.

Disclaimer : Masashi Kishimito

Warn : T rate/Typo/Complicated triangle love/Guest star/Many slight hints

Pair : NO PAIR

Genre : Romance/Adventure/Tragedy/Hurt-comfort

Story by Darkgrin

.

.

The Dark Knight And White Sorceres

CHAPTER 3

(Her Reincarnation)

o0o

"Jadi dia adalah seorang iblis?" Sakura sudah tak heran lagi kalau sosok menyeramkan itu adalah iblis. Tapi dia terkejut karena tak menyangka kalau iblis itu benar-benar ada.

"Sudahlah Sakura. Kau jangan terlalu banyak berpikir." Sarutobi menghela napas sejenak melihat rasa keingintahuan Sakura yang begitu besar.

"Lebih baik kalian bertiga cepat pulang sekarang. Orang tua kalian pasti khawatir menunggu kalian di rumah," sambar Shizune cepat, menyuruh murid-muridnya untuk pulang.

"Kami permisi pulang dulu, Sensei, Kepala sekolah!" Ino segera berpamitan pada Shizune dan Sarutobi.

"Ayo Sakura!" Tenten menengok ke arah Sakura yang masih duduk di atas tempat tidur, menyuruhnya untuk turun dan bergegas pulang.

"Hmm, Kepala sekolah... " Langkah gadis itu tiba-tiba saja terhenti. "Ada yang ingin kukatakan. Kenapa iblis itu memanggilku Ootsutsuki saat kami berhadap-hadapan?" tanyanya yang masih heran kenapa iblis itu memanggilnya dengan nama penyihir itu.

"Dia memanggilmu Ootsutsuki?" Sarutobi sama bingungnya juga dengan Sakura. Kenapa Sakura dipanggil dengan sebutan tabu itu? Ataukah jangan-jangan? Sarutobi menggeleng pelan. Tak mungkin Sakura adalah penjelmaan penyihir itu. Tapi entah mengapa dia seperti mendapat firasat buruk saat memikirkan hal tersebut.

Disaat Sarutobi sedang berpikir, tiba-tiba saja muncul sebuah cahaya putih yang begitu terang di tengah-tengah ruangan itu. Semua orang terkejut melihat kedatangan cahaya yang sangat menyilaukan itu. Ketika cahaya putih itu mulai meredup, tampak seorang gadis sedang berdiri di tengah ruangan. Shizune, Sarutobi dan Sakura terkejut kembali dengan sosok yang baru saja hadir di antara mereka.

Gadis itu terlihat sangat cantik dengan rambut panjang kebiruannya, juga begitu elegan dengan kimono panjang berwarna senada yang membalut tubuhnya. Tudungnya yang berwarna sedikit keunguan membuatnya terlihat berkharisma dan anggun. Bahkan Sakura sendiri dan Shizune yang merupakan perempuan dibuat terpesona oleh sosok gadis itu.

"Eh, kemana Sakura?" Ino celingukan mencari Sakura yang ternyata tidak ikut dengan mereka.

"Ino, cepat ke sini! lihat itu di dalam!" Tenten dengan setengah berbisik memanggil Ino sambil menunjuk-nunjuk ke arah dalam ruangan.

"He? Memangnya ada apa?" Ino mengangkat sebelah alisnya dan jadi merasa penasaran apa yang sedang diintip Tenten.

"Pokoknya lihat saja!" balas Tenten tanpa mau mengalihkan pandangannya. Akhirnya Ino yang penasaran jadi ikut mengintip dari arah luar pintu.

.

"Ka-kau... Kau bukannya yang ada di aula itu?!" Sakura yang tersadar dengan kemiripan sosok itu dengan patung yang ada di aula sekolah langsung terkejut bukan kepalang. Gadis yang sedang berdiri ini mirip sekali dengan The Saviour, sang penyelamat dunia beratus-ratus silam.

"Hime-sama!" begitu menyadari perkataan Sakura barusan. Sarutobi dan Shizune langsung berlutut memberikan hormat pada gadis tersebut.

Melihat keduanya memberikan hormat, reflek Sakura juga jadi mengikutinya. Dia berlutut memberi hormat pada sosok tersebut.

"Kalian tidak perlu memberikan hormat seperti itu kepadaku. Berdirilah." Gadis itu dengan suara yang lembut meminta agar Sarutobi, Shizune dan Sakura untuk segera berdiri.

"Apakah benar anda adalah Hinata Hyuuga-sama? Sang saviour?" Sarutobi bertanya untuk lebih memastikan apakah dugaannya benar.

Sosok itu tak menjawab. Gadis yang khas dengan aura kemisteriusan itu hanya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Namun dari sorot matanya yang teduh terpancar suatu kesedihan yang tak dapat dimengerti oleh Sakura saat melihatnya.

"I-ini benar-benar luar biasa, kami kedatangan seorang Dewi seperti anda... " Sarutobi jelas terlihat sangat mengagumi sosok tersebut, sampai dia kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan kekagumannya.

"Aku datang kemari untuk memberikan sebuah pesan," ucap sang Dewi.

"Pesan apakah itu Hinata-sama?" tanya Sarutobi. Dia yakin pasti ada hal yang sangat serius, sampai-sampai seorang dewi mau turun langsung untuk menyampaikan pesan.

"Pada bulan ketujuh, hari ketujuh tepat pada tengah malam. Bulan akan menampakkan darahnya dan Ootsutsuki akan bangkit kembali ke dunia ini." ternyata gadis yang dipanggil dengan sebutan 'sama' itu menyampaikan pesan mengenai hari kebangkitan Ootsutsuki, sang penyihir.

"Lalu, bagaimana kami mencarinya?" Sarutobi meminta petunjuk pada Hinata mengenai keberadaan Ootsutsuki untuk mempermudah keadaan.

Gadis itu kembali tak menjawab. Dia hanya berbalik dan memandang ke arah Sakura yang sedang berdiri di belakangnya. Sekarang tatapan Shizune dan Sarutobi beralih kepada gadis berambut merah muda itu.

"Hinata-sama. Apakah yang kau maksud 'dia' adalah Sakura?" Sarutobi bertanya sambil menatap ke arah Sakura yang sedang kebingungan. Hinata, sang penyampai pesan hanya mengangguk pelan.

"Tidak... I-ini tidak mungkin. Aku tidak mungkin Ootsutsuki!" Sakura menggeleng perlahan, mencoba untuk menepis semua kebenaran.

"Hey, kau dengar itu? Sakura ternyata adalah Ootsutsuki!" bisik Tenten kepada Ino. Tentunya mereka berdua mendengar semua pembicaraan yang terjadi di dalam ruangan.

"Aku tidak bisa menerima ini! Aku bukan Ootsutsuki! Aku bukan penyihir!" tampaknya Sakura tak bisa menerima kenyataan kalau dia adalah Ootsutsuki di masa lalu.

BRAKH!

Gadis itu berlari keluar menerobos pintu meninggalkan ruangan tersebut.

"SAKURA!" Tenten dan Ino bergegas mengejar Sakura yang berlari menuju halaman belakang sekolah.

"Apa yang harus kita lakukan, Hinata-sama?" Sarutobi tampak mengkhawatirkan Sakura. Gadis itu pasti sedang shock sekali saat ini.

"Dia akan baik-baik saja, karena ini adalah takdir yang harus dijalaninya." Usai berkata demikian, sosok Hinata perlahan lenyap dari hadapan Sarutobi dan Shizune.


Halaman Belakang Sekolah


Sakura duduk sendirian di bangku taman. Gadis itu tampak termenung dengan kedua matanya yang basah. Kelihatannya dia sempat menangis tadi. tak berapa lama terdengar suara derap langkah kaki menuju ke arahnya.

"Sakura, kau tidak apa-apa?" tanya Tenten dengan napas tersenggal.

"Apa kalian tahu... Aku ini penyihir... Aku adalah penjelmaan Ootsutsuki, sang penghancur... " Sakura berkata dengan lirih. Hal ini membuat kedua temannya jadi merasa tak tega terhadap Sakura. Kenapa teman mereka yang ceria, selalu energik dan paling logis diantara mereka harus menerima kenyataan sepahit ini.

"Kami sudah mendengar semuanya Sakura... " Ucap Ino dengan lembut, dan ini pertama kalinya Ino bersikap begitu keibuan, karena biasanya dia selalu cerewet terhadap Sakura. "Meski begitu, kami tetap akan menjadi temanmu. Karena bagi kami, kau adalah Sakura, bukan Ootsutsuki!" kali ini Ino langsung memeluk Sakura dengan erat.

"Huwaaaaaa!" Sakura mencengkram punggung Ino dan menangis keras.

"Kau jangan takut Sakura. Ino benar, kami tak akan pernah meninggalkanmu." Tenten menepuk-nepuk pelan punggung Sakura.

o0o

Setelah kejadian tersebut, esoknya Sarutobi mengumpulkan semua siswa dan siswinya di aula sekolah. Hal ini tentu menjadi sebuah pertanyaan besar bagi murid-murid Konoha academy, karena tak biasa-biasanya kepala sekolah mengumpulkan mereka semua di aula, apalagi sampai mengumumkan akan adanya hal penting yang akan dibicarakan pada semua muridnya.

"Hoaamm... Menyebalkan sekali. Kenapa kita harus dikumpulkan sepagi ini, sih." Shikamaru menggerutu sambil sesekali menguap.

"Bersemangatlah sedikit Shikamaru!" seorang pemuda beralis tebal menepuk pemuda pengantuk tadi sambil tertawa lebar.

"Ck, merepotkan... " Shikamaru hanya mendesis pelan.

"Tapi kira-kira apa yang mau disampaikan Kakek tua itu, ya?" sambar seorang pemuda berambut pirang dengan kurang ajar karena berani memanggil kepala sekolah dengan sebutan 'kakek tua'.

"Sssst! Jangan berisik Naruto!" seorang pemuda yang tampak terganggu dengan omongan pemuda di belakangnya langsung menoleh dan menyuruh mereka untuk diam, terutama pemuda pirang yang dipanggilnya Naruto.

"Apa sih, Kiba? Kau juga berisik!" pemuda pirang itu mendengus sebal.

"Kalian berdua ini, bisa tidak sehari saja tidak bertengkar?" sambar Shikamaru yang tak tahan melihat pertengkaran demi pertengkaran antara Naruto dan Kiba.

"Anak-anak tolong perhatiannya! Harap diam karena Kepala sekolah ingin menyampaikan sesuatu!" seorang guru berambut perak menyambar michrophone dan meminta dengan lantang agar para murid yang berada di aula untuk bersikap tenang.

Seketika suasana di aula menjadi hening. Para murid kini menatap lurus ke arah kepala sekolah sambil berpikir dalam pikirannya masing-masing, apa kira-kira yang mau disampaikan oleh kepala sekolah mereka.

'Kenapa aku merasa ini ada kaitannya dengan Sakura, ya... ' Batin Ino sambil melirik ke arah Sakura yang sedang berdiri di sebelahnya. Sepertinya gadis merah muda itu kelihatan sedang cemas.

"Saya selaku Kepala sekolah di Konoha academy ingin mengumumkan kalau kita sedang berada dalam situasi krisis." Semua murid langsung bereaksi saat mendengar mereka dalam keadaan emergency.

Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh penjuru dari ruangan aula tersebut. Masing-masing dari mereka saling mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kepala sekolah mengatakan mereka dalam keadaan krisis? Sejauh ini sekolah baik-baik saja dan tidak ada ancaman yang membahayakan.

"Anak-anak harap kembali tenang!" sekali lagi pria berambut silver itu berusaha untuk menenangkan situasi.

"Terima kasih, Kakashi," ucap Sarutobi yang merasa bersyukur disaat seperti ini Kakashi mau mendampinginya. Jujur saja dia sudah terlalu tua untuk berteriak-teriak keras seperti itu.

"Seperti yang kalian ketahui tujuan awal sekolah ini didirikan khusus untuk menanti kebangkitan Ootsutsuki. Pun, sama halnya dengan di Suna, Kumo, Kiri dan Iwa." Anak-anak kembali diam dan mendengarkan penjelasan dari sang kepala sekolah.

"Sekarang hari itu telah tiba. Ootsutsuki akan segera bangkit pada bulan ketujuh terhitung mulai dari sekarang. Maka dari itu, saya akan mengutus beberapa orang untuk melakukan suatu perjalanan, untuk mencegah penyihir itu bangkit." Semua murid terdiam dan hanya mampu bertanya-tanya dalam hati. Benarkah Ootsutsuki akan bangkit? Lalu siapa saja yang akan terpilih dalam perjalanan ini? Semuanya menanti keputusan Sarutobi dengan sabar.

"Saya akan menyebutkan siapa saja yang akan melakukan perjalanan ini... " Wajah semua murid di dalam ruangan aula tersebut langsung berubah tegang.

"Haruno Sakura." Nama yang pertama kali disebut adalah nama Sakura. Sontak seluruh murid menatapnya. Memang tak dapat dipungkiri kalau gadis itu memiliki teknik di atas rata-rata dalam penguasaan jurus sihir. Namun saat itu Sakura yakin alasan kenapa dia dipanggil karena dia sendiri adalah Ootsutsuki.

"Uzumakin Naruto!" tak ada yang menduga kalau ternyata pilihan jatuh pada murid nakal seperti Naruto. Pemuda itu memang agak bodoh, namun dia cukup berbakat dan punya kekuatan fisik di atas orang normal.

"A-aku terpilih! Yeay!" Naruto nyaris tak percaya kalau namanya baru saja disebut. Spontan dia langsung melonjak kegirangan karena telah mendapatkan kepercayaan dari kepala sekolah menjalankan misi ini.

"Hah? Anak seperti dia terpilih?" Kiba hanya mendesis kenapa Naruto yang terpilih bukan dirinya.

"Seharusnya kau beruntung karena tak perlu melakukan hal yang merepotkan!" sambar Shikamaru dengan cepat.

"Ceh, aku bukan pemalas seperti kau, Shikamaru!" Kiba langsung protes tak mau disamakan seperti Shikamaru yang malasnya sudah sampai taraf keterlaluan.

"Nara Shikamaru." Tak disangka nama pemuda pemalas itu juga ikut disebut. Kiba menganga lebar tak percaya sementara Lee, pemuda beralis tebal yang juga ada di situ menunduk kecewa.

'Bahkan aku dikalahkan oleh Shikamaru dan Naruto!' ucap Lee dalam hati.

"Apa tidak salah? Mereka itu hanya sekumpulan orang-orang payah!" celetuk Kiba tak terima. Dia merasa jauh lebih superior dibanding Naruto dan Shikamaru. Tapi kenapa dia tak terpilih? Rasanya kepala sekolah tidak adil dan tidak bisa melihat kehebatannya selama ini.

"Orang payah di sini itu kau Kiba," sambar seseorang secara tiba-tiba dari belakang, "kau hanya bisa menggerutu karena tak terpilih. Ini membuktikan kalau Shikamaru dan Naruto jauh lebih unggul dari dirimu," sambungnya dengan kata-kata yang menusuk.

"Aku tak butuh mendengarkan ocehanmu di sini, Shino." Kiba kembali berkata ketus pada orang yang memiliki nama lengkap Aburame Shino tersebut.

"Seorang lagi Sai Shimamura." Itu adalah nama terakhir yang disebut oleh kepala sekolah.

"Sai Shimamura... ? Rasanya aku pernah mendengar nama itu, tapi di mana ya?" Kiba tampak berpikir sejenak mencoba untuk mengingat-ingat.

"Dia itu, kan pemuda yang sempat mendapatkan penghargaan atas kemampuan sihir uniknya yang tak biasa. Masa kau tidak tahu?" Lee mencibir Kiba. Hampir seisi sekolah mengetahui pemuda unik itu. Dia dapat menggunakan sihir menggunakan lukisan dan ilmu sihir tersebut terbilang sangat baru dan masih original.

"Aku tahu, hanya lupa!" balas Kiba sedikit sewot.

"Baiklah anak-anak sekarang kembalilah ke kelas masing-masing. Tapi satu hal yang ingin saya tekankan. Mungkin akan terjadi peperangan jadi berlatihlah dengan keras. Para guru juga, saya harap untuk sementara waktu ini, aku ingin semuanya fokus untuk mengajari para murid cara mempertahankan diri." Tampaknya masalah ini bukanlah main-main belaka. Sarutobi bahkan meminta para guru untuk mendedikasikan waktunya mengajari para muridnya kekuatan sihir. Usai setelah itu para murid membubarkan diri mereka masing-masing dengan teratur.

Dalam hitungan menit suasana aula menjadi kosong dan hening. Kini di dalam ruangan itu hanya menyisakan sang kepala sekolah, Kakashi, Shizune dan murid-murid yang tadi dia panggil.

"Maaf, Kepala sekolah. Apa kau yakin hanya mengirim kami berempat saja dalam misi ini?" tanya Shikamaru yang merasa kurang yakin.

"Tenang saja. Aku sudah mendapatkan tiga orang lainnya yang akan ikut membantu," jawab Sarutobi, sang kepala sekolah sambil tersenyum. Shikamaru hanya mengangkat alisnya, sementara Sakura dan Sai memilih untuk diam, dan Naruto menggaruk belakang kepalanya karena merasa tiba-tiba saja suasana menjadi canggung.

"Ikutlah denganku," tukas Sarutobi meminta murid-muridnya untuk mengikuti dirinya.

TBC


A/N : kembali masalah pair yang ada dalam cerita ini akan terfokus pada SasuSaku dan SasuHina (Ketika cerita ini berakhir kalian akan mengerti alasannya kenapa pairnya seperti ini dan memang harus seperti ini). Saya hanya seorang author netral di sini dan berharap agar cerita ini dapat dinikmati oleh SasuHina lovers atau pun SasuSaku lovers tanpa adalahnya saling bash/war.

Perlu kalian menyadari satu hal. Tidak semua kisah romansa harus berakhir bahagia dengan bersatunya sang tokoh laki-laki dan perempuan, lalu hidup bahagia selamanya di dalam sebuah istana. Romance di sini akan lebih mengedepankan suatu ketulusan dan pengorbanan. Saya tekankan kisah romansa di sini tidak berakhir happy ending. Bagi yang tidak kuat menerima kenyataannya kalian bisa mendrop cerita ini.

Terima kasih atas saran masalah pair, dan saya sudah memutuskannya untuk membuatnya seperti ini dengan No pair. Bagi kalian yang takut kecewa silahkan skip. Saya ucapkan terima kasih karena sempat berkunjung dan bertanya. Dibalik suatu alasan akan ada masanya, kenapa? Mungkin banyak reader yang bertanya "kenapa harus seperti ini?". Hal itu jugalah yang menjadi tema inti cerita ini "Kenapa harus seperti ini?"

T

H

A

N

K

S

For review