
Mai yang sebenarnya tidak memiliki pilihan cuma bisa menurut dan setuju dengan Akari.
Tsuchikage tampak menarik nafas, "Baiklah kalau itu kemauan kalian, dan sebelumnya saya minta maaf jika, ada petugasku yang melakukan tindakan salah pada kalian"
Akari dan Mai saling tatap lalu mengangguk.
"Sekarang umumkan dan pajang wajah kami sebagai orang yang paling kalian cari" ujar Mai menoleh pada Tsuchikage.
"Baiklah, selamat bertugas, Aku percaya kan kesuksesan misi ini padamu Akari" ujar Tsuchikage perlahan.
…
-SSS-
…
"Tidak kusangka, secepat itu kita menjadi buronan" Akari menatap gambar dirinya dan Mai yang terpasang di dekat pintu masuk stasiun kereta.
"Bukannya ini idemu" Mai menatap Akari.
"Dan kenapa kau ikut setuju?"
Mai diam. Akari menatap gadis cantik di sampingnya itu sambil tersenyum.
"Sekarang kita, menjadi buronan, hati-hati, dari tadi aku sudah merasa kalau kita sudah di incar. Ada kemungkinan, mereka adalah pasukan keamanan Iwa" Bisik Akari.
Akari dan Mai melanjutkan langkahnya menuju ke tempat di mana menunggu kereta yang akan datang.
"Di depan ada yang menanti" lagi-lagi Akari berbisik pada Mai.
"Bagaimana kau tahu?" Mai juga balas berbisik.
"Di lehernya ada untaian, mungkin itu adalah kabel alat komunikasi. Tetap tenang"
"Hee…"
Mai jadi kaget karena tiba-tiba saja Akari merangkul bahunya dengan mesra layaknya sepasang kekasih.
"Dia sedang menuju kearah kita" Bisik Akari.
Akari makin menundukan kepala kemudian menolehkan kepala pada Mai, Sambil tertawa riang, "Bagaimana sayang, pokoknya bulan madu kita kali ini harus yang paling romantis"
Akari yang masih merangkul Mai melewati seseorang yang di curigainya adalah keamanan Iwa. Karena wajahnya yang di tolehkan pada Mai sehingga wajahnya tidak kelihatan. Belum lagi karena keduanya memakai topi, makin tidak kelihatan dengan jelas wajah keduanya. Sementara keamanan itu hanya melewatinya tanpa curiga sama sekali.
Akari dan Mai tetap saling merangkul bahkan Mai membalasnya dengan tak kalah mesra pula.
Di stasiun itu, tampak beberapa orang yang sedang kesana kemari seperti mencari sesuatu.
…
SSS
…
Senja baru saja turun. Bentangan lagit sebelah barat telah berubah warna menjadi kuning kemerah-merahan. Tidak lama kemudian, lengkungan sang rembulan mulai menampakan diri menghiasi langit malam.
Empat orang nampak sedang mengawasi sebuah rumah mewah yang berada di tengah-tengah pemukiman. Meski malam sudah menjelang, nampak kalau keempat orang yang tengah mengintai itu belum mau beranjak dari tempatnya.
"Paman" panggil satu-satunya gadis di antara keempatnya. Ternyata setelah di lihat, keempat orang itu adalah Itachi dan timnya, yang ia sertakan dari pasukan khusus, Anbu Ne.
"Ada apa Sarada?" tanya Itachi sambil menatap Sarada.
"Apa paman yakin kalau tempat pemimpin mafia itu ada di sini?" tanya gadis cantik yang di panggil Sarada.
"Benar. Mata-mata dan intelijen Kiri sudah memastikan" jawab Itachi tenang.
"Kalau mereka sudah tahu, kenapa mereka tidak melakukan penyergapan?" giliran Mitsuki yang angkat bicara.
Itachi menghela nafas, "Ada beberapa alasan kenapa mereka meminta kita untuk membasmi mereka. Yang pertama, lihatlah sekeliling kalian. Ini di tengah-tengah pemukiman padat, jika pasukan Kiri ingin membereskan ini, di perlukan satu batalyon pasukan. Masalahnya, jika di kirim satu batlyon pasukan, sudah pasti akan terjadi baku tembak dan akan menimbulkan kepanikan. Dan kalian sudah tahu apa yang terjadi dan siapa yang jadi korban jika di tempat seperti ini terjadi baku tembak…"
"Rakyat sipil" Boruto langsung menanggapi.
"Benar. Makanya di perlukan sedikit orang handal untuk membasmi mereka, selain lebih efektif. Korban rakyat sipil bisa di minimalisir" imbuh Itachi.
"Apa mereka tidak memiliki prajurit seperti kami. Well, lupakan soal prajurit super" kembali Boruto menanggapi, mendahului yang lain.
"Pasukan khusus Kiri yang ahli seperti kalian juga ada. Tapi, bukankah Nyonya Mei sendiri sudah memberi tahu kalau mereka akhir-akhir ini di sibukkan oleh para pengacau yang selalu merongrong kantor pemerintahan. Keamanan pemerintahan sebagai instansi vital jauh lebih utama" terang Itachi.
"Jadi, apa rencana paman?" Sarada masih tetap tenang mengawasi.
"Siapkan senjata kalian. Dan kau Mitsuki, carilah tempat yang tepat untuk mengawasi kami" ujar Itachi pada Mitsuki yang memegang senjata sniper.
"Sarada dan Boruto, kalian ikut denganku dalam penyergapan" imbuh Itachi.
Sesuai rencana, Itachi mulai mengendap memasuki halaman rumah besar. Ia segera pula memerintahkan pada Sarada dan Boruto untuk mengikutinya.
Sementar Mitsuki segera mencari tempat yang tinggi. Selain untuk meng-cover rekannya, ia juga akan berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi yang lain
Semua sudah siap dengan tugas masing-masing, alat komunikasi juga tak ketinggalan.
"Baiklah" Itachi membuka suara, "Sarada, kau mengambil jalan memutar. Aku dan Boruto akan masuk lewat depan"
Sarada mengangguk. Ia pun mulai bergerak sesuai instruksi Itachi.
"Mitsuki. Kau pandu Sarada"
"Baik!" Mitsuki mulai juga di posisinya. Ia mulai mengawasi Sarada melalui Scope. Melalui scope, Mitsuki bisa melihat Sarada mulai berlari memutar.
Karena merasa ada yang memandu, Sarada tidak terlalu berhati-hati atau mengendap dalam melakukan pergerakan.
Tiba-tiba saja Sarada mengacungkan pistol begitu ia berada di depan pintu masuk pagar. Ia merasakan adanya orang yang berada di balik tembok pagar tinggi.
"Ukh!" benar saja dugaan Sarada, kalau memang benar ada seseorang yang berada di balik tembok. Suara lenguhan itu terdengar jelas oleh Sarada.
'Tenang saja, Sarada' suara Mitsuki terdengar di earphone Sarada.
"Dasar bodoh! Kenapa kau tidak bilang" bentak Sarada.
"Tenang saja, aku akan memberitahumu jika aku tidak bisa mengatasinya. Sudahlah! Teruskan saja, serahkan padaku" balas Mitsuki.
"Kalian sudah berada di posisi yang ku maksud?" suara Itachi sambil berbicara melalui earphone.
Ketiga pemuda itu tentu saja mengiyakan.
"Baiklah, Mitsuki, kau bisa mengawasi orang-orang yang berada di dalam bangunan itu?" kembali Itachi bertanya, kali ini di tujukan pada Mitsuki.
"Benar. Aku melihat kalau mereka sedang melakukan perundingan di lantai tiga" jawab Mitsuki sambil mengawasi target ke arah jendela. Melalui jendela, Mitsuki, bisa melihat sekelompok orang yang sedang duduk dan saling berhadapan.
"Selain itu ada lagi?" giliran Boruto yang tak mau ketinggalan bertanya.
"Aku tidak melihat adanya aktipitas lain. Selain itu hanya para keamanan" jawab Mitsuki lagi.
"Mitsuki" suara Sarada terdengar di earphone yang lainnya, "Awasi saja target yang tadi kau maksudkan sedang berunding"
"Hm" Mitsuki cuma menggumam.
"Baiklah, mula-mula, lumpuhkan semua keamanan. Setelah itu buatlah kekacauan. Mitsuki, tetap pokus pengawasan, informasikan jika tidak ada lagi keamanan yang tersisa"
"Baiklah!" jawab Mitsuki.
"Cukup kalian bertahan, sebentar lagi, pasukan Kiri akan datang"
Mula-mula Sarada langsung bergerak mendahului yang lain, ia langsung melakukan penyergapan pada salah satu pos penjaga.
Wut! Krass!
Sarada muncul tiba-tiba di antara para penjaga. Para penjaga yang tengah berjaga itu, tidak menyangkah akan mendapat serangan tiba-tiba, tidak berkutik sama sekali.
"Kurang ajar!" bentak sekelompok penjaga yang berada tidak jauh dari tempat Sarada membantai penjaga.
Serentak sekitar sepuluh orang berlompatan menyerang. Gadis Uchiha itu langsung menyambut serangan sepuluh orang. Suatu pertarungan yang tidak seimbang terjadi. Satu lawan sepuluh orang memang adalah pertarungan yang menarik. Dan sudah dapat diduga hasilnya. Sebagai gadis tangguh seperti Sarada, baru beberapa gebrakan saja, ia malah mendesak lawan-lawannya yang sebenarnya prajurit terlatih. Beberapa kali pukulan dan tendangan mendarat di tubuh lawan-lawannya, sehingga membuat lawan-lawannya harus jatuh bangun bergulingan di tanah. Tapi para penjaga itu tidak mengenal menyerah, dan terus bertahan walaupun menyadari tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.
Dor!
Karena mendengar keributan, para penjaga yang lain sudah datang. Tapi di saat yang bersamaan, Mitsuki yang tengah mengawasi dengan senapan sniper-nya, juga mendahului menembaki para penjaga yang baru datang.
Tidak ketinggalan pula. Itachi ikut membantu keponakannya, dalam mengatasi serangan puluhan para penjaga.
Sayangnya Itachi juga mulai di sibukan oleh pengawal lain.
Dor! dor!
Salah seorang penjaga yang lolos dari sasaran Mitsuki, langsung menembak ke arah Itachi. Sayangnya penembak itu salah memilih sasaran. Seperti biasa, aksi Itachi yang gesit menghindari peluru. Aksi Itachi, malah membuat penembak itu makin terkesima. Menurutnya, manusia mana yang bisa menghindari lesakan peluru.
Dor!
"Akh!"
Sebuah tembakan balasan dari Itachi menumbangkan penembaknya.
Boruto pun tak tinggal diam. Ia membantu Sarada dan Itachi bertarung.
Sarada, setelah menyingkirkan lawan bertarungnya. Gilirannya kini yang menjadi sasaran tembak. Sarada harus bergerak menggunakn kelincahannya, ia melompat kesana kemari guna membingungkan lawan-lawannya. Ia bukanlah prajurit super, maka ia harus menebak dengan cara mengamati moncong senjata api yang di arahkan kepadanya. Dengan demikian, ia bisa lolos dari tembakan karena terlebih dahulu menghindar sebelum penembak menarik pelatuknya.
Sarada, Itachi maupun Boruto bergegas mendesak para penjaga agar mereka tidak memiliki kesempatan untuk menembak. Selain itu, para penjaga makin keteteran dengan semakin berkurangnya rekan-rekan mereka.
Meski begitu, mereka adalah orang-orang terlatih, mereka tidak ingin terhina karena mereka di kalahkan hanya oleh tiga orang. Padahal mereka adalah keamanan yang terlatih. Maka mereka pun menyambut serangan Itachi dan timnya. Mereka kembali melakukan pengeroyokan terhadap tiga orang.
Para penjaga itu mulai ada tumbang sebelum sampai pada Itachi dan timnya, ternyata Mitsuki juga sudah mulai menembaki penyerang timnya.
Sarada mengegoskan tubuhnya ketika salah seorang yang berada di depan melontarkan satu pukulan keras. Dan belum juga gadis cantik Uchiha itu bisa menarik pulang tubuhnya, datang lagi serangan dari arah kiri. Terpaksa Sarada melompat ke belakang menghindari pukulan keras itu. Dan pada saat yang hampir bersamaan, seorang penjaga yang berada di belakangnya melontarkan tendangan keras menggeledek
Kali ini Sarada taksempat lagi berkelit
Bughk!
"Ugh...!"
Penyerangnya kaget, Sarada dengan cepat menyilangkan tangannya menahan serangan. Tidak hanya itu, Sarad langsung mengunci penyerangnya
Penjaga yang tangannya terkunci di tangan Sarada itu kontan terpekik terkena tendangan keras
"Akh...!" penjaga itu terpental jauh ke belakang sampai menabrak pohon. Bersamaan dengan itu, Itachi langsung menembak orang yang tadii terkena hajaran Sarada sekaligus menuntaskan lawan-lawannya.
Semenatar di dalam bangunan itu, beberap orang atau mungkin pejabat yang di curigai pemberontak, mendengar suara keributan di iringi dengan suara jeritan bersahutan. Mereka yakin kalau, para penjaga itu kalah dalam pertempuran. Maka beberapa orang busuk itu, mulai melarikan diri.
Insting Itachi sepertinya berjalan, ia yakin kalau target mereka sudah bergerak sembunyi untuk menghindari sergapan. Maka ia pun mulai bergerak.
"Mitsuki" kali ini suara Sarada meminta, "Awasi kembali para penghianat itu" ia malah berlari mendahului Itachi.
"Boruto, atasi mereka yang tersisa" perintah Itachi. Ia yakin putera sulung Hokage itu bisa bertahan sedikit lagi sebelum para pasukan Kiri datang.
Itachi pun mulai merangsek masuk kedalam bangunan menguikuti keponakannya yang terlebih dahulu menerobos.
"Paman. Apa yang harus kita lakukan selanjutnya" ujar Sarada sambil memegangi earphone-nya sambil terus berlari
"Habisi saja semuanya, tak perlu di tangkap semua" jawab Itachi.
"Mitsuki" ujar Itachi yang kini di tujukan pada Mitsuki, "lumpuhkan salah satu di antaranya"
Sebagai laki-laki yang sekaligus sebagai prajurit super, tentu saja menyusuli keponaknnya adalah hal mudah bagi Itachi.
"Di depan kalian ada yang berlari ke arah kalian. Habisi saja, aku sudah melumpuhkan salah satunya" ujar Mitsuki.
Wut! Buk! Diess!
Sarada dan Itachi langsung menghajar orang yang di maksud Mitsuki. Karena mereka bukanlah petarung, tentu saja Sarada dan Itachi dengan mudah mengalahkan bahkan menghabisi semuanya.
"Bagaimana, Mitsuki?"
"Sepertinya semuanya sudah beres, pasukan Kiri yang paman maksud juga sudah datang membereskan sisanya. Dan saya yakin, semua sudah beres" jawab Mitsuki.
Sebenarnya tanpa di beritahu, Sarada dan Itachi sudah tahu kalau pasukan Kiri sudah datang. Sarada dan Itachi masih berusaha mencari barang bukti, sekaligus, menangkap orang yang tadi di tembak oleh Mitsuki.
Tidak lama kemudian, Boruto pun datang menyusul.
"Apa lagi yang harus kita lakukan, Paman" Boruto langsung bertanya.
"Teruslah mencari barang bukti tentang mereka ini. Mudah-mudahan kita menemukan sesuatu yang sangat kita butuhkan sebagai informasi tambahan"
Usai berkata demikian, ketiganya berpencar.
Itachi, Sarada, dan Boruto mulai memeriksa di setiap penjuru ruangan, untuk mencari benda dan barang bukti lain.
Sarada menautkan alis, ia merasa curiga. Adanya sesuatu yang berbeda pada salah satu dinding ruangan yang ia masuki. Tangannya mulai bergerak mengetuk-ngetuk, kadang menendang-nendang sekitar dinding. Dan ia makin curiga, karena setiap kali ia mengetuk atau menendang dinding, terasa adanya ruang kosong di balik dinding.
Dunk!
Ceklek!
Terdengarlah suara pengait pintu terlepas, ketika tanpa sengaja Sarada menendang dinding, malah terlihat adanya dinding yang bergerak sedikit. Sarada lalu menekan dinding yang tadi ia tendang. Ternyata tempat yang di tekan itu ternyata adalah tombol kunci sebuah pintu rahasia. Dan dinding yang tadi di tendang dan di ketuk ternyata adalah sebuah pintu.
Matanya makin membelalak melihat seisi ruang rahasia itu.
"Kalian sudah menemukan sesuatu?" teriak Itachi dari ruangan lain.
"Aku menemukan sebuah pintu rahasia paman" jawab Sarada, "Isinya ada banyak senjata dari berbagai jenis"
Itachi segera bergerak menuju tempat Sarada. Ia tanpa ragu melakukan penelisisran kedalam ruangan yang di maskud Sarada. Ia bergerak mendahului Sarada dan Boruto yang juga baru muncul.
Mata Itachi mendelik, "Akatsuki" desisnya.
Itachi melihat adanya simbol awan merah yang terpajang di dinding. Ternyata ruang rahasia itu tidak hanya sebagai gudang penyimpanan senjata. Tapi juga sebagai tempat pertemuan atau mungkin tempat bersembunyi.
…
…
…
TO BE CONTINUE
.
.
.
Am I Hentai : saya copy pointnya ya
boleh nggk anak2nya SasuSaku nggk usah usah ada romance2 dulu -gimana ya? Ini kan temanya future fict, jadi ada kemungkinan yg banyak mendapat sorotan adalah anak-anaknya :D, yah sekedar tantangan untuk diri sendiri, bisa nggak saya membuat fict yang sedikit melenceng dari tokoh utama SasuSaku
aku pengennya romance nya fokus ke SasuSaku dulu – ceritanya kan mereka terpisah, jadi agak bingung dengan adegan romance SasuSaku-nya. Tapi tenang, saya juga SSL, akan ada porsi khusus romance SasuSaku :v. tapi kayaknya di bagian akhir deh :v. Tapi karena saya tidak pandai dalam membuat romance melow maka, mungkin nantinya, adegan romancenya kurang greget.
entah kenapa aku nggak rela liat 'kloningnya' nya sasuke sama cewe selain Sakura … jgn kwatir sob, Akari di sini di gambarkan cuma agak mirip Sasu, ingat ya, 'agak mirip' aja. Jadi nggak ngebingunginlah, di dunia ini kan juga banyak yang agak mirip, meski nggak ada hubungan keluarga. Akari di gambarkan perpaduan SasuSaku, hanya saja gen Sasu masih sedikit lebih mendominasi, makanya ada kemiripan sedikit. Untuk lebih, soal deskripsi Akari baca ulang Our Dream, family and Our Smile sequel pertama Renegade. Thx ya, udah mau mampir, salam kenal.
Ayuniejung : Ha..ha..ha.. ada-ada aja, sebelumnya bang toyib, sekarang jadi bang Kadir. Kasihan amat si Sasu, kamu ganti2 namanya. Di sesuaiin ya. Tapi saya setuju sih! *plakk*
Ohshyn76 : mungkin masih agak lama lagi, sabar yak.
