Hai semua!

Makasih pada SEMUA yang udah review~ I Love U :D

Dukung terus ya, review terus sampai bosen *maksa. Hehehe. Maaf yang ini pendek, saya janji besok bakalan panjaaanggg!

Maaf kalau ada kekurangan :D

Enjoy~


Langit kelam tak berbintang, angin musim gugur mengalir menusuk sampai ke tulang. Sudah hampir tengah malam dan Wendy tak pernah merasakan melewati sepanjang malam dengan kegelisahan dan ketidakpastian. Dia memandang langit lewat jendela besar didepanya, dan Wendy baru sadar kalau langit dihadapanya sangatlah luas, berwarna biru hehitaman dan hanya ada satu bulan di atas sana. Bulan hampir purnama.

Sudah seminggu ini keadaan kacau balau, termasuk hatinya yang luar biasa tak tenang. Angin berhembus kencang sekali, membuat rambut biru-panjangnya berkibar, dia memeluk tubuhnya sendiri yang mulai gemetar––entah karena dingin atau takut.

Wendy ingat, bagaimana raut wajah Natsu saat ada di Stadion sihir, betapa jeleknya wajahnya yang berlumur darah. Bagaimana wajah-wajah orang yang berlarian kalang kabut, bagaimana jantung Wendy mencelos saat melihat Acnologia. Atau bagaimana wajah Lucy yang paling parah. Dia tak sengaja sempat melihat wajah Lucy yang shock setengah mati begitu melihat Natsu ditebas. Tapi Wendy bersyukur, sungguh dia benar-benar berterimakasih pada Tuhan, bahwa dia masih bisa menghirup udara malam detik ini, bahwa dia tidak mati.

Angin semakin kencang, membawa dedauan di luar sana berterbangan. Dia suka pemandnagan hutan pada malam hari. Wendy menoleh kebelakangnya, dia tersenyum pasrah menatap isi ranjang di dekatnya. Wendy melangkah gontai setelah menutup jendela, bermaksud supaya angin tak masuk ke dalam kamar dari pohon itu, supaya angin tak membuat dingin orang yang terlelap selama seminggu lebih ini.

"Cepatlah bangun," bisik Wendy menahan air matanya yang sudah diujung pelupuk. Dia mengangkat selimut dan menyelimuti orang itu pelan.

Pintu kamar terbuka, seseorang tampak kusut melihat keadaan yang sama saja sejak hari pertama mereka datang. "Apa dia masih belum sadar? Ini sudah seminggu lebih."

Wendy menggeleng pelan.

Apa yang bisa membuat Natsu Dargneel bangun…Wendy tidak tahu.


"Huaaaaaa~!" tangis Lucy tak henti-hentinya walaupun itu sudah memakan waktu hampir setengah jam. Gray telah berusaha menenangkanya semampunya, tapi Lucy seakan tak bisa berhenti menangis. Akhirnya, setelah Gray sadar akan keadaan Lucy yang sekedar memakai handuk, dan menempel pada tubuhnya, Lucy berhenti menangis dan langsung meninjunya keras sekali hingga Gray terpental hingga ke tanah.

"Ugh!" rintih Gray yang dagunya jadi lecet akibat ulah Lucy. Lucy tampak membekap mulutnya sendiri kaget. Lucy berjalan tertatih-tatih cepat, dan kehilangan keseimbanganya lalu terjatuh tepat di depan Gray.

"Gray! Kau tidak apa-apa kan?" Lucy memegang kedua pipi Gray.

Tapi Gray malah menarik kembali tangan Lucy dan merengkuhnya ke dalam dadanya, lagi. Idiot, seharusnya Gray yang meluncurkan pertanyaan itu, Apa Lucy oke? Apa dia terluka? Apa dia kesepian? Takutkah dia?

Dia sampai mencium rambut Lucy, semuanya, dia ingin memastikan gadis itu tak tergores sedikitpun. Entahlah, berpisah selama berhari-hari membuatnya menjadi orang yang penuh dengan harapan semu. Yang tak nyata, tapi Gray mengangkat dagu Lucy, membuat mata mereka bertemu dan dengan jarak yang tinggal sesenti, Gray mengebor masuk dalam mata Lucy.

"Lucy…benarkah ini kau? Ini kau kan?" tanyanya cepat.

Lucy menatapnya, walaupun matanya sangat sayu, tapi dalam matanya terpancar suatu kebahagiaan. Dia menatap Gray dengan pandangan yang tidak pernah Gray lihat sebelumnya. Matanya, rambutnya, senyumnya, Gray hampir melupakan hal sepele dari Lucy selama ini. Tapi, hal-hal sepele yang dimiliki Lucy ternyata membuatnya mencelos. Lucy, dia satu-satunya hal terbaik yang ditemui Gray sepanjang pelarianya. Sungguh hal terbaik.

Gray merengkuhnya lagi, kali ini lebih erat. Hingga Gray dapat merasakan lekuk tubuh Lucy yang menempel kuat padanya. Walaupun menahan warna merah yang menyebar di wajahnya, tapi Gray senang sekali. Dia merasa dadanya basah lagi, ternyata Lucy menangis tapa suara di dadanya.

Gray mengangkat pipi Lucy, lalu mengusap air mata gadis itu. ugh, wajah Gray merah padam, karena selama ini dia hanya akan panik jika Lucy menangis. Tapi sekarang, entah apa yang mendorongnya menenangkan gadis itu, dia hanya tak ingin berpisah lagi denganya.

"Sudah cukup, kan aku pernah bilang kau itu tidak cocok menangis," kata Gray sambil tersenyum. Lucy memandangnya, tapi sedetik kemudian tiba-tiba wajahnya merah padam. Kemudian bangkit dengan sangat cepat. Dia berdiri, hanya mengenakan handuk. Entah kenapa perasaan Gray berbeda melihat Lucy yang seperti ini dengan melihat Erza yang hanya mengenakan handuk. Rasanya aneh sekali, Gray merasa malu saat ini.

Gray ikut bangkit, angin berhembus kencang sekali, dan Lucy mulai mengelus-elus lenganya sendiri. "Ayo kita pergi Lucy, kau sepertinya kedinginan," ucap Gray seraya mulai melangkah.

Dan betapa kagetnya dia saat Lucy mulai melangkah, dia terhuyung jatuh, untung Gray sempat menangkapnya. "Apa––kenapa denganmu?" keringat mulai menetes di pelipis Gray.

"A-aku lumpuh, tapi sekarang sudah bisa berdiri kok! Tapi aku belum bisa berjalan dengan benar," jawab Lucy dengan wajah merah.

Kebencianya terhadap Sabertooth meningkat drastis, Gray menggeram pelan. "Dasa guild brengsek, berani-beraninya mereka membuatmu begini. Lalu bagaimana bisa kau disini? Kau dalam pelarian sendiri selama ini? Bagaimana bisa kau berpindah kesana-kemari kalau kau lumpuh?"

Lucy memalingkan wajahnya yang entah kenapa mulai merona, "Aku… bersama Sting selama ini,"

Hening.

Gray ingin tertawa, jika ini sebuah lelucon, dia berharap ini tanggal 1 April. Tapi sepertinya Lucy tidak bergurau, karena beberapa detik kemudian, seseorang menerobos seman-semak dengan khawatir dan meneriakan nama Lucy.

"Lucy! Apa yang––––" Sting Eucliffe membatu menatap mereka berdua.

Apalagi Gray, tanganya bergetar menahan es yang akan segera keluar. "Kau…KAU!"

Gray bergerak cepat, dia langsung mengeluarkan es yang besar dari tanganya dan mengarahkanya pada Sting. Sting bisa menghindar dengan mudah. Lalu ketika Sting akan membalasnya, mereka mendengar suara Lucy yang tampak kesakitan. Mereka berdua menoleh, Lucy ternyata terjatuh.

"Lucy!" teriak mereka beruda bersamaan. Gray menyipitkan mata pada Sting. Dia yang berhasil menolong Lucy, lalu tanpa ragu menggendongnya dengan kedua lenganya.

"Hey, lepaskan tangan busukmu darinya!" kata Sting dengan nada tinggi. Wajahnya sudah tak karuan, terlihat sekali menahan amarah.

"Kau yang jauhkan bokongmu dari kami! Kau Sabertooth keparat itu, beraninya memanggil nama Lucy!" balas Grya tak kalah seru.

Mereka berdua menggeram lama sekali, tapi kemudian suara yang tak asing menyadarkan mereka. "Lucy~~~~"

Happy terbang ke arah mereka, wajahnya di banjiri air mata dan ingus, dia langsung mendarat ke dada Lucy sambil menangis tersendu-sendu. Lucy juga tampak kaget, dia sudah hampir menangis sambil memeluk Happy.

"Happy! B-bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Lucy yang matanyya mulai basah.

"Aku bersama Gray sepanjang waktu, Huaaaaaa~ lucy kau masih hidup~" rengek Happy yang masih di pelukan Lucy.

Gray tersenyum melihatnya, lalu menatap tajam pada Sting, seperti member tahu ini-keluarga-bahagia-enyahlah. Gray untuk pertama kalinya menyeringai pada Sting, Sting tampak luar biasa geram. Setelah hampir lima belas menit penuh derai air mata dari Happy, akhirnya dia bisa tenang.

"Ayo kita pergi, Lucy. Aku tak tahan untuk tidak membunuhnya," kata Gray sinis. Tapi Lucy diam saja, dia memeohon agar Gray menurunkanya. Dengan bingung, Gray menurunkanya.

Lucy berjalan tertatih-tatih dnegan susah payah, satu dua kali membuat Gray ingin berlari menangkapnya ketika akan jatuh. Tapi dia tampak luar biasa berjuang, untuk mencapai Sting.

Pluuk

Dia jatuh. Tepat pada dada Sting. Lucy meletakan keuda tanganya pada dada Sting, mendongak untuk menatapnya. "Terimakasih ya, Sting."

Jika mulut Lucy tak bergerak, Gray tidak akan percaya akan apa yang didengarnya barusan.

Sting langsung memeluknya, ketika itu Gray sudah hampir mengeluarkan es-nya, tapi fakta bahwa Lucy tidak memberontak adalah sangat mengecewakan. Gray merasa menjadi pecundang idiot menonton telenovela didepanya. Dia tidak suka melihat ini.

"Jangan pergi," kata Stin lirih, mungkin hanya dia bisikan pada Lucy. Tapi Gray bisa mendengar itu.

Mereka saling pandang, Lucy tersenyum, Sting yang melihatnya memasang wajah tidak terima. Dia memegang pipi Lucy (Gray gemetar hebat), "Apa kau akan pergi? Kau bersamaku saja, Lucy," ucap Sting pelan. Dia merapatkan tanganya pada pinggang Lucy.

Gray melongo ketika wajah Lucy memerah, apa yang terjadi? Ini sungguh mustahil jika adegan ini terjadi berhari-hari yang lalu. Gray tidak pernah melihat wajah Lucy yang merah kecuali saat digoda Loke.

"Kita pasti akan bertemu lagi, Sting," kata Lucy. Dia benar-benar tersenyum memperlihatkan gigi-giginya. Seyum yang sangat cerah pada Sting. Sting masih tetap tidak terima, tapi dia akhirnya tersenyum.

"YEAH, kita pasti akan bertemu lagi dan aku akan membekukanmu saat itu tiba," ucap Gray tidak tahan lagi. Mereka berdua menoleh padanya. Tapi Gray tetap memasang wajah dingin, dia sungguh ingin menculik Lucy agar tak dekat-dekat dengan brengsek itu.

Happy terbang ke arah mereka berdua, lalu menuntun Lucy berjalan pergi. Lucy sempat menoleh lagi pada Sting untuk terakhir kalinya, dan mereka berdua saling tersenyum. Gray mulai membalikan badanya, ketika dia mendengar Sting bicara hanya padanya.

"Jaga dia baik-baik," kata Sting dengan wajah sekeras batu.

"Tak perlu kau suruh, dia sudah memilihku. Artinya dia percaya padaku."

Sting mengangkat bahu, "Tak akan lama. Dia akan segera jadi miliku."


Pertama kalinya dalam pelarian, Lucy memulai hari itu dengan penuh kebahagiaan. Walaupun dia sebenarnya berat berpisah dengan Sting, toh mereka pasti bertemu lagi. Pasti. Jika Lucy belum tertangkap.

"Luce, aku lapar~" rengek Happy.

Sekarang mereka sedang ada di sebuah kota kecil yang sepertinya sudah lama tak diperhatikan Dewan. Kota ini seperti tempat habis medan perang, bangunanya kebanyakan hancur. Tapi disini malah seperti kota wisata, hampir semua penduduk disini pedagang, atau menawarkan tempat menginap, dan bar. Tak ada Guild disini, dan jika Lucy tak salah kira, semua penduduk disini non-penyihir dan semuanya pengusaha.

"Eh, darimana kau mendapat semua uang ini Gray?" tanya Lucy. Dia baru sadar sepanjang mereka berbelanja, Gray selalu memberinya uang.

"Eeeeh, sebenarnya, itu, hehehe. Ini adalah uangmu."

Lucy tidak mengerti, "maksudmu? Kau mencuri dari rumahku!"

"Tidak kok! Ano, sebenarnya waktu dalam pelarian kami––aku dan Happy, tak sengaja bertemu pembantu di rumah istanamu dulu. Dia tahu kalau aku adalah temanmu, jadi dia memberiku sekantong penuh warisan ayahmu padaku, dia juga berharap aku segera bisa bertemu denganmu. Jadi, berguna juga kan kau anak bangsawan," jelas Gray panjang lebar.

Lucy tidak percaya, beruntung sekali. Ternyata ayahnya masih peduli padanya bahkan ketika mereka sudah lain dunia. Lucy menepuk kedua pipinya sendiri, "Ayo Gray! Belanja yang banyak! Aku akan membuatkanmua apapun yang kau minta!"

Gray memandangnya takut-takut, Lucy memukul kepalanya. Apa dia pikir Lucy sudah gila, menatapnya dengan pandangan seperti itu.

"Kok tiba-tiba jadi bersemangat sih, kau ini dari dulu aneh sekali," komentar Gray sambil tersenyum kecil. Lucy agak tersinggung, dia melepas kaitan tanganya di lengan Gray lalu berjalan pergi. Tapi baru tiga langkah, Lucy merasa kakinya tidak kuat menopang tubuhnya, dia hampir terjatuh.

Pluuk

Gray menangkap pinggangnya, lalu membantunya berdiri. "sebelum itu, kau harus berlajar berjalan Lucy,"


Besoknya, mereka ada di padang rumput, tak jauh dari kota tadi. Bukit ini hanya ada rerumputan dan bunga, pohon hanya ada beberapa. Tapi pemandanganya sunguh luar biasa. Belakangan ini angin terlalu sering muncul. Gray merasa angin tak menggoyahkan langkah Lucy yang hampir sempurna. Tanganya sedang menggenggam erat kedua tangan Lucy, menuntunya berjalan layaknya mengajari seorang anak kecil. Tapi memang sebenarnya hampir tak jauh beda dengan mengajari anak kecil. Lucy seperti itu, dia ngambek jika Gray melepas tanganya, atau dia senang sekali ketika sudah berhasil berjalan walaupun tidak cepat.

"Ku lepas ya," kali ini Gray meminta ijin dahulu kalau tak ingin mendapat tamparan dari Lucy lagi. Tapi nyatanya saat di lepas, Lucy berhasil berjalan tapi ketika hampir jatuh dia marah-marah lagi, dan menampar Gray lagi.

"Ya ampun! Sejak kapan sih kau hobi nampar orang?" tanya tak sabar. Pipinya mulai terasa panas dan perih.

Wajah Lucy anehnya memerah, "Hehe, maaf. Aku terbiasa menampar Sting sih,"

Gray tidak tahu dia harus senang atau jengkel ketika mendengar hal itu. "Apa kau dan Sting dekat sekali? Apa saja yang kalian lakukan sepanjang pelarian?" tanya Gray yang tidak tahan lagi.

"Tidak ada kok. Dia…cuma baik sekali,"

Gray bagaikan tersambar petir ber-volt tinggi. Baik? Apa Lucy sudah dicuci otaknya? "Apa kau sadar dia itu orang Sabertooth?"

Lucy kini yang melepaskan tanganya lalu berkacak pinggang, "Aku tidak bodoh tahu. Dia memang dari Sabertooth. Tapi tidak tahu, dia..dia baik sekali padaku, dia selalu menggendongku kemana-mana, menyelimutiku kalau aku kedinginan, dia juga selalu––––" Lucy tampak menyentuh pipinya sendiri, yang merah.

Gray bengong, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya seperti anjing yang telinganya kemasukan air. "Kau kedengaran seperti orang kasmaran saja."

Gray kaget saat Lucy kaget. Waah Lucy jadi merah, "Sok tahu!" belanya, walaupun wajahnya merah.

"Kau suka padanya ya! Hey ayo ngaku!" pekik Gray yang otaknya berkerja. Dia mendekat hingga jaraknya dengan Lucy hampir habis. Dia tidak peduli Lucy merengut tka mengerti ada apa denganya. Dia hanya tak ingin Lucy suka pada orang itu. Dia tidak mau. Lucy…adalah miliknya…sementara ini. Ya ampun Gray, kau kedengaran seperti maniak.

Gray terus melangkah, hingga membuat Lucy mundur beberapa langkah. Sampai akhirnya Lucy tersandung dan jatuh, gray mengulurkan tanganya sampai membuatnya ikut jatuh di rerumputan.

Bruuk

Dia bisa melihat wajahnya sendiri di mata Lucy. Tapi tak peduli seberapa dekat jaraknya dengan Lucy saat ini, Gray tidak akan pergi. Lucy ada dibawahnya, wajahnya tambah parah. Merah padam.

"Menjauh dasar cabul~!" pekik Lucy, berusaha mendorong dada Gray supaya pergi dari atasnya.

"Tidak! Jawab dulu pertanyaanku!" elak Gray. Dia sendiri tidak thau kenapa dia begitu cemas dan sepenasaran ini pada Lucy.

"Kenapa kau ingin tahu tentang aku dan Sting!"

Nah, coba jawab itu Gray baby. Kenapa sekarang kau begitu ingin tahu, tentang Lucy Heartfillia lagi. Entahlah, mungkin Gray terlalu senang bisa bertemu lagi dengan Lucy. Mungkin dia rindu padanya. Sebagai teman tentunya––memang sebagai apa lagi?

Hening lama. Gray tidak bisa menjawab pertanyaan yang satu itu. dia melamun, tapi lamunanya buyar ketika Lucy membuka mulut––wajahnya masih merah.

"G-gray, kau membuatku malu."

Blusshhh

Gray bangkit berdiri luar biasa cepat, hatinya mencelos. Jantungnya berdetak tidak normal, ini pertama kalinya dia merasakan hal ini; pada Lucy. Ternyata tadi jaraknya dengan Lucy memang sudah tidak bisa dikategorikan dekat lagi. Wajah Lucy saat mengatakanya…ya ampun. Dia cantik. Wajahnya yang merah itu, dia manis dan menggemaskan. Tunggu, Lucy cantik? Yeah, memang. Tapi kenapa Gray baru benar-benar menyadarinya sekarang? Menyadarinya sebagai seorang lelaki.

Lucy bangkit sendiri, wajahnya masih merah. Keadaan ini sungguh bukan gaya Gray dan Lucy. Tapi dalam hati Gray, dia senang. Sungguh senang sekali, Lucy berwajah merah karenanya. Kenapa Gray bisa sesenang ini ya?

"Kau…jangan pergi-pergi lagi ya," kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Gray. Tapi dia tidak malu mengatakanya, itu permintaan sesungguhnya.

Lucy terpanjat mendengarnya, wajahnya tambah merah, dan itu membuatnya tambah manis. Gray melangkah mendekatinya lagi tanpa sadar. Dan tanpa sadar pula dia mencium kening gadis itu.


Happy sedang berjalan-jalan sendiri di kota kecil itu, sambil mengemut ikan bakar gratis yang tadi diberikan seorang penjual tua padanya. Happy bersenandung pelan, tapi tiba-tiba keadaan di tengah kota ramai. Happy mencoba menerobos kerumunan orang yang membentuk lingkaran, siapa tahu ada ikan bakar gratis lagi.

"Kami rasa pernah ada penyihir seperti itu kemarin." Seseorang berbicara.

Happy berhenti, mencoba terbang supaya bisa melihat dengan jelas ada apa dikerumunan itu.

"Iya benar! Dia menginap di tempatku kemarin, dia bersama seorang laki-laki tampan dan seekor kucing terbang. Memangnya ada apa denganya? Apa dia penyihir berbahaya?"

Happy berkeringat dingin saat itu juga, matanya melebar saat tahu ternyata pasukan Fiore yang datang. Bukan hanya satu dua, tapi hampir ratusan. Dan mereka mencari Lucy.

"Yah, kami harus menemukanya. Dia penyihir dari Fairy Tail––––apa itu?"

Hati Happy mencelos, mereka melihatnya. Jantungnya berdegup tak karuan.

"Tangkap kucing itu––––!"

Happy tak mendengarkan sisanya, karena telinganya hanya bisa mendengar derus angin saaat dia terbang melarikan diri. Dia harus memberitahu Gray dan Lucy.

TBC

RnR?